Alow semua :D maaf ya saya updatenya lama sekali untuk chapter yang ini, saya bingung soalnya, ilham kabur melulu dan selingkuh dari saya u.u #eh
Oh ya, saya tahu mungkin sedikit aneh. Intinya Hankyung masih di Suju dan Heechul belum wamil. Hehe. I've warned you guys
.
.
Title : Confession
Warn: Don't Like Don't Read!
Rated : M as usual -_-"
Summary: Dia sudah kembali setelah pergi membawa kepingan hatiku selama 2 tahun dan aku tidak tahu apakah dia masih mengingat tentang pengakuanku.
.
.
"Semuanya, besok Kangin akan kembali!" seru Leeteuk-hyung dengan girang membuat aku yang sedang menyiapkan makanan di dapur tersentak kaget. Satu kalimat itu merubah hariku yang tadinya baik-baik saja menjadi buruk dalam sekejap.
Kangin?
Youngwoon-hyung akan pulang?
Aku memang tahu bahwa dia akan kembali tahun ini, tapi aku tak menduga akan secepat ini. Oh tidak, apa yang harus kulakukan? Aku masih belum siap.
"Wookie, Wookie. Wookie!"
Sebuah seruan menyadarkanku dengan keadaanku sekarang. Panci yang berisi makan malam kita hari ini mengeluarkan bunyi dan bau tak sedap membuat aku segera tersadar bahwa masakanku hampir gosong. "Kya!" seruku yang segera mematikan api kompor sebelum masakanku benar-benar hancur.
"Aish, hyung, apa sih yang sebenarnya kau pikirkan?" Pertanyaan dari magnae kami membuatku tersadar kembali dengan pikiranku tadi dan seketika menghentikan semua gerakanku. Saat ini, aku merasa bahwa waktu terasa berhenti dan pikiranku penuh dengan apa yang pernah kulakukan 2 tahun lalu.
"Wookie, gwenchana?" Suara lembut dari Leeteuk-hyung membuatku memutar kepalaku dan menatap wajah leader kami yang tampak khawatir.
Karena tidak ingin mengkhawatirkan mereka, aku segera menggelengkan kepalaku dan memberikan sebuah senyuman. "Gwenchana, hyung. Hanya terlalu capek dengan kegiatan hari ini," elakku agar Leeteuk-hyung tak bertanya apa-apa lagi. Sepertinya dia termakan dengan kebohonganku dan hanya mengangguk.
"Arasso, kalau begitu lebih baik kau istirahat, biar nanti kita pesan makanan dari luar saja," ujarnya dengan lembut.
Aku segera menggelengkan kepalaku. "Ah, tidak perlu hyung, aku sudah memasak dan yang ini hanya sedikit gosong kok, tapi aku yakin rasanya masih enak!" seruku. Aku tidak mau masakan yang sudah kubuat dengan susah payah harus berakhir di tong sampah hanya karena sedikit gosong. Yah, memang sih itu semua salahku karena terlalu sibuk melamun, tapi kan kita harus tetap menghargai makanan bukan?
"Iya, makanan Wookie memang selalu enak kok. Kita makan saja hyung, kasihan juga Wookie sudah bikin capek-capek." Ah, Yesungie, kau memang selalu mengerti diriku. Leeteuk-hyung hanya menghela nafas dan kemudian kembali lagi mengangguk. Minnie-hyung yang tadi berada di kamar karena sedang berbicara dengan Sunny melalui telepon sekarang membantuku untuk menyiapkan makan malam kami. Dasar hyung yang satu itu, masih saja tidak mau mengakui bahwa dia menyukai salah satu personil girlband itu.
Aish, Kim Ryeowook, hentikan memikirkan namja itu! Belum tentu dia masih mengingat dengan pengakuanmu! Lagipula, dia juga tidak tahu bahwa itu kau karena kau tidak mengucapkannya secara langsung! Sudahlah, lupakan saja dia, lupakan saja Kim Youngwoon!
.
.
Behind the Closed Door
"Confession"
by eL-ch4n
23.04.2012
.
.
Jika saat ini kau mendengar suara sesuatu pecah berkeping-keping, mungkin itu adalah suara hatiku yang sedang pecah. Apa yang akan kau rasakan ketika melihat orang yang kau cintai berpelukan dengan seseorang yang mungkin dicintai oleh orang yang kau cintai itu? Pasti kau akan merasakan apa yang sedang kualami sekarang. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata perasaanku ini ketika melihat Teukie-hyung memeluk Kangin-hyung. Aku tahu bahwa mungkin pelukan itu antar sahabat, tapi entah kenapa aku tidak tahan. Ada rasa sakit di dadaku melihat mereka begitu akrab. Senyuman yang diberikan oleh Kangin-hyung terhadap Teukie-hyung terasa beda, seperti ada kelembutan di dalamnya.
Semoga saja hari ini dapat berjalan lancar, pintaku dalam hati. "Heyo, Wookie-ah!" Kangin-hyung yang sudah masuk ke dalam dorm segera menyapa satu persatu member dan tiba giliranku. Dia segera memelukku dengan erat sama seperti dia memeluk Teukie-hyung tadi. Aku tak bisa menutupi bahwa mukaku begitu merah sekarang seperti tomat.
"Apa kabar dongsaengku yang satu ini?" tanyanya sembari mengacak-acak rambutku. Aku hanya tersenyum tipis dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dia kemudian tersenyum lembut dan segera menyapa member yang lain.
Kulihat Yesungie menatap lembut kepadaku seolah bisa melihat apa yang sedang kupikirkan. Dia memang sahabatku yang paling baik. Kurasa dialah satu-satunya yang tahu akan perasaanku ini dan bersedia untuk menemaniku. Hubunganku dengannya tak lebih daripada friends with benefit. Dia yang masih bingung dengan perasaannya sendiri menggunakanku untuk mencoba mencari jawaban. Sementara aku yang kesepian menggunakan dirinya sebagai penghangat. Tapi, jangan salah sangka, kami tak pernah melakukan lebih dari pelukan dan ciuman. Hanya itu, karena ketika kami bermaksud melebihi batas, debaran itu tak ada dan kami tahu bahwa kami hanya menganggap satu sama lain sebagai saudara, tak lebih.
Magnae kami kemudian memberikan usul makan di luar untuk merayakan kepulangan Kangin-hyung dan sekaligus karena hari itu aku memang belum membuat makan malam. Tak lama kami pun pergi keluar dan seperti biasa kami duduk dalam berpasangan meskipun mereka bukan benar-benar pasangan kami. Maksudnya, aku akan duduk dengan Yesungie, Kyuhyun dengan Sungmin-hyung, Kibum-hyung dengan Siwon-hyung, Donghae dengan Hyukkie, Hankyung-hyung dengan Cinderella kami, Heechul-hyung, Shindong sendirian. Dan tentu saja tak lupa, Teukie-hyung dengan Kangin-hyung yang terlibat dalam pembicaraan seru. Sesekali tawa khas Teukie-hyung terdengar karena lelucon yang dilontarkan oleh Kangin-hyung.
Gyut.
Aku melihat ke kananku, tempat Yesungie duduk. Dia menggenggam tanganku dengan erat seolah untuk mengatakan bahwa aku tidak sendirian saja. Terkadang aku sempat berpikir, kenapa aku tak mencintainya saja? Bahkan banyak fans kami di luar sana yang tertarik dengan Yewook couple daripada KangWook couple. Tapi, meskipun aku bisa membohongi yang lain, aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku menganggap Yesungie sebagai hyung-ku dan tak lebih, begitu pula dengan dirinya. Dapat kulihat dia menatap lembut ke arah Donghae yang sedang tertawa dengan Hyukkie. Aku juga sempat melihat Donghae sesekali memberikan tatapan singkat ke arah Yesungie.
Hah. Andai aku bisa juga mendapatkan apa yang kuinginkan. Helaan nafas kemudian keluar dari diriku dan aku kembali lagi pada pikiranku. Tak banyak kata yang kuucapkan karena aku memutuskan untuk melihat pemandangan malam hari saja.
Hari itu, aku tak sadar, bahwa sebenarnya yang dipeluk oleh Kangin-hyung hanya dua orang yaitu, Teukie-hyung dan diriku.
.
.
Keesokannya manajer kami mengatakan bahwa kami harus segera membuat album baru dan Kangin-hyung akan ikut serta. Album ini juga sekaligus mempromosikan Kangin-hyung yang baru saja kembali dari militernya. Hari itu, kami semua sangat sibuk dengan jadwal latihan yang penuh terutama bagi Kangin-hyung yang harus kembali mempelajari beberapa gerakan karena sudah lama tidak melakukannya.
Saat ini, kami semua sedang beristirahat dan seperti biasa Kangin-hyung sedang berbincang dengan Teukie-hyung. Melihat itu membuat hatiku semakin sakit. Aish, sudahlah Kim Ryeowook, bukankah kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk melupakan Kim Youngwoon?
"Sepertinya KangTeuk couple memang real ya?" Pertanyaan polos yang dilontarkan oleh Sungmin-hyung membuatku kembali terhempas ke tanah.
"Aku rasa juga begitu, aku pernah melihat mereka berpelukan sekali," ujar Donghae yang sedang melap wajahnya yang penuh dengan peluh keringat.
Semua member yang berkumpul kecuali sang objek pembicaraan itu sendiri terlihat bersemangat dengan apa yang dilontarkan Donghae tadi. "Jinjja? Kapan kau melihatnya?" tanya Heechul-hyung yang sepertinya sangat bersemangat untuk mengetahui gosip baru.
Aku hanya mencoba menenangkan diriku dengan meminum air mineral yang diberikan pada tiap member. "Errm, kalau aku tak salah ingat itu sehari sebelum Kangin-hyung pergi ke militer. Teukie-hyung sepertinya menangis. Aku bisa mendengar suara tangisannya dan Kangin-hyung memeluknya."
"Aigo, kalau itu mah bukan apa-apa! Seandainya itu kau yang pergi wamil juga, Teukie pasti akan menangis. Seperti kau tidak tahu dengan sifatnya saja, cks," desis Heechul-hyung yang merasa kesal tak mendapatkan informasi penting.
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku hyung-ku yang satu itu. "Eh, tapi aku belum selesai! Mereka memang berpelukan, tapi aku juga melihat bahwa mereka sepertinya berciuman!"
"MWO?" Semuanya berseru kaget kecuali diriku yang masih terlalu shok untuk menerima kenyataan itu. Oh, sudahlah. Kau sendiri juga mencium Yesungie, apa bedanya? Jangan sok suci, Kim Ryeowook.
Dalam hati kecilku, aku membenarkan pikiranku. Ya, aku sendiri sudah pernah berhubungan dengan Yesungie hanya karena aku tak sanggup menerima kenyataan. Siapa yang lebih jahat sekarang? Sudahlah, jalanmu masih panjang. Mungkin saja dia memang bukan jodohmu.
"Ada apa ini?" tanya Teukie-hyung yang sudah berada di belakangku karena posisi dudukku yang membelakanginya. Dia sepertinya tertarik dengan pembicaraan kami, tapi hanya cengiran Donghae yang menjawabnya. "Kenapa kalian ribut-ribut? Sepertinya seru?"
Heechul-hyung segera menggelengkan kepalanya dan berdiri. "Ani, gwenchana Teukie, ayo kita kembali latihan," serunya yang langsung diiringi oleh beberapa member.
"Chullie-ah! Berapa kali kubilang untuk memanggilku dengan hyung!"
Cinderella kami hanya menjulurkan lidahnya dan kemudian dijawab dengan helaan nafas dari Teukie-hyung. Diapun segera menyusul yang lain membiarkan diriku yang masih termenung dengan Kangin-hyung yang sepertinya masih lelah. "Gwenchana Wookie?" tanyanya dengan lembut.
Hentikan itu, kalau kau mengucapnya dengan lembut, aku seolah mendapat pengharapan. Aku bermaksud untuk menggelengkan kepalaku, tapi entah kenapa badanku terasa begitu lemas. Apakah mungkin ini efek dari menangis semalaman? Suara Kangin-hyung terdengar menjauh dan hal yang kurasakan berikutnya adalah sesuatu yang hangat sedang memelukku.
.
.
Saat aku tersadar dari entah apapun itu, aku mendapati diriku sudah berada di kamar yang kubagi dengan Yesungie. Hanya saja, saat ini yang berada bersamaku bukan Yesungie, melainkan seseorang yang dari kemarin membuat hatiku berdebar tak karuan. Ya, Kangin-hyung sedang tertidur di atas kursi yang ada di samping tempat tidurku. Tangannya menyilang di depan dadanya yang bidang, matanya terpejam, dan ekspresinya terlihat damai.
Perlahan aku keluar dari ranjangku dan berjalan mendekati dirinya. Kutundukkan kepalaku agar bisa melihatnya lebih dekat dan jelas. Bagaimana aku mengagumi bulu matanya, pipinya yang sedikit chubby dan terlihat imut di mataku, hidungnya yang terlihat sempurna di mataku, dan sepasang bibir yang membuatku sekarang meneguk ludah.
Aku tahu ini gila dan tak seharusnya kulakukan, tapi aku tak bisa menahan hasratku untuk mencoba bibir itu. 'Tenangkan dirimu, Wookie, atau dia dapat mendengar detak jantungmu,' tegurku terhadap jantungku yang terus berdetak kencang. Aku memantapkan diriku dan mulai memperkecil jarak di antara kami hingga sekarang bibirku sudah menempel pada bibirnya.
Rasanya begitu pas dan membuatku tak bisa berhenti, tapi kemudian aku tersadar bahwa ini salah. Baru saja aku hendak mengangkat kepalaku, sesuatu menahan gerakanku dan mendorong kepalaku untuk memperdalam ciumanku. Bibir yang tadinya terdiam sekarang mulai melumat bibirku dan memberikan gigitan kecil pada bibir bawahku sehingga aku membuka mulutku agar lidahnya masuk ke dalam. Pertarungan sengit antar lidah kami tentu saja dimenangkan oleh lidahnya dan aku hanya bisa terbuai dalam kelihaiannya memabukkanku.
"Hmm," gumamku pelan ketika ciuman kami terlepas. Aku bisa merasakan salivaku mengalir keluar dari bibirku dan detik berikutnya sesuatu yang hangat menjilati salivaku tersebut membuatku kemudian tersadar akan sesuatu. Segera, kudorong diriku darinya dengan sekuat tenaga. Dapat kulihat sebuah seringaian terpasang di wajahnya. Aku tersipu malu, seperti seorang pencuri yang ketahuan.
Satu langkah maju yang dia ambil membuatku mengambil satu langkah mundur hingga akhirnya bagian belakang lututku menyentuh ujung ranjangku. Tak bisa bergerak ke mana-mana, bagai mangsa yang sudah terjebak, aku mencoba untuk menatapnya. Dia kembali menyeringai. "Well, aku tak menduga kalau kau suka mencium orang yang tak memiliki pertahanan, Wookie." Bisikannya terdengar bagaikan melodi di telingaku, tapi juga membuatku bergidik ngeri. Aku tak tahu harus menjawab apa. Tubuhku gemetar seketika dan sepertinya dia bisa melihatnya.
Tak lama kemudian kudengar dia tertawa dan membuatku menatapnya dengan heran. "Siapa saja yang sudah kau cium seperti tadi, hah?" Aku yakin ini bukan hanya perasaanku saja, tapi aku tak bisa menjelaskan aura hitam dan menekanku sekarang. Ekspresinya terlihat lebih serius dan marah? Kenapa dia harus marah?
"Mak – maksudmu apa, hyung?" tanyaku mencoba untuk membela diri walau aku tahu itu sia-sia belaka ketika dia kemudian mendorongku hingga punggungku bertemu dengan kasur yang empuk. Aku setengah terbaring karena kedua kakiku masih menyentuh tanah dengan tubuhnya yang berada di tengahnya. Kedua tangannya berada di samping kepalaku dan aku bisa melihat tatapan tajamnya terhadapku.
"Selama aku pergi, siapa saja yang sudah kau cium? Dan jangan kau bilang tidak ada! Sial, aku tahu kau sudah mencium Yesung di belakang kami. Siapa lagi, hah?"
Aku bisa merasakan pandanganku mulai mengabur karena cairan bening yang terkumpul di pelupuk mataku. "Wa –wae, hyung?" tanyaku dengan gugup. Kulihat dia menaikkan alisnya karena tidak mendengar pertanyaanku atau karena hal lain. "Memangnya kenapa aku mencium yang lain? Kau, toh, bukan siapa-siapaku!" seruku dengan lantang. Benar, aku memang mencintainya, tapi dia bukan siapa-siapaku. Aku salah karena menciumnya, tapi kenapa dia harus marah seolah-olah dia ce – cemburu?
"Dengar, Wookie-ah, kau itu milikku," gumamnya pelan. Tangan kanannya membelai pipiku dengan perlahan dan tubuhku semakin gemetar karena ekspetasi. "Sejak kau menyatakan kau mencintaiku, sejak saat itu kau adalah milikku."
Kedua mataku membesar karena terkejut mendengar pernyataannya tadi. Tidak mungkin. Berarti dia sadar bahwa selama ini akulah yang mengiriminya pesan itu? Tapi kenapa dia tak mengatakan apa-apa? Tanpa terasa air mataku mulai mengalir pelan dan ekspresinya terlihat panik. "Hiks, wae? Kenapa kau tak mengatakan apa-apa padaku, hyung? Hiks, aku, aku pikir, hiks, kau membenciku."
Tatapannya mulai melembut dan dia kembali membelai pipiku sembari menghapus air mata yang mengalir di pipiku. "Aku tidak tahu dengan perasaanku saat itu, Wookie. Aku pikir, aku pikir aku hanya menganggapmu sebagai dongsaengku dan ketika aku melihat kau memeluk Yesung sehari sebelum kepergianku, saat itu aku sadar bahwa aku mencintaimu. Aku tak suka melihat saat kau terlihat akrab dengan yang lain terutama si Yesung sialan itu! Sial, apa kau tak tahu betapa aku sangat bahagia ketika mendapat pesanmu? Aku tahu itu darimu, Wookie. Aku tahu semuanya tentangmu."
"Ba –bagaimana dengan Teukie-hyung?" Ya, benar, aku tak bisa memungkiri bahwa ada sesuatu yang disembunyikan keduanya.
"Aku dengan Teukie...sama seperti kau dengan Yesung. Kami hanya saling mencari kenyamanan karena kami merasa tenang dengan satu sama lain. Dia tahu mengenai perasaanku dan dia juga menceritakan apa yang terjadi selama aku tak ada. Dan oh Tuhan, aku bersumpah saat itu aku sangat marah sekali mendengar kau bersama dengan Yesung dan kemudian si babbo itu meninggalkanmu dengan Donghae!"
"Dia –"
"Dia tidak salah, aku tahu, persetan! Aku tahu bahwa kau tak menganggapnya lebih, tapi aku berpikir...aku pikir mungkin kau telah merubah keputusanmu karena aku menghilang selama 2 tahun."
Aku menangis, oh, ini semua salahku. Andai saja aku tidak terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku mungkin hal ini tidak akan terjadi. Mungkin Kangin-hyung dan diriku tak perlu menderita seperti ini. Kulingkarkan tanganku ke lehernya dan membawanya ke dalam pelukanku. Badannya bergetar dan aku bisa merasakan bahwa dia juga sedang menangis. Mungkin ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepadaku dan aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya.
Dia kemudian menatapku kembali, kali ini dengan lembut dan perlahan memperkecil jarak di antara kami. Hal berikut yang kurasakan adalah bibirnya yang kembali melumat bibirku. Tanganku masih setia melingkar di lehernya dan sekaligus untuk memperdalam ciuman kami.
.
.
"Urgh...ohhh," desahku ketika Kangin-hyung memasukkan milikku ke dalam mulutnya yang hangat. Aku menggigit tanganku untuk menahan desahanku. Aku tak ingin menganggu para member yang sedang beristirahat. Sesungguhnya aku sendiri tak tahu bagaimana sekarang aku bisa berada dalam kondisi ini. Semua terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja kami berdua sudah polos tanpa memakai apapun dan aku terbaring sepenuhnya di atas kasur dengan dirinya sedikit menimpa tubuhku.
Slurp. Slurp.
Suara Kangin-hyung yang sedang menjilati kejantananku yang mulai mengeluarkan precum membuatku merasa malu. Aku tak pernah berhubungan intim seperti ini dengan siapapun dan aku tak tahu kenapa aku begitu berani melakukannya dengan Kangin-hyung. "Ohh, ahhh~" Desahanku yang keluar membuat Kangin-hyung semakin mempercepat gerakannya.
Kejantananku mulai membesar dan aku bisa merasakan bahwa diriku sebentar lagi akan mencapai orgasme. Tak berapa lama aku merasakan sesuatu keluar dari kejantananku. Sesuatu yang berwarna putih terlihat memenuhi wajah Kangin-hyung dan entah kenapa itu membuatnya terlihat begitu seksi. Dia kemudian kembali menjilati tubuhku dari bawah hingga akhirnya bibir kami kembali bertemu.
"Aku harap kau sudah siap dengan hal ini, Wookie," bisiknya pelan membuat tubuhku sekali lagi bergidik.
Aku mengangguk kepalaku dengan mantap. Ini adalah hal yang paling kuinginkan, hal yang paling kutunggu dan aku tidak mungkin akan melewatkan hal ini begitu saja. Dia kembali melumat bibirku sembari tangan kanannya bergerak menyusuri setiap bagian tubuhku. "Urghh," rintihku di dalam ciuman kami ketika aku merasa sesuatu memasuki dinding rektumku.
"Sssh...tenang chagi, itu hanya jariku," bisiknya pelan untuk menenangkan tubuhku. Aku mengangguk sementara dia mencium keningku dengan lembut. Tangan kanannya mulai melakukan gerakan scissoring untuk memperlebar dinding rektumku.
"Ahh~" Aku tak mengerti kenapa rasa sakitku yang tadi kurasakan hilang diganti dengan sebuah rasa nikmat di dalam tubuhku. Kulihat dia menyeringai dan menggigit leherku untuk memberikan tanda merah. Tangannya kembali menyentuh titik yang sama yang membuatku merasa begitu nikmat. Badanku sedikit melengkung ke atas hingga dada kami yang polos saling bergesekkan mendatangkan sensasi tersendiri.
Lidahnya sekarang berada di nipple-ku yang mulai menegang dan memerah. Tangan kirinya memilin nipple-ku yang satu lagi seemntara lidahnya menjilati nipple-ku seperti seorang bayi yang menginginkan ASI. Sesekali dia menggigit kecil membuatku mengerang kesakitan dan melupakan kenyataan bahwa tangannya masih berada di dalam dindingku.
"Ohh...hyung...need you...please?" Aku sudah tak tahan lagi. Tubuhku berteriak meminta Kangin untuk segera menghujamkan dirinya dalam diriku.
Dia mengangguk perlahan dan kemudian mendorong kedua kakiku hingga bertemu dengan dadaku. Pantatku sedikit diangkatnya sementara dia memosisikan dirinya di depan dinding rektumku yang berteriak meminta untuk dimasuki. Dalam sekejap dia menghujamkan dirinya di dalamku. Aku mengerang kesakitan. Mencoba untuk menggigit bibir bawahku agar tak berteriak. Sakit, ini jauh lebih sakit daripada ketika dia memasukkan kedua jarinya tadi.
Sepertinya dia menyadari ekspresi kesakitanku karena dia kemudian melingkarkan kedua kakiku pada pinggangnya dan menggendongku. "Gigitlah bahuku, Wookie, jangan kau tanggung sendiri." Aku mengangguk dan segera menggigit bahunya dengan keras untuk mengekspresikan rasa sakit yang sedang kualami saat ini.
Tapi, beberapa saat kemudian, rasa sakit itu kemudian digantikan oleh rasa nikmat. Ujung kejantanannya menumbuk sesuatu yang sama membuatku kemudian mendesah. "Ohh, ahh, there...ahhh."
Aku bisa mendengar deru nafas Kangin-hyung di telingaku. Tubuhnya terasa begitu pas dengan diriku membuatku merasa begitu lengkap. Dindingku terasa mulai menyempit dan sedikit licin. Sepertinya Kangin-hyung sudah mulai mencapai orgasmenya.
Mengetahui bahwa aku sudah tidak kesakitan lagi, Kangin-hyung segera mendorongku hingga punggungku terbaring sepenuhnya di atas tempat tidur. Kedua tanganku masih melingkar di lehernya sementara dia terus memasukkan dan kemudian mengeluarkan lagi kejantanannya. Kejadian ini dilakukannya berkali-kali dan dalam tempo yang lebih cepat membuatku berada dalam ekstasi. "Oh, faster...deeper...ahhh...there...ahhh.."
"Cumm..cumming, Wookie...cumm!"
"Me too...ahh...cumming...!"
Splurt.
Tak perlu dijelaskan bahwa aku telah mengeluarkan orgasmeku yang kedua hari itu sementara Kangin-hyung baru satu kali di dalam dindingku. Tubuhku terasa begitu lengket dengan cairan putih yang menempel pada perutku dan dindingku terasa begitu penuh dengan cairan putih dan kejantanan Kangin-hyung. Ketika dia mengeluarkan miliknya dari dindingku, aku bisa merasakan sesuatu mengalir keluar dan itu adalah cairan putihnya.
"Aku masih ingin menghukummu, tapi sepertinya kau sudah terlalu capek. Hari kita masih panjang dan kau harus bersiap-siap," bisiknya pelan di telingaku dan membuatku mengangguk dengan malu-malu. Kami kemudian tersenyum satu sama lain dan dia kembali mencium bibirku.
.
.
Apa kabar semuanya? Apa kalian masih mengingat siapa diriku? Ya, aku si Pintu. Kali ini aku datang bukan untuk membawa kisah mengenai apa yang terjadi dengan mereka setelah itu karena selanjutnya mereka pergi ke alam mimpi sembari memeluk satu sama lain. Yang ingin aku ceritakan adalah tentang seorang namja tampan yang memiliki dimple smile. Namja yang kita kenal dengan nama Choi Siwon.
Kenapa dengan dia? Ya, katakan saja dia sedang duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu. Jangan tanya kenapa aku bisa melihatnya, karena itu memerlukan cerita yang cukup panjang. Oke, back to Siwon. Jadi, saat ini namja itu sedang membuka ponselnya dan terlihat serius.
Jujur, aku tak tahu apa yang sedang dia baca namun aku tahu itu bukan sms. Layarnya menampilkan warna putih dan biru dan kumpulan tulisan. Raut wajahnya terlihat serius dan semakin mengerikan membuatku sedikit ketakutan. Tak ada senyuman terukir di wajahnya. Hanya sebuah ekspresi kosong dan datar.
Sempat kudengar dia berbisik pelan, "Lihat saja kau Shim Changmin."
Dan aku bersumpah bahwa saat itu aku berdoa bagi siapapun yang bernama Shim Changmin agar dia baik-baik saja karena seringaian yang terlihat di wajah namja tampan itu jauh lebih mengerikan daripada seringaian iblis milik Cho Kyuhyun itu.
Oh, bersiap-siaplah Shim Changmin.
.
.
The End
.
.
A/N:
Maaf kali ini saya tidak bisa banyak berkomentar. Ini ketik sebelum mau ke kampus dan saya sudah ditunggu sama teman2 *curcol* jadi maaf sekali lagi karena saya tak bisa membalas reviewnya. Maaf juga karena chapter kali ini lebih lama dari biasanya.
.
.
Thanks to:
The Devil's eyes|Momoelfsparkyu|MissY|ANDINAsti|azcya|widiwMin|Prit prikitiw|Enno KimLee|OktavLuvJejeTooMuch|Nana|rararabstain|Cherry Bear86 Yunjae|CloudsomniaElf|Park soohee|min yeon rin|Hyefye|AllRiseShipper|ndapaw|Kyucute14|E.V.E|Haebaragi|Seo Shin Young|nuphieorenz
.
.
Saya tidak tahu kapan bisa update, semoga bisa secepatnya dan semoga si ilham gak selingkuh lagi u.u #eh
Last, review? ;)
3001ChangMinnie
