Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ A DREAM ~
[ Chapter 7 ]
.
.
.
.
Kami pergi bersama dari kota Suna, aku, Izuna dan juga kak Serra, ini hanya ajakan Izuna, katanya ingin istirahat dulu, dia pun semakin tidak peduli, aku rasa Izuna tipe cuek akan masalahnya, dia benar-benar artis yang sulit untuk di beri nasehat, bahkan itu Yamato, dia tidak mau mendengarkan mereka, sedangkan aku, aku tidak tahu harus memberinya saran apa, aku saja sampai kebingungan dengan masalah yang sebesar itu dan semakin hari semakin banyak haters yang asal mengeluarkan sampah apapun yang ada di kepala mereka, menyebarkan berita palsu tentang Izuna.
"Di sini sangat dingin." Ucapku, meskipun memakai long-coat yang tebal, masih tetap saja terasa dingin, di area ini sedang turun salju, kami sedang menikmati pemandangan laut yang membeku, aku bisa lihat sebuah kapal pemecah es yang berlayar. "Apa kita bisa naik itu?" Tanyaku pada Izuna.
"Tentu, kau pergilah bersama kakakmu, kau pasti akan senang melihat pemandangan disana." Ucap Izuna.
"Kau tidak ikut?" Tanyaku.
"Aku ingin di sini saja menikmati pemandangan dari atas tebing ini." Ucapnya.
Aneh, biasanya dia akan mengajakku pergi dari pada aku harus bersama kakakku.
"Serra, maaf jika selama ini selalu membuatmu marah, aku tahu kau kakak yang sangat peduli pada adiknya." Ucap Izuna.
"Apa yang sedang kau katakan? Dasar aneh, aku memang kakak yang peduli pada adiknya, makanya jika kau menyakiti adikku sedikit saja, aku akan memukulmu hingga wajahmu tidak di kenali para fansmu." Ucap kak Serra.
Mereka sedang ngobrol apa?
"Sudah sana, cepatlah pergi, kapalnya akan bersandar sebentar lagi." Ucap Izuna.
"Cerewet, aku tahu." Ucap kak Serra, dia pun mulai berjalan.
Sementara itu, aku masih menatap Izuna, kenapa dia seperti itu?
"Kau harus tetap kuat, aku yakin masalah ini akan segera selesai." Ucapku, aku ingin memberinya semangat.
Sebuah senyum darinya, dia tersenyum seakan senang mendengar ucapanku.
"Terima kasih." Ucapnya dan aku sangat terkejut, itu adalah sebuah ciuman di bibir.
Wajahku memerah dan malu menatapnya.
"Hey, cepatlah, Sakura." Panggil kakakku.
"I-iya." Ucapku, gugup, berharap kakak tidak melihat apa yang di lakukan Izuna padaku. "Kami akan segera kembali." Ucapku pada Izuna sebelum pergi.
Berjalan lebih cepat ke arah kakakku, dia sampai berhenti untuk menunggu, rasanya sangat senang, dan lagi Izuna tadi menciumku, menghampiri kakakku, tatapannya tiba-tiba berubah, dia tidak menatapku, kak Serra sedang menatap apa? Dan kenapa tatapannya terlihat aneh, dia terlihat sangat syok, aku jadi penasaran, berbalik namun apa yang terjadi, kak Serra memelukku dan mengalihkan tatapanku ke arah dadanya, aku tidak bisa berbalik.
"Ada apa?" Ucapku, bingung.
"Jangan melihat ke belakang." Ucapnya, aku bahkan bisa mendengar suara isak dari kakak.
Kenapa kakak menangis? Ada apa di belakang? Aku semakin penasaran, bukannya di belakang kami hanya ada Izuna, memangnya Izuna sedang apa sampai membuat kakak menangis? Berusaha sekuat tenaga mendorong kakakku, aku harus tahu apa yang terjadi pada Izuna.
Berhasil mendorongnya, melihat ke belakang dan tidak ada siapapun, Izuna dimana? Bukannya dia sedang berdiri di sana dan menikmati pemandangan? Berjalan perlahan ke arah ujung tebing yang curam itu.
"Apa yang kau lakukan! Apa kau juga mau menjadi orang bodoh seperti Izuna!" Ucap kak Serra, dia memelukku dari belakang dari menarikku menjauh dari ujung tebing itu.
"Aku tidak mengerti, apa maksud kakak?" Ucapku, bingung.
"Izuna melompat!" Teriaknya.
Seketika napasku sesak, Izuna melompat? Maksud kakak, Izuna melompat dari sini? Dari tebing ini? Dadaku semakin sesak dan sakit sekali, kenapa dia harus melompat? Aku sudah katakan jika kita akan melewati bersama, air mataku pun mengalir, aku sudah tidak kuat lagi, untuk sejenak, aku baru mendapatkan seorang pemuda yang benar-benar mencintaiku, dia sangat baik dan sangat peduliku.
"Izunaaaaa...!" Teriakku.
Merontah, melepaskan kakakku, aku tidak akan bisa hidup jika seperti ini, jika tidak bersama saat hidup, aku akan menyusulnya.
"Sakuraa!"
Tersentak kaget saat seseorang berusaha membangunkanku dengan paksa, membuka mataku dan tatapan khawatir seseorang yang tengah menatapku.
"Sakura! Sakura! Apa kau bisa mendengarkanku?" Ucapnya. Pakaian jas putih ini dan rambut style emonya.
"Do-dokter Sasuke?" Ucapku.
"Akhirnya kau bangun." Ucapnya, dia terlihat lega, bahkan perawat pendampingnya pun terlihat ketakutan, ada apa? Memangnya apa yang terjadi padaku?
Tunggu.
Tebing itu, Izuna, turun dari ranjang.
"Izuna!" Teriakku, aku kembali menangis, namun dokter Sasuke berusaha menahan pergerakanku dan tidak membiarkanku pergi dari ranjangku. "Biarkan aku menemui Izuna!" Ucapku, memberontak.
Aneh.
Tiba-tiba tubuhku terasa lemas, menatap ke arah dokter Sasuke, dia mengembalikan sebuah jerum suntik pada perawat pendampingnya, dokter Sasuke memberiku suntikan penenang.
"Kenapa kau tidak membiarkanku pergi?" Ucapku, suaraku bahkan terdengar sangat pelan.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dengan keadaan seperti ini." Ucapnya.
"Aku harus pergi, aku harus kembali ke tebing itu dan menemui Izuna, dia tidak boleh pergi sendirian, hiks." Ucapku, tubuhku semakin lemas dan aku terus menangis.
Dokter Sasuke meminta perawat itu pergi dan hanya ada kami berdua.
"Apa kau bermimpi lagi?" Tanyanya.
"Itu bukan mimpi, kau harus tahu dokter, aku datang ke Konoha mencarimu dan tidak menemukanmu di rumah sakit ini, tapi kenapa sekarang aku berada di rumah sakit ini dan Izuna, dia- hiks, dia lompat dari tebing begitu saja, dia bahkan meninggalkanku." Ucapku.
"Tenanglah Sakura, kau hanya bermimpi." Ucapnya.
Mimpi?
Aku tidak yakin jika itu mimpi, aku bahkan sudah berusaha keras untuk mencubit diriku dan menyirami kepalaku dengan air dingin saat itu, semuanya sangat terasa nyata dan kali ini aku kembali ke rumah sakit ini lagi, bertemu dengan dokter Sasuke.
"Jadi siapa Izuna itu?" Tanya dokter Sasuke padaku.
"Izuna adalah- Izuna?" Ucapku, bingung, kenapa aku menangis?
"Iya, kau sendiri yang mengatakannya, kau harus bertemu seseorang yang bernama Izuna, dia berada di tebing." Ucap dokter Sasuke.
"Siapa Izuna?" Ucapku.
Dokter Sasuke terdiam dan menatapku, apa benar tadi kami sedang membicarakan tentang seseorang yang bernama Izuna? Aku bahkan tidak ingat, yang aku ingat, aku sedang tertidur, sekarang tubuhku lemas lagi dan sepertinya akan tertidur.
"Kau tidak ingat?" Tanyanya lagi.
"Aku tidak tahu siapa dia, apa dia kenalan dokter?"
"Baiklah, lupakan saja, sebaiknya kau istirahat." Ucapnya.
.
.
.
.
Jadwal pemeriksaan dokter Sasuke jadi berubah, tidak lagi tiga kali dalam seminggu, tapi setiap hari, setiap hari aku akan terus bertemu dengannya, dia akan bertanya apa aku sedang bermimpi? Tapi akhir-akhir aku tidak pernah bermimpi, kenapa dia terus bertanya hal itu?
"Jadi kau melupakan pemuda yang bernama Izuna?" Tanyanya.
"Masih membahas nama itu lagi? Aku bahkan tidak tahu siapa dia." Ucapku, ini sedikit aneh, kata dokter Sasuke, saat aku terbangun dari tidurku, hanya nama Izuna yang terus aku ucapkan, aku bahkan menangis begitu pilu seperti anak kecil yang akan di tinggal sendirian oleh kedua orang tuanya, aku bahkan tidak sadar jika seperti itu. "Apa penyakitku ini semakin parah? Dokter Sasuke bahkan tidak biasanya memeriksaku setiap hari?" Tanyaku.
"Aku belum bisa memastikannya, aku harap kau bisa bekerja sama denganku, jika kau bermimpi lagi, kau harus cepat katakan padaku." Ucapnya.
Mengangguk, mungkin itulah penyakitku, aku sering melupakan apapun dengan sangat cepat, penyakit macam apa ini? Aku rasa terlalu berlebihan jika hanya berada di rumah sakit ini.
"Ah dan ini untukmu." Ucap dokter Sasuke dan memberiku sebuah kotak cake, isinya adalah stroberi shortcake.
"Terima kasih." Ucapku, senang, kue ini cukup banyak, aku bisa memakannya dengan puas.
Dokter Sasuke pamit padaku dan berjalan keluar, semakin hari, dia semakin perhatian padaku, jangan besar kepala Sakura, dia hanya baik karena kau pasien yang punya penyakit aneh.
.
.
Normal Pov.
"Habis menjenguknya lagi?" Ucap seorang dokter pada Sasuke.
"Iya, aku rasa, aku harus lebih sering memeriksanya." Ucap Sasuke.
"Sampai kapan kau akan menahannya di rumah sakit ini? Sebaiknya bawa dia pulang, penyakitnya akan lebih cepat sembuh jika dia berada di rumah."
"Apa maksudmu? Kau bahkan tidak tahu apa-apa, jangan asal berbicara, dia sengaja di tempatkan di rumah sakit ini karena saat di rumah keadaannya semakin buruk." Ucap dokter Sasuke dan terlihat marah.
"Maaf, bukannya aku memberimu saran yang buruk, dia akan terus mencari tahu tentang dirinya jika terus berada di rumah sakit."
"Urus saja pasienmu dan aku akan mengurus pasienku." Ucap dokter Sasuke dan beranjak pergi, tidak ada gunanya berbicara dengan dokter yang menggunakan kacamata itu.
Dokter Sasuke terus berjalan masuk ke dalam ruangannya, duduk di kursi untuk sekedar melepas lelahnya, kembali memperhatikan grafik kesehatan pasien yang bernama Haruno Sakura itu, keadaannya tetap normal seperti biasanya, tapi semakin hari, keadaannya semakin aneh, walaupun ada sedikit perkembangan jika Sakura mengingat namanya, Sasuke tidak pernah menggunakan nama aslinya jika sedang bertugas menjadi seorang dokter.
Sedikit penasaran dengan nama pemuda yang di sebutkan Sakura sebelum dia melupakannya, Sasuke mencari di internet tentang nama itu, dalam pencarian, dia menemukan nama itu dan berada di kota Suna, dalam beberapa pemberitaan, pemuda yang terkenal sebagai artis dan model itu mengakhiri hidupnya melompat dari tebing, tidak ada lagi berita yang jelas tentang pemuda itu dan kasus ini sudah terjadi cukup lama, sekitar 30 tahun yang lalu, Sasuke melihat wajah pemuda itu, pemuda yang terlihat biasa saja meskipun dia cukup tampan dan postur tubuh yang sangat sesuai untuk menjadi model.
"Kenapa Sakura harus memimpikan pemuda ini? Dia sampai meneriakkan namanya, sampai keras kepala ingin menemuinya, setelah beberapa menit, dia melupakan segalanya, bahkan mimpi sebelumnya tentang gadis yang dibully dan berakhir dengan bunuh diri, ini sangat aneh, hampir semua mimpi Sakura berakhir dengan tragis, apa ini menjadi acuan untuknya bersikap aneh seperti ini? Tapi dalam dunia medis ini masih tidak bisa di jelaskan dengan teori atau apapun."
Sasuke kembali membaca catatan lain, catatan dari dokter Tsunade, Sakura selalu bercerita padanya, tentang kisah lainnya, dan akhirnya pun sama, jika bukan salah satunya bunuh diri, keduanya akan mati bersama.
Tok tok tok.
"Masuk." Ucap Sasuke.
Seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan Sasuke, seorang dokter wanita dengan rambut gold palenya, duduk di sofa dan menatap dokter Sasuke.
"Sudah ada perkembangan dari Sakura?" Ucapnya.
"Kau baru saja datang dan mengatakan hal itu, seharusnya kau yang merawatnya sebelum aku bersusah payah untuk mendapatkan surat pindah dari rumah sakit Oto ke Konoha."
"Aku tidak bisa merawatnya, makanya aku memberinya pada dokter Tsunade, lagi pula dokter Tsunade akrab dengannya." Ucap Ino, Yamanaka Ino, dia adalah dokter ahli bedah saraf.
"Kau pikir Sakura benda yang di oper-oper begitu saja." Ucap Sasuke.
"Aku tidak menyamakannya dengan sebuah benda, aku sangat sulit untuk melihat keadaannya seperti itu, seharusnya kau tahu itu." Ucap Ino, raut wajahnya terlihat sedih.
"Aku pikir kita sudah sepakat akan membantu Sakura." Ucap Sasuke.
"Maaf."
"Sudahlah, kau harus menemuinya nanti."
"Baik. Oh ya, dimana cincinmu? Apa kau terus melepaskannya?" Tanya Ino.
"Aku menyimpannya di saku jasku, kenapa?"
"Ti-tidak, yaa terserah kau saja, mau memakai cincin itu atau tidak, sebaiknya, kau memakainya, mungkin jika saja ada perkembangan yang lebih baik setelah dia melihat cincin itu." Ucap Ino.
Sasuke merogok saku jas dokternya, sebuah cincin perak di dalamnya, mengambil cincin itu dan hanya menatapnya.
"Aku akan kembali ke ruanganku, besok aku akan mengunjungi Sakura, aku yakin dia senang jika aku membawakan makanan kesukaannya." Ucap Ino dan beranjak pergi.
Ending normal pov.
.
.
TBC
.
.
update..~
kali ini author akan memberi clue baru untuk chapter ini : Jangan pernah percaya Yamanakan Ino, dia pembohong.
kali ini author munculkan Yamanaka Ino dan seorang dokter berkacamata, kalian akan kembali penasaran dengan menebak-nebak siapa Ino dan dokter kacamata itu sebenarnya. jadi kita akan mulai bercabang dari sini, bukan hanya sakit sakura, kita akan bergeser sedikit masih tetap ada hubungannya dengan Sakura. yaaa.. kira-kira seperti itu, ada beberapa orang sih yang akan terlibat.
kemarin cluenya sudah author sebutin, terserah mau tebak bagaimana, author ndak keberatan di tebak, nantinya akan terjawab semuanya kok, XD clue-clue lainnya akan author sebutin sambil kalian mencerna baik-baik kisah ini, masih rumit yaa? ehehe, ini fic pertama author yang emang sangat rumit dan akan konsisten dengan kerumitannya.
sekali lagi dapat pertanyaan yang sama dari sitilafifah989 , Sakura sakit apa? Sakura sakit..., kasih tahu nggak yaaa.. XD
wintersnow530 sakura itu sebenarnya, masih sulit author jelaskan. disini belum nampak siapa dia dan apa hubungannya dengan Sasuke, masih simpang siur sih, hehehe.
Lacus Clyne 123 : Iyap, author ambil kisah mereka lagi, tidak ada hubungannya dengan LHG yaa, cuma kisah mereka saja yang akan ada hubungannya dalam fic ini.
yak, sekian penyampaian dari Author.
.
.
See you next chapter. ;)
