Tiada Yang Mustahil

by: Shin Chunjin

Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.

Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.

Warning alert: typo, ooc, gaje

Enjoy~

Kepada yang mereview, kubalas via PM ya. Bagi guest, akan kurespon di sini~

To: syifa-sama

Terima kasih banyak sudah mengikuti cerita ini.. :D Gemes ya pendek-pendek? Ini salah satu siasat author untuk menarik rasa penasaran pembaca #alasan hehe..

Kuusahakan update-nya teratur kok jadi rasa penasaranmu akan terjawab.. :D Selamat membaca ya..

.

Bagi pembaca yang baru mengikuti, selamat menikmati dan mohon review-nya~

Agar mempermudah mengingat nama OC, akan kutulis di awal mulai chapter ini:

© Hoshina Shiki © Hoshina Yuki © Akabane Renji

© Nashiki Hoshi © Yashiro Ren © Shinobu Ayase

© Mitsuhashi Rin © Shin Nagisa © Cornelia Mastina

© Minami Kaoru © Jyuu Hakuei © Fuwa Yoshino

© Tsuchida Miya © Rosemary Cordia

Selamat membaca!

.

.

Author's POV

Tak terasa perkuliahan telah berjalan selama seminggu. Latihan rutin klub basket adalah setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Shiki mendaftar di klub tata boga sekaligus klub tenis meja. Latihan klub tenis meja adalah hari Selasa dan Kamis, sedangkan kegiatan tata boga dilakukan pada hari Jumat dan Sabtu. Shiki senang memasak dan membuat kue meskipun penampilannya tidak se-feminine kakak kembarnya. Yuki ikut klub menata bunga dan klub sastra, sesuai dengan hobby-nya.

Hari Selasa dan Kamis adalah hari di mana Shiki dan Yuki dapat makan siang bersama karena jadwal mereka sama-sama kosong. Ketika Shiki teringat akan topik calon tunangannya, dia pun menanyakannya kepada Yuki, apakah dia sudah tahu tentang ciri-ciri calon tunangannya.

"Eh? Kau belum tahu?" Yuki tampak bingung ketika adik kembarnya bertanya seperti itu. "Sewaktu Ayah dan Ibu membahas soal tunangan ini, mereka sudah menyiapkan foto calon tunangan kita masing-masing."

"Apa? Sungguh?" Shiki hampir tersedak makanan yang hendak ditelan. "Ada di mana sekarang foto itu, Yuki-nee?"

"Ada di kamarmu, waktu itu bukankah kau menyuruhku untuk menaruhnya di rak bukumu saat aku membawakannya?" Yuki terkekeh geli melihat ekspresi adiknya itu.

"Ehh.. Kapan itu? Aku sama sekali tidak ingat."

"Sepertinya kau terlalu capai sehabis penyeleksian klub basket," Yuki tertawa pelan. "Apa seleksinya seberat itu? Aku membawakannya minggu lalu tapi kau sudah hampir tidak bisa bangun. Jangan memaksakan dirimu," katanya sambil menghela nafas khawatir.

"Aku tidak memaksakan diri, kok. Tenang saja, Yuki-nee~" kata Shiki sambil tersenyum lebar. Yuki pun ikut tersenyum melihatnya.

"Baiklah, aku pergi ke perpustakaan dulu ya. Ada buku yang harus kupinjam. Kau jangan keluyuran kemana-mana ya," Yuki bangkit dari tempat duduknya.

"Tidak akan~ Aku mau menyimpan staminaku untuk latihan tenis meja nanti," balas Shiki sambil tertawa.

Yuki berjalan keluar dari kantin sambil melambaikan tangan pada adiknya. Ketika sudah tidak terlihat dari pandangan Shiki, Yuki menghela nafas.

"Tak kusangka kau sangat ceroboh, adik kecil."

.

.

Akashi tidak ada kelas pada hari Selasa, namun dia tetap datang ke kampus untuk mencari buku di perpustakaan. Sudah seminggu, dan dia masih belum menemukan petunjuk siapa calon tunangannya. Jam istirahat makan siang tampaknya membuat perpustakaan menjadi lebih sepi daripada biasanya. Setelah menaruh tasnya dalam loker, Akashi pun mulai mencari buku yang hendak dipinjam. Ketika dia berbelok ke rak buku lainnya, Akashi menabrak seseorang.

"Ah. Gomennasai," Akashi segera memungut buku-buku yang terjatuh di lantai. Sepertinya gadis ini hendak meminjam beberapa buku, pikirnya.

"Tidak apa-apa," gadis yang ditabrak Akashi merapikan rambutnya yang sempat berantakan, menampakkan wajahnya yang sangat dikenal oleh Akashi.

Akashi terkejut melihat gadis itu. "Kau," gerakannya terhenti saat menyodorkan buku-buku yang sudah dipungut, "sedang apa kau di sini?"

"Tentu saja sedang mencari buku, Akashi-kun," jawab Yuki sambil menerima buku yang disodorkan Akashi.

"Heh.. Tidak kusangka kau tipe yang akan pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku."

Yuki tersenyum mendengar hal itu. Dia tahu yang dimaksud si rambut merah ini pastilah adik kembarnya, namun dia tidak ada niat untuk membongkar identitasnya sekarang. "Aku datang ke perpustakaan karena aku suka membaca."

Akashi merasa ada yang aneh, lalu melihat penampilan gadis berambut coklat dihadapannya ini. "Tumben sekali kau memakai pakaian yang manis."

Yuki sedikit merona mendengar pujian itu, namun dia berusaha untuk bersikap biasa. "Apa maksudmu? Jadi biasanya aku tidak manis?"

"Biasanya kau memakai kemeja dan celana jeans. Seperti laki-laki."

"Tapi tidak ada salahnya jika aku memakai pakaian seperti ini, kan?" Yuki menunjuk pada baju atasan dan rok dengan warna senada yang dipakainya.

Akashi tertawa melihat tingkah gadis tersebut. Dia berpikir bahwa tingkah Yuki tadi agak menggemaskan. Sebelum ada percakapan lebih jauh, Yuki pamit untuk meminjam buku dan keluar dari perpustakaan. Akashi memperhatikan gadis berambut coklat itu hingga hilang dari pandangan. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Akashi bahwa gadis berambut coklat ini bukanlah gadis berambut coklat yang dia kenal.

.

.

Jam tiga, latihan klub tenis meja dimulai. Tempat latihannya ada di gedung fakultas pendidikan jasmani, di lantai tiga. Shiki mengikuti latihan dengan semangat karena dia menyukai tenis meja. Banyak cabang olahraga yang disukai, hanya saja Shiki tak bisa berenang. Untung saja berenang bukan kegiatan wajib seperti saat sekolah dulu. Ketika latihan selesai, Shiki pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Fasilitas gedung fakultas pendidikan jasmani memang seperti tempat olahraga pribadi, pikirnya.

Sehabis mandi, Shiki memutuskan untuk membeli makanan di kantin sebelum dia pulang ke apartemennya. Kali ini, dia hendak mencoba kantin yang ada di gedung fakultasnya, gedung Y. Kantin gedung Y ada di lantai 3, tempat fakultas tata boga melakukan praktik memasaknya. Mungkin saja sebagian makanan yang dijual adalah hasil karya mereka. Ketika melewati salah satu ruang kelas memasak yang pintunya sedikit terbuka, langkah Shiki terhenti. Ada bau manis yang sangat dia sukai. Wangi cupcake! Shiki pun memutuskan untuk mengintip ke dalam, dan melihat seorang laki-laki berambut ungu sedang duduk termenung. Shiki heran, namun ketika dia hendak melangkah pergi laki-laki itu memanggilnya.

"Siapa di sana?"

Shiki mau tak mau menyembulkan kembali kepalanya. "Maaf, aku tak bermaksud mengganggumu. Aku tertarik karena aroma cupcake yang ada di ruangan ini."

Si rambut ungu ini menatap malas gadis yang masih di depan pintu. "Masuk saja jika kau mau."

Shiki pun masuk ke dalam dan menghampiri laki-laki tersebut. Tinggi sekali, pikirnya dalam hati. Laki-laki yang sedang duduk ini menyamai tinggi kepalanya! Mata Shiki segera beralih ke beberapa cupcakes yang ada dihadapan laki-laki tersebut.

"Wow! Kau membuatnya sendiri?"

"Ung.. Aku anak tata boga," katanya sambil kembali memperhatikan cupcakes buatannya.

"Siapa namamu?"

"Murasakibara Atsushi. Kau sendiri?"

"Panggil saja aku Shiki, Atsu-kun~" Shiki tersenyum lebar saat memperkenalkan namanya.

Murasakibara mengernyitkan alisnya, merasa aneh dengan nama panggilan dari Shiki. Belum sempat protes, Shiki sudah menanyainya. "Apa ada yang salah dengan cupcakes buatanmu? Tadi kulihat kau tampak sedang merenungi sesuatu."

Murasakibara menghela nafas, "Kau akan tahu jika mencobanya." Dia pun menyodorkan salah satu cupcake kepada Shiki.

"Terima kasih untuk makanannya." Shiki mengambil dan kemudian menggigit kecil cupcake yang diberikan si rambut ungu ini. Baru beberapa kali mengunyah, air muka Shiki berubah. Dengan penuh perjuangan dia menelannya. "Kau.. Salah mengambil gula halus ya?"

Yang ditanya hanya bisa mengangguk. "Aku tidak tahu kalau yang kuambil tadi adalah garam halus. Sekilas mereka terlihat sama."

Shiki melihat beberapa cupcakes yang pasti rasanya sama asinnya dengan yang ia makan. Rasanya sayang jika membiarkan mereka terbuang. "Baiklah. Serahkan padaku. Aku akan membantumu agar mereka bisa dimakan."

Shiki segera mengambil bahan-bahan yang ada untuk "menyihir" cupcakes asin tersebut. Murasakibara hanya diam dan memperhatikannya hingga tiba-tiba dia membuka mulut, "Kau.. Kau anggota klub basket perempuan, kan?"

Shiki menoleh mendengar itu. "Iya, bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku juga anggota klub basket. Aku melihatmu saat bertanding dengan tim laki-laki minggu lalu."

Shiki tertawa lalu kembali melanjutkan membuat krim gula. "Kumohon jangan ungkit-ungkit hal itu lagi. Jika dipikir ulang perbuatanku waktu itu sangat memalukan."

Murasakibara terkekeh melihatnya. Minggu lalu dia terlihat seperti singa betina, namun sekarang dia seperti anak kucing yang menggemaskan. Tak lama kemudian, cupcakes gagal buatannya pun sudah dihias oleh gadis ini. Ketika dia memakannya, rasanya enak sekali! Asinnya berhasil dikurangi. "Apa yang kau lakukan?"

Shiki hanya tersenyum. "Rahasia~ Sudah sore, saatnya aku pulang. Terima kasih untuk cupcake-nya, Atsu-kun!" Shiki pun melambaikan tangan lalu keluar dari kelas memasak tersebut.

Murasakibara melihat cupcake yang dibawa pergi gadis tadi adalah cupcake pertama yang dia berikan untuk dicicipi. Dia tertawa pelan, sedikit heran kenapa gadis itu tidak mengambil beberapa. Segala peralatan yang dipakai sudah dicuci dan dirapikan. Murasakibara pun membungkus cupcakes-nya dan keluar dari ruangan. Ketika sampai di lantai satu, dia melihat Akashi.

"Aka-chin, kau sedang apa?"

"Oh, Murasakibara. Aku sedang membaca buku pinjaman perpustakaan. Sebentar lagi aku akan pulang dengan yang lainnya. Kau sendiri?"

"Aku baru saja membuat cupcakes. Kau mau?" Murasakibara menyodorkan sekantung plastik berisi beberapa cupcakes.

Akashi yang melihat cupcakes tersebut cukup terkagum. "Tak kusangka kau bisa menghiasnya sedemikian bagus. Bagaimana dengan rasanya?"

Belum sempat Murasakibara menjelaskan, Aomine, Kise, Midorima, Kuroko, Kagami, Takao, dan Himuro datang menghampiri mereka.

"Woah, kau membuat cupcakes, Murasakibaracchi?! Berikan aku satu-ssu!" Kise berseru disusul dengan kehebohan yang lain. Pada akhirnya, sembilan laki-laki duduk di bangku taman sambil makan cupcakes. Sungguh pemandangan yang cukup langka.

"Ini enak sekali, Murasakibara-kun," kata Kuroko sambil mengunyah cupcakes-nya.

"Atsushi, kemampuanmu sudah berkembang pesat ya," Himuro menepuk-nepuk kepala Murasakibara sambil memujinya.

Akashi yang juga memakan cupcakes buatan Murasakibara juga mengakui kalau rasanya cukup enak. Tapi sepertinya ini bukan cupcakes lagi namanya karena tekstur kuenya tidak seperti dipanggang, melainkan seperti dikukus. Yah.. Setidaknya masih bisa dimakan dan rasanya pun pas.

"Sebenarnya cupcakes ini gagal," aku Murasakibara, yang mengakibatkan sebagian dari mereka hampir tersedak. "Namun ada gadis berambut coklat yang membantuku sehingga cupcakes ini bisa dimakan."

Akashi sedikit membulatkan mata mendengar itu. Mungkinkah dia?

"Siapa namanya? Apa kau menanyakannya?" Tanya Aomine.

"Dia juga anggota klub basket. Namanya Shiki," jawab Murasakibara sambil menghabiskan cupcakes bagiannya.

Himuro tersenyum mendengarnya. "Pantas saja rasanya aku tak asing dengan rasa ini."

Akashi sedikit mengerutkan alis, sedikit tidak senang mendengar perkataan Himuro barusan. Apa maksudnya itu, seperti sudah sering memakan masakan gadis itu saja. Tersadar karena merasa aneh, Akashi pun ingin membenturkan kepalanya. Tidak mungkin dia cemburu, kan?

.

.

Sesampainya di apartemen, Shiki segera membuat makan malam untuknya dan kakak kembarnya. Sebentar lagi Yuki akan pulang dari kegiatan klubnya. Setelah mandi, Shiki teringat dengan omongan kakaknya di kantin. Dia pun mencari-cari di sekitar rak bukunya, ada di mana foto calon tunangannya itu. Di deretan buku-bukunya, ada suatu sampul buku terbuat dari kulit hitam. Shiki mengambilnya dan tersenyum. Ini dia, buku yang berisi foto calon tunangannya. Setelah mengatur nafas, Shiki pun membukanya. Matanya membulat tak percaya ketika melihat orang yang ada di foto tersebut.

"Ehhhhh?! Sei-kun?!"

-to be continue-

Hi minna... Chun's here! Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff pertama saya ini. Hehe banyak juga yang memanggilku "Shin", jadi terserah saja kalian mau memanggilku dengan nama yang mana.

Maaf jika chapternya pendek-pendek. Bukankah lebih menyenangkan chapter yang pas (tidak pendek tapi tidak panjang) dengan waktu update yang cukup teratur? #peacesign

Mohon di-review.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi saya.. :D

Semoga kalian menyukai cerita ini~

Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~

Salam sejahtera,

Shin Chunjin