Tubuh gemetar, pandangan waspada, dan pikiran yang berkecamuk seakan menjadi satu bagi Rin saat ini. Hari ini adalah pertama kalinya Rin menginjakkan kaki kembali keluar rumah. Pergerakkan Rin saat ini di dasari oleh bujukkan Len yang memohon padanya selama satu minggu ini. Sebenarnya Rin tidak ingin keluar dari surga yang ia tempati setelah kejadian tak terduga di lapangan basket waktu itu, tapi melihat Len memohon terus-menerus akhirnya Rin pun menyanggupi.

"Kita akan pulang, jika kau merasa tidak aman," Inilah yang dikatakan Len untuk meyakinkan Rin.

Len memperhatikan Rin yang berada beberapa meter di belakangnya dengan pandangan tidak tega. Ia mengerti gadis itu masih trauma dengan dunia luar, bahkan semuanya terlihat jelas dari tubuh Rin diam tak bergerak dari posisinya. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, namun ketika sampai di sekolah dan saat teman-teman Rin mulai mendekatinya satu per satu, Rin pun mulai menunjukkan reaksi. Satu hal yang perlu diketahui, delapan puluh persen teman Rin adalah laki-laki.

"Kau sudah memutuskan membuat Rin bersosialisasi lagi ternyata."

Len mengalihkan perhatiannya pada sosok pemuda berambut ocean blue yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Tak begitu lama, pandangan Len kembali menatap Rin yang masih diam dengan tubuh bergetar saat di kelilingi teman-temannya. "Sekarang aku merasa, bahwa ini adalah ide yang buruk."

"Kau harus mengerti, Len. Rin hanya perlu menyesuaikan diri kembali."

"Tidak! Aku akan membawanya pulang sekarang."

Pergerakan Len terhenti tatkala Kaito menahan lengannya. "Jika kau terus mengurung Rin di rumah maka semuanya takkan pernah berubah," ucap Kaito.

"Lalu?" Len menengok ke arah Kaito. "Lalu apa yang harus kulakukan? Membuatnya semakin takut? Membuatnya semakin menderita?" Sambung Len dengan nada tinggi.

Namun perkataan Len mendapatkan jawaban sebuah senyuman dari Kaito. "Kau tunggu disini! Biar aku yang atasi!" ucap Kaito.

Kaito melepaskan lengan Len dan berjalan menghampiri gerombolan pemuda yang mengelilingi Rin. Sebuah tepukan ia berikan pada dua remaja yang tingginya hanya sedagu Kaito. Memang pemuda ocean blue itu memiliki tubuh yang cukup tinggi dibanding Len maupun teman-temannya, maka dari itu ia bisa lolos dengan mudah saat ada test masuk klub basket. Kembali pada dua remaja yang ditepuk oleh Kaito. Dua remaja itu pun menatap Kaito dengan pandangan bingung, namun langsung menyingkir saat Kaito memberikan bahasa isyarat untuk memberikan akses masuk menggunakan tangan. Melihat celah yang terbuka, Kaito pun merangsek masuk ke dalam gerombolan tersebut lalu berdiri di hadapan Rin dengan cara membelakanginya.

"Baiklah, baiklah. Sudah cukup sesi tanya jawab kalian hari ini. Rin masih sakit dan perlu istirahat, dan apa kalian tidak melihat Len yang sejak tadi menunggunya disana," Kaito menunjuk ke arah Len dengan dagunya. "Jadi sekarang bubar, okay?" Sambung Kaito.

Dengan terpaksa seluruh siswa yang mengerubungi Rin pun mulai bubar satu per satu meninggalkan mereka berdua. Setelah tak ada satupun yang teman laki-laki Rin mengerubunginya, Kaito berbalik menghadap teman perempuannya tersebut.

"Kau sudah aman sekarang, Rin." Entah salah atau apa, tapi Rin mulai menangis setelah mendengar perkataan Kaito sehingga membuat pemuda itu kebingungan. "Ri-Rin? Kau baik-baik saja? Apa mereka menyakitimu?"

"Ada apa?"

Kaito menengok ke arah Len yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. "I-ini bukan salahku!" Kata Kaito panik.

Len memutar bola matanya malas saat mendengar sanggahan Kaito yang sudah jelas ia tahu. Lagipula ia bertanya pada Rin bukan pada pemuda bodoh di sampingnya ini. "Sepertinya ide ini memang bodoh," Ide ini memang benar-benar bodoh. Seharusnya ia tidak mengikuti perkataan teman birunya ini. "Sebaiknya kita pulang dan istirahat." Sambung Len yang ditanggapi dengan anggukkan oleh Rin.

"Rin!"

Len dan Kaito mengarahkan pandangannya pada sosok gadis berambut teal yang tengah berjalan mendekat dengan wajah khawatir. Miku memeluk tubuh Rin yang lebih mungil darinya itu dengan lembut. Miku tahu, bahwa Rin takkan menerima uluran tangannya dalam bentuk apapun karena dia juga salah satu orang yang pernah menyakitinya. Tapi apakah dia bisa diam saat tahu mantan sahabatnya itu tengah terluka? Seharusnya bisa, tapi apa daya kalau hati kecilnya itu meronta? Bagaimana pun juga masa lalu mereka itu kesalahannya.

"Maaf. Aku benar-benar minta maaf, Rin. Jika saja aku tidak bertindak bodoh, maka kau akan pergi denganku ke pertandingan Kaito dan semua tidak akan terjadi seperti ini."

"Entah mengapa aku merasa disalahkan," Tanggap Kaito saat mendengar perkataan Miku.

"Kau memang salah."

Twins

"Sudah lebih baik?"

Sebuah botol air mineral yang telah habis diminum setengahnya oleh Rin itu terus digenggamnya dengan erat. Tubuh Rin kini sudah berhenti gementar meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dan belum mau berkata apapun, bahkan saat Len menanyakan kondisinya sekalipun. Len menatap kedua temannya secara bergantian untuk meminta pendapat perihal Rin. Apa yang harus ia lakukan, tepatnya.

"Aku tidak menyarankan membawanya pulang. Jika kalian pulang maka selamanya Rin takkan bisa keluar rumah," Tanggap Kaito.

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Rin berbeda kelas denganku, bodoh!"

"Aku yang akan menjaga, Rin. Lagipula kami sahabat dan aku sekelas dengannya,"

Mendengar perkataan Miku, Len dan Kaito pun saling berpandangan sebentar sebelum menggelengkan kepala. "Maaf, Hatsune-san. Saat ini kau termasuk dari salah satu daftar orang yang menyakiti Rin, jadi kami tidak bisa menyerahkan Rin padamu." Kata Kaito.

"Apa maksdumu, huh?" Tanya Miku dengan nada tinggi karena kesal.

"Len sudah mengatakan semuanya tentang kalian. Dengan kondisi Rin yang seperti ini, sepertinya kehadiranmu bisa membuatnya terguncang lagi."

"Kurasa Kaito benar," Kata Len menanggapi. "Bahkan Rin terkadang masih menolak kehadiranku saat lamunannya buyar atau ingatannya soal pelecehannya kembali."

"Yah, dan aku pernah mendapatkan bantal salah sasaran yang harusnya mengenaimu. Terima kasih, teman."

Len memutar bola matanya malas saat menanggapi perkataan Kaito. Memang benar, Kaito pernah mendapatkan bantal salah sasaran dari Rin yang harusnya mengenai dia, dan beruntung waktu kejadian Len cepat tanggap dan langsung berjongkok saat ia membuka pintu kamar Rin sehingga bantal tersebut mengenai Kaito yang ada di belakangnya. Naas memang, tapi nasi sudah menjadi bubur. Lalu untuk apa Kaito ke rumah Len? Sudah jelas ia hanya mengunjungi Rin secara rutin dan sesekali membawa Gumi untuk membantu keperluan gadis honey blonde itu.

"Aku akan membawa Rin pulang. Sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuknya keluar rumah."

"Tapi kita tidak akan tahu sebelum mencoba, bukan?" Miku menatap Kaito dan Len yang berdiri dekatnya. "Walaupun terjadi sesuatu, kita bisa membawanya ke UKS. Lagipula pihak sekolah pasti mengerti dengan keadaan Rin yang sekarang."

"Kau tidak bisa mengatasinya sendiri, Miku."

"Sudahlah, Len. Biarkan Hatsune-san mencobanya terlebih dahulu, lagipula bisa saja persahabatan mereka kembali membaik, bukan?" Kata Kaito.

"Tapi-"

"Sudahlah. Lagipula para guru disini pun akan memantau keadaan Rin seperti yang ku katakan sebelumnya di rumahmu."

Len menghela nafas menanggapi perkataan temannya yang bodoh ini. "Baiklah."

Twins

Masih segar dalam ingatan, baru beberapa jam yang lalu Len ingin membawa Rin pulang karena kondisi gadis tersebut, namun Kaito dan Miku ngotot untuk meneruskannya. Len tahu Kaito itu bodoh dan Miku mungkin ketularan pria biru itu, tapi hari ini Len merasa lebih bodoh daripada mereka. Seharusnya ia membawa Rin pulang lebih cepat.

Len menyentakkan tubuh Rin yang berada di punggung agar tidak terjatuh dari gendongannya. Tas tangan mereka kini telah dialih posisikan pada Kaito untuk membawanya alih-alih agar Len bisa menggendong Rin lebih nyaman, padahal Len hanya tidak mau gadisnya ini disentuh siapapun meski tujuannya baik yaitu, menggendongnya pulang. Kalau boleh jujur, Len bukan seorang pemuda yang atletis seperti Kaito dan tubuh Rin tidaklah ringan. Jika kalian bertanya seberapa beratnya Rin, maka lihatlah peluh yang menetes di pelipis Len dan bayangkan bagaimana perjuangan pemuda itu menggendong Rin hingga sampai rumah.

"Kau yakin tidak ingin gantian, Len?"

"Ya!" Jawab Len dengan mantap. "Kau bawa saja tas kami dan aku akan mengurus Rin." Sambungnya.

Kaito menggaruk pipinya dengan telunjuk karena bingung harus apa. Masalahnya ia kasihan dengan Len yang sepertinya kelelahan menggendong Rin dari sekolah hingga rumah mereka meski baru sampai setengah perjalanan, tapi temannya ini ngotot untuk membawa Rin yang tengah tertidur setelah amukannya di kelas dan UKS pulang ke rumah dan menyuruhnya memegangi tas mereka. Padahal menurut Kaito, Len tidak perlu malu untuk meminta bantuannya dari pada kesusahan sendiri seperti ini.

"Kau yakin, Len?" Tanya Kaito yang benar-benar khawatir. "Bukankah rumahmu masih jauh?"

"Tidak masalah. Aku bisa melakukannya."

"Baiklah." Kaito terdiam sejenak sambil sesekali melirik ke arah Len. "Kau yakin?"

"Berisik!"

To Be Continue

Halo, bertemu lagi dengan saya Go Minami Asuka Bi yang telah berganti nama menjadi Go Minami Oen-B.

Sebelumnya saya minta maaf karena Twins updatenya agak lama karena saya harus memikirkan konsekuensi ke depannya dan saya sangat berterima kasih dengan para reader yang selalu teriak di review bilang,

"Thor, Twins nya lanjutin!"

atau

"Thor, lanjutannya mana. Update cepetan."

Jujur, saya terharu banget karena ada bisa ampe nungguin cerita saya. Padahal cerita saya abal" banget dan sebenernya saya tau kalian nungguin cerita karena adegan skidipap asoy melehoynya kan :v. Sudahlah, mengaku saja para reader mecum sekalian. Karena pembuat dan pembaca sama-sama mesumnya. wkwkwk.

Oh ya, saya ini masih dalam tahap pengembangan tulisan dan diksi, jadi kemungkinan ff saya yang masih on going akan saya rombak dan perbaharui dari segi EYD, typo diksi dan lainnya, termasuk Twins ini. Yah biar lebih nyaman para readers dengan adegannya. Jadi, gimana? Apa tulisan saya sudah agak bagus? sudah agak berkembang?

Ah ya! ada satu pengumuman lagi.

Sebenernya ada yang buat saya terlantarin cerita ini. Cuma hal sepele sih, tapi berpengaruh banget buat ceritanya. Tapi karena saya ini orangnya labil, jadi saya susah untuk memutuskannya. Dan untuk kali ini saya ingin para Reader membantu saya untuk memilih agar cerita ini pun upnya ga selama kemarin.

VOTTING!

Kalian pilih LEN atau KAITO yang menjadi orang pertama berhubungan intim dengan Rin? Kalo Len, kenapa? Kalo Kaito, Kenapa? Atau Treesome (Ga saya rekomen juga yang ini. Soalnya kasian! Anak org masih begitu, dan mau d Treesome aje.)? Atau adegan Lime aja antara Kaito dan Rin?

Ps: Jangan mikir cerita ini LenxRin jadi Kaito ga boleh berbuat :v. Apapun pilihan kalian, Endingnya tetap LenxRin. jadi ga akan berubah. Cuma ini saya pnya percabangan di otak yang endingnya tetep satu arah. Jadi semua pilihan kalian, Endingnya tetep sama... LenxRin tetep berjaya!!! :v...

Satu lagi. kalo ga ada yang jawab, terpaksa ini saya tunda sampai otak saya milih sendiri dan ga tau kapan (serius).Maaf bukan maksa. Tapi saya sendiri ga enak telantarin gegara pemikiran saya.Dan maaf sata ga bisa balas satu per satu review kalian karena laptop saya rusak dan ini saya pakai HP. Ok.Mungkin segitu dulu untuk Twins Kali ini...

Sekali lagi Terima kasih bagi readers yang sudah menbaca dan mereview cerita ini. SeeU Next Chapter.

Salam hangat,

Go Minami Oen-B