Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)
Cerita ini merupakan fanfiction, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun. I Love BTS :*
BTS Fanfiction
Polar Opposite
Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.
[8]
.
.
.
Gila. Rasanya sungguh gila. Hoseok tak bisa berpikir lagi, dia merasa gila. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Yang dia lakukan hanya diam. Ya, diam. Tidak tahu harus berkomentar apa. Bahkan ketika tuan muda yang dia hormati tengah berbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya, Hoseok hanya bergeming saja.
Kepalanya terasa seperti mau pecah. Sungguh, Hoseok tidak menyangka ini akan berlangsung sedemikian rupa. Datang ke rumahnya dalam kondisi heat, sementara Kim Taehyung, tetangga sekaligus yang sudah dia anggap sebagai adiknya, seorang alpha dan mengaku mate-nya Yoongi adalah yang menyambutnya. Hoseok merasa gila. Sungguh gila.
"H-Hoseok-ssi, kita harus memanggil dokter…" Hoseok mengangkat kepalanya, sementara matanya mengerjap—berusaha mengumpulkan fokusnya. Wendy, yang memanggilnya, bertanya ragu. Di tangannya terdapat sebuah baskom dengan air habis dipakai untuk mengompres. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya ketika sang butler senior tak lekas menjawabnya. "Hoseok-ssi?"
Hanya hela napas yang selanjutnya terdengar. Hoseok masih bergeming, sementara Wendy semakin mengerutkan keningnya. "Kalau terjadi sesuatu dengan Tuan Muda, bagaimana?"
Sontak Hoseok melempar tatapan penuh arti. Sebuah tatapan yang lekas membuat Wendy menciut, seperti tidak sengaja menyenggol sebuah harga diri. Wendy menunduk takut-takut.
Hoseok menghela napas lagi. Kini butler senior yang tidak mengenakan suit seperti biasanya itu telah berdiri. Tangannya di pinggang, sementara matanya menatap ke arah ranjang di mana Yoongi tengah berbaring sendirian.
"Kau mau bunuh diri?" Nada dalam dan lirih itu sukses membuat Wendy seperti benar mau mati. Pikirannya lekas merenung dalam, menunggu Hoseok berkata lagi. "Jelas tidak bisa kita memanggil dokter ke sini untuk Tuan Yoongi."
Wendy hanya bergeming, sementara Hoseok sudah menoleh ke arah ruang tamu di mana Taehyung duduk menekuk kaki di atas kursi. Matanya menyorot sedih, melihat guratan otot antara lengan Taehyung yang memeluk kakinya sendiri. Taehyung menahan diri, untuk sesuatu. Jelas Hoseok tahu sendiri apalah sesuatu itu.
Dalam hati, sebenarnya Hoseok panik sekali. Mungkin lebih panik daripada Wendy. Dia jelas sangat takut dengan kondisi Yoongi. Kondisi tuannya itu sudah dalam tahap krisis, karena berulang kali mengelak dan melawan kekuatan ruh omeganya sendiri.
Jika ini terjadi sebelum Yoongi bertemu Taehyung, Hoseok jamin kejadian Yoongi tak sadarkan diri tak akan terjadi. Tubuh Yoongi kelelahan, namun kesadarannya akibat telah menemukan matenya semakin membuat naluri lebih kuat dari ambisi.
Hoseok paham sekali. Sangat paham. Tak terbesit sedikitpun kemungkinan penyakit lain seperti jantung atau epilepsi yang menyertai ketika Yoongi tak sadarkan diri. Tidak sedikitpun. Dia sudah hidup lama dengan Yoongi. Dia jelas mudah sekali memahami tuannya ini. Sungguh, Hoseok tak butuh dokter untuk tahu apa yang bisa menyembuhkan Yoongi. Hoseok tidak butuh teori medis lagi.
"Kau kompres Tuan Yoongi lagi, dan berikan air minum jika dia sudah mulai sadarkan diri," ucap Hoseok sebelum kakinya melangkah pergi.
.
.
-Polar Opposite-
.
Beberapa saat kemudian, Yoongi mulai sadarkan diri. Menyadari itu, Wendy lekas memanggil Hoseok yang setengah tertidur bersama seseorang yang tak ia kenali, sebelum kembali pada Yoongi dan memberinya minum. Wendy membantunya setengah duduk, lalu meminumkan segelas air pada Yoongi yang masih tampak lemas sekali.
"Terima kasih, Wendy…" ucap Yoongi, lirih sekali.
Badannya masih terasa panas, sedang peluhnya keluar tanpa henti. Yoongi belum bisa mengendalikan benar tubuhnya sendiri. Dia gemetar, namun tak tampak di mata Wendy. Yoongi maklumi, karena gemetar itu bagian dari respon emosi diri.
Ya, emosinya tidak stabil. Dalam dirinya, dia bertengkar hebat sekali. Dengan ruh omeganya. Bagaimana tidak? Ketika Yoongi bahkan tidak pernah menduga akan bertemu sang alpha ketika pintu Hoseok terbuka. Yoongi tidak siap, dan omeganya seperti melompat, membuat Yoongi terguncang tak kuat. Ia pun berakhir tak sadarkan diri.
Yoongi bergeming, hingga ia melihat Hoseok menghampiri. Ditatapnya sendu sang butler yang sudah bekerja lama dengannya ini. Yoongi tak enak hati. Hoseok pasti khawatir sekali.
"Hoseok…"
"Anda sudah sadar, Tuan?" Hoseok bertanya, sembari tubuhnya duduk di kursi dan meraih tangan Yoongi. "Oh, syukurlah."
Yoongi tersenyum tipis. Dia merasa sangat tidak enak hati. Hoseok bertanya lagi, tentang apa tujuannya kemari. Tentang dia yang menduga mungkinkah Yoongi bosan dikunci Mamanya sepanjang hari, atau dia ingin lepas sejenak dari beban tanggungan sebagai pewaris. Hoseok menduga, bertanya, dengan Wendy yang setia menemani, sementara Yoongi tak bisa fokus sama sekali.
Yoongi tak fokus, telinganya berisik. Erangan omeganya yang tak henti-henti membuat batinnya sakit. Sakit sekali, Yoongi sesungguhnya ingin menangis. Akan tetapi, ia sadar ia akan tampak seperti orang gila jika menuruti. Ia ingin menangis tanpa sebab yang bisa dibahasakan dengan baik. Ia, omeganya sedih. Sedih sekali.
"Hoseok," panggil Yoongi. Hoseok lekas berhenti, pun mengalihkan atensi Wendy.
"Ya, tuan?" tanya Hoseok.
"Kau mengenal … Taehyung?" tanya Yoongi. Entah bagaimana, paru-parunya terasa lebih ringan menanyakan hal tersebut. Yoongi mulai jelas menatap butlernya ini, tidak tahu saja yang ditanyai sudah ingin gantung diri. "Kau mengenalnya?"
Hoseok sebenarnya panik, tapi pembawaannya masih tenang sekali. Sementara itu, Wendy lekas menunduk dan mohon undur diri. Yoongi melihatnya dan mengizinkan Wendy untuk pergi sejenak. Kemudian, pandangan Yoongi beralih pada Hoseok lagi.
"Siapa?" tanya Yoongi.
Hoseok berteriak dalam hati. Batinnya menjerit, membayangkan kalau ini akan rumit sekali. Hoseok tidak siap, ini mendadak sekali. Dia tidak mengerti apa yang akan dilakukan mamanya Yoongi jika tahu akan hal ini.
Hoseok berpikir dalam sekali, sampai fokusnya sontak kembali ketika dia dengan mata betanya bisa melihat air mata Yoongi yang terbendung samar dengan hati yang gundah sekali. Hoseok terdiam, kemudian menghela napas lagi.
"Dia adik saya, Tuan," jawab Hoseok, mencoba tidak gemetar menjawabnya. "Maksud saya, tetangga yang sudah seperti adik kandung saya sendiri. Kami cukup akrab sejak kecil."
Hoseok menatap Yoongi hati-hati. Masih sama dilihatnya suasana hati sang omega yang tak tahu diri ini. Hoseok merasa buruk untuk mengumpati kondisi Yoongi dalam hati. Tapi, dia juga tahu kalau Yoongi melawan naluri, menuruti ambisi. Dan kini Hoseok terlibat, bukan berarti marah pada Yoongi. Akan tetapi, ia panik. Ia mengkhawatirkan dua manusia yang baginya sangat berarti.
Yoongi hanya bergeming, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia merasa tidak enak hati, Hoseok pasti sedih sekali. Dia pun tidak sadar kalau air matanya yang terbendung sudah turun lagi, sukses membuat Hoseok tergagap kali ini.
"T-tuan?!"
Yoongi melebarkan matanya, lekas mengusap pipinya sendiri. Dia meminta Hoseok untuk tenang kembali, sementara tangannya sibuk menutupi wajah dan mengusap air mata yang ternyata tak mau berhenti.
Yoongi hampir tak mengerti, tapi kemudian dia sadar naluri omega mulai menguasai. Yoongi menderita, dan mulai tak tahan terisak untuk merasakan sakit badan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia pun gelisah, mulai menyembunyikan wajahnya sendiri di balik bantal, menahan diri untuk menangis. Yoongi tidak mengerti, tapi ia yakin Hoseok sudah kehilangan kendali untuk tetap tenang kali ini. Suara Hoseok mulai gemetar, Yoongi mendengarnya jelas, meskipun dia sibuk kesakitan sendiri.
"Taehyung! Taehyung!"
Benar saja, Hoseok panik. Dia tak sanggup untuk tidak melibatkan Taehyung lagi. Sebenarnya Hoseok berusaha untuk membantu Taehyung menahan diri, supaya masalah mereka tidak makin rumit. Akan tetapi, kondisi Yoongi yang kesakitan begini membuatnya hilang kendali.
"Tae!"
Taehyung muncul dengan penampilan tidak bisa dikatakan baik. Rambutnya berantakan, akibat terlalu lama menunduk dan entah melakukan apa hingga membuat keringatnya mengucur di sana – sini. Taehyung lekas naik ke sebelah Yoongi, naluri. Sementara itu, Wendy hanya di depan pintu. Dia tidak berani terlibat lebih jauh lagi.
"Lakukan sesuatu, Tae!"
Taehyung bingung, pikirannya tidak fokus. Tangannya merangkul Yoongi, namun tubuhnya seperti tak berani mendekat lagi. Taehyung bingung, pun akhirnya dia menatap Hoseok sebelum mereka berdua sama-sama bergeming.
Taehyung ingin mengucapkan sesuatu, seperti dia tidak tahu harus bagaimana kali ini, namun giginya bahkan tak mampu bergerak. Rahangnya seperti mengeras, dengan napasnya semakin tak terkendali. Taehyung menatap Hoseok lagi.
Hoseok yang mendapatkan reaksi itu segera tahu diri. Dia mengerti, mengerti sekali mengapa Taehyung seperti ketakutan namun tetap berdiam diri. Taehyung panik, takut, dalam versi tubuh dan naluri dari ruh alphanya sendiri. Hoseok lekas menghela napas, berusaha meraih ketenangannya lagi.
Hoseok balas menatap Taehyung kali ini. Sepertinya, dia memang harus terlibat untuk urusan ini. Karena, bahkan Taehyung sama tak maunya dengan Yoongi untuk menerima takdir secepat ini. Dan Hoseok yakin, memang takdirnya untuk berada diposisi ini. Hoseok menghela napasnya kali ini.
"Tae," panggil Hoseok, postur tenangnya kembali. Hoseok telah berdiri.
"Urusan nanti, biarlah nanti. Sekarang, kau lebih tahu bagaimana menghadapi Yoongi, bagaimana menenangkan dia. Kau alpha, dan kau takdirnya," tukas Hoseok sebelum dia benar pergi, menutup pintu kamarnya, meninggalkan sepasang alpha-omega itu berdua saja.
Hoseok menghela napasnya, kemudian menatap Wendy yang sejenak terpaku pada keputusan yang terjadi sebelum ia menghormat pada seniornya. Hoseok lebih paham untuk keputusan ini. Yang nanti, biarlah nanti. Kali ini, Hoseok mengajak Wendy untuk bergabung dengan Luigi, supir yang membawa Wendy dan Yoongi kemari, yang tengah duduk di ruang tamu menikmati secangkir kopi.
.
.
-TBC-
Mind to Review?
Aku sedang butuh kehidupan jadi aku update hehe. Maaf ya, kalau aneh.
Sorry for typo (s), I don't have a personal editor kkk..
Selamat datang di keabsurdanku yang lain..
Salam
Sugarsister!
