Sehun menengadah, menatap langit yang kini diselimuti awan hitam. Hujan bukan masalah besar bagi Sehun. Ia suka hujan. Seperti kecintaannya pada bau parfum Luhan, tidak ada yg lebih menenangkan ketimbang bau hujan yang menyentuh tanah. Bagi Sehun, langit gelap sangat menarik. Ada ketenangan yang tersembunyi diantara langit gelap itu. Denting tetes air yg menghujam ke atap merupakan harmonisasi tersendiri baginya.
Luhan disampingnya meskipun masih bungkam seribu bahasa. Luhan juga suka hujan, asal itu tanpa petir dan kilatan yang menyilaukan dilangitnya. Meskipun kadang suara dentingan air yang jatuh menghantam atap terdengar horor ditelinganya. Tapi jika hujan reda, Luhan tidak akan segan bermain tanah basah dan becek yang habis dijejaki hujan, menurutnya itu terasa menyenangkan saat diinjak.
Semua orang mungkin sudah bisa menikmati hangatnya tungku rumah bersama segelas teh atau kopi. Berkumpul diruang tengah dan saling bertukar gurauan yang menyenangkan. Tapi seperti kebiasaannya, Sehun dan Luhan selalu punya alasan untuk pulang paling akhir. Kali ini karena Sehun tidak mau memberitahu Luhan apa yang dibicarakan Tiffany padanya.
"Luhan, lihatlah. Ini sudah mau hujan."
"…"
Sehun membuang nafasnya kasar. Luhan masih tidak mau bicara padanya. Sehun pergi kedalam untuk mengambil segelas air putih karena tidak ada satupun ucapannya yang membuahkan hasil. Lalu kembali dengan menyeret sebuah kursi kayu untuk Luhan duduki.
"Duduklah. Kakimu pasti pegal."
Oh Sehun sialan! Bisa-bisanya berlaku manis seperti ini saat aku sedang marah.
Luhan meniup anak rambut yang menjuntai dikening kebanggaannya. Luhan mungkin sudah keterlaluan mendiamkan Sehun seharian penuh. Tapi meskipun begitu, sikap Sehun tidak pernah berubah. Sehun tetap menjadi Sehun yang manis bagi Luhan. Karena apapun yang terjadi, Sehun tidak akan pernah melepaskan Luhan. Itulah janjinya. Ya, janji itu..
"Sehun aku-.."
Sehun masih setia menyunggingkan senyum disampingnya saat Luhan mendongakkan kepala untuk meminta maaf. Tapi lagi-lagi gagal karena ponsel Sehun bordering. Sehun mengambil ponsel disakunya. Raut wajahnya berubah saat ia menerima penggilan itu. Ia melirik pada Luhan sebentar lalu pergi begitu saja meninggalkan beberapa pertanyaan dikepala Luhan.
.
Hujan mulai turun setitik demi setitik. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam dan Sehun baru selesai dari acara menerima teleponnya. Ia mengusap wajahnya kasar dan beberapa kali menghembuskan nafas penuh kesabaran. Setelah beberapa menit bergelut dengan pikirannya, akhirnya Sehun sadar bahwa ia meninggalkan Luhan dibalkon sendirian. Tapi sayang, Luhan sudah tidak ada ditempatnya.
Logika Sehun berkata untuk mencari Luhan didalam, tapi hatinya berkata Luhan sudah pulang, sendirian. Lagi-lagi Sehun terdiam, memikirkan betapa bosannya Luhan menunggu disini tadi. Sehun merasa bersalah? Tentu saja.
Sebuah kilatan diatas kepalanya menyadarkan Sehun akan satu hal. Luhan pulang sendirian.
Sehun berlari menerobos derasnya hujan. Tanpa mempedulikan baju basahnya atau kepalanya yang terasa pening. Seperti déjà vu, Sehun terus berdo'a dalam hatinya semoga Luhan tidak apa-apa dan sampai dirumah dengan selamat. Karena jalan berlubang yang tertutupi genangan air dan kurangnya penerangan disepanjang jalan, membuat Sehun harus jatuh dan berulang kali hampir terpeleset. Persetan dengan itu semua. Ia hanya ingin melihat Luhan.
Tepat diperpotongan jalan, Sehun melihat seseorang dengan rambut panjang lepek dan penampilan yang berantakan tengah berjongkok disana. Sehun terus melangkahkan kakinya sambil menajamkan pengelihatannya untuk berjaga-jaga kalau saja ia jatuh dan bisa jadi seseorang didepan sana adalah Luhan.
Suara gemuruh petir terus berlalu lalang diatas awan hitam pekat yang menertawakannya dengan kejam. Sehun yakin bahwa itu adalah Luhan. Ia terus melangkahkan kakinya lebar-lebar, ia tidak sanggup lagi untuk berlari. Kakinya terkilir saat menginjak lubang tadi. Bertahanlah Luhan.
Sehun berusaha sekuat tenaga untuk cepat-cepat sampai dan merangkul Luhan kedalam pelukannya. Tapi jaraknya dengan Luhan terasa begitu jauh. Dan lagi-lagi Sehun harus jatuh tersungkur karena menginjak lubang yang cukup dalam. Sehun sudah berteriak memanggil Luhan, tapi percuma, karena hujan datang membawa rombongan awan hitam disertai petir dan kilat. Sekencang apapun Sehun mengeluarkan suaranya, ia akan tetap kalah.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sehun bertekad untuk membawa Luhan pulang dengan selamat. Ia kembali berdiri dan berlari menghampiri Luhan. Sehun langsung terduduk saat Luhan sudah ada dalam jangkauannya. Luhan menangis. Wajahnya pucat, selulur tubuhnya bergetar. Ia sempat berteriak namun setelah melihat bahwa itu Sehun, ia langsung memeluknya erat.
"Tenanglah Luhan, aku disini. Maafkan aku." Ucap Sehun dengan suara yang juga ikut bergetar.
"Kau masih bisa berdiri?"
Luhan hanya mengangguk lemah, masih menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang Oh Sehun.
"Kita harus berlari. Semakin cepat semakin baik. Sebelum malam semakin larut."
"Tidak Sehun, aku benar-benar takut."
"Percaya padaku, Luhan. Kau akan baik-baik saja."
Sehun memantapkan tekad. Ia harus menjaga Luhan apapun yang terjadi, dan ia harus memastikan Luhan baik-baik saja setelah ini.
Intensitas hujan yg tercurah ke bumi semakin meningkat. Walaupun suara guruh sudah sedikit berkurang, tapi kilatan warna putih masih tergambar jelas di langit yang gelap. Mereka berdua berlari ditengah gemericik suara hujan. Sehun tetap dalam posisi merangkul Luhan. Tangannya ikut menyumbat telinga Luhan, menutupi jemarinya yang sejak tadi tidak terlepas dari lubang telinga. Lupa dengan rasa sakit dikakinya, lupa dengan rasa pening dikepalanya, lupa dengan segalanya. Hanya demi Luhan.
"Dengan begini, setidaknya suara petir yang masuk ke telingamu akan berkurang." Ucap Sehun protektif.
Selanjutnya, Sehun menghalangi pandangan mata Luhan dengan jemari tangan yang satunya. "Jangan melihat apapun. Aku yang akan menjadi indra pengelihatanmu untuk semantara."
Luhan menurut tanpa banyak bicara. Yang ada dipikirannya saat ini hanya satu, bisa cepat berada diruang tertutup untuk melindungi diri dari petir yang membuatnya ketakuan setengah mati. Sehun tidak menyangka bahwa Luhan mengidap astraphobia. Cara orang menyikapi nyanyian hujan memang berbeda-beda.
.
.
.
The Perfect Storm
HunHan Indonesia Big Event
HunHan
Delapan
.
.
.
Hari sudah malam, angin berhembus menerpa dedaunan. Suasana perkotaan masih cukup ramai meskipun ini sudah hampir pukul 11 malam. Baekhyun mengunci pintu cafénya dengan santai dan sesekali bersenandung ria. Biasanya ia tutup pukul 10, tapi karena malam ini café sangat ramai, ia baru bisa pulang satu jam lebih lambat dari biasanya.
Chanyeol berjanji akan menjemput saat ditelepon tadi. Sambil menunggu Chanyeol sampai, Baekhyun duduk ditaman depan cafenya yang juga berhadapan dengan kantor milik pamannya, Oh Jaewon. Baekhyun menatap gedung kantor yang menjulang tinggi itu, sudah sepi. Ia berpikir kejadian yang menimpa pamannya minggu lalu bukanlah kecelakaan biasa. Sebuah mobil truk dengan sengaja menerobos lampu merah lalu menabrakan diri pada ambulance yang membawa paman, bibi, dan juga ayahnya.
Oh Jaewon masih dalam pengobatan berjalan, meskipun sempat dirawat selama dua hari. Akibatnya ia tidak diperbolehkan melakukan perjalanan jauh dan hanya boleh bekerja dirumah saja. Istrinya, Lee Hansoo, mendapat benturan dikepalanya yang menyebabkan pendarahan. Tapi untunglah pembuluh darahnya tidak sobek, jadi ia baik-baik saja. Hanya tidak boleh berpikir yang berat-berat. Sedangkan ayahnya, Byun Siwon, lengan sebelah kanannya patah sehingga tidak memungkinkan ia untuk bekerja diruang operasi.
Sopir yang menabrak itu mengaku sebagai karyawan pemerintahan. Tapi rasanya tidak mungkin pegawai pemerintah berkepala lebat dan berjenggot. Penampilannya pun berantakan. Entahlah, Baekhyun hanya merasa ada benang kusut yang belum bisa teruraikan dengan logikanya.
Baekhyun sudah memberitahu Sehun perihal kecelakaan itu dan keanehan yang ia rasakan. Tapi Sehun bilang mungkin itu hanya rasa khawatirnya saja. Sehun bersikeras tidak mau pulang karena ia berjanji pada ayahnya untuk menyelesaikan tugas pengasingan ini dengan baik; walaupun sebenarnya Sehun sendiri tidak tahu untuk apa.
Baekhyun mengambil ponselnya didalam tas yang ia bawa, mencoba menghubungi Chanyeol. Tapi sesuatu menarik perhatiannya. Disana, dibalik pohon maple ditengah taman, seseorang berpakaian serba hitam tengah melihat ke arahnya. Baekhyun mencoba mengalihkan pikirannya, tapi lelaki itu masih disana. Baekhyun memutuskan untuk menunggu Chanyeol dipinggir jalan yang lebih ramai.
Lelaki itu mengikutinya. Mengendap-endap, bahkan suara sepatunya lebih menyeramkan dibanding film yang sering ia tonton bersama Kyungsoo dan Luhan. Baekhyun terus mempercepat langkahnya sambil mencoba menghubungi Chanyeol. Hingga suara klakson mobil berhasil membuat Baekhyun hampir terkena serangan jantung dan ponselnya jatuh.
Oh, diberkatilah kau Park Chanyeol.
"Baby, kau tidak apa-apa? Mengapa kau menjatuhkan ponselmu?"
Chanyeol berusaha membuka mobil untuk memastikan kekasihnya baik-baik saja. Tapi Baekhyun mencegahnya dan masuk dengan terburu-buru. Ia melihat ke arah spion. Lelaki itu sudah tidak ada.
.
.
Pukul delapan lewat lima menit. Dua orang itu masih berada dikamar yang sama. Gadis berbulu mata lentik itu masih memejamkan matanya. Ia tidur dengan posisi duduk dan menaruh kepalanya lemah di kasur yang diatasnya terbaring seseorang lelaki berhalis setebal angry bird dengan sebuah handuk kompresan didahinya.
Sehun terbangun setelah mendapatkan sebuah telepon dari Seoul. Dan sekarang ia tertidur miring untuk melihat lebih jelas raut wajah tidur gadis yang sudah membuatnya pingsan semalaman dan mendapatkan beberapa luka gores dan memar dikakinya. Sehun memandangi Luhan, membereskan setiap anak rambut yang turun menghalangi wajah cantik kesayangannya.
Semalam Sehun berhasil membawa Luhan pulang dengan selamat meskipun tidak sampai menyelimutinya dikasur. Perasaan lega yang menghampirinya membuat seluruh otot dan sarafnya benar-benar merasa terbebas dari beban. Sehun akhirnya menjatuhkan diri sebelum menginjak lantai rumah. Yang Sehun ingat, Luhan berteriak bersamaan dengan suara petir dan kilatan putih yang menyilaukan.
"Apa kau tidur seperti itu semalaman?"
Luhan mengerjapkan matanya. Mengumpulkan kepingan nyawanya yang hilang. Matanya bengkak akibat menangis semalaman dan lingkaran hitam memperburuk keadaannya.
"Kau sudah bangun? Apa masih pusing? Kenapa kompresnya dilepas? Kau ingin sesuatu?"
Sehun memperhatikan perempuan cantik didepannya. Terselip kekhawatiran yang sangat diantara dua mata rusanya. Sehun menahan tangan Luhan saat ia berniat membawakan Sehun minum. Ia mendudukan diri dan bersandar dipunggung ranjang.
"Aku membutuhkanmu."
Luhan menggerakan bibirnya tanpa tahu harus berkata apa.
"Kemarilah. Peluk aku, Luhan." Sehun menarik tangan Luhan karena rusa itu terlalu lama berpikir.
"Kenapa tidur dibawah? Padahal aku berharap bangun dengan seorang bidadari yang sedang memeluku disini."
"Luhan?" Sehun menghela nafas saat merasakan bahu Luhan bergetar dipelukannya. "Hey, aku tidak apa-apa. Kenapa menangis?"
Sehun menarik wajah Luhan lalu menghapus setiap lelehan mutiara yang keluar dari mata rusanya. Tidak, lagi-lagi ia membuat Luhan menangis. Luhan tidak boleh menangis. Apapun yang terjadi, Luhan harus tetap tersenyum. Karena itulah kekuatan Oh Sehun.
"Aku takut, Sehun. Kakimu bahkan membengkak dan memar. Wajahmu pucat, dan kulitmu sangat dingin. Aku pikir.. Aku pikir kau-.." Cup.
Luhan membulatkan matanya, masih dengan lelehan air dari muara kasih sayang dalam hatinya. Apa Sehun baru saja menciumnya? Luhan hendak membuka mulutnya tapi berhasil dibungkam oleh bibir tipis sedikit pucat milik Oh Sehun. Kali ini cukup lama.
Tuhan, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku. Aku sangat bahagia memiliki seseorang seperti Oh Sehun. Jangan ambil Sehun dariku lagi. Kumohon.
Sehun menarik diri, mencoba mengendalikan hasrat yang mulai menggebu.
"Sudah kubilang aku baik-baik saja. Hentikan air matamu. Kau terlihat sangat mengerikan. Jika tidak aku akan menciummu lagi."
Luhan tertawa menimpali ucapan Sehun. Ribuan rasa syukur ia panjatkan dalam hati. Sehun sudah sembuh jika sudah bisa mengejek Luhan. Luhan menghapus jejak air mata dipipinya. "Kalau begitu aku akan menyiapkan air hangat untukmu."
Sehun ikut tersenyum melihat Luhan kembali menyunggingkan dua sudut bibirnya.
Suara ketukan pintu dari luar menyadarkan Sehun. Itu bukan Luhan, itu Kyungsoo, Hanbin dan Jonghyun yang datang membawa semangkuk bubur dan teh hijau yang aromanya sangat menenangkan.
"Selamat pagi hyung, kau sudah baikan?" ucap Hanbin yang membawa nampan dan meletakkannya diatas nakas disebelah ranjang. Hanbin memang lebih muda dari Sehun meskipun tampang dan penampilan mereka seperti seumuran. Entah karena Sehun terlihat lebih muda atau memang Hanbin yang wajahnya ketuaan.
"Tentu saja, ia pasti sangat segar karena tidur dengan wanita cantik seperti Boss Lu." Ucap Jonghyun ditengah pintu.
Kyungsoo dan Hanbin membulatkan matanya mendengar ucapan Hanbin. "A-apa aku salah bicara?"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ucap Sehun mencegah kecanggungan.
Kyungsoo menghela nafas. Jonghyun memang selalu blak-blakan, dan itu adalah alasan utama Kyungsoo memilihnya sebagai sekutu, tapi tidak disaat-saat seperti ini. Heol!
"Terima kasih sudah menjaga dan membawa Luhan pulang." Kyungsoo mengalihkan matanya pada mangkuk diatas nakas. "Aku membuatnya sebelum Luhan merengek padaku dan mengklaim bahwa itu adalah buatannya. Makanlah dan cepat pulih agar aku tetap bisa mengandalkanmu, Oh Sehun." Ucap Kyungsoo yang kemudian berlalu pergi bersama Jonghyun dibelakangnya.
"Hyung, kami akan pergi sekarang untuk mengejar jadwal kereta. Aku titip Boss Lu padamu. Walau bagaimana pun, ia sudah seperti kakakku sendiri. Jangan macam-macam padanya, atau aku akan meninjumu."
Sehun hanya menanggapi ucapan Hanbin sekenanya. Luhan benar-benar beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Andai Sehun melakukan sebuah kesalahan terhadap Luhan, apa mereka juga akan ikut menghakiminya?
.
Luhan tengah memilih kaleng bir dan anju yang sengaja mereka bawa sebagai persediaan. Luhan juga mengambil sekaleng kacang almond dan sekaleng lagi kacang pistachio. Karena kemampuan memasaknya yang sangat kurang, ia pikir memberi Sehun sekaleng kacang akan cukup membuat perutnya bugkam. Setelah itu, Luhan membawanya menuju balkon. Sehun sudah menunggunya disana.
Ditengah hujan yang turun cukup deras, mereka duduk bersampingan disebuah kursi kayu dan mengobrol tanpa rasa bosan, padahal sejak tadi pagi mereka selalu bersama-sama. Kyungsoo dan yang lain mungkin akan kembali malam nanti, atau jika tidak memungkinkan mereka pulang besok pagi.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Apa sebentar lagi musim gugur?"
"Hm.. Oh, aku tahu. Kau pasti berencana membawaku jalan-jalan, kan?"
Sehun dibuat tertawa melihat tingkah menggemaskan Luhan. "Apa yang ada dikepalamu hanya sesuatu yang menyenangkan saja?"
"Memangnya kenapa? Daddy ku selalu bilang untuk tidak memikirkan hal-hal buruk. Itu akan merusak kinerja otakku. Jika aku memikirkan sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan, itu sama saja menernak energi buruk dalam tubuhku. Dan jika aku terus terlarut dengan kesedihan dan semacamnya, otakku tidak akan bisa bekerja dengan baik." Cup.
"Yak, Oh Sehun. Kenapa kau selalu menciumku tiba-tiba?"
"Karena aku tidak tahan melihat bibir rusa rewelku yang terus berceloteh tanpa bisa aku sela. Apa tidak boleh?"
"Tentu saja. Andai kau bukan Oh Sehun, aku pasti sudah menuntutmu atas tindakan pelecehan seksual."
"Apa maksudmu karena aku Oh Sehun, jadi aku boleh menciummu lagi?"
Luhan menatap Sehun dengan tidak elit. "Apa isi otakmu hanya tentang sesuatu yang mesum?"
Tapi tiba-tiba Sehun menarik pinggang Luhan untuk mendekat, lalu meletakan kepalanya dipundak Luhan. Sehun sedikit membungkuk karena tubuh Luhan lebih kecil darinya.
"Kau tahu, Luhan? Aku benar-benar bersyukur dan merasa sangat beruntung bisa dipertemukan lagi denganmu." Sehun mengecup pundak Luhan. "Aku tidak tahu duniaku yang selama ini membosankan bisa berubah begitu berwarna hanya karena kau." Sehun mengecup leher Luhan "Kau benar. Tidak baik menyimpan energi negative dalam tubuhmu. Sekarang, tolong katakan bahwa semua akan baik-baik saja."
"Sehun, apa kau mabuk?"
"Katakan saja."
Luhan membalikan tubuhnya dan langsung menatap mata tajam Sehun yang kini berubah menjadi sendu. "Sehun, ada apa? Sesuatu mengganggu pikiranmu?"
Sehun hanya tersenyum, senyuman yang begitu suram. Ia memandang wajah cantik Luhan. Mengangkat tangannya untuk membelai perangai cantiknya. "Aku mencintaimu, Luhan. Dan kau harus percaya itu selamanya."
"Sehun, kau-.." Cup.
"Katakan."
Tidak. Luhan bahkan tidak mengerti apa maksud Sehun. Apa Sehun akan meninggalkannya? Tidak! Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Baru kali ini ia melihat Sehun seperti tak berdaya. Seperti semua beban didunia ini ada dipundaknya.
Sehun menempelkan keningnya dengan kening Luhan. Menatap si cantik kesayangannya sedekat ini membuat hatinya semakin takut. Hembusan nafas keduanya beradu bagai tungku batu bara yang mengeluarkan asap panas. Tatapannya bagai tombak bambu yang ujungnya runcing menembus jantung hingga berdarah-darah.
Luhan mengalungkan kedua tangannya. "It's ok. Everythings is gonna be ok." Lalu mengecup dan sedikit melumat bibir tipis Sehun. Apapun yang terjadi, kuharap aku bisa menjadi obat penyembuhmu.
.
Dering suara telepon menggema di sebuah ruangan bernuansa hijau klasik itu. Seorang lelaki paruh baya dengan setelan hitam-hitam khas pekerja kantoran itu masih setia mengamati layar monitor didepannya. Kemudain sebelah tangannya mengangkat gagang telepon itu tanpa mengalihkan tatapannya dari layar monitor.
"Tuan Kang, kau sudah membaca dokumen yang aku kirimkan?" Itu suara seorang perempuan.
"Ya. Dan aku tidak menyangka bahwa mereka adalah orang-orang dari sindikat penyelundupan barang illegal. Sebenarnya apa yang mereka inginkan?"
"Kau bisa lihat sendiri. Tanah tempat Shinwon Group akan mendirikan resort adalah wilayah operasi mereka. Selain karena wilayah itu strategis dengan view yang mengagumkan, wilayah itu juga sebagai markas besar mereka."
"Jadi maksudmu mereka ingin menyingkirkan kita? Tapi kita sudah membelinya dengan surat-surat yang sah."
Wanita diseberang sana mendesah malas. "Tuan Kang, apa setelah keluar dari akademi kau mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatanmu?"
Lelaki yang disebut Tuan Kang itu tertawa renyah seolah mendapatkan setitik hiburan ditengah ketegangan yang menyelimuti mereka. "Kau benar-benar junior yang menyebalkan."
"Dan itu yang membuatku naik pangkat dengan cepat." Balas wanita itu secepat kilat.
"Tapi bagaimana dengan Sehun? Ku akui aku semakin tua dan juga semakin tampan, tapi masalah ini tidak seserius yang kubayangkan, kan?"
"Well, kita lihat saja kedepannya. Bukti ini belum cukup karena koneksi mereka juga berada di keanggotaan komplotan berseragam bodoh itu. Kau tahu apa maksudku. Dan aku sudah memberitahu Sehun untuk meninggalkan tanah terpencil itu. Kau mungkin bisa menjemputnya besok pagi. Atau jika tidak keberatan, berangkatlah malam ini."
"Ah, jika begini aku menyesal keluar dari akademi." Sayup-sayup Tuan kang mendengar wanita itu tertawa. "Baiklah Hwang Seonsaeng. Tapi aku mendapat kabar bahwa kemarin malam Baekhyun dibuntuti orang misterius. Kau sudah tahu?"
"Wah, benar-benar menarik. Sepertinya mereka mencoba menggertak kita lewat orang-orang terdekat Tuan Oh. Baiklah sudah kucatat dalam 'death noteku'. Kututup. Oh dan satu lagi, jangan pernah panggil aku seperti itu. Aku merasa sangat tua jika kau yang mengucapkannya."
Lelaki itu hanya menyampirkan sebuah senyuman disudut bibirnya. Ia adalah seorang 'pekerja' di badan intelijen negaranya. Tapi itu dulu, jauh sebelum kecelakaan yang menimpanya dan membuatnya harus melepaskan pangkat tertinggi kebanggaannya. Beruntunglah ia memiliki seorang sahabat seperti Oh Jaewon, yang terus mengangkatnya hingga kembali muncul dipermukaan.
Oh Jaewon adalah seorang atasan, sahabat, keluarga, juga penyelamat baginya. Tidak ada lagi yang ia miliki didunia ini selain kebaikan dan kemurahan hati Oh Jaewon. Semua orang yang berhubungan dengan Oh Jaewon akan berhubungan terlebih dahulu dengannya. Termasuk jika itu adalah seorang musuh dikegelapan. Jadi bukan hal yang rumit dan mesti diperdebatkan mengapa seorang Kang Gunmo mengabdikan seluruh hidupnya untuk sang penyelamat jiwanya. Ia bersumpah akan berada dibarisan paling depan untuk membela dan memperjuangkan apapun milik Oh Jaewon. Meskipun itu harus dibayar dengan nyawanya.
.
Senja adalah periode waktu paling sibuk. Apalagi dihari libur seperti ini. Semua orang pasti beranjak keluar rumah untuk berkumpul bersama keluarga atau teman ditempat-tempat tertentu, atau untuk sekedar menghirup udara bebas tanpa pekerjaan. Berbincang dengan beberapa orang, dan menghabiskan waktu untuk minum-minum juga bersantai.
Begitu juga dengan dua orang yang tengah bergelut diatas ranjang. Suasana sendu yang menyelimuti mereka kini berganti dengan nafsu dan hasrat untuk saling memuaskan. Sehun mengangkat pinggang ramping Luhan untuk berpindah ke pangkuannya. Tangannya mulai bergerak abstrak memasuki t-shirt longgar yang dipakai Luhan dan mencoba untuk membuka kaitan branya. Sebelah tangannya mendorong tengkuk Luhan untuk terus memperdalam ciuman mereka.
Sebuah desahan erotis lolos dari bibir Luhan saat tangan Sehun menemukan benda kenyal kesukaannya dan mulai meremas lalu mencubit niplenya yang sudah sangat menegang. Luhan melepas tautan bibir mereka hanya untuk sebuah desahan.
"S-sehunh, apa kita akan melakukannya?"
.
.
TBC
.
.
Annyeong(?)
Panas banget ya hari ini /plakk
Gatau chap ini kaya gimana jadinya. Bener-bener gak bernyawa /?
Gak mood banget. Gak ada feelnya banget. Gatau deh chap depan bakal kaya apa.
Kalian ada saran/ide/opini atau semacamnyalah buat chap depan?
Feel free buat kritik dan sarannya dikolom review.
Thank you^^
