Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Alternate universe, omegaverse.


Inggris ― Juni 1940

"Hei, kau tidak apa-apa?"

Arthur mengerjapkan matanya. Alfa bermata biru itu mengibas-kibaskan tangannya di depan wajahnya. Ia mengalihkan pandangannya. Seketika sadar dengan kondisinya, kedua tangannya segera menyibukkan diri merapikan bajunya.

Ia menggelengkan kepala dengan gugup. "Ah, a-aku tidak apa-apa."

Alfa itu tertawa kecil. Suaranya riuh bening seperti deburan ombak menyapu bibir pantai. Ia menundukkan kepalanya. Tiba-tiba merasa luar biasa malu. Lihatlah dirinya! Tiga alfa baru saja mencoba melakukan hal yang tidak pantas kepadanya. Kalau bukan karena pemuda berambut pirang keemasan ini, Arthur tidak tahu apa jadinya dirinya kini. Dan kenapa alfa di hadapannya harus terlihat begitu menarik? Dengan badan tinggi berbentuk, bahu lebar dan garis rahang yang tegas seperti dipahat oleh para dewa sendiri. Tersenyum selebar itu harusnya termasuk perbuatan kriminal! Begitu menyilaukan dan mengalihkan perhatian…

Damn him.

Arthur menghela nafas.

"Hei, kau tahu di mana pusat kesehatan berada? Err, sepertinya aku sedikit tersesat." Alfa itu menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gerakan santai. "Ah, bodohnya diriku! Perkenalkan, aku Alfred F. Jones. Siap melayanimu!" Sebuah tangan terulur ke arahnya. Tangan besar berkulit tan.

Arthur mengerjapkan matanya. Dengan agak ragu ia menerima uluran tangan tersebut, sedikit terkejut karena kemudian tangannya digenggam erat. Jabat tangan yang tegas dan singkat. Para alfa memang berada pada level yang berbeda dengan omega.

"A-Arthur Kirkland."

Alfred tersenyum. Mata birunya tampak berbinar. "Jadi, kau tahu di mana pusat kesehatan di sekitar sini?"

Alisnya mengernyit. "Ah, aku juga sedang menuju ke sana. Maaf, tapi aku juga tidak tahu di mana letaknya secara pasti." Ia berakhir mengusap-usap lengan kanannya yang terluka. Sesuatu tentang alfa di hadapannya ini membuatnya merasa tidak cukup. Seperti, ia begitu rendah dan tidak sebanding dengan alfa yang bisa dikatakan bersinar itu. Apalagi karena rambutnya terlihat begitu berkilauan; Arthur baru menyadari surai-surai itu agak basah. Apa yang dilakukan Alfred sebelum muncul di hadapannya? Apakah dia baru saja mandi? Tak heran ia terlihat begitu segar seperti sayuran yang baru dipetik. Tapi dari area basah di sekitar leher dan bagian depan seragamnya, Arthur menyimpulkan bahwa alfa ini baru saja mengguyur kepalanya dengan air. Dia sendiri heran, tapi matahari bersinar begitu terik hari ini.

"Hmm, kalau begitu kita bisa pergi mencarinya bersama, ahaha! Sejak tadi orang yang aku tanya selalu berseru, 'kembali ke negaramu, yankee!' Aku tidak mengerti mengapa mereka bersikap begitu dingin, padahal aku kan bukan tentara Jerman!"

Arthur mengerutkan kening. Nyatanya memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Suara Alfred terlalu keras untuk telinganya; ia tidak terbiasa. Apakah orang Amerika selalu berisik seperti itu?

"Kau yakin tidak apa-apa? Bisa berjalan? Sepertinya kakimu sakit." Alis itu mengernyit. Sepasang mata birunya terlihat memancarkan kekhawatiran.

Arthur mengecek kaki kirinya dan berdecak pelan melihat bengkak sebesar bola tenis di sana. Pantas saja kakinya terasa aneh dan berat. Menyebalkan sekali. Tapi lebih menyebalkan lagi mendapat tatapan iba dari orang lain. Ia tidak suka. Dia bukan omega lemah yang bisanya hanya menangis dan merengek pada alfa. Seorang Kirkland tidak menyedihkan seperti itu.

Jadi ia menghela nafas dan berusaha menggerakkan pergelangan kakinya, untuk mengetes seberapa luwes kakinya yang cedera. Salah perhitungan. Tiba-tiba kakinya berdenyut nyeri dan ia berjengit, mengaduh pelan.

"Jangan memaksakan diri, Arthur! Kau tidak mau kakimu diamputasi, kan? Jangan bertindak gegabah!" Alfred berseru panik ketika ia mencoba melangkahkan kakinya. Alfa ini benar-benar berisik. Bagus kalau dia diam saja seperti patung Yunani, pikirnya.

"Git, terkilir begini saja tidak perlu sampai diamputasi."

Sebelum ia dapat melangkah maju, Alfred telah berlutut di hadapannya, memunggunginya. Arthur melihat ke arahnya dengan heran, kedua alisnya terangkat tinggi. Kemudian alfa itu menoleh ke belakang. Pandangannya mengeras.

"Ayo naik! Seorang hero sepertiku tidak akan membiarkan omega yang terluka membahayakan dirinya sendiri! Ayo naik, Arthur!"

Hero dia bilang? Sudut matanya mengejang. Ternyata memang fisiknya saja yang menarik. Semakin lama bersamanya Arthur semakin tidak menyukainya. Memang lebih bagus kalau dia diam saja seperti patung.

"Kau mengejekku, ya? Aku tidak lemah, wanker! Aku masih bisa berjalan sendiri!"

Dengan keras kepala ia kembali mencoba mengayunkan kakinya. Dia telah berhasil kabur dari cekaman Nazi dan kembali ke Inggris dengan utuh. Masalah sepele seperti bengkak sebesar bola tenis tidak akan menghalangi jalannya. Cih.

Alfred terlihat panik bercampur kesal. "Kau―! Aku belum pernah bertemu omega keras kepala seperti dirimu!" Ia bangkit dan mendengus. Kemudian satu tangannya mencengkeram pundak Arthur, sementara tangan yang lain menyusup di belakang lututnya, mengangkatnya dari tanah dengan cepat dan mudah.

Arthur memekik kaget. Mukanya memerah. Tangannya segera melingkari leher Alfred mencari pegangan. "G-git! Turunkan aku! Apa yang kau lakukan, wanker?!" Ia meronta, mengayun-ayunkan kakinya dengan asal. Tidak ada yang lebih ia benci selain diperlakukan seenaknya. Dia bukan karung kentang yang bisa digotong-gotong sedemikian rupa!

"Duh, diamlah, Arthur! Kau hanya akan melukai dirimu sendiri, bodoh. Kau ini omega betulan atau bukan? Keras kepala sekali." Alfred membenarkan posisi lengannya, secara tidak sengaja membuat wajah mereka begitu dekat. Arthur memalingkan mukanya yang terasa panas. Dari jarak sedekat ini, manik biru itu terlihat begitu menakjubkan. Tiba-tiba badannya terasa lemas, tulang-tulangnya seperti berubah menjadi jeli. Akhirnya ia hanya bisa diam dan membiarkan Alfred menggendongnya dengan tenang. Ia lebih memilih untuk menormalkan denyut jantung dan irama nafasnya yang lebih cepat dari biasanya.

"Kau ringan sekali. Datanglah ke Amerika. Aku akan membuatmu gemuk dan berisi."

Arthur menoleh, bermaksud untuk melemparkan tatapan tajam pada Alfred. Tapi alfa itu tersenyum padanya dan niatnya hanya tinggal rencana. Mukanya semakin memerah.

"Hahaha, apa semua orang Inggris gampang merona seperti dirimu, Art? Menarik sekali."

Ia hanya bisa menggumam. "Git…"

Di saat seperti ini Alfred malah memilih untuk diam, sambil sesekali bergumam dan membenarkan posisi lengannya. Kalau sudah begitu, mukanya akan kembali memanas. Alfred seperti sengaja semakin menempelkan tubuh mereka; tapi mungkin itu hanya imajinasinya saja. Matahari bersinar begitu terik dan suhu tubuh Alfred membuatnya semakin kepanasan. Rasanya ia ingin menanggalkan bajunya begitu saja. Ia mulai berkeringat dan hal itu membuatnya mencoba menggeliat tidak nyaman.

Alfred menoleh ke arahnya. "Hei, kau tidak apa-apa?" Ada leleran keringat pada pelipis alfa itu, yang kemudian mengalir turun membingkai wajahnya. Tangannya gatal ingin terulur untuk menyekanya. Atau lebih baik lagi, ia ingin menjulurkan lidah menjilatnya dan―

Arthur menelan ludah dan menggelengkan kepala kuat-kuat, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berada dalam jarak sedekat ini dengan Alfred bisa membuatnya menggila. Kenapa alfa ini harus begitu tampan dan menarik?! Dan sudah berapa lama mereka berjalan, kenapa tidak lekas sampai di tempat tujuan? Jangan-jangan mereka pergi ke arah yang salah dan tersesat semakin jauh. Merepotkan sekali.

"Yahoo, itu dia! Akhirnya kita sampai, Art!"

Dia belum pernah bertemu seorang alfa yang amat ceria seperti anak kecil. Yang berlari dengan girang seperti mengejar penjual es krim. Ia hanya bisa mengeratkan tangannya melingkari leher Alfred, menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher sang alfa. Sambil menghirup dalam-dalam perpaduan antara aroma mint, musk, keringat, dan bau khas alfa yang segera menyerbak memenuhi indera penciumannya. Sesuatu yang menenangkan; membuatnya merasa aman dan nyaman.

Semua kekhawatirannya tentang perang dan rencana-rencana di masa depan yang terlihat suram seperti menghilang, menguap bak embun pagi terpapar sinar mentari. Sesaat ia merasa dimiliki, dilindungi, dan dicintai secara bersamaan. Insting omeganya mengambil alih.

Ia tersenyum kecil dan membenamkan wajahnya semakin dalam.


"Sekarang kalau kau bersedia membantuku memeganginya sebentar saja, Alfred, aku akan meluruskan kakinya dengan sangat cepat."

"Hah? A-apa yang akan kau―Alfred?! Alfred, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku! Lepas, git!"

"Tidak apa-apa, Artie, sebentar saja. Lizzie tahu apa yang harus dia lakukan. Cepat lakukan, Liz."

"Tu-tunggu dulu! Aku tidak―AAAARGH!"

"Nah, sudah selesai. Cepat sekali, kan?"

"Bagaimana, Art? Tidak terasa, kan?"

"WANKER!"

Ia melancarkan pukulan bertubi-tubi pada Alfred, yang masih memeganginya sambil tertawa-tawa. Sekarang denyut pada kaki kirinya terasa jauh lebih tajam dari sebelumnya, hingga menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat matanya panas. Dia merasa wanita tadi sengaja mematahkan kakinya. Rasanya sakit sekali!

Arthur tidak sadar dirinya menangis hingga Alfred mengangkat dagunya dan menghapus air mata yang mengaliri pipinya. Kedua pasang mata mereka bertemu. Alfred tersenyum. Ibu jarinya masih mengusap-usap pipinya yang basah.

"Tidak apa-apa, sakitnya tidak akan lama. Omega keras kepala sepertimu pasti bisa menahannya. Iya, kan?" ujarnya lembut.

Arthur menyingkirkan tangan Alfred dan memalingkan wajahnya, menghapus sisa-sisa air matanya menggunakan punggung tangannya sendiri. "Git…" gumamnya pelan.

Apa-apaan dia? Kenapa dia menangis di depan orang asing? Dasar lemah. Dan kenapa mukanya terus menerus terasa panas? Kenapa degupan jantungnya tak juga kembali normal? Ada yang salah dengan dirinya hari ini.

Elizabeta Hedervary, seorang omega perawat yang barusan meluruskan kakinya dengan sangat cepat, kembali dengan membawa tas berisi obat-obatan. Ia melemparkan tatapan tanya kepada Alfred.

"Jadi? Apa yang kau lakukan di sini, Alfred? Kaptenmu tidak marah kau berkeliaran seenaknya?"

Arthur mengernyitkan alis dan menoleh kepada Alfred. Ia terlalu terhipnotis oleh pesona alfa itu sehingga tidak menanyakan siapa identitasnya sebenarnya. Dia hanya tahu kalau Alfred seorang tentara, dari seragam militer yang ia kenakan. Tapi apa yang dilakukan prajurit itu di sini? Apakah Amerika telah memutuskan untuk ikut bergabung dalam perang ini?

Alfa yang duduk di sampingnya memamerkan cengiran lebarnya yang menyilaukan. "Tino mengirimku untuk menyusulmu. Dia khawatir kau akan diganggu para alfa karena pergi sendiri. Dan pada akhirnya aku juga menyelamatkan seorang omega; iya kan, Arthur? Jadi tidak ada yang sia-sia di sini, aku tetap menjadi hero seperti seharusnya!"

Arthur dan Elizabeta memutar bola matanya dengan tidak tertarik.

"Baiklah, karena urusanku di sini sudah selesai, mari kita kembali ke pengungsian. Oh, apakah kau sedang menuju ke suatu tempat, Arthur? Alfred bisa mengantarmu ke sana. Bukankah begitu, Alfred?"

Alfa itu mengangkat alisnya, tampak sedikit terkejut. "Huh? Ah, iya, iya. Tentu. Kau hendak pergi ke mana, Art? Sebelum ketiga alfa tadi, err―mengganggumu?"

"Aku―" Ia meremas-remas tangannya dengan gugup. "―aku tidak tahu…" katanya lirih. Ia bahkan tidak mau mengakui kalau itu suaranya sendiri. Sejak kapan dia jadi selemah itu? Mana Arthur si bengis yang keras kepala, kuat, dan pembangkang? Kenapa dia berubah menjadi omega yang menyedihkan dan tidak punya arah tujuan? Apa yang akan Allistor katakan kalau melihatnya? Ketiga kakaknya pasti tidak mau menganggapnya sebagai adik lagi; seorang omega lemah seperti dirinya.

"Ah― bagaimana dengan keluargamu? Di mana keluargamu tinggal sekarang?" Elizabeta bertanya, mencoba memecahkan kecanggungan di antara mereka.

Ia menundukkan kepala. "Ketiga kakakku, semuanya alfa, pergi berperang. Aku―"

Bisakah ia kembali ke London sekarang? Bersediakah Alfred mengantarkannya ke London?

Sebuah tepukan mendarat pada pundaknya, mengagetkannya. "Kalau begitu kau bisa tinggal di pengungsian bersama Elizabeta! Di sana aman, kau tidak perlu khawatir. Dan aku akan datang berkunjung dua minggu sekali! Bagaimana?" Alfred berseru. Sepasang mata birunya nampak bercahaya.

"Itu―"

"Alfred benar. Kau tidak mungkin kembali ke rumahmu, karena kau akan tinggal sendiri nanti. Dan aku yakin bisa menggunakan beberapa bantuan darimu, kalau kau bersedia. Omega-omega di sana―err, bagaimana mengatakannya?―mereka mudah panik dan membuat aku dan Tino kewalahan. Kau terlihat kuat, jadi kuharap kau bisa menguatkan kami juga." Wanita itu tersenyum kepadanya.

Selama ini, selain ketiga kakaknya, ia tidak kenal dekat dengan orang lain. Beta dan omega di sekitarnya menjauhinya karena sifatnya yang terlalu kasar dan keras kepala. Para alfa juga tidak berani dekat-dekat dengannya. Mereka tidak mau berurusan dengan Allistor kalau sampai terlibat adu mulut dengan Arthur hingga hampir beradu fisik dengannya. Selama 17 tahun ini, bisa dianggap hanya ketiga kakaknya saja yang menerima kehadirannya. Ia tidak peduli, karena tidak pernah mengira keadaan akan berubah menjadi seperti ini. Sekarang bahkan kakak-kakaknya tidak ada di sini. Ia benar-benar sendirian, bersama orang-orang asing yang tidak ia kenal. Tapi kalau Elizabeta bilang kehadirannya dibutuhkan, Arthur tidak punya alasan untuk menolaknya. Keadaan telah berubah dan dia tidak ingin berakhir sendiri selamanya.

Nilai tambahnya, ia bisa bertemu lagi dengan Alfred, kan?

"Kurasa―ah, tidak ada salahnya mencoba." Lagipula ia tidak punya rencana yang lebih baik untuk hari-hari ke depan hingga perang berakhir. Akankah perang ini berakhir?

Elizabeta mengatupkan kedua tangannya senang. "Baiklah! Sudah diputuskan, kalau begitu! Sekarang ayo kita kembali. Alfred, kau bisa membantu Arthur berjalan, kan?"

"Tentu saja, ayo Art!" Alfred bangkit dan merentangkan kedua tangannya, tersenyum lebar memamerkan deretan giginya.

"Git, aku tidak mau digendong lagi! Aku bisa berjalan sendiri, bodoh!" Ia menepisnya kasar, mendengus.

"Aww, ayolah! Lizzie, katakan padanya kalau dia belum boleh berjalan sendiri! Nanti kaki kanannya bisa cedera juga! Katakan padanya, Liz!"

"Bloody―kenapa kau begitu menyebalkan, twat?!"

"Ugh, aku tidak pernah mendengar omega mengumpat sefasih dirimu. Kau yakin dirimu bukan alfa kerdil yang sedang menyamar?"

"Kau―bollocks! Apa yang kau katakan, eejit?!"

"Eww, kau sama sekali tidak cute, Arthur."

"Idiot!"

Elizabeta hanya tertawa menyaksikan dua orang itu beradu mulut. Dia sendiri belum pernah bertemu dengan omega se-enerjik Arthur. Tapi omega tetap saja omega. Ia tersenyum penuh arti memperhatikan muka Arthur yang merah padam.

Karena, omega mana yang tidak akan jatuh cinta pada Alfred F. Jones?

Ah, tapi dirinya adalah pengecualian.


Pendek? Maaf, rasanya saya agak kehilangan arah... orz orz orz

Lagi-lagi karena saya malas menciptakan OC, anggap saja Elizabeta dan Tino adalah orang Inggris di cerita ini *plak

Git, wanker, twat, bollocks, eejit : tidak perlu dicari. Pokoknya itu kata-kata makian Arthur yang saya nukil dari fandom luar orz orz orz *nyuci mulut pake sabun