©Masashi Kishimoto

Sinopsis

Naruto Uzumaki, calon mahasiswa tidak beruntung yang tinggal satu apartemen dengan hantu bernama Sakura Haruno yang selalu berupaya mengusirnya dengan berbagai cara, tapi karena sudah terbiasa menangani hal-hal mistis, Naruto sama sekali tidak terpengaruh dengan upaya keras Sakura kecuali untuk hal-hal bersifat fisik. Keduanya tidak pernah akur, sampai suatu ketika Naruto mengetahui masa lalu Sakura yang menyedihkan sehingga membuatnya bersimpati dan memutuskan untuk mewujudkan impian-impian Sakura semasa hidup.

Ghost Host oleh Creepypasta-san

-Epilog

Semuanya putih, langit-langitnya, dindingnya dan bahkan aromanya juga putih —maksudku, steril, baunya tercium seperti bau obat-obatan. Suara bib-bib*terdengar di dekat telingaku. Aku agak kesulitan bernafas karena sesuatu yang menempel diwajahku, kusingkirkan benda tersebut, alat bantu pernafasan itu tergelantung disamping ranjangku, aku bangkit tapi terasa sakit sekali jadi aku menyerah dan tetap berbaring.

Aku agak kaget saat melihat wajah Kurenai-san yang membaringkan kepalanya diranjangku, tepat disebelah wajahku. Dia tertidur lelap sekali, meskipun lebih tua dariku, tapi dia kelihatan manis kalau sedang tidur.

"Kurenai-san, Kurenai-san."Aku memanggilnya. Dia terbangun dengan cepat, mulanya dia hanya menatapku dengan linglung, tapi kemudian air mata mulai jatuh di pipinya.

"Na-naruto-kun."Aku dipeluknya, rasanya sakit sekali."Akhirnya kau sadar. Kau koma selama dua bulan, aku benar-benar takut, aku takut sekali kau akan ..."

Akan apa? Mati? E-eh? Jadi aku masih hidup?

Hmm.. Jadi aku koma? —ah iya, aku ingat, waktu itu aku dicelakai oleh arwah jahat tanpa wajah itu, dia memberiku kutukan beberapa hari sebelumnya, aku beruntung bisa hidup setelah terkena kutukannya, kebanyakan orang yang mengalami hal serupa jarang ada yang selamat.

Jadi aku koma setelah semua itu? Terimakasih Kurenai-san. Aku mengabaikan sakit karena pelukan Kurenai-san dan membalas pelukannya semampuku, aku sudah membuatnya repot, aku berhutang banyak pada wanita baik hati ini.

"Terimakasih banyak, Kurenai-san, sekarang aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir."

"Benar?"

"Yah, kecuali jika kau tidak berhenti memelukku, soalnya pelukanmu rasanya sakit sekali."

"Ma-maaf."Kurenai-san melepas pelukannya dengan kikuk, dia menghapus air matanya dengan lengan bajunya.

Seorang dokter masuk setelah Kurenai-san memberi tahu mereka lewat interkom. Sang dokter pirang itu menggelengkan kepalanya melihatku, begitu pula dengan beberapa perawat dibelakangnya, mereka menatapku seolah-olah aku ini adalah spesies langka yang ditemukan kembali setelah sebelumnya dinyatakan punah.

"Kau benar-benar beruntung, nak."Kata dokter Tsunade —aku tau karena name tag dibajunya—sambil memeriksa kondisiku.

"Aku tidak bisa mengatakan apapun pada kasusmu selain sebuah keajaiban, mungkin lebih tepat disebut keajaiban cinta. Semangat juangmu sungguh menjungkir balikkan semua teori medis yang kupelajari selama bertahun-tahun."

Aku tidak tahu harus merespon seperti apa, jadi aku hanya tersenyum masam. Yah, aku hidup, aku bahkan tidak bisa mempercayainya.

U-um, tapi apa maksudmu dengan keajaiban cinta?

Dokter Tsunade selesai memeriksaku. Dia memperingatkanku untuk beristirahat total untuk pemulihan anggota badanku. Aku tidak tahu bagian mana saja tubuhku yang harus dipulihkan, seluruh tubuhku rasanya sakit sekali, aku harus diberi obat penahan rasa sakit secara berkala, jujur saja itu agak membuatku lega, merasa sakit adalah bukti bahwa aku benar-benar masih hidup.

"Dan juga."Dokter Tsunade mengatakan sesuatu saat dia akan beranjak pergi, dia tersenyum."Selamat. Sekarang kau menjadi idola semua orang di negri ini."

Heh?

Dokter Tsunade meninggalkanku dengan sebuah tanda tanya besar dikepalaku. Kurenai-san harus pulang karena dia terus berada disampingku beberapa hari ini, dia harus mengurus apartemennya, akan ada banyak masalah jika dia meninggalkan apartemen sebesar itu tanpa perawatan selama berhari-hari.

Aku mendapatkan kunjungan dari gadis kelinci dan si reporter tolol yang kuketahui bernama Tenten Han dan Rock Lee. Mereka secara kebetulan adalah senpaiku di universitas yang akan kumasuki —ngomong-ngomong, bagaimana dengan kuliahku? Seharusnya aku mulai masuk di bulan maret? Kalau yang Kurenai-san bilang soal aku koma dua bulan itu benar, berarti sekarang sudah bulan april! Ce-celaka!

"Kami sudah mengurus soal kuliahmu, kau tetap bisa masuk saat sembuh nanti, Sebastian-sama."Kata Tenten-san seolah bisa membaca pikiranku, tapi tolong berhenti menggunakan nama itu, namaku Naruto bukan Sebastian!

Lee-san disampingnya mengangguk dengan kuat."Itu benar. Sekarang fokus saja pada pemulihanmu, tidak perlu memikirkan hal lain, kami akan mengurus semuanya untukmu, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk membayar kelalaian kami sebagai panitia penyelenggara event."

Aku tersenyum lega. Syukurlah."Terimakasih banyak."

Ada seorang lagi yang masuk, seorang pria berambut panjang. Tenten-san memperkenalkan dia sebagai Hyuuga Neji, kameramen mereka dan dia juga ikut dalam event waktu itu, tapi mungkin karena dia ada dibalik kamera jadi aku tidak melihatnya.

Tenten-san mengambil tempat disampingku dia mulai bercerita soal bagaimana sebuah truk muncul dimana seharusnya tidak satupun kendaraan yang boleh melintas disana selama waktu itu. Truk tersebut melemparkan tubuhku, dia menggambarkan keadaanku saat membentur aspal saat itu seperti boneka yang di lemparkan, sangat mengerikan, semua orang mengira aku sudah mati karena aku tidak bergerak lagi dan petugas medis terlambat datang.

Tapi hal yang tidak dapat dipercaya adalah bagaimana aku bangkit seperti mayat hidup. Aku menyeret kakiku yang membengkok seolah tidak memiliki rasa sakit, semua orang yang melihat itu terlalu ngeri untuk menghampiriku, mereka berpikir aku mungkin terkena T-virus atau semecamnya yang ada di dalam film zombie barat.

Dan puncak dari semua itu adalah saat aku sampai di garis finis. Seorang wanita berambut pink berpakaian tuan putri memeluk tubuhku, dia menangis sejadinya dan hal itu menyadarkan semua orang dari ketakutan, semua orang akhirnya mengerti dan berkesimpulan bahwa itulah kekuatan cinta.

Cinta tanpa batas seorang pria pada wanita yang sangat dicintainya, begitu kuat sampai bahkan kematian tidak sanggup memisahkan mereka. Tenten-san bercerita soal bagaimana semua orang akhirnya ikut menangis bahkan sekarang dia bercucuran air mata saat bercerita padaku, ngomong-ngomong, tolong jangan ikut menangis, Lee-san, itu kelihatan menjijikan, tahu?

Ta-tapi tunggu dulu! Apanya yang kekuatan cinta? Ke-kesalahpahaman mengerikan apa yang sedang kalian buat!?

Aku dibawa kerumah sakit tepat saat aku tidak sadarkan diri, aku sempat berhenti bernafas dan pasti mati seandainya wanita berambut pink itu tidak memberiku nafas buatan tanpa henti. Tenten-san bilang bahwa ada wanita berambut hitam yang juga ikut memberi nafas buatan, katanya sempat terjadi keributan diantara dua wanita itu tapi akhirnya aku kembali bernafas dan sejujurnya semua orang bahkan tidak begitu optimis bahwa aku bisa tetap hidup.

"Mendapat ciuman dari dua wanita cantik sekaligus. Brengsek, dasar pria serakah!"Lee-san tanpa alasan meledak, tapi aku tidak benar-benar peduli, yang kupikirkan adalah—

Dimana dia? Sakura, apa kau sekarang sudah pergi?

Aku tidak berharap dia akan disini karena tidak mungkin baginya berada di tempat lain selain wilayahnya. Waktu itu berbeda karena aku membantunya dan juga di tanggal 3 februari yang adalah waktu dimana kekuatan spiritual menjadi berkali-kali lipat memungkinkannya untuk berada diluar wilayahnya bahkan tanpa bantuanku. Semua orang bisa melihatnya mungkin karena waktu itu dia sendiri memunculkan dirinya sendiri dengan kekuatan spiritual besar yang dia dapatnya, itulah kesimpulanku.

Yang membuatku tidak tenang, kemungkinan bahwa dia sudah kembali ke tempat dimana dia seharusnya berada. Aku benar-benar tidak menyukai rasa sesak di dadaku, aku tidak menyangkal bahwa aku sangat ketakutan bahwa yang kupikirkan itu mungkin benar.

Tenten-san, Lee-san dan Neji-san pergi setelah beberapa waktu. Sekarang aku sendirian di kamarku dan itu membuat perasaanku lebih tidak enak.

Aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir diwajahku, aku benar-benar paham mengapa aku menangis, aku mungkin kehilangan seseorang yang mungkin saja satu-satunya yang mengerti diriku di dunia ini. Lucu sekali, aku berharap dia pergi dan sekarang aku menangisinya saat dia benar-benar sudah pergi.

Dadaku sakit sekali.

Aku belum mengatakan apapun, aku bahkan belum mengucapkan perpisahan. Hantu tolol itu, dasar tolol, sialan...

"Tidak akan kumaafkan...aku, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu, Sakura."

"Memangnya aku salah apa?"

Eh? Aku menoleh kearah suara barusan dan—

—si-siapa wanita itu? Siapa wanita berambut pink pendek yang sedang berdiri di pintu kamarku itu? Si-si-siapa? Siapa dia?

"Ti-tidak mungkin..."Hal semacam ini, itu mustahil...

"Apanya yang tidak mungkin? Memangnya kau pikir aku akan pergi begitu saja?"

Apapapa, apa yang wanita ini katakan? Ja-jangan sok kenal denganku!

"Ughwaaaaaahh!"Wanita itu baru saja menerjangku! Kenapa kau menunggangiku!? Memangnya aku ini apa? Kuda? Sial! Aku akan mati! Aku benar-benar akan mati!

"Itu hukuman karena pura-pura tidak kenal denganku!"

"Ggggaaaaaahh! Sakit! Itu sakit! Turun dari tubuhku!"

"Dan itu hukuman karena sudah koma tanpa seijinku!"

"Kenapa tidak tanya saja sama tuhan! Tanyakan saja hal itu pada tuhan dasar siaalll!"

Aku beneran akan mati! Tubuhku sudah remuk dan wanita ini kelihatannya ingin mempercepat kematianku! Apa kau seorang pembunuh maniak!? Apa kau itu psikopat!?

Wanita itu terus melakukan upaya pembunuhan terhadapku, sampai akhirnya dia berhenti dan menjatuhkan tubuhnya diatasku karena kelelahan, meskipun situasi ini cukup membuatku bahagia, tapi rasa sakitnya benar-benar tidak tertahankan! Me-menyingkir dari tubuh orang lain!

A-ah...

Ke-kenapa menatapku seperti itu? Menjauh sedikit, wajah kita terlalu dekat, tahu?

"S-sakura."Aku mengungkapkan nama wanita itu, dia kelihatan jauh lebih dewasa tapi dia memang Sakura yang kukenal. Tatapannya benar-benar galak.

"Hei, Naruto."

"A-apa?"Tatapannya dingin banget, aku sampai gemetar, apa dia semarah itu padaku?

"Terimakasih banyak."

E-eh? Kenapa?

"Terimakasih banyak."Katanya sekali lagi sembil tersenyum lembut padaku."Terimakasih banyak, terimakasih banyak, terimakasih banyak.. Uuh."

Dia mulai menangis dan terus mengatakan,"Terimakasih banyak berulang-ulang." Semua ini begitu kacau, kacau sekali sampai kepalaku terasa pusing, tapi aku sangat bahagia di saat yang sama.

Aku tersenyum dan berkata,"Aku tidak akan meninggalkanmu, tuan putri."

"Aku tahu, itulah sebabnya aku menunggumu di garis finis, aku yakin bahwa kau akan datang, aku percaya padamu, ta-tapi..."

Dia kedengaran sangat tertekan, aku menghela nafas dan berkata dengan meyakinkan,

"Aku masih hidup, itulah yang terpenting."

Sakura tersenyum lepas, aku tidak tahu dia bisa tersenyum semanis itu."Tolol, idiot, mesum sialan, dasar sialan, sialan.."

Aku tidak bisa mengatakan apapun soal itu, sekarang aku mungkin harus membiasakan diri dengan semua ini, aku harus terbiasa dengan senpai-senpai baruku yang kelakuannya merepotkan, soal semua hal yang berubah setelah kecelakaan itu dan soal Sakura yang kemungkinan terikat padaku, bukan pada apartemen itu lagi, dengan kata lain aku tidak akan bisa menghabiskan waktuku sendirian lagi.

Tapi, kehidupan seperti ini tidak buruk juga.

Hmm.. Sakura versi dewasa tidak kalah menggairahkannya dari Kurenai-san, w-wow, kutarik kembali soal papan cucian, dadanya lumayan terasa juga —

"Sedang memikirkan apa mesum!?"

"Oooowwwwwhh!"Dia mencekikku, dia benar-benar berusaha membunuhku! Sial, kenapa dia bisa tahu kalau aku sedang memikirkan hal semacam itu!? Lagian kemana perginya senyum manismu tadi!?

"Makanya, jangan mikir yang aneh!"

Y-yah, nampaknya aku harus siap secara fisik dan mental karena kehidupanku ke depan akan lebih sulit, lebih menegangkan, dan lebih banyak mengancam keselamatan.

Tapi, yah aku tidak begitu keberatan. Sekarang aku punya seseorang yang bisa saling berbagi cerita denganku. Sakura, aku tidak tahu sampai kapan kita akan terus terikat seperti ini, suatu saat nanti saat kau kembali atau aku yang akan mati lebih dulu, siapa yang tahu?

Jadi, mari kita terus seperti ini, sampai semuanya benar-benar harus diakhiri, yaitu saat kita saling membuka perasaan kita pada satu sama lain, saat perasaan yang kau tahan dan kutahan sudah tidak lagi bisa tertampung dihati kita, saat itulah waktu untuk semuanya berakhir, tepat ketika aku mengatakan kata terlarang itu dan kau menerimanya, atau sebaliknya.

"Cepatlah sembuh supaya kita bisa pulang."Kata Sakura.

Aku tersenyum."Aku tidak sabar untuk itu."

Apartemen murahku —maksudku, apartemen 408 kami, aku benar-benar tidak sabar kembali kesana, tunggulah sebentar lagi, kami tidak akan lama, jadi bersabarlah.

"Ngomong-ngomong,"aku teringat sesuatu."Terimakasih soal nafas buatannya—." aku tertolong berkat kau. Kata itu terakhir tidak pernah bisa kuungkapkan, itu karena Sakura memukul wajahku sekuat tenaga, pukulannya pas mengenai luka dibalik perban, dia melakukan itu sambil berteriak."Kumohon hilang ingatanlaaaaahh!"

Astaga, kejahatan apa yang kulakukan dimasa lalu sampai harus mendapat perlakuan tidak manusiawi tanpa henti?

The end