FATE

Disclaimer : I own nothing

Warning : BL, Typos, Change POV without warning

Chapter 7

Aku memperhatikan bayanganku di cermin, merapikan rambutku sedikit. Merasa semua sudah tampak baik aku pun segera beranjak pergi, turun ke basement dan menaiki Audi putihku. Malam ini appa sudah memintaku untuk datang ke acara makan malam di rumah bersama rekan bisnisnya, tapi aku merasa makan malam kali ini bukan dalam rangka urusan bisnis.

Mungkin karena makan malam kali ini di rumah pribadi, bukan di restoran. Biasanya, acara makan malam yang diadakan di rumah merupakan pesta besar, tapi setahuku kali ini bukan. Dan pesan yang dikirimkan eomma tadi sore membuatku sedikit bingung dan curiga. 'Tampil lebih tampan malam ini tidak akan merugikanmu, Siwon-ah' . Apa maksudnya itu? Sangat mencurigakan… Tapi yang membuatku lebih bingung, kenapa aku mengikuti perkataan Eomma? Aku sangat memperhatikan detil penampilanku malam ini. Aku sendiri tidak tahu mengapa…

Tak terasa, aku sudah sampai di tujuan. Aku segera memarkirkan mobilku di tempat biasa. Kulihat ada mobil tak dikenal terpakir dengan rapi, sepertinya aku agak sedikit terlambat. Aku bergegas menuju pintu depan dan seorang pelayan menyambutku dan mengantarku menuju ruang makan. Aku sudah bisa mendengar suara-suara orang mengobrol sebelum akhirnya sampai di ruangan.

Terlihat appa dan eomma yang duduk berdampingan di sisi kiri meja kanan yang tertata rapi, ada satu kursi kosong di sebelah eomma yang aku yakin disediakan untukku. Di hadapan appa di sisi kanan meja, terlihat seorang namja paruh baya yang kalau aku tidak salah ingat adalah Mr. Cho. Yang duduk di sebelah kanannya aku yakin adalah Mrs. Cho, dan di sebelah Mrs. Cho ada seorang namja yang kuduga adalah anak mereka. Aku hanya dapat melihat rambutnya karena wajahnya sedang menghadap ke kiri, membelakangiku. Tapi tunggu dulu… Rasanya aku kenal dengan rambut ikal coklat yang terlihat lembut itu…

"Ah, Siwon! Kau sudah datang," ujar appa yang menyadari kedatanganku.

Aku langsung tersenyum dan membungkuk menyadari semua kepala menoleh ke arahku.

"Annyoeng haseyo. Maaf karena datang terlambat,"

"Tidak apa Siwon-ah, kami tidak menunggu lama. Cepatlah duduk,"

"Ne Eomma,"

Aku langsung beranjak duduk di kursi yang tersedia, merasa tidak enak membuat makan malam tertunda karena kedatanganku yang terlambat. Aku menoleh menghadap appa ketika mendengar namaku dipanggil.

"Ne Appa?"

"Perkenalkan dirimu pada Cho Young Hwan-ssi pemilik Cho Corp. dan keluarganya. Appa yakin kau sudah mengenal Young Hwan-ssi walau belum pernah bertemu secara langsung,"

"Ne, Choi Siwon imnida. Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda Mr. Cho,"

Aku membungkukkan badan kearah Mr. Cho dan tersenyum sopan.

"Senang bertemu denganmu juga Siwon,"

Mr. Cho mengangguk ke arahku sambil tersenyum simpul. Mr. Cho terlihat tegas seperti Appa walaupun pembawaannya terlihat lebih tenang dibanding Appa yang terlihat keras. Aku langsung menghadap ke arah Mrs. Cho yang tersenyum ramah dan balas tersenyum. Ketika menoleh ke sosok dihadapanku, aku terpaku.

Mataku membesar melihat sosok manis itu . Sosok manis yang selama ini hanya kuperhatikan dari jauh sedang duduk manis tepat dihadapanku, menatap ke arahku dengan senyum kecil.

"Cho Kyuhyun imnida, salam kenal,"

Aku hanya sanggup mengangguk mendengar suara merdu itu. Masih terlalu shock dengan kenyataan bahwa mahluk cantik ini ada di hadapanku, berbicara kepadaku.

"Karena semua sudah datang, mari kita mulai makan malamnya,"

Aku mendengar eomma berbicara kemudian para pelayan langsung datang meletakkan makanan di meja. Tatapan mataku sedari tadi masih terfokus pada sosok dihadapanku. Terus memperhatikan sosoknya yang kini diajak bicara oleh Appa. Suara merdunya mengalun dengan indah di telingaku…

###

Sepanjang acara makan malam aku merasa kalau sosok di depanku ini adalah orang yang baik. Kesan pertamaku terhadapnya tentu saja tampan. Sangat tampan malah. Aku sampai merasa heran mengapa dia bisa menyukaiku. Aku yakin banyak yeoja dan namja diluar sana yang mengejar-ngejarnya.

Sekarang lagi-lagi aku mendapatinya melirikku dan kemudian tersenyum kecil. Setelah diberi tahu tentang rencana perjodohan kami beberapa saat yang lalu, dia semakin sering melirik ke arahku. Aku tidak terlalu terkejut ketika ternyata dia tidak tahu tentang rencana perjodohan kami ini. Aku sudah merasa bahwa ahjumma gila itu akan menikmati menjadi seorang sinterklas yang memberi kejutan.

Tadinya aku ingin bersikap dingin pada namja di depanku ini, tapi melihatnya yang terus tersenyum dan terlihat agak polos mungkin? Aku juga heran mengapa namja manly ini terlihat gagah dan polos secara bersamaan, tapi itu membuatku sedikit tidak enak jika harus bersikap dingin padanya. Dan lagi, si ahjumma gila itu mengawasiku. Seperti tadi, aku tidak ingin menjadi orang yang membuka pembicaraan dengannya karena paling tidak aku tidak ingin terlihat ramah, terpaksa memperkenalkan diri tanpa diminta ketika mendapat senyuman palsu dan tatapan memperingatkan tersembunyi dari si ahjumma gila.

Aku heran apa namja ini benar-benar anak ahjumma gila ini atau bukan. Bagaimana mungkin anaknya menguarkan aura tenang dan damai seperti seorang malaikat sedangkan ibunya… yah… begitulah… Tapi bagaimana pun juga, rasa tidak suka yang kurasakan kepada seorang Choi Siwon itu masih ada. Dialah yang menarikku ke dalam masalah ini.

Kami baru saja menyelesaikan dessert ketika aku mendengar namaku dipanggil dan menoleh ke arah asal suara itu.

"Bagaimana jika kau dan Siwon mengakrabkan diri dengan segelas wine di taman belakang tanpa gangguan kami para orang tua? Kau terlihat seperti orang yang akan menikmati wine dengan baik,"

'Tentu saja kau tahu aku menyukai wine karena kau sudah memata-mataiku wanita tua!' Batinku kesal seraya menahan diri untuk tidak menatap tajam wanita di depanku dan hanya memberi senyum kecil sekaligus mengangguk pelan.

"Baiklah kalau begitu, tunjukkan jalannya untuk Kyuhyun, Siwon-ah,"

Wanita itu tersenyum pada anaknya yang kemudian bangkit dan tersenyum kepadaku.

"Mari Kyuhyun-ssi,"

Aku hanya tersenyum kecil dan ikut bangkit berdiri. Membungkuk singkat kepada para orang tua dan mendapati dua wanita disana tersenyum kepadaku. Yang satu memberi senyum dan pandangan memperingatkan, yang satu memberikanku senyum tulus dengan sorot mata yang tidak sesuai dengan senyumannya.

Sejak malam setelah aku menyetujui tawaran appa dan kami memberitahukan berita itu pada eomma, tentang diriku yang gay dan perjodohan ini, eomma selalu memberiku tatapan aneh. Bukan menyiratkan kejijikan atau ketidaksukaan, karena eomma bilang dia sudah bisa menduga bahwa aku gay, tetapi sesuatu seperti kekhawatiran dan kecemasan dan juga agak menyelidik? Aku juga tidak tahu pasti maksud dari tatapan itu, tapi yang pasti aku tidak berani bertanya. Entah mengapa tapi aku takut untuk mengetahui alasan dari tatapan tersebut. Jadi yang bisa kulakukan saat ini hanya berpura-pura tidak sadar dengan tatapan aneh itu.

"Ah, apakah Kyuhyun berkendara sendiri Mrs. Cho? Saya dengar akhir-akhir ini banyak sekali kecelakaan akibat pengendara yang sembarangan. Akan berbahaya sekali bagi namja manis seperti Kyuhyun jika harus berkandara seorang diri…,"

Aku mendengar suara si ahjumma gila itu ketika mulai melangkah mengikuti Siwon. Aku menggertakan gigiku dengan kesal. Memberikan peringatan eoh?

Aku berhasil mengembalikan raut wajahku untuk kembali tenang dan biasa ketika amgin malam yang dingin menyapu wajahku. Kami sudah berada di halaman belakang kediaman Choi. Aku dapat melihat bangku taman dan sebuah meja kecil dengan sebotol wine yang sudah tersedia disana. Seorang pelayan segera datang dan membuka serta menuangkan wine untukku dan Siwon ketika kami sampai di meja tersebut.

Aku memilih berjalan melewati Siwon mendekat ke arah kolam yang ada di taman itu. Memainkan gelas berisi wine di tanganku dan memperhatikan bayangan lampu taman yang terpantul di air terasa sedikit menenangkan. Menyadari struktur kolam yang sedikit mengandung unsur jepang membuatku tersenyum miris. Rumah keluarga Changmin bergaya jepang karena ibunya yang memang merupakan keturunan jepang-korea.

Tubuhku terasa sedikit lebih hangat ketika sebuah jas tiba-tiba disampirkan di pundakku. Aku menoleh dan mendapatinya tersenyum lembut kepadaku. Aku hanya membalas dengan senyum simpul (yang mungkin terlihat dingin) walaupun aku merasa jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku akui pria ini memang tampan, apalagi dilihat dari dekat dengan cahaya lampu taman yang menyinari wajahnya yang tersenyum itu.

'Tapi tetap saja Changminnie-ku lebih tampan,' batinku cepat.

"Angin berhembus sedikit kencang malam ini," ucapnya masih dengan senyum di wajahnya.

"Ya, terima kasih Siwon-ssi," Aku mengalihkan pandanganku kembali ke air dan menyesap wineku.

"Err bagaimana kalau kita bicara dengan santai saja? Tidak terlalu formal mungkin?"

Mendengarnya yang bicara dengan nada agak gugup membuatku ingin tertawa. Apa benar orang ini anak nenek lampir itu?

"Baiklah kalau itu maumu… Siwon hyung,"

Aku meliriknya sekilas dan mendapati dia tersenyum cerah seperti anak kecil. Oh God! Kenapa dia berbeda dengan yang kubayangkan? Kenapa dia terlihat begitu polos dan baik hati, bukan bocah angkuh dan sombong seperti bayanganku? Kenapa rasa benciku padanya semakin berkurang bukannya bertambah?

"Jadi Kyuhyun-ah… tentang rencana orang tua kita… apa kau juga baru tau hari ini?"

"Hmm tidak. Appa sudah memberitahuku sebelumnya,"

Aku berusaha menjawab dengan nada datar yang tidak terdengar dingin. Aku tidak berani bertindak terlalu ekstrim melawan harimau ketika sedang berada di sarangnya.

"Eh?" ujarnya terdengar sangat terkejut.

"Jadi kau tidak keberatan akan hal ini?"

"Aku tidak ingin mengecewakan Appa. Dan seperti yang kau dengar, keputusan ada di tangan kita. Kita bisa menerima atau menolaknya setelah saling bertatap muka, jadi aku setuju untuk bertemu denganmu,"

Aku berharap dia akan merasa tersinggung denganku yang memanggilnya secara tidak sopan, tanpa embel-embel 'hyung' (seperti Heechul hyung yang akan langsung mengamuk jika aku dan Minnie tidak memanggilnya 'hyung' ). Tapi sepertinya orang ini tidak peduli bahkan terlihat seperti tidak menyadarinya.

"Ya, kau benar. Tidak ada salahnya saling bertemu dan menolak jika tidak cocok. Tapi Kyuhyun-ah, apa kau tidak mempunyai kekasih? Jika kau tidak keberatan berarti kau tidak mempunyai kekasih… padahal kau begitu manis dan cantik…,"

Aku menoleh mendengar kata-katanya. Wajahnya sedikit memerah dan tampak terkejut. Sepertinya dia sadar bahwa gumamannya yang walaupun pelan tapi tentu saja terdengar olehku yang berdiri tepat di sampingnya.

"Kalau begitu bagaimana denganmu? Baru mengetahui mengenai hal ini saat makan malam barusan… apa kau merasa tidak senang? Keberatan?"

"Tidak! Tentu saja tidak!"

Alisku sedikit terangkat mendengarnya menjawab dengan sangat cepat. Wajahnya kembali memerah. Ia lalu mengusap wajahnya kasar sdambil menghembuskan nafas.

"Ada apa denganku…?" Aku mendengarnya bergumam.

"Hahh jadi begini Kyuhyun-ah… Ada yang harus kusampaikan padamu,"

Aku hanya memandangnya sebagai tanda bahwa aku mendengarkan ketika ia menatapku.

"Sebenarnya…aku sudah mengenalmu. Well, tidak secara langsung dan detil, tapi aku tau tentangmu. Aku melihatmu di café beberapa bulan yang lalu dan sejak saat itu aku mulai memperhatikanmu, Kyuhyun-ah . Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu,"

Mataku membesar mendengar ucapan tegasnya. Aku tidak menyangka dia akan mengakui hal ini padaku. Wajahku terasa sedikit memanas ditatap intens seperti ini olehnya. Wajahnya terlihat sangat tegas dan bersungguh-sungguh, berbeda dengan rautnya yang tampak malu-malu sebelumnya.

"Jadi… yang ingin kusampaikan adalah aku tidak mungkin keberatan akan hal ini. Semua keputusan ada di tanganmu Kyuhyun-ah. Aku tidak memaksamu untuk menerimanya,"

Siwon tersenyum kepadaku. Pandangannya begitu lembut membuat jantungku lagi-lagi berdebar sedikit lebih cepat.

"Kau tidak mengenalku dengan baik. Bagaimana mungkin kau bisa bicara seyakin ini?"

"Aku selalu memperhatikanmu beberapa bulan belakangan ini Kyuhyun-ah… dan itu membuatku menjadi lebih menyukaimu, bukan sebaliknya. Dan aku juga percaya pada kata hatiku,"

Aku menundukkan kepalaku mendengarnya. 'Percaya kata hati'… aku tersenyum miris dalam hati mendengarnya. Orang-orang yang kusayangi akan celaka jika aku menuruti hatiku.

"Apa aku terkesan menekanmu Kyuhyun-ah? Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Kau bisa menolak jika keberatan. Aku tidak akan marah dan aku akan menjelaskannya pada orang tua kita," ujarnya terdengar cemas.

'Ya. Aku keberatan karena aku mencintai orang lain. Tapi sayangnya aku tidak bisa menolak, Siwon…,' batinku miris.

Aku mengangkat wajahku perlahan, menoleh menatap wajah tampan itu. Setelah merasa cukup tenang, aku mulai tersenyum perlahan. Hanya sebuah senyuman kecil.

"Aku pikir… aku tidak keberatan," aku berucap perlahan.

Aku memperhatikan wajah terkejut namja ini. Butuh waktu beberapa detik sebelum ekspresinya berubah menjadi senyuman cerah yang terlihat agak konyol sehingga membuatku ingin tertawa walaupun hatiku masih terasa sakit.

Angin malam tiba-tiba berhembus lumayan kencang membuatku sedikit menggigil. Siwon nampaknya menyadari hal ini karena dia langsung menarik tanganku pelan, meletakkan gelas kami di meja lalu kembali menarik lenganku lembut menuntunku berjalan ke dalam rumah.

"Angin mulai berhembus kencang, tidak baik berlama-lama di luar,"

Aku melepaskan jas miliknya ketika kami sudah berada di dalam ruangan dan mengembalikan jas itu mendekati para orang tua yang kini tengah mengobrol ruang tamu. Siwon lalu memberitahukan kepada para orangtua bahwa kami tidak keberatan dengan perjodohan ini, yang tentu saja disambut dengan ucapan gembira dan senyuman.

Aku melihat lagi-lagi eomma memberikan tatapan yang membingungkanku, tidak sesuai dengan senyumannya. Aku hanya pura-pura tidak sadar dan terus tersenyum.

"Kami tadi sedikit membicarakan masalah perjodohan ini. Kami rasa agak terlalu cepat jika kalian memutuskannya malam ini juga. Walaupun kalian memberikan kami kabar bahagia, tapi kami tetap memberikan waktu lagi kepada kalian. Tiga bulan lagi kita akan kembali makan malam bersama, saat itu kalian berikan kepastian kepada kami. Jadi, selama tiga bulan yang akan datang kalian jalani saja selayaknya sepasang kekasih. Bagaimana?"

Selama mendengarkan ucapan Mr. Choi, aku beberapa kali melihat ke arah ahjumma gila yang tersenyum menatapku seakan mengatakan aku telah melaksanakan tugas dengan baik. Dari raut mukanya, sepertinya dia tidak terlalu puas dengan tambahan waktu ini… pasti ini bukan ide darinya, pikirku.

Aku menoleh ke arah Siwon yang juga menoleh ke arahku. Aku hanya memberikan senyuman simpul, pertanda bahwa aku tidak keberatan. Well, aku memang tidak diberi hak untuk keberatan. Siwon balas tersenyum cerah kepadaku sebelum menjawab ayahnya dengan semangat.

###

Sesosok namja berkulit pucat terlihat sedang duduk dengan tenang menikmati pemandangan sore hari di tepi Sungai Han. Angin yang berhembus membuat rambul ikal coklatnya bergoyang lembut. Namja itu terlihat sedikit merapatkan mantelnya, mungkin sedikit kedinginan akibat terpaan angin tadi.

"Kyu!"

Namja berkulit pucat yang ternyata adalah Kyuhyun itu menoleh mendengar namanya dipanggil. Seorang namja yang lebih tinggi dari Kyuhyun sedikit berlari menghampirinya. Namja itu lalu tersenyum dan ikut duduk disamping Kyuhyun.

"Apa kau sudah lama menunggu? Maafkan aku ne?"

Namja itu lalu mengambil tangan Kyuhyun lalu menggosok-gosoknya, berusaha menghangatkan tangan yang terasa agak dingin hanya menatap tangannya yang sedang dihangatkan itu beberapa saat lalu mendongak menatap wajah namja dihadapannya.

"Tidak apa, aku tau kau sibuk," Kyuhyun berucap sambil tersenyum kecil.

Namja itu tertegun melihat mahluk di depannya. Tersenyum dengan pipi memerah dan rambut yang bergoyang akibat angin, sungguh sangat manis.

"Kyu… Dua hari lagi sudah tiga bulan.. Apa kau yakin dengan ini semua? Aku pernah bilang kalau keputusan ada di tanganmu kan? Sampai sekarang hal itu tidak berubah. Aku tidak akan berkata tidak kecuali jika kau yang menginginkannya…,"

Kyuhyun hanya menundukkan kepala mendengarnya. Matanya menatap tangannya yang masih di genggam oleh namja itu. Perlahan Kyuhyun mendongak dan menatap namja itu yang juga sedang menatapnya intens.

"Aku… juga tidak akan berkata tidak kecuali jika kau yang menginginkannya … Siwon hyung…,"

Kyuhyun tersenyum yang langsung dibalas dengan senyum cerah dan lembut seorang Choi Siwon. Siwon langsung menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya.

"Kau tau itu tidak akan pernah terjadi, babykyu. Terima kasih,"

Siwon berucap dengan sungguh-sungguh. Wajah tampannya yang menyiratkan kebahagiaan itu dibenamkannya di surai lembut milik Cho Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya yang menempel di dada Siwon. Pelukan erat dari Choi Siwon membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Perlahan mata namja pucat yang awalnya terpejam itu perlahan terbuka. Terlihat dengan jelas air mata menggenang di mata indah itu. Tentu saja dengan situasi sekarang ini, air mata itu seharusnya adalah air mata bahagia. Tapi mengapa bola mata itu memancarkan kepedihan?

###

I'm soooo sorry….! I know maybe some of you guys want to kill me…. T.T

Mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan update*bow*

Memang ada saat-saat sibuk yg bikin jadi gak memungkinkan buat update, tapi kendala utama adalah laptop… laptopku rusak dan pingin update ff waktu harus pinjam n berbagi laptop itu agak susah…

Jadi gimana? Sebetulnya ada perasaan bersalah buat yang nungguin ff ini karena kayaknya ceritanya makin lama makin ancur… Maaf kalau kurang memuaskan… (terutama buat yg udah repot" pm tpi hasilnya cm bgini)

Seperti biasa, gomawo buat yang review, follow n fav-in ff ini^^ Sekali lagi maaf kalau ff ini semakin lama semakin kayak sinetron…

Dan Mohon Maaf Lahir dan Bathin^^ (telat banget hehe)