Judul : Pesantren Al-Kisedai

Chapter : 7

Genre : Humor, absurd, parody, dll :v

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dinistakan :v

Rating : T

A/N :

Assalamualaikum wr wb

Ini chapter 7 nye :v

Ada yang kangen Kyuu kah?

Selamat menikmati! ;)

.

.

.

.

.

Chapter 7 :

Titan Ungu Mengemis dan Buku Lucknuts

Sekarang ini jam 2 pagi, akhirnya duo kopisusu sudah pergi ke kamar masing-masing setelah acara rebut-merebut remote TV.

Siapa bilang mereka pergi dengan sendirinya?

Sebelumnya mereka menyebabkan keributan besar di kamar bernomor 10, sampai akhirnya senpai yang berdedikasi menjaga ketentraman dan kedisiplinan (Hyuuga dan Kasamatsu) turun tangan menyeret mereka untuk kembali tenang di kamarnya sendiri.

Semua orang yang menghuni kamar bernomor 10 sudah pada tidur dengan pulasnya kecuali Kagami, karena dia harus meladeni duo kopisusu.

Kagami kembali tidur tepat di tengah Midorima dan Kuroko yang sudah pulas, apa daya Kagami yang malang saat mencoba tidur masih saja terganggu dengan keberadaan Kuroko yang tidurnya tidak bisa diam.

Buagh! Dagh!

Beberapa kali Kagami kena tendang atau hantaman tangan Kuroko di mukanya.

Perempatan kesal sudah mulai bermunculan di kepala Kagami yang mencoba sabar, lalu Kagami dengan pelan memindahkan tangan Kuroko ke tempat yang tidak mengganggunya dan kembali tidur dengan tenang.

Kagami yang sudah mulai memasuki alam mimpi terganggu lagi oleh Midorima yang mengganti posisi tidurnya menjadi menDEMPET Kagami yang bikin Kagami kegerahan. Lalu lagi-lagi Kuroko menghantam muka Kagami dengan tangannya dengan sangat keras sampai terdengar bunyi plak.

Kagami yang tak tahan akan cobaan yang terjadi terbangun, lalu mencari tempat yang kira-kira bisa membuatnya tidur dengan tenang. Kagami memilih tidur di depan pintu kamar mandi, akhirnya dia bisa mendapatkan ketenangan.

TOK TOK TOK

Kagami mencoba mengabaikan ketukan pintu, dia mencoba tetap tidur. Pura-pura pada orang mengetuk pintunya, agar orang itu mengira bahwa penghuni kamar nomor 10 sudah pada tidur semua lalu pergi dengan sendirinya.

TOK TOK TOK

Kagami tetap mengabaikannya.

TOK TOK TOK

Kagami mengganti posisi tidurnya dengan tengkurap

TOK TOK TOK

Sekarang Kagami menutupi telingahnya dengan bantal.

TOK TOK TOK

Satu perempatan kemarahan muncul di kepala Kagami.

TOK TOK TOK

Perempatan kedua muncul.

Lalu orang itu tetap tidak pergi dan terus mengetuk. Ketiga, keempat, dan kelima perempatan akhirnya memaksa Kagami membuka matanya yang sudah seperti mata ikan mati.

Mencoba tetap sabar. Kagami bangkit dan meraih kenop pintu untuk membukanya, Kagami ingin sekali melancarkan tinjunya pada orang menyebalkan yang jam 2 pagi sudah mengganggu orang tidur.

Kagami membuka pintunya dan langsung ceming melihat betapa besarnya manusia yang ada di hadapannya dengan surai berwarna ungu. Ah, bukan, dia bukan manusia. Dia pasti titan! Seketika Kagami teringat anime booming yang pernah di tontonnya yang menghabisi para raksasa besar berbentuk manusia.

Karena terlalu menakutkan dan Kagami tidak ingin menjadi korban Titan 2 meter yang ada di hadapannya ini, Kagami menutup kembali pintu kamarnya tanpa berkata sepatah kata pun.

Berharap itu hanya halusinasinya saja karena sudah berurusan dengan banyak orang aneh hari ini, Kagami membuka pintu kamarnya kembali.

Ternyata Titan itu masih di sana, bedanya sekarang dia berjongkok sambil menatap melas pada Kagami dan mengangkat tangannya seperti pengemis, "Bang, bagi makan dong~ Saya belom makan, cuma makan pepaya pake nasi doang tadi~ kasihanilah Saya bang~"

Kagami menatap datar Titan Pengemis yang ada di hadapannya lalu menutup pintunya lagi, dengan muka panik yang suram Kagami bersiaga di depan pintu kamar.

Apa itu tadi?! Batinnya masih syok.

"Ada apa Kagami-kun?" tanya Kuroko yang terbangun karena keributan kecil yang Kagami buat. Kuroko terlihat masih sangat mengantuk mengucek matanya, rambut bangun tidurnya sangat berantakan dengan mencuat-cuat ke atas melawan gravitasi membuat Kagami yang melihatnya menjadi terganggu. Tapi bukan saatnya untuk itu.

"Ada orang aneh yang minta-minta di depan.." jelas Kagami yang dimengerti oleh Kuroko siapa pelaku minta-minta itu.

"Oh, itu pasti Murasakibara-kun..." jawab enteng Kuroko yang sudah berada di samping Kagami lalu membuka pintu kamar dengan Kagami yang bersembunyi di belakang Kuroko sambil bersiaga memegang pedang samurai yang dibawa Midorima.

Kuroko mencari sesosok manusia besar bersurai ungu yang bernama lengkap Murasakibara Atthallah itu. Murasakibara ternyata masih terduduk dengan tangan yang melingkari lututnya di samping kamar nomor 10 dengan muka woles yang penuh penderitaan.

"Murasakibara-kun.."

"Kuro-chin.."

Murasakibara bangkit dari posisi duduknya, lalu mengelus/coret/mencengkram kepala Kuroko, "Kuro-chin sangat kecil~ imut deh~" ucap Murasakibara yang tangannya di tepis Kuroko.

"Tolong hentikan itu Murasakibara-kun, kamu lapar 'kan? Makanya cari makan jam segini.."

Tiba-tiba Murasakibara mengeluarkan air mata kesedihan, membuat Kagami dan Kuroko terheran-heran.

"Eh? Dia menangis?" ucap Kagami.

"Iya sebenarnya Aku belum makan apapun karena yang masak hari ini Sakh-chin, padahal aku sudah sangat senang karena hari ini makan rendang~ Kupikir aku masih punya persediaan Maiubo, tapi saat aku kembali ke kamar...bungkusnya sudah KOSONG" jelas Murasakibara menekankan kata kosong pada kalimatnya.

"Jika seperti ini terus—Aku bisa mati kelaparan Kuro-chin~ Mayatku akan tumbuh jamur, lalu semakin lama dia akan mengurai..lalu hanya akan tinggal tengkorakku saja~ Ini tidak bisa dibiarkan Kuro-chin, Aku harus makan sesuatu~" jelas Murasakibara yang entah kenapa panik sendiri.

"Murasakibara-kun, tidak makan sehari tak akan membuatmu mati.." kata Kuroko yang berpikir bagaimana jika Murasakibara menjalani puasa Ramadhan, sepertinya dia tak akan tahan.

"Jadi apa Kuro-chin punya makanan?"

Mendengar pertanyaan Murasakibara membuat Kuroko berpikir sejenak, lalu Murasakibara melihat kaktus-kaktus yang di tanam Kuroko.

"Kuro-chin, kaktusmu sepertinya enak. Apa bisa dimakan~?" tanya polos Murasakibara yang membuat Kagami dan Kuroko jawdrop.

"Tidak bisa, Murasakibara-kun. Kaktus itu untuk hiasan bukan untuk dimakan.."

Murasakibara terlihat ketjewa, "Yah~ baiklah, aku makan bunga kantil punya Mido-chin saja deh. Kayaknya dikasih sambal terasi enak~"

"Jangan Murasakibara-kun, itu musyrik"

Apa-apaan dengan manusia besar yang segrek ini? Kepolosannya menyebalkan, seperti anak kecil saja.. batin Kagami dalam hati saat mendengar percakapan absurd diantara Kuroko dan Murasakibara.

Murasakibara beralih pada Kagami yang berada di belakang Kuroko, Murasakibara menghampiri Kagami dan menatapnya lekat-lekat. Kagami cuma diam dengan muka garangnya, tiba-tiba Murasakibara mengangkat tangannya ke arah alis bercabang Kagami lalu mencabut beberapa helai alisnya bikin Kagami kezel.

"Oi!"

"Alismu bercabang, aneh banget~" komen Murasakibara yang kemudian memakan alis Kagami, lalu wajahnya berubah pucat dan melepeh beberapa bulu alis itu dari mulutnya.

"Rasanya bikin mual~"

"Siapa suruh makan alisku?!" bentak Kagami yang sudah naik darah sama kelakuan Titan Ungu yang aneh itu.

Kuroko kemudian menghampiri Murasakibara dengan membawa beberapa sosis siap makan yang disimpannya.

"Ini ada sedikit cemilan Murasakibara-kun.." ucap Kuroko memberikan sosis itu pada Murasakibara yang matanya sudah berbinar-binar, seakan ada secercah cahaya yang mengelilingi sosis itu.

"Woah, Sosis Son*ce.." ucap Murasakibara yang menyambar sosis itu dari tangan Kuroko, "Makasih, Kuro-chin~" lanjut Murasakibara seraya membuka bungkus sosis itu dengan riangnya lalu memakannya dengan bahagia, "Murasaki jadi sayang Kuro-chin deh.. Assalamu'alaikum~" seru Murasakibara yang mengelus/coret/mencengkram kepala Kuroko dan berlalu pergi.

Kagami dan Kuroko menghela nafas lega bersamaan, akhirnya satu masalah terselesaikan. Namun sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Sudah saatnya persiapan shalat malam dan jamaah shalat subuh.

.

.

.

.

Hari ini cukup indah untuk memulai aktivitas yang bermanfaat, namun mata Kagami sangat merah saat ini karena dia tidak bisa tidur semalaman sebab makhluk-makhluk berwarna-warni seperti teletubies yang mengganggunya dengan absurdnya.

"Kagami, matamu merah sekali. Apa kau tidak tidur semalam?" tanya Kawahara seiring berjalan berdampingan dengan Kagami menuju kamar mereka setelah selesai dari pengajian Tartil Wa Tahfidz Al-Qur'an.

Setelah ini mereka harus mandi, pengambilan uang saku, dan sarapan lalu memulai kegiatan belajar formal.

Kagami memijit kepalanya yang sangat puyeng, sampai Kawahara bertanya mengenai barang-barang yang Kagami bawa aman atau tidak.

"Kagami, kau tidak membawa yang aneh-aneh, 'kan?"

"Heh.. Memangnya ada apa?"

"Karena hari ini ada razia kamar, kalau kau bawa barang yang dilarang.. bisa gawat nantinya.. bahkan, kau bisa mati.."

"Serem amat!" komen Kagami.

Setelah itu mereka memasuki kamar nomor 10, mereka dikejutkan oleh Aomine yang sudah berada di dalam sambil nonton TV padahal tak ada siapapun di sana. Seingat mereka kamarnya sudah dikunci. Bagaimana bisa Aomine masuk?

"GAAAH! kok Lu bisa masuk ke sini?" teriak Kagami frustasi. Sudah cukup semalaman Kagami terganggu oleh makhluk ini, jangan sampai makhluk yang sama juga merusak ketentramannya hari ini. Kasihan kondisi psikologis Kagami bisa kacau.

"Oh, Aku ambil kunci cadangan kamar kalian yang kuambil dari ruang administrasi.." ucap Aomine sembari memamerkan sebuah kunci di tangannya. "Habis kalian lama sekali sih, jadi aku pake kunci cadangan saja.." lanjut Aomine sambil ngorek-ngorek kuping.

"Aomine, kau tidak boleh mencuri!" ucap Kagami nunjuk-nunjuk Aomine.

"Siapa yang mencuri? Aku hanya pinjam diam-diam.." balas Aomine watados.

"Itu sama saja AHOMINE.."

Sesaat perdebatan itu akhirnya muncul Kuroko, Midorima, Furi dan Fukuda. Merasa suasana yang tak biasa, Midorima menatap tak suka pada Aomine.

"Hey, Aomine.. kalau kau hanya ingin bermalas-malasan, di kamarmu saja sendiri-nodayo!" omel Midorima pada Aomine yang cuek sambil ngorek-ngorek kupingnya lagi.

"Itu juga berlaku untukmu tahu!" omel Kagami pada Midorima yang memegang kolor bunny, lucky itemnya hari ini.

"Te—tentu saja berbeda-nodayo, aku di sini karena kamar ini sesuai lucky numberku hari ini-nodayo"

"Itu sama saja TSUNDERIMA.."

"Tentu saja, aku di sini punya alasan Midorima.." ucap Aomine.

Aomine kemudian mengobok-ngobok isi tas yang dibawanya membuat orang-orang yang ada di sana penasaran apa yang dibawa makhluk gelap/coret/item manis itu.

Kemudian, semua mata yang ada di kamar itu membulatkan matanya dengan barang-barang yang dibawa Aomine. Mereka tidak menyangka santri segrek macam Aomine bisa membawa barang berbahaya itu ke kawasan Pesantren Al-Kisedai.

Kuroko menutupi matanya yang masih suci.

Kagami wajahnya bersemu merah menahan malu.

Kacamata Midorima pecah.

Tiga serangkai mengeluarkan darah dari hidungnya.

Barang yang dibawa Aomine berupa majalah yang memperlihatkan gambar cewek-cewek sexy yang ambigu. Dan tentunya isi dari buku itu harus disensor, ditambah majalah itu ada banyak sekali sampai bertumpuk-tumpuk.

Kagami menarik baju Aomine ngajak berantem, "Kenapa kau membawa barang begituan, hah?! Santri macam apa kau ini? Memangnya kau ustad sugiono!"

"Yah, begitulah.." ucap Aomine dengan wajah datar. "Cewek yang ada di buku ini Horikita Mai-chan, dia adalah idola yang aku sukai!"

"Bukan itu masalahnya, sialan!"

"Jadi, kenapa kau membawanya kemari-nodayo? Benda itu tidak bisa berada di sini karena sebentar lagi ada razia kamar-nodayo.." ucap Midorima yang memakai kacamata cadangannya.

"Nah itu dia Midorima, kalian kan dianggap anak baek-baek tuh.." Aomine mengepalkan tangannya erat, wajahnya mulai menampakkan ekspresi serius untuk hal yang sebenarnya salah, "Jadi karena akan ada razia hari ini, aku takut koleksi berhargaku ini akan dibakar lagi. Oleh karena itu, aku ingin menitipkannya di sini.." jelas Aomine nyeir kuda.

"HUUUHH?!" seluruh penghuni kamar nomor 10 mulai jawdrop, kecuali Kuroko dan Midorima.

"Aku heran Aomine-kun, kenapa kau masih membeli majalah di zaman modern sekarang ini?" tanya Kuroko yang sekarang mulai berani membuka matanya yang suci itu dan melihat-lihat isi buku Aomine yang membuat matanya sudah ternodai :'v

"Kan ada video yang lebih praktis, kau juga tak perlu khawatir untuk menyembunyikannya.." komen Kuroko yang kadar mesumnya ternyata lebih pintar dari Aomine.

Ada yang bilang kalau orang pendiam kadar mesumnya lebih tinggi.

"Kau bodoh ya, Tajju?! Kalau mendownload di internet kau hanya akan membuang-buang kuota! Buku itu harta karun yang berharga dan tak ada bandingannya! Itu bukti dukunganku pada Mai -chan tahu!" jawab Aomine yang mulai menistakan dirinya. "Apa kau tahu, Perasaan gugup saat pertama kali membelinya? Tatapan menusuk dari orang-orang yang melihatmu membelinya? Atau perasaan penasaran saat kau membuka segelnya?" tanya Aomine menggebu-gebu sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kuroko.

"Oh, memang ya?" tanya Kuroko biasa saja.

"Apapun alasanmu tetap saja kau tidak bisa menyimpannya di sini Aomine!" omel Kagami pada Aomine yang sekarang berada di pintu hendak keluar kamar.

"Okeh, aku serahkan pada kalian.. Assalamu'alaikum!" ucap Aomine yang langsung melesat dan dikejar oleh Kagami sampai pintu depan asrama.

"Oi! Tunggu kau, Ahomine!" namun pemuda gelap/coret/item manis itu sudah menghilang entah kemana.

Kagami menggaruk kepalanya gusar, "Haduh, bagaimana nih?"

"Kagami!" Kagami tersentak begitu ada suara seseorang yang memanggilnya, itu adalah Ustad Nash yang killer.

Ustad Nash membawa pentungan yang entah untuk apa, "Oiya, hari ini Saya yang akan merazia kamar santri.. pastikan kamar kalian bersih ya, soalnya aku harus nyapu halaman.." jelas Ustad Nash.

"Oh iya, tad, pasti kita bersihin kok.." Kagami tersenyum canggung.

Ustad Nash tersenyum bangga, "Biasanya kamar nomor 10 itu dihuni anak baik-baik, kamarnya juga cukup bersih. Makanya kalau gak bersih, nanti kamarmu ada penunggunya lho.." seru Ustad Nash yang berlalu sambil mengibas-ngibaskan pentungannya.

Kagami berlari tergesah-gesah ke kamar nomor 10 dan membuka pintunya memperlihat majalah dewasa yang masih menumpuk di kamar itu, "Ini gawat teman-teman, Ustad Nash akan merazia kamar kita!" peringatan Kagami membuat semua penghuni di kamar itu suram.

"Bagaimana ini? Kalau kita sampai ketahuan..." ucap Furi yang matanya mulai berkaca-kaca.

"Tenang saja.." Kuroko tersenyum lembut untuk menenangkan Furi, "Aku tahu seseorang yang dapat membantu kita.." setelah mengucapkan itu Kuroko pergi keluarga kamar mencari orang yang dimaksud.

Beberapa menit kemudian,

"Hello-ssu!" sapa Kise tersenyum menawan sambil melambai-lambaikan tangannya, Kagami menampakkan ekspresi tak suka akan bala bantuan Kise.

"Tunggu Kuroko! Kenapa dia?" tanya Kagami.

"Habis, tidak ada yang bisa membantuku lagi.." jawab Kuroko yang memasuki kamar.

Kise langsung terpekik kaget dengan wajah bersemu merah akan benda yang dia lihat di dalam kamar nomor 10, saking kagetnya dia sampai melompat dirinya ke belakang. Kise memandang curiga pada santri-santri yang katanya anak baik-baik itu, membuat penghuni yang ada di dalamnya tersinggung. Tapi, Kise masih percaya gak percaya—mana mungkin Kurokocchi kesayangannya menyimpan buku p*rno.

"Whoaa~ apa ini punya Kagamicchi-ssu?"

"Enak ajha! Jangan asal fitnah ya.."

Wajah Kawahara tiba-tiba menampakkan keseriusan yang dibuat-buat agar terlihat keren, "Sebenarnya ini bukan milik kami, kami hanya menjaganya sebentar.."

"Kenapa kau bicara seolah-olah membuatnya terdengar keren-ssu!"

"Langsung saja ke intinya Kise-kun, bawa ini semua ke kamarmu ya?" sambung Kuroko.

"WHAT?!" Kise jawdrop.

Kise kemudian berjongkok untuk melihat-lihat buku lucknuts itu, "Mustahil-ssu..dikamarku kan ada Kasamatsu-senpai, aku gak mungkin bisa menyembunyikan semuanya-ssu~" ucap Kise seraya membuka salah satu buku dan melihat isinya sambil nyengir mesum, "Eoow, ini hebat sekali-ssu.."

"Aomine sudah memberikan kita hak untuk melihatnya kok.." seru Midorima yang entah bagaimana ikutan melihat isi bukunya, entah bagaimana Kagami dan Kuroko juga mulai ikutan melihat isi bukunya. Begitupula, tiga serangkai kamar nomor 10.

"Whoa, kok cowok macam Aominecchi suka beginian ya-ssu?"

"Coba lihat deh yang tema ini..?"

"Woah amajing!"

"Yang ini parah abis.."

10 menit kemudian,

"WOAAAAAAH! KENAPA KITA MALAH JADI ASIK MELIHATNYA?!" omel Kagami yang membanting buku lucknuts Aomine, tanpa sadar otaknya sudah teracuni.

"MUNGKIN INI YANG NAMANYA NAFSU TAK TERBATAS-SSU!" omel Kise yang membanting buku lucknuts Aomine, tanpa sadar otaknya sudah teracuni juga.

Tiga serangkai hidungnya sudah mulai mengeluarkan darah tanpa henti, sedang Kuroko dan Midorima menutup buku itu dengan wolesnya.

"Baiklah-ssu, aku paham! Aku akan menyimpannya sebagian-ssu!"

Kise akhirnya membawa sebagian buku-buku ke kamarnya dengan kantong plastik berwarna hitam, dalam perjalanan ke kamarnya beberapa kali Kise hampir ketahuan bahkan Kasamatsu hampir membuka kedoknya yang untungnya saja senior Kise yang bernama Moriyama melindunginya, dengan alih-alih bahwa Moriyama juga ingin meminjam buku itu.

Kise akhirnya kembali ke kamar nomor 10 untuk melapor, "Kurokocchi! Kagamicchi!" panggil Kise yang langsung nyelonong masuk, lalu Kise yang memang bodoh memperlihat barang yang lebih wow dari majalah Aomine.

"Tada! Aku bawa DVD –piiip—lho~" Kise langsung mendapat hantaman keras di kepalanya dengan sebuah buku IPA yang lumayan tebel.

"JANGAN NAMBAH-NAMBAHIN, TEME!" Murka Kagami.

"Tunggu Kise, darimana kau dapat DVD ini?" tanya Midorima.

"Aku mendapatkannya dari Bang Moriyama-ssu.. katanya kalau nonton pas hari libur di warnet.." Jawab Kise jujur soal seniornya yang juga segrek itu :'v

Mereka memperhatikan tumpukan yang masih banyak itu dengan DVD Kise yang membuatnya semakin runyam. Mereka menatap tak minat dengan tatapan suram.

.

.

.

.

.

TBC karena tangan Kyuu pegel ngetik :v

Gile ajhe lebih dari 2656 kata bro~ gak nyadar Kyuu xD

Jangan lupa fav, follow, and comment ya readerstachi.. :v