Disclaimer: liat chapter 1 aja ya! Males copy-paste.
Pairing: 1827 [main], 6927, 8059, 1869/6918
Note:
"Hell-o!" – biasa [a.k.a Jepang]
"Hell-o!" – Bahasa Itali
[Hell-o] – A/N
Penjelasan: kalo Hibari POV berati memorinya Hibari... kalo Normal POV berati present time~
Warning: OOC~ selalu... light yaoi... kesalahan spelling... alurnya super cepat... bahasa campur aduk... dll
Enjoy~
Normal POV
Semua mata pun tertuju pada sosok yang baru saja memanggil nama mereka. Seorang remaja berambut coklat lembut sedang mencondongkan kepalanya dari jendela kamarnya sambil menujukan mimik wajah yang bingung. Sang fajar pun ikut menyambutnya, menambahkan kecantikan pada sosok imut itu
"Dame-Tsuna sudah bangun rupanya," sapa si tutor sadis sambil menurunkan sedikit ferdoranya.
"Um... sekarang bukan pagi kan?" tanya sang remaja sambil mengucak – ucak kedua matanya.
"Sudah, Dame-Tsuna," jawab si tutor dengan santainya.
"Hiiieeee! Kenapa kau tidak bangunkan aku dari tadi!" teriak Tsuna sambil berlari kearah kamar mandi.
"Reborn-san, bukan kah hari ini hari libur?" Tanya Gokudera sedikit ragu.
"Biarkan saja," jawab Reborn sambil meneguk secangkir kopi.
Hibari's POV
Seduah hantaman pun mendarat tepat di wajah seorang pria berbaju formal. Kuayunkan sepasang tonfaku kearah orang – orangn yang berdeda. Saat ini aku sedang berada di antara musuh – musuh keluarga mafiaku. Iya, mafia. Aku baru mengetahuin bahwa ayahku adalah seorang boss mafia dari keluarga bernama Nuvola, yang artinya Awan dalam bahasa Itali. Sebuah hantaman keras antara tonfaku dengan kepala seseorang yang ada tepat di sebelahku.
"Kyou-san" panggil seseorang yang membuatku menoleh sebelum menghantam kepala seseorang lagi.
"Ada apa, Tetsuya Kusakabe?" jawabku dingin.
"Ayah anda baru saja kembali dari markas Vongola. Dia..." jawabnya sedikit ragu di bagian akhir.
"Katakan, herbivore!" seruku tak sabaran. Bawahanku itu langsung saja mengangkuk.
"Ayah anda sekarang sedang di rawat oleh dokter pribadinya. Luka yang didapatnya... um... cukup parah, Kyou-san" jawabnya.
"Dasar orang tua yang tidak sabaran, sudah kubilang tunggu dulu," gerutuku. Aku pun melangkah meninggalkan beberapa tubuh tergeletak di atas tanah, masih bernyawa, hanya sekarat.
"Kita pulang," ucapku singkat. Bawahanku yang satu ini hanya menggankuk sambil menginggalkanku sendiri guna mengumpulkan sisa anak buahku yang tadi kubawa.
'Dasar orang tua sok kuat! Sudah kubilang untuk tunggu malah maju sendiri' makiku dalam hati. Tak lama, semua anak buahku pun berkumpul. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku langsung berjalan memasuki mobil yang sudah tersedia. Semuanya sudah memasuki mobil masing – masing, mobil yang kutumpangi pun bergerak. Dalam keheningan, Testuya Kusakabe menyetir mobil dengan kecepatan di atas rata – rata. Berati orangtua itu memang benar – benar sekarat. Itu juga salhnya sendiri tidak mengdengatkan usulku. Sekarang mungkin dia sedang tergeletak di atas ranjangnya sambil meratapi nasipnya.
Tak kusadari, aku sudah sampai di dalam arena mansion tempat tinggalku. Saat pintu mobilku terbuka, tanpa basa – basi lagi, aku langsung keluar dan menuju ke kamar orang tua itu. Kulihat sosoknya sedang terbaring lemah.
"Ky-kyouya? Apakah itu kau?" tanyanya dengan nada lemah.
"Iya, ini aku ayah" ucapku dengan nada sopan. Kupaksakan nada bicaraku dalam keadaan sopan. Sebenarnya aku ingin sekali meneriakinya tentang berbuatan gerabahnya, tapi apa daya, sebagaimana pun, orang tua merepotkan ini tetaplah ayah kandungku. Aku pun mendekat kearah ranjang king size yang sekarang ia gunakan untuk beristirahat. Kutarik sebuah kursi kedekat samping ranjangnya.
"Ky-kyouya," panggilnya.
"Iya, ayah?" sebuah lembar foto pun mendarat di atas tanganku. Saat kubalik lembaran foto itu, mataku pun terbuka lebar. Di dalam foto itu terdapat seorang bocah berambut coklat berantakan. Mata karamelnya bercahaya dengan imutnya. Senyumnya juga merupakan senyum termanis dari semua senyum yang pernah kulihat. Bocah remaja itu merupakan herbivore kecil yang dulu kutemui saat aku masih berada di kota kelahiranku, Namimori. Pandanganku pun langsung tertuju ke arah ayahku yang sedang terbaring lemah. Dengan tatapan bingung, aku tetap memandanginya, meminta penjelasan.
"Dia adalah calon Vongola Decimo-" mataku kembali terbelak lebar. Takku sangka bocah sepolos itu merupakan calon boss dari keluarga mafia. Bukan hanya keluarga mafia biasa. Keluarga mafia terkenal dan terbesar. Musuh keluarga mafiaku. Sayang aku tidak dapat bersamanya lagi. Takdir memang kejam ya... "Aku ingin kau membunuhnya... untuk membalas dendam pada Vongola bajingan itu!" aku pun langsung melontarkan orang tua itu dengan tatapan tajam. Berani – beranianya orang tua ini menyurukku untuk membunuh orang yang penting dalam hidupku. Sudah tidak dapat bersatu, masih memnyuruhku untuk membunuhnya pula.
"Anggap saja ini permohonan terakhirku..." lanjutnya lagi.
Aku hanya dapat menyetujuin misiku kali ini. Mau kutolak, tapi sepertinya nyawa ayahku ini tak akan bertahan lama. Aku pun mebungkuk sedikit sebelum pergi meninggalkan kamar orang tua menyebalkan itu. Kenapa ia harus bermusuhan dengan Vongola. Aku pun sebenarnya belum mengerti. Orang tua bangka itu menolak untuk memberitahuku. Dia bilang, aku harus menunggu saatnya aku menggantikan posisinya menjadi boss, dan saat itu, aku akan tahu semuannya. Aku hanya dapat menghela nafas pada jawaban itu. Mau berdebat dengannya, hasilnya juga akan nihil.
Kulihat Tetsuya Kusakabe masih menungguku di depan pintu kamar ayahku.
"Kyou-san!" sapanya kaget.
"Tetsuya Kusakabe, besok kita akan berangkat ke Jepang, siapkan semua persiapannya," ucapku dengan nada dingin. Bawahanku ini pun langsung membukkuk hormat sebelum beranjak memulai tugasnya. Aku pun berjalan menuju kamarku. aku butuh istirahat. Aku harus menyiapkan mentalku guna untuk menjalankan misiku besok.
Normal POV
Seorang bocah remaja berambut coklat berantakan mengenakan seragam sekolah, pun keluar dari rumahnya sambil memakan sebuah roti bakar dengan tergesah – gesah. Ia yang menemukan para sahabatnya yang sudah berada di depan rumahnya pun langsung tambah panik
"Ayo, Gokudera-kun! Yamamoto! Kita harus berangkat sekarang! Nanti kita telat lagi!" seru sang bocah panik. Ia pun menggandeng [baca: menyeret] kedua sahabatnya itu, tanpa memperhatikan busana yang kedua sahabatnya kenakan.
"Ano... Jyuudaime..."
"Tsuna... sekarangkan hari libur..." ucap Yamamoto sambil mencoba untuk menghentikan sahabat imutnya ini. Tsuna pun berhenti. Ia pun membalikan badannya ke arah sahabanya dengan tatapan bingung.
"Saya minta maaf, Juudaime! Saya lupa memberitahu anda kalau hari ini, sekolah diliburkan dalam rangka rapat guru!" ucap Gokudera meminta maaf.
"Tidak apa – apa, Gokudera-kun!" ucap si calon Vongola Decimo itu. "Sebaiknya kita balik saja ke rumah," ucapnya lagi. Para trio itu pun langsung berjalan kembali ke arah rumah Tsuna. Sesampainya, Tsuna pun langsung beradapan dengan tendangan maut Reborn.
"Sudah sadar Dame-Tsuna?" tanyanya sambil melompat turun dari kepala Tsuna yang tadi ia gunakan untuk mendarat.
"AUWWW! Reborn! Sakit!" teriak Tsuna sambil memegangi kepalanya yang malang.
"Dari pada kau teriak – teriak, meding kau usur tamumu yang ada di atas," seru Reborn tenang. Otak Tsuna yang tegolong lemot pun mulai berpikir. Butuh waktu yang cukup lama [menurut Reborn] untuk sang calon boss mafia ini untuk memproses maksud dari "tamumu yang ada di atas". Tiba – tiba, ia pun terlonjak kaget.
"Hibari-san?" tanyanya dengan nada kaget. "Apa yang terjadi dengannya?" serunya lagi.
"Dia pingsan saat –" belum sempat Reborn menhabiskan kalimatnya, muridnya itu langsung melesat masuk kedalam rumah. Sang guru hanya dapat menghela nafas melihat aksi kurang ajar sang murid. 'Sehabis ini, akan kuhukum dia' pikirnya dengan seringan sadis menghiasi wajah imutnya.
Sang bocah remaja itu langsung memasuki kamar tamu yang ia sediakan untuk seseorang bernama Kyoya Hibari. Di lihatnya seorang pemuda berambut raven sedang tertidur. Mata yang berwarna biru besi itu pun tertutup rapat, memblok orang di sekitarnya untuk melihat iris mata yang indah itu. Tsuna pun perlahan lahan mendekati sosok yang sedang terlelap itu.
'Tampan~' pikir Tsuna sambil memandangi sosok yang terlelap di atar ranjang berseprai ungu muda itu. 'Aku ini berpikir apa sih!' pikirnya sambil menampar wajahnya sendiri. 'Kita ini kan sesama laki – laki! Kenapa merasakan perasaan seperti ini!' Tsuna pun terdiam. Perlahan – lahan, ia menarik sebuah kursi terdekat dan mulai memandangi wajah tampan pemuda yang sedang terlelap. 'Sepertinya aku mengenalnnya...' pikirnya sebelum memasuki alam mimpi...
Hibari POV
Semua anak buahku pun berkumpul di dalam sebuah aula besar di dalam mansionku, kulihat semua orang yang kupercayai – sebenarnya tidak terlalu –. Di antara mereka, aku meliahat sesuatu yang mencolok. Dua orang memiliki model rambut yang aneh yang terinspierasi oleh sebuah buah, nanas. Model rambut yang aneh dan menyebalkan.
"Testuya Kusakabe, kenapa kau memanggil mereka juga?" ucapku sambil menujuk duo kepala nanas itu.
"Maaf Kyou-san, mereka tiba – tiba saja datang tanpa pengetahuan saya," ucap Tetsuya Kusakabe kelihatan bingung akan kehadiran nanas – nanas penggangu itu.
"Kyouya! Sudah lama kita tak berjumpa!" ucap salah satu dari duo kepala nanas itu dengan nada ceria yang menjijikan.
"Mau apa kau, hebivore nanas!" jawabku dingin sambil melemparkan pandangan tajam ke arahnya. Untuk orang biasa, mereka akan langsung mundur dan meminta maaf saat melihat tatapan itu dariku. Tapi dia berbeda, dia hanya tertawa kecil dan memanggap kalau tatapanku itu hanyalah angin lalu. Tingkat amarahku pun bertambah. Mukuro Rokudo adalah nama si herbivore nanas itu, di sebelahnya, terdapat seorang wanita pemalu, bermodel rambut yang sama bernama Chrome Dokuro. Entah apa hubungan yang terjadi di antara mereka berdua yang pastinya aku tidak peduli. Yang kusebalkan dari duo nanas itu, terutama yang bernama Mukuro Rokudo ini adalah tingkah lakunya dan cara curangnya dalam bertarung. Sungguh menyebalkan.
"Kau dingin sekali, Kyouya," ucapnya lagi.
"Herbivore kau tidak ada urusan di sini, pergi dari sini!" seruku kesal.
"Aku kan hanya mau membantu saja," sahutnya dan mebuat beberapa kerutan bermunculan di dahiku.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" seruku setengah berteriak.
"Oh? Ya sudah. Kita pergi sekarang Chrome," ucapnya sambil membalikan badannya.
"Iya, Mukuro-sama!"
Sebelum ia menghilang, ia pun memandang tajam ke arahku. "Kuharap kau tak akan menyesal dengan keputusanmu itu, Kyouya Hibari," ucapnya sebelum menghilang menjadi kabut putih. Aku hanya menghela nafas sebelum memerintahkan anak – anak buahku untuk segerah berangkat.
Keberuntungan pun sedang tidak berpihak padaku. Dari pihak Vongola sudah menebak – nebak rencana ayahku. Setibanya di Jepang, kami langsung di serang oleh para kaki tangan Vongola. Pertarungan sengit pun terjadi kembali. Setidaknya aku bisa lolos walau pun menderita beberapa luka. Aku pun melarikan diri ke kota kelahiranku, Namimori. Pandanganku pun mulai kabur dan mengelap. Tanpa kusadari, aku pun sudah tenggelam dalam kegelapan.
Normal POV
Sepasang kelopak mata pun terbuka, menampakan sepasang iris bewarna biru besi yang dari tadi si sembunyikan. Sepsang kelopak mata itu pun berkedip sedikit sebelum membukanya secara sempurna. Perlahan lahan pemilik mata itu mengerakan tubuhnya dan mencek keadaan sekitarnya. 'Semua ingatanku sudah kembali ya,' gunggam si pemuda berambut hitam kelam itu dalam hati. Matanya pun langsung tertuju pada seprang remaja yang sedang tertidur di sampingnya. Rambut coklatnya yang halus jatuh sedikit menutupi sebagian dari wajah imutnya. Mata karamelnya yang sering bercahaya kini sedang tertutup dengan kedua buah kelopak mata. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela pun ikut serta dalam acara memperindah kecantikan si 'putri tidur'.
"Tsunayoshi..." bisiknya kecil. Pemuda itu sadar setelah semua memori kembali, bahwa kalau dia dang bocah tidur ini 'tak akan dapat bersatu' pikirnya kecewa. Ia alihkan pandanganya menyapu seluruh ruangan. Menukan benda yang ia cari, sang pemuda langsung beranjak dari rangang yang ia tiduri secara perlahan – lahan, tak ingin membangunkan si bocah tidur di sampingnya. Ia mengambil sepasang tonfa kesayanganya dan memandang lagi sosok bocah remaja yang sedang tertidur pulas.
"Sayang kau tidal mengingan masa lalu kita berdua ya," bisik Hibari lagi. Ia mendekati sosok orang yang penting dalam hidupnya itu dan mencium kening si bocah sambil membisikan sesuatu di telinga sang remaja.
"Ti amo, Tsunayoshi"
"Arrivederci"
Sang pemuda pun langsung membuka jendela kamar tersebut dan meloncat keluar, meninggalkan orang yang penting – bukan – yang ia cintai di dalam kamar yang hanya memakai bulan sebagai penerangnya. Dia pun melihat jendela yang ia gunakan untuk keluar. Dengan rasa berat hati, ia pun meninggalkan rumah damai tersebut dang menghilang dalam kegelapan malam.
End~
HUAAA! Selesai juga nih fic! Pegel bgt ngerjainnya!
Reborn: ini fic cuman segini doank?
Yup! Nih fic dah kelar~
Reborn: ngegantung bgt endingnya!
Emang sengaja sih! Oya! Dah brapa lama gw ga update?
Hibari: *tiba" muncul bawa" kalender" sekitar 5 bulan lebih, herbivore...
Huaaaa! Lama bgt ya... sorry deh... nih fic sempat terlantar sih... mumpung hari ini ulthanya Hibari~ jadi update nih fic aja deh~ sekalian tamatin biar gw bs mulai fic baru lagi! Hari ini gw jg ngepublis fic berseri yang baru! Judulnya "Broken White" masih prolog sih jadi pendek! Silakan di baca... pairing? 1827 donk!
Hibari: Banyak omong kau, Hebivore!
Iya"! eh, Hibari met ultah ya... semoga hubungan lw dengan seme dan uke lw berlanjut dengan hasil yang memuaskan...
Hibari: apa maksudnya dengan "memuaskan", he Herbivore?
Um... ga ada... bwt~ Review ya... Ciao ciao~
