Game over!

.

.

.

Masa lalu

.

.

.

Tiba-tiba terbangun dengan pikiran kacau membuat Naruto sakit kepala. Shikamaru menatap Naruto khawatir. "kau oke?"

Naruto hanya mengangguk, Hanabi, bagaimana nasibnya? apa perlu Naruto mengatakannya pada Shikamaru? tapi Hanabi sudah bilang kalau dia akan baik-baik saja kan? semoga seperti yang dia ucapkan.

Air dingin yang disiramkan ketubuhnya membuat Hinata bangun dari tidur panjangnya. Ini pasti disebuah tempat dimana dia akan di siksa sampai mati atau akhir dari Hidupnya yang tenang. Oh benarkah? Hinata bilang dia tidak berusaha?

"Kau masih hidup rupanya?" ucap suara yang di benci Hinata sejak lama. Suara itu tidak pernah berubah meski Hinata sempat melukainya.

Hinata world : ON

Suara yang mencerminkan kewibawaan dan watak yang keras itu sedang duduk dengan kedua putrinya di samping kanan kirinya. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. "Kalian pribadi yang berbeda" ucapnya di tengah suara kebahagiaan.

Aku mengangkat wajahku dari buku bisnis yang beliau belikan padaku dan menatap Hanabi yang sedang asyik bermain game di psp miliknya. "Ya ayah benar" jawabku kembali tenggelam kedalam bacaanku.

"Ayah!" protes aku dan Hanabi saat mainan kami di ambil dan diletakkan di atas meja.

"Jarang sekali ayah ada dirumah, apa putri ayah ini tidak akan menemani ayah huh?"

Hanabi menatapku, saudaraku yang seayah. Sayangnya, ibu kami meninggal di saat yang bersamaan, sesaat setelah melahirkan kami. Di ruang bersalin yang sama. Dan meninggalkan ayah yang mencintai kedua malaikatnya itu. Entah bagaimana, tapi ibuku dan ibu Hanabi menerima satu sama lain, dan hidup berdampingan dirumah yang sama.

"Ayah, kami bukan anak kecil lagi" protes Hanabi.

"Oh benar sekali, kalian adalah perwujudan istri-istri ayah yang ayah cintai"

"Huek!" ucap Aku dan Hanabi bersamaan.

"Baiklah lupakan itu" ucap Ayahku dan menggenggam masing-masing tangan kami. "Hinata suka dengan bisnis dan bermain saham, jadi ayah akan membawamu kemana-mana. Kau lebih baik belajar dengan ayah. Untuk Hanabi yang suka main game. Hmm ayah tidak akan melarangmu, tapi kau harus membuktikan pada ayahmu ini, kau bukan hanya sekedar menghabiskan uang tapi menghasilkan uang dari gamemu itu."

"Benarkah ayah?" tanya kami bersamaan.

"Tentu saja!"

Itu adalah saat dimana aku sangat bahagia pergi dengan ayah. Hingga ayah meninggal secara mendadak karena serangan jantung. Itulah awal penderitaan yang tak berkesudahan bagiku dan bagi Hanabi.

"Jangan! Aku tidak suka! Aku tidak mau!" suaraku yang bergetar takut menghadapi iblis yang menyerupai ayahku! Kenapa ada orang yang terlahir sama namun memiliki sifat yang bertolak belakang.

Hyuuga Hizashi.

Tangannya menyeret paksa aku dan melemparku kedalam salah satu kamar dirumahku sendiri, "tidak! Aku mohon jangan" bisikku lemah. Tanganku mencakar wajah itu dengan kuku-kukuku yang tajam. Tapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

Aku membencinya setengah mati tapi aku tidak bisa melawannya. Jika bukan aku maka dia akan melakukannya pada adikku Hanabi. "Buka mulutmu, Hinata" perintahnya.

Aku membuka mulutku takut, dan tanpa menunggu aku sempurna membuka mulut, benda di bawah pusarnya masuk hingga mencapai kerongkonganku. Aku sulit benafas, aku berusaha menjauhkan kepalaku tapi tangannya terus menahan kepalaku.

"Kulum Hinata! Kau jalang seperti ibumu! Kau pasti bisa melakukannya" perintahnya lagi.

Aku ingin menggigit miliknya ini sampai putus. Rasa najis yang aku rasakan tidak ada duanya di muka bumi ini. Dengan wajah ayahku, dia menghina ibuku, menghina aku dan saudaraku. Tapi wajah itu membuatku tak berkutik, wajah berwibawa ayahku yang telah mati.

"Ugh!" aku tersedak! Mulutku penuh dengan miliknya yang terus bergerak konstan kemudian semakin cepat. Cairan berbau amis memenuhi rongga mulutku. Menjijikan, spermanya menyembur hingga menetes keluar mulutku.

"Kau puas, aku belum" ucapnya enteng,

"Cih," aku meludahkan spermanya kewajahnya sendiri.

"Kau naif Hinata, apa kau mau melihat aku menyetubuhi adikmu yang bagai buah persik itu?"

Aku bergetar takut, tidak! Jangan Hanabi! Jangan dia.

"Bagus,"

Kaki itu mendorong kepalaku hingga menyentuh lantai, membuatku berada dalam posisi bersujud. "Aku menantikan ini. Lihatlah? Meski aku sering menggunakannya dia tetap indah" ucapnya menyingkap rok sekolahku dan menurunkan celana dalamku.

"Apa aku masuk kelubang lain? Lubang yang depan sepertinya menantikan aku, lihat basahkan?"

Aku menggelinjang, menolak sentuhannya pada milikku yang terekspose dihadapannya. "Diam!" bentaknya.

Aku yakin dia memasukkan 3 jarinya sekaligus, rasanya sakit luar biasa. "Tunggu! Jangan! Jangan di sana, kau akan laku mahal kalau masih perawan" ucapnya pada diri sendiri.

Menahan rasa sakit, aku hanya bisa mengigit bibirku hingga berdarah. Rasanya seperti ada pisau yang merobek anusku. "Argh!" teriakan itu tenggelam dalam erangan Hizashi.

Begitu selesai, aku ditinggalkan begitu saja dengan baju sekolah yang berantakan. Hanabi masuk dengan airmata yang sudah meleleh. "Neechan," ucapnya dengan bibir bergetar. Aku berusaha bangkit dengan rasa sakit yang tersisa. "Aku baik-baik saja" ucapku mengelus surainya pelan.

"Neechan, kita bisa berbagi rasa sakit ini, aku akan menanggungnya juga"

"Jangan! Biarkan aku yang melakukannya. Kau harua hidup tanpa kenangan buruk ini. Kau akan jadi gamers handal dan keluar dari sini."

"Neechan..."

"Jangan sia-siakan pengorbananku"

Hanabi mengangguk, kemudian membantuku kembali ke kamar. "Kau sudah dapat PCnya?"

"Huum sudah, terima kasih Neechan sudah menyumbang. Aku menyimpannya di rumah Rin"

"Bagus. Buatlah ayah bangga."

"Nee, aku belum cerita ini. Sebenarnya aku punya pacar. Dia sangat tampan"

"Benarkah?"

"Maaf tidak memberi tahumu sebelumnya"

Aku menggeleng pelahan. "Tunggulah sebentar lagi, kau bebas bertemu dengannya" janjiku pada Hanabi.

Waktu berjalan lambat di rumah ini. Rasanya aku ingin membawa adikku melarikan diri dari sini, tapi kemanapun kami pergi kami akan ditemukan. Suatu sore, Hizashi yang mabuk meracaukan lagi. "Besok, hiks salah satu diantara kalian akan aku jual. Berdandanlah yang cantik"

Aku tersenyum pada Hanabi. "Aku yang akan melakukannya"

"Biarkan aku yang mendandanimu"

oOo

"Hanabi kenapa aku tidak boleh bercermin" tanyaku pada Hanabi yang menyeretku ke ruang tamu.

"Kakak cantik ko"

"Tapi..."

"Ini dia mereka, eh! Astaga! Apa-apaan kau Hinata!" teriak Hizashi.

"Dia cantik tuan, hanya dia hari ini-"

"Aku ingin adiknya," ucap Laki-laki yang duduk bersama Hizashi.

Hanabi tersenyum padaku, "kali ini aku yang akan melakukannya" ucap Hanabi.

Tanpa upacara pernikahan, tanpa mengadakan ritual, Hanabi dibawa pergi hari itu juga. Satu bulan pertama dia masih rajin menelpon dan berkata dia sangat bahagia. Lebih baik tinggal di sana tanpa adanya Hizashi.

Semakin lama, dia semakin jarang menelpon. Saat aku datang kerumahnya, suaminya tak pernah mengizinkanku masuk. Hingga aku harus datang saat pria itu tak ada di rumah. Hanabi terlihat glamour, tapi beberapa lebam menghiasi tangan dan lebih banyak lagi dibalik bajunya yang glamour.

"Hanabi, larilah dari sini" saranku.

"Tidak, jika itu terjadi bagaimana denganmu?"

"Jangan pikirkan aku! Pergilah, kau punya kekasih bukan? Dia mungkim bisa membantumu jika kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Hanabi mengusap tangan kanan dengan tangan kirinya, wajahnya nampak sedih dan menggeleng pelan. "Dia pergi keluar negeri. Tidak dalam waktu yang singkat"

Aku memeluk tubuh Hanabi, "maaf, aku tidak bisa menyelamatkanmu"

Kami menangis bersama, kenapa nasib yang kejam menimpa kami? Kenapa ayah harus meninggal? Semuanya terasa salah bagi kami berdua.

Hari-hari berikutnya aku akan datang kerumah Hanabi jika suaminya tidak ada di rumah. Membersihkan rumahnya dan memasak. Setiap hari terus seperti itu, aku hanya ingin meringankan beban adikku, tapi hari itu Suami Hanabi tak kunjung pergi. Aku mulai khawatir dan terus bolak balik lewat di depan rumahnya.

Suara teriakan dan benda pecah membuatku nekat masuk. Menghalau siksaan yang sedang diterima Hanabi. "Minggir, ini urusan kami"

"Jangan sakiti Hanabi!" ucapku memeluk tubuh Hanabi yang sudah tak berdaya di lantai.

Pukulan dari tongkat baseball menghujani tubuhku tanpa ampun, aku terus berteriak minta tolong hingga seseorang masuk dan menghentikan suami Hanabi. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya dengan nada cemas.

"Rumah sakit, adikku dia sekarat" bisikku lemah sebelum kegelapan menelanku.

Aku tersadar dari mimpi panjangku. "Hanabi!" ucapku segera bangun. Astaga tulangku terasa ngilu semua. Aku meraba wajahku yang terasa aneh, perban. Apa sangat parah? Hanabi! Aku segera bangkit dan keluar kamar. Hanabi dimana dia?

"Dimana wanita yang dibawa bersamaku?" tanyaku pada seorang suster yang lewat.

"Nona di sini" ucap suster lain yang datang menghampiri kami.

Aku melihatnya, tubuh Hanabi terbaring lemah. Dokter baru saja memeriksanya, "luka dalamnya terlalu parah. Dia mungkin tidak akan bertahan" ucapnya pada sang suster kemudian melihat ke arahku.

Aku menghambur ke dekat Hanabi, "maafkan aku! Maaf, bangunlah ayo kita sama-sama lari dari sini." ucapku terbata.

Hanabi menatapku dengan wajah lelah. "Sudah berakhir. Maafkan aku, aku sepertinya akan menyusul ayah ketempat ibu."

"Janga bilang begitu! Kau akan sehat kembali"

"Pergilah. Putuskan semua hubungan di masa lalu dan hiduplah bahagia. Kau harus berjanji padaku"

"Hanabi.."

"Berjanjilah"

"Aku janji.."

"Aku bisa tenang sekarang. Aku akan bilang semua perbuatannya pada ayah dan kedua ibu kita. Tenang saja, aku pastikan dia dapat kutukan dari alam baka. Aku lelah sekali, aku ingin tidu-"

"Hanabi! Hanabi bangun!" teriakku. Sekeras apapun aku menguncang tubuh itu. Tubuh itu tetap diam dan mulai mendingin. Hanabi sudah meninggal. Sudah tak ada lagi yang tersisa di sampingku.

Di hari pemakamannya aku bersumpah tak akan pernah kembali ke rumah ini dan memutuskan semua hubunganku dengan masa lalu. Aku merencanakan semuanya, dengan rapi. Malam itu juga aku mengemudikan mobil ayah dan menerjunkannya ke sungai. Menanggalkan apapun yang bisa membuatku terlihat benar-benar bunuh diri.

Hinata world : OFF

"Siapa kau?" tanya Hinata bingung. Reaksi yang terus Hinata pertahankan. Pura-pura tidak tahu.

"Aku Hyuuga Hizashi, pamanmu" ucapnya mendekati Hinata.

"Ah, siapa ya? Yang jelas aku tidak ada hubungannya denganmu"

"Jangan sungkan, sudah lama aku mencarimu. Sekarang aku tak akan melepaskanmu"

"Oh tuan siapa tadi? Aku hanya seorang anak yang tak mengenalmu. Bagaimana bisa kau memaksa aku mengenalmu. Aku punya nama dan namaku Hanabi. Kau bisa lihat keluargaku bukan Hyuuga di tanda pengenalku"

"Kau licik Hinata."

Hinata tertawa sekerasnya, menertawakan Hizashi "apa yang kau tahu tentangku? I mean me, bukan Hinata."

"Kau Hinata dan kau tidak bisa bersembunyi dariku"

Hinata memutar bola matanya bosan. "Lepaskan aku dalam 10 detik atau kau akan menerima dobrakan dari pintumu"

"10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1"

"Angkat tangan! Kalian di tahan atas tuduhan penculikan putri keluarga Otsusuki" teriak seorang polisi mendobrak pintu masuk.

"Sudah kubilangkan?" ucap Hinata menyeringai.

"Dia keluarga Hyuuga, namanya Hyuuga Hinata" teriak Hizashi tidak terima,

"Hinata?" ucap Seorang Wanita menyeruak di antara polisi. "Aku tahu dimana dia berada. Dia benar-benar mirip putriku, gadis yang malang"

"Apa maksudmu?"

"Dia sudah meninggal, dan abunya di tebar laut. Sesuai permintaannya"

"Brengsek, kalian pasti berbohong" ucap Hizashi mundur kearah Hinata dan menaruh pisau di lehernya.

"Hanabi! Jangan tuan." ucap wanita itu khawatir.

"Bagaimana bisa kalian menemukan kami?"

Wanita yang berdiri di antara deretan polisi itu nampak ragu. "Sebenarnya anakku pernah mengalami gangguan mental. Dia pernah mencoba bunuh diri, dan di saat itulah kami menemukan Hinata. Aku takut putriku akan kembali mencoba bunuh diri, jadi aku memasang pelacak di tubuhnya." ucapnya, "dia pergi keluar kota, jadi aku menelpon polisi"

"Kau tertipu olehnya. Dia Hinata Hyuuga."

Bosan dengan percakapan ini, Hinata mengigit tangan Hizashi, membuka ikatan di kursinya dengan mudah dan melompat berdiri di sisi polisi, "jangan ragukan ibuku. Mana kutahu tentangmu huh!"

Polisi segera bergerak menangkap mereka semua dan mengiring mereka ke kantor polisi, "kau dapatkan?" tanya Hizashi saat dirinya di giring ke mobil pada anak buahnya.

"Aku mendapatkannya" ucapnya tenang.

"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu cemas

"Aku baik bu, mari pulang"

Kami berdua menumpang taksi sampai di kediaman Otshusuki. Ayah sedang membaca diruang tamu. "Ayah, kenapa hanya diam di sini?" tanya Hinata dengan wajah masam.

"Kau sudah memperhitungkannya, hanya perlu ibumu" ucapnya tenang.

"Terima kasih Hanabi, kau membantu Hinata" doa ibu Hanabi menatap foto Hanabi yang asli. Kami seperti terlahir kembar.

"Ibu sangat cemas sekali. Bagaimana kalau ibu kehilanganmu juga? Anak nakal sudah jadi ibu pun kau masih menyusahkan" omel ibu.

"Maafkan aku, ini masih akan tetap berlanjut. Sebentar lagi' ucap Hinat memeluk ibu Hanabi.

Benar, Hinata selamat diaksi bunuh dirinya. Saat itu berkilo meter jauhnya dari tempat bunuh dirinya. Hinata menemukan mobil Hanabi otsusuki yang terbakar, Hinata berhasil mengeluarkan Hanabi tapi dia sudah tak bernyawa. Rupanya dia menenggak racun sebelum membakar mobilnya sendiri.

Keluarga otsusuki datang tak lama kemudian bersama polisi dan ambulans. Terkejut, melihat dua Hanabi, dengan salah satunya sudah meninggal. Dari sana Hinata berubah menjadi Hanabi dan melakukan beberapa operasi kecil terhadap luka-luka yang bisa menjadi ciri Hinata.

Hari ini, waktunya telah tiba. Hari dimana sekali dia masuk penjara maka dia akan membusuk di penjara. Hizashi tidak akan pernah menyerah mencari Hinata. Itu karena Hinata punya kartu As ditangannya. Semua dokumen hitam milik Hizashi tersimpan rapi dibrankas bank paling aman.

"Tenang bu, aku akan menghancurkannya" bisik Hinata.

oOo

"Nah Hima, kita akan tinggal disini untuk sementara." ucap Hinata membuka pintu apartemen di lantai 3.

"Apa Hima tidak boleh tinggal di caffe lagi, mama?"

Hinata menggaruk pipinya, inikan yang diinginkan Himawari? Jika terus tinggal di sana maka Himawari akan terus bertemu ayahnya. Sedangkan Himawari mengatakan benci Naruto. Oh! Kepala Hinata serasa mau pecah, setelah banyak hal terjadi, dia harus membereskannya satu perastu.

Shino marah karena Hinata tidak menyelesaikan jobnya, belum mencari manajer baru, belum kasus Hizashi. Hinata ingin pria itu di hukum mati. "Masuklah Hima. Kau sendiri tahu jika kau terus tinggal di caffe kau akan terus bertemu papa Naruto."

Himawari mengulum bibirnya. Jarinya bertaut di depan dadanya. Bukan itu maksud Himawari, tapi Himawari iri dengan kakaknya yang mendapat perhatian penuh dari sang papa.

"Oh ya, mama sudah mengurus kepindahanmu ke sini. Besok kau bisa langsung sekolah"

"Tidak ada libur?"

"Tidak!"

Himawari berjalan gontai menuju kamar barunya. Kardus-kardus pembungkus barangnya masih tergeletak di sudut ruangan. "Aku iri sama Sarada-nee" bisik Himawari,

Hinata segera masuk kamarnya. Yang ditujunya adalah PC yang sudah menunggunya sejak lama. "Baiklah! Ayo kita pecahkan rekor lagi"

Suara cicitan beker antik Himawari membuat gadis kecil itu menggeliat dalam selimutnya. Berjalan tertatih dan memaksakan dirinya masuk kamar mandi. "Dingin!" teriakknya lupa menyalakan air panas di keran.

Memilih pakaian sendiri, menyisir dan mengikat pita senada warna matanya di kedua sisi kepalanya. "Mama? Mama belum masak?" teriak Himawari melangkah kepintu kamar Hinata, tapi sang mama terlelap di depan PCnya.

Hinata terperanjat dari depan PCnya. "Sarapan dan bento Hima!" teriaknya panik segera keluar kamar. "Ohayou! Eh gome-"

"Aku sudah memasukan bentoku hari ini. Aku pergi" ucap Himawari melangkah ke pintu keluar.

"Apa yang Hima siapkan?"

"Mama tidur saja. Hima sudah membuat sandwitch lengkap seperti yang selalu mama buat" ucap Himawari menutup pintu.

Sebenarnya Himawari ingin membangunkan Hinata yang tertidur di depan PC, tapi lingkaran hitam tipis menhgelayut di bawah mata Hinata, biasanya itu akan muncul kalau Hinata punya masalah. "Kau bisa Hima! Aku kuat" teriak Himawari berlari menyusuri lorong apartemen menuju lift.

Kemarin mama sudah menunjukaan letak sekolah dan cara menggunakn lift, jadi Himawari hanya perlu menirunya lagi hari ini. Untungnya, sekolah hanya berjarak 100 meter dari gedung apartemen barunya.

"Ohayou, ohayou watashi wa Himawari desu. Yoroshiku onegaishimashita" ucap Himawari mengahapal kalimat perkenalannya.

"Ayah, hari ini janji belanjakan?" tanya suara anak kecil.

Himawari sempat berhenti berjalan dan membiarkan orang yang di belakangnya lewat, itu adalah papa dan Sarada- nee. Mereka tampak bahagia. Berjalan bersama saling bergandengan, tangan Himawari terkepal erat di sisi tubuhnya.

Sarada-nee tampak menikmati kegiatan ayah dan anak ini. Papa juga sama, dia kan hanya punya seorang putri saja. Himawari hanya serangga penganggu yang masuk ke kehidupan papa, Himawari mengelap airmatanya kasar berjalan di belakang ayah dan kakaknya sedikit jauh.

Naruto world : ON

Senang rasanya jika yang kugandeng adalah Himawari. Kemana putriku pergi? Dia bilang benci aku kan? Kalau aku punya kesempatan lagi. Aku akan memperbaikinya.

"Ayah sudah sampai. Jaa" ucap Sarada melepas tanganku dan berlari masuk ke sekolah.

"Ohayou. Jaa" ucap sebuah suara.

Aku memutar kepalaku, sepertinya ada yang menyapa? Ah, inikan sekolah mungkin bukan untukku. Yosh! Waktunya kerja, aku melirik jam di tanganku, masih sempat ketemu Boruto.

Hari ini terpaksa naik bis, karena kurama yang ngadat lagi. Apa aku beli motor saja ya? Aku turun di halte sebuah taman, di pintu masuk, nenek menungguku dan melambaikan tangannya.

"Bolt, kau kangen ayah?" ucapku menggendong bolt yang nampak enggan.

"Naruto"

"Ya Nek?"

"Besok ulang tahun hotel, datanglah"

"Urusanku belum selesai" jawabku singkat. Tidak boleh secepat ini.

"Aku sudah mengaturnya. Sebuah pesta topeng. Kau bisakan?" pinta nenek. "Aku sudah terlalu lama sendirian"

"Baik Nek, jangan berkata sedih seperti itu"

"Naruto kau harus banyak belajar" ucap Nenek.

"Heh? Aku belajar?"

"Kau harus menghilangkan sifat mudah luluhmu itu."

Aku terdiam cukup lama, ya benar juga. Aku harap ini akan segera berakhir, secepatnya. "Bolt kau mau seorang mamakan? Ayah akan segera mendapatkannya untukmu"

Hari berlalu dengan cepat, aku naik ke apartemenku yang berada di lantai 4. Seorang anak kecil melangkah masuk ke dalam lifr. Eh sejak kapan? Aku tak melihatnya di luar tadi. Mungkin dari kotak pos.

"Nak, lain kali jangan pergi keluar sendiri setelah gelap. Bahaya" nasehatku.

"Aku tidak takut apapun" ucapnya hampir tak terdengar.

Dengan gagang payung yang dibawanya, Dia memencet tombol lantai 3, suasana berubah menjadi hening kembali. Anak di sampingku menggunakan jaket dengan Hoodie yang menutupi kepalanya.

"Jaa, aku tinggal di lantai 4. Putriku juga seusiamu, mainlah jika kau tidak punya teman" ucapku saat dia keluar lift.

"Mama bilang jangan bicara dengan orang asing" jawabnya.

Nada suara yang terdengar jauh lebih dingin, "ahaha kau benar. Maaf" kataku kikuk.

Aku menghela napas sebelum membuka pintu apartemenku. Baiklah kau bisa Naruto. Jadilah seorang pria yang baru. Sudah waktunya kau keluar dari status kambing hitam ini.

"Sasuke kau brengsek!" racau Sakura.

Aku melihatnya duduk dimeja makan dengan 5 botol sake. "Dimana Sarada?" tanyaku tak melihatnya. Biasanya dia akan tidur di sofa agar aku menggendongnya ke kamar.

"Sasuke menculik putriku"

Aku segera menuju telpon rumah, beberapa pesan suara tersimpan, semuanya dari Sasuke "Aku membawa Sarada menginap di rumahku hari ini. Aku menjemputnya di sekolah"

"Pria tua itu... Lebih suka putriku daripada aku..." ucap Sakura menuang sedikit sake ke gelasnya. "Dia hanya mau putriku saja!"

Abaikan saja dia, aku lebih baik tidur. Isakan kecil keluar dari bibir Sakura. Ah! Jangan airmata lagi!

"Haha anak ini pun akan di tolak sepertiku" ucap Sakura, kali ini dia menenggak sake langsung dari botolnya.

"Sudahlah, ayo sebaiknya kau pergi tidur" ucapku sembari merebut botol itu dari tangannya.

"Kembalikan! Kembalikan minumanku!"

"Tidak!"

"Sasuke megabaikanku"

"Itu semua karena salahmu! Jika aku jadi kau aku tidak akan selingkuh, kau membuatnya semakin sulit"

"Aku hanya pergi makan malam dengannya! Aku tidak pernah tidur dengannya!"

"Kau tidak pernah sadar dengan keberuntunganmu"

"Diam! Diam! Diam!"

"..."

"Dia bahkan tidak mengakui anaknya sendiri." ucap Sakura meremas pelan perutnya.

"Sudah jelaskan Sarada putrinya"

Sakura menggeleng, "aku hanya tidur dengannya, tidak ada orang lain lagi! Tidak ada! Bayi ini miliknya"

Apa? Maksud dia, dia sedang hamil anak Sasuke? Sakura mulai memukul pelan perutnya. "Dia harus lenyap! Dia harus lenyap!"

Terpaku, aku hanya bisa diam melihat Sakura. Dia anak Sasuke, mati atau hidup urusan mereka bukan? Kalau itu anakku mungkin akan lain cerita. Aku harus membiarkan apa maunya kali ini. Toh jika mereka mau, mereka bisa melakukannya lagi. Selain itu, aku tidak mau nasibnya seperti nasib Bolt.

"Kembalikan Sasuke,, Naruto!"

"Kau sudah banyak minum! Tidurlah!" ucapku menyimpan botol yang kupegang ke dalam kulkas.

"Naruto! Kembalikan!" teriak Sakura menerjang tubuhku.

"Tidur Sakura! Masalahmu tidak akan selesai hanya dengan mabuk!" ucapku mendorong tubuh Sakura menjauh.

Tangan Sakura malah melingkari leherku. "Sakura lepaskan." dengan cepat semuanya mengalir. Hingga aku tak bisa berbuat apa-apa. Bibir itu mengecap bibirku, memaksa dan mendesakku.

oOo

Mataku terbuka dengan cepat, sial aku tertidur. Sakura masih memeluk tubuhku erat. Oh ya, semalam Sakura memelukku erat dan enggan melepaskannya. Aku terpaksa menyerer tubuhku kekamarnya dan berbaring bersamanya.

Perlahan aku melepaskan pelukannya. Wajah itu masih cantik seperti dulu, astaga berhenti memikirkan Sakura! Perasaanku sudah lenyap. "Aku turut berduka atas bayimu. Astaga pestanya!" ucapku panik segera keluar kamar Sakura dan bersiap pergi.

Aku berlari menuju basment dimana kurama terparkir, aku lupa dia sedang ngadat. "Ohayou" sapa Shikamaru sambil menguap.

"Kau mau kemana?" tanyaku cepat.

"Belanja." ucapnya sembari membuka pintu mobil.

"Kau tidak pakai motor?"

"Langsung saja ke intinya" tanya Shikamaru.

"Pinjam motormu"

Shikamaru melempar kunci motornya padaku, "kau membuang waktu berhargaku untuk tidur" cibirnya segera berlalu.

Oke, Naruto bisa melakukannya. Ini dia motor matic milik Shikamaru. "Utamakan keselamatan. Ini lebih aman dibanding motor sport" kilah Shikamaru saat aku menertawakan seleranya.

Kembali aku melirik jam tanganku. Aku terlambat fitting baju, aku segera memakai helm dan menggas matic ini.

Naruto world : OFF

Suara decit ban terdengar di telinga. Motor Naruto hampir bertabrakan dengan sebuah sedan putih yang sama-sama sedang terburu-buru.

"Hampir saja" bisik Hinata lega. Jantungnya berdegup tak karuan. Oh sial, Hinata harus bertemu Ino untuk membuatkannya gaun instan untuk malam ini. Hinata bergegas menuju SaiNo butik.

"Tidak mungkin Hinata! Gaun baru dalam sehari? Aku tidak bisa!" tolak Ino.

"Tolonglah Ino, aku harus hadir di pesta itu. Nyonya Namikaze klienku" ucap Hinata.

"Nyonya Namikaze? Pemilik hotel besar itu? Skyfall garden?" ucap Ino setengah berteriak.

"Ups aku keceplosan" ucap Hinata menutup mulutnya. Tapi ini memang sengaja Hinata lakukan.

"Akan aku siapkan gaunnya, asal kau ajak aku juga"

"Hmm kau pasti repot, aku akan menelponnya dan mengatakan-"

Ino merebut ponsel Hinata, "aku bebas, akan aku siapkan"

"Kau sahabatku yang terbaik Ino! Aku mencintaimu!"

"Kau menipuku lagi"

"Itu namanya strategi, ayolah kau pasti suka dengan pestanya kali ini."

"Baiklah apa yang bisa aku buat disini" ucap Ino masuk ke dalam gudang penyimpanan gaun baru. Gaun -gaun ini belum dipamerkan jadi tidak ada yang tahu ini buatan siapa. Mungkin hanya perlu sedikit tambahan agar terlihat lebih glamour dan Hi class. "Aku akan memilih long dress blink-blink, apa kau suka?"

"Tidak, cobalah yang tidak mencolok mata" ucap Hinata memilih topeng setengah wajah yang tersedia di rak khusus.

"Mau dicocokan sesuai model topengmu?" tanya Ino sembari menarik beberapa gaun dari lori.

"Aku suka shappire ini, jernih seperti mata Hima." Hinata berbalik dan memperlihatkan topengnya.

"Wow kebetulan sekali, aku menawarkanmu dress ini" ucap Ino mengangkat sebuah baju berwarna biru gelap. "Aku akan menambahkan sedikit sentuhan lain, di bagian lengan."

oOo

Pesta Namikaze's hotel diadakan di area ballroom lantai 2, persiapan telah selesai dilaksanakan. Tamu-tamu mulai berdatangan memenuhi isi ballroom. Ino menyeret tubuh Hinata agar segera bergegas masuk. "Ayo kita harus cari tempat strategis." ucapnya semangat.

"Miss," sapa Nyonya Namikaze, mengenali Hinata.

"Pergilah duluan" ucap Hinata pada Ino.

Setelah Ino meninggalkan mereka, Nyonya Namikaze tersenyum bahagia. "Terima kasih sudah mau datang, cucuku juga akan ada di pesta ini"

"Astaga, maafkan aku! Selamat atas kembalinya cucumu. Aku dengar cicitmu juga tinggal bersamamu. Tapi kenapa anda bilang cucu anda ada di sini? Bukankah identitasnya rahasia?"

"Ya. Ya. Ya. Semua berkatmu aku bisa bertemu dengannya lagi, bahkan mengasuh cicitku juga. Kau wanita baik miss, aku ingin seseorang sepertimu bisa mendampinginya"

"Aku? Kau tahu aku seperti apa Nyonya, aku bahkan punya seorang putri tanpa suami"

"Aku tahu, kau tidak mungkin melakukan hal yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Tapi kenapa kalian tidak menikah?"

"Aku meleset kali ini, hatinya sudah jadi milik orang lain"

"Maaf telah menyinggungnya."

"Tidak masalah."

Seorang Pria berjas putih berjalan menghampiri mereka. Topeng black and whitenya menutupi hampir seluruh wajahnya. "Ah ini dia cucuku. Kenalkan dia Miss perfect. Dialah orang yang telah membantu nenekmu ini"

"Senang bisa bertemu dengan anda, tuan Namikaze. Panggil saja Miss perfect" ucap Hinata formal dan sedikit membungkukan badannya.

"Nenek tidak memberitahunya apa-apa selain aku cucumu kan?" tanyanya melihat kearah Nyonya Namikaze.

"Tentu saja tidak, di pesta ini sekalipun hanya Miss dan aku yang tahu siapa cucu keluarga Namikaze yang asli"

Mata Naruto melihat wanita dihadapannya, tubuhnya condong sangat dekat dengan Miss ini. Mata itu begitu tenang, bahkan tak menunjukan minat sedikitpun terhadap Naruto. 'Wanita ini bisa menghancurkan siapa saja tanpa menggunakan tangannya sendiri' batin Naruto. "Aku juga senang bisa bertemu denganmu, tolong jaga rahasia kecil ini' bisik Naruto tepat di telinga Hinata.

Darah Hinata berdesir mendengar bisikan Tuan Namikaze ini, bau parfumnya menguar memasuki rongga hidung Hinata, begitu maskulin. Entah mengapa, tuan Namikaze dihadapannya mampu membangkitkan sisi wanita Hinata yang hanya ditujukan pada Naruto seorang.

"Maukah kau masuk denganku? Aku tidak mungkin berdekatan dengan nenekku sendiri" bisiknya lagi. Tubuhnya segera menjauh dan kembali tegak, tangannya terulur menanti sambutan Hinata.

Plak! Tangan nyonya Namikaze menepuk punggung Naruto cukup keras. "Haha kau benar sekali Namikaze muda! Bisikanmu seperti sindiran untukku"

"Kau tetap yang paling kuhormati nek" ucap Naruto memutar bola matanya.

"Baiklah, aku akan masuk duluan."

Krik. Krik.

Suasana berubah senyap seketika. Sama-sama canggung dalan memulai percakapan satu sama lain. Mata Hinata menatap shappire itu, seperti milik Naruto. Apakahh sekarang Hinata boleh berpaling pada orang lain. Tidakkah Tuan Namikaze akan tersinggung jika dia berpaling dari ayah Himawari hanya karena memiliki warna mata yang sama?

"Maukah kau masuk bersamaku?" tanya Naruto kembali mengulurkan tangannya.

Kali ini Hinata segera menyambutnya dengan sebuah senyuman. "Tidak akan pernah kutolak lagi, tuan Namikaze"

Suara Mc terdengar saat keduanya melangkah masuk, ballroom sudah penuh oleh tamu-tamu yang khusus diundang. Hinata melihat Ino melotot padanya, batinnya pasti mengutuk Hinata karena membawa seorang pria dalam agenda pesta mereka hari ini. 'Aku terpaksa, dia klienku yang ngotot' ucapku dengan perlahan dan tanpa suara.

'Akan kukutuk kau berjodoh dengannya selamanya' balas Ino.

"Ada apa?" tanya Naruto melihat Miss perfect terus melihat kesamping sembari menutupi mulutnya dengan tangan.

"Tidak apa-apa" jawab Hinata segera menurunkan tangannya dan tersenyum canggung. Hampir saja.

"Aku dengar kau menitipkan putramu pada Nyonya Namikaze."

"Hmm"

"Apa ada masalah? Ah, maaf sekali aku lancang seperti ini. Nyonya Namikaze tadi menyinggung soal pendamping untukmu"

"Seperti biasa sebuah Hubungan. Tidak selalu berjalan lancar."

"Aku harap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian. Mungkin kalian tidak sejalan, tapi putramu butuh seorang Ibu disampinganya"Nasehat Hinata.

"Kau tahu Miss, kau tidak bisa menyarankan sesuatu jika kau tidak benar-benar tahu masalah seseorang." ucap Naruto tajam.

"Ah, souka. Kau pandai bermain kata-kata dalam mengungkapkan masalah dan perasaanmu, tuan Namikaze"

Naruto menatap Miss Perfect tajam, dia sedang mengorek informasi pribadinya sekarang? Tanpa menyebutkan masalah apa itu. Wanita disampingnya dengan mudah mengorek informasi pribadi darinya.

"Kenapa?" tanya Hinata polos, matanya berkedip cepat.

"Tidak-"

Suara tepuk tangan membuat suara Naruto tenggelam dan tak terdengar, wajahnya tertutup topeng seluruh wajah semakin menyamarkan suaranya. Suara Nyonya Namikaze kembali terdengar.

"Selanjutnya Namikaze's hotel akan diteruskan oleh cucuku. Wanita tua ini sudah terlalu tua melakukan kegiatan seperti ini" ucapnya membuat para tamu tertawa mendengarnya. Seorang staff disampingnya membisikan sesuati ditelinganya. "Apa kau mau menyuruh wanita tua ini cepat mati?" gerutunya menjauhkan si staff tersebut. "Apa kalian tega menyuruh Nyonya tua ini berdansa huh?"

"Bedansalah Nyonya, nikmati hari ini" teriak Hinata membuat seluruh perhatian berpusat padanya, "temanku ini sangat mengagumimu, dia sangat senang jika kau mau berdansa dengannya."

Suara tepuk tangan terdengar lagi, sial sekali Naruto dikenalkan dengan wanita ini, bukannya diam dia malah menarik perhatian seisi tamu pesta. Tapi kakinya tetap melangkah maju dan membawa Nyonya Namikaze berdansa. "Rasanya aku seperti sedang berdansa dengan kakek dan ayahmu" ucapnya pelan.

"Kau keterlaluan ya? Kenapa tidak bilang klienmu datang juga?!" omel Ino di samping Hinata. "Kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan datang"

"Aku juga tidak tahu dia ada di sini" ucap Hinata membela diri.

"Aku akan kembali nanti" ucap Ino meninggalkan Hinata.

Rupanya ada perancang terkenal sedang duduk sembari menikmati pesta. Ini kesempatan yang tidak akan disia-siakan Ino.

"Aah!" Hinata memekik pelan, tubuhnya di tarik seseorang tanpa dia sadari menuju lantai dansa.

"Hallo" sapanya, menarik pinggang Hinata merapat ketubuhnya. Jemarinya bertautan dengan jemari Hinata.

"Kau tidak terduga Tuan Namikaze" ucap Hinata melihat pelaku yang menariknya tadi, "dimana Nyonya?"

"Sedang istrirahat karena Sakit pinggangnya kambuh"

Hinata tertawa pelan mendengar penjelasan Tuan Namikaze. Dia sedang melucu rupannya. Tawa yang terdengar hambar dan dipaksakan. Musik mengalun perlahan, memasuki setiap langkah yang mereka gunakan hingga musik itu berakhir dengan tepuk tangan yang cukup meriah.

Naruto mengambil tangan kanan Hinata, dan mendekatkannya pada topengnnya. Pelan, topeng itu terangkat dari punggung tangan Miss perfect , kemudian menempelkan bibirnya di sana. "Senang bertemu dengan anda, Miss."

Hinata sampai terpaku mendapat perlakuan spesial seperti ini, Tuhan dia begitu memikat hati Hinata. Tapi debaran jantungnya tak terasa spesial. Biasa saja.

oOo

Himawari menatap pintu kamar mamanya, sudah lebih dari seminggu mamanya terus bermain game. Dia akan keluar hanya ketika menyiapkan makan, itu juga makanan paling sederhana. Ramen atau roti selai.

"Mama, ayo jalan-jalan" ajak Himawari melangkah masuk.

Kamar itu gelap dan hanya diterangi cahaya PC yang terus menyala. Himawari mendekati tubuh yang hanya bergerak di bagian tangan itu, menimbulkan bunyi klik klik yang kadang konstan dan kadang tidak teratur.

Bulatan Hitam menggelayut di kelopak mata Hinata. Rasa perih juga timbul di matanya. Dia sedang stress sekarang, hanya butuh menyendiri. Setiap kali menutup mata yang terbayang adalah masa-masa kelamnya di rumah Hyuuga. Semua perlakuan Hizashi, kematian adiknya. Hinata takut untuk menutup mata sekarang.

"Mama"

Tidak pernah ada jawaban dari setiap panggilan Himawari. Kecewa tidak mendapat jawaban, Himawari hanya pasrah dan meninggalkan kamar Mamanya, dering telpon rumah menyambut Himawari. "Moshi-moshi"

'Hima? Dimana mamamu?'

"Paman Shino hiks. Mama, tolonng mama" ucap Himawari terbata dan siap menumpahkan airmatanya.

'Aku akan segera kesana.'

Himawari membuka pintu pelan, Paman Shino berdiri di depan pintu dengan terengah. "Mamamu kenapa? Kalau gawat panggil ambulans"

"Mama sudah 10 hari bermain game. Matanya seperti mata panda dan warnanya merah, mama pasti belum tidur, kalau Hima panggil mama, mama ga pernah jawab"

"Tunggu di sini" ucap Shino melangkah masuk ke kamar Hinata. 'Keadaannya memang parah' batin Shino melihat keadaan Hinata. "Hanabi! Kau sedang apa?" tanya Shino mengguncang tubuh Hinata.

"Minggir, aku sedang berfikir" ucap Hinata mendorong tubuh Shino dari pandangannya.

Layar PC menampilkan game catur. Selisih menang dan kalah hampir seimbang. "Berhentilah, kau harus istrirahat. Kau bisa mati kalau begini terus"

"Aku tidak akan mati. Jangan campuri urusanku" usir Hinata.

Shino menutup kembali pintu kamar Hinata, Himawari segera mendekat dan bertanya "mama?"

"Biarkan saja dulu, dia hanya sedang berfikir"

"Ini pasti gara-gara Hima. Mama pasti sedih tidak bisa ketemu papa lagi" bisik Himawari tersedu.

"Ah tidak, dia bilang karena pekerjaannya" ucap Shino menenangkan. "Bagaimana kalau kita beli es krim?" tanya Shino mengendong tubuh Himawari dan membawanya keluar.

"Makan siang Hima" ucap Hinata berjalan keluar kamar dan memasak. "Hima, ayo makan siang dulu" panggil Hinata. Tak ada jawaban, kaki Hinata mencari Himawari kedalam kamar. Kosong. Tadi putrinya masih ada di rumah, atau mungkin sedang bermain di luar. Dia biasanya akan bilang.

"Himawari!" panggil Hinata berlari menyusuri lorong apartemen. Bagaimana kalau Himawari di culik? Bodoh! Hinata telah menelantarkan putrinya sendiri, petugas sosial akan mengambil Himawari darinya dan memisahkan Hinata dari Himawari.

Terus berteriak tanpa henti memanggil nama Himawari. Tidak ada dimanapun, Hinata harus memanggil polisi. Hinata berbalik kembali ke apartemennnya.

"Nah paman pergi dulunya, kalau mamamu masih seperti itu besok. Panggil saja paman ya" ucap Shino mengulurkan tangannya menyentuh surai Himawari dari balik kemudi.

"Baik."

Setelah makan es krim, perasaan Himawari jauh lebih baik sekarang. Paman Shino bilang Himawari harus bisa membuat mama berhenti main game dengan terus mengganggunya. Yosh! Akan Himawari lakukan apapun agar mamanya seperti sedia kala.

Cklek! Cklek! Terkunci. Apartemennya terkunci. "Mama! Mama di dalam?" panggil Himawari panik. Mungkinkah mama keluar sebentar.

"Oh hei, kau tinggal di sana?" tanya seorang pengantar pizza.

"Huum, apa kau melihat mamaku keluar?"

"Sebaliknya, aku melihatnya masuk dengan panik."

"Berarti mamaku di dalam?" ucap Himawari segera menggedor pintu kembali dan berteriak memanggil mamanya.

"Akan kupanggil petugas keamanan" ucap Pengantar pizza itu berlari menuju lift.

Naruto world : ON

Aku menguap pelan. Padahal baru selesai olahraga dari gym sebelah. Bau badanku benar-benaar tidak sedap. Beberapa helai poni menutupi pandanganku. Aku harus potong rambut sepertinya, menjadi pribadi yang lebih baik dan menanggalkan sikap pengecutku.

Aku menekan tombol lift sembari bersiul pelan. Aku sebaiknya memasak daging hari ini. Sarda pasti akan lahap makan. Lift berhenti dilantai 3. Perlahan pintu menutup. Tunggu, aku kembali menekan tombol lift agar kembali terbuka.

Himawari sedang berlari menuju lift. Rambut panjangnya dan mata Shappire itu, pasti Himawari. Aku melangkah keluar lift, berdiri kikuk di depan lift. Aku tidak yakin Himawari akan memanggilku papa lagi.

"Papa" ucap bibir kecil itu berhenti tepat dihadapanku. Matanya berkaca-kaca.

"Hima, ada apa?" tanyaku sembari berjongkok dan memegang pundaknya.

Tidak pernah kusangka. Tubuh mungil itu mendekap erat tubuhku dan menangis. Mulutnya terbata menceritakan apa yang sedang terjadi. Mungkinkah ada masalah? Aku berusaha menenangkan putriku ini dengan mendekapnya erat. Petugas keamanan datang membawa kunci cadangan dan membuka pintu salah satu apartemen.

Benar saja, tubuh itu tergeletak di lantai dekat meja telpon. Aku melihat tubuh itu digendong masuk ke kamarnya. Aku ingin sekali membantu tapi Himawari memelukku erat. Aku tahu ketakutannya sekarang. "Mama baik-baik saja. Setelah diperiksa dokter dia akan sembuh" ucapku.

Seorang dokter datang memeriksa keadaan mama Hima, 10 menit kemudian dia keluar dan mengatakan padaku kalau dia hanya kelelahan. Setelah banyak istirahat, kondisinya akan kembali normal. "Kau dengar itu Hima? Mama akan segera sembuh" ucapku dengan sebuah senyuman

Himawari mengangguk menghapus air mata yang menggenangi sudut matanya. "Nah ayo lihat mamamu" ajakku untuk menenangkannya.

Astaga! Kenapa aku jadi gugup sendiri sih. Pengangan pintu terasa licin oleh keringat yang membasahi tanganku. Oke tenangkan dirimu Naruto, kau akan segera melihat wajah tanpa polesan, tanpa kacamata, dan tanpa apapun. Maksudku coret yang terakhir.

Aku siap-

"Kau bodoh! Kau selalu membuatku Khawatir!" teriak seorang Wanita langsung masuk dan mendahuluiku masuk kedalam kamar mama Hima.

Blam! Pintu itu tertutup tepat dihadapanku, aku melirik Himawari yang juga kaget. "Itu bibiku" ucapnya pelan. "Dia memang sedikit heboh"

Suara tangisan bibi Himawari terdengar sampai keluar kamar. Sebaiknya aku mengurungkan niatku kali ini. Siapa aku hingga menganggu keduanya. "Papa tidak masuk?" tanya Himawari melihatku hanya mematung di depan pintu.

"Ayah akan siapkan bubur untuk mama Hima." ucapku segera pergi kedapur dan menyiapkan beberapa bahan diatas meja.

Naruto world : OFF

Ino terus mengoceh dan memarahi Hinata yang baru siuman. "Apa kau tidak tahu betapa takutnya aku saat telponmu terputus tiba-tiba." ucap Ino menghapus airmatanya dengan tisu.

Hinata hanya terdiam menatap putrinya yang sedang duduk dihadapannya. Matanya menyorotkan rasa khawatir. "Apa kau mau berpisah dengan putrimu? Siapa yang akan menjaganya kalau kau tidak ada?"

"Maaf Ino. Aku begitu takut untuk tidur, aku takut jika aku tidur aku akan bermimpi hal yang sama"

"Mimpi itu kembali?" tanya Ino berhenti menangis dan menatap Hinata.

"Iya. Aku juga sangat khawatir karena Hima membenci papanya" bisik Hinata tangannya menutupi wajahnya yang begitu rapuh. Ino memeluknya erat disusul dengan Himawari yang ikut menangis.

"Maafkan Hima mama! Hima tidak benci papa." ucap Himawari. "Hanya saja, Hima kesal karena papa lebih sayang Sarada-nee. Papa janji mengajak Hima ke kebun binatang tapi papa malah pergi dengan Sarada-nee"

"Mama juga, sayang. Mama tidak bisa mendapatkan papa kembali"

"Hima hanya ingin mama! Tidak apa-apa jika papa hanya bisa dengan Sarada-nee"

Naruto mengurungkan niatnya mengetuk pintu kamar ini. Percakapan ini menyakitkan. Dia bahkan tidak tahu Himawari ada, tapi Himawari tahu tentangnya meski dia tak ada di sampingnya. Dia bahkan tahu dirinya punya seorang kakak.

"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan kembali pada kalian" janji Naruto sebelum meninggalkan apartemen ini.

Sarada menyambut kepulangan Naruto dengan senyum di wajahnya. "Ayah! Ayah, aku dapat hadiah besar sekali dari papa" teriak Sarada menarik tangan Naruto masuk.

"Kau sudah makan siang Sarada?" tanya Naruto.

"Huum, papa mengajakku makan siang dengan Nenek. Nenek senang sekali memelukku"

"Oh ya? Bagaimana dengan kakek?"

"Kakek tidak banyak bicara tapi dia mulai bisa tersenyum padaku. Apalagi saat melihat laporan nilai dari sekolahku. Kakek bilang aku harus segera pindah sekolah"

Naruto tersenyum simpul, Seperti itulah Uchiha yang aku kenal. Sakura mendengarkan dari meja makan. Dengan kasar ditaruhnya sendok di atas piring, kemudian menghampiri kami. "Ayahmu hanya Naruto. Sarada! Dia bukan siapa-siapamu" teriak Sakura merebut bungkusan kado yang sedang di buka Sarada dan membuangnya kedalam tempat sampah.

"Sakura apa yang kau lakukan?" tanya Naruto memegang tangan Sakura yang bersiap menyentuh Sarada.

Tubuh Sarada ketakutan, bergerak menjauhi sang mama yang menatapnya dengan sorot kebencian. "Hentikan Sakura!"

"Lepaskan, kau ayahnya Sarada. Anak ini, anak ini juga putramu. Kau suamiku yang sah." ucap Sakura memegang perutnya.

"Apa yang kau katakan Sakura. Dia putra Sasuke begitu pula Sarada"

"Dia menyuruhku membunuhnya. Dia tidak percaya bayi ini anaknya sendiri. Lalu siapa ayahnya? Siapa yang akan mengakuinya"

"Hentikan racauanmu ini, sebaiknya kau istirahat dulu" bujuk Naruto mendorong tubuh Sakura ke kamar dan menguncinya dari luar.

"Ayah, sebenarnya aku ini anak siapa?" tanya Sarada dengan mata kosong.

"Sarada, " Naruto berfikir keras untuk mencari jawaban yang tepat.

"Aku sudah tahu itu! Anak-anak lain punya satu ayah! Tapi Sarada punya 2 ayah. Lalu siapa ayah Sarada yang sebenarnya?"

"Sarada, jika kau lebih besar, ayah akan jelaskan semuanya,"

"Aku sudah besar ayah! Aku hanya ingin tahu siapa ayahku yang sesungguhnya"

"Dia papamu, Sasuke Uchiha. Kau ingat saat ayah meminta janjimu? Bahwa ayah dan papamu hanya Sasuke?"

Sekarang pikiran Sarada penuh dengan pertanyaan lain. Kenapa papanya tidak menikah dengan mama? Kenapa harus ayah yang menikah dengan mama?.

.

.

.

tbc.. malesnya, kira-kira kapan mereka bersatu? LOL maaf.. shanaz malah menonjolkan konflik sebagai individu. yah emang itu yang shanaz fikirkan.

.

.

dan lagi shanaz dikatain LONTE, PEREK, SAMA JABLAY.

OKE SHANAZ PENASARAN DAN CARI SEMUA ARTINYA,

JABLAY : SHANAZ EMANG TERMASUK GOLONGAN JABLAY. SHANAZ KAN JONES OTOMATIS JARANG BAHKAN GA PERNAH DIBELAI COWO. KALAU STATUS JABLAY HARUS PUNYA COWO, SHANAZ GA TERMASUK DI DALAMNYA.

LONTE : NAMA LAIN CEWE YANG SUKA KELUYURAN MALAM. FAKTANYA SHANAZ CUMAN TINGGAL DIKAMAR LEBIH DARI 10 JAM PERHARI. OKE SHANAZ EMANG KELUYURAN MALAM TAPI BUAT JAGA EVENT ATAU ADA TUGAS! SHANAZ PAKE SERAGAM BUKAN ROK MINI, SHANAZ SITA MIRAS BUKAN YANG MINUM! SHANAZ BUKAN IMUT TAPI SERIUS DAN BERHATI DINGIN!

PEREK : MELAKUKAN SEX KARENA KESENANGAN. CINTA PERLU BUAT SEX. SHANAZ ASTAGA! INI TERLALU RENDAH DARI SEORANG PELACUR.

.

.

INILAH SHANAZAWA YANG SEBANARNYA. SHANAZ LEBIH SUKA KALIAN KRITIK TULISAN SHANAZ DARIPADA KEHIDUPAN SHANAZ! karena kehidupan shanaz terlalu menyakitkan untuk disandingkan dengan lonte, perek, dan jablay. maaf jika tidak berkenan. if u dont like my fic, dont judge my life. just dont read! simplekan?