Yaoi area

Chanbaek

Chanyeol - Baekhyun

Sky of Love by : pcy-bee

Sorry for typo

Mpreg

.

.

.

.

"Maaf..." si marga Park menatap menyesal pada yang lebih tua setelah tautan bibir basah mereka terlepas. Jari jempolnya terulur untuk menyentuh lembut bibir yang terlihat memerah nan bengkak milik Baekhyun.

"Chan-"

"Maafkan aku ! maaf...maaf karena telah menyakiti putramu, maaf karena lancang menciummu, dan maaf karena telah menyukaimu, Baek." Chanyeol menyela.

"Chan-"

"Tidak! tidak ! jangan katakan apapun. Hanya bencilah aku sebanyak yang kau mau, tapi jangan larang aku untuk menyukaimu. Aku-aku..."

"Chanyeol ! dengarkan aku dulu!" Baekhyun membentak, tak ingin lagi kehilangan kesempatan bicara. "...aku tidak membencimu, oke. Soal Taehyung, hanya jangan lakukan lagi...jangan sakiti putraku lagi..." kata Baekhyun dengan sorot mata sendu yang mengarah pada mata gelap lawan bicaranya.

"...tentang ciuman kita anggap saja tak pernah terjadi, aku juga minta maaf karena itu tak sepenuhnya salahmu dan kumohon jangan menyukaiku jika suatu saat nanti kau akan menyesalinya." final Baekhyun.

Pernyataan yang lebih tua kontan saja membuat ekspresi sedih yang lebih muda semakin ketara. Chanyeol tak mengerti, memang apa salahnya menyukai Baekhyun? kenapa harus menyesal?

Sebenarnya, bukan seperti ini yang Baekhyun mau. Jika boleh jujur hatinya tak mengelak bahwa dia juga mulai menyukai kehadiran si marga Park. Tapi dia takut, takut mengambil resiko untuk kembali merasakan sakit. Traumanya membuat Baekyun berfikir seribu kali, tak ingin saja membuat yang lebih muda semakin berharap. Chanyeol berhak mendapatkan yang jauh lebih baik daripada dirinya.

"Baek-" Chanyeol sudah akan menyerukan protes namun...

"Pulanglah!"

...Baekhyun memotongnya.

Satu kalimat mutlak dan ampuh membuat Chanyeol pulang dengan hati tercabik. Pemuda delapan belas tahun itu memang pernah merasakan sakit, tapi belum pernah sesakit ini. Terlalu larut dalam kesedihan hingga tak menyadari jika Baekhyun tengah menatapnya penuh arti.

.

.

.

.

Sudah beberapa hari ini Chanyeol lewati tanpa melihat adik kelasnya yang selalu membuat kesal itu. Siapa lagi kalau bukan Park Taehyung, bocah titisan iblis itu benar-benar marah dan seolah menjauh darinya. Mana mungkin tidak, setelah apa yang telah mulut sialannya lakukan tiga hari yang lalu.

Sepi tentu saja, entah mengapa Chanyeol merasa begitu kosong. Jika kalian berfikir Chanyeol merindukannya, maka jawabannya BIG NO. Tidak! Chanyeol tidak rindu, hanya saja dia sudah terlalu terbiasa dengan adanya bocah bebal itu. Rasanya seperti ada yang aneh dan kurang saja, ya hanya seperti itu.

Meskipun tiga hari lalu dia sudah minta maaf pada Baekhyun, tapi belum jika dengan Taehyung. Dan rasa menyesal itu masih dia bawa hingga hari ini.

"Chanyeol-ah, apa kau sedang bertangkar dengan kekasihmu?" Kai bertanya pada sang sahabat yang duduk tepat di seberangnya. Saat ini mereka sedang istirahat makan siang di kantin.

Chanyeol mengernyitkan dahi bingung, seingatnya dia tidak sedang memiliki kekasih. "Kekasih?"

Kai mengangguk mengiyakan. "Hm, adik kelas yang selalu menempel padamu."

"Maksudmu Park Taehyung? sudah kubilang kami tidak berkencan Kim Kai, jadi jangan menyebutnya sebagai kekasihku."

"Lalu jika bukan, mungkinkah kau memiliki kekasih yang lain?" Kai menjeda untuk memberi waktu sahabatnya itu menjawab, namun sepersekian detik berlalu tak ada satu katapun yang ia dengar dan justru tatapan bingung yang dia dapatkan.

"Maksudku, beberapa waktu yang lalu aku dan Kyungsoo melihatmu masuk ke dalam gedung bioskop dengan seseorang pria yang Kyungsoo bilang adalah pemilik Kafe tempatnya bekerja." kata Kai lagi.

"Seorang Pria? Pemilik kafe?" tanya Chanyeol penasaran.

"Iya, Kau ingat hari dimana adik kelas itu...maksudku Park Taehyung melemparkan tiket bioskop di depan mejamu?" Kai bertanya dan Chanyeol mengangguk, tentu saja Chanyeol ingat, itukan hari dimana dia bisa menonton film bersama Baekhyun.

"Malamnya aku dan Kyungsoo mengikutimu datang ke Bioskop dan aku tak melihatmu bersama anak itu, tapi kau malah terlihat sedang bersama pria lain dan kebetulan sekali Kyungsoo mengenalinya karena orang itu adalah pemilik kafe tempat kekasihku bekerja."

Apa-apaan ini, jadi sahabat hitamnya ini diam-diam menguntit. Sungguh tak dapat dipercaya, sebegitukah penasarannya Kim Kai?. Tapi tunggu dulu, siapa yang Kai maksud dengan pria pemilik kafe?. Malam itu dia memang sedang bersama seorang pria dan itu adalah Baekhyun ibu Taehyung, tapi untuk pemilik kafe...

"Ah, mungkin maksudmu adalah Ibu Taehyung."

"Ibu Taehyung?"

Chanyeol mengangguk. "Kau salah besar jika berfikir bocah itu melemparkan tiket untuk mengajakku berkencan di bioskop."

"Jadi maksudmu, bocah itu menyuruhmu berkencan dengan ibunya?"

Kali ini Chanyeol yang bingung, apa malam itu bisa disebut dengan kencan? "Yah, bisa di bilang begitu. Tapi apa yang kau maksud dengan pemilik Kafe tempat Kyungsoo bekerja?"

"Kyungsoo hanya mengatakan jika orang yang kami lihat bersamamu waktu itu adalah bosnya sekaligus pemilik Kafe tempatnya bekerja. Kalau tak salah Kyungsoo menyebutkan nama Baek-Baek..."

"Baekhyun?" Chanyeol langsung menyahut.

" Ya... kau benar ! namanya Baekhyun hyung."

"Jadi Baekhyun pemilik Kafe tempat kekasihmu bekerja? kenapa aku baru tahu padahal kita sering berkunjung ke sana."

Chanyeol dan Kai memang sering mampir ke tempat Kyungsoo bekerja. Tapi selama ini Chanyeol tak menyangka jika kafe yang sering dia gunakan untuk nongkrong itu adalah kafe milik Baekhyun.

"Mana ku tahu..." Kai mengedikkan bahunya. "Oh, Kyungsoo juga bercerita bahwa Bosnya itu seorang duda beranak satu yang sudah berusia remaja. Aku baru tahu ternyata kau suka dengan yang jauh lebih tua."

"Bukan seperti itu, kami hanya saling kenal juga karena anaknya yang telah mengenalkan kami."

Apa menginap, tidur seranjang dan saling berpelukan bisa di katakan HANYA saling mengenal? serta jangan lupakan tentang nonton film dan makan malam bersama. Mana ada juga orang yang HANYA saling mengenal saling berciuman, Park?

"Anaknya? jadi kau juga sudah mengenal anaknya."

"Aish, kita sudah berbicara panjang lebar dan kau masih belum paham juga dengan arah pembicaraan kita?" Chanyeol tak habis pikir dengan otak bodoh sahabatnya ini. "Tentu saja aku mengenalnya, Kai. Anak Baekhyun adalah adik kelas kita yang sialnya sangat bebal, apa sekarang kau mengerti?"

"Ah, jadi maksudmu anak dari Baekhyun hyung adalah Park Taehyung?"

Akhirnya Chanyeol bisa mengangguk lega, "Kenapa baru sekarang otak bodohmu itu bekerja."

"Apa kalian sedang membicarakanku?" Sebuah suara menginterupsi dua sahabat yang tengah sibuk berceloteh kesana kemari.

Itu Park Taehyung, Bocah yang tiga hari terakhir ini dinanti-nanti kehadirannya kini berdiri tepat di depan Chanyeol dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sangat-sangat terlihat begitu menyebalkan di mata Chanyeol. Dan lagi jangan lupakan sosok remaja pendek yang berdiri di sebelahnya semakin melipat gandakan keadaan. Membuat hawa peperangan langsung tercium di sekitar keberadaan empat remaja tampan itu.

"Kau tak malu menguping pembicaraan orang dewasa?" Oh, kenapa Chanyeol selalu saja terpancing emosi jika sudah di hadapkan dengan yang namanya Park Taehyung, bukankah harusnya Chanyeol minta maaf atas insiden malam itu.

Taehyung dan Jimin tak segera menjawab, mereka malah melangkahkan kaki untuk duduk di kursi kosong tepat di sisi seniornya. Taehyung di sebelah Chanyeol dan Jimin di sebelah Kai.

"Dan apa kau tak malu membicarakan orang lain di belakangnya? Bahkan membawa-bawa nama ibunya?" Taehyung kini menjawab namun dengan intonasi menyindir yang kental.

"Ka-kau benar-benar menguping?" itu Kai yang bertanya. Dalam hati dia malu juga membicarakan orang dan ketahuan, itu seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mencuri. Oke, itu berlebihan.

"Kami masih punya kuping jika kalian lupa." kali ini Jimin yang menyindir halus. Tangan pemuda pendek itu tak tinggal diam dan ia bawa untuk mengambil sekotak susu rasa pisang yang tergeletak di atas meja lalu meminumnya. Omong-omong itu susu pisang milik Kai yang belum sempat Kai nikmati tapi kini telah tandas tanpa pemiliknya ketahui.

"Cih, tak sopan sekali ! apa menguping adalah salah satu hobi kalian?" Balas Chanyeol, menatap pada dua orang adik kelasnya.

"Lebih tak sopan mana? menguping atau mengatai keluarga orang lain dengan sebutan sialan?" Yang lebih muda tak mau kalah.

"Jadi kau menyindirku tentang yang waktu itu?" Lagi, Chanyeol benar tak bisa menahan diri, Taehyung dan segala yang ada dalam dirinya selalu berhasil mengobrak abrik emosi Chanyeol.

Taehyung menatap mengejek pada yang lebih tua. "Jadi kau merasa tersingung? baguslah."

"Yakk...! bocah nakal, ingat dengan siapa kau sedang bicara! panggil kami sunbae!" Kai menyalak tak terima karena sedari tadi adik kelasnya itu berlaku tak sopan.

Jimin menatap tak suka pada Kai "Tsk, sunbae apanya jika memiliki mulut setajam pedang? Kau harus tahu jika sahabatmu yang sialnya sangat tampan itu telah melukai hati dan harga diri sepupuku yang malang."

"Itu pasti juga karena salah sepupumu sendiri, jadi berhenti menyalahkan sahabatku karena tak akan ada asap jika tak ada api." Kai membela.

"Oh, jadi kau membela sahabat brengsekmu?" Jimin mengejek.

Kai mendengus kesal "Kau juga melakukan hal yang sama pada sepupu sialanmu."

"Apa kalian tidak bisa diam?" sebuah suara yang tiba-tiba terdengar sontak menghentikan adu mulut empat orang lainnya.

"Su-suga." Kai tergagap mematung dan tak jauh beda dengan tiga orang lainnya.

"Tutup mulut sekarang juga jika tak ingin aku memindahkan sup panas ini pada wajah sialan kalian. Ingin merasakannya?" Suga menunjukan semangkuk sup yang masih mengepulkan asap di atas nampan yang ia bawa.

Empat orang lainnya menggeleng kompak dan menatap ngeri pada objek di depannya. Entah itu mangkuk sup yang panas atau orang yang tengah menatap mereka datar tanpa ekspresi. Semua orang tahu siapa Min Suga, salah satu teman sekelas Chanyeol dan Kai yang akan berubah menjadi monster jika sedang marah. Jadi lebih baik tak mencari masalah dengannya, kecuali Park Jimin tentu saja.

"Jadi, apa sekarang aku bisa pergi memakan makan siangku dengan tenang?" dingin dan masih tanpa ekspresi.

Ke empat lainnya mengangguk kompak lagi.

"Baguslah."

Suga berjalan menuju sebuah bangku yang juga telah diisi oleh teman-temannya yang memang sedari tadi sudah menunggu untuk makan bersama.

"Suga hyung memang keren!" Jimin bersorak heboh dan di hadiahi geplakan pada kepalanya oleh Kim Kai.

Sementara itu Chanyeol dan Taehyung malah terlihat sedang terlibat dalam perang dingin melalui mata mereka yang tengah beradu sengit.

.

.

.

.

Setelah insiden ciuman pengakuan Chanyeol malam itu, membuat seorang Byun Baekhyun tak fokus dengan apa yang iya kerjakan. Sering melamun dan mengabaikan berkas-berkas yang menunggu untuk di tanda tangani adalah pemandangan yang sering Sehun dapatkan akhir-akhir ini.

"Apa kau sedang sakit?" Suara Sehun tiba-tiba saja membuyarkan lamunan si Byun. Sehun melangkah dan mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Baekhyun.

Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak, aku baik-baik saja."

"Kau tidak terlihat seperti itu, Baek. Apa ini ada hubungannya dengan bocah bernama Park Chanyeol itu! Katakan iya dan aku akan mendatangi bocah itu untuk menghajar wajah sialannya! Apa anak brengsek itu benar melecehkanmu?"

"Melecehkanku?"

Sehun menganggukkan kepala mantap. "Iya melecehkamu, Taehyung menceritakan pada kami jika bocah itu telah menidurimu. Apa itu benar?"

"Kalian salah paham. Kami memang tidur bersama tapi Chanyeol sama sekali tidak melecehkanku."

"Tapi Taehyung mengatakan jika dia mendengar teriakanmu saat itu, bukankah itu seperti kau yang menolak dan berteriak saat dia berusaha memperkosamu?"

"Saat itu aku memang berteriak, tapi bukan karena dia yang mencoba memperkosaku. Itu karena kami terbangun dengan posisi yang sangat memalukan."

"Posisi memalukan?" Sehun mengernyitkan dahi dalam. Dalam kepalanya sudah berputar hal-hal yang tidak-tidak. Apa mereka bangun dalam keadaan telanjang?

" Hm, kami terbangun dengan saling berpelukan." Baekhyun berucap dengan pipi bersemu merah, malu melanda kala ingatan kejadian saat Chanyeol menginap di rumahnya dulu terbayang kembali di otaknya.

"Mungkin saja dia sedang mencoba mengambil kesempatan saat kau tertidur lelap?"

"Tidak, itu karena setiap malam aku selalu bermimpi buruk dan sialnya saat itu Chanyeol sedang menginap dan tidur satu ranjang denganku. Dia hanya berusaha menenangkanku dengan pelukannya saat mimpi buruk itu datang."

"Apa kau masih memimpikan Chanyeol hyung?" suara Sehun menurun seiring raut wajah Baekhyun yang terlihat sendu.

Baekhyun mengangguk. "Hm, aku selalu memimpikannya hampir setiap malam. Chanyeolku hanya datang kemudian pergi menjauh, dan hal itu selalu mengingatkanku tentang saat-saat dimana dia meninggalkan kami. Tapi beberapa hari terakhir ini mimpi itu tak datang sesering malam-malam sebelumnya."

Benar, setiap malam Baekhyun memang memiliki kebiasaan buruk saat tidur. Dia selalu saja bermimpi tentang suaminya dan selalu terbangun dengan nafas terengah, keringat dingin dan airmata yang membasahi pipinya. Dan itulah alasan kenapa malam itu dia sempat menolak tidur satu kamar dengan Chanyeol muda.

"Mungkin itu karena kau juga tak memikirkan Chanyeol hyung sesering sebelumnya." perkataan Sehun telak memukul tepat di hati Baekhyun.

Bayangan pemuda tinggi yang tiga hari lalu menciumnya tiba-tiba melintas di kepala lelaki cantik itu tanpa permisi. Apa kehadiran pemuda itu yang telah mengalihkan pikirannya tentang sang suami?

"Apa akan baik-baik saja jika ku katakan bahwa aku ingin membuka hati? Maksudku, beberapa hari lalu Taehyung mengatakan jika ia menginginkan daddy baru, apa menurutmu Chanyeolku tak akan marah?" Baekhyun bertanya ragu-ragu.

Sehun menggelengkan kepala ringan mendengar curahan hati kakak iparnya, lelaki tampan yang memiliki usia sama dengan Baekhyun itu malah tersenyum lembut. "Chanyeol hyung tak akan marah, Baek. Apalagi jika menyangkut kebahagiaan keluargannya. Percayalah, dia akan ikut berbahagia untuk kalian."

Baekhyun menghela nafas pelan. "Apa aku boleh beranggapan seperti itu?"

"Tentu saja boleh?" Sehun tersenyum lembut lagi dan menatap iparnya penuh binar, senang juga mendengar Baekhyun ingin membuka hati. Setidaknya Baekhyun tidak akan selalu terjebak dan tenggelam dalam traumanya. Hyungnya telah lama pergi dan Baekhyun hanya manusia biasa yang sama-sama memiliki hak untuk bahagia seperti yang lain. "Jadi apa sekarang kau sedang mencoba membuka hati untuk seseorang?"

"Aku tak yakin dengan itu, entahlah kupikir dia bukan orang yang tepat. Ini gila, Sehun-ah! dan semakin gila saat jantungku berdebar kencang untuknya." Lagi, yang ada dalam otak Baekhyun saat ini adalah wajah tampan pemuda Park.

Sehun melipat dahi bingung. "Apa maksudmu dengan bukan orang yang tepat? apa dia seorang buronan? kriminal? pembunuh? atau koruptor?"

"Bukan! bukan!" Si cantik melambaikan dua tangannya cepat-cepat menyangkal. "Ini lebih gila lagi dari apa yang coba kau tebak."

"Tunggu ! jangan katakan bahwa kau sedang membicarakan tentang bocah sialan itu." yang Sehun maksud tak lain dan tak bukan adalah Park sialan Chanyeol.

Dan anggukan Baekhyun berhasil membuat Sehun diam mematung. Padahal Sehun tadi hanya asal-asalan menebak dan apa ini? tebakannya benar? haruskan dia meminta hadiah karena berhasil menebak dengan benar?

Si mungil menggigit bibir bawah gugup. Ini memalukan untuknya, bukankah secara tidak langsung dia mengakui jika dia menyukai Chanyeol. "Aku akan menyetujui jika seandainya kau mengatakan bahwa aku sudah tidak waras, Sehun-ah."

Dan Sehun benar-benar melakukannya. "Kau tak waras BYUN BAEKHYUN ! demi tuhan, dia hanya bocah ingusan yang lebih pantas menjadi kakak Taehyung dari pada menjadi Daddynya."

Mendengar protesan Sehun tentu saja membuat Baekhyun tertunduk lesu. Dia tahu diri, oke. "Aku tahu dan itulah sebabnya aku mengatakan ini gila."

Tentu saja Baekhyun tahu. Jika saja dia bisa memilih, dia juga tak ingin merasakan perasaan lebih untuk pemuda yang bahkan memiliki usia setengah dari usianya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi jika hatinya tak bisa menyangkal bahwa ia telah menyukai pemuda Park itu. Ditambah lagi pengakuan yang Chanyeol buat malam itu membuat Baekhyun semakin berdebar menggila.

"Sungguh, aku menyerah." Sehun mengangkat kedua tangannya. "Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. No Comment, Byun."

Dretttt Dretttt

Suara getaran ponsel yang menandakan ada sebuah panggilan masuk membuat sang pemilik segera meraihnya.

" Halo, Baekhyun?" suara Luhan di seberang sana adalah yang pertama kali menyapa Baekhyun.

"Oh, ada apa hyung menelepon?"

"Kita harus bicara, Baek! ini sesuatu yang sangat penting dan berhubungan dengan masa depanmu. Jadi segera angkat bokong bohaymu dan temui aku di cafe sekarang juga. Ingat aku tak menerima penolakan."

Tut tut tuttt

Sambungan telepon itu berakhir begitu saja dengan menyisakan wajah cengo Baekhyun.

"Siapa?" tanya Sehun.

"Ah...itu tadi Luhan hyung, dia ingin aku menemuinya untuk membicarakan sesuatu mengenai masa depanku. Apa kau tahu sesuatu soal ini?"

"Mungkin dia ingin membicarakan hubunganmu dengan si brengsek Chanyeol, aku yakin dia masih salah paham tentang kalian yang tidur bersama."

"Kenapa jadi begini? Luhan hyung pasti sangat marah." Baekhyun merengut.

Sehun mengangguk mengiyakan. "Sangat, Baek. Dia bahkan memintaku untuk mencarikan alamat bocah itu segera."

"Untuk apa?"

"Entahlah? meminta pertanggung jawaban mungkin. Jadi sebelum dia mengamuk, kau harus segera menjelaskan kesalahpahaman ini."

"Kau benar ! aku titip kantor padamu. Dan doakan aku agar selamat dari amukan rusa betina."

"Hm, kau bisa mengandalkanku. Selamat berjuang, Byun !"

.

.

.

.

Baekhyun tak bisa menemukan jawaban atas rasa penasarannya tentang yang ingin Luhan katakan di telepon tadi. Jadi sekarang ini Baekhyun berakhir duduk manis di kafe milik sendiri dengan Luhan yang juga telah duduk di seberangnya saling berhadap-hadapan.

"Apa hyung ingin minum sesuatu?" Seorang pegawainya bertanya.

Baekhyun mengangguk dan mulai memesan. "Bawakan kopi untukku dan Babble tea untuk Luhan hyung, Kyungsoo!"

"Okey hyung." Kyungsoo akan berbalik namun sebuah suara menahannya.

"Tunggu Kyungsoo! Bawakan Baekhyun susu strawberry saja, kopi tidak baik untuk kandungannya." Ucapan Luhan sontak membuat dua orang lainnya menatap bingung. Walau begitu, Kyungsoo tetap berjalan ke arah dapur untuk membuatkan pesanan mereka.

Yang lebih muda menatap penasaran pada yang lebih tua, pikirnya dia salah dengar dengan apa yang dikatakan Luhan tadi. "Hyung, apa yang kau katakan? kandungan apanya? aku kan tidak sedang hamil."

"Mungkin belum atau lebih tepatnya sebentar lagi. Kau kan tidak tahu kapan sperma bocah itu berkembang dalam rahimmu." Dan jawaban Luhan membuat Baekhyun yakin bahwa tadi dia memang tak salah dengar.

"Yakk... sebenarnya apa yang sedang hyung coba katakan? Kenapa ngawur sekali, sih? Sperma apanya? Bocah siapa?"

"Tentu saja sperma bocah brengsek itu."

"Aish, aku tidak sedang dalam hubungan dengan siapapun jadi aku benar-benar tak tahu dengan apa yang hyung maksud dengan bocah brengsek itu. "

"Park Brengsek Chanyeol."

"Huh?" Baekhyun seketika cengo, bingung harus merespon apa. Begitu juga dengan Kyungsoo yang telah kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman pesanan bosnya.

Kyungsoo dengan tangan gemetar meletakkan gelas-gelas itu di atas meja dan setelahnya berdiri mematung di tempat. Apa yang sedang Luhan bicarakan adalah Park Chanyeol yang ia kenal atau mungkin Park Chanyeol yang lain? tapi kemungkinan besar opsi pertama adalah jawaban yang benar mengingat apa yang di lihatnya di gedung bioskop beberapa waktu lalu. Begitulah pikir Kyungsoo.

"Jangan katakan jika bocah itu telah mengancammu untuk tidak menyebarkan berita tentang dia yang telah menidurimu." Luhan memicing curiga menatap sosok yang duduk terpaku di hadapannya.

Setelah lama berpikir, akhirnya Baekhyun sadar kearah mana pembicaraan mereka, di kantor tadi Sehun juga membicarkana hal yang sama, pasti yang Luhan maksud saat ini adalah kesalahpahaman Chanyeol yang telah menidurinya.

"Hyung, kau salah pah..."

Cling

Belum sempat Baekhyun menjelaskan, suara lonceng di pintu masuk berbunyi menandakan seseorang baru masuk ke dalam cafe dan sebuah suara membuat tiga orang lainnya menoleh pada dua pemuda tinggi yang baru saja masuk itu.

"Kyungsoo, aku datang bersama Chanyeol...!" Teriakan Kai mengema.

"Chanyeol?!" tiga orang berseru bersamaan dengan intonasi yang berbeda-beda.

" Ah, kau datang di waktu yang tak tepat Chanyeol-ah." Kyungsoo membatin dan menatap iba pada sahabat kekasihnya itu.

"Kenapa dia ada disini?" itu batin Baekhyun. Lelaki cantik itu tiba-tiba saja memilik firasat buruk.

"Mati kau Park Chanyeol." Luhan mengeram marah meski di dalam hati.

Kyungsoo yang sangat sadar situasi langsung berjalan mendekati dua orang yang akan mengambil duduk di salah satu bangku kafe, ia bermaksud untuk menyuruh dua pemuda itu untuk datang lain waktu saja.

Namun sebelum niat baiknya menyelamatkan nyawa seseorang terlaksana. Sebuah teriakan penuh amarah menghentikan aksinya.

"Park Chanyeol ! kau masih berani menampakan wajah brengsekmu, huh !" Luhan entah sejak kapan mencengkeram kerah depan seragam Chanyeol.

"Hyung hentikan!" Baekhyun berusaha melepaskan cengeraman Luhan dari Chanyeol.

Sementara Chanyeol menatap bingung pada si pelaku, mengapa tiba-tiba dia menjadi sasaran amarah yang bahkan ia tak tahu duduk permasalahannya. "Maaf paman, apa salahku?"

"Salahmu?! Kau tanya apa salahmu?!" Luhan semakin mengeratkan cengkraman tangannya membuat si korban mulai sesak nafas.

Ini tidak bisa di biarkan begitu saja dan lagi seluruh penghuni kafe sedang menatap dan memperhatikan pada objek keributan yang tengah mereka buat. Jadi Baekhyun memilih untuk menghentikan pertunjukan sebelum keadaan menjadi semakin buruk.

"HYUNG, HENTIKAN ! KAU MEMBUATKU MALU?!" teriakan Baekhyun melemahkan pertahan Luhan dan hal itu tak disia-siakan oleh Baekhyun untuk menyeret Chanyeol keluar kafe. Tak peduli pada Luhan yang tengah sibuk meneriakinya untuk tidak pergi. Hanya ada satu hal yang ada di dalam otak Baekhyun saat ini, menyelamatkan Chanyeol dari amukan rusa betina.

" YAAKK! Mau lari kemana?! aku belum selesai !" Luhan tak berhenti berteriak pada dua sosok yang kini telah mulai menjauh.

"Yakkk! kembali kalian! Lepaskan aku, Bodoh! aku akan membunuh bocah brengsek itu." Luhan berteriak histeris, ingin mengejar tapi tak bisa karena masing-masing lengannya di tahan oleh Kai dan Kyungsoo.

"Sial." umpat Luhan kala dia sadar mangsanya kini telah berhasil kabur.

.

.

.

.

Udara dingin seolah begitu setia menemani malam tanpa pernah mengenal lelah. Namun dua orang yang sedari tadi hanya duduk diam penuh kecanggungan di dalam mobil itu seolah tak peduli dengan keadaan luar. Pikiran mereka sama-sama kosong dan entahlah hanya mereka yang tahu apa yang tengah melanda hati masing-masing.

Setelah aksi heroik Baekhyun yang menyeret Chanyeol dari amukan Luhan tadi, yang lebih tua membawa yang lebih muda masuk ke dalam mobil dan berakhir menepikan mobil itu di pinggiran sungai Han.

"Maafkan Luhan hyung, Chan... dia hanya salah paham." Baekhyun akhirnya adalah yang pertama bersuara membelah keheningan.

"Kenapa dia melakukan itu? salah paham apa yang paman maksud?" Chanyeol menatap sosok kecil yang duduk di kursi kemudi tepat di sampingnya.

Baekhyun masih memakai pakaian kantor dan Chanyeol juga tak jauh berbeda dengan masih mengenakan seragam sekolah saat ini.

"Itu..." Baekhyun bingung harus menjelaskan atau tidak. Si cantik menggigit bibir dalamnya untuk mengatasi rasa gugup yang melanda.

"Itu?" Chanyeol mengulang, tak sabar untuk segera mendapatkan jawaban.

"Itu...tentang, tentang kita yang pernah tidur bersama. Luhan hyung telah mengetahuinya dan dia salah paham dengan itu." Baekhyun menundukkan kepala malu, apa dia baru saja mengatakan tidur bersama?

Chanyeol tahu pasti Taehyung adalah otak di balik situasi ini. Tapi dia sendiri tak tahu apa yang harus di perbuat untuk menyelesaikan masalah ini karena otak Chanyeol tiba-tiba saja membeku saat menangkap sosok kecil yang terlihat menunduk dan tengah tersipu malu di sebelahnya.

'Memangnya berapa umur Baekhyun? kenapa masih saja terlihat semalu itu hanya karena mengatakan tentang tidur bersama?' begitulah suara hati si pemuda Park. Dan Baekhyun dengan wajah merona malu adalah hal yang sangat mengemaskan di mata Park Chanyeol.

"Paman..." Chanyeol memanggil yang lebih tua, suara beratnya terdengar begitu seksi saat menyapa gendang telinga Baekhyun. Entah karena alasan apa Baekhyun malah merasa bulu kuduknya meremang.

"Baekhyun..." Suara berat itu memanggil lagi, mau tak mau membuat debaran tak karuan pada jantung Baekhyun.

Chanyeol memanggilnya, memanggil hanya dengan nama saja dan ini bukan untuk pertama kalinya terjadi, tapi kenapa malam ini terasa begitu indah saat nama itu mengalun dari bibir yang lebih muda.

Baekhyun mengangkat wajah perlahan dan berniat untuk menatap orang yang sedari tadi memanggilnya. Namun ia menyesal melakukan hal itu saat manik beningnya malah menangkap mata sayu penuh hasrat milik Chanyeol, jangan lupakan wajah tampan Chanyeol yang entah sejak kapan begitu dekat dengan wajahnya.

Sangat dekat sampai-sampai yang lebih tua bisa merasakan nafas pemuda tampan itu berhembus di seputar wajahnya. Hangat atau mungkin lebih tepat jika disebut dengan panas.

"Aku ingin menciumu, Baek."

Itu adalah kata terakhir yang keluar dari bibir Chanyeol karena setelah itu tanpa aba-aba Chanyeol telah membawa bibir tebalnya untuk menempel pada bibir tipis Baekhyun.

Si cantik terkejut dengan aksi tiba-tiba pemuda Park. Namun saat melihat mata Chanyeol yang terpejam dan setelah merasakan gerakan lembut yang menari di atas bibirnya, Baekhyun mau tak mau juga ikut menutup mata dan menikmati setiap lumatan dan hisapan yang Chanyeol berikan pada bibir tipisnya.

Chanyeol yang sedari awal hanya berniat untuk menyalurkan perasaannya saja, kini entah mengapa malah menjadi gila setelah merasakan pergerakan bibir Baekhyun yang mulai membalas ciumannya. Persetan dengan larangan Baekhyun yang mengatakan untuk tidak menyukai ibu satu anak itu!

Pemuda Park semakin menekan tengkuk yang lebih tua agar bibir mereka makin menempel dan lengan Baekhyun entah sejak kapan telah mengalung indah pada leher Chanyeol. Saling menghisap dan melumat, karena sang dominan tak merasa cukup maka ia menggigit kecil bibir bawah sang submitif meminta akses lebih. Baekhyun mengerti dan tanpa basa-basi, ia membuka mulut agar lidah panas Chanyeol bisa masuk guna menobrak-abrik yang di dalam sana.

Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi yang kali ini entah mengapa begitu terasa sangat panas dan di selubungi ribuan gairah yang dirasakan oleh kedua insan berbeda umur itu.

"Eungh~" Suara desahan Baekhyun menambah suasana panas di dalam mobil dan membuat Chanyeol semakin membelit lidah Baekhyun di dalam sana mengajak berperang.

"Ahhh..." Desahan Baekhyun terdengar lagi, namun kali ini tangan mungilnya ia bawa untuk memukul pelan dada Chanyeol memberi isyarat bahwa ia butuh untuk segera bernafas.

Chanyeol menyadari hal itu, lalu dengan sangat tak rela berakhir melepaskan penyatuan bibir mereka, meninggalkan benang saliva yang menjadi bukti seberapa panas dan dalam ciuman keduanya tadi.

Dua manusia di dalam mobil itu saling bertatapan dengan nafas yang sama-sama berantakan pasca berpangutan. Mata mereka saling mencoba menyelami manik masing-masing. Yang lebih muda mengulurkan tangannya ke arah bibir tipis yang kini terlihat membengkak dan mengkilat merah, menghapus jejak liur yang entah milik siapa menggunakan ujung jari jempol.

"Baekhyun_" Panggil Chanyeol lagi, kali ini dengan tatapan yang begitu dalam seolah ingin membawa lebur siapa pun yang di tatap.

"...aku tidak mau tahu! kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku jatuh cinta padamu."

.

.

.

.

TBC

Tanggung jawab nggak ya ?!

Jangan paksa aku untuk cepet2 buat adegan naena ya... Aku tuh masih SMP... *SMP gigi lu adem

Tar ada waktunya kok ChanBaek buat itu... Jadi sabar aja :)

Bye teman-teman, jumpa lagi next chap...