Kurobas belong to Tadatoshi Fujimaki
SPOILED by Zokashime
Warn! : OOC, YAOI, misstypo, DLDR!
Chap 8: Tidak Sekedar Air Mata
.
.
.
Enjoy!
MAYUZUMI menongol dari dapur minimalis dengan segelas coklat hangat di tangan. Meletakkan di atas meja menghadap lurus kepada seseorang yang terlihat begitu kacau sejak kedatangannya 12 menit yang lalu. Ia orang yang notabene selalu memasang wajah datar dalam situasi apa pun, tetapi untuk kali ini kening mengkerut, kedua alis hampir bertemu.
Masih tidak lepas pandang terhadap mahluk di sebrang, ia berkata, "Minumlah, hangatkan tubuhmu."
Akashi diam tanpa kata, ia tidak melirik sedikit pun gelas berisi liquid coklat mengepulkan asap yang dihidangkan sang kekasih.
Mayuzumi pihak yang tidak mengetahui apa-apa mendengus pelan melihat kelakuan Akashi. Nah, kalau ini siang hari bolong, ia tidak akan banyak pertanyaan dalam kepala, mengapa pacarnya berkunjung tiba-tiba ditambah dengan penampilan yang sangat bukan mencerminkan seorang Akashi.
Rambut merah delima lepek acak-acak dilumas keringat. Mata yang biasa menyorot tajam bak singa kedapatan mangsa kini melunak lemah. Napas turun naik tidak stabil. Kemeja dan jas yang tidak rapi. Apa mungkin dia sedang mengikuti lari maraton?
"Apa motifmu datang ke sini malam-malam dengan penampilan seperti itu, Akashi?" ia melontar Tanya.
Sebagai informasi, sekarang pukul 12.20 am.
Tetapi, ia terhenyak ketika cairan mengalir santai dari kedua bola mata beda warna tersebut. "Akashi," Mayuzumi menggumam.
Jujur, ia sangat tidak menalar apa yang terjadi dengan kekasihnya sekarang, tiba-tiba datang tak tahu waktu mengganggu tidur nyenyaknya, kini malah menangis. Apa yang harus dilakukan. Tadinya, ia ingin mengejek mentah-mentah bahwa ternyata seorang Akashi bisa mengeluarkan air mata, tapi niat itu ia urungkan karena sepertinya ada yang tidak beres.
Mayuzumi mengangkat pantat pindah posisi duduk di samping Akashi, walau agak takut sebab kekasihnya itu orang yang tidak bisa ditebak. Jangan-jangan dia hanya berpura-pura, lalu, jika sudah ada waktu yang tepat dirinya akan ditikam brutal.
Namun, Akashi membuatnya gila.
Lagi-lagi dikejutkan. Kali ini, kedua tangan putihnya melilit tubuh. Sungguh ular berbisa. Sampai tidak bisa bergerak karena Akashi memeluknya begitu erat. Ah, meski begitu, ia menikmati wangi shampoo yang Akashi gunakan dan bau keringat khas. Berapa lamakah mereka tidak bertemu.
"Chihiro, kau tidak mati."
Mayuzumi mendorong tubuh Akashi membuat renggang antara keduanya setelah mendengar bisikan aneh. Ia menatap manik yang sudah kering, "Hah, maksudmu?"
Akashi menancapkan laser kesal. "Maksudnya, kau tidak mati karena kebakaran di samping apartemenmu. Aku khawatir, bodoh!"
Mayuzumi mendelik, "Ucapanmu tadi bukan sedang mengkawatirkanku, tetapi lebih seperti menyumpahiku untuk mati."
"Hahaha. Baguslah kalau otakmu bisa menangkap. Padahal, setelah sampai di sini aku ingin di sambut oleh mayat yang sudah kaku."
Tidak! Bukan sesuatu menyedihkan yang ingin Akashi sambut. Air mata yang mengalir tadi adalah tanda syukur jika orang yang ia cintai masih bisa bergerak bebas. Masih bisa menatap seperti biasa. Menanyai, menyuguhi ia segelas coklat hangat yang kini setengahnya sudah berada di lambung.
Akashi tidak bisa lebih bahagia dari Mayuzumi yang masih memiliki nyawa. Ia bukan tipe yang dapat mengekskresikan air mata segampang membalikkan telapak tangan. Dalam kehidupan sejauh ini, baru dua kali ia menangis; waktu kecil ketika ibunya pergi ke surga dan sekarang saat ia menemukan jika Chihiro-nya masih menapakkan kaki.
Pasalnya, kemarin siang setelah makan, Akashi menonton berita melalui gadget, ada sebuah toko makanan baru yang ludes dilahap si jago merah ketika malam. Dan lokasi menunjukkan kalau toko tersebut sangat dekat atau bahkan bersebelahan dengan apartemen di mana Mayuzumi hidup.
Yang membuat semakin khawatir adalah tentang pemberitahuan bahwa ada satu korban yaitu, mahasiswa universitas Tokyo yang meninggal dunia. Kecemasan meningkat saat orang tersebut mempunyai ciri rambut berwarna abu-abu yang sebagian telah hangus.
Tapi sayang, ia tidak sedang di rumah yang bisa meluncur kapan saja ke apartemen Mayuzumi, waktu itu dirinya sedang menghadiri beberapa acara penting bersama sang ayah diluar kota. Tubuh melemas ketika Mayuzumi sama sekali tidak bisa dihubungi.
Tepat pukul 09.30 pm setelah acara benar-benar selesai, acting-nya tidak diperlukan lagi, Akashi lepas menuju bandara dengan perjalanan memakan waktu tigapuluh menit. Di sana belum lagi ia harus mengantri dengan lautan manusia yang sama buru-burunya. Was-was, ketakutan, sedih, sakit, khawatir, menggerogoti pikirannya secara bersamaan.
Bagaimana ia tidak merasa bersyukur, karena saat tiba, orang yang ia khawatirkan akan meninggalkannya sedang enak bermimpi indah. Ah, rasanya, ketika melihat wajah pucat Mayuzumi dan manik kosong nan dingin, Akashi seperti terlahir kembali kepermukaan. Sampai tidak bisa berkata-kata, akhirnya air mata yang bertindak.
"Omong-omong, tentang kebakaran di samping," kata Mayuzumi setelah mereka melepaskan tautan bibir. "Jangan-jangan kau mengira aku yang mati."
"Tentu sajalah. Apalagi warna rambutnya mirip denganmu."
"Mana mungkin aku mati secepat itu, lagipula rambut kami tidak mirip."
"Kubilang warnanya yang mirip."
"Tetap saja tidak mirip."
Akashi mengerling, "Kenapa kau sama sekali tidak bisa dihubungi, apa kau hidup di rimba?!"
"Oh. Ponselku mati masuk ke dalam air cucian piring dan sekarang sedang di servis," jawab Mayuzumi santai.
Akashi menghela napas sebelum berkata, "Makanya punya teman. Tidak harus banyak, satu saja, biar aku bisa berkomunikasi jika kau tidak bisa dihubungi. Jadi aku tahu jika ada apa-apa denganmu," oceh lebar yang hanya di sambut wajah datar seseorang di samping.
Akashi berani berkata seperti di atas, karena memang kontak di dalam ponsel Mayuzumi yang ia tahu hanya ada 3; nomor Ibunya, nomornya yang hanya diberi nama AS, dan food delivery.
"Chihiro, dengar tidak?"
"Iya, iya," respon malas Mayuzumi.
Ia berdiri dan mencengkram pergelangan Tangan Akashi sepihak, diseret dan dibawa masuk ke dalam kamar, lalu dihentakkan ke atas ranjang.
"Sialan. Chihiro, kau apa-apaan!" seru Akashi, tidak terima dirinya diperlakukan seperti ini, padahal ia sudah mati-matian mengkhawatirkan.
Mayuzumi menyusul naik ke ranjang. Akashi yang masih berontak, ia tidurkan sampai kepala menempel bantal. Kemudian menarik selimut, menutupi sebagian tubuh sang kekasih. Ia mendekatkan diri, memandangi wajah Akashi dari atas.
"Tidurlah, matamu merah dan bengkak," ucapnya. "Sebelum mengkhawatirkan orang lain, khawatirkan dirimu sendiri."
Akashi yang berada di posisi bawah membalas kontak mata. Alami ia menjawab, "Tapi kau bukan orang lain."
Berdecak, "Dasar keras kepala," tutur Mayuzumi. Menepis jarak, ia mendaratkan bibir di kepala Akashi, mencium ubun-ubunnya dalam.
Meski terkadang, ia kesal dengan tindakan tak terduga kekasihnya. Tetapi tahu betul, tidak ada orang yang mengkhawatirkan ia sebesar Akashi. Ia terlalu beruntung memilikinya.
.
.
.
Nantikan drabble selanjutnya, ya. Jangan bosen dengan pasangan duo yang sangat kontras ini.
Yoroshiku!
