Hai semua! #Wajahtanpadosa
Yah, saya tahu kalian pasti bosan membaca ini, tapi maaf sekali baru bisa update sekarang, maklumlah anak sekolah #dibantaiparapembaca
Oh ya, terima kasih sudah sangat setia menunggu cerita saia yg abal #terharu
Jawaban review saia usahakan untuk membalasnya #Authorgakmodalpakewifisekola h
Daripada baca komentar saia yang aneh, mendingan langsung baca aja deh, haha
Title: Beautiful Mistake
:
:
:
Disclaimer: Well, you-know-who JK Rowling
:
:
:
If you don't like, don't read, just leave..
Rose POV
Kakiku berlari cepat mencoba menyamai langkah kaki Scorpius menuju Head Master Room, Prof McGonagall. Demi Jenggot Merlin, malam ini merupakan mimpi buruk bagiku. Bagaimana tidak? Aku menemukan Scorpius dengan mayat prefek Slytherin, Leane Higgs!
Padahal aku tengah melakukan pemeriksaan rutin. Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan memilukan tertangkap di telingaku. Awalnya aku ragu untuk segera menemukan asal jeritan tersebut. Namun aku beranikan diriku sendiri. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari menuju asal suara.
Sialnya, jeritan tersebut terhenti di persimpangan lorong. Bingung dengan jalan yang akan kulalui, aku terdiam hingga memutuskan pergi ke arah Ruang Prefek.
Kecurigaanku bertambah kuat melihat pintu ruangan terbuka, memperlihatkan silue sesosok pemuda dengan rambut yang sangat kukenal. Perlahan kakiku melangkah memasuki ruangan, terpekik melihat sesosok gadis dengan luka dan darah mengalir segar dari tiap inci tubuhnya. Kurasakan mual di ulu hatiku.
Scorpius memutar badannya menghadapku, bisa kulihat keterkejutan di iris mata abu-abunya. Mungkin terkejut bagaimana bisa aku di sini. Aku mengarahkan tongkatku, bertanya dengan suara bergetar apa yang sedang ia lakukan di sini?
Kulihat kekecewaan di wajahnya, membuatku agak merasa bersalah. Memang tidak mungkin kan Scorpius membunuh Leane? Dengan tenang Scorpius menjelaskan mengapa ia bisa berada dengan mayat Leane, membuatku menghela napas lega.
Lamunanku terputus saat kami berdua tiba di ruangan Prof McGonagall. Awalnya Prof McGonagall mengira kami mengada-ada. Tapi setelah kami berusaha meyakinkannya, ia mempercayai kami. Aku menyarankan agar Prof McGonagall pergi bersama dan menyaksikan sendiri apa yang ada di Ruangan Prefek.
Namun kenyataan yang kami lihat berbeda, tidak ada ceceran darah, tidak tercium bau amis, dan yang terpenting, tidak ada mayat Leane Higgs.
Prof McGonagall menatap kami marah, kecewa dengan kenyataan yang ada. Namun aku dan Scorpius terdiam seolah tidak ada Prof McGonagall yang tengah mengomeli kami ,hanya bisa tertegun melihat keadaan ruangan Prefek dalam keadaan normal.
Dan karena kejadian tersebut, sebagai detensi –memalukan bagiku mengingat aku merupakan Head Girl- atas kebohongan yang tidak kami perbuat, Scorpius dan aku harus membersihkan kuali selama sebulan.
Yah, kini di sinilah aku bersama Malfoy Junior, membersihkan kuali yang hitam dan penuh ramuan gagal-menjijikan. Sejak malam itu, Scorpius dan aku tak pernah bicara. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa ia menurut begitu saja mendapatkan detensi langsung dari Prof McGonagall? Bukankah ia terkenal sebagai bad boy tanpa aturan?
"Mengapa waktu itu kau tidak protes?" Suaraku keluar memecah keheningan di antara kami, terlalu penasaran dengan pertanyaan di kepalaku.
Beberapa menit aku menunggu, namun ia hanya diam, membersihkan kuali-kuali tersebut dengan tangannya.
Wajahku mengkerut, sebal karena ia tidak menjawab pertanyaanku.
Kami kembali terdiam, membersihkan kuali kami masing-masing. Yang terdengar di ruangan ini hanya suara gesekan sikat serta gemerisik air jatuh.
"Kau sendiri mengapa tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Kali ini Scorpius berbicara.
Alisku bertautan, agak heran mengapa lama sekali ia merespon?
"Tidak ada bukti apapun yang tertinggal di sana. Menurutku percuma saja, Prof McGonnagal akan semakin menghukum kita seandainya aku berbicara kebenarannya."
Bisa kulihat Scorpius tersenyum miris menanggapi pernyataanku, "Kau benar. Tidak ada yang bisa kita lakukan."
Kami kembali terdiam, entah mengapa membuatku semakin canggung dan tidak nyaman. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, memperlihatkan sesosok laki-laki dewasa yang cukup tampan berambut pirang platina berjalan angkuh mendekati kami. Wajahnya mirip sekali dengan Scorpius dan cukup familiar. Apa aku pernah bertemu dengannya?Mata abu-abunya memandang sekilas padaku sebelum beralih pada Scorpius.
"Da..dad..?" Ucap Scorpius terkejut membuatku melebarkan mataku. Aku ingat sekarang! Dia adalah ayah Scorpius, Draco Malfoy, Kepala Departemen Hukum Sihir. Sedang apa ayah Scorpius di sini? Aku memandang Ayah Scorpius dari sudut mataku, penampilannya sungguh elegan namun terkesan dingin. Agak berbeda dengan Scorpius yang tenang dan err... hangat?
Wajahku memanas dengan apa yang baru saja kupikirkan, kau-pasti-gila, pikirku sarkastis.
"A..apa yang Dad lakukan di sini?" Tanya Scorpius gugup. Melihat tingkah Malfoy Junior yang berbeda membuatku sedikit menarik ujung bibirku.
Wajah Malfoy Senior terlihat tidak suka melihat penampilan anaknya, "Aku mendengar kau di hukum membersihkan kuali karena membohongi McGonnagal. Mengejutkan sekali ternyata kau bersama dengan seorang Weasley."
Kali ini Malfoy Senior memandang ke arahku, memperhatikanku dari ujung kaki sampai kepala. Agak membuatku risih.
"Well, tidak kusangka kau sudah dewasa. Dari yang kudengar kau sama seperti ibumu, pintar dan juga cerdas. Kau Rose Weasley bukan?" Tanya Malfoy Senior datar.
Agak ragu-ragu aku mengangguk kecil, membenarkan pertanyaannya.
Kali ini Malfoy Senior mengalihkan pandangannya pada Scorpius,"Scorpius, ada hal yang mesti Dad katakan padamu secara langsung. Temui aku di ruangan Head Master setelah hukumanmu selesai. Sebelumnya bersihkan pakaianmu, karena ibumu pasti tidak akan suka melihat penampilanmu sekarang." Perintahnya singkat kemudian pergi meninggalkan kami.
Setelah yakin Malfoy Senior menghilang, aku mendengar desahan lega keluar dari mulut Scorpius.
"Apa itu cara berkomunikasi dengan ayahmu?" Tukasku keheranan.
Ekspresi Scorpius agak terkejut sebelum akhirnya berubah menjadi dingin. "Aku berbeda denganmu. Kami sebagai keluarga Pure Blood mengagungkan tata krama sebagai citra kami. Menjaga agar kami tidak di rendahkan sebagai Pure Blood menjijikan."
Aku terdiam mendengar penuturan Scorpius, memikirkan tekanan perkataan Scorpius bagian Pure Blood menjijikan. Seingatku memang di masa lalu keluarga Malfoy merupakan pengikut setia dari Lord Voldemort. Ternyata kesalahan para Pure Blood tidak dapat menghilang begitu saja.
"Aku sudah selesai dengan hukumanku. Kuharap kau tidak keberatan bila aku meninggalkanmu." Ujar Scorpius seraya melangkah pergi, tanpa menunggu jawaban dariku.
Kali ini aku menghela napas lega dengan kepergian Scorpius, entah mengapa aku merasa Scorpius mencurigaiku perihal hilangnya aku saat pesta dansa. Pikiranku kembali mengingat Albus Severus Potter, orang yang membuatku kacau dua hari ini.
Masih terngiang perkataan Albus malam itu padaku. Belum pernah aku mendengar suaranya penuh keinginan dan juga kemarahan.
Dengarkan aku baik-baik...Rose. Tidak perduli salah atau tidak, pada akhirnya kau akan menjadi milikku.
Merlin! Apa yang harus aku lakukan? Albus sudah gila! Hanya itu yang dapat aku simpulkan dari semua perilaku kurang waras yang Albus lakukan selama ini.
Kurasakan sebutir air mata menuruni pipiku, lalu dengan kasar aku menyekanya. Merutuki diriku sendiri karena lagi-lagi menangis. Kuputuskan untuk kembali membersihkan kuali yang tersisa di hadapanku.
Albus POV
Aku terdiam memandang sesosok gadis yang sangat aku rindukan akhir-akhir ini. Gadis itu tetap sama, cantik dan indah, walau keringat menetes perlahan dari keningnya. Bisa kulihat juga dia sedang menyeka air matanya, menunjukan wajah tegar dan sok kuat. Heh... memang selalu seperti itu, dia tidak akan pernah mengakui bahwa sebenarnya dia lemah. Well, walau aku benci dengan sifat sok kuat dan segala-kemuliaan-Gryffindor-nya, tapi tetap aku mencintainya. Tidak perduli orang menganggapku gila atau bahkan menjijikan, aku mencintainya. Yah, kesalahan terindah dari seorang Albus adalah mencintai sepupu kandungnya sendiri, pikirku sarkastis.
Kakiku melangkah pelan membuka lebar celah pintu, menikmati raut wajah terkejut Rose. Dengan percaya diri aku melangkah mendekatinya sedangkan Rose terdiam menatapku. Setelah jarak antar kami tinggal beberapa centi, tiba-tiba Rose melangkah mundur.
Tak terasa aku menaikan satu alisku, "Ada apa? Apa kau takut pada sepupumu sendiri, Rose?"
Tatapan mata Rose tidak terbaca, namun dapat kulihat keraguan tersirat dari mata hazelnya, "Mengapa kau seperti ini Albus?" Tanya Rose dingin tanpa menjawab pertanyaannku.
Dengan geli aku tertawa pelan, seolah Rose sedang memberikan lelucon sakit, "Maksudmu adalah mengapa aku bisa mencintaimu, begitu bukan?"
Kali ini Rose menatapku tajam, "Saat malam itu aku tahu kau mabuk-..."
"Aku tidak mabuk!" Sentakku memotong perkataannya. "Aku mencintaimu Rose. Tidak bisakah kau mengerti?"
Rose menggeleng kepalanya pelan, nyaris membuatku frustasi, "Ini salah Albus, kita tidak bisa seperti ini! Apa yang akan dikatakan Paman Harry? Apa yang akan dikatakan ayahku! Ini...ini-.." Sudah cukup! Aku bisa gila jika terus mendengarkan alasan logis yang pasti akan meluncur dari bibirnya.
Dengan cepat aku menariknya kedalam pelukanku, bisa kurasakan aroma khas tubuh Rose menggelitik indera penciumanku. Aku menyesap aroma tersebut perlahan kemudian mengelus rambut halus merah yang selama ini aku dambakan. "Sudah ku katakan bahwa aku tidak perduli, Rose. Akan kulakukan apa saja untuk mendapatkanmu, meski ke neraka sekalipun." Ujarku tegas tanpa keraguan.
Tubuh Rose bergetar, mungkin takut dengan perkataanku barusan. Namun aku tidak berbohong padanya. Tidak perduli bagaimanapun, akan kupastikan Rose menjadi milikku.
Terdengar isak tangis tertahan dari Rose "Jangan pernah berharap, aku tidak pernah mencintaimu sebagai seorang pria!" Tukasnya keras kepala.
Senyumku melebar mendengar penuturannya, "Yah, berbohonglah Rose. Aku tidak memintamu mengakui perasaanmu sekarang, tapi aku tahu kau mencintaiku." Tanganku menarik tubuh Rose menjauh, kemudian menatap penuh mata hazelnya yang basah.
"Aku membencimu." Ucap Rose pelan.
Membenciku? Silahkan saja kau mulai membenciku, tidak ada gunanya."Aku mencintaimu juga. Sekarang pergilah ke asramamu lalu beristirahat."
Tubuhku membelakangi Rose lalu berjalan ringan meninggalkannya. Sambil melangkah tangan kananku memutar ke atas membentuk lingkaran, dari belakang terdengar gesekan kuali-kuali Rose bergeser dan bersih dalam sekejap. Tanpa melihat ke belakang, dapat kubayangkan ekspresi terkejut Rose karena sihir tadi. Biarlah ia tahu aku bisa menggunakan sihir wandless.
Namun mood baikku berubah ketika melihat seorang gadis tengah menatapku tidak percaya.
"Al..." Mulutnya terbuka lebar, menggumamkan namaku lirih.
"Kau mendengar apa yang seharusnya tidak kau dengar Christine." Ujarku tenang dan dingin.
Ekspresi Christine berubah ketakutan, "Rose adalah sepupumu!" Jeritnya histeris.
Dengan cepat aku menjambak rambut cokelatnya yang panjang menjauhi ruang detensi. Dia mengeluh kesakitan, tapi aku tidak perduli, "Jangan pernah mencampuri urusanku!" Geramku marah.
Mata Christine mengeluarkan air mata, "Tapi kau tidak bisa mencintainya Albus! Hanya aku yang kau cintai!"
Apa katanya? Aku mencintainya? Pasti gadis jalang ini bermimpi. "Aku tidak pernah mencintaimu Christine, kau tahu itu!"
Christine menatapku nanar, "Aku selalu mencintaimu Albus! Selama ini aku selalu bersabar dengan gadis-gadis jalang yang tidur denganmu karena aku tahu kau tidak mencintai mereka! Tapi kini kau mengatakan kau mencintai Rose? Mengapa harus Rose?!"
Sialan! Kesabaranku telah habis! Dengan kasar aku melepaskan jambakanku hingga ia terjatuh berlutut dihadapanku.
Saat berniat pergi dengan cepat Christine menahan kaki kananku, "Tidak akan ku biarkan kau memiliki Rose." Ucap Christine penuh dendam.
Aku menyeringai sinis, "Kau tidak bisa menghentikanku semudah itu Christine. Apa kau berniat meninggalkan kesetiaanmu?"
Christine tertawa, entah apa yang ia tertawakan. Tawanya seketika terhenti digantikan kemarahan murni."Aku tidak berencana meninggalkan kesetiaanku, My Lord. Hanya saja berbahaya jika ia tahu siapa sebenarnya sosok dari sepupu tersayangnya."
Heh, berani sekali gadis jalang ini mengancamku, "Silahkan saja kau katakan yang sebenarnya pada Rose. Hal itu malah semakin memudahkanku mendapatkannya."
Christine terlihat tercengang mendengar jawabanku, tanpa menunggu responnya dengan kasar aku menhentakan kakiku kemudian meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
Sesampainya di kamarku,aku melempar semua barang-barangku dan benda apa saja yang ada di dekatku untuk melampiaskan amarahku. Sial! Wanita brengsek! Beraninya dia mengancamku, dia pikir dia siapa?
Napasku terengah-engah setelah puas menghancurkan kamarku sendiri, mungkin kini wajahku sudah memerah. Dengan perlahan aku menarik napas dalam-dalam, menutup mata mencoba menenangkan sarafku. Seketika itu wajah Rose berkelebat di dalam pikiranku, menghapus perlahan masalah yang kuhadapi. Mata hijauku terbuka lebar, tak lupa tersungging senyum di bibirku. Inilah alasanku mencintai Rose, matanya, suaranya, dan juga tawanya mampu menenangkanku. Tanpanya di sisiku mungkin akan membuatku hancur. Dialah tujuan utamaku selama ini, walau caraku mungkin bisa membuatnya membenciku. Aku mendengus sinis dengan pikiranku, siapa yang perduli? Biarkan saja semua orang bahkan keluargaku sendiri membenciku, asalkan aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Entah mengapa aku ingin mendengus kecil dan akhirnya tertawa sekeras-kerasnya. Terdapat kepuasan memenuhi jiwaku, yeah, memang tidak salah Sortir Hat memilihku menjadi murid Slytherin.
Tawaku terhenti seketika saat seekor burung hantu memasuki jendela kamarku. Dengan santai tanganku meraih surat yang dikirimkan padaku dan membacanya. Seringaianku mengembang lebar membaca satu persatu kalimat yang tertulis. Dengan cepat aku membalas surat tersebut kemudian mengirimkannya dengan burung hantu yang sama. Sepertinya hal-hal menarik akan segera terjadi di sekolah Hogwarts tercinta. Well, mungkin ini bisa menjadi hiburan yang pasti tidak akan membosankan.
Hem, menurut saia kalian pasti tahu siapa pemimpin Death-Eather pemburu Pure-Blood, ya kan?
Yah, sebenarnya saia gak tega kalo gak ngasih clue sama kalian #sokbanget
Hehe, review yah ^^
