I Remember
Cast: Kim Ryeowook and Others
Disclaimer: semua character punya TYME dan saya Cuma pinjem nama doang
Warning: OOC, BL, BxB, YAOI, Miss Typo(s) berceceran
Rate: T
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
Ryeowook menggeliatkan tubuhnya karena merasa terganggu oleh sinar mentari yang mengetuk-ngetuk kelopak matanya setelah berhasil menembus gorden putih tidak jauh dari meja berkaca di sebelah kirinya. Matanya mengerjap pelan sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Sebelah tangannya reflex memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut akibat minum terlalu banyak kemarin malam. Beruntungnya saat itu dirinya berada di café milik Changmin. Kalau tidak, siapa yang akana mengantarkannya pulang? Tidak akan dibiarkannya Yesung mengatarnya pulang bahkan jika namja itu memaksa –lagi-. Ryeowook tidak akan terlalu jauh membiarkan namja itu tahu tetang dirinya meski Ryeowook sendiri tidak menjamin bisa terus seperti itu kedepannya mengingat Yesung sama sekai bukan namja manis yang penurut. Jadi berterima kasihlah pada Changmin yang saat itu masih setia berada di club hanya untuk menunggui keponakan Tuan-nya. Barangkali dibutuhkan disaat-saat penting seperti saat Ryeowook sudah mabuk berat seperti semalam.
"Ukh~~ jam berapa ini?"gumam Ryeowook sambil mencoba meraih jam weker yang –ekhm- bercorak jerapah di meja nakas sebelah kirinya.
"Jam setengah Sembilan?"Ryeowook manggut manggut sebelum akhirnya matanya membulat dan bangkit secara tiba-tiba membuat kepalanya berdenyut karena gerakan tiba-tibanya.
"MWO? Jam setengah Sembilan?"pekiknya histeris dan dengan cepat menyibakkan selimut yang masih membungkus pinggangnya hingga kaki, meraih handuk dan segera memasuki kamar mandi tak lupa dengan sebuah bantingan pintu.
5 menit lebih cepat. Ryeowook keluar dari kamar mandi setelah sepuluh menit berada di daam ruangan yang akan selalu terasa dingin namun kadang menyegarkan itu. Ryeowook segera bersiap. Meraih sebuah kaos v-neck yang tidak begitu rendah berwarna putih, celana jeans putih, blazer putih, leather shoe lace up berwarna putih juga tak lupa dengan heritage backpack yang juga berwarna putih.
Ryeowook meluncur menuruni anak tangga dengan cepat. Dilihatnya sang Imo yang tengah duduk tenang di sofa ruang tengah mereka dengan televise flat besar yang menyala di depannya.
"Aku berangkat Umma. Annyeong," Ryeowook berlari melewati Leeteuk setelah berpamitan secara singkat dan cepat.
.
.
Ryeowook beberapa kali mengumpat karena keterlambatannya hari ini. Kalau bukan karena mabuk semalam, Ryeowook tidak akan terlambat hari ini. Begitulah pikirnya. Ryeowook berlari menyusuri koridor kampusnya yang tidak terlalu ramai karena pastilah banyak mahasiswa yang tengah mengikuti kelasnya. Diintipnya ruanganan kelasnya dari jendela.
"Bolos satu mata kuliah tidak masalah kan?"gumamnya pelan dan melanjutkan perjalanannya menuju taman belakang kampus yang tidak akan ramai disaat saat seperti ini .
Ryeowook menyenderkan punggungnya pada sebuah pohon berbatang besar yang ada di taman belakang itu. Matanya menatap langit biru yang tampak begitu cerah hari ini.
"Umma… Appa… Bogoshipda..."ucapnya pada angin. Semilir angin yang berhembus lembut mengacak pelan surai keunguannya yang lembut. Matanya terpejam demi menikmati suasana nyaman yang tengah didapatnya saat ini.
Untuk beberapa saat Ryeowook bertahan dalam posisinya sampai akhirnya merasa kesal sendiri.
"Ya! Mau sampai kapan kau akan memperhatikanku eoh?"serunya tanpa membuka mata.
"Kau tau?"
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang mendekat itu tidak mengubah posisi atau sekedar mata Ryeowook agar terbuka. Namja itu masih setia memejamkan matanya menunggu seseorang yang memperhatikannya beberapa saat yang lalu semakin mendekat padanya.
"Kau pikir aku tidak mendengar suara sepatumu, Kim Kibum?"ujar Ryeowook datar.
Namja itu tediam hingga akhirnya Ryeowook sedikit menggeser tubuhnya dan membiarkan Kibum ikut duduk di sampingnya.
"Anak itu benar-benar penasaran Wook-ah."ucapan Kibum itu membuat Ryeowook membuka matanya perlahan sebelum sebuah senyum tipis terkembang di bibir plum-nya.
"Benarkah?"
Ryeowook menatap namja disampingnya yang tengah menatap jauh ke depan.
"Heum~ tapi aku juga semakin penasaran dengannya. Putra Kepala Kepolisian Seoul itu, ada yang berbeda dengannya."
"Benarkah?"
Kibum menatap Ryeowook kesal.
"Apa kau tidak memiliki kata lain selain benarkah, Kim Ryeowook?"desis Kibum sambil menatap Ryeowook tajam yang malah mengundang tawa Ryeowook yang akan menggelitik telinga Yesung jika namja itu ada disana sekarang.
"Baiklah. Jadi, ada apa dengan namja bermarga Cho itu?"Tanya Ryeowook mulai serius.
"Entahlah. Aku masih belum terlalu tahu tentang namja tinggi itu. Yang kutahu hanya namja itu adalah putra dari Kepala Kepolisian Seoul. Dan ah, Kim Jongwoon itu, Yesung, namja itu merupakan putra dari seorang Jaksa Agung di Korea Selatan ini. Dari yang aku dapatkan, orang itu adalah Jaksa Agung yang sangat hebat. Kurasa kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja Wook-ah."
"Tentu saja Kim Kibum. Mereka semua putra dari manusia Hukum. Aku tidak mau berurusan dengan mereka."
"Che, bahkan tanpa sadar kita sedang berurusan dengan yang kau sebut hukum itu, Kim Ryeowook."
"Yang ini beralasan Kibum-ah."
"Arasseo"
Untuk beberapa saat suasana kembali hening. Hembusan angin lembut itu masih begitu senang mengacak rambut keunguan dan hitam pekat itu. Keduanya sama-sama berada dalam pikiran mereka sendiri. Semuanya terasa begitu menyebalkan untuk Ryeowook dan begitu menyenangkan untuk Kibum. Dua namja bermarga sama itu masih terdiam hingga akhirnya salah satu dari mereka membuka suara kembali.
"Aku merasa ada sesuatu yang tidak baik akan menimpa kita, Kibum-ah."ucap Ryeowook datar dengan tatapan mata yang kian menjauh. Kibum menoleh dan hanya menatap Ryeowook.
"Kau tahu, aku merasa Lee Taesun sudah tahu keberadaan kita disini. Meski tidak ada satupun yang tahu siapa kita. Tapi aku merasa sungguh buruk jika mengingat hal itu."
"Sejak kapan?"
"Entahlah. Ini sudah 2 minggu tapi tidak terjadi apapun pada kita maupun bumonim-mu."
"Berarti memang tidak akan ada apa-apa Ryeowook-ah,"ujar Kibum tenang.
"Tch. Apa kau berpikir begitu? Aku hanya ingin mengatakannya padamu Kibum-ah. untuk selebihnya terserah kau saja."
"Hnn,"
Untuk yang kesekian kalinya mereka kini terdiam hingga beberapa orang mulai berdatangan ke taman yang ditumbuhi beberapa pohon berbatang besar itu.
.
.
.
Yesung hanya menatap Kyuhyun bosan. Namja tinggi berambut ikal itu sungguh tidak tahu tempat. Entah itu di apartemennya. Di kelasnya atau bahkan di meja makan, namja itu selalu saja mencari kesempatan untuk memainkan salah satu game di PSP-nya. Oke, kecuali di rumahnya yang tentu saja tidak akan dibiarkan oleh appa dan umma-nya untuk melakukan hal satu itu di meja makan.
"Berhenti bermain dan makanlah Cho Kyuhyun."ucapp Yesung tegas membuat Kyuhyun mengalihkan pandanagannya pada Yesung yang tengah memotong mie dengan giginya. Kyuhyun berniat tidak mempedulikannya namun batal setelah ditatap tajam oleh Yesung.
"Ah, bagaimana dengan acaramu kemarin Hyung?"Tanya Kyuhyun disela kegiatannya memasukkan jjangmyeon ke dalam mulutnya.
"Kami hanya minum bersama,"jawab Yesung datar. Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada Yesung yang sedang menikmati mie-nya.
"Minum? Dimana?"
"Ne, minum. Di Mirotic Club."
"Eh? Kenapa kau tidak mengajakku kalau mau kesana?"seru Kyuhyun kesal.
"Kenapa harus?"Tanya Yesung enteng. Kyuhyun makin kesal dibuatnya.
"Huh! Itu kan club langgananku Hyung. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku kesana,"ratap Kyuhyun yang hanya ditanggapi senyum oleh Yesung.
"Baiklah. Lain kali aku akan mengajakmu. Lalu bagaimana denganmu?"
"Apanya yang bagaimana?"Tanya Kyuhyun bodoh. Yesung menyeringai.
"Kupikir kau juga mengajak Kibum-ssi untuk pergi?"
"Huh? Ani. Untuk apa?"elak Kyuhyun yang semakin membuat Yesung bersemangat untuk menggodanya.
"Kupikir kau menyukainya?"Tanya Yesung dengan memasang muka polosnya yang membuat Kyuhyun malah merasa kesal.
"Kenapa kau begitu ingin tau huh?"sembur Kyuhyun yang membuahkan tawa ringan dari Yesung.
"Kurasa namja itu tidak lebih dingin dari Ryeowook."
"Memang. Oops,"
Yesung tertawa melihat Kyuhyun yang keceplosan bicara itu.
"Kau tidak akan menyia-nyiakannya bukan?" Tanya Yesung. Kyuhyun hanya mengangkat bahu tidak peduli dan mereka kembali melanjutkan makan setelah perbincangan tidak penting mereka.
'Tapi namja itu… Aku merasa benar-benar ada yang dua namja itu sembunyikan dari public. Tapi apa? Semoga pembicaraan yang kudengar waktu itu bukan dari mereka. Oh Tuhan. Tapi bagaimana kalau itu benar mereka? Haruskah aku mengatakannya pada Siwon Hyung? Tapi lalu bagaimana denganku? Juga Yesung Hyung.' Pikir Kyuhyun sambil menatap ke arah luar kantin tempat mereka makan saat itu.
.
.
.
Ryeowook berjalan mengelilingi 'kebun' yang aada di belakang gedung Angel florist. Matanya menatap seluruh tanaman yang dilewatinya sendirian tadi. Hari ini sengaja Ryeowook datang kesini. Ingin bersantai sedikit, katanya. Padahal kedatangannya kesini harusnya untuk bekerja bukan. Bukankah tempat ini sekarang adalah tanggung jawabnya? Oh ayolah, namja ini juga manusia yang butuh hiburan sesekali. Tidak melulu bekerja –jika bisa disebut begitu- setiap hari. Atau berkutat dengan buku-buku tebal seperti para kutu buku itu. Oh, Ryeowook sudah cukup cerdas untuk bisa mengerti sebuah materi dalam satu kali baca.
Ryeowook berjalan kearah taman bunga yang ada tidak jauh dari tempat saat ini. Menyentuh bunga-bunga yang beberapa sudah mulai berkuncup itu sebelum akhirnya memilih untuk mendudukkan dirinya diantara bunga-bunga tersebut. Edua tannganny bertumppu dibelakang tubuhnya sementara kedua matanya terpejam dengan kepala yang sedikit mendongak.
"Ryeowook-ssi,"suara seseorang yang menginteruppspi ketenangannya tak membuatnya merubah posisi sedikitpun namun tetap menyahut.
"Waeyo, Kai-ah?"sahut Ryeowook tanpa menoleh.
"Tuan Kangin mencarimu,"
"Oh,"
Ryeowook bangkit dan berjalan bersama Kai untuk menemui Kangin seperti yang dikatakan Kai.
"Appa memanggilku?"Tanya Ryeowook ketika sudah samppapi disebuah ruangan milik Kangin dan Leeteuk. Namja kekar itu mengangkat kepalanya untuk menatap Ryeowook.
"Duduklah,"titahnya yang segera dilaksanakan oleh Ryeowook.
Kangin menghela nafas sebelum mulai membuka mulutnya untuk bersuara.
"Begini Ryeowook-ah. sepertinya Taesun sudah mengetahui keberadaanmu dan Kibum disini. Tapi mereka masih belum tau tentang siapa orang tuamu karena mereka pikir kau hilang saat kejadian itu."
"Jadi namja itu benar sudah tahu ya?"gumam Ryeowook yang masih mempu sampai pada telinga Kangin. Kangin mengangkat sebelah alisnya sementara Ryeowook hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Aku hanya merasa saja. Tapi ternyata memang benar ya? Lalu?"
"Tentu saja mereka sedang mencari tahu. Dan ternyata juga ada orang lagi yang sangat ingin menghabisimu. Bukan menghabisi Magnolia, tapi dirimu sendiri Ryeowook-ah. Kau,"ucap Kangin dengan nada sendu. Takut terjadi sesuatu pada namja kuat namun lemah di hadapannya.
"Gwaenchanha, Samchon. Aku bisa mengatasinya. Mereka mungkin mengincarku. Tapi aku tidak akan mati lebih dulu sebelum Lee Taesun itu pergi menyusul appa dan umma,"
Untuk beberapa saat keadaan hening. Ryeowook yang masih mencoba menemukan cara untuk membalas dendam pada Taesun secara perlahan dan Kangin yang sedang menimbang apa harus menanyakan hal 'itu' atau tidak. Hingga keputusannya ia ambil.
"Ryeowook-ah,"
"Ne?"Ryeowook kembali menghadap kearah Kangin yang menatapnya lembut.
"Aku dengar dari Leeteuk kalau kau melakukan sesuatu yang mengejutkan beberapa waktu sebelum kau berangkat kemari. Apa itu benar?" ucap Kangin sedikit ragu. Takut pertanyaannya menyinggung namja mungil itu meski kenyataannya namja itu malah tertawa kecil menanggapinya seolah tahu apa yang dimaksud oleh Kangin, Samchon-nya.
"Jadi Imo juga sudah tahu ya? Aa, Kibum itu ternyata diam-diam cukup ember juga mulutnya."namja itu terkekeh sebentar sebelum kembali melanjutkan dengan santai.
"Ne, apa Samchon sudah dengar semua ceritanya? Ah, kurasa orang yang sangat ingin menghabisiku itu dongsaengnya. Eum~ Zelo. Iya, Zelo namanya. Namja dengan tinggi menjulang yang sepertinya masih duduk di tingkat pertama High School. Samchon tenang saja, aku tidak akan kalah dengan cepat oleh anak kecil sepertinya."jelas Ryeowook yang nyatanya hanya membuat Kangin semakin takut. Dari sekian banyak hal yang harus ditakutinya, hal yang paling membuat namja berbadan kekar itu takut hanya sesuatu yang membahayakan orang-orang yang disayanginya.
"Jangan menganggap remeh anak kecil, Ryeowook-ah."peringat Kangin. Ryeowook tersenyum dan mengangguk.
"Aku tidak berniat meremehkannya. Aku akan tetap berhati-hati. Samchon jangan khawatir,"ucap Ryeowook mencoba menenangkan Kangin. Kangin menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Baiklah. Sekarang pulanglah. Besok kau harus mengantar barang untuk seseorang."
"Eoh? Benarkah?"mata Ryeowook berbinar senang.
"Ne. Dia orang yang sudah sering bekerja sama dengan kita. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mengatakan padanya kalau bukan Jaejoong atau teman-temannya yang akan mengantar barangnya dan dia tidak keberatan."
"Ah baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu Samchon. Selamat sore,"
"Ne. hati-hati di jalan."
.
.
.
Ryeowook mengarahkan motor putihnya menuju sebuah supermarket tidak jauh dari rumahnya. Hari ini Ryeowook merasa ingin memasak sesuatu untuknya dan Kibum juga Leeteuk. Ryeowook mengambil sebuah troli berukuran sedang dan mendorongnya menuju beberapa bahan makanan mentah. Tangannya mengambil beberapa daging untuk dipilih. Ryeowook hendak memasukkan satu pack daging pilihannya ketika seseorang memanggil namanya.
"Ryeowook-ssi,"Ryeowook menoleh dan mendapati Yesung dengan sebuah keranjang yang sudah hampir penuh berjalan kearahnya.
"Ah, Yesung-ssi,"
"Sedang belanja eoh?"Tanya Yesung basa basi.
"Seperti yang kau lihat, Yesung-ssi."
"Aa, kau sendirian?"
"Iya,"balas Ryeowook singkat. Merasa tak enak, Ryeowook melanjutkan. "Kau sedang belanja apa?"Tanya Ryeowook sambil mengintip keranjang yang digenggam Yesung. Dalam hati Yesung bersorak riang karena Ryeowook mau bertanya padanya meski itu hanya sebuah pertanyaan sederhana.
"Ah, hanya beberapa makanan instant dan minuman ringan. Dan beberapa mie instant,"jawab Yesung sambil tersenyum. Sejujurnya, dalam hatinya merasa begitu gugup setiap berhadapan dengan Ryeowook. Namja manis itu seolah merenggut semua akal sehatnya kalau sedang bersama seperti ini.
"Apa kau sudah selesai? Aku masih ingin belanja. Aku permisi, Yesung-ssi. Annyeong,"
Oh Gosh! Demi apa? Ada apa dengan Ryeowook? Kenapa namja itu berubah jadi ramah –atau sekedar mencoba ramah pada Yesung? Aa, mungkin dirinya ingat dengan sikapnya pada Baekhyun yang bukannya membuat namja itu menjauh tapi malah semakin gencar mendekatinya dan Kibum. Dan entahlah, Ryeowook juga tidak yakin yang dilakukannya ini benar atau tidak karena dirinya juga berpikir kalau ini salah. Bisa saja –dan ini adalah kemungkinan terbesar- Yesung malah semakin sering mendekatinya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih, melanggar prinsip-nya –lagi-. Dan membahayakan nyawa orang yang disayanginya. Ryeowook sebenarnya bukan benar-benar namja dingin. Dia hanya bersikap dingin pada orang-orang yang akan sering ditemuinya. Tapi tidak pada orang yang hanya akan ditemuinya satu kali. Seperti saat Ryeowook mengunjungi salah satu panti asuhan beberapa waktu yang lalu bersama Kibum. Namja itu berubah 180 derajat dari kesehariannya. Jauh lebih ramah dan hangat.
Yesung menyusul Ryeowook dibelakangnya. Mencoba untuk bisa mengobrol lebih lama dengan namja yang sudah menarik perhatian dan pikirannya.
"Boleh kutemani, Ryeowook-ssi?"tawar Yesung. Ryeowook menoleh kebelakang dan mendapati Yesung tersenyum dengan begitu –oh, Ryeowook sedikit tidak rela menyebutnya- tampan dan mempesona. Ryeowook menghela nafas diam-diam. Dalam hati berpikir bahwa mampir ke supermarket ini bukanlah hal yang baik.
'Ada apa dengan namja ini? Astaga! Ingin sekali kutendang namja ini keluar. Tapi namja ini begitu mirip dengan Baekhyun. Dia tidak akan menyerah hanya dengan kutendang saja. Ck.'
"Terserah kau saja, Yesung-ssi. Tapi kurasa kau lebih baik pulang. Kau sepertinya sudah lama berada disini. Jadi kau pasti lelah."dalam hati Ryeowook berharap, usiran halusnya akan ditanggapi oleh Yesung. Namun ternyata memang harapan hanya tinggal harapan. Dan kenyataannya berbeda ketika Yesung malah tersenyum dan menjawab.
"Gwaenchanha. Lagi pula aku juga sendirian di apartemen. Pasti akan sangat sepi dan membosankan."balas Yesung member alasan padahal sendirinya tahu kalau 3 menit yang lalu Kyuhyun datang ke apartemennya. Tapi Yesung bukan orang yang akan membuang kesempatan langka dengan Cuma-Cuma.
Ryeowook menghela nafas lagi sambil merutuk dalam hati.
"Baiklah,"dan Ryeowook mulai berjalan lagi mengambil beberapa sayuran, bumbu-bumbu, minuman ringan dan snack dan juga beberapa coklat. Setelah semua masuk ke dalam troli, Ryeowook berjalan menuju sebuah freezer. Mengamati beberapa es krim untuk kemudian dipilihnya salah satu. Mengingat dirinya tidak sendirian, meski hanya diam selama sesi belanja tadi, Ryeowook menoleh dan mendapati Yesung yang malah tersenyum. Ada apa? Pikirnya.
"Yesung-ssi, kau mau es krim?"tawar Ryeowook.
Yesung masih setia tersenyum membuat Ryeowook menautkan alisnya bingung.
'Namja ini benar-benar manis.'pikir Yesung.
"Boleh,"
"Kau suka rasa apa?"Tanya Ryeowook tanpa sadar kalu dirinya semakin membuka pintu untuk Yesung masuk dalam hidupnya. Ryeowook kembali memilih, ingin mengganti rasanya mungkin?
"Aku mau yang vanilla saja,"balas Yesung masih dengan senyumnya.
"Vanilla ya? Eum~~ Ah, ini dia."seru Ryeowook sambil mengambil sebuah es krim berbentuk cone rasa vanilla untuk Yesung dan coklat untuk dirinya.
"Kajja,"Ryeowook berjalan lebih dulu menuju kasir diikuti Yesung dibelakangnya.
Setelah membayar belanjaan mereka, Ryeowook dan Yesung keluar secara bersamaan. Ryeowook menyerahkan es krim vanilla untuk Yesung lalu duduk di sebuah bangku yang kebetulan ada di depan supermarket. Ryeowook membuka es krimnya dan mulai menjilati permukaan es krim itu tanpa peduli pada Yesung yang kini sudah ikut duduk di sampingnya dan tersenyum melihat tingkahnya. Yesung mengikuti jejak Ryeowook untuk menikmati es krim vanillanya. Memasuki musim dingin, orang mungkin berpikir kalau mereka gila makan es krim di tengah cuaca dingin seperti ini. Meski salju belum turun, tapi setidaknya cuaca dingin ini cukup untuk membuat mereka harus berpikir dua kali untuk memakan es krim dan di luar ruangan seperti ini.
"Wae? Ada yang salah denganku?"Tanya Ryeowook yang sudah benar-benar merasa risih diperhatikan terus menerus oleh Yesung seperti itu.
"Iya,"balas Yesung pendek. Ryeowook menoleh dan menatap Yesung.
"Bagian mana?"
"Wajahmu,"
"Eh?"Ryeowook melepas kantong di sebelah kirinya dan mulai mencoba merapikan bagian wajahnya yang kata Yesung ada yang salah. Yesung terkekeh pelan. Namja yang manis dan polos. Pikirnya. Belum tahu saja Yesung siapa Ryeowook sebenarnya meski Ryeowook itu memang benar-benar polos.
"Wae? Dimana yang salah?"Tanya Ryeowook gusar. Tanganya masih meraba wajahnya. Takut perkataan Yesung memang benar.
"Ryeowook-ssi, kesalahan pada wajahmu itu tidak akan bisa dibenahi,"ucap Yesung semakin membuat Ryeowook takut. Dirinya akan malu bertemu orang tuanya suatu saat nanti kalau sampai ada yang salah dengan wajahnya. Pikirnya.
"Salahkan wajahmu yang terlalu manis itu, Ryeowook-ssi. Makanya tidak akan bisa dibenahi."canda Yesung yang entah kenapa mampu menghasilkan guratan merah muda pada pipi putih Ryeowook. Ryeowook membuang muka mengabaikan Yesung yang masih terkekeh dan coba menyembunyikan guratan merah muda itu dari tatapan Yesung.
Ryeowook bangkit setelah es krim-nya habis dan warna wajahnya sudah normal.
"Kau bawa mobil, Yesung-ssi?"
"Eoh, ani. Aku naik bus." Yesung menatap Ryeowook yang membawa satu kantong besar belanjaannya. Akan sedikit mengalami kesulitan saat akan mengendarai motornya nanti.
"Mau kuantar? Kau bawa motor kan? Aku akan menyetir untukmu,"tawar Yesung. Ryeowook? Namja itu tidak yakin akan menerima tawaran baik Yesung itu. Namun dirinya juga tidak yakin akan bisa membawa kantong besar itu sendirian meski hanya sebentar. Pasti akan sedikit sulit untuknya.
"Apa tidak merepotkan?"Tanya Ryeowook mencoba memastikan.
"Tidak. Mana kunci motormu? Akan kuambilkan. Kau tunggu saja disini."
Ryeowook menyerahkan kunci motornya dan menunggu Yesung yang beberapa saat kemudian datang bersama motornya tanpa helm yang ditenteng olehnya. Ryeowook ingin tertawa tapi ditahannya. Pasti tidak muat kan? Pikirnya. Ryeowook bangkit dan mendudukkan dirinya di belakang Yesung dengan helm di kepalanya.
Entah apa yang Ryeowook pikirkan sampai membiarkan namja yang kurang lebih satu bulan baru dikenalnya itu mengantarkannya pulang dan membonceng dirinya deengan motornya.
Ryeowook turun setelah sampai di depan rumahnya. Yesung melihat rumah besar di hadapannya dan lumayan dibuat kagum. Yesung turun dan bersiap akan pergi ketika Ryeowook kembali bersuara.
"Aku akan mengantarmu. Tunggulah sebentar, aku akan memasukkan ini dulu."Ryeowook segera berlari kedalam setelah membuka gerbang tinggi itu. Diletakkannya belanjaannya pada salah satu kursi yang ada di taman depan rumah.
"Kajja,"
Ryeowook hendak naik dan menyetir motornya ketika Yesung menariknya dan menggantikan posisinya. Ryeowook hanya diam dan akhirnya menurut. Duduk di belakang Yesung. Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Yesung masih terlalu senang dengan kenyataan yang di dapatnya hari ini. Sementara Ryeowook menrutuki dirinya yang entah kenapa terlhat begitu bodoh dengan segala tawaran Yesung dan tanggapannya. Semoga dirinya tidak menyesal nanti. Harapnya.
Yesung menambah kecepatan motornya ketika ada sebuah mobil pengangkut barang di depannya. Mencoba mendahului hingga akhirnya Ryeowook yang tersentak otomatis memeluk pinggang Yesung. Klasik? Memang. Apa ada yang lebih klasik dari adegan ini? Oh God! Bahkan semua hal yang ada di dunia ini akan dianggap klasik jika ada begitu banyak orang yang mengalaminya. Di depan sana, Yesung tersenyum. Namun kemudian senyum itu memudar ketika sadar dirinya sudah berada beberapa meter dari gedung apartemennya.
"Sampai,"ujar Yesung bersamaan dengan Ryeowook yang melepaskan pelukannya pada pinggang Yesung yang entah karena apa dirinya juga merasa tidak rela.
Ryeowook memandang gedung apartemen mewah di depannya. Sebelum menatap Yesung.
"Baiklah, aku permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya hari ini. Annyeong,"Ryeowook bergegas naik ke atas motornya dan melajukannya dengan cukup kencang mengingat ini sudah begitu sore dan dirinya belum menyiapkan makan malam khusus buatannya untuk malam ini.
.
.
.
Yesung menatap Ryeowook hingga motor putih yang dikendarai oleh namja mungil itu menghilang dari jarak pandangnya. Yesung menyentuh dada kirinya yang masih belum kembali normal. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum yang begitu menawan. Yesung berbalik dan segera memasuki gedung apartemennya untuk kemudian masuk ke lift yang akan mengantarkannya pada lantai tempatnya tinggal. Senyum itu masih bertahan bahkan sampai Yesung masuk dan mendapati Kyuhyun melotot sebal kearahnya.
"Apa kau sempat lupa jalan pulang, Hyung?"sindir Kyuhyun tajam. Yesung menoleh dan semakin melebarkan senyumnya. Diterjangnya tubuh sepupunya itu ke dalam pelukanya untuk kemudian diguncangkan ke kiri dan ke kanan.
Kyuhyun hanya bisa menahan kekesalannya sebentar karena Yesung malah tetap tersenyum setelah melepaskan pelukannya.
"Kurasa kau sudah kehilangan otakmu di supermarket, Hyung."ucap Kyuhyun pedas.
"Ah. Kau benar Kyu. Namja itu benar-benar sudah membawa otakku pergi."balasan Yesung semakin membuat Kyuhyun kesal.
"Kau menyebalkan Hyung!"Pekik Kyuhyun sebelum meninggalkan Yesung yang melongo hingga sadar beberapa detik kemudian.
Yesung segera menghampiri Kyuhyun yang sedang ngambek di sofa dengan televisi yang menyala. Perlahan Yesung meletakkan kantong belanjaannya di meja depan Kyuhyun dan duduk perlahan disampingnya.
"Hey Kyu-ah,"panggil Yesung yang tidak ditanggapi oleh Kyuhyun.
"Kyu, maafkan Hyung eoh? Hyung terlalu bahagia tadi. Jangan marah ne?"
"Kau terlalu bahagia sampai melupakanku yang menunggumu dalam keadaan lapar Hyung."jawab Kyuhyun ketus. Yesung menggaruk kepalanya. tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Kyuhyun.
"Ne, ne. Hyung salah. Hyung mengaku."
"Huh."
"Oh ayolah Kyu. Aku benar-benar tidak bermaksud melupakanmu tadi."Kyuhyun menoleh cepat. Yesung menutup mulutnya.
"Emmm~ maksud Hyung—"
"KAU MENYEBALKAN KIM JONGWOON!"pekik Kyuhyun dan segera berlalu menuju salah satu kamar yang biasa ditempatinya. Yesung kembali mengejar Kyuhyun. Yesung tidak bisa kalau Kyuhyun marah padanya. Dan jujur saja kali ini memang salahnya.
"Kyuhyun-ah,"Yesung mengetuk pintu yang tertutup itu pelan sembari memanggil penghuninya.
"Hyung minta maaf ne. Hyung benar-benar tidak bermaksud melakukannya. Hyung terlalu terbawa suasana. Maafkan Hyung ne. Kita makan sekarang. Hyung tadi beli makanan instant."
"Kau tidak bermaksud berarti kau sengaja Hyung! Memangnya siapa orang itu sampai kau tega melupakan dongsaengmu yang manis ini?"balas Kyuhyun dengan berteriak tak lupa dengan kenarsisannya yang membuat Yesung –lagi-lagi- melongo dibuatnya. 'Masih sempat narsis saat marah? Astaga!' gerutu Yesung dalam hati. Tapi Yesung tidak akan mengatakannya karena harus mendapat maaf dari Kyuhyun dan menceritakan kejadian tadi padanya.
"Orang itu Kim Ryeowook, Kyu-ah."
Dan beberapa detik kemudian pintu terbuka menampakkan Kyuhyun dengan wajah terkejut tak percaya dengan ucapan Hyungnya. Apa lagi yang didapat namja tampan berkepala besar itu? Dan mulailah sesi mari-mendongeng-untuk-Cho Kyuhyun-kita.
.
.
.
Ryeowook tengah membaca sebuah buku ketika pintu kamarnya diketuk. Ryeowook mempersilakan orang itu untuk masuk dan nampaklah Kibum dengan sebuah kaos hitam longgar dan celana santai berwarna abu-abu. Namja itu menutup lagi pintu kamar Ryeowook dan berjalan menuju sofa yang berada tidak jauh dari ranjang Ryeowook. Kibum memperhatikan Ryeowook sampai namja itu melepaskan matanya dari buku dan melepas pula earphone yang menyumbat telinganya. Ditatapnya Kibum dari atas ranjangnya yang masih terdiam. Tidak ada yang berniat membuka percakapan untuk beberapa saat dan hanya saling menatap satu sama lain.
"Kuharap kau tidak terlalu dekat dengan namja berkepala besar itu, Wook-ah."akhirnya Kibum memutuskan untuk bicara karena Ryeowook sama sekali tidak menunjukkan kalau dia akan membuka suara.
"Setelah yang terjadi hari ini, aku merasa tidak yakin, Bum-ah."balas Ryeowook lesu. Memang, Ryeowook merasa begitu nyaman saat bersama dengan namja itu, Yesung. Berbeda dengan kenyamanannya ketika besama Kibum atau Leeteuk. Perasaan yang dirasakannya terasa berbeda. Membuat jantungnya berdegup cepat hingga membuatnya merasa sesak namun begitu menyenangkan. Terlebih saat memeluk pinggangnya tadi. Rasanya begitu hangat.
"Jangan melibatkan siapapun Wook-ah. Terlebih appa namja itu termasuk orang hukum. Kau tidak akan membahayakan kita kan?"ucap Kibum lembut. Mencoba memberi pengertian pada namja yang sebentar lagi akan mengubah pikirannya dan melanggar prinsipnya sendiri.
"Aku tahu, Kibum-ah. Aku akan berusaha. Bantu aku ne?"Ryeowook mencoba tersenyum. Dan itu terasa begitu menyakitkan untuk Kibum. Senyum itu bahkan lebih menyedihkan daripada senyum-senyum yang pernah ditunjukkannya.
"Bukankah aku selalu berada di sampingmu Wook-ah?"balas Kibum dengan sebuah senyum tipis di bibir merahnya.
"Ne. Ah, kita akan bertemu pelanggan kita besok setelah kuliah. Kau selesai jam berapa?"
Kibum yang mengerti jika Ryeowook hanya mengalihkan pembicaraan hanya menjawab sewajar mungkin.
"Oh? Aku akan selesai sore. Mau berangkat jam berapa?"
.
.
.
Kibum berjalan menyusuri koridor kampusnya sendirian. Ryeowook sedang ada kelas dan kelasnya baru akan dimulai setengah jam lagi. Dan setengah jam yang dimilikinya itu ingin dipakainya untuk menyelesaikan novelnya yang belum terelesaikan karena 'pekerjaannya' beberapa hari yang lalu dan kemarin belum sempat melanjutkannya. Dilangkannya kakinya yang terbalut celana jeans abu-abu itu –sedikit berbeda dari biasanya- menuju taman yang sudah menjadi tempatnya bersama Ryeowook untuk bersantai sejak beberapa hari yang lalu. Mendudukkan dirinya di bawah pohon yang sama dengan yang beberapa hari yang lalu lalu mulai membuka bukunya. Menyimpan pembatas bukunya baru kemudian mulai membaca dengan satu kaleng soda di samping kanannya.
Kibum tersenyum tipis ketika sudut matanya menangkap bayangan seseorang yang sudah membuatnya –jujur saja- tertarik namun juga harus dibuangnya jauh-jauh dari hidupnya. Namja yang lebih tinggi beberapa centi darinya itu kian mendekat dan Kibum mulai mendatarkan kembali rautnya.
"Sendirian Kibum-ssi?"sapanya ketika sampai di depan Kibum.
"Seperti yang kau lihat, Kyuhyun-ssi."jawab Kibum tanpa mengalihkan tatapannya dari buku.
Kyuhyun beranjak ke samping Kibum.
"Boleh aku duduk disini?"dan tanpa menunggu jawaban Kibum, Kyuhun mendudukkan dirinya di samping Kibum.
"Aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu Kyuhyun-ssi,"Kibum mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun yang hanya tersenyum.
"Tapi aku sudah tahu jawabanmu Kibum-ssi. Kau lupa? Aku ini jenius,"balas Kyuhyun tak lupa dengan membanggakan dirinya sendiri.
"Sombong sekali kau, Kyuhyun-ssi?"
"Bukan aku yang berkata seperti itu. Kau tahu?—"
"—tidak."
"Ck. Aku belum selesai."
"Lalu?"
Kyuhyun begitu kesal dibuatnya. Oh Gosh! Kenapa namja ini jadi begitu menyebalkan? Pekik Kyuhyun dalam hati.
"Dengarkan aku, Kibum-ssi. Bukan aku yang mengatakan kalau aku ini jenius. Tapi orang-orang tidak punya otak itu yang mengatakan kalau aku jenius."
"Benarkah?"Tanya Kibum seolah percaya dengan ucapan Kyuhyun yang jelas hanya pura-pura. Kyuyun mengangguk semangat.
"Hebat sekali orang-orang tidak punya otak itu bisa mengatakan kalau kau ini jenius? Berpikir dengan apa mereka sampai bisa tahu kalau kau ini jenius? Dan ah, Kyuhyun-ssi, bukankah beberapa menit yang lalu kau sendiri yang mengatakan kalau kau ini jenius? Ckckck."
Kyuhyun malu dibuatnya. Kalimat –yang terdengar seperti mengejek- Kibum yang seolah mengatakan dirinya baru saja memuji diri sendiri itu cukup membuatnya malu. Sudah biasa kalau dirinya berbangga memiliki otak jenius di depan Yesung atau teman dekatnya. Tapi bahkan Kibum ini bukan siapa-siapanya. Dan Kyuhyun tidak pernah membanggakan dirinya sendiri di depan orang asing. Well, anggap saja Kibum ini orang asing karena mereka juga sama sekali tidak dekat.
"Huh."hanya itu yang mampu keluar dari mulut Kyuhyun. Kibum ingin tertawa. Namun ditahannya dan hanya tertawa dalam hati.
"Tapi kau memang jenius, Kyuhyun-ssi."ucap Kibum tulus. Sebagai ganti atas kalimatnya yang mungkin keterlaluan. Sementara Kyuhyun hanya tersipu dibuatnya. Oh, Kyuhyun merasa seperti seorang gadis SMA yang sedang jatuh cinta sekarang. Bertingkah malu-malu, ceroboh, berdebar-debar dan jangan lupakan rona kemerahan yang dengan nakalnya hinggap di pipi putih pucatnya.
Suasana hening menjebak keduanya untuk tetap pada pikiran masing-masing. Debaran jantung Kyuhyun yang sempat bertalu cepat mulai kembali normal. Dan warna pipinya juga sudah normal tanpa rona kemerahan. Kibum sudah sampai pada halaman terakhir bukunya hingga beberapa saat kemudian melirik jam tangannya dan beranjak berdiri. Tangannya menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor kemudian meraih tas Backy Back-nya untuk kemudian bersiap memasuki kelasnya.
"Kau mau masuk sekarang atau nanti, Kyuhyun-ssi?"tanyanya sebelum beranjak meninggalkan Kyuhyun yang sepertinya masih terlalu sibuk dengan pikirannya.
Kyuhyun yang tersadar jika dirinya hanya sendiri segera berdiri dan membersihkan celananya untuk kemudian mengikuti jejak Kibum yang sudah berjalan di koridor yang tidak cukup sepi.
.
.
.
Ryeowook duduk di bangku pojok di cafeteria kampusnya. Kesepuluh jemarinya saling bertautan menumpu dagunya. Matanya menatap ke arah pintu masuk. Menunggu datangnya seseorang yang sudah ditunggunya sejak setengah jam yang lalu. Senyumnya terkembang tipis ketika matanya menangkap siluet sosok yang sudah ditunggunya. Sebelah tangannya kemudian melambai ingin memberitahu sosok tersebut tempat duduknya. Sosok itu melihatnya dan berjalan menghampirinya.
"Kurasa tempat ini jadi spot favorite-mu, Wook-ah."ucapnya ketika sudah mendudukkan dirinya di depan Ryeowook. Ryeowook hanya tersenyum dan menyerahkan sebuah kotak bekal pada Kibum.
Keduanya makan dalam diam. Hingga ahirnya Ryeowook membuka suara ditengah kegiatan makan mereka yang hamper selesai.
"Aku sudah bertemu dengan Lee Sungjong. Putra kedua Lee Taesun."ucap Ryeowook sambil memperhatikan Kibum yang memasukkan sushi ke dalam mulutnya. Namja itu mendongak dan menatap Ryeowook.
"Ne, aku bertemu dengannya. Sehari setelah kita bertemu dengan tuan Jung waktu itu."
"Kau tidak menceritakannya padaku lebih awal?"
"Aku hanya bertemu dengannya sebentar. Dia sedang bersama dengan Kai saat aku akan menjemput Kai waktu itu."
"Dia satu sekolah dengan Kai?"
"Ne,"
"Kai tahu?"
"Kau ingin aku memberitahunya?"
"Mungkin kita,ah, mungkin kau akan membutuhkan sedikit bantuannya nanti."
"Berarti aku sudah benar."ujar Ryeowook sambil tersenyum tipis. Kibum memutar bola matanya. Kena lagi. Pikirnya.
Sementara beberapa meja di depannya, seorang namja tangah mengawasinya sejak kedatangannya hampir satu jam yang lalu.
"Yak Hyung! Jangan diperhatikan terus. Akan jauh lebih baik kalau kau menghampirinya."
"Kau berisik Cho Kyuhyun."balasnya pada Kyuhyun.
"Ish. Kau benar-benar menyebalkan Kim Yesung."sahut Kyuhyun pada namja di depannya, Yesung.
Namja yang berada di meja samping mereka tersenyum. Atau menyeringai?
'Apa aku harus memulainya sekarang, Nathan-ssi? Ah, atau harus kupanggil dia Kim Ryeowook sekarang? Tapi aku tidak akan buru-buru. Meskipun namja bernama Kim Yesung itu tampak tertarik padamu, tapi kau bahkan tidak memberikan respon lebih untuknya. Bukankah itu berarti aku harus menunggu untuk sesuatu yang lebih menyenangkan? Mari bersenang-senang, Nathan-ssi.'
.
.
.
T.B.C
.
.
.
Akh! Ichi gag merasa ini bagus. Hehe… bahkan mungkin lebih buruk dari chapter sebelumnya? Oh God. Mau di lanjut atau udahan aja? Ichi nunggu respon readers aja deh. Hehe~
Gag pake bacot, RnR ne^^ gomawo~~ *bow with Kibum*
