Pagi tiba. Para burung riuh bernyanyi meramaikan cuaca pagi yang cerah. Suara orang-orang saling bersahutan, menambah keramaian.
Disebuah kamar dengan dekorasi penuh akan benda-benda antariksa. Seorang pemuda manis bersurai ungu (yang tak lain adalah Fang) masih nyenyak menikmati mimpinya. Sesekali tubuhnya akan merapatkan diri didalam selimut bergambar antariksa yang masih membungkusnya.
Membuat seorang pemuda lain berdecak pelan di ujung pintu kamar mandi didalam kamarnya.
Boboiboy, berjalan perlahan kearah jendela kamarnya. Berniat untuk membuka gorden jendelanya supaya cahaya matahari bisa masuk dan menerangi kamarnya. Sebelum menarik gordennya, ia melirik sedikit kearah pemuda manis yang bahkan tak ia tau namanya. Hingga akhirnya...
Srak..
Gorden itu sukses terbuka. Dan sinar matahari langsung menyorot kearah Fang yang masih bergelung dengan selimut. Namun karena wajahnya yang ikut tersorot, Fang pun merasa terganggu. Membuatnya menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Perlahan tapi pasti, kedua kelopak matanya terbuka. Menampilkan separang iris violet memikat.
Sejenak, Boboiboy merasa terpukau akan kedua iris indah itu. Tapi ia langsung membuang pemikirannya barusan.
"Ugh.. dimana aku?" Ujar Fang serak sembari memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Tubuhnya masih tetap terbaring nyaman diatas kasur.
Samar-samar ia mencium bau citrus yang menyejukan. Bercampur dengan bau maskulin yang menenangkan. Bau yang sama seperti milik sosok yang di peluknya semalam. Tunggu, apa?
Fang yang menyadari jika kedua bau itu bukanlah bau khas miliknya, atau pun bau parfum yang biasa di semprotkannya sebagai pengharum ruangan di kamarnya. Atau bahkan bau kamar yang disewakan di klub langganannya itu. Langsung saja ia membelakan kedua bola matanya lebar-lebar.
Ia langsung menelisik seisi penjuru ruangan -atau kamar, yang sekarang di tempatinya.
"Tunggu, kamar siapa ini?" Ujarnya shock.
"Kamarku." Jawab sebuah suara. Fang langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dan tubuhnya total membeku ketika ia melihat sosok seorang pemuda berwajah tampan tengah menatapnya sembari tersenyum ramah di samping ranjang yang ditidurinya.
Oke. Hanya seorang pemuda. Fang tidak akan membeku hanya karena ia mengetahui fakta jika dirinya terbangun di tempat asing. Ia tidak peduli. Yang membuatnya membeku adalah..,
Kenapa pemuda itu hanya memakai sebuah celana pendek selutut tanpa atasan. Ulangi. TANPA ATASAN. Alias pemuda itu tengah toples.
Dalam hati Fang mencoba mengontrol dirinya. Belum lagi helai hitam sekelam malam dengan sedikit warna putih -yang entah memang sengaja di cat atau tidak- itu yang basah. Menandakan jika pemuda itu baru saja selesai membasuh dirinya.
'Oke, bukan hal yang aneh jika seorang laki-laki bertelanjang dada. Didepan laki-laki lain pula. Oke, itu adalah hal yang biasa. Tapi..,'
Fang melirik sedikit kearah pemuda tampan yang masih menyunggingkan senyum itu. Mungkin lebih tepat kalau Fang tengah melirik kearah tubuh tegap berbalut kulit tan, dengan dada bidang dan otot perut yang lumayan terbentuk.
'Shit. Apa yang kau pikirkan?'
"Hei, kau baik-baik saja?" Fang tersentak ketika Boboiboy melambaikan tangannya didepan wajah Fang. Fang yang tidak sadar jika dirinya melamun sedari tadi, hanya bisa mengerjap-erjapkan kedua kelopak matanya bingung.
Dan hal itu membuat Boboiboy total gemas setengah mati. Dalam hati merapal jika pemuda di depannya ini memang luar biasa imut dan manis.
"Apa kau perlu sesuatu? Kau kan habis mabuk semalam." Lanjut Boboiboy. Fang masih memproses ucapan yang di lontarkan pemuda tampan didepannya itu. Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya Fang bisa memberikan jawaban padanya.
"O-oh.. Yeah, kurasa aku butuh air dingin."
"Oke. Kau tunggu disini dulu, akan ku ambilkan. Omong-omong namaku Boboiboy, siapa namamu?" Fang melirik sedikit kearah kanan. Mencoba menghindar agar kedua matanya tidak terus terpaku pada tubuh pemuda bernama Boboiboy itu.
"Fang." Jawabnya pelan.
"Oke Fang, sebentar ya." Boboiboy berjalan perlahan keluar kamarnya. Mencoba menjadi tuan rumah yang baik dengan mengambilkan apa yang tamunya butuhkan.
Setelah tubuh Boboiboy menghilang tertelan pintu yang tertutup, Fang langsung saja membanting tubuhnya ke ranjang. Dalam hati mengumpati pemikirannya yang sedikit aneh pada Boboiboy. Ia bahkan bisa merasakan wajahnya yang memanas.
'Sial.. sial.. sial..'
XoX
Ditempat lain, masih dalam satu atap. Boboiboy menuangkan sebotol air dingin yang baru saja ia ambil dari kulkas. Kedalam gelas kaca berukuran tanggung. Kemudian menaruhnya di sebuah nampan yang juga sudah terisi dua potong sandwich.
"Boboiboy." Boboiboy membalikan tubuhnya menghadap kearah si pemilik suara yang sudah ia hafak di luar kepala.
"Ah.. Tok Aba. Selamat pagi Tok." Tok Aba, kakek Boboiboy. Menganggukan sedikit kepala sembari tersenyum sebagai balasan dari sapaan yang dilontarkan cucunya.
"Selamat pagi. Tidak biasanya kau hanya makan sandwich Boboiboy. Terburu-buru ke kampus?" Tanya Tok Aba. Boboiboy menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Inginnya sih dia jujur saja kalau habis ke klub semalam. Tapi bisa-bisa ia di bantai Tok Aba.
Jadi sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan melirikkan matanya kearah lain, Boboiboy berusaha menjawab pertanyaan sang atok.
"Ada teman Boboiboy yang menginap tok. Jadi Boboiboy mengambilkannya makanan." Jawab Boboiboy. Tok Aba hanya manggut-manggut paham.
"Kenapa tidak makan disini saja? Makan bersama-sama."
"Uh, dia bilang sedikit pusing tok. Jadi Boboiboy bawakan makanannya keatas. Tidak apa-apa kan tok?" Ujarnya dengan suara yang sedikit gugup. Dalam hati merapal do'a, semoga saja atoknya tak curiga. Dan beruntunglah Tok Aba menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Membuat Boboiboy menghela nafasnya lega.
"Tidak apa. Bawakan makanannya cepat."
"Baik tok." Dan tanpa babibu lagi, Boboiboy langsung melesat menuju kamarnya. Dan sekali lagi ia menghela nafasnya lega karena sang atok sepertinya memang tak curiga padanya. Tapi..
"Boboiboy." Panggil Tok Aba. Boboiboy langsung menghentikan langkah kakinya dan mematung kaku di anak tangga ke 5.
"Cepat pakai bajumu. Cuacanya dingin ini."
"O-oh.. Baik tok."
XoX
"Fang." Fang tersentak kaget ketika suara Boboiboy tiba-tiba saja memasuki indra pendengarannya. Ia melirik sedikit kearah Boboiboy yang tengah menaruh nampan berisi makanan dan minuman di meja samping ranjangnya.
Dan Boboiboy masih tetap belum memakai bajunya.
"Ini minumlah." Ujar Boboiboy sembari menyodorkan segelas air putih dingin untuk Fang. Fang langsubg menerimanya tanpa menatap Boboiboy. Langsung saja ia teguk habis isinya. Mendesah lega ketika rasa dingin menyejukan mengaliri kerongkongannya yang serasa terbakar.
Ia lalu menaruh gelas kosong itu di atas meja. Dan tanpa diperintah snag tuan rumah, Fang langsung mengambil sepotong sandwich yang juga di bawakan Boboiboy. Tidak peduli kalau Boboiboy memang membawakan sandwich itu untuknya atau tidak.
Boboiboy sendiri hanya diam sembari memperhatikan Fang lamat-lamat. Bukannya tak menyadarinya. Fang hanya mencoba bersikap biasa saja. Karena hei, orang mana yang tak akan merasa gugu dan risih ketika di tatap sedemikian rupa oleh orang lain?
Belum lagi hal lain yang benar-benar mengganggu pikiran Fang.
Dalam hati ia meyakinkan diri untuk mengatakannya pada Boboiboy. Dan digigitannya yang ke sepuluh, Fang akhirnya memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Boboiboy." Pnaggil Fang. Boboiboy hanya menyahutinya dengan gumamam tak jelas. Namun Fang tau jika itu tanda bahwa Boboiboy akan mendengarkan ucapannya.
"Apa setiap pagi, kau memang tidak pernah memakai bajumu?" Ujarnya lirih. Boboiboy mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya ia menggaruk tengkuknya sembari tersenyum kikuk.
"Yeah, tidak setiap hari juga kurasa. Maaf ya kalau membuatmu tidak nyaman." Fang lalu mengendikan bahunya acuh mendengar jawaban Boboiboy. Ia kembali memakan sandwichnya dengan tenang. Sedangkan Boboiboy berjalan kearah almarinya dan mengambil sebuah kaos berlengan pendek berwarna coklat polos. Ia langsung memakainya dan berjalan kearah meja belajarnya. Mendudukan dirinya disana. Mengamati Fang dalam diam.
Hingga akhirnya Fang menyelesaikan sarapannya.
"Fang, kau kuliah atau kerja?" Tanya Boboiboy tiba-tiba. Fang melirik sedikit kerah si pemuda pemilik kamar yang digunakannya untuk bermalam.
Sejujurnya ia bukanlah tipekal orang yang senang jika kehidupannya diusik. Maksudnya, jika ada orang luar yang ingin tau tentang dirinya. Yeah, sedikit contohnya seperti pertanyaan yang di lontarkan Boboiboy. Tapi kenapa harus kuliah atau kerja? Apa wajahnya terlihat setua itu?
Boboiboy yang merasa jika pertanyaannya diabaikan hanya menghela nafasnya pelan.
"Tidak apa kalau kau tak ingin memberitauku. Setidaknya beritau aku alamatmu. Agar aku bisa mengantarmu pulang." Lanjutnya. Boboiboy lalu berjalan ke arah almarinya. Mengambil sebuah celana jeans panjang, kemudian berjalan kearah kamar mandi. Meninggalkan Fang yang hanya terdiam diatas ranjang.
Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Boboiboy sudah keluar dari kamar mandi dengan celana jeans yang di bawanya tadi. Fang mengamati Boboiboy dalam diam. Dari Boboiboy yang memakai jaket berwarna jingga dan debuah topi dino yang, menurutnya kekanakan. Tetapi entah kenapa menambah kesan keren untuk Boboiboy.
'Apa, keren?'
Fang langsung menggelengkan kepalanya guna mengusir pemikiran anehnya barusan.
"Hei Fang, mau tunjukan alamat rumahmu kan?"
"Kau mau kerja?"
Bukannya menjawab, Fang justru memberikan pertanyaan kepada Boboiboy. Boboiboy yang mendengar pertanyaan Fang, sukses menaikan sebelah alisnya.
"Apa wajahku setua itu?" Ujar Boboiboy. Fang yang mendengarnya langsung menggembungkan sebelah pipinya. Hei, harusnya tadi ia yang bertanya begitukan.
"Tidak. Lupakan. Nanti akan kutunjukan. Sekarang cepat antarkan aku pulang."
"Iya.. iya.. Ayo."
To Be Continue
Oke fiks..
Ini luama banget yak...
Hwhw.. Gomennasai...
Tapi lebih panjangkan yak..
Iyalah... lebih panjangan kan...
Walaupun dikit.. hwhw..
Abaikan typo yak..
Manusia itu tidak ada yang sempurna :v...
Oke..
See you next chap..~
