.
.
Baekhyun datang ke sekolah dengan wajah berseri, ia tersenyum begitu lebar menampilkan giginya yang putih dan rapih saat memsuki kelas. Luhan yang melihat ekspresi Baekhyun sudah bisa menebak apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut. Luhan hanya mampu menggelengkan kepalanya sembari menunggu Baekhyun di bangkunya.
"Apa kau sudah gila? Ini masih pagi dan kau sudah tersenyum-senyum sendiri." cibir Luhan.
"Biarkan saja, yang pasti aku merasa senang hari ini." Baekhyun menjawab dengan tidak peduli.
"Ku tebak, kau sudah melakukannya dengan si Park itu kan?" Luhan memicingkan matanya.
"Melakukan apa? Aku tak melakukan apa-apa." Baekhyun sungguh polos, ia bahkan benar-benar tidak mengetahui maksud Luhan.
"Tidak usah berlaga polos Byun, aku tahu kau pasti melakukan itu semalam." Luhan tidak mau kalah, ia merasa sahabatnya tengah berpura-pura bodoh.
"Apa yang kau maksud Lulu? Katakan dengan jelas, karena aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiranmu." Baekhyunpun akhirnya kesal, kini raut wajahnya berubah.
"Astaga Byun, ternyata kau benar-benar tidak mengerti. Maksudku, kau sudah melakukan seks kan dengan si Park tadi malam?" Luhan akhirnya to the point.
"Luluuu.. Kau ini kenapa? Aku tidak melakukan hal seperti itu bodoh. Lagipula aku tidak mengerti cara melakukannya." Baekhyun tak habis pikir dengan jalan pikiran Luhan, sementara Luhan hanya tertawa bodoh mendengar penuturan dari Baekhyun.
"HAHAHA.. Mau aku ajari, itu adalah hal yang menyenangkan Bee." goda Luhan sambil menaik turunkan alisnya.
"TIDAK." ucap Baekhyun singkat. Luhan hanya bisa menghela napas panjang, ia bersyukur sahabatnya masih polos seperti biasanya.
Baekhyun dan Luhan menunggu kedatangan Joy dan Jongdae, kemudian disusul oleh wali kelas. Pelajaran hari ini terasa begitu cepat.
Baekhyun dan teman-temannya kini tengah serius mengikuti pelajaran matematika. Bapak Choi kini memberikan beberapa latihan soal kepada murid-muridnya. Ia memberikan waktu untuk para murid mengerjakan, kemudian ia akan meminta beberapa murid untuk menjawab soal-soal tersebut.
"Jongdae, coba kau kerjakan nomor 1. Jaehyun, kerjakan nomor 2, dan Luhan coba kerjakan nomor 3." perintah Pak Choi.
Jongdae dan Jaehyun segera berjalan ke depan papan tulis untuk mengerjakan soal tersebut, tetapi Luhan masih duduk di tempatnya. Kini Luhan tengah mencoba merebut buku milik Baekhyun. Luhan belum mengerjakan satu soalpun, karena sedari tadi ia sibuk bermain handpone bertukar pesan dengan sang kekasih yaitu Sehun.
"LUHAN.. CEPAT KERJAKAN!" Bentak Pak Choi.
Baekhyun yang tadinya mencoba untuk mempertahankan bukunya kini membiarkan Luhan untuk mengambil bukunya. Ia tidak tega apabila Luhan terkena marah atau hukuman dari Pak Choi. Lagipula semalam Luhan sudah membantu Baekhyun, jadi tidak ada salahnya kalau sekarang Baekhyun membalas perbuatan Luhan.
"Ah, akhirnya." Luhan kembali dengan lesu.
"Hutangku lunas ya.." ucap Baekhyun santai.
"Utang apa?" Luhan bingung.
"Utangku semalam." ucap Baekhyun singkat.
"Aaaah, tidak bisaaaaa..." Luhan mengerti maksud Baekhyun, tetapi Baekhyun hanya mengangkat bahu tidak peduli.
...
Sehun sedang menunggu Luhan di taman dekat sekolah. Luhan meminta Sehun untuk datang lebih awal, karena Luhan tidak ingin menunggu Sehun. Akhirnya Sehun hanya mengikuti kenginan Luhan.
Sudah dua puluh menit berlalu sejak Sehun tiba. Karena bosan Sehun akhirnya berjalan mengitari taman tersebut. Ia melihat ada penjual es krim, ia membelikan es krim untuk Luhan dan Baekhyun. Karena ia tahu bahwa Luhan pasti akan datang bersama dengan Baekhyun.
Setelah selesai membeli es krim, ia kembali duduk di bangku taman. Tak berapa lama terlihat Luhan dan Baekhyun berjalan kearahnya. Luhan tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya, sedangkan Baekhyun cemberut karena tangannya ditarik-tarik oleh Luhan.
"Sudah menunggu lama?" tanya Luhan manja.
"Ah tidak, aku baru menunggu sekitar tiga puluh menit." jawab Sehun dengan jujur.
"Itu lama bodoh." sangga Baekhyun.
Sehun menyodorkan tangannya yang memegang ek krim "Ini untuk kalian."
"Terimakasih sayangkuu.." ucap Luhan dengan keras, membuat Sehun tertawa sedangkan Baekhyun hanya tertunduk malu.
Mereka bertiga akhirnya mengobrol untuk sementara waktu sambil menunggu es krim yang mereka makan habis. Baekhyun merasa kagum dengan hubungan Luhan dan Sehun mereka terlihat begitu manis. Setelah es krim itu habis Baekhyun pun akhirnya pamit terlebih dahulu karena sudah di jemput.
"Aku pulang ya." Baekhyun membungkukkan badannya.
"Kenapa tidak ikut kami saja Bee?" Ajak Luhan.
"Tidak, silahkan kau manfaatkan waktumu bersama kekasihmu." Baekhyun menolak dengan halus.
"Bukankah kau mau di ajari itu..." ucapan Luhan belum selesai terpotong karena mulutnya di tutup oleh tangan Baekhyun.
"Diajari apa?" tanya Sehun penasaran.
"Lupakan ucapan Luhan, baiklah aku pulang. Bye." Baekhyun segera meninggalkan sahabatnya itu dengan tergesa-gesa. Pipinya kini merah mendengar perkataan Luhan tadi.
Sehun dan Luhan pun akhirnya membiarkan Baekhyun pergi. Luhan berkata bahwa ia penat dan ingin sedikit hiburan. Lalu, Sehun memberikan ide untuk bermain di game center. Kini mereka berencana untuk pergi ke game center.
Selama perjalanan Luhan bersenandung kecil, Sehun tersenyum mendengar suara merdu Luhan. Ia mengusak surai hitam Luha dengan lembut.
"Suaramu indah. Bagaimana kalau kita pergi karaoke saja." Sehun tersenyum sangat tampan, Luhan hanya bisa mengangguk. Dan akhirnya mereka merubah tujuan menjadi pergi ke tempat Karaoke.
...
Chanyeol sudah satu jam menunggu Baekhyun di rumahnya. Ia sekarang sedang berbincang-bincang dengan ibu sang kekasih. Mereka terlihat begitu akrab, Chanyeol memang orang yang mudah menyesuaikan diri. Ia pun cepat akrab dengan siapapun, karena Chanyeol selalu bersikap sopan dan ramah.
Pintu rumah terbuka, Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun yang datang. Tetapi yang datang bukanlah Baekhyun melainkan Minho yaitu ayah dari sang kekasih.
"Rupanya ada tamu." ucap Minho dengan ramah.
"Iya, Chanyeol datang untuk bertemu dengan Baekhyun." sahut Sunny.
"Wah, ada apa gerangan?" tanya Minho pada Chanyeol.
"Aku hanya ingin mengajaknya keluar Tuan. Kebetulan hari ini aku sedang tidak bertugas." Chanyeol mengungkapkan maksudnya.
"Oh begitu, akhir-akhir ini apakah kalian dekat? Ini sudah kedua kalinya kau datang meminta ijin mengajak anakku pergi." Minho menatap serius pada Chanyeol.
"Ah itu.. Sebenarnya..." ucapan Chanyeol terpotong.
"Akuuu pulaaaangg~~" suara khas Baekhyun terdengar dengan jelas.
Baekhyun tersentak saat melihat Chanyeol sedang duduk berdadapan dengan kedua orang tuanya. Ada apa batinnya. Ia melihat wajah kedua orang tuanya tengah serius berbincang dengan Chanyeol hingga ia datang. Baekhyun berpikir apakah Chanyeol membuat kesalahan. Atau jangan-jangan Baekhyun bercerita pada kedua orang tuanya bahwa mereka berdua berpacaran. Dan orang tuanya tidak menyetujui itu, karena mereka sesama laki-laki.
"Ayah.. Ibu.. Chanyeol.." ucap Baekhyun gugup.
"Sini duduk sebelah Chanyeol." pinta sang ibu. Baekhyun hanya mengangguk dan menuruti permintaan Sunny.
"Sekarang coba jelaskan." Sambung Minho.
"Sebenarnya.." ucapan Chanyeol terpotong lagi.
"Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu. Aku tau ini salah, tapi bagaimana lagi aku menyukainya. Maafkan kami, aku mohon." Ucapan Baekhyun membuat ketiga orang dewasa disana tertohok. Chanyeol tidak bermaksud untuk mengungkapkan bahwa mereka berpacaran, tetapi Chanyeol sebenarnya ingin mengajak Baekhyun makan di festival makanan dekat rumahnya karena disana banyak menu berbau strawberry kesukaan Baekhyun.
"Kau berpacaran dengannya?" tanya Sunny dengan suara meninggi. Sedangkan Minho hanya menatap dengan tatapan tajam pada Baekhyun dan Chanyeol.
Kedua anak adam itu diam seribu bahasa. Baekhyun bodoh, seharusnya biarkan Chanyeol yang berbicara. Kalau seperti ini tidak ada yang tahu nasib hubungan mereka.
...
Jongin menikmati hari liburnya dengan tidur seharian, ia bahkan tidak beranjang sedikitpun dari kasurnya. Perutnya berbunyi, membuat sang empunya terusik. Akhirnya Jongin pun bangun, ia berjalan dengan lemas ke arah dapur. ia membuka kulkasnya tidak ada apapun disana.
Jongin meraih ponselnya hendak menelpon layanan pesan antar makanan. Karena ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan siapapun. Saat layar ponselnya menyala Jongin melihat foto yang dijadikannya sebagai homescreen. Disana terdapat Sehun, Chanyeol, Kyungsoo, Minseok, dan dirinya. Hatinya mencelos mengingat semua kenangan mereka bersama.
Jongin memilih untuk menyimpan kembali ponselnya dan pergi mandi. Ia akan membeli makan di cafe milik ibu Chanyeol saja.
Setelah beberapa menit ia bersiap, ia keluar dari apartemennya. Ia pikir berjalan kaki akan lebih menenangkan sekaligus berolahraga.
"Kalau jalan hati-hati ya, jangan bermain ponsel terus." Suara yang tidak asing terdengar di gendang telinga Jongin. Ia segera melihat kesekeliling, berharap menemukan yang empunya suara. Hingga ia melihat seseorang yang sangat ia kenal kini tengah mengusap pelan kepala seorang anak kecil.
"Kyungsoo.." teriak Jongin.
Kyungsoo yang mendengar namanya disebut langsung menoleh kearah suara itu berasal. Wajahnya yang semula tersenyum kini berubah menjadi datar. Ia langsung meninggalkan tempat itu juga setelah mengetahui siapa yang memanggilnya.
Jongin melihat Kyungsoo semakin menjauhpun segera berlari mengejarnya. Ia ingin berbicara dengan Kyungsoo. Ia ingin meminta maaf atas perbuatannya selama ini.
"Kyungsoo tunggu.. Sebentar.." Jongin kembali berteriak. Kyungsoo semakin mempercepat langkah kakinya. Tetapi apa boleh buat tangannya kini telah di raih oleh seseorang.
"Mau apa lagi?" Bentak Kyungsoo.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu." Jongin menggenggan tangan Kyungsoo dengan kedua tangannya.
"Baiklah, aku sudah memaafkanmu. Jadi lepaskan." Kyungsoo berusaha menarik tangannya dari genggaman Jongin.
"Dengarkan aku dulu, ku mohon." pinta Jongin.
"Apa lagi yang perlu aku dengar? Kau tidak malu? Semua mata melihat kearah kita. Bukannya kau paling tak ingin orang lain tahu bahwa kau sempat menyukai laki-laki?" ucapan Kyungsoo membuat hati Jongin seperti ditusuk pisau. Benar, perkataan Kyungsoo benar adanya, ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia juga menyukai laki-laki. Tetapi entah mengapa saat ini ia bahkan tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya.
"Aku tidak peduli, dengarkan aku dulu yaa." Jongin memohon dengan wajah memelas.
"Ah baiklah." Kyungsoo pun menyerah.
Jongin membawa Kyungsoo menuju cafe milik ibu Chanyeol. Sepanjang jalan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Ia takut jika ia berbicara akan salah dan membuat Kyungsoo berubah pikiran.
...
..
.
TBC
.
..
...
HELLO maaf keterlambatan update nyaa. semoga masih ada yang nunggu ff ini.
Sama seperti yg aku bilanh di HF kemarin kalau memang masih ada yg menunggu aku usahakan seminggu sekali untuk fast update.
terimakasih :)
Review jusseyo :)
SALAM CHANBAEK IS REAL
