Sehun kangen Jongin.

.

Tunggu.

Siapa yang ngomong begitu?

Katanya mbah google sih, jarak Korea ke Jepang cuma 942 km kok.

Iya, cuma segitu.

Tapi berhasil bikin uring-uringan. Hebat ya.

.

.:0o0o0:.

.

Best Enemy

Kaihun

T Fiction

BL. Gaje. DLDR.

.

.

.:0o0o0:.

"Uhuk."

Sehun terbatuk ringan sambil menatapi langit-langit ruangan ini. Tubuh tingginya terbaring lemah di ranjang uks dengan suhu badan yang tinggi. Ia bersikeras menolak perintah Tao untuk pulang ke rumah saja.

Ia sendiri tak mengerti mengapa dirinya jadi drop secara tiba-tiba, padahal sehari sebelumnya ia masih sehat-sehat saja. Pandangannya mengabur dan tubuhnya menggigil di jam pelajaran olahraga yang notabene terpapar hangatnya sinar mentari.

Matanya melirik jam dinding yang menggantung di dekat pintu masuk. Jam setengah tiga. Sudah empat jam pelajaran ia lewati dengan tidur di uks. Perasaannya tak kunjung membaik meski sudah meminum sebutir pil parasetamol dan tidur selama beberapa saat.

Derit halus pintu yang terbuka tak membuat Sehun bergeming. Mungkin hanya perawat, pikirnya. Ia tetap meneruskan tidurnya, lebih tepatnya mencoba untuk tidur lagi. Namun deritan kursi yang bergesekan dengan lantai membuatnya sedikit tergoda untuk mengintip di balik kelopak matanya, tentang siapa gerangan orang yang memasuki uks ini. Sehun segera membuka mata saat tahu siapa yang memasuki ruangan ini.

"Oh, apa aku membuatmu terbangun?" gumamnya menyadari pergerakan Sehun.

"Tidak. Aku memang sudah bangun."

Canggung. Canggung luar biasa menyelimuti mereka berdua. Sehun merasa kebingungan dalam situasi ini. Ia melirik pemuda yang rambutnya kini bercat menjadi pirang yang tengah duduk diam di samping ranjangnya. Hm, guru BP kayaknya belum patroli nih buat ngegundulin kepala-kepala yang bercat.

Dih, Hun. Sempet-sempetnya mikirin begitu.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Masih kurang nyaman."

"Kenapa tidak pulang saja? Kau bisa beristirahat dengan nyaman di rumah."

Sehun menggeleng singkat. Dengan itu, Junhong pun terdiam pula. Seakan sadar dirinya terlalu banyak bicara. Membiarkan Sehun kembali beristirahat.

"Kenapa kau disini?" tanya Sehun tiba-tiba, memecah keheningan.

"Huh?"

"Maksudku, kau tidak mengikuti pelajaran?"

"Oh, itu. Kelas sedang kosong. Lagipula, sebentar lagi kan jam pulang. Jadi aku bermaksud menjengukmu disini."

Sehun dan Junhong kembali diam. Terkadang saling mencuri pandang, tetapi tak satupun diantara mereka yang membuka mulut untuk mengisi keheningan yang awkward ini.

"Tak seharusnya kita seperti orang asing yang baru saja mengenal." Ucap Sehun lirih.

"Ya. Kurasa kau yang menghindariku?"

"Uh, ya. Maafkan aku. Harusnya, aku tidak melakukan itu. Ternyata, suasana jauh lebih tidak nyaman ketika aku sengaja menjauhimu."

"Tak apa."

Mereka bertukar senyuman kecil. Junhong memandangi Sehun yang mulai memejamkan matanya kembali. Kemudian menghela nafas pelan.

'Kalau cara ini memang yang terbaik, apa boleh buat. Sehun memang bukan untukku.'

.

.

Saat bel pulang berbunyi, Sehun pulang dengan Junhong yang mengantarnya. Kebetulan, hari ini Junhong dijemput oleh kakaknya menggunakan mobil. Dan beruntungnya, kakaknya dengan senang hati mau mengantarkan Sehun sampai rumah dengan selamat.

Sehun langsung menjatuhkan diri ke pelukan ibunya yang sibuk mengurus dapur.

"Ibu..."

Ibunya yang kenal betul gelagat anaknya langsung saja menyentuh dahi anaknya menggunakan punggung tangannya. Sehun akan terus bergelayut padanya jika sakit. Kemudian menghela nafas saat pradugaannya tepat sasaran.

"Ganti bajumu. Ibu akan membuatkan bubur dan cokelat hangat."

Sehun mendengung lemah, namun tetap memeluk ibunya dengan manja seperti anak tk.

"Sehun, ayolah sayang. Cepat naik ke kamarmu dan ganti baju."

"Hngg..ne, ne."

Dengan langkah gontai, Sehun menjauhi area dapur dan menapaki anak tangga yang akan mengantarkannya ke kamarnya perlahan. Ibunya yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala dan bergegas membuatkan bubur untuk anaknya.

Sehun dengan keadaan yang sangat lemas bersusah payah untuk mandi dan berganti baju. Usai mandi dan berpakaian lengkap, ia langsung terlentang tak berdaya di atas kasurnya dengan selimut tebal membalut seluruh tubuh.

"Sehunnie.."

Langkah ibunya mendekati ranjang. Wanita itu menaruh nampan berisi mangkuk, gelas beserta obat di meja nakas. Kemudian menepuk-nepuk gundukan besar di kasur itu dengan perlahan.

"Sehunnie, cepat makan buburnya. Kemudian minum obat."

Sehun beringsut menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Wajah pucatnya membuat ibunya menghela nafas. Kemudian ia menyodorkan mangkuk bubur kepada Sehun.

"Kamu bisa makan sendiri? Ibu suapi saja ya?"

Sehun hanya menganggukan kepala. Mulutnya membuka, menerima suapan demi suapan dari ibunya.

"Kenapa kamu sampai sakit begini, harusnya kamu bisa menjaga kesehatanmu sayang. Apalagi sekarang sudah memasuki musim semi. Kamu kan alergi serbuk bunga. Kemana saja kamu kemarin?"

Kepala Sehun betambah pusing mendengar rentetan kalimat dari ibunya. Makanan yang masuk pun terasa hambar.

"Aku main ke rumahnya Baekhyun bu."

"Lalu?"

"Kami pergi ke Sungai Han."

Sehun menerima suapan terakhir dan menelannya. Ibunya menyodorkan segelas cokelat dan ia segera meminumnya. Rasanya tetap hambar. Terakhir, ibunya memberi obat dan segera merapikan selimutnya. Mengusap lembut rambutnya dan menyuruhnya tidur.

Meski cerewet, ia tahu ibunya khawatir padanya.

.

.

Sehun mengutak-atik ponselnya meski ibunya mengomel agar ia beristirahat total dahulu. Ia sangat bosan. Sangat sangat bosan. Ia sudah menelpon teman-temannya dan mereka berkata akan mengunjunginya nanti malam, setelah kegiatan klub sudah selesai. Ia membicarakan banyak hal dengan mereka, namun belum cukup untuk mengusir rasa bosannya.

Sehun butuh teman mengobrol sekarang. Ia mengamati satu-persatu kontak yang ada di ponselnya.

Baekhyun? Sudah.

Panda Tao? Sudah.

Junma? Sudah.

Junhong? Sudah.

TaejunㅡSehun bahkan tak tau siapa orang ini. Mungkin orang yang sembarang nge-add.

Jongdae? Tidak. Dia pasti sibuk.

Kemudian jari sehun terhenti di depan sebuah nama.

Jongin.

Tanpa Sehun mengerti, tangannya jadi berkeringat dan jantungnya berpacu lebih cepat. Kenapa ini?

"Mungkin aku memang harus beristirahat." Lirihnya kemudian mematikan ponselnya dan menaruhnya di meja nakas. Ia mengubur dirinya dibalik selimut tebal dengan perasaan tak menentu.

.

.

Sekitar jam 9 malam, Baekhyun dan kawan-kawan berkunjung ke rumah Sehun.

"Sehun, maaf ya kami berkunjung terlalu larut." Kata Junmyeon sembari menaruh sekeranjang buah di atas meja nakas.

"Kalian datang pun aku sudah senang." Jawab Sehun dengan suara serak.

"Kau sudah makan? Sudah minum obat?" cecar Junmyeon lagi.

"Ah, jangan seperti ibuku, hyung. Aku sudah makan kok, sudah minum obat juga."

"Kenapa kau bisa sakit?"

Sehun mendengus,"Mana aku tahu! Memangnya aku mau sakit seperti ini?"

Baekhyun memukul pelan kepala Tao,"Dasar bodoh,"

Tao yang tak ingin membuat keributan hanya menatap Baekhyun tajam setajam silet.

"Hush, kalian ini berisik sekali." Tegur Junmyeon selaku yang paling dewasa.

Selanjutnya, obrolan-obrolan ringan pun memenuhi kamar itu.

Sekitar sejam kemudian, mereka pamit pulang. Sehun bersiap untuk tidur karena ia sudah sangat mengantuk.

Sementara itu..

Tok Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu depan rumah Sehun. Di samping tubuhnya terdapat koper besar dan ia mengenakan mantel berwarna putih gading.

Setelah pintu terbuka, ia membungkuk sopan.

"Oh, Jongin sudah pulang? Silahkan masuk!"

Jongin menggeret kopernya kedalam,"Maaf, bi, aku membawa koperku ke dalam."

"Tidak apa. Kenapa tidak langsung kerumahmu? Ah, tunggu sebentar. Bibi akan membawakan minuman untukmu."

Jongin terkekeh ringan,"Tidak perlu repot-repot, bi. Aku hanya ingin menemui Sehun sebentar. Apa dia ada di kamarnya?"

"Ya, dan dia sedang tidur. Sejak kemarin ia sakit, Jongin-ah."

Jongin terdiam sebentar sehingga ibunya Sehun terheran dengan tingkahnya.

"Apa aku boleh masuk kekamarnya? Aku tidak akan mengganggunya, bi." Katanya setelah terdiam beberapa saat.

Wanita itu tersenyum,"Tentu saja. Dia baru saja tidur, tadi teman-temannya datang untuk menjenguk."

"Baiklah. Aku masuk ke kamarnya ya, bi?"

Setelah mendapat persetujuan dari ibunya Sehun, ia menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua, menuju pintu bercat putih dengan tulisan "Hun's". Ia tersenyum hanya dengan melihat pintu itu.

Dengan sangat perlahan, ia membuka pintu itu dan melangkah masuk. Sebisa mungkin tak menimbulkan bebunyian yang dapat mengusik tidurnya Sehun. Setelah ia berdiri di samping ranjang Sehun, matanya tertuju pada sekeranjang buah dan bingkisan lain di meja nakas milik Sehun. Kemudian ia mengalihkan atensinya pada Sehun yang terlelap dengan damai.

Wajahnya terlihat lebih pucat dan nafasnya terdengar sedikit lebih berat. Meski begitu, ia tetap terlihat manis.

Jongin memang sejak lama menaruh hati padanya. Katakanlah ia pengecut karena tidak berani mengatakan perasaannya pada Sehun. Maka dari itu, ia mengganggu Sehun untuk mendapatkan perhatiannya.

Bukan karena Sehun itu menyebalkan.

Menyebalkan sih, sedikit. Tapi manis. Apalagi ketika sedang marah-marah.

Jongin senyum-senyum sendiri membayangkan wajah kesal Sehun ketika sedang marah.

Ia tak membawakan buah tangan apapun dari Jepang sana. Kecuali sekuntum bunga sakura yang sudah di awetkan dan juga seekor kupu-kupu yang juga telah diawetkan. Entah kenapa Jongin ingin memberikan itu kepada Sehun sebagai oleh-olehnya. Ia menaruh kedua benda itu di dekat keranjang buah. Lalu mengambil post-it dan juga bolpoin dari dalam kantungnya untuk menulis pesan singkat.

Setelah itu, ia menempelkan post-it berwarna oranye itu ke layar ponsel Sehun. Setelah semua beres, ia menatapi wajah Sehun yang makin lama makin enak dipandang. Jongin semakin jatuh kedalamnya. Ia berbalik setelah puas memandangi wajah tertidur Sehun dan pergi dari kamar Sehun.

Ibunya Sehun masih bersantai di depan televisi. Ia duduk sejenak untuk berpamitan.

"Maaf aku mengganggumu selarut ini, bi. Oh, jangan beritahu Sehun kalau aku sudah datang. Biar dia sendiri yang mengetahuinya."

"Tidak apa-apa. Baiklah, bibi tidak akan memberitahu Sehun."

Jongin tersenyum. Ia menghampiri kopernya dan menyeretnya keluar.

"Aku pamit pulang, bi."

"Ya. Langsung beristirahat ya, kau pasti lelah sekali."

Jongin mengangguk. Ibunya Sehun ini sudah seperti ibunya sendiri.

Sesampainya di depan gerbang rumahnya, ia berhenti sejenak. Kepalanya mendongak, menatap jendela kamar Sehun yang temaram oleh lampu tidur. Lagi-lagi ia tersenyum sendiri. Setelah itu, ia membuka pagar rumahnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.

.

.:0o0o0:.

.

Sehun bangun terlalu pagi dengan kepala berdenyut. Kepalanya masih terasa pusing, namun suhu tubuhnya benar-benar sudah normal. Mungkin setelah makan dan minum obat ia akan membaik. Ia meraih ponselnya, berniat melihat jam. Namun ia terdiam saat menemukan selembar post-it berwarna oranye menempel di layar ponselnya.

'Kuharap kau suka dengan hadiahku. Dan cepat sembuh :)'

.

Dahinya mengernyit. Secara otomatis ia menoleh ke meja nakasnya. Ada keranjang buah pemberian Junmyeon, segelas air, beberapa bingkisan dari teman-temannya dan, awetan bunga serta kupu-kupu. Tunggu. Seingatnya dua benda itu tak ada di mejanya kemarin. Ia meraih dua benda itu, lalu mengamatinya dengan seksama.

Bunga sakura? Apakah..

..Jongin?

Tiba-tiba nama itu terbesit dipikiran Sehun. Ia bangkit dan berlari kecil menuju balkonnya, mengabaikan rasa nyeri di kepalanya.

"Oh, masih gelap sekali?!"

Ia berbalik dan menatap jam dinding.

Pantas saja masih gelap. Baru jam 5 pagi.

Sehun mendengus. Lalu kembali ke tempat tidurnya. Ia mengambil ponselnya yang masih ditempeli post-it yang ia yakini dari Jongin.

"Apa dia sudah pulang?"

Sehun membaca ulang kalimat yang tertulis disana, lalu mengalihkan pandangan ke bunga sakura di tangannya yang lain.

Debaran menyenangkan memenuhi rongga dadanya. Ia tak dapat menahan ujung bibirnya untuk tidak tersenyum.

.

.

.

Sehun bangun kembali sekitar pukul 8. Ia segera turun ke dapur untuk mencari obat.

"Ibuu?"

Sehun mencari sang ibu. Ia lapar. Apakah ibunya sudah memasak? Sehun akan menyerukan nama ibunya lagi jika saja ia tak melihat catatan kecil yang menempel di kulkas.

'Sayang, ibu pergi ke rumah paman, ada urusan. Supnya ada di panci, tinggal dihangatkan. Jangan lupa minum obat. Ibu akan pulang nanti malam. Jangan pergi kemana-mana ya.'

.

Sehun pun menyalakan kompor untuk menghangatkan supnya. Sembari menunggu, ia mengobrak-abrik kotak obat untuk mencari obat pereda nyeri.

"Huh? Mana ya,"

"Jangan bilang obatnya habis," gumamnya saat tak melihat keberadaan obat yang dicarinya. Ia menghela nafas dan memutuskan untuk pergi ke apotek setelah selesai makan.

.

.

.

Sehun sudah mendapatkan obat yang ia butuhkan. Ia bergegas keluar dari apotek itu dan menuju ke parkiran, menaiki sepedanya.

Ia mengayuhnya perlahan. Memandangi taman kecil yang ia lalui. Setidaknya otaknya terasa lebih segar setelah memandangi pepohonan hijau yang rindang.

Entah mengapa ia teringat dengan kuntum bunga sakura yang ia taruh di samping lampu tidurnya ketika menatap rumpun bunga lily air yang ditanam di sekitar taman. Ia menunduk sejenak, entah kenapa rasanya sangat menggelitik bibirnya sehingga ia tersenyum kecil.

"Eh?"

Sehun mencoba mengerem sepedanya saat mulai berjalan di turunan. Sepedanya melaju kencang.

"Sial! Ya ampun ini kok blong,"

Berkali-kali ia mencoba mengerem sepedanya, namun tak ada efeknya. Ia menatap sekeliling, berniat menabrakkan sepedanya ke tempat yang lebih kokoh. Biarlah sepedanya bonyok.

Bukannya menemukan tembok ataupun benda lain yang lebih keras ia malah menabrak orang.

Eh, sialan. Nabrak orang?!

"WAAAA!/ADUHH!"

Bruk!

Sehun terhempas ke tanah bersama sepedanya, begitupula sang korban.

"Maafkan aku, rem sepedaku blong danㅡJongin?!"

Oh, ternyata itu Jongin!

Dan ia sama kagetnya dengan Sehun. Ia sibuk mengutak-atik ponselnya sambil berjalan tadi, sehingga ia tak tahu jika Sehun sedang berjuang dengan sepeda yang remnya blong. Untung ponselnya selamat.

Ia langsung berdiri dan membantu Sehun bangkit. Juga memungut kantung plastik berisi beberapa obat.

"Habis dari apotek? Bukannya kau sakit? Kenapa tidak minta bantuan saja untuk membeli obat?" Cecar Jongin sembari memapah Sehun.

"Ibuku pergi, jadi aku sendirian. Obat pereda nyeri dirumah habis, jadi aku membelinya ke apotek. Dan aku tak tahu kalau sepeda ini remnya blong." Jelas Sehun panjang lebar.

"Kan ada aku? Kau bisa meminta bantuanku."

Sehun mengernyit,"Mana kutahu kalau kau sudah pulang!"

Sehun tak tahu kapan Jongin membangkitkan sepedanya kembali dan sudah menaikinya.

"Kita lanjut bicara nanti. Ayo naik."

.

.

.

Jongin mengangkat kedua barang yang ia hadiahkan kepada Sehun tepat di depan wajah Sehun.

"Aku yang memberikan ini tadi malam. Harusnya kau tau kalau aku sudah pulang melalui barang-barang itu, dasar bodoh."

Sehun cemberut, tak terima dikatai bodoh. Kemudian ia menepis tangan Jongin.

"Yah bisa saja kan, kau menitipkan itu pada seseorang. Atau kau mengantarkannya melalui jasa antar barang."

"Terserahmu lah. Yang penting aku sudah disini."

Sehun menaikkan selimutnya meski ia bersikeras pada Jongin bahwa ia hanya sakit kepala. Tidak perlu disuruh tidur lagi.

"Btw, gak kangen sama aku, nih?" Tanya Jongin dengan seringai jahil.

Sehun memunggungi Jongin,"Nggak."

"Masa' sih? Gak percaya ah."

"Bodo amat, Jong. Bodo."

Kini giliran Jongin yang cemberut. Kemudian ia duduk di tepi ranjang Sehun.

"Gimana hubunganmu sama Junhong?"

"Apa urusanmu?"

"Bukannya kau sendiri yang meminta pendapatku waktu itu? Tentang dia."

"Tidak ada. Lupakan saja."

Sehun dapat merasakan ranjangnya yang bergoyang. Kemudian ia membalikkan tubuhnya.

"Ngapain lo?"

"Numpang tidur."

"Tidur mulu."

Jongin tak menggubrisnya dan menutup matanya. Sehun tetap pada posisinya, menghadap ke arah Jongin.

Sehun tidak tahu apa yang membuatnya tak ingin memalingkan badannya memunggungi Jongin. Ia terpaku pada posisinya, sembari menatapi wajah Jongin yang tenang.

"Aku ganteng kan?"

Jongin tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum jahil. Sehun terkejut dan ingin segera memalingkan tubuhnya, sebelum Jongin menahan tubuhnya.

"Biar seperti ini dahulu."

Tangan Jongin melingkar di sekitar pundak Sehun sambil menatap kedalam mata Sehun. Sehun berjengit saat merasakan sentuhan di pundaknya. Rasanya seperti tersengat. Namun menyenangkan.

"Jongin..?"

"Hm?"

Jantung Sehun berpacu kencang. Semua itu karena tatapan Jongin yang begitu..uh, Sehun tak mampu menjelaskannya.

"Ayo tidur."

Jongin mengusap rambutnya dengan lembut. Tak pernah Jongin berlaku seperti ini selama mereka berteman. Rasanya sangat...nyaman. Dan mendebarkan.

Sehun ikut memejamkan mata ketika Jongin mulai menutup matanya.

.

.

.

.

"Aku mencintaimu."

.

.

TBC

A/N:

WHAT A LACK OF UPDATE T.T

I'm really sorry, dear. Hm, setahun sudah kalian kubuat menunggu. Setahun sudah aku nggantungin kalian.

Masih adakah yg ingat dengan ff ini? Bahkan aku, yg bikin ff ini ampe lupa ama ceritanya wkwkwk /SLAPS/

Mungkin kalian kalo lupa sama ceritanya, monggo dibaca ulang /SLAPS pt.2/

Maaf banget ya teman-teman. Maaaaaaaf banget huhuhu T.T maaf kalo ceritanya garing, trus ada part yg tidak sesuai dengan jalan cerita yg ada di chap sebelumnya karena well, ff ini sering kuanggurin Q.Q

Btw,HAPPY KAIHUN DAY YEEEEEEEEE /SLAPS pt.3/ Duh seneng banget hahahaha.

Udahlah. Bacot banget ya aku :")