Chapter 7 : Our Beginnin


Jongin's POV

Keesokan harinya, aku sengaja menjaga jarak dengan Sehun. Sebisa mungkin aku menghindarinya. Aku pikir aku masih belum menemukan pilihan yang tepat untuk menjawab tawaran Sehun. Apa yang ditawarkannya padaku adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikiranku seumur hidup - sesuatu yang ditawarkannya adalah sesuatu yang baru dan masih terasa aneh bagiku.

Selama jam pelajaran, seperti biasanya aku tidak pernah memperhatikan, begitupun dengan Cal dan Chanyeol. Mereka terlihat saling menghindari satu sama lain sejak jam pertama. Mataku berkeliling dan tanpa sengaja bertemu dengan Jinri. Oke, ternyata gadis jalang itu sedaritadi memperhatikanku. Alisku bertaut seolah membentaknya untuk berhenti menatapku. Jinri membalasku dengan senyum miring lalu berbalik memperhatikan papan tulis. Tampaknya dia sangat membenciku sekarang. But, whatever. I don't give a shit at all.

Aku menunggu bel pulang sekolah dengan perasaan gusar. Kemarin, Sehun membuatku berjanji untuk menemuinya dan membahas hal perihal hubungan BDSM ini. Kata Sehun, hubungan BDSM bukan hanya hubungan yang berpusat pada seks saja. Tetapi, juga rasa percaya pada satu sama lain dan rasa respect. Seorang submissive harus bisa mempercayai penuh dominant-nya. Karena tugas dominant pada dasarnya adalah memberikan kepuasaan seksual maupun batin pada submissive dengan berbagai caranya, seperti memerintah. Bukan, melukai submissive dengan melakukan berbagai hal diluar keinginan submissive tersebut, hanya karena seorang dominant menganggap hal berbahaya itu dapat memuaskannya. Dan bagi dominant, mereka sudah seharusnya menaruh respect penuh kepada submissive-nya. Mereka harus menghargai submissive dan bukan menganggap submissive sebagai objek seks saja.

Dari penjelasan singkat Sehun kemarin, Jongin merasa hubungan BDSM tidak seburuk yang dirinya kira. Namun, tetap saja Jongin merasa berat untuk menyerahkan dirinya pada Sehun dan membiarkan dirinya didominasi oleh laki-laki lain. Jongin mendapat firasat kalau... semua ini tidak akan berjalan lancar.

Bel pulang sekolah berbunyi keras. Seluruh siswa bangkit berdiri dengan penuh antusias. Cal dan Chanyeol melempar delikan tajam. Seriously, apa yang terjadi di antara mereka?

"Berhenti menjadi siswi SMP yang saling merajuk seperti ini." cibirku sambil berjalan melewati mereka berdua. Aku mendengar dengusan keras dari Chanyeol.

"Shut up, asshole." gumam Cal. Pemuda itu berjalan cepat, menerobos keluar kelas. Aku hanya terdiam memperhatikan kepergiannya lalu menoleh ke belakang, mendapati Chanyeol sedang menatapku dengan sorot mata menyesal. Wajahnya memucat. Jujur saja, itu membuatku jadi merasa cemas padanya.

"Nanti malam, aku ke rumahmu. Akan kuceritakan semuanya." ujar Chanyeol. Sebelum, ia melangkah pergi menuju pintu kelas. Aku merasakan tepukan tangannya dibahuku.

Fuck. Aku berharap masalah mereka tidak serumit masalah yang kuhadapi sekarang. Aku tidak ingin dua bocah idiot, yang kebetulan adalah sahabatku, menambah berat beban yang menekan pikiranku.

Persis setelah aku melewati pintu kelas, aku merasakan seseorang kembali menepuk bahuku. Aku segera berbalik dan mendapati Oh Sehun berdiri di hadapanku dengan seringai menyebalkannya. "Siap untuk pergi?" tanyanya nyaris berbisik. Secara reflek, aku menatap kesekeliling dan untungnya tidak ada satu pun orang yang berada di sekitar kami berdua.

"Kemana?"

Sehun tersenyum. "Ke suatu tempat. Seorang teman meminjamkan tempat itu untuk sebuah eksperimen."

Kuputar mataku, tentu saja mengerti akan apa maksudnya. Dan itulah yang membuatku merasa gugup. Tenggorokanku terasa kering serta entah sudah berapa kali aku menelan ludah. Perasaanku benar-benar.. campur aduk. "Kedengarannya akan menyenangkan. Atau setidaknya, menghiburmu."

Senyum Sehun langsung memudar. Ekspresinya berganti menjadi cemas membuatku sedikit merasa bersalah. "Aku tidak akan mengikatmu di kepala ranjang, jika itu yang kau takuti." aku berusaha menekan senyum miring dibibirku. Apa yang dikatakannya terdengar penuh ironi. "Aku serius, Jongin. Aku tidak akan pernah melakukan hal apapun diluar kehendakmu. Aku bukan orang seperti itu."

Sehun jelas terlihat tersinggung. Sekeras apapun ia menutupi perasaannya itu denga poker face-nya. Aku mengenal Sehun cukup dekat daripada semua orang di sekolah ini. Aku tahu apa yang disembunyikannya. Aku tahu kontrol semacam apa yang dipegangnya. Sehingga, cukup mudah bagiku untuk mengetahui apa dia sedang berpura-pura atau dia memamg terluka. "Maaf. Aku tahu tadi itu benar-benar dick move. Harusnya aku memercayaimu dan.. entahlah, Sehun. Aku hanya merasa gugup dan aku minta maaf." ingin sekali rasanya mencengkram biceps Sehun agar dia tahu kalau aku gugup - sedikit takut juga, malah.

(Ya, the great Kim Jongin takut dengan BDSM. Berita baru untuk semua orang. Ha)

Sehun menghela nafas cukup panjang. Ia kelihatan.. lelah. Wajahnya yang sepucat vampire di Twilight terlihat lebih pucat lagi membuat kali ini meja berputar, aku-lah yang cemas padanya sekarang. "Kau sudah makan? Kalau belum, kita bisa makan dulu-"

"Aku tidak lapar." Sehun menggeram. Ekspresinya berubah-ubah membuatku semakin cemas. Ada sesuatu yang tidak beres padanya? Aku tahu kalau mister-sempurna-dalam-berbagai-hal ini memiliki rahasia lain yang berusaha disembunyikannya. Bukan hanya dariku, tapi dari semua orang.

"Tapi, pipimu tirus sekali. Wajahmu pucat. Kau kelelahan."

"Kau tidak perlu mencemaskanku. Itu bukan tugasmu." Sehun mengalihkan wajahnya dariku. Benar, ada yang dirinya sembunyikan. Ada rahasia lain.

Keningku mengerut cukup dalam. Entah sejak kapan, aku berubah mnjadi.. selembek ini. Fuck, mungkin ini efek seorang Oh Sehun. Membuat seorang bad boy paling tampan di kota berubah menjadi ibu rumah tangga yang selalu mencemaskan anaknya. Persetan denganmu Oh Sehun.

"Tentu saja, ini adalah tugasku. Kita sedang berada dalam satu hubungan sekarang." ujarku lebih lantang dan lebih yakin dari yang kurencanakan.

Sejenak, Sehun hanya terdiam menatapku. Ketajaman di dalam matanya perlahan melembut memberikan tatapan hangat yang mengingatkanku pada musim panas. Sehun mengambil langkah maju. "Aku sangat ingin menciummu sekarang." bisiknya. Ia terdengar frustasi dan aku senang mendengarnya. Berarti, aku juga memberikan satu efek padanya.

"Kalau begitu, cepat bawa aku ke tempatmu." bisikku. Sehun menggeram. Bukan geraman penuh amarah, melainkan geraman penuh gairah. Dia menginginkanku.

"As you wish my dear."

..dan aku sendiri pun menginginkannya. Meski, aku tahu kalau suatu hari nanti aku akan menyesali keputusan ini. Membiarkan Oh Sehun mengubah setengah hidupku.. bukanlah keputusan yang cerdas.

Tapi, setidaknya aku menginginkan ini. Aku menginginkannya.


Author's POV

Sehun membawa Jongin ke rumah Victoria. Rumah wanita itu berada di pinggiran kota, letaknya cukup berada di pelosok dan dekat dengan hutan. Di belakang rumah wanita itu ada akses jalan setapak menuju danau. Mungkin, Sehun dapat mengajak Jongin ke sana sambil membicarakan aturan-aturan dalam hubungan ini.

"Kau membawaku ke daerah terpencil seperti ini. Kau ingin membunuhku, huh?" Jongin menatap keluar kaca mobil, memperhatikan deretan pohon yang mengapit jalan yang mereka lalui.

"Jongin, sebagai submissive kau bertindak tidak sopan. Pelajaran pertama untukmu, kau harus memilih panggilan untukku. Seperti master atau sir." jelas Sehun membuat Jongin beralih padanya.

"Oke. Pelajaran selanjutnya, apa aku tidak boleh bicara jika kau tidak memintaku?" Jongin terdengar marah. Bukan hanya nada suaranya yang terdengar begitu, melainkan sorot mata serta gerak tubuhnya yang terlihat gusar.

Sehun ingin menjawab ya. Tetapi, ia tahu kalau Jongin berbeda. Dia bukan Baekhyun yang akan menuruti segala perintahnya tanpa memberontak. Dia juga bukan submissive yang sama seperti submissive lainnya. Dia adalah Kim Jongin. Seorang pemuda normak yang mencoba menjadi submussive dan juga temannya.

"Lupakan saja. Aku lebih memilih memanggilmu Sir daripada master. Jadi, mulai kapan aku memanggil begitu?"

"Hanya saat kita berdua saja. Atau saat di ranjang atau ketika aku memintamu."

Jongin mengangguk pelan. Lalu, berbalik kembali memperhatikan pepohonan di sampingnya. Sehun meliriknya sekilas dan menghela nafas. Mungkin, dirinya yang bertindak terlalu cepat. Atau mungkin, Jongin memang bukan tipikal orang yang bisa menjadi submissive-nya.

Tetapi, itu bukan berarti Sehun akan melepaskannya. Ia menginginkan Jongin. Ia sangat menginginkannya, bahkan lebih dari saat ia bersama dengan Luhan. Jujur saja, perasaan ini membuatnya takut. Ia tidak bisa tidur dan nafsu makanannya semakin menurun. Ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk menunjukkan kesan 'ia baik-baik saja', padahal kenyataannya ia tidak.

Ia tidak boleh memiliki perasaan pada Jongin. Damn, bahkan ia tidak boleh merasakan apapun. Terakhir kali ia merasakan sesuatu, ia berhasil membuat satu-satunya orang yang pernah ia cintai bunuh diri. Dan selain itu, Jongin pantas mendapatkan seseorang yang bisa membangun masa depan bersamanya. Bukan, malah seseorang yang hanya bisa menghancurkannya.

Mobil Sehun masuk ke jalan yang lebih kecil dari yang mereka lalui sebelumnya. Jongin melihat rumah ber-cat putih yang berada di ujung jalan. Semakin mobil Sehun mendekat, rumah yang terlihat seperti rumah impiannya itu semakin membesar. Hingga, mobil Sehun terparkir di samping rumah. Jongin masih tidak bisa berhenti mengagumi rumah itu. Sehun membuka seatbelt-nya dan juga milik Jongin. "Ayo turun. Ini baru dari luarnya saja. Kau belum melihat di dalamnya."

Jongin mengekor di belakang Sehun. Matanya tidak berhenti memperhatikan sekelilingnya. Ia menaiki tiga anak tangga yang membawanya ke teras depan rumah. Di teras rumah ada dua sofa panjang di sisi kanan dan di sisi kiri ada ayunan yang juga ber-cat putih. Sehun mengajaknya masuk ke dalam rumah lewat gerak matanya. Jongin kembali mengekorinya.

Mereka melewati pintu rumah dan beberapa detik kemudian, seorang bocah yang mungkin masih berusia kisaran tiga belas atau empat belas berlari mendekat serta langsung memeluk Sehun. Sehun hanya tertawa kecil. Sementara, Jongin menahan senyum dibibirnya. "Senang bertemu denganmu juga, Baek. Bagaimana perasaanmu?"

"Aku.. luar biasa, Sehun. Victoria sedang pergi berkencan dengan pacar barunya. Jadi, hanya ada aku." Baekhyun melepaskan pelukannya dari Sehun. Matanya tanpa sengaja bertemu pandang dengan Jongin. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang berani membuka mulut atau mengalihkan pandangan.

"Dia temanku, Baek." ujar Sehun, memutus kontak mata mereka berdua. Baekhyun beralih pada Sehun. Matanya berbicara kalau ia tidak percaya. "Terserah kau saja, Baek. Dia Jongin. Dan aku akan pergi ke danau sebentar. Kau, pergi kerjakan PR-mu atau entahlah, lakukan sesuatu."

Baekhyun hanya mengangguk. Dia tidak membantah atau balik memggerutu pada Sehun seperti bocah lainnya. Dia langsung berjalan kembali ke ruang tengah, tempat dia mengerjakan tugasnya sebelum Sehun datang. Dan sesuatu menghantam Jongin. Ia menatap Sehun dengan tajam membuat Sehun menoleh padanya. "Apa?"

"Dia.. submissive-mu?" Jongin sengaja mengecilkan suaranya. Matanya menusuk tajam pada Sehun.

Sehun menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Bukan. Tapi, dia memang submissive dan aku menyelamatkannya. Seseorang memperalatnya dan aku tidak tega." mata Sehun beralih pada Baekhyun, memperhatikan bocah laki-laki itu dengan tekun mengerjakan tugasnya. Jongin ikut memperhatikan Baekhyun, lantas beralih pada Sehun yang terlihat lebih.. sedih daripada bocah itu.

"Siapapun seseorang itu.. aku sangat ingin meninju wajahnya atau perlu, kukebiri sekalian." gumam Jongin. Sehun langsung beralih padanya dan dia... tertawa. Tawanya yang terdengar keras, bahkan sampai membuat Baekhyun melirik ke arah mereka berdua.

Jongin hanya terdiam memperhatikannya dengan tatapan what-the-fuck-man. Ketika tawa Sehun mereda, pemuda itu membalas tatapan Jongin dengan senyuman dan wajah konyol. "Apa yang telah kau perbuat padaku Kim Jongin?"

Jongin menggangkat bahunya. Senyuman mulai merekah dibibirnya. "Aku juga menanyakan hal yang sama."


Jongin duduk bersandar pada satu pohon yang langsung menghadap ke danau. Sepertinya, ia akan melewati senja bersama Sehun lagi. Matanya mulai terpejam membiarkan angin menerpa wajahnya. Tangannya menyentuh tanah merasakan basahnya tanah dipermukaan kulitnya. Ketika ia perlahan membuka matanya, tangan Sehun sudah berada di atas tangannya lalu menggenggamnya erat. Sekarang, ia hanya bisa merasakan hangat tangan Sehun yang memeluk miliknya.

"Bisa tidak, kita jangan membicarkan hal ini dan nikmati saja apa yang kita punya sekarang."

Sehun menata poni Jongin yang berantakan dengan satu tangannya. Kepalanya menggeleng pelan. "Kau adalah submissive-ku sekarang. Dan kita harus membicarakan ini sebelum aku lepas kendali."

Jongin mengerti akan maksud Sehun. Ia dapat melihat jelas kalau Sehun sangat menginginkannya. Terkadang, gairah di dalam pemuda itu dapat terpancar jelas dari matanya. Dan terkadang itu jugalah yang membuat Jongin tidak bisa menahan dirinya. Terkadang, ia merasa harus memberikan dirinya pada Sehun. Seutuhnya. "Oke, singkatnya saja.. aku tidak masalah dengan rough sex, sedikit sex toys, atau ya, apapun yang berhubungan bondagae, namun masih terbilang normal."

Sehun mengangguk. Ia mengisyaratkan Jongin lewat gerak matanya untuk segera melanjutkan. "Tapi, aku tidak mau ada blood play, watersport, fire play, candle dan.. ugh, kau mengerti maksudku."

Sehun tersenyum. Ia terlihat bangga pada Jongin. "Good boy. Kau melakukan banyak research ternyata. Dan aku paham, Jongin. Seperti apa yang kujelaskan sebelumnya, aku tidak akan melakukan apapun diluar kehendakmu. Dan aku akan membuat punishment menjadi sesuatu yang kau nantikan."

"Aku tidak berjanji akan selalu menuruti semua kemauanmu. Tapi, selama kita berada di dalam kamar.. aku akan mencoba. Untuk menjadi, umm, submissive yang baik untukmu, Sir." Jongin memerah. Ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang Kim Jongin merona karenanya. Sehun menyeringai. Ia amat menyukai situasi ini.

"Oke. Bagaimana dengan safe words?"

"Hijau, untuk peringatan. Dan merah, untuk get the fuck off me."

"Pilihan yang bagus, Pet. Jadi, aku boleh menciummu sekarang?" Sehun mendekatkan wajahnya pada Jongin. Kedua tangannya berpindah menangkup pipi Jongin membuat mata mereka bertemu.

Jongin mengangguk lalu berbisik, "Yes, Sir. Anything for you."

Sehun tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia mencium bibir Jongin dengan penuh gairah, mengekspresikan seluruh perasaan di dalam dirinya. Jongin membalas ciuman Sehun, memberikan akses bagi pemuda itu untuk menjelajahi mulutnya. Sehun menggigit lembut bibir bawah Jongin, lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut pemuda itu. Lidah mereka bertemu dan bermain dengan berantakan. Gairah yang memuncak di dalam keduanya membuat mereka tidak bisa membedakan apa ini nyata atau tidak.

"Where have you been, Jongin?" Sehun terdengar memelas. Seluruh perasaannya bercampur dan meruntuhkan pertahanannya. Ia luluh di dalam sentuhan Jongin.

Jongin membelai pipinya lembut dan mendekatkan keningnya pada kening Sehun. Matanya menyorot lembut pada Sehun membuat Sehun tidak ingin melepaskannya. Untuk selamanya. "Aku selalu ada di sini." bisik Jongin dengan suara rendah.

"Jongin, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau punyaku. Dan aku punyamu. Ini bukan sekedar seks saja. Aku-aku.. perduli padamu."

Sehun beralih mencium kening Jongin. Tangannya kembali menggenggam erat tangan Jongin, bersumpah tidak akan melepaskannya. Jongin hanya memejamkan matanya. Ia menahan nafas. Perasaan hangat yang menyelimuti dirinya terasa asing dna juga.. baru. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Namun, jujur saja dia menyukainya.

"Aku juga, Sehun. Aku juga"

.

.


Rin's note :

ASDJZKDKDKXMXKDKM KLO DOM NYA KAYAK SEHUN, RIN MAU DI BDSM /GA/

GAISSS SORRY INI LATE UPDATE BANGET KARENA RIN KENA WRITER BLOCK PARAK KEMAREN -_-"

(dan sibuk baca ff destiel dan nonton SPN)

anyways, kemaren ada yang nanya.. bdsm itu kan mainnya kasar, jadi gimana Sehun nggak bakal nyakitin Jongin? Nah, begini..sebenarnya dalam artian kasarnya gimana dulu? bdsm itu klo benar-benar "kasar" mainnya pake blood play (yang ampe berdarah2), breath play (yang kepala orang dimasukin ke dalam plastik terus gitu deh.. intinya jadi kagak bisa nafas), fire play (melibatkan api gitu), dan watersport (yang sebenarnya eww banget karena melibatkan urin) atau masih ada permainan lain yang lebih sadis lagi. Dan hal-hal yang Rin sebutin di atas nggak akan terjadi di fanfic ini karena.. Sehun udah janji nggak bakal nyakitin Jongin (dan Rin ogah nulisnya)

Oiya safe words itu semacam kayak peringatan kalau dominant udah keterlaluan gitu sama sub-nya. Intinya sih, menurut research Rin, dominant yang baik adalah dominant yang nggak bakal ngelakuin apapun diluar persetujuan sub-nya.

Anyways, klo mau tanya-tanya langsung PM or tanya di askfm Rin aja. Aku lumayan expert soal beginian (uhukefekbacafanficbdsmmulu)

P.S NEXT CHAPTER.. PREPARE FOR BDSM PLAY