Disclaimer: Not mine. But Masashi Kishimoto.
Chapter 8: Strings.
Yuki Haku, atau lebih senang mengenalkan dirinya hanya dengan: Haku. Ia bisa dikatakan sebagai sosok Kunoichi yang memiliki elemen juga pondasi dasar sebagai Ninja sejati. Bakat beserta kerja keras serta pemikiran tidak mudah menyerah membuatnya mudah untuk menyerap setiap pelajaran yang diberikan kepadanya. Tapi, meski memiliki kebaikan tersebut ada beberapa hal yang membuat beberapa individu memiliki pikiran buruk mengenai dirinya. Haku lebih memilih diam dan tidak melawan lebih dari seharusnya. Orang-orang ini hanyalah Ninja yang tertangkap karisma Tuannya, Naruto.
Selama beberapa bulan tinggal di Oto, ia mengerti mengapa penduduk beserta Ninja yang ada begitu menghormati Otokage mereka. Naruto di bayangan mereka, adalah sosok yang kuat, pintar, cerdas, ulet, berkarisma dan sebagainya... mereka menganggap Tuannya berada di tempat yang berbeda. Ditingkatan yang jauh berbeda.
Dirinya tidak ingin tahu apa yang akan terjadi jika pada suatu hari nanti, hari itu tiba. Hari di mana semua kebohongan manis yang telah terjadi itu terungkap.
Karena jika semua itu terjadi, Haku tidak akan tahu bagaimana lagi. Ia tidak akan bisa melindungi Tuannya...
Tidak... hari itu tidak boleh tiba.
Mantra itu selalu ia ulang di dalam hatinya yang terdalam. Menggunakannya sebagai jimat untuk menenangkan pikiran yang tidak sehat.
Hari itu tidak boleh tiba... sebelum aku cukup kuat untuk melindungi Naruto-sama.
Langkah terhenti angin yang bercampur dengan gerimis dari langit perlahan membasahi tubuhnya, namun tidak menjadi masalah berarti. Pandangan yang jauh ke ufuk timur, menatap gumpalan asap yang melebar serta warna merah yang meyebarkan aroma yang cukup ia kenal. Darah. Sesekali bunyi ledakan hebat beserta percikkan api di ketebalan asap membuat jantungnya terhenti sesaat.
Seluruh desa sudah di kunci dari dalam. Semua penduduk sudah diungsikan di tempat persembunyian yang jauh dari medan pertarungan. Ninja-Ninja berdiri di post mereka masing-masing. Pandangan tetap tertuju ke arah pertarungan meskipun kesiapan mereka untuk mengorbankan nyawa agar dapat membuat Kage mereka memiliki kesempatan menang. Dinding tipis biru menjulang ke langit, membentuk kotak yang yang menutupi semua teritori Desa. Fuinjutsu perlindungan yang diaktifkan oleh puluhan orang sekaligus yang saat ini berada di tempat yang berbeda.
Tapi, meskipun kekhwatiran penduduk Otogakure. Sudah terlihat dengan pasti sang Kage mencoba membuat pertarungan menjauhi Desa. Meskipun terkadang merasakan sakit di organ yang seharusnya tidak bisa dibuat kembali... Haku mencoba menenangkan hatinya. Seberapa kuatnya musuh, seberapa tangguhnya lawan, secerdas apapun orang itu.
Tuannya bisa mengatasi semua itu. Mungkin...
"Haku." Suara dingin itu membangunkan gadis tersebut dari pemikiran sesaatnya. Melirik dan mendapati sosok yang beberapa waktu ini telah membantunya mengerti lebih dalam akan kekuatan yang ia bawa dari lahir.
"Guren-san." Dirinya sudah terbiasa dengan intonasi tidak bersahabat yang dikeluarkan oleh bawahan Tuannya ini. Karena Haku tahu itu hanyalah pertahanan diri yang telah terbuat setelah bertahun-tahun hidup dalam kesengsaraan. Meskipun memiliki kepribadian yang kurang mengenakkan, tapi Guren adalah sosok yang bisa ia percayai setelah tuannya. "Ada yang bisa kubantu?"
"Tidak. Hanya saja Rokudo-sama memintamu untuk menjemputnya ketika pertarungan sudah selesai." Ia tidak tahu mengapa, tapi nada wanita itu lebih beracun dari biasanya.
"Baiklah." Haku hendak berjalan menjauh, tapi merasakan cengkraman kuat di bahu kanannya. Detak jantung menguat untuk sesaat. "Ya, Guren-san?"
Wajah yang ditunjukkan oleh wanita itu dapat dikatakan sebagai wajah yang paling tidak mengesankan. "Apa yang kau sembunyikan?"
Keturunan Yuki itu mengedipkan matanya sesaat, menatap bingung terhadap Guren yang pada saat ini meng-introgasi-nya. "Apa maksudmu? Seperti yang kau katakan sebelumnya, Naruto-sama menyuruhku menyusulnya setelah ini selesai. Kau tahu sendiri, bukan? Naruto-sama tidak suka menunggu?" Haku mencoba cara untuk keluar dari pembicaraan ini, meskipun melihat keraguan kecil dari paras wanita itu.
"Aku akan menerima hukuman yang akan diberikannya-" Guren tetap dalam intonasi suaranya, "-Yang ingin kutanyakan adalah... apa yang kau permainkan? Apa yang kau lakukan hingga membuat Rokudo-sama mempercayaimu lebih dari aku?" Suara yang dikeluarkan tidak menyembunyikan kekesalan yang ia alami saat ini. Rasa frustasi dan juga bingung bercampur menjadi satu.
Jemari Haku berkedut sesaat merasakan cengkraman yang kuat, meskipun begitu ia tetap memasang wajah tenang. "Kurasa engkau salah paham, aku tidak pernah melakukan apa-apa, hanya saja Naruto-sama memerlukanku untuk sesuatu yang penting." Mungkin kepercayaan itu datang karena Tuannya mengetahui betul bahwa siapa yang memegang nyawanya pada saat ini.
Karena alasan itu,Naruto memilihnya untuk membantunya mengobati penyakit yang ia alami sekarang.
"Ternyata benar, jadi kau tidur dengannya." Guren mengepalkan tangannya. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan hingga membuat Rokudo-sama terjatuh dengan pesona murahanmu, tapi jika pada suatu waktu kesempatan itu datang... Aku akan membunuhmu, dengan tanganku sendiri."
Haku menahan emosi yang meluap di balik dadanya. "Guren-san, perkataanmu sudah keluar dari batas. Aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi di antara aku dan Naruto-sama, karena tidak ada gunanya aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada bukti yang mendukung. Jadi, terserah apa yang ingin kau pikirkan... meskipun hal itu tidak benar. Naruto-sama bukanlah sosok yang tertarik dengan perempuan. Dia tidak mementingkan itu, melainkan lebih mengutamakan tujuannya."
Inilah apa yang dimaksud oleh Haku tadi. Banyak orang yang salah paham... salah pengertian. Naruto dalam tubuh ilusinya merupakan pria yang menarik, begitu juga dengan kepribadiannya yang khas dan dapat membuat wanita luluh. Hal itu sudah sering Haku lihat ketika berjalan di sisi tuannya. Ilusi itu terlalu kuat... bahkan sosok seperti Guren yang merupakan Ninja dengan kalibernya sendiri tidak menyadari itu.
Bahkan ia ragu akan ada orang yang bisa menyadari itu.
Meninggalkan Guren yang terdiam dengan pikirannya, Haku melesat menuju jalan rahasia yang dapat membawanya ke tempat tuannya pada saat ini. Tidak perlu untuk mencari sana juga sini karena tubuhnya bergerak bagaikan magnet mengikuti sumbernya terdahulu, dengan kata energi yang membuatnya dapat bertahan hidup sampai saat ini berusaha menemukan pemiliknya dengan sendirinya.
Cahaya matahari yang meredup dan menembus dedaunan rindang dari pepohonan yang berada di hutan menjadi pemandangan sendiri baginya. Tanah coklat yang basah juga memiliki genangan air ia lewati dengan hati-hati. Bukan untuk menjaga pakainnya dari kotor, melainkan untuk menjaga obat-obatan yang mungkin diperlukan oleh Tuannya setelah semua ini selesai. Batang pohon yang terbelah di sana sini dan juga kerusakan yang lainnya sudah menandakan seberapa dekatnya dirinya dengan tempat tuannya.
Berhenti sesaat, dan berlutut memberikan obat kepada Kimamaro yang tersandar di pohon. "Makanlah, ini akan membuat chakramu kembali dan menyembuhkan luka fatal yang mungkin berbahaya." Haku memasukkan obat itu ke dalam mulut Kaguya tersebut. Tidak lupa memberikan senyuman untuk sesasat.
Kimimaro menelan pil pahit tersebut. Beberapa waktu ia tidak merasakan apa-apa, namun kemudian kehangatan terasa di dadanya, memulihkan rasa sakit yang berada di beberapa organ dan juga chakranya pada saat ini. Meskipun tidak terlalu membantu mengingat kondisi yang saat ini masih merantainya, tapi tetap saja, pemuda itu memberikan anggukan kepada gadis yang dulu pernah ia temui. "Naruto-sama, aku percayakan dia padamu..." hanya beberapa orang yang bisa ia percayai akan keselematan Tuannya, salah satunya adalah Haku. Di luar dari itu, semuanya hanyalah sampah.
Haku mengangguk dengan pelan, sebelum melanjutkan perjalanannya, ia memberikan Kimimaro tatapan terakhir dan kemudian melaju dengan kecepatan tinggi. Kali ini, hutan yang berada di sekitarnya terlihat lebih hancur dari sebelumnya. Di udara terasa akan sisa chakra yang tidak ia kenali, menandakan penggunaan Jurus yang memiliki kekuatan destruktif besar.
"Juugo-san-" Meskipun hanya beberapa kali bertemu dan itupun tidak pernah berbicara antara satu sama lain, tapi Haku yakin pemuda ini adalah sosok yang baik. "-Apa kau memerlukan bantuan?" Sambil membuka tas kecil yang berada di pinggangnya, gadis itu dengan siap mencoba mencari akan penawar yang tepat akan keluhan yang mungkin dirasakan oleh Juugo yang bersandar di batu besar yang terbelah dua.
Juugo hanya menggelengkan kepalanya, memberikan senyuman lembut meskipun tubuhnya yang besar membuat banyak orang terintimidasi. "Tidak, itu tidak perlu Haku-san, sejak lahir aku memiliki kemampuan yang cukup membantuku. Meskipun tanpa obat, tubuhku bisa dengan sendirinya sembuh." Pemuda itu tidak lupa memberikan contoh yaitu luka yang berada di tangannya yang menutup dalam beberapa detik.
Pemuda itu memberikan senyuman lembut, "Naruto-sama mungkin membutuhkan bantuan yang lebih daripada ku. Sebaiknya engkau pergi ke tempatnya. Sepertinya pertarungan yang terjadi sudah usai."
Haku mengangguk, tanpa kata ia kemudian melompat tinggi sebelum mendarat di batang pohon yang menjadi pijakannya untuk melompat ke arah yang ditujukan.
Kubangan besar terlihat dengan jelas di tengah hutan, menghancurkan semua yang berada di sekitarnya. Api yang masih membara membakar apa yang tersisa, lubang yang terlihat cukup besar untuk menelan sebuah desa kecil. Beserta tanah yang memerah, aroma darah binatang. Tapi yang menjadi perhatiannya pada saat ini adalah sosok yang berdiri di antara semua kehancuran itu. Tanpa banyak bicara Haku kemudian menuju ke arah tuannya.
Yang pada saat ini, memegang Trisula-nya dengan tangan yang seperti gemetar. Wajah turun menatap tanah, jika bukan karena itu Haku mungkin dapat melihat ekspresi wajah dari Tuannya pada saat ini juga. Tapi tidak ingin memaksakan kehendak, dengan perlahan gadis itu berjalan ke samping Tuannya.
Menghiraukan sebuah tubuh manusia berlumuran darah yang sepertinya mengenakan pakaian berwarna merah, begitu juga dengan kepala yang terpisah tidak jauh dari tubuhnya. Tidak perlu mengutarakan satu patah kata pun, Haku mengeluarkan botol obat yang memang tercipta khusus untuk Tuannya. "Tuan..."
Naruto melepaskan Trisula bernoda darah tersebut dari genggamannya dan bukannya jatuh ke tanah melainkan hancur menjadi pecahan cahaya yang kemudian menghilang dari keberadaan. Tangan pemuda itu yang bergetar itu mencoba meraih botol obat yang diberikan, namun salah arah. Tangannya meraih udara kosong yang beberapa inchi jauhnya.
"Tuan?" Haku mengeluarkan suara khawatirnya.
"Aku tidak apa-apa." Naruto mengutarakan kata tersebut dengan pelan, meraih obat yang berada di tangan gadis itu. Membukanya dan langsung menelan semua apa yang ada di dalamnya. Ia kemudian mengalihkan kepalanya dari Haku dan mengusap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. "Ya... aku tidak apa-apa."
Haku hanya diam, meskipun tangannya terasa sakit karena terlalu lama mencengkram satu sama lain.
Naruto kemudian menarik nafasnya yang dalam berusaha menenangkan dadanya pada saat ini. Menelan kembali cairan merah yang hendak memaksa keluar dari mulutnya. Setelah beberapa menit melakukan itu, akhirnya pemuda itu bisa bernafas dengan teratur meskipun dalam kesunyian matahari yang hendak menenggelamkan tubuhnya dari pandangan.
"Haku, setelah ini kembali ke Desa, katakan kondisi sudah aman untuk menjatuhkan barrier yang telah dipasang." Dengan tenang, pemuda itu memberikan instruksi pertamanya. Haku mengangguk dengan pelan. "Apa kau membawa perkamen untuk penyimpanan barang?" gadis itu mengangguk dan mengeluarkan dua gulungan.
Dirinya sudah hidup cukup lama untuk mempelajari bagaimana para Ninja bekerja, apalagi berkelana bersama Zabuza yang merupakan mantan Ninja Kiri. Satu gulungan untuk menyimpan kepala sang Target, sedangkan yang satunya untuk tubuh. Melihat sekilas dari wajah kaku yang tak bergerak itu, Haku mengerti siapa yang dibunuh oleh Naruto. Jiraiya dari Tiga Sannin. Harga untuk kepala sosok ini merupakan salah satu yang tertinggi di antara Negara elemen lainnya.
Naruto terhenti sesaat, melihat sosok yang sudah mati tersebut. Dengan perlahan memasukkan kedua bagian tubuh yang terpisah itu ke tempatnya masing-masing. "Ini merupakan pertemuan yang menyedihkan di antara kita, Jiraiya-san. Aku tahu Minato membuatmu menjadi Ayah angkat kami. Dengan semua yang terjadi... aku rasa ini adalah pertarungan yang membuat kita mendapatkan jawaban kita masing-masing. Bahkan aku tidak percaya bisa mengalahkan dirimu yang notarius merupakan Ninja Veteran yang ditakuti banyak orang... apakah itu takdir? Atau bukan? Tapi... yang kuketahui setelah pertemuan ini adalah.."
"Roda takdir ini akan terus berjalan."
Pemuda itu kemudian berdiri dan menatap Haku, senyuman tercipta di wajahnya. "Haku, dalam dua hari... kita akan berangkat menuju Konoha. Tidak mungkin, bukan? Aku tidak menyaksikan Ninjaku yang telah masuk ke dalam babak final?"
"Baik, akan saya kerjakan."
"Nfufufufu, baguslah kau mengerti, ne?"
XXXXXX
Namikaze Minato memegang dua sisi kepalanya. Menarik nafas yang dalam dan mencoba mengeluarkannya dengan pelan. Rasa sakit yang tidak terhenti bagaikan denyut jantung kini ia rasakan tepat di mana otaknya berada. Tangannya mengeluarkan keringat yang mencucur jatuh, tidak berbeda juga dengan wajahnya yang terselimuti oleh cairan tubuh tersebut. Tapi yang membedakan dari biasanya adalah wajah sang Hokage. Yang biasanya penuh akan keramahan dan senyum kini terganti akan rasa tidak percaya.. takut, sedih.
"Tidak... Tidak... itu tidak mungkin..."
Seekor katak kecil tepat berada di mejanya. Seekor katak dengan jubah yang menutupi belakang tubuhnya yang keriput. Katak itu kemudian mengambil gulungan besar yang ada dan membukanya, menunjukkan tiga nama yang terdaftar dalam gulungan tersebut. "Jiraiya... warna tintanya sudah berubah. Dan kau sudah tahu apa yang terjadi jika seorang pemanggil tidak memiliki warna yang sama dengan kau dan juga Naru-chan."
Pria itu mencoba menarik nafasnya, namun serasa tersendak untuk beberapa kali. Kedua tangan menutup wajah... meskipun air mata yang mengalir di sela jemari tersebut. "Pertama Naruto dan sekarang.. Jiraiya.."
Fukasuku, yang merupakan kepala dari Klan katak hanya bisa menghela nafasnya. Tapi sedetik kemudian sebuah tongkat sudah berada di tangannya dan memukul kepala dari pria itu. "Berhenti menangis, cengeng! Bukan hanya kau yang kehilangan keluarga di sini!"
Minato menghiraukan rasa sakit yang berada di kepalanya. Menguatkan hati dan mencoba menyingkirkan sedikit apa yang ia rasakan pada saat ini. "Maaf, jika aku terdengar lancang; tapi... apa yang fukasuku-sama ketahui mengenai sosok yang dapat mengalahkan Jiraiya-san?" Tidak perlu diragukan mengenai kekuatan, dirinya sudah tahu dari dulu bahwa Jiraiya merupakan sosok yang memiliki kekuatan yang jauh dari rata-rata Ninja. Tidak hanya itu, namun juga mengingat pengendalian Jiraiya akan Senjutsu...
Katak Tua itu memijat dagunya, raut wajah serius telah tertera di kulit keriputnya. "Seharusnya kau bisa memikirkan itu sendiri, nak."
"Sayangnya Jiraiya tidak mengatakan kepadaku hendak ke mana ia pergi pada waktu lalu. Ia selalu begitu." Inilah yang menjadi karma dari itu semua, kebiasan dari Sannin tersebut. Yang sering menghilang tanpa jejak tanpa memberitahukan ke mana ia pergi terlebih dahulu. Memata-matai, ya... tapi memata-matai siapa?
"Dasar bocah itu." Fukasuku mengeratkan rahangnya untuk sesaat, "Siapapun yang berhasil membunuh Jiraiya-boyo dan juga Gamabunta merupakan manusia yang kuat. Sangat... kuat. Sampai bisa memblokade jalur teleportasiku kepadanya untuk melakukan Sannin-mode. Hanya orang yang expert dalam Fuinjutsu yang bisa melakukan hal seperti ini."
Minato terdiam, mencoba memikirkan dan menyambung pecahan demi pecahan informasi yang telah ia kumpulkan sendiri. Dirinya tidak yakin dengan ini... tapi..
"Minato, apa yang akan kau lakukan? Jiraiya merupakan salah satu Ninja terkuat yang ada di Desa ini, setelah kau. Berita seperti ini bisa membuat semua kadaan terbalik jika kau mengungumkannya." Fukasuku menatap dengan serius manusia yang berada di depannya. Meskipun sangat sedih akan kehilangan seperti ini. Dirinya merupakan katak yang telah hidup 800 tahun lebih. Konsep kematian tidaklah asing lagi bagi dirinya. Melihat anak dan orang yang kau sayangi mati satu persatu.
"Aku akan merahasiakannya terlebih dahulu, sebelum kejelasannya dari semua ini terungkap." Berat rasanya mengutarakan itu, tapi dirinya adalah seorang Hokage. Dan seorang Hokage harus bertindak dengan pemikiran jernih, bukan mengikuti kata hati. "Sementara itu, aku akan mencari tahu apa yang sebenanya terjadi. Satu minggu dari sekarang, final dari Ujian Chunnin akan diadakan di arena Desa. Para tamu dan juga Kage yang mewakili Desa mereka akan tiba dalam dua atau tiga hari lagi."
"Aku serahkan padamu, Minato."
"Aku mengerti."
*POOF!*
Hokage tersebut melihat bingkai foto kecil yang berada di mejanya. Rasa ini harus ia tahan untuk sementara. Setelah menghilangnya Naruto, tidak ada hal baik yang terjadi. Bahkan jikalaupun itu ada, maka kebahagian itu hanya akan bertahan sesaat.
"Minato..." Ayah dari dua anak itu melihat ke pintu yang terbuka. Menatap Istrinya yang pada saat ini menunjukkan wajah yang khawatir. Meskipun sudah memasuki usia yang tidak bisa dibilang muda lagi, tapi kecantikan dari Kushina masih terpancar dari sejak pertama kali ia bertemu. Meskipun, terkadang ia merindukan panggilan nama yang sudah tidak digunakan lagi oleh Istrinya sejak hari itu. Bahkan, dirinya yakin... satu-satunya alasan mengapa wanita ini tidak menceraikan dirinya hanya karena Naruko.
"Ya?" Hokage itu memberikan senyuman hangatnya, raut wajah yang penuh akan beban ia singkirkan untuk sesaat.
"Apa yang kau rahasiakan?" Pertanyaan itu bagaikan tombak yang menusuk belahan dada. "Apa yang terjadi?"
Minato mengepalkan tangannya yang saat ini berada di bawah meja kerjanya. Ia tidak ingin melihat istrinya sedih lagi. Tidak dengan berita yang akan dia dengar. "Tidak, tidak ada apa-apa."
"Kau bohong padaku." Kushina berkata dengan pelan. Pria itu tidak berani menatap wajah wanita itu.
"Maaf, aku tidak bisa memberitahukan ini padamu, Kushina. "
"Kau selalu begitu saja! Aku Istrimu! Tidak bisakah kau mempercayaiku sedikit saja dengan rahasia yang terus kau sembunyikan!? Sudah cukup dengan Naruto. Kau selalu mengutamakan kepentingan desa daripada keluargamu sendiri!" mata wanita itu berkaca-kaca dengan sendirinya, meskipun dengan kemarahan meluap yang ia keluarkan.
"Kushi-" Minato mencoba menjelakan.
"Diam! Aku selalu mencoba mengerti akan apa yang kau lakukan. Apa yang kau coba rahasiakan dari kami... tapi, tidakkah kau sadar apa yang kau lakukan ini melukai aku dan juga Naruko!? Bahkan aku tidak pernah mengingat kapan terakhir kali kita pergi piknik dengan senyum di wajah. Kau selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu, bahkan-"
"Kushina!" nada tinggi dari suara itu memotong semua pembicaraan.
Mata wanita melebar, suara tidak keluar hanya membisu. Tubuh bagaikan membeku pada waktu itu juga. Ini adalah pertama kalinya Minato menaikkan suaranya padanya. Tidak mengutarakan satu patah kata pun, sang Ibu dengan dua anak itu keluar dari ruangan sang Hokage.
Minato menarik nafasnya dengan dalam. Rasa bersalah mengumpul di dadanya menyadari apa yang baru saja ia lakukan terhadap istrinya.
"Kushina... maaf."
Mungkin ini adalah pertengkaran kecil. Tapi, hal seperti selalu terjadi.. hingga membuat apa yang telah buruk menjadi semakin buruk. Hubungan yang mulai terputus satu sama lain. Hanya jembatan kecil yang rapuh yang menjadi penghubung mereka.
Hokage itu kemudian melirik gulungan kecil yang tadi ditinggalkan oleh Fukasuku.
Buku gulungan ini... ketika kau siap mengetahui yang sebenarnya.
XXXXX
Ujian Chunnin telah mencapai puncaknya. Puncak di mana para Genin yang telah bertahan dan melewati setiap rintangan dan ujian yang dibuat oleh Konoha, yang bertindak sebagai tuan Rumak. Protokol yang digunakan juga sudah mencapai internasional. Tidak ada pilih kasih, yang ada hanyalah menguji kemampuan setiap Genin yang sudah bersiap diri menanggung beban yang lebih berat.
Konohagakure, Kumogakure dan Kirigakure, merupakan Desa besar yang menjadi peserta terbanyak dalam ujian Chunin itu. Dan disusul dari tiga Desa itu adalah Suna dan juga Oto. Yang terakhir merupakan Desa kecil yang baru-baru ini menjadi perbincangan dunia Internasional mengingat betapa cepatnya mereka berkembang meskipun usia desa mereka yang belum mencapai umur jagung.
Konoha sebagai Tuan Rumah tidak lupa memperisiapkan diri. Dengan tataan dan hiasan yang memperindah Desa mereka, ditambah banyaknya stand yang terbuka sepanjang jalan, memperkenalkan kebudayaan dari Negara api tepatnya Konoha. Berbagai macam pedagang mencoba memberikan hasil mereka yang terbaik. Melengkapi itu semua, keramaian tidak luput tercipta. Berbagai pengungjung dari belahan tempat. Ada yang merupakan penduduk lokal, ada juga yang merupakan penduduk sipil yang berasal dari Desa lain.
Hanya satu hal yang menjadi tujuan mereka: yaitu menonton pertandingan antar Genin yang berasal dari berbagai Desa.
Selain sebagai dalam bentuk hiburan melihat aksi dari Ninja, Hal ini juga digunakan untuk promosi masing-masing Desa akan kemampuan dan kualitas Para Ninja yang mereka sediakan. Sasaran mereka dari pedagang yang sering keluar daerah yang membutuhkan jasa perlindungan bagi barang bawaan mereka. Begitu juga dengan para Daimyo dan juga para anggota kerajaan dari berbagai tempat yang mencari Desa yang tepat sebagai kepercayaan mereka akan menjalankan misi.
Rombongan Ninja dengan pakaian asing yang berbeda satu sama lain, memasuki Desa dengan pengawalan yang ketat. Para penduduk yang melihat hanya bisa berdecak kagum akan apa yang bisa ditunjukkan oleh rombongan tersebut.
Yang pertama adalah rombongan Ninja yang kebanyakan mengenakan pakaian yang berdasarkan warna biru. Kirigakure dengan pemimpin Desa mereka. Setiap mata yang melihat akan selalu tertuju kepada pedang-pedang yang tersandar di berapa bagian tubuh mereka. Tidak salah lagi mengenali mengapa Kiri terkenal. Namun, yang menjadi perhatian mata adalah seorang wanita berambut merah kecoklatan yang berjalan dengan elegannya. Meskipun terlihat akan keanggunannya, tapi orang yang melihat tentu saja sadar akan aura yang dipancarkan oleh wanita itu. Yang menunjukkan dominan akan kepemimpinan.
Kedua adalah rombongan dari Kumo, suasana tegang dan was-was memenuhi penglihatan para penduduk. Karena mereka sadar bagaimana hubungan antara kedua desa mereka, mengingat kejadian yang dicoba dilakukan oleh perwakilan Kumo 10 tahun yang lalu. Tapi, tidak hanya itu yang mengitimidasi mereka, namun juga tubuh kekar dari kebanyakan Ninja tersebut. Termasuk Raikage yang memiliki badan yang berbeda jauh dari yang lainnya.
"Selamat datang di Konoha, saya harap kalian menikmati masa tinggal kalian selama berkunjung ke Desa Konoha." Suara sang Hokage menjadi pembuka pembicaraan antara dua rombongan yang hadir tersebut. Tidak perlu dipertanyakan lagi, masing-masing Kage dari Desa mereka berjalan menuju Namikaze Minato tersebut.
"Minato, ini merupakan reuni yang cukup lama." Suara berat dan tegas dari A, yang merupakan Raikage membalas Hokage tersebut. "Sepertinya Desamu sudah kembali pulih dari kekacauan waktu lalu."
"Tentu saja, A-san. Desa ini tidak akan pernah jatuh selama ada aku dan juga tekad Api." Minato membalas dengan senyuman kecil terhadap Raikage.
"Tsk, Omongan besar. Aku harap keahlianmu sebagai Ninja tidak meredup setelah menjadi Hokage." A, menyeringai dengan lebar. "Karena jika tidak, julukan manusia tercepat di Dunia akan menjadi milikku dalam waktu yang dekat."
Minato tertawa halus, "Tentu saja, hal itu tidak akan terjadi, A-san."
"Kurasa aku harus pergi meninggalkan para pria perkasa dengan pembicaraan mereka sendiri." Suara wanita lembut membawa mata kedua pria itu menatap sosok tersebut. "Bukan, begitu?"
"Ah, aku minta maaf." Minato menundukkan kepalanya sesaat. "Mizukage Kirigakure, Terumi Mei, wanita pertama yang menjadi Kage. Ini merupakan kehormatan untuk berjumpa denganmu, kembali."
"Tentu saja, Minato-san. Kami dapat memenangkan pemberontak dan menggulingkan Tiran yang dahulu menguasai Kiri, dengan... sendiri." Tangan pria itu berkedut sesaat, mengetahui itu merupakan serangan verbal akan apa yang terjadi. Sebelum ia bisa mengendalikan suasana, Mei sudah melanjutkan. "Tapi, itu adalah masa lalu. Karena kami sadar, tanpa bantuan Desa sehebat kalian, kami juga bisa berdiri dengan sendirinya."
"Ya... itu merupakan sebuah berita yang bagus. Nfufufufu~"
Mata ketiga Kage itu melebar, ketika menyaksikan seseorang berdiri tepat di samping mereka dengan senyuman elegan. Kabut ungu yang menyelimuti perlahan menghilang dari sekitar sosok yang berbicara tersebut. Mata yang terbuka setengah menunjukkan tatapan percaya diri. Meskipun cahaya merah darah dari mata satunya yang ia miliki.
Sebelum bisa mengeluarkan kata, jemari atas tangan wanita itu telah dicium dengan hormat. "Mizukage, ini merupakan kehormatan untuk bertemu wanita sekaliber denganmu. Boleh aku puji? Tanganmu halus sekali meskipun jabatanmu sebagai seorang Pemimpin. Tapi meskipun begitu... kau adalah Ninja yang kuat."
"Ah, Otokage. Terimakasih atas pujiannya." Mei tersenyum sesaat, "Berita mengenai perkembangan Desamu telah mencapai telinga kami. Tidak hanya kuat, pintar dan memiliki jiwa kepemimpinan yang menginspirasi, tapi... engkau juga memiliki wajah yang tampan. Itu adalah bonus. Mungkin sebuah perbincangan kecil bisa kita lakukan nanti."
Dari sisi mana pun kage itu melihat, mereka tahu akan apa yang terjadi. Sebuah pembicaraan yang mungkin akan membahas aliansi satu sama lain.
Tapi bukan itu yang membuat para Kage itu siaga dalam beberapa waktu. Melainkan keberadaan sosok Kage ini yang tidak bisa mereka rasakan sebelum itu terlambat. Tidak perlu dilihat dengan teliti, dari gaya bicara dan juga bagaimana ia membawa dirinya, Rokudo Naruto merupakan sosok yang menarik perhatian. Baik dari segi pakaiannya yang lebih tertuju ke fashion ketimbang kelincahan untuk bergerak.
"Ah... Minato-san, ini merupakan pertemuan pertama kita, bukan begitu?" Pria dengan rambut biru itu mengulurkan tangannya untuk berjabat. Minato tanpa pikir panjang memberikan senyuman dan menjabat tangan tersebut.
"Senang bertemu denganmu, Rokudo-san. Aku harap engkau menikmati apa yang bisa disediakan desa kami sebelum Ujian Chunin tahap terakhir diadakan." Minato menatap mata Pria itu yang tersenyum dengan sendirinya, meskipun merasakan cengkraman pada tangannya mulai sakit.
"Aah, nfufufufu..
. tentu saja, aku akan sangat menikmati ini...Nee."
Done. Chapter 8 of Ilusi menjadi kenyataan.
AN: Chapter depan merupakan sesuatu yang akan menjadi sangat menarik. Tepat apa yang dikatakan oleh Naruto pada saat itu. Mei juga yang berada dalam kendali Naruto belum menyadari satu hal pun. Ya itu tidak bisa disalahkan, karena pada waktu itu Naruto menghapus ingatan Mei sesukanya untuk memperlancar skema yang akan ia ciptakan di Konoha. Tapi jangan khawatir, masalah dua orang ini akan terselesaikan juga pada akhirnya.
Saya juga menciptakan bagian atau Scene yang mungkin akan berpengaruh satu sama lain. Dengan arti sebagai petunjuk. Yah, saya memang sudah berencana menyiapkan sesuatu untuk di masa depannya. Makanya harus ditanamkan bagian kecil itu pada beberapa tempat. Mengenai pertanyaan yang bersangkutan dengan Naruto sebagai Gray tidak cocok dan malah terlihat seperti Dark.
Hm, saya sih tidak bisa komentar dengan itu. Tapi.. yah, kita lihat saja di chapter-chapter selanjutnya. Yang tentunya saya memiliki alasan mengapa warning saya tulis sebagai Gray daripada Dark.
Dan untuk review yang sudah saya terima, baik itu PM atau komentar lain macam, terimakasih banyak atas kesedian kalian. Di AN itu sudah terjawab pertanyaan yang kalian tanyakan.
Oh, untuk update selanjutnya... mungkin Dunia di mata birumu atau Mask of ANBU.
Kita lihat saja dulu, karena saya nggak bisa janji kapan tanggalnya. Chapter ini saya keluarkan karena Try-out 1 saya sudah selesai. Tapi tidak membuahkan hasil yang menurut saya belum mencapai target. Meskipun dapat dikatakan tuntas, tapi... yah, tetap saja. Kurang puas.
