Kaki ini melangkah tanpa sang pemilik yang mengarahkannya. Pandanganku kosong dan hanya ucapan terakhirmu yang berdengung tanpa henti di telingaku. Terus berulang. Lagi, lagi, dan lagi.
"Ayo, putus."
"Selamat tinggal, Kise-san."
Ini semua adalah hukuman dari langit. Pasti begitu.
Wajah tanpa ekspresi itu, nada suara tanpa getaran perasaan itu, sorot mata tanpa belas kasih itu... Izumi, kau melemparkan hukuman itu tepat di depan wajahku. Kau pasti sangat marah. Hatimu pasti sangat terluka.
Aku tidak tahu bagaimana akhirnya aku berhasil menyentak grendel pintu dan masuk ke dalam kamarku, mengabaikan pertanyaan heran kakak perempuanku yang baru saja membuat sarapan. Badanku lemas bertemu dengan kasur. Aku hanya bisa meringkuk dan menutup kedua mataku erat-erat.
Semua ini membingungkan.
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang kucari. Aku tidak bisa memahami perasaanku. Terlebih perasaanmu. Hubungan kita berdua telah menyesatkanku, tidak membawaku kemana pun. tidak padamu. Atau pada Kuroko Tetsuya.
Aku memejamkan kedua mataku erat-erat.
Di saat itu,
dimana aku sendiripun terkejut menyadarinya,
hatiku lebih mengharapkanmu dibanding siapa pun.
Belas kasih yang tersisa darimu
untuk memaafkanku,
Izumi.
.
.
Permulaan yang Baru
Rozen91
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Memory 8: Musim Semi dan Sakura
.
.
"Onee-chan," panggilku parau. Aku tidak memerhatikan perubahan pada suaraku. Pandanganku berkunang-kunang dan mataku terasa panas. Aku terus mengerjap-ngerjapkannya.
"Ryou-chan! Syukurlah, kau sudah bangun," sahut kakak perempuanku, menyeka air mata di ujung matanya. Tanganku bergerak ingin meraihnya, namun aku hanya bisa mengangkatnya setengah di udara. Kakakku langsung menggenggamnya di kedua tangannya yang dingin, terasa nyaman di kulitku yang kepanasan. Biarpun sudah meneguk setengah gelas air minum pun, belum juga membuatku nyaman.
"Onee-chan, AC-nya... tolong...nyalakan..."
"Ryou-chan, kamu lagi sakit, demam tepatnya, dokter bilang lebih baik tidak terlalu dingin. Bisa gawat kalau tiba-tiba suhu tubuhmu berubah lagi."
Ah, aku demam, ya?
Mungkin karena waktu itu aku tidak memakai jaket. Di hari yang sedingin itu, di mana aku mengabaikan banyak hal untuk menuruti kemauanmu, Izumi. Kau sangat dingin. Membuatku menjadi seperti ini. Apakah kau...tidak akan mengubah keputusanmu?
Izumi...
"Demammu parah, lho. Sampai 3 hari kau tidak sadar, onee-chan pikir," mataku melirik, melihat kakak perempuanku sedikit terisak, "onee-chan sudah membuatmu kecapaian dengan jadwal padat...model... hiks!"
Aku meremas tangannya.
"Tidak, onee-chan. Bukan...gara-gara...itu..."
Aku menarik nafas dalam, memejamkan mata. Ah, rasanya panas. Kedua mataku serasa terbakar. Aku tidak bisa menahan air hangat mengalir, menggenang membelah pelipisku. Kakakku berhenti menangis. Apakah raut wajahku begitu mudah terbaca di saat-saat lemahku yang seperti ini?
"Ryou-chan?"
Aku tidak bisa membuka kedua mataku.
"Bukan...ka—rena itu...onee-chan."
Aku tidak bisa menarik nafas dengan benar. Hidungku tiba-tiba tersumbat. Dan aku sudah ingin menangis, menumpahkan perasaan yang menggerogoti hatiku dengan rasa sakit yang tak bisa kutahan.
"Bukan..itu..."
Tangan dingin menangkup pipiku lembut.
"Ryou-chan, jangan menangis. Onee-chan juga ingin menangis kalau melihatmu sedih seperti ini..."
Maafkan aku, onee-chan. Tapi, aku tidak bisa menghentikan kedua tanganku yang bergetar hebat ini. Atau air mata yang mengalir tanpa henti ini. Atau isakan menyedihkan ini. Walaupun begitu, aku menyadari kasih sayang familiar ini, yang membuatku merasa tidak apa-apa jika bersikap kekanak-kanakan sekarang.
"Ryou-chan, hiks, kenapa k-kau me—menangis?"
Karena itulah, aku memegang erat lengan baju kakak perempuanku dan menangis seperti anak kecil. Yang hanya pernah kutunjukkan ketika kekalahan Kaijou di Winter Cup dua tahun yang lalu.
Aku menumpahkan emosi dan tidak mengindahkan apapun. Bau obat yang memenuhi isi ruangan. Tirai putih yang berkibar pelan di jendela yang sedikit terbuka. Kelopak sakura yang menerobos masuk, mendarat lembut di atas lantai. Pakaian pasien yang kukenakan. Termasuk para anggota generasi keajaiban yang berdiri di pintu masuk. Yang tampak enggan merusak suasana penuh haru seorang adik dan kakaknya. Yang kemudian Akashicchi putuskan untuk pelan-pelan menggeser pintu, menutupnya dan berencana untuk berkunjung di hari lain saja.
Izumi, teman-temanku bahkan melihat kondisi menyedihkan ini. Apakah kau...tetap tidak akan goyah dari keputusanmu?
Aku menangis sampai kelelahan. Akan tetapi, aku berjanji dalam hati bahwa setelah ini aku tidak akan menangis di hadapan siapapun lagi. Aku lelah dan hatiku terasa kosong. Biarpun kemudian hari selanjutnya datang dan teman-teman tim basket SMP-ku datang menjenguk, biarpun ketika melihat iris biru Kurokocchi, aku hanya bisa tersenyum lemah. Aku tidak bisa merasakan apapun lagi.
Ini hukuman.
Pasti begitu.
Ini hukuman atas semua perasaan sakit hati yang memakanmu hidup-hidup. Yang membekukan perasaanmu begitu saja. Yang membuat kehangatan di kedua matamu dan senyum yang kau berikan untukku tiba-tiba sirna seolah tak pernah ada. Tanpa jejak.
Ini hukuman, Izumi.
Aku tahu itu.
Apakah...kau masih mau memberiku kesempatan?
Izumi…
Rasanya hari-hari berlalu begitu cepat. Padahal, kedua mataku hanya terus terpaku pada bunga sakura yang terbang mengikuti arus angin. Aku tidak punya tenaga untuk berbicara pada siapapun. Aku tidak punya minat yang tersisa untuk meladeni siapapun yang datang berkunjung. Aku tidak bisa menunjukkan kepedulian terhadap apa yang mereka katakan. Iris emasku hanya terpaku ke arah jendela, pada pohon sakura yang tumbuh hingga mencapai lantai 2 rumah sakit, tepat di samping kamar rawatku.
Indah.
Sayangnya, aku tidak bisa mengungkapkannya. Aku hanya bisa menatap.
Dan mengharapkan kedatangmu.
Izumi,
hari-hari berlalu begitu cepat. Aku hanya bisa memejamkan kedua mataku. Dan mengharapkan dirimu, di hari terakhir itu, ikut mengantarku pulang ke rumah. Akan tetapi, di hari-hari sunyi itu, aku hanya bisa berharap.
Izumi, aku minta maaf padamu.
Untuk semuanya.
Aku sudah memanfaatkanmu.
Aku sudah memalingkan wajah dari hatimu.
Aku sudah melihatmu sebagai subtitusi dari Koroko Tetsuya.
Aku sudah menyakiti hatimu dengan keegoisan dan ketidakpedulianku pada perasaanmu.
Aku minta maaf, Izumi.
Apakah hal ini pun...
tidak akan meluluhkan hatimu?
Izumi, hari-hari berlalu dan akhirnya kedua mataku menangkap sosokmu di antara murid-murid yang berlalu lalang. Kau berjalan melewatiku seperti orang lain—yang di suatu saat di masa lalu akan ku apresiasi dengan amat sangat, tapi sekarang tidak sama. Rambut hitammu bergoyang di punggungmu, seperti tirai yang berkibar di jendela rumah sakit.
Kurasa kau tidak sadar, tapi sebenarnya aku mengikuti langkahmu. Mengikuti jejakmu yang menelusuri jalan setapak di jajaran pohon-pohon gingko kesukaanmu. Memandang punggungmu yang tegap dan kaku. Aku teringat dengan diriku di kamar rawat rumah sakit. Aku tidak punya niatan untuk bicara. Aku hanya bisa memandang ke arah jendela.
Dan kini, aku juga hanya bisa berharap agar kau berhenti dan menoleh padaku.
Sorot mataku berubah nanar.
Apakah kau sudah melupakanku?
Secepat itukah?
Sampai-sampai kau tidak menyadari keberadaanku?
Ataukah sebenarnya...masalahnya ada pada diriku sendiri?
Kakiku berhenti bergerak.
Aku...sangat pengecut. Mungkin sebenarnya aku tidak ingin menemuimu duu. Mungkin aku harus menata perasaanku. Dan menyiapkannya untuk bertemu denganmu lagi. Aku sangat takut dengan apa yang telah kusebabkan padamu. Aku takut dengan pandanganmu terhadapku.
Karena, sesungguhnya, Izumi, dari dalam lubuk hatiku, aku ingin kau memaafkanku. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi. Sebagai seorang kenalan pun tidak apa. Atau jika kau tidak mau mengenalku pun tidak apa. Aku hanya ingin agar kau memaafkanku. Mungkin karena itulah, aku memutuskan untuk kembali mencari sosokmu di trotoar yang tak begitu ramai. Aku melihatmu masuk dalam sebuah bangunan, dan aku berlari, mengintipmu dari balik kaca.
Ah, Izumi,
aku percaya bahwa perasaan yang membebaniku selama ini hanyalah rasa bersalah karena telah memanfaatkanmu dengan begitu kejam.
Ataukah...pemahaman itu salah?
Karena, jika tidak begitu, maka aku pasti tidak akan membuang-buang tenaga
—ketika melihatmu di dalam restoran yang terakhir kali kita datangi,
kau duduk berhadapan dengan seorang pria berjas mahal di meja yang dulu kulihat kau duduk sendirian—
untuk melangkahkan kakiku masuk ke dalam restoran, berhenti tepat di samping mejamu, dan memanggil namamu dengan nada tinggi.
Ah, Izumi,
apa perasaan ini wajar?
Karena, sejujurnya, rasa panas yang membakar hati ini,
baru pertama kalinya kurasakan.
_bersambung_
