satu bulan berlalu dari masa liburan musim panas, semua pelajar Konoha High School harus kembali pada rutinitas mereka, ada yang berbeda dengan KHS kali ini, kedatangan dua pria berambut merah yang keluar dari Ferrari merah itu membuat semua penghuni KHS yang berada di sana membulatkan matanya, bagaimana tidak Sasori yang merupakan saudara sepupu dari Gaara tengah mengundang perhatian para siswa terutama siswi KHS.

Akasuna no Sasori, membawa kesan kagum dari semua mata yang memandangnya, rambutnya yang merah,kulitnya yang putih,bibirnya yang tipis, wajahnya yang imut-imut layaknya Babyface membangkitkan magnet seolah wanita yang ada di sekitarnya tertarik pada medan magnetnya.

"tidak buruk"

Sasori melepaskan kaca mata Hitam nya, tas ransel nya ia selempangkan di bahu sebelah kirinya, matanya mengabsen setiap orang yang ada disana, ia merogoh saku blezer nya dan mengambil bubble mint, mengunyahnya dan membuang bungkusnya sembarang.

"lets go Gaara"

Gaara menekan tombol kunci Ferrari merahnya, mengunci mobilnya yang terparkir indah di parkiran KHS, dua pria berambut merah itu pun berjalan dengan angkuhnya, tak memperdulikan setiap mata yang memandang keduanya kagum.

"Shion chaaaannnn,, kyaaaaaa ada anak baru dia babyface sekali.. kau pasti tertarik padanya"

Tayuya yang tiba-tiba datang membuat Shion mengerling, memandangnya bosan.

"kau pikir ada manusia yang lebih tampan dari Sasuke-kun? bangunlah !"

Shion berdecih, meremehkan perkataan Tayuya.

"Tayuya benar, dia adalah saudara Gaara yang merupakan saudaraku juga, dia pindahan dari belanda dan akan melanjutkan sekolahnya disini, jika di banding Sasuke memang Sasuke lebih tampan, tapi dia mempunyai ciri khas tersendiri he's Babyface man Shion, kau harus melihatnya." Ayame menjelaskan, membuat Shion menutup majalah yang sedari tadi asik di bacanya, "Saudaramu dan Gaara?" tanya Shion meyakinkan, dan hanya di balas anggukan oleh Ayame.

"kurasa dia akan menjadi Prince of KHS ke dua kyaaaa... kerenyaaaa"

Tayuya kegirangan, membuat Ayame menutup telinganya karena suara teriakannya yang membahana.

"boleh aku minta nomor ponselnya Ayame? jika Shion chan tidak tertarik, kau tidak keberatan kan dia dekat denganku?"

Ayame mengerlingkan matanya, seolah tak suka dengan perkataan Tayuya.

"jika dia memang tampan, maka dia adalah bagianku !"

Shion membentak, membuat Tayuya mengurungkan niatnya.

"tulis nomor beserta namanya disini"

Shion menyerahkan ponselnya pada Ayame, memintanya mengisi biodata lengkap saudaranya itu.

Shion menyeringai, bibir merah nya mengeja nama yang baru saja di tuliskan Ayame.

"Akasuna no Sasori"

Ayame tersenyum dan Tayuya mengerucutkan bibirnya.

"aku harus mendapatkannya"

.

.

.

..

.

"Sasuke cepatlah sedikit, kau tau sekarang pelajaran Anko sensei"

ini sudah kecepatan maksimum Hime.

Hinata yang resah karena Sasuke telat menjemputnya di hari pertamanya kembali sekolah, apalagi jam pertama adalah pelajaran Anko yang merupakan Sensei yang paling Hinata takuti.

Hinata segera membuka pintu mobil Ferrari blue dark Sasuke dan berlari meninggalkan Sasuke, begitu sampainya mereka di parkiran, Sasuke mengunci mobil Ferrarinya dengan menekan tombol pada kuncinya, dengan cepat ia pun berlari menyusul Hinata.

..

.

.

..

.

"Bruuuukkk !"

"Gomene"

Hinata memunguti buku-buku yang sedang di bawa oleh seseorang yang di tubruknya. setelah selesai memunguti buku-buku itu ia perlahan berdiri menyerahkan pada si pemilik buku yang jatuh karena di tubruknya "Gomene saya,-" Hinata menghentikan kata-katanya ketika irish lavendernya memandang sosok angkuh yanng kini tengah menatapnya dingin.

"Sa- Sasori"

"long time not see baby"

Sasori menyeringai evil ketika Hinata menjatuhkan kembali buku yang semula di pegangnya untuk di serahkan pada Sasori.

"ti- tidak mungkin"

Hinata memundurkan langkahnya, mulutnya menganga, satu tangannya menutup mulutnya yang membulat karena keterkejutannya melihat sosok pria berambut merah yang tak asing lagi baginya.

langkah mundur Hinata terhenti ketika ia menubruk tubuh seseorang yang berada di belakangnya.

"hei, kau masih disini, ku kira kau sudah di kelas"

Sasuke memandang Hinata heran. tak menjawab pertanyaan Sasuke Hinata celingukan bingung dengan kedua pria yang kini saling memandang dengan dirinya berada di tengah keduanya.

"apa yang kau lakukan dengan orang ini?"

"eh?"

Hinata semakin bingung, Sasori memandang Sasuke sinis begitu juga dengan Sasuke.

"Ayo, kita terlambat"

Hinata melingkarkan tangannya pada tangan Sasuke, mengajaknya pergi meninggalkan Sasori. tak menghiraukan ajakan Hinata, Sasuke terus beradu pandang dengan Sasori, Hinata merasa suasana mulai tak nyaman, ia kembali menarik tangan Sasuke, mengajaknya memasuki kelas.

"Sasuke, ayo.."

Sasuke melangkahkan kakinya atas ajakan Hinata, melewati Sasori. Sasori berdecih, kembali ia menguyah permen karetnya dan mengambil buku-buku nya yang berserakan di lantai karena Hinata menjatuhkannya.

"jadi dia Uchiha Sasuke"

.

.

.

.

..

.

"ada apa?" tanya Hinata, heran karena melihat Sasuke berdiri di depan kelas, dia kemudian berjalan mendekati Naruto yang kini duduk dengan Sakura.

"dimana Gaara?"

"ku pikir kau sudah tak peduli lagi padanya." balas Naruto ketus.

"gomenee Sasuke-kun, Gaara sudah tak di kelas ini lagi, dia pindah ke kelas 2H." Sakura merasa tidak enak dengan sikap Naruto.

"..."

"arigatou Sakura-chan." kali ini berbalik Hinata yang merasa tidak enak dengan Sasuke yang tak berkata sepatah kata pun setelah Sakura mencoba menjelaskan. Hinata merasakan tangannya di tarik ketika ia akan menduduki tempat duduknya di sebelah Sai.

"kau duduk denganku"

dengan terpaksa Hinata harus pindah duduk bersama Sasuke, karena Sasuke tidak mau duduk sendiri.

"Gomene Sai-kun"

Sai hanya tersenyum simpul mendengar permintaan maaf Hinata, ia sangat mengerti posisi Hinata saat ini.

.

...

.

.

"Hei boy.. may I sit with you here?"

Gaara mendecih, Sasori memandang Shion dengan tatapan malas sambil terus mengunyah permen karetnya.

"sepertinya dia berbicara padamu." ujar Gaara dan hanya terdengar suara kunyahan permen karet, sebagai balasan dari Sasori.

"bertiga juga tidak apa-apa, Gaara-kun." kembali Shion menggoda kedua pria berambut merah itu, Shion mendekati Gaara dan Sasori, tepat di hadapannya dengan memposekan tubuhnya menggoda keduanya, tangannya ia lipat di dadanya, dengan posisi kaki menyilang dan pinggang yang sedikit di tekuk.

Gaara menjauh, meninggalkan Shion dan menduduki bangku kosong yang berada di pojok belakang, berbeda dengan Sasori ia mengamati tubuh Shion yang menggoda dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian ia berjalan mengelilingi Shion sambil mengamati keadaan fisik nya, Shion tersenyum penuh kemenangan, senang karena Sasori tak secuek Sasuke dan seolah terpesona dengan keindahan tubuhnya.

"Sorry Girl, you're not my type"

"eh?"

Shion membalikan tubuhnya. kaget dengan apa yang Sasori ucapkan.

Sasori tertawa sinis dan memandang Shion dengan pandangan meremehkan sambil terus mengunyah permen karetnya ia kemudian berjalan menyusul Gaara dan duduk di sebelahnya.

Suara tawaan dari anak-anak penghuni kelas 2H itu membuat Shion murka.

"DIAM !"

bentaknya sambil memukul meja, kesal.

.

.

.

..

.

perpecahan mulai terjadi diantara Sasuke,Naruto dan juga Gaara, Sasuke kini hanya menghabiskan waktu di sekolahnya bersama Hinata, begitu juga dengan Naruto yang semakin dekat dengan Sakura, Gaara semakin menjauh sejak kedatangan Sasori. dia sengaja pindah kelas untuk menjauhi Naruto dan juga Sasuke. hubungan mereka semakin hari semakin renggang, jangankan dengan Gaara yang kini terlihat layaknya musuh jika bertemu dengan Sasuke, Naruto yang masih satu kelas dengannya saja tak pernah saling sapa lagi antara keduanya.

satu minggu sudah mereka melalui hari-hari tanpa berada di dalam atap sekolah, ruangan khusus mereka itu kini telah lama kosong, tak satupun dari mereka datang mengunjungi tempat yang dulu merupakan basecamp bagi ketiganya. Sasuke kini menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang bersama Hinata, Naruto kini bersahabat baik dengan Sai dan Ino, kedekatan Naruto dan Sakura terlihat seperti seorang kekasih, mereka sudah terang-terangan mengumbar kemesraan mereka di muka umum, Sasori dan Gaara menjadi julukan Twince Red of KHS, rambut yang sama merah dan sama-sama menyandang wajah tampan, hanya Gaara terlihat lebih dingin dan kasar, sedangkan Sasori, dia lebih memiliki sifat blak-blakan dalam bicaranya, dan lagi mengunyah permen karet menjadi ciri khas tersendiri, bila mereka berjalan bersamaan Gaara akan memajang wajah datar dan dinginnya sedangkan Sasori ia lebih terlihat blagu dalam tidak tanduknya dan slengehan, tak sedikit siswa konoha yang tak menyukai kelakuannya, menurut para siswi konoha tingkah Sasori yang seperti itu terlihat keren, namun bagi para siswa yang merupakan kaum adam, mereka menganggap Sasori blagu, so tampan (walaupun benar) dan sombong.

seperti biasa Sasuke bersama Hinata menghabiskan waktu istirahat mereka di taman belakang sekolah, Hinata asik membaca novel kesukaannya, sedangkan Sasuke lebih memilih tidur di pangkuan Hinata.

"Sasuke, sampai kapan kalian akan seperti ini?"

"hm?"

"kau,Naruto-kun dan Gaara?"

"bukankah mereka yang menjauhiku, jadi biarkan saja"

"aku tau kau sebenarnya tersiksa seperti ini kan? Sasuke?"

"..."

"Gomene Sasuke, aku tak bisa membantu, tidak ada yang bisa aku lakukan untukmu, jika ada yang bisa,-"

"ssttt..."

Hinata menghentikan kata-katanya ketika Sasuke menyentuh bibir tipis Hinata dengan telunjuknya.

"eh?"

"apa yang kau bicarakan Hime?"

"Sasu,-"

"ini bukan urusanmu, dan tidak seharusnya kau memikirkan ini"

"..."

"cukup berada terus disampingku seperti ini, ini sudah sangat mengurangi bebanku"

"..."

"untuk itu, ku minta teruslah seperti ini"

.

..

.

.

"Kyaaaaa... Saso kun... !"

"Gaara kun... tampannyaaaa..."

"Twince red kyaaaaaaa !"

suara teriakan para siswi KHS mulai membahana ketika Sasori dan Gaara bermain basket di tengah lapang, mereka tak menghiraukan teriakan-teriakan para wanita yang menurut mereka sangat mengganggu itu.

Gaara keluar dari lapangan, meninggalkan Sasori sendiri yang terus mendrible bola.

"belom ada pergerakan eh?"

Sasori memandang Gaara sekilas kemudian ia men 3point bola basket nya membuat para sisiwi konoha yang melihatnya kembali berteriak histeris.

"celahnya belum dapat, dan dia selalu bersama kekasihnya, itu membuatku sulit untuk mendekatinya." Sasori mengelap keringat yang membasahi keningnya dengan saputangan, ia meneguk satu botol air mineral, membasahi tenggorokannya yang kering.

"Kau takut pada Sasuke?"

Sasori mendecih, "apa yang harus aku takuti dari pria so tampan itu"

"lalu kenapa harus menunggu dia sendiri?"

"sebuah trik"

"?"

"kau hanya perlu bergerak ketika aku memberikan instruksi padamu, jadi tenanglah"

Gaara terkekeh, "kau terlalu bertele-tele"

"semua butuh proses, dan setelah kesempatannya ada, maka aku akan masuk dalam kesempatan itu dengan sempurna."

"Kyaaaaaaa... 3point sempurna" teriak para gadis kembali.

"seperti bola basket itu." ujarnya lagi.

Gaara mendecih. keduanya kemudian meninggalkan lapangan, karena bell masuk telah berbunyi.

.

.

..

.

Hinata berjalan sendiri menyusuri koridor yang terlihat sepi. dia pulang terlambat hari ini karena tugas piket nya, Sasuke tak bisa menemaninya karena ia ada urusan yang harus di selesaikan bersama Itachi, ruangan koridor terlihat gelap ketika menjelang sore hari.

"tap.. tap.. tap.."

Hinata menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara langkah kaki ganda, ia merasa ada seseorang yang berjalan di belakangnya, perasaan cemas mulai menyelimuti hatinya, tak berani menengok ke belakang Hinata kembali melangkahkan kakinya cepat.

"tap"

"tap"

Hinata tau ada yang tidak beres, suara langkah kaki itu selalu berhenti ketika Hinata juga menghentikan langkahnya.

"Kami-sama, tenangkan aku"

Hinata terus berlari menjauh, bermaksud keluar dari sekolahnya yang mulai gelap, berharap ada seseorang yang dapat menolongnya, namun sayang, dewi fortuna sedang tak berpihak padanya saat ini, Hinata tak menemui satu orang pun untuk dapat ia mintai pertolongan. ia terus menuruni anak tangga dengan cepat tanpa melihat kebelakang, dan lagi semakin Hinata mempercepat langkahnya semakin cepat pula langkah orang yang mengejarnya.

"ddrrrtt.. ddrrtt.. ddrrttt..." (Suara ponsel Hinata bergetar)

"Sasuke-kun Calling"

"Sasuke tolong aku."

Sasuke dapat mendengar suara Hinata yang sedikit bergetar, dengan suara engahaan nafas yang memburu.

"Hinata?"

"Sasu,-... kyaaaa...,-"

"HINATAAAA!"

"tuut.. tut.. tutt"

Sasuke mencoba menghubungi kembali Hinata, namun usahanya sia-sia karena ponsel Hinata mati. Sasuke mendecih kesal. ia memukul dinding yang ada di sampingnya. tanpa pikir panjang lagi Sasuke meninggalkan rapat, ia mengirim pesan pada Itachi bahwa Hinata sedang dalam bahaya, ia harus menolongnya dan tidak bisa kembali ke ruang rapat.

.

..

.

.

Hinata menampakan irish lavendernya, matanya membulat ketika ia menyadari bahwa tubuhnya kini polos tanpa pakaian, ia menutup kembali tubuhnya dengan selimut. tangannya bergetar, tubuhnya dingin seketika.

cklek.

suara orang membuka pintu dapat di dengar Hinata sekarang, ia kemudian mengalihkan pandangannya. dan betapa tekejutnya ia ketika mendapati Sasori keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan kimono berbahan handuk, air yang mengalir dari ujung rambut Sasori menandakan bahwa ia tengah selesai mandi dan berkeramas, Sasori mengeringkan rambut merahnya dengan menggosok-gosokan handuk kecil pada kepalanya. Sasori menyeringai ketika melihat Hinata kini tengah terbangun dan duduk dengan selimut yang menutupi tubuh polosanya sampai dengan bagian dadanya.

Sasori mendekat, menghampiri Hinata, Sasori dapat melihat tatapan Hinata kosong, tangan Hinata bergetar.

"kau sudah bangun Hime?"

Sasori duduk di kasur kingsize nya, hingga posisinya kini saling berhadapan dengan Hinata, tangan Sasori mencoba untuk mengelus pipi putih Hinata, namun dengan cepat Hinata menangkis tangan Sasori.

Sasori hanya tersenyum evil ketika tangannya di tepis Hinata kasar.

"apa yang kau lakukan padaku." tanya Hinata dengan pandangan kosong nya menatap dinding.

Sasori mendecih, "hanya melakukan hal yang wajar di lakukan oleh sepasang kekasih."

Hinata memandang Sasori dengan tatapan jijik.

"apa kau menodaiku Sasori-kun?"

"..."

"jawab aku"

"..."

Sasori melangkah menjauhi Hinata, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar isak tangis Hinata. ia berbalik dan kembali duduk di samping Hinata, menghapus air matanya.

"ku mohon Sasori-kun, katakan bahwa kau tidak melakukannya"

"..."

"kau tidak menodaiku kan Sasori-kun?"

Hinata menatap Sasori nanar. Sasori memeluk Hinata, membelai rambutnya lembut.

"Gomene Hime"

"..."

"aku terpaksa melakukannya, untuk merebutmu kembali dari Sasuke"

bisik Sasori di telinga Hinata, mata Hinata membulat tak percaya, ia kembali menangis, Sasori dapat mendengar isak tangis Hinata semakin dalam. Sasori semakin memperdalam pelukannya, mencoba menenangkan Hinata.

"tenanglah, aku janji aku akan bertanggung jawab."

.

.

.

.

..

Sasuke membanting stir mobil nya frustasi, ia tak dapat menemukan Hinata, dilihatnya jam yang kini melingkar di tangan kirinya menunjukan waktu pukul 09.00 PM. kembali ia mencoba menghubingi Hinata. menekan tombol Hijau pada layar touchscreennya.

"The number you're..."

"AAAARRRRGGGGHHHHHH !"

.

.

.

...

.

Gaara menyeringai evil ketika mendengar suara siulan Sasori, ia yakin bahwa Sasori telah berhasil menjalankan rencana busuknya.

"Bagaimana?"

Sasori hanya menunjukan dua jempolnya sebagai jawaban atas pertanyaan Gaara.

"kenapa kau tidak melakukannya saja?"

"kau gila, bagaimana jika dia hamil? kau ingin hak warisku dari keluarga Akasuna di coret?"

Gaara mendecih, "kau bisa memakai pelindung, seperti yang kau lakukan pada wanita-wanita lainnya."

Sasori tertawa mentah. "dia berbeda Gaara, kau tau aku sangat ingin menyibakan selimutnya ketika ia pingsan hanya untuk melihat tubuh polosnya saja, tapi entah kenapa aku merasa tak tega melakukannya."

"tch.. kau naif."

"entahlah, padahal aku bisa saja melakukannya, tapi aku tidak bisa."

"jadi bukan kau juga yang melepaskan pakaiannya?"

Sasori menggelengkan kepalanya, "aku menyuruh maid untuk melakukannya."

"kenapa tidak menyuruhku?" Gaara menyeringai.

Sasori kembali tertawa mentah "kau ingin aku membunuhmu eh?"

Gaara kembali berdecih.

tanpa mereka sadari, seseorang tengah merekam pembicaraan mereka, Ayame sengaja melakukan ini untuk mengancam Sasori agar ia mau mengikuti permintaannya untuk bersama Shion, walau bagaimana pun Ayame tak akan pernah rela Sasori bersama Hinata, ia masih tak bisa melupakan bagaimana Hinata dulu menamparnya dan mengguyur kepalanya dengan jus.

.

.

.

.

...

Hinata mengurung dirinya semalaman di kamar mandi dengan shower yang terus mengguyur tubuhnya, Hanabi terkejut ketika melihat Hinata terkulai lemas di kamar mandi kamarnya, sekujur tubuh Hinata menggigil, bibirnya membiru dan kulitnya pucat.

"Nejii-niiiii..."

Neji yang mendengar teriakan Hanabi segera mendatangi kamar Hinata.

"ada apa Hana,- eh Hinata?"

Neji segera membopong tubuh Hinata dan membaringkannya di kasur.

dengan cepat Neji menyuruh beberapa maid untuk mengganti pakaian Hinata dengan pakaian kering, sedangkan dirinya sibuk menghubungi dokter keluarga, takut terjadi apa-apa dengan kesehatan Hinata.

.

..

"bagaimana keadaannya?"

"sepertinya dia mengalami syok berat."

"eh?"

"panasnya tidak terlalu tinggi, mungkin karena dia telalu lelah, atau apakah terjadi sesuatu sebelumnya pada Hinata-sama? semacam kekerasan atau kejadian kriminal lainnya?"

Neji menggelengkan kepalanya, ia merasa tak pernah terjadi apa-apa pada Hinata.

"kita lihat keadaannya sampai besok pagi, jika keadaannya telah pulih kembali maka ia akan baik-baik saja, tetapi jika masih seperti ini, kita harus membawanya ke pengobatan psikologi untuk terapi."

Neji menunduk, "Arigatou."

.

..

"Nee-chan,,, kenapa begini? Nee-chan lihat aku? Nee-chan sadarlah nee-chan!"

Hanabi terisak ia menangis histeris karena Hinata yang terus tak bereaksi sama sekali, pandangannya kosong menatap pintu, tubuhnya tak bergerak sama sekali, sesekali air mata mengalir di pipi putihnya.

.

.

..

silau mentari yang masuk melalui jendela, membuat Hanabi terbangun, ia melihat jam menunjukan pukul 06.00 am. di lihatnya Hinata yang kini ada di sebelahnya, ia tersenyum ketika mendapati sang kakak tercintanya masih tertidur pulas.

"Hanabi, Nii-san tidak bisa menjaga Hinata, ada rapat penting yang harus di selesaikan hari ini, kau tidak keberatan kan untuk menjaga Hinata?"

"tidak apa-apa Neji-nii, aku sudah memutuskan tidak akan masuk sekolah hari ini, kasian Nee-chan"

Neji mengacak rambut Hanabi lembut, "jaga Nee-chan mu baik-baik, Nii-san bergantung padamu."

Hanabi mengangguk.

"jika ada apa-apa segera hubungi Nee-chan, dan ingat jangan pernah menghubungu Tousan-sama."

"Hai, wakarimasta."

.

.

.

..

Sasuke melihat Neji melajukan mobilnya meninggalkan manshion Hyuuga, dengan cepat ia melajukan mobilnya memasuki Manshion Hyuuga, ia mengenakan seragam KHS lengkapnya, bermaksud menjemput Hinata sekolah bersama, Hanabi segera melihat dari jendela kamar Hinata ketika mendengar suara deruman mobil Sasuke dan bunyi klaksonnya. ia segera menemui Sasuke yang juga memasuki rumahnya.

"Saskuke-nii."

Sasuke segera berlari mendekati Hanabi ketika Hanabi memanggilnya.

"Sasuke-nii, Hinata-Nee sakit."

Sasuke terkejut mendengar perkataan Hanabi, ia mengikuti Hanabi ketika Hanabi menuntunnya ke kamar Hinata. Sasuke dapat melihat Hinata kini terbaring lemas di tempat tidurnya, matanya terpejam, nafasnya memburu.

"Nee-chan belum bangun."

Sasuke mendekati tempat tidur Hinata, ia memegang kening Hinata, mengukur suhu tubuhnya.

"dari kapan dia seperti ini?"

"kemarin malam aku menemukan Nee-chan mengguyur tubuhnya di kamar mandi dengan shower yang sangat deras airnya, aku menemukannya duduk dengan masih menggunakan seragam sekolahnya yang telah basah kuyup karena guyuran shower, matanya sayu dan kulitnya pucat, bibir nya menggigil kedinginan sampe warnanya sedikit keunguan."

Sasuke menatap Hinata cemas. ia mengambil satu tangan Hinata dan menciumnya lembut.

"sudah menghubungi dokter?"

Hanabi mengangguk. "dokter bilang Nee-chan syok, tapi aku dan Nii-san tidak tau apa yang telah membuat Nee-chan seperti ini, Nee-chan jadi sering melamun dan tak merespon omongan aku ataupun Nii-san, pandangannya kosong dan sesekali air matanya mengalir, itu membuatku takut Sasuke-nii."

Sasuke memeluk Hanabi, mencoba untuk menenangkannya. "jika sampai pagi ini Nee-chan bangun dan kondisinya masih seperti itu, dokter menyuruh membawanya ke pengobatan psikologi."

tangan Sasuke terkepal, kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa melindungi Hinata.

"Gomene Hana-chan, aku tidak bisa menjaga Hinata dengan baik, Gomene"

Hanabi terisak, Sasuke menghapus air matanya. "kau tidak sekolah eh?"

Hanabi menggelengkan kepalanya. "aku akan menjaga Nee-chan"

"untuk saat ini, biarkan aku yang menjaga Hinata, kau sekolah saja, kau bisa menjaga Hinata kembali sepulang sekolah nanti."

"tapi bagaimana dengan Sasuke-nii, bukankah Sasuke-nii harus sekolah juga?"

Sasuke mengelus puncak kepala Hanabi lembut, "aku akan menjaga Hinata, ini sudah tanggung jawabku."

Hanabi tersenyum, ia kembali memeluk Sasuke "Arigatou Nii-san"

.

.

..

.

"kau yakin dia akan baik-baik saja?"

Sasori memandang Gaara cuek sambil mengunyah permen karetnya, "maksudmu?"

"Hinata, dia tidak masuk hari ini, ku dengar dia sakit."

Sasori mendecih, "Sasuke, apa dia juga tidak hadir hari ini?"

Gaara mengangguk. "dia pasti sedang menemaninya sekarang"

tangan Sasori terkepal, ia menggebrak meja yang ada di depannya, emosi.

"pulang sekolah nanti aku akan menemuinya, kau tau rumahnya dimana?"

Gaara terkekeh.

"kau sadar dengan yang kau ucapkan?"

"..."

"kau ingin menjenguk korban yang telah kau perkosa." Gaara kembali terkekeh, membuat Sasori mendecih kesal.

"lalu? aku harus diam saja dan membiarkannya dengan pria lain hah !"

lagi Gaara terkekeh mendengar ucapan Sasori yang menurutnya bodoh.

"Baka !"

"eh?"

"kau tau bagaimana dulu Hinata menjadi kekasih Sasuke?"

"..."

"dia terpaksa menerima Sasuke karena Sasuke mengancam akan mengeluarkan sahabatnya"

"eh? jadi mereka pacaran karena,-"

"yah.. Sasuke mengincar Hinata sejak dulu, sebelum Hinata pergi ke belanda, Hinata tidak menyukai Sasuke karena Sasuke kasar, Sasuke mengeluarkan sahabatnya dari KHS karena mencoba menolong Hinata dari bullyan nya, Hinata tidak terima sahabatnya di keluarkan, dia akhirnya menyerah untuk melawan Sasuke, dia datang sendiri pada Sasuke dan berlutut memohon untuk mengembalikan sahabatnya kembali, sasuke menyetujui dengan syarat Hinata harus menjadi kekasihnya."

"..."

"namun, setelah mereka lama bersama, Sasuke banyak berubah, tch.. dan itu yang membuatku membencinya sekarang."

"begitu kah?"

"ku rasa kau paham dengan maksudku menceritakan ini."

Sasori menyeringai evil. "jika Hinata menerima cinta Sasuke hanya karena ancamannya, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama."

.

..

.

"Sa- Sasuke.."

Sasuke mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, ia dapat mendengnar suara Hinata yang sedikit parau.

"Hinata?"

"kenapa disini?"

"kau sakit? apa yang terjadi padamu?"

"..."

"apa yang terjadi padamu Hinata?"

Hinata menatap Sasuke sendu, tangisan mulai kembali membasahi wajah pucatnya, Sasuke semakin khawatir dengan keadaan Hinata, ia memeluk Hinata, menenangkannya.

"aku bersamamu Hime, ada apa denganmu?"

"aku ingin menyusul kaachan saja Sasuke, aku merindukannya."

Sasuke membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang Hinata katakan. ia melepaskan pelukannya menatap Hinata penuh curiga.

"apa yang kau katakan? sadarlah Hinata?"

"..."

Sasuke kembali memeluk Hinata erat, Hinata menangis dalam pelukan Sasuke.

.

.

..

.

Sakura,Ino,Naruto dan juga Sai bermaksud untuk menjenguk Hinata, khawatir dengan kondisi keadaan Hinata yang sudah tiga hari tidak masuk, Sasuke yang terus mengurusi Hinata selama sakit juga tidak masuk, dia merasa kondisi Hinata saat ini lebih penting daripada sekolahnya.

"ayolah Hime, sedikit lagi."

"aku kenyang Sasuke, kenapa kau terus memaksaku?"

"kau baru saja memakannya 3 sendok."

"tapi aku sudah sangat kenyang Sasuke."

Sasuke tersenyum melihat kondisi Hinata yang semakin hari semakin stabil, dan lagi sikap manjanya membuat Sasuke semakin menyayanginya.

"aku tidak mau, kau saja yang minum."

Sasuke mendecih ketika Hinata menolak obat yang di berikannya.

"bagaimana kau akan sembuh, jika kau masih seperti ini?"

"..."

"ayolah Hime, jangan seperti playgroup"

"bahkan saat aku sakit, kau tetap pemaksa."

Hinata mengerucutkan bibirnya sambil mengambil bebrapa butir pil yang di berikan Sasuke, Sasuke tersenyum tipis, ketika Hinata meminum obat yang di berikannya, ia kemudian mengecup kening Hinata lembut.

"tidurlah."

.

.

..

Naruto memarkirkan mobilnya di halaman manshion Hyuuga, Sasuke yang mendengar suara deruman itu segera melihat dari arah jendela, kedua onyxnya menemukan Naruto yang keluar dari dalam mobil ferrari orange nya bersama Sakura yang juga keluar dari pintu kursi depan dan Sai bersama Ino yang keluar dari pintu kursi belakang. mereka bersama-sama memasuki kediaman Hyuuga, Sasuke melirik Hinata yang sedang tertidur pulas, ia mencium kening Hinata sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kamarnya untuk menemui Naruto,Sakura,Sai dan Ino.

.

..

.

"Uchiha-sama ada,-

sang maid menghentikan kata-katanya ketika Sasuke melewatinya datar, tanpa menghiraukan perkataannya.

.

..

Sasuke perlahan menuruni tangga dengan kedua tangannya yang ia masukan ke dalam sakuk celana jins nya, pandangan onyxnya menangkap ke empat temannya yang kini tengah duduk di ruang tengah sambil berbincang-bincang.

"eh, Sasuke-kun"

kata Ino dengan pandangannya yang tertuju pada tangga yang kini sedang di turuni Sasuke, Sakura,Naruto dan Sai mengikuti kemana arah mata Ino melihat, mereka menemukan Sasuke yang menatap mereka datar, langkahnya terus berjalan mendekati keempatnya.

"kami ingin menjenguk Hinata."

Sai mencoba memecah keheningan diantara mereka.

"boleh kami bertemu dengannya Sasuke-kun." timpal Ino yang berada di samping Sai.

"dia sedang tidur karena baru saja meminum obat." balas Sasuke datar.

"begitu yah." Ino terlihat kecewa atas jawaban Sasuke.

"kami akan menunggu sampai Hinata bangun."

kali ini Naruto yang berbicara, ia perlahan mendekati Sasuke sampe dirinya dan Sasuke hanya berjarak beberapa centi, kedua shappire itu menatap onyx yang kini menatapnya datar.

"terserah."

.

..

Sasuke kembali melangkahkan kaki nya, menaiki satu persatu anak tangga, namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati Hinata kini tengah berada 3 anak tangga di atasnya.

"Hinata?" tanya Sasuke kaget

"ada tamu yah? kenapa tidak membangunkanku?"

Sasuke terdiam, Hinata kemudian berjalan menuruni tangga melewati Sasuke, namun langkahnya terhenti ketika Sasuke menarik tangannya.

"kau harus istirahat Hime"

"aku ingin bertemu mereka Sasuke."

perlahan Hinata melepaskan pegangan tangan Sasuke di tangannya, ia kemudian menuruni anak tangga satu persatu Hingga akhirnya ia bertemu dengan Sakura,Naruto,Sai dan juga Ino.

"Hinata?" Sakura berlari dan memeluk Hinata ketika Hinata berada di ruang tengah.

"kau sakit apa? kita mengkhawatirkanmu." ucapnya lagi sambil terus memeluk Hinata.

"Sakura benar, kita semua mengkhawawtirkan mu." Sai berkata seraya tersenyum.

"aku merindukan kalian, arigatou telah menjenguk ku."

Sasuke berjalan mendekati Hinata memebuat Sakura melepaskan pelukannya.

"kau harus istirahat Hime." kembali ia berbicara sambil menarik tangan Hinata.

"aku bosan di kamar terus Sasuke, aku ingin bersama teman-temanku."

Hinata melepaskan tangan Sasuke, Sasuke diam, tak berani memaksa Hinata.

.

...

..

sebuah ferrari merah tengah mengamati manshion Hyuuga yang kini berjarak beberapa meter dari tempatnya berhenti.

"sudah cukup?"

"jadi ini kediamannya?"

"..."

"ferrari blue dark dan orange?"

"Naruto dan Sasuke berada disana."

"begitu kah?"

"..."

"kita pergi Gaara."

.

..

.

Sasuke tersenyum tipis melihat Hinata kembali ceria dengan kedatangan teman-temannya, ia bisa kembali mendengar tawanya dan senyum indah di wajahnya, tak ingin ekspresi wajahnya di ketahui teman-temannya ia menutup wajahnya dengan koran.

"Hinata-chan, sepertinya kita harus segera pulang, hari sudah gelap." ujar Naruto sambil melihat ke arah jendela, mengamati perubahan cuaca.

"Naruto benar, kita harus pulang Hinata, kami menunggumu di sekolah." Sakura kembali memeluk Hinata di ikuti Ino.

"cepatlah sembuh Hinata." kata Ino yang ikut memeluk Hinata.

"Arigatou mina."

..

..

.

Hinata dan Sasuke mengantar teman-temannya sampai di depan pintu, Hinata melambaikan tangannya ketika Naruto melajukan mobilnya meninggalkan Manshion Hyuuga.

"apa?" tanya Hinata ketus ketika Sasuke tiba-tiba tersenyum melihat tingkahnya.

"kau senang hm?"

Hinata menganggukan kepalanya "ku rasa aku merindukan Suasana sekolah."

"masuk lah, angin sore tak baik untuk kesehatanmu."

Sasuke merangkul pundak Hinata, mengajaknya masuk.

"aku ingin masuk sekolah besok Sasuke."

"hm?" Sasuke menautkan alisnya heran.

"aku sudah sehat kan?"

"apa Neji akan mengizinkanmu?"

"dia pasti mengizinkannya jika kau juga mengizinkanku."

"..."

"Sasuke?" Hinata memelas.

"dengan satu syarat"

"apa?"

"kau harus meminum obatnya teratur dan makan yang banyak"

Hinata tertawa geli, membuat Sasuke kembali memandangnya heran

"baiklah." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya centil dan membuat Sasuke kembali tersenyum tipis.

.

.

..

.

Sasori menyeringai evil ketika melihat Hinata turun dari mobil ferrari bule dark Sasuke, Hinata perlahan berjalan memasuki kelasnya bersama Sasuke, tangan nya melingkar di tangan kiri Sasuke, kemesraan mereka membuat para siswi KHS di dera patah hati karena pangeran sekolah mereka kini tengah mempunyai pujaan hatinya.

"sepertinya mereka terlihat saling mencintai." ujar Gaara datar.

"..."

"kapan kau akan memulai aksimu?" tanya nya lagi

"entahlah." jawab Sasori cuek, sambil meludahkan permen karet yang di kunyah nya ke tong sampah.

..

.

.

"Baiklah anak-anak, waktu kalian mengganti pakaian kalian hanya 15 menit, jika dalam waktu 15 menit ada yang terlambat sampai di lapangan, maka hukuman sebagai konsekuensinya, waktu di mulai dari sekarang."

"prriiiiittttt !" Guy meniupkan peluitnya sambil menekan stopwatch yang ada di tangannya, semua anak-anak penghuni 2b segera mengganti pakaiannya, untuk para siswa mengganti pakaian mereka di luar kelas, sedangkan yang siswi mengganti di dalam kelas dengan menutupi semua jedela dengan tirai.

.

..

Sasuke memasuki kelasnya ketika para siswi tengah selesai berganti pakaian, ia menghampiri Hinata yang kini tengah duduk bersama Ino dan Sakura.

"kenapa mengganti pakaianmu?"

"eh?"

"kau masih sakit Hime, kenapa begitu keras kepala?"

"Sasu,-"

"jika terjadi apa-apa padamu, apa yang harus aku katakan pada Neji?"

"..."

"tolong, untuk kali ini dengarkan perkataanku Hinata."

Sasuke menjauhi Hinata, ia berjalan keluar meninggalkan kelasnya.

"apa yang di katakan Sasuke-kun benar Hinata, kondisimu belum pulih total, kau tidak seharusnya mengikuti olahraga ini." ujar Ino menasehati diikuti anggukan dari Sakura.

.

..

.

.

Hinata merasa bosan ketika ia hanya bisa melihat teman-temannya bermain olahraga di lapangan, bagaimana tidak seru Guya sensei merupakan sensei yang unik, ia selalu membuat game agar murid-muridnya tidak bosan mengikuti pelajarannya. bosan hanya duduk saja di pinggir lapangan, Hinata kemudian berjalan-jalan mengelilingi sekolahnya, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Sasori berdiri di hadapannya.

"Sasori-kun?"

Sasori menyeringai, langkahnya mendekati Hinata yang terus memundurkan langkahnya.

"Arrgghhhh..." erang Hinata ketika Sasori mencengkram tangannya kasar.

"mau lari kemana hm?"

"le- lepaskan aku Saso,- aarggghhh..."

kembali Hinata mengerang kesakitan karena Sasori semakin menguatkan pegangan tangannya.

Sasori menyeret Hinata hingga keduanya kini berada di gudang sekolah yang sepi.

"Bruuukkkk !" Sasori memebanting pintunya kasar dan menguncinya.

Hinata berlari sambil mencoba untuk membuka pintu gudang itu kembali namun Sasori telah menguncinya dan itu membuat usahanya sia-sia.

"tolooonggggg... heii siapapun di luar tolong aku.." teriak Hinata sambil terus menggedor-gedor pintunya mencoba untuk mencari pertolongan.

kembali Sasori menarik Hinata dan menghempaskan tubuhnya hingga membentur dinding yang ada di belakangnya. Sasori menyeringai melihat wajah Hinata yang ketakutan karenanya, tangannya perlahan menyentuh pipi Hinata dan membelainya lembut.

"kenapa takut? bukankah kita pernah melakukannya eh?"

Sasori semakin menghimpit tubuh Hinata dengan tubuhnya, ia mencium Hinata paksa, membuat Hinata meronta, menolak setiap sentuhannya.

"lepas kan Saso,- mmhh..."

Sasori mengunci teriakan Hinata dengan ciumannya, tangannya menekan tekuk leher Hinata untuk memperdalam ciumannya.

..

..

.

.

Sasuke menghentikan aktifitas bermain basketnya ketika ia tak melihat Hinata di tempat duduk yang berada di pinggir lapangan, kedua onyxnya mengabsen seluruh keadaan sekitar, mencoba menemukan gadis bersurai indigo.

.

..

.

puas mencium Hinata, Sasori kini beralih menciumi lehernya dan membuat kissmark disana.

"le- lepaskan Sa-saori ku mohon."

Isak tangis Hinata tak di dengarnya, ia terus mencumbu Hinata, sampai tangannya mulai berani mencoba untuk membuka kancing seragam Hinata satu persatu.

.

..

.

Sasuke melempar bolanya kasar, perasaan buruk di rasakannya saat ini, sudah 30 menit Hinata tak juga kembali ke lapangan. ia kemudian berlari meninggalkan lapangan, mencoba untuk mencari keberadaan Hinata.

.

..

"Jangan ku mohon Sa- Sasori." Hinata terkulai lemas, kedua kaki nya seolah tak mampu lagi menompang tubuhnya, ia perlahan menurunkan tubuhnya hingga berjongkok. tangannya menutupi tubuhnya yang sedikit terbuka karena Sasori memaksa membuka kancingnya, Sasori berjongkok, menyejajarkan.

"kenapa menangis?" tanya nya sambil mengambil dagu Hinata, menginginkan Hinata membalas tatapannya.

"..."

"bukankah kau masih kekasihku? apa salah jika aku menginginkan ciuman darimu eh?"

Hinata melepaskan tangan Sasori, ia kemudian mendorong tubuh Sasori kasar, dan ketika Sasori lengah kesempatan itu di gunakan Hinata untuk melarikan diri, Hinata menaiki bangku dan mencoba untuk memanjat jendela, namun Sasori dengan cepat menarik kakinya hingga Hinata limbung dan jatuh di pelukannya, Hinata meronta ketika Sasori menggendongnya, Sasori membaringkan tubuh Hinata di lantai dan menindihnya, kedua tangan Hinata ia kunci di samping kiri dan kanan bahu Hinata.

kembali ia menciumi Hinata, memaksanya untuk bercumbu.

"ddrrtt... drrttt.. ddrrrtt.."

Sasori berdecih kesal ketika ponselnya bergetar, ia perlahan bangun dan merogoh sakunya.

Gaara calling

"apa yang kau lakukan baka ! kembali sebelum kau ketauan pihak sekolah, atau kau akan mati."

"..."

"tuutt.. tuutt.. tuutt..."

Sasori kembali memasukan ponselnya, ia menyerinagi ketika melihat Hinata meringkuk di pojokan, menjauhinya dengan kedua lutut yang di peluk kedua tangannya, Sasori mengambil bubble mint di dalam saku blezzernya dengan santainya, Hinata menatapnya sinis, Sasori mendekati Hinata sambil mengunyah permen karetnya.

"makanlah, kau akan merasa tenang, santai saja okey?" ujarnya sambil memberikan Hinata permen bubble mintnya, tak membalas perkataan Sasori, Hinata membuang muka.

Sasori hanya berdecih ketika Hinata kembali mencuekannya, ia perlahan berjalan menuju pintu gudang dan membuka kuncinya.

"tanda yang ku buat di lehermu menandakan bahwa kau masih miliku Hime, katakan itu pada Uchiha Sasuke." katanya kembali seraya pergi meninggalkan Hinata sendiri.

..

..

.

TBC.

Gomeneee... lama terus updatenyaaa... reviewnya ko semakin sedikit sihh ,... ngga suka aahh jadi gak semangat deh nulisnya (author mengerucutkan bibirnya hihihi)

yosh review lagi yaaa mina-san .,. buat saya untuk terus semangat menulis fict ini

arigatou untuk yang udah review.. kalian semua penyemangatku ...

jaaa.. mata nee :)

~Lavenderviolletta.