Bab sebelumnya sudah diperbaiki di mana letak kesalahan penulisannya. Terima kasih banyak untuk Li Chylee yang sudah mengingatkan.

Kelanjutan catatan tentang dunia vampir milik Author:

5. Ada alasan kenapa L menolak permintaan manusia yang ingin diubah menjadi vampir olehnya. Ada sebuah harga yang harus dibayar. Apakah hal tersebut akan terungkap di bab selanjutnya.

6. Manusia yang sudah mengonsumsi darah vampir dalam jumlah banyak memiliki aroma dan rasa darah yang berbeda dari manusia pada umumnya. Vampir akan dengan mudah mengetahui kualitas darah manusia tersebut secara kasat mata, dan pada umumnya manusia jenis ini adalah pemburu, memiliki daya tarik luar biasa.


Case 2 (pt.3)

'Bloodsuckers'

Sebuah dunia di mana makhluk haus darah paling mengerikan adalah mereka yang mengincar keabadian.

"Kira," L membisikkan nama itu dengan nada yang seperti mengeja per hurufnya. "K. I. R. A. Killer."

Kira tersenyum. "Beberapa kelompok memanggilku demikian."

"Baik, Kira-kun. Saya hargai kemampuan Anda dalam mengumpulkan informasi secara mendetil, Kira-kun. Valid atau tidaknya, saya tidak punya waktu yang banyak untuk berdiskusi." Satu kaki L memanjang sementara yang lainnya masih menekuk. L sadar benar sedang dalam keadaan bebas tanpa belenggu. "Anda sudah tahu banyak tentang L rupanya. Tapi apakah itu penting? Anda mungkin bukan manusia biasa, tapi saya belum melihat sesuatu yang pantas dari Anda untuk menjadi satu dengan kaum kami, Kira-kun yang terhormat." L mencoba beranjak dari tempat tidur. "Dengan alasan tersebut saya menolak untuk memenuhi permintaan Kira-kun. Saya akan pergi dari sini, dan..." Mata gelapnya bergerak cepat menjilat wajah Kira, menusuk ke dalam kedalaman bola mata cokelatnya "...mungkin saya akan membuat Anda hilang ingatan."

"Kalau begitu, menurut Anda para vampir yang gemar menculik, memerkosa, dan membunuh manusia itu 'layak' sebagai kaum kalian?" Kira tersenyum mengejek. "Ingin mencoba membuat saya hilang ingatan? Silakan dicoba, kalau begitu."

"Sesuatu yang saya sebut pantas tidak mengacu kepada vampir yang berasal dari manusia kelas rendah yang setaraf dengan kriminal. Saya tidak menganggap mereka rendah. Kami kaum vampir memiliki kebutuhan, dan manusia mengeksploitasi kami beberapa ratus tahun terakhir ini. Kira-kun yang sudah menghafal baik isi buku sejarah makhluk imortal pasti paham apa maksud saya." L mencondongkan tubuhnya ke depan, sisi lengannya bertemu dengan lengan Kira. Napas L dingin berhembus di sebelah daun telinga si pemuda, yang matanya menyipit tajam, mengirimkan bunyi ancaman. "Saya juga bisa membuat Anda lebih dari sekedar hilang ingatan jika situasi memaksa saya berbuat demikian. Saya tidak ingin menyakiti Anda, manusia. Mari kita sudahi semua ini, saya akan pergi."

Kira tetap berdiri tegak. Dingin. Matanya terus mengikuti tiap pergerakan L yang terduduk di hadapannya. "Bangsa vampir telah mengeksploitasi manusia sejak dahulu dan sekarang. Sejak munculnya vampir perintis di dunia ini, manusia selalu dan tetap menjadi korban. Bukankah sebuah gagasan bagus jika ada sosok berkuasa yang pernah menjadi manusia dan mampu membuat dua bangsa tersebut saling berjabat tangan?" Kemudian dijamahnya tiap jengkal tubuh L yang terekspos dengan matanya.

"Bertingkah ingin menjadi revolusioner, Kira-kun?"

"Tidak mencoba, Tuan Lawliet. Aku mampu." Tatapannya yang menjelajah dada polos L teralih kembali ke mata L untuk kemudian kembali melanjutkan penjelajahannya.

"Impian membentuk utopia itu tidak akan berhasil."Nada suara L seolah meremehkan, akan tetapi ekspresi wajahnya datar, menyembunyikan sesuatu. "Sebaiknya Ia memberikan bukti ketimbang sekedar berbicara."L menurunkan satu kakinya ke lantai, kini ia duduk di sudut ranjang dengan wajah menengadah menghadap Kira yang berdiri. "Kira-kun baru saja menyinggung tentang kaum kami yang senang menculik, melukai fisik dan membunuh manusia, tetapi tatapan mata Kira-kun sekarang seolah ingin melucuti sisa pakaian saya. Saya merasa tidak nyaman dengan tatapan Kira-kun yang seolah melecehkan, ini menambah daftar alasan saya untuk menolak permintaan Kira-kun. Ia tidak ada bedanya dengan para pemburu yang menculik saya."

"Aku bisa. Kau pasti tahu bagaimana pengaruh seorang Kira, Tuan Lawliet. Bagaimana bahwa ia, dalam usia yang sedemikian muda telah memegang peranan besar bagi kelangsungan hidup manusia. Aku, sebagai Kira mampu bukan karena kekuatan keluarga, karena keturunan, atau kekayaan. Aku mampu menanamkan pengaruhku kepada dunia ini murni dengan kemampuanku sendiri. Semua dalam umurku yang bahkan belum mencapai kepala tiga. Bahkan tak ada vampir yang mampu melakukan sedemikian banyak seperti yang aku lakukan, tidak dalam masa ratusan atau bahkan ribuan tahun usia mereka. Bayangkan Tuan Lawliet..." Matanya berbinar dengan nyala api intelegensi dan penuh percaya diri. "Apa yang dapat aku lakukan entah 50, atau 100 tahun mendatang dengan vitalitasku saat ini..."

Wajah L datar dan bosan, kelihatan tidak menghiraukan setiap perkataan Kira. Matanya mulai menebar ke sekeliling ruangan untuk mencari pintu keluar.

"Dan soal tatapanku kepadamu... Itu benar adanya." Kira memasang senyuman mantap. Sikap tubuhnya mengendur lebih santai sambil dihelanya napas panjang. "Ini sangat wajar jika melihat suatu sosok yang sedemikian indah... cantik..." katanya lagi, menatap lekukan tubuh L. "Dan kurasa ini tidak ada pengaruhnya dengan mampu tidaknya saya memiliki keabadian dalam genggamanku, Tuan Lawliet." Matanya menangkap arah pandangan L di sela-sela tatapan menyeluruhnya terhadap lekuk tubuh sang vampir. "Kalau aku memang ingin melakukan hal yang buruk, sudah kulakukan saat Kau terbaring tak sadarkan diri."

"Tentunya ini mempengaruhi saya, Kira-kun, mengingat ia meminta saya untuk mengabulkan keinginannya. Tatapan mata bahkan kata-kata komplimen yang menurut saya tidak wajar ini membuat saya ingin segera keluar dari sini dan membuat harapan Anda semakin tipis."

Senyum Kira memudar.

L melanjutkan, "Akan tetapi terima kasih atas apresiasinya. Kaum kami memang dianugerahi daya tarik yang tidak biasa untuk memikat mangsanya. Tetapi apakah hanya saya saja, setiap lelaki yang memuji tubuh saya membuat saya..." L membuat wajah meringis tidak nyaman, "...tidak enak badan. Saya akui kaum kami tidak terlalu membedakan manusia laki-laki dan perempuan, tapi mohon maaf, saya akan pergi sekarang. Urusan kita selesai. Saya tidak bisa mengabulkan permintaan Kira-kun." L berdiri dari tempat tidurnya, santai tanpa beban, berjalan bungkuk melewati Kira yang terdiam. Sasarannya adalah pintu dobel di sudut ruangan. L turun dari ranjang dengan tenang.

"Gedung ini dipenuhi pemburu vampir profesional," Kira mengingatkan. "Semua untuk keselamatan saya dan jumlah personel ditambah sejak adanya Anda di sini. Mereka sangat profesional dan berbahaya, mungkin saja mereka melebihi kemampuan kelompok pemburu yang menculik Anda. Dengan jumlah lebih banyak, tentu saja. Silakan keluar, jika Anda tidak keberatan harus berkonfrontasi dengan ratusan pemburu di gedung ini."

Kedua kaki L telah menapak di atas karpet hangat. Tidak menghiraukan Kira sama sekali, L mulai berjalan menuju pintu. "Saya berharap tidak terjadi banyak pertumpahan darah. Itu saja." L menyentuh permukaan pintu yang dingin, seolah mengira-ngira kekuatan seperti apa yang diperlukan untuk menghancurkan pintu baja berlapis perak tersebut. L bergeming di tempat. Di belakangnya ia merasakan tatapan intens yang sanggup melubangi punggungnya. L tersenyum, getir, lalu berbalik kembali kepada Kira. "Bagaimana jika saya menyakiti Anda?"

Kira menyeringai, mendesah, "Silakan. Seandainya aku ini hanya orang lemah, aku tidak mungkin bisa selamat melalui segala teror dari kaum kalian selama bertahun-tahun." Ia bersedekap dengan penuh percaya diri. "Ditambah dengan darah vampir ratusan tahun yang sudah kukonsumsi, sementara Anda melemah karena obat dan banyaknya darah yang terambil. Sangat jelas bukan? Siapa yang lebih unggul di sini."

"Kira-kun tidak akan mendapatkan yang ia mau. Saya tidak mau melakukannya."

Wajah tampan Kira terlihat menggelap, entah karena pergerakan bayangan yang melingkupi atau perihal lain. Senyumnya tidak memudar, melainkan membentuk seringai lebar. Mungkin inilah perwujudan fisik dari apa yang dideskripsikan sebagai iblis tampan. "Oh? Aku akan membuatmu bersedia."

L memiringkan kepalanya, menatap Kira dari sudut matanya yang tertutup oleh helai rambut. Tatapan yang tidak kalah gelap. Taring L mulai mencuat dari balik kedua belah bibir penuhnya. Lalu L menggeleng, menelan ludah. "Anda akan menyerah, Kira yang terhormat. Saya tidak berkata apa pun tentang Anda mudah ditaklukkan. Sekalipun Anda tidak akan menyerah hingga akhir, begitu pula saya." L menampakkan profilnya kepada Kira sekarang, berjalan keluar dari kegelapan, mendekat. "Anda tidak akan berhasil," mata menantang, walau wajah tanpa ekspresi, "Kira."

"Segala hal yang ada di dunia ini tidak dapat diputuskan dengan pasti sebelum hasil akhirnya terungkapkan, Tuan Lawliet." Dengan kedua tangan berpindah santai ke saku, Kira pun mengambil langkah maju. Bayangan gelap bergeser dari tubuhnya tetapi karisma iblis tampannya tidak sirna setelah terpapar cahaya.

L mendongak, menatap Kira di wajah, tapi menghindari matanya kini. Senyum melengkung di bibir Kira menarik perhatian L.

"Anggur dan darah di atas meja itu," bisik L. "Itu darah saya."

"Darah vampir suci yang luar biasa," Kira berdeham mengiyakan, berderap maju sambil menebar pandangan ke seluruh tubuh L.

Pandangan L beralih dari bibir menuju ke mata Kira, L berkata, "Bisakah Anda berhenti memperhatikan saya? Apa manusia masa kini tidak mengenal kata sifat 'tidak nyaman'?"

"Tentu mengerti." Senyumannya membuat udara bak terasa lebih dingin. "Dan aku menyukai jika lawanku terintimidasi."

"Bertambah lagi alasan untuk saya menolak permintaan Anda. Percuma saja, Kira-kun." Rahang L mengatup, menyembunyikan taring. Dari jarak demikian L sudah bisa merasakan napas hangat, bunyi detak jantung yang semakin mendekat. "Berapa banyak darah yang Anda konsumsi setiap harinya?" tanya L, menggeleng, seperti mencium wangi alkohol dari seorang pemabuk berat. L sangat tahu warna yang kaya di dalam pembuluh darah di balik kulit berwarna cokelat milik Kira. Kulit yang sehat, dengan beberapa bagian terdapat tonjolan otot yang menyembul keluar. "Ada lebih dari seribu vampir yang akan dengan senang hati memenuhi permintaan Anda."

Kira tersenyum menyeringai, ia mengerti vampir di hadapannya sedang mengagumi pesona yang menguap di dalam aliran darahnya. Sudah bukan rahasia umum bahwa manusia yang sudah banyak mengonsumsi darah vampir justru amat memikat para vampir, ya, darah mereka akan terasa sangat lezat dan memabukkan.

"Kualitas vampir akan tergantung pada vampir yang menjadikan manusia tersebut menjadi vampir. Tuan Lawliet, Anda adalah manusia yang memiliki segala kelebihan dan diubah oleh vampir legendaris. Kini Anda kini sudah berusia lebih dari 8 abad. Tak ada yang lebih menjanjikan dibanding hal tersebut, bukan? Kira tak bisa diubah oleh vampir biasa. Jika Anda bersedia kooperatif maka perlakuanku akan berbeda. Lagi pula berapa banyaknya darah vampir yang sudah kukonsumsi, Anda dapat memperkirakannya sendiri."

Ekspresi wajah datar L berubah. "Saya tidak mau tahu dan saya tetap menolak, Kira-kun. Masih banyak vampir lain sejenis dengan saya." Lalu L berbalik, kali ini berjalan menuju jendela.

"Jalan diplomasi yang tak berakhir dengan kesepakatan dapat berbuah kekerasan, Tuan Lawliet."

Tersenyum pahit, jemari tangan L menyusuri bingkai jendela yang dingin. "Silakan saja, Tuan Kira. Seperti itulah para pemburu. Makhluk tidak bermoral," Di balik wajah angkuh dan penuh percaya diri itu-" L melihat wajah tampan sang pemburu dari pantulan kaca, "-adalah seorang yang pengecut. Saya tahu itu.

L mulai memukul kaca tebal jendela, mengalkulasi sebesar apa kekuatan yang akan dipakai untuk menghancurkannya. Mereka ada di tingkat tertinggi pada gedung, tapi L akan melakukan cara apapun untuk melarikan diri dari cengkeraman manusia berpemikiran radikal itu.

Tak lama setelah berkata demikian, bayangan wajah Kira menghilang dari pantulan kaca disusul satu tarikan keras L rasakan pada pinggangnya dan saat ia menyadarinya, ia merasa... begitu polos. Kain handuk putih yang membalut tubuhnya dihentakkan oleh sang manusia yang telah memiliki kemampuan lebih dari hasil konsumsi darah vampirnya. Kira telah berada di sudut ruangan yang berbeda dari tempatnya berdiri tadi. Kain putih berayun pelan dan Kira memeganginya dengan ekspresi damai. "Malam ini sungguh indah, Tuan Lawliet. Maukah Anda menikmatinya bersamaku?"

L menunduk, bola matanya bergulir ke bawah untuk sekali lagi meyakinkan diri bahwa satu-satunya fabrik penghangat tubuhnya telah direnggut; direnggut dengan kekuatan yang - L menoleh ke belakang, melalui pundak yang telanjang, satu lirikan tajamnya menusuk sang manusia.

"Imoral,"L bergumam, ketus, tangannya yang mengepal kini menarik kelambu bening jendela, menarik dan mengoyaknya. L memutar badan seraya membalut tubuhnya dengan fabrik seadanya. "Saya harap Anda menikmati malam yang menyenangkan." Nada suaranya mengandung emosi yang tidak lagi tersamarkan.

"Sinar bulan begitu cemerlang, bukan?" Tak memedulikan perkataan L. Matanya menerawang ke luar jendela. "Bahkan siluet makhluk magis nan indah yang bersamaku pun terlihat dengan anggunnya. Lekukan menakjubkan dan bulan purnama penuh. Malam ini aku benar-benar beruntung." Baju handuk putih pun menimbulkan suara saat tertarik gravitasi ke permukaan lantai.

L mempedulikan perkaatan Kira, melancarkan tendangan tepat mengenai pipi kiri sang pemburu.

Gerakan L tidak tertangkap oleh mata. Siluet? Lekukan? Bulan? Apakah Anda sekarang melihat bintang?

Akan tetapi ia tidak sungguh-sungguh melukai Kira. Hanya ingin menggertak, pergi dari sini dengan cara apapun.

Wajah Kira menghadap sisi yang lain akibat tendangan L. Tapi sisa tubuhnya tetap terdiam kokoh. "Sebentar, apa yang barusan kulihat?" Kira kembali menghadap L dengan perlahan dan senyuman terlengkung di wajahnya dengan titik merah cair di sudut. Ditatapnya L dalam-dalam. "Aku tadi melihat sesuatu hal yang sangat indah, sayangnya hanya kilasan saja, sesaat sebelum kepalaku teralih ke arah lain." Matanya turun, menuju bagian bawah tubuh L yang terbungkus lembar kain putih tipis.

"Menjijikkan." Wajah L hampir sinis sepenuhnya. L mundur beberapa langkah ke belakang dan membenarkan kain tipis gorden yang melilit di pinggangnya. "Apa bedanya Anda dengan pemburu yang menculik saya kemarin?" Lalu satu pukulan cepat tak tertangkap mata menghantam ke pipi Kira yang satunya. Melihat darah Kira menetes di lantai, L mundur. "Biarkan saya pergi, Kira-kun. Saya tidak ingin melukai Anda."

Proses yang sama berlangsung. Ia kembali menghadap L dengan perlahan dan senyuman terlengkung di wajahnya, hanya dari arah yang berbeda. "Perbedaannya? Tak ada unsur komersialisme di sini, Tuan Lawliet. Dan lagi, ini adalah imbas dari sikap tidak kooperatif Anda. Pergi? Tak akan semudah itu. Tidak setelah Anda tidak memenuhi permintaan saya, memukul saya sebanyak dua kali, dan juga setelah memperlihatkan salah satu supremasi keindahan makhluk hidup tertinggi di dunia kepada saya. Saya orang yang sangat keras kepala, Tuan Lawliet. Anda yang membuat saya lebih berkeras lagi. Jangan salahkan saya jika saya..."Satu kibasan angin mendera sisi tubuh L. Kira menghilang dari hadapannya. "... juga tidak memenuhi permintaan Anda. "

Dan robekan tirai terbawa bersama angin yang timbul dari berlalunya Kira. Tubuh polos L kembali terekspos.

"Pelecehan," desis L. Dengan gigi menggemeretak L langsung berbalik dan merebut kain tipis itu. Suara kain yang terkoyak memantul di dinding bersamaan dengan bunyi gaduh ketika L menyikut tulang rusuk Kira dan mendorongnya jatuh ke karpet. "Niat yang sama, geramnya. "Dengan tujuan pribadi yang bagi saya jauh lebih buruk."

Kira terjatuh dengan elegan, tetapi ia tidak berdiam saja. Ia meraih robekan kain di tangan L dan menariknya dengan tenaga yang cukup untuk membuat L ikut terjatuh bersamanya, di sisinya dengan tubuh tertelungkup dan telanjang. "Nah, katakan Tuan Lawliet... apa ada yang pernah menyentuh Anda seperti... ini?" Sebuah telapak tangan manusia yang hangat ditumpangkan ke atas kedua belah bokong L.

L menepis tangan itu dengan cara berbalik dan bangkit dari lantai. Masih ada sisa kain sobekan di tangan L. Ia menggenggamnya kuat di bawah perut. Sementara dengan teknik gerak tubuh manusianya dan kekuatan serta kecepatan dari darah vampir, Kira, yang terbaring meluncurkan diri tepat di antara pijakan kaki L di atas karpet. Kedua kaki Kira menerjang ke kedua arah, mengenai kaki L yang kembali kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan punggung terlebih dahulu. Kedua kaki yang terhempas di udara segera disambut pitingan sepasang kaki lainnya yang menahan dan menahan kaki jenjang pucat sang vampir agar tetap terbuka lebar seronok, dengan kedua sisi lutut yang menyentuh permukaan karpet. Tak ada kain ataupun tangan yang menghalangi. Semuanya terumbar dengan sangat jelas.

"Nh!"Tenaga yang bukan sekedar milik manusia biasa menjatuhkan L. Sebelum sempat ia menyadari apa yang terjadi, Kira telah menyergapnya. Gesekan kasar antara punggung dan karpetnya membuat L terkesiap pelan, dan mendelik melihat sosok yang berlutut di antara kedua kakinya yang telanjang. L sedang keadaan setengah syok dengan mata membulat sementara Kira menyunggingkan senyum.

"Mempertahankan virginitas selama ratusan tahun... ini berarti kedua kaki indah ini..." Kedua tangan Kira mengelus kedua paha dalam L yang terbuka sempurna. "...hanya pernah terbuka untukku saja? Dan semua keindahan ini tak tersentuh sebelumnya. Malam ini aku benar-benar sangat beruntung." Kira melayangkan ibu jari kanannya untuk menyentuh pintu otot rapat milik vampir pucat yang merona.

Serbuan emosi mendobrak pertahanan L. Sisi pahanya menghantam Kira yang segera terjatuh ke samping dan melepaskan sentuhan pada bagian privatnya. Cukup keras kali ini, walau kurang dari setengah kekuatan imortalnya. L setengah berlutut dengan napas terengah. Ia menelan ludah dengan berat. Tangan mengepal di depan bibirnya menyembunyikan taring yang telah mencuat sempurna.

Kira yang terhempas lalu bangkit terduduk sambil tertawa lepas. Ia memutar arah tubuhnya ke arah L yang setengah berlutut dengan tubuh polos dan kaki yang diposisikan sedemikian rupa untuk menghalangi pandangan Kira.

"Vampir sungguh makhluk yang luar biasa, ya? Ekspresi kemarahannya pun sungguh menawan. L Lawliet si vampir pecinta damai, eh? Aku, Kira, bahkan belum pernah melayangkan satu pukulan pun kepada Anda meskipun kemampuan dan kesempatan begitu tersedia untukku."

"Kenapa tidak melakukannya kalau begitu?" tantang L, seringai di wajah pucatnya muncul sebentar, lalu menjadi senyum tipis yang tidak dipahami oleh Kira. "Ya. Saya rasa tidak ada perlunya saling berbasi-basi. Kira-kun tahu siapa saya, dan mungkin lebih dalam dari apa yang saya ketahui. Tapi jika keadaan memaksa," L berdiri dengan lantang, "Saya tidak akan segan-segan untuk—"

Mendadak mata L memburam. Tangannya melayang ke atas untuk menyentuh keningnya. L merasa panas. Efek dari serangan dan injeksi para pemburu masih memberikan efek.

"Terdapat cukup banyak obat pelumpuh vampir di dalam darahmu."

Mendadak Kira telah berada tepat di sebelah L, sebelah tangan terjulur melintang untuk menopang punggung L sementara jari-jemari tangan tersebut telah menemukan tempat yang nyaman untuk disentuh yaitu pinggang ramping L.

Kira berbisik, "Keadaan terlalu tidak menguntungkanmu, dan aku paham. Oleh karenanya tak dibutuhkan terlalu banyak tenaga dan kekerasan olehku di sini," ucap Kira dengan pandangan dalam diiringi senyuman gagah milik seorang ksatria.

L menepis tangan Kira dengan tangannya, terhuyung mundur ke belakang dengan punggung setengah membungkuk. Rasa yang melemahkan menyebar ke seluruh pembuluh darah membuat mata L hilang fokus untuk sementara. Di dalam dada segala emosi berkecamuk. Ia, L, vampir tua yang sudah pernah hidup dan melewati kematian dan marabahaya ratusan kali kini hampir jatuh berlutut dengan kaki yang gemetar, di hadapan seorang manusia. Seorang manusia.

"Jangan sentuh saya." L menggeleng. "Manusia tidak bermoral seperti Anda." L menatap dengan kebencian sepenuhnya.

"Tidak bermoral." Kira memejamkan mata dan menarik napas dalam kemudian dihelanya dengan berat. "Aku dapat menunjukkan wajah iblis maupun bertindak keji, tetapi semuanya memiliki tujuan. Tujuan besar untuk dunia ini." Sepasang matanya terbuka kembali, kedua makhluk di dalam ruangan saling melempar tusukan mata. "Untuk mencapai hal besar butuh pengorbanan. Apa Anda mengira aku tidak melakukan pengorbanan? Untuk dapat memaksimalkan kemampuan yang kumiliki dan mencurahkan sepenuhnya demi dunia, aku butuh kekuatan lebih. Kekuatan seorang vampir. Jangan mengira aku menganggap bahwa menjadi vampir adalah hal yang mudah atau menyenangkan. Sisi manusia dalam diri yang akan tergeser, nafsu besar pada darah manusia, ketidaknyamanan akan matahari... Aku sanggup menanggung dan melewati itu semua. Aku mengetahui apa yang bisa dan tidak kulakukan. Ini adalah pengorbanan kecil untuk dunia, untuk bangsa manusia dan juga bangsa kalian nanti."

Tidak berdaya, L hanya menusuk Kira tajam dengan tatapan matanya; Tatapan yang harusnya selalu berhasil melumpuhkan lawan.

"Aku menawarkan kerjasama, Lawliet." Kira membuang formalitasnya. "Aku butuh bantuanmu. Aku butuh dirimu."

"Saya tidak butuh janji dan cerita karangan," bisik L, tusukan mata antara kedua semakin intens, percikan api mungkin akan terlihat bila L maju selangkah untuk kembali menyerang secara penuh. "Saya tidak akan mengabulkannya. Saya bersikeras menolak tawaran Anda." Mata L menyipit tajam dengan keputusannya yang definit. "Sampai kapan pun."

Dengan transformasi drastis, wajah Kira berubah dari ksatria tampan menjadi iblis mengerikan. "Baik, Lawliet. Baik." Ia mengambil beberapa langkah ke arah L. Indera pendengaran L yang sangat sensitif mampu menangkap getaran suara di atas karpet. Teredam, tetapi berderap lantang. Kira marah. "Sejak semula aku memang tidak mengesampingkan kekerasan di sini. Opsi kekerasan dapat diambil dan sekarang adalah saatnya."

Dengan kemampuan dari orang yang sangat ahli memanfaatkan kemampuan darah vampir, Kira menghambur maju. Saat L hendak menyiapkan diri, batang leher pucatnya telah dicengkeram dan diangkat tinggi. Tapi tak lama. Dengan ringan, tubuhnya dilempar ke sudut ruangan. Tempat tidur meredam jatuhnya L dan meminimalisir efek destruktif lemparan Kira. Mata L membelalak maksimum; syok, tidak berdaya. Kekuatan manusia biasa yang seharusnya bisa ia tangani hanya dengan membulatkan mata dan menjentikkan jari. L tercekat tidak sempat meraih kedua tangan Kira dan memberikan cakaran mautnya. Tubuh L terangkat dan terlempar seperti boneka, mendarat di atas permukaan empuk yang berderak. Bingkai tempat tidur dan lukisan di atasnya bergetar. L mengeluarkan rintihan tertahan dan mencengkeram kasur satin di bawahnya, mendelik kepada penyerangnya dengan wajah diliputi horor.

Kira tetap memasang wajah bengis. Tanpa gerakan percuma, ia melepas jas mewahnya yang meluncur turun di lengannya dengan seketika dan langsung tergeletak di lantai. Kemudian, Kira dengan pose angkuh melonggarkan dasi merah darahnya lalu kedua tangannya menuju ikat pinggang kulitnya.

"Ini klasik." Kira menatap ikat pinggangnya yang sedang dilepas dengan senyuman penuh ironi. "Banyak media yang telah memperlihatkan bagaimana ikat pinggang digunakan untuk mengikat lawan. Klasik. Sudah umum. Tapi ternyata kulakukan juga." Ikat pinggang tersebut mengeluarkan bunyi dentingan saat terlepas sepenuhnya. Bagian dalam ikat pinggang yang terlihat saat berayun menampilkan potongan lempengan-lempengan berkilauan yang tersusun sejajar. Perak. "Ini alat tersembunyi untuk mempertahankan diri dari vampir," kata Kira setelah menangkap ekspresi kaget L. " Dan memiliki kegunaan seperti yang telah kusebutkan tadi."

L menghembuskan napas berat dari sela bibirnya, dua buah taringnya terlihat jelas. Ia mengambil ancang-ancang untuk menyerang, berlutut di atas tempat tidur sama sekali tidak peduli dengan kondisinya yang kian melemah. Haruskah ia membunuh manusia ini? Melumpuhkannya tanpa harus menghabiskan banyak tenaga? Dan bukan keputusan cerdik untuk keluar dari kamar ini dengan menghadapi ratusan pemburu lainnya. Kedua mata L terpejam, satin dingin terkoyak oleh cakarnya yang menajam.

"Jangan mendekat," bisik L lirik.

Tubuh Kira terlontar di udara. Ia melompat. Dan lompatan itu berakhir di atas tempat tidur, tepat di hadapan L. Terlambat. Tubuh sang vampir pun terhempas menabrak lukisan lalu mendarat keras di atas ranjang sementara Kira memandang dengan tidak suka.

"Cih. Sangat disayangkan untuk memberi warna lain di atas wajah pucat rupawanmu itu. Tapi kau yang membuatku melakukan semua ini."

L membiarkan darah menetes turun dari bibir ke dagu tanpa menyekanya, akibat dari pukulan kasar. Tatapannya dingin. L tidak bereaksi banyak selain menutup rahangnya rapat, walau tetap tidak bisa menyembunyikan ujung tajam taringnya.

Menyeringai mengejek, Kira pun berkata dengan suara berbisa, "Tetap dingin. Tapi wajah itu akan segera kuubah."

Kira menerjang L, menindih dan menangkap kedua tangannya dan memaksa keduanya untuk terangkat. Dibius. Dilempar. Lemah karena darahnya diambil. Sang vampir telah mengalami semua itu, tetapi ia tidak akan pernah menyerah. Kedua alis Kira menekuk marah. Gigi manusianya terkuak dari mulut yang terbentuk dari ekspresi marah. Manusia yang beralih menjadi makhluk buas yang siap menerkam kapan saja. Dan terkaman itu pun tiba. Wajah Kira terbenam pada sisi leher polos L, mengumbar gigitan pedih nan dalam.

L hanya menatap dingin, wajah bersih dari emosi dan amarah yang sebelumnya terpapar jelas. Gigi Kira menggemeretak, wajah iblis, emosi. L sesaat membayangkan bagaimana wajah itu jika ia berhasil bergabung menjadi satu dengan kaumnya. Tapi itu tidak akan terjadi. Sementara L fokus dengan ekspresinya, segalanya terjadi begitu cepat. L tidak merintih; ia terlalu kaget untuk bersuara. Taring manusia mengoyak kulit, menancap tepat ke dalam buntalan pembuluh arteri, melukainya. Terguncang. Kedua tangan L mengepal keras dan kakinya bergerak gelisah.

Gigi menancap, membentuk luka yang segera mengalirkan cairan merah hangat ke dalam mulut. Merembes, membungkus lidah dan menyebarkan rasa. Kedua mata Kira terbuka lebar. Rasa darah sang vampir begitu manis. Membalas gigitan secara fisiknya dengan gigitan rasa. Bibir Kira tersenyum kemudian ia menggigit sekali lagi. Ia memutar rahangnya setelah menggigit, mengoyak luka yang telah terbentuk. Lebih banyak darah yang mengalir dan akhirnya menghilang tersapu jilatan. Adu tarik-menarik tangan terlihat seperti akan menemui hasil akhir. Kedua lengan L telah terangkat penuh. Satu tangan Kira pergi meninggalkan cengkeramannya untuk meraih ikat pinggang berlempeng perak lalu kembali memegangi tangan L yang terus meronta.

"Henti-...!" Kedua mata L terpejam, luka melebar dan darah mulai membentuk genangan kecil dan mengaliri di lengkungan leher dan pundak. Perih. Pergelangan tangannya terikat oleh material perak, tapi tidak mampu menyiutkan nyalinya untuk terus memberontak, menyebabkan kedua tangan pucat L tergores dan mengeluarkan lebih banyak cairan merah. Lidah panas Kira menyusuri lehernya dan mengecap darah, meminumnya.

Satu lilitan mengokohkan ikatan tangan L pada bingkai tempat tidur. Kira berhenti menggigit lalu bangkit, menopang tindihan tubuhnya dengan kedua tangan untuk memandangi hasil karyanya. L terbaring dengan rambut hitam yang berderai di sekitar wajahnya, memberi sisi misterius dan liar di atas keindahan eksotis. Titik-titik merah muncul dari deretan guratan pada leher, jejak perlakuan Kira yang baru saja terjadi. L menghujam mata Kira dengan amat tajam. Kedua kristal hitam pun dapat memancarkan kobaran amarah. Kira memandangi L tanpa mengedipkan mata. Lidahnya menyusuri sekitar mulutnya, menghapus kenikmatan manis yang masih tersisa. Kemudian, senyuman sang iblis tampan terlengkung kembali.

Beberapa saat setelah menahan kesakitan, leher L akhirnya terbebas dari jilatan dan hisapan. Deretan gigi Kira tercetak pada kulit pucat, darah membulat di atas luka dan meluncur turun, melewati dada L yang naik turun dengan berat, mengikuti lekuk perutnya. L masih saja meronta kecil, tangan yang terikat menggetarkan bingkai tempat tidur menimbulkan bunyi gaduh material perak bertemu logam. Matanya memburam, tidak fokus, tapi dengan sekuat tenaga memperlihatkan sejumlah emosi dan luapan rasa jijiknya.

"Anda terlihat puas. Menjijikkan," desah L. Beberapa saat beradu mata, lalu L menunduk, terpejam lemah. Racun sudah menjalar, mempengaruhi sistem tubuh, sulit bagi L untuk bertahan.

"Puas? Belum, Lawliet," balas Kira, tatapannya beralih, mengarah pada darah yang mengalir di atas dada L, lalu mengusap dengan ibu jarinya. Kemudian, tatapannya kembali pada mata L. Dengan gerakan sugestif, Kira menjilat sapuan darah pada ibu jarinya sambil menekan bagian bawah tubuhnya kepada L yang tertindih. "Rontaanmu makin lemah, Lawliet. Terlalu banyak obat yang melumpuhkanmu? Dan apakah posisi kita saat ini," Kira menghentakkan panggulnya maju, memberi tekanan pada tubuh L sehingga kasur pegas menghentak balik, "telah membuatmu berubah pikiran?"

Gigi L menggemeretak, perlahan tapi pasti, sang vampir menampakkan taringnya. Tubuhnya yang lemah menggeliat otomatis meminamalisir tekanan dalam. Sudah lama ia tidak merasakan mual dan denyutan di kepala belakang. L menggeleng, lalu ia mendekatkan wajahnya. "Kira seorang manusia imoral rendah yang rakus berangan-angan tinggi menjadi imortal sebagaimana kaum rendah kalian lainnya dan ingin menjadi Dewa. Kekanakan. Delusional. Ia merendahkan harga diri saya karena saya memiliki kebutuhan berbeda dari vampir lainnya. Kira yang ingin menyatukan semua kaum adalah seorang rasis." L memuntahkan komentar bersifat venom yang diucapkan langsung di depan wajah tampan sang iblis, dengan jarak yang sangat dekat hingga hidung mereka nyaris saling menyentuh satu sama lain. Lalu L menarik kembali wajahnya. "Dan ia mengejar seorang vampir laki-laki. Tidak beruntung kah dengan kaum Hawa?"

Kira menatap L dari jarak yang menjauh tersebut sambil mendengarkan bombardir pedas L lalu memutuskan untuk menjadikan jarak di antara mereka ke dalam satuan nol. Kira pun memberangus maju, mencuri sebuah kecupan dengan cepat. Ekspresi syok L adalah imbalan yang memanjakan mata.

"Rasis? Bukankah sedari tadi kamu yang merendahkan kaum manusia, Lawliet? Bersikap bagaikan tuan bangsawan yang berada di tempat tinggi yang tak tersentuh." Kira menatap tajam juga gemas. "Sikapku ini merupakan imbas sikap dari kekeraskepalaanmu itu, Lawliet." Kira membelai liukan liar rambut hitam L yang berkilauan di tengah keremangan ruangan.

Ekspresi terkejut L berubah kembali datar, ia membuang muka dengan bibir berkerut jijik. "Anda..." Kata-kata L berhenti, mengecap rasa asing yang tertinggal pada daerah bibirnya. L bisa merasakan darahnya berdesir, berkumpul di sekitar leher ke atas. Ia mengendalikan diri dengan menarik napas panjang-panjang. "...akan membayar semua ini-"

"Dan tuduhan terakhirmu sungguh tidak berdasar. Jumlah tahun, bulan, atau hari dalam rentang umurmu pun tidak mampu dibandingkan dengan banyaknya wanita yang mengagumi dan memujaku, Lawliet. Tidak beruntung dengan kaum Hawa? Kurasa Dewi Asmara akan tertawa geli mendengarnya. Jangan bandingkan aku dan melihatku dari sudut pandang seseorang yang tak memiliki pengalaman dalam percintaan seperti dirimu, Lawliet." Kira tersenyum berbinar dengan kepercayaan diri dan nada suara nakal.

"Saya berada di sini bukan untuk mendengarkan ocehan dan mengagumi sikap 'rendah hati' Anda." Lalu menyerang Light kembali dengan tatapan gelap. "Dan siapa yang merasa sedang berada di tempat tinggi? Dengan Anda memenjarakan saya dan memaksa, juga mengolok-olok saya yang tidak memiliki pengalaman sebagaimana Anda seorang Dewa penganut paham narsisme."

"Kira '-kun'?" Kira tersenyum lebar. "Manis sekali. Caramu menyebutkan namaku sungguh adiktif di telinga, Lawliet." Kira melihat apakah godaannya menimbulkan riak di dalam sepasang mata gelap nan marah itu. "Kau berada di tempat tinggi. Bisa kulihat bahwa kau memandangku bak seorang bangsawan yang menatap rakyat jelata yang menurutnya tak sepadan. Tetapi rakyat jelata tersebut hanyalah sebuah topeng untuk menyembunyikan jati diri seorang yang memiliki kekuasaan dalam banyak hal. Percintaan, romantisme, sensualitas. Itu hanyalah sebagian kecil dari apa yang kukuasai, Lawliet." Kira menyelipkan sebelah kaki di antara kaki jenjang telanjang L. "Ya, aku akan membayarnya. Aku akan membayar dengan mengajarkan padamu bagaimana sensualitas dan gairah fisik itu. Usia panjang memang tidak berarti memahami segalanya."

Mata L bergulir turun menyorot lutut di antara kedua kakinya, terbelalak lebar dengan setitik ketakutan dan kesadaran yang hampir tidak tertangkap mata. "Tidak," balasnya ketus. "Jangan coba-coba, Kira. Tidak."

"Ya." Kira mendorong lututnya ke atas, menyentuh selangkangan sang vampir. "Akan kulakukan. Oh ya, bagaimana rasa kecupanku tadi?" Kira menyeringai lebar dan menatap bibir L yang merona, kontras dengan kepucatan parasnya.

L menjawab dengan menatap mata Kira intens, masih berusaha mengendalikan diri untuk tidak meledak marah. Pertanyaan itu sedikit menimbulkan reaksi dengan rasa panas yang menyebar hingga ke wajah L, walau kulitnya yang pucat dan dingin tidak terlihat merona.

"Tak menjawab? Apa kau telah lupa bagaimana rasanya sehingga perlu diberi satu kecupan lagi?" Senyuman nakal terbentuk di wajah tampan Kira. Kini sang iblis tampan telah berubah menjadi seorang don juan penebar rayuan.

"Apakah saya perlu menjawab sesuatu yang dirasa sangat memuakkan? Jika saya manusia maka saya ingin mengosongkan isi perut."

"Aku manusia, Lawliet. Dan melihatmu seperti ini beserta dengan kekeraskepalaanmu membuatku ingin memelukmu dan menyentuhmu lebih dalam," Kira berkata dengan suara dalam yang berat dan perlahan. Don Juan menebar racun sensualitas di dalam tiap kata.

L membuang wajah seolah untuk menghindari napas hangat Kira yang menerpa wajahnya sekilas; panas dan mengandung hasrat manusia yang menjadi kebutuhan dasar. L merasakan jari kakinya mengepal, dan tangannya bergerak gelisah dalam belenggu. "Apa yang akan Kau..."Tapi L sudah tahu jawabannya, ia menggigit bibir. "Jangan berani... Jangan, Kira."

"Ya, Lawliet, ya." Kira mengulum senyuman yang lantas membuat wajah pucat L terlihat memucat. "Aku akan melakukannya."

Kira mendekatkan wajah perlahan yang seolah ingin mengecup bibir L kembali, tetapi terhenti. Wajahnya bergeser turun, mulai menghilang dari pandangan L dan digantikan dengan sensasi sentuhan ujung hidung pada dada yang terus berjalan ke bawah, mengikuti lekuk tubuh L. Kedua tangan yang menopang tindihannya beralih fungsi menjadi pembagi sentuhan. Keduanya berada di dua sisi tubuh L, merayap dan mengapresiasi lekukan ramping figur L dengan jamahan halus. Wajah dan kedua tangan Kira berjalan seirama dan sejajar dan akhirnya terhenti dengan wajah Kira tepat berada di hadapan daerah intim sang vampir.

L menyaksikannya; setiap sentuhan hangat, belaian tajam yang membuat separuh tubuhnya gemetar, tatapan mata yang menggoyahkan daya tahannya. Ia tidak bergeming. Sedikit pergerakan akan membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Dengan mata membelalak horor sepenuhnya, L hanya bisa menatap apa yang akan Kira lakukan terhadapnya.

"Tidak." Suara L satu oktaf di atas bisikan, ia mengucapkannya dengan nada tidak percaya. Isi kepalanya sibuk memperkirakan banyak hal yang akan terjadi di masa depan yang mengancamnya. "Hentikan. Kira!"

Ada harga seumur hidup yang harus dibayar untuk mengubah seorang manusia menjadi vampir.


To be Continued...