.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)/Hinata-centric
Main Pair : SasukexHinata
Genres : /Romance/Mystery/Horror/Friendship/Hurt-comfort/Angst
.
Only Doll Still Doll
Chapter 7
.
Hinata sampai di sebuah gedung yang begitu megah. Gadis itu menatap takjub pada isi gedung tersebut yang tampak seperti sebuah istana pada abad jaman pertengahan dengan nuansa Eropa. Matanya benar-benar dimanjakan oleh pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Shizune membawa gadis itu ke dalam ruangan milik Tsunade, sang kepala perusahaan yang ruangannya terletak pada lantai atas. Hinata berjalan mengikuti langkah Shizune dengan perasaan gugup yang luar biasa.
"Kau tenang saja." Tiba-tiba saja Aoba yang sedari tadi memerhatikan Hinata menepuk pundak kecil gadis itu. "Tsunade-sama itu pada dasarnya adalah orang baik. Percayalah, semua pasti akan baik-baik saja!" ucapnya memberikan semangat dan keyakikan pada Hinata.
"Te-terima kasih," balas Hinata sambil tersenyum tipis kepada Aoba.
"Jangan khawatir! Aku berani jamin Tsunade-sama pasti akan sangat menyukaimu!" sambar Shizune yang terlihat begitu yakin.
Hinata berjalan di sepanjang lorong bersama dengan Shizune dan dua orang lainnya menuju lurus ke depan. Tepat pada ujung lorong itu dapat terlihat sebuah ruangan. Kemungkinan besar ruangan itulah di mana orang yang bernama Tsunade itu berada. Jantung Hinata semakin berdebar kencang setiap dia melangkah. Ada perasaan takut bercampur dengan rasa antusias. Ini pertama kalinya dia diajak untuk bertemu dengan orang penting seperti ini.
"Nah, kita sudah sampai." Keempat orang itu kini berdiri tepat di depan pintu ruangan yang terbuat dari kayu jati asli dan memiliki ukiran burung kenari yang terpahat indah pada pintu tersebut.
"Hinata, apa kau sudah siap?" Shizune melirik ke arah Hinata yang berdiri tepat di sebelahnya.
"I-iya, a-aku sudah siap!" Hinata mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat di depan dada.
"Baiklah, ayo kita masuk ke dalam." Shizune tersenyum lebar saat melihat tekad Hinata.
Wanita yang memakai kemeja serta rok mini berwarna hitam itu segera membuka pintu ruangan tersebut secara perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit bagian dalam ruangan terlihat oleh sepasang manik lavender Hinata yang menyiratkan rasa keingintahuan saat mencuri pandang ke dalam ruangan tersebut. Dia hanya ingin tahu seperti apa rupa dan wujud ruangan milik seseorang yang memiliki perusahaan besar di Konoha. Apakah ruangan milik Hiashi, ayahnya juga sama seperti ruangan milik Tsunade?
Begitu pintu terbuka lebar Hinata menangkap sosok seorang wanita cantik tengah berdiri di dalam ruangan sedang menatap ke arah mereka. Kedua manik amber itu menyorot langsung ke arah Shizune dan dirinya.
"Masuklah ke dalam Shizune," perintah wanita itu, "apa kau sudah membawa Yamanaka Ino kemari?" tanyanya kemudian begitu rombongan Shizune masuk ke dalam.
Kedua mata itu bergulir, menatap Shizune, Aoba, Tsubaki, dan Hinata satu-persatu dengan tatapan intens. Sesaat kemudian matanya tertuju pada Hinata dan mengamati gadis itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Aneh, itulah kata yang terucap dalam batinnya saat melihat penampilan Hinata. Sebagai remaja, gadis itu terlihat sangat kuno, dengan pakaian seragam sekolah yang terlalu memenuhi syarat, kacamata tebal yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Hinata yang diperhatikan hanya bisa tertunduk dengan perasaan canggung.
"Aku tak melihat Ino di sini. Di mana dia?" pandangan wanita itu kini beralih ke Shizune dan menanyakan perihal Ino yang tidak datang bersamanya.
"Tsunade-sama tenang saja! Kita bahkan mendapatkan yang jauh lebih baik dari Ino!" Shizune dengan bangga memperkenalkan Hinata pada Tsunade. Dia memegang kedua bahu kecil Hinata dan mendorongnya sedikit maju ke depan agar Tsunade dapat melihatnya lebih jelas.
"Dia?" Tsunade mengernyit sambil menatap Hinata. "Apa kau tidak salah? Kau membawanya untuk menggantikan Ino?" nada suara Tsunade terdengar meninggi, "Gadis ini bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan Ino!"
Hinata langsung tertunduk lesu begitu mendengar perkataan Tsunade. Harapannya hancur untuk melangkah maju ke depan. Sepertinya Tsunade tidak menyukainya dan tetap menginginkan Ino sebagai model untuk produknya.
"Hmph..." Shizune mengeratkan genggaman tangannya pada bahu Hinata. "Apa Anda tidak bisa melihatnya?" tanya Shizune dengan nada sarkastik pada Tsunade.
"Apa maksudmu?" Tsunade tak mengerti apa yang sedang dibicarakan asistennya itu.
"Hinata, coba kau maju ke sini dan berputarlah." Shizune meminta Hinata untuk maju selangkah lagi ke depan.
Meski tak mengerti kenapa Shizune menyuruhnya seperti itu, Hinata tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh wanita itu tanpa banyak protes. Dengan ragu Hinata melangkah maju dan berputar, seperti dengan yang diminta Shizune.
"Su-sudah..." Hinata berhenti sesaat setelah berputar sambil menatap ke arah Shizune.
"Apa Anda tadi sudah melihatnya, Tsunade-sama?" Shizune malah melemparkan pandangan ke arah Tsunade yang saat ini tampak menyeringai. Wanita itu bersikap, seolah-olah dia baru saja menemukan sesuatu yang berharga.
"Kerja bagus, Shizune," ucap wanita itu yang terdengar puas. "Sekarang bawa dia ke ruangan tunggu. Aoba segera panggilkan kru untuk bersiap-siap, dan Tsubaki, bantu aku mencari kostum, lalu kau Shizune, kau tahu apa yang harus kau lakukan pada gadis itu." Tsunade tiba-tiba saja jadi bersemangat, dan hal itu membuat Hinata bingung.
"Apa ini artinya a-aku diterima...?" tanya Hinata sambil melirik ke arah Shizune dan Tsunade secara bergantian.
"Tentu saja, kau sangat memenuhi syarat! Maaf atas sikapku sebelumnya. Aku harap kau tidak memasukkannya ke dalam hati." Tsunade lah yang menjawab pertanyaan Hinata dengan cepat. Wanita itu tampak bahagia.
"Syukurlah...," ucap Hinata yang secara spontan langsung bernapas lega karena ketakutannya akan penolakan Tsunade tidak terjadi.
"Ayo, Hinata. Ikut aku!" Shizune segera mengajak Hinata keluar dari ruangan itu.
Sesaat setelah Shizune dan Hinata berjalan keluar, Aoba, Tsubaki, juga Tsunade sendiri ikut menyusul keluar tepat di belakang keduanya. Mereka semua pasti mau segera melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing. Diam-diam Hinata menaruh rasa kekaguman pada Tsunade. Meskipun dia merupakan kepala perusahaan, namun wanita itu tidak tanggung-tanggung dalam pekerjaan. Dia bahkan bersedia untuk turun tangan sendiri dan membantu staff lainnya.
...
Shizune membawa Hinata ke ruangan yang terletak satu lantai di bawah ruangan milik Tsunade. Ruangan itu memiliki pintu berwarna hitam dan bagian dalam ruangan dapat terlihat jelas dari luar, karena dinding pada ruangan itu diganti dengan kaca bening.
Pada ruangan itu Hinata dapat melihat ada seorang pemuda yang sedang duduk menunggu pada sofa hitam sambil membuka-buka sebuah koran. Pemuda itu tak lain adalah Sasuke. Sepertinya dia sudah berada di dalam sana sejak tadi. Mendadak saja Hinata jadi merasa tegang begitu mengetahui ada Sasuke di dalam sana. Ada rasa takut, tapi dia tak bisa mundur lagi, karena ini sudah menjadi pilihannya untuk menerima tawaran sebagai model.
"Masuklah, Hinata." Shizune membuka pintu hitam tersebut. "Tunggulah sebentar di sini. aku mau melakukan beberapa persiapan dan akan segera kembali," ucapnya meminta Hinata untuk menunggu sebentar di dalam.
"Hinata?" Sasuke yang menyadari kehadiran Hinata langsung bangkit dari duduknya dan menatap tak percaya ke arah ambang pintu.
"Oh, iya. Kami belum sempat menginformasikan padamu kalau kami mengganti pemeran wanita yang seharusnya diperankan oleh Ino, kini diganti oleh Hinata." Shizune menjelaskan perihal keberadaan Hinata di sana sebagai pengganti Ino kepada Sasuke.
"Apa kau tidak salah? Dia menggantikan peran Ino?" Sasuke benar-benar tak percaya dengan kebenaran ini.
"Tentu. Apa ada yang salah?" tanya Shizune dengan heran kenapa Sasuke kelihatan terkejut sekali saat mendengar peran Ino diambil alih oleh Hinata.
"Dia itu..." Entah apa yang terjadi, tapi Sasuke tidak meneruskan ucapannya."Ah, tidak. Kita lihat apa saja yang bisa dilakukannya nanti," ucapnya kemudian sambil tersenyum meremehkan ke arah Hinata.
"Oh..., ya sudah," balas Shizune sambil memiringkan sedikit kepalanya. Dia bingung dengan sikap Sasuke yang agak aneh. "Aku yakin kalau Hinata pasti bisa menjalani perannya dengan baik." Wanita itu melemparkan senyuman kepada Hinata.
"Aku akan berusaha!" Hinata mengangguk mantap. Dia tak ingin mengecewakan Shizune yang sudah begitu percaya kepadanya, juga Tsunade yang telah memberikannya kesempatan.
Selepas pembicaraan singkat itu, Shizune beranjak meninggalkan ruangan tersebut, dan tak lupa tentunya untuk menutup pintu ruangan, meninggalkan dua insan berbeda jenis kelamin yang kurang akur itu di dalam.
.
.
Hinata bergerak sedikit demi sedikit mendekati sofa. Oh, ayolah, dia ingin sekali duduk. Sedari tadi berjalan dan diseret-seret oleh Shizune membuatnya kepayahan. Setidaknya sebelum semua kegiatan dimulai, ia ingin istirahat sejenak dan merasakan sofa empuk di dalam ruangan itu.
Sementara itu Sasuke tampak kembali berkutat membaca koran yang sedang ia pegang, meskipun sebenarnya dia diam-diam mengamati pergerakan Hinata. Tatapan onyx itu begitu tajam memandang Hinata, bukan, lebih tepatnya ke arah 'sesuatu' yang hanya bisa dilihat olehnya.
Satu langkah lagi gadis itu berhasil mendaratkan tubuhnya di atas sofa hitam tersebut. Tapi, tiba-tiba saja Shizune datang dan membuat Hinata tersentak kaget, membuatnya tak jadi duduk, dan malah kembali berdiri sambil menatap Shizune yang kelihatan tengah kebingungan.
"A-ada apa, Shizune-san? Bukankah tadi kau bilang mau mengambil persiapan?" tanya Hinata yang heran melihat Shizune yang belum ada 5 menit keluar sudah kembali lagi masuk ke ruangan.
"Akan lebih gampang kalau kau ikut langsung saja, ayo Hinata!" Shizune, seperti biasa langsung menarik tangan Hinata sebelum gadis itu sempat merespon, dan Hinata seperti yang sudah-sudah, hanya pasrah ditarik-tarik oleh Shizune.
Kedua gadis itu dengan cepat menghilang dari hadapan Sasuke. Pemuda itu mendengus. Ia melipat kembali koran yang dibacanya dan meletakkannya di atas meja, kemudian ia bangkit dari posisi duduknya, berdiri tegap dengan tatapan mata yang memicing ke tengah ruangan tersebut.
"Sebenarnya siapa kau? Sejak tadi aku melihatmu terus mengikuti Hinata." Sasuke kini terlihat sedang berbicara sendiri di tengah ruangan kosong itu.
Tidak, pemuda itu sedang tidak gila atau pun sedang ngelindur. Saat ini dia sedang berbicara pada sosok pemuda yang hanya bisa dilihatnya seorang diri. Sosok pemuda itu terlihat berlumuran darah pada bagian wajahnya, membuat rupa sang sosok menjadi agak samar, yang jelas sosok itu berpenampilan persis seperti boneka yang dibawa Hinata beberapa waktu lalu saat ia mengantarkan gadis itu pulang.
"Kenapa kau mengikuti Hinata? Kau bukan hantu, juga bukan manusia. Katakan, siapa dirimu!?" dengan nada suara yang memerintah, Sasuke menuntut penjelasan dari sosok yang dilihatnya.
"Heh..." Sosok itu tak menjawab, pun tak bergeming. Sosoknya hanya menyeringai dengan aneh menanggapi pertanyaan dari Sasuke.
"Aku tidak tahu mahkluk apa sebenarnya kau ini, tapi..." Sasuke berbicara dengan nada yang mengancam, "kalau kau masih terus menguntit Hinata, aku akan membakarmu!" seketika kedua bola mata kelam Sasuke berubah warna menjadi merah yang terang menyala.
Dari kekuatan mata Sasuke, muncul api pada ruangan tersebut yang mengelilingi sosok pemuda itu. Api berwarna biru itu berkobar mengunci sang mahkluk pada tengahnya. Yah, selama ini Sasuke menyembunyikan kekuatannya yang mampu melihat mahkluk tak kasat mata dan memiliki kekuatan untuk memusnahkan roh, meskipun saat ini dia tak yakin dapat melenyapkan mahkluk yang sedang berdiri di hadapannya ini atau tidak.
"Aku sama sekali tidak menduga kau memiliki kekuatan api suci." Akhirnya sosok itu bicara juga pada Sasuke.
"Aku perintahkan padamu untuk pergi dari Hinata!" tukas Sasuke dengan tegas.
"Aku tidak mau," jawab sosok itu dengan jelas menolak perintah Sasuke. Tampaknya kekuatan api suci yang dimiliki Sasuke tak cukup membuatnya untuk merasa takut.
"Cih! Kau keras kepala!" Sasuke mendecih kesal saat mendapati sosok yang ada di hadapannya ternyata sangat keras kepala.
Sosok tak kasat mata yang ada di depannya berbeda dari mahkluk-mahkluk 'lain' yang biasa berkeliaran dan mengikuti Hinata, yang dengan satu kali gertak mereka akan langsung lari kocar-kacir segera menjauhi sang gadis. Tapi mahkluk yang satu ini sangat berbeda, dia bahkan masih bisa terlihat santai meskipun telah dikelilingi oleh api suci.
"Kalau kau masih tak mau pergi dari Hinata, aku akan segera melenyapkanmu!" ancaman Sasuke tentu tak main-main. Dia bersiap untuk membakar sosok tersebut.
"Kalau kau menghancurkanku, maka Hinata akan mati." Seketika Sasuke menghentikan aksinya. Dia kembali menjadi normal dan api suci yang tadi mengelilingi mahkluk itu lenyap seketika.
"Apa maksudmu Hinata akan mati? Kau jangan main-main!" tampak jelas raut kekhawatiran tergambar pada paras rupawan pemuda bermata kelam itu.
Sasuke selama ini bersikap acuh dan sadis pada Hinata karena selama ini dia merasa terganggu dengan kehadiran mahkluk-mahkluk lain yang sering sekali mengikuti Hinata. Jujur saja, berada dekat dengan Hinata membuatnya tak nyaman, dan dia heran, bagaimana seorang Hinata bisa membawa belasan mahkluk dari dunia lain itu? Seolah-olah dirinya adalah sebuah magnet yang mampu menarik para roh untuk menempel padanya. Secara diam-diam, tanpa sepengetahuan gadis itu tentunya, Sasuke mengusir para roh yang sering mengikutinya. Selain hal tersebut, Sasuke merasa agak kesal, karena Hinata adalah satu-satunya gadis yang terlihat tidak tertarik pada dirinya.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjaga Hinata-hime sebagai balas budiku karena dia telah menyelamatkanku. Kau tidak perlu repot-repot lagi untuk menjaganya, Sasuke Uchiha." Ucapan dari sosok itu malah membuat hati Sasuke panas. Seolah ingin menyatakan kalau hanya dia yang mampu menjaga Hinata, tak ada lagi yang bisa melakukannya.
Setelah berbicara seperti itu, sosoknya pun lenyap dari pandangan Sasuke hanya dalam sekejap mata. Pemuda raven itu langsung meraung kesal sendirian di dalam ruangan. Dia benar-benar merasa ditantang oleh perkataan tersebut. Tapi dia tak akan tinggal diam. Dia pasti akan menyelidiki identitas sosok tersebut, juga maksud dari ucapannya yang mengatakan kalau Hinata akan mati.
Disaat Sasuke sedang memikirkan kejadian tadi, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Sosok Hinata muncul dari balik pintu memasuki ruangan dan sosok gadis itu benar-benar membuat Sasuke terperangah sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya.
TBC
A/N : Saya sengaja menyempatkan diri untuk update sebelum imlek, takutnya bakalan lebih sibuk lagi (untuk beberapa hari ke depan) dari hari ini. Semoga penjelasan atas sikap Sasuke di sini terjawab.
T
H
A
N
K
S
For support and review.
