"Kau jangan gila Park! Jelas-jelas mereka anakku, anak-anak kandungku. Aku yang melahirkan mereka. Dan tidak mungkin juga aku membiarkan mereka menjalin hubungan terlarang begitu."

Baekhyun mengatur nafasnya yang memburu. Tatapan matanya mengarah tajam pada Park Chanyeol yang duduk tepat di depannya. Mereka ada di kantor Chanyeol yang ada di Seoul sekarang. Jadi, mereka tak perlu was-was jika anak-anak mereka mendengar pertengkaran mereka berdua. Mereka juga tak perlu khawatir jika karyawan di perusahaan Chanyeol akan mendengarnya, karena ruangan Chanyeol ini terlengkapi pengendap suara.

Chanyeol menurunkan berkas yang tadi dibacanya. Ia menampilkan senyum kecil seraya menatap wajah sang istri.

"Aku tahu itu, Baekhyun. Tapi, kita ini orangtua modern bukan? Kenapa pikiranmu itu kolot sekali sih. Bukannya kau yang bilang jika kebahagiaan anak-anaklah yang paling utama. Tapi, kenapa sekarang kau begini? Jika kau memisahkan mereka, bukankah nantinya mereka akan sedih dan tidak bahagia?"

Baekhyun mendengus kesal ketika matanya melihat seringai kecil terpatri di wajah Chanyeol. Baekhyun mendekat pada Chanyeol dengan langkah menghentak.

"Orangtua modern katamu? Itu sama saja kau menghancurkan moral anakmu sendiri Chanyeol! Di mana otakmu sebenarnya?" Mata sipit Baekhyun menatap penuh ketidaksukaan pada Chanyeol.

Chanyeol tertawa pelan. Ia berdiri dari duduknya, melangkah mendekat pada Baekhyun dan merangkul bahu sang istri.

"Tapi sungguh Baekhyun. Jika kau menginginkan kebahagiaan mereka, maka biarkan saja dulu mereka. Kita lihat dulu, bisakah mereka jujur pada diri mereka masing-masing dan pada kita?" Chanyeol mengusap lembut bahu Baekhyun.

Baekhyun menghela nafasnya panjang, "Aku tak mengerti Chanyeol. Apa maksudmu sebenarnya?"

Chanyeol tersenyum lebar, "Begini, apa kau pernah mendengar mereka saling mengatakan cinta antara satu sama lain? Jika belum, itu artinya mereka belum saling mengungkapkan perasaan mereka. Bisa jadi juga, mereka belum sadar akan perasaan mereka masing-masing."

"Tapi tatapan mereka sangat berbeda Chanyeol!" Sentak Baekhyun dengan air mata yang kini mulai nampak di ujung matanya. "Ini salahku, aku terlalu sering meninggalkan mereka. Kasih sayang yang aku curahkan pada mereka juga kurang. Perhatianku pada mereka juga kurang. Aku tidak bisa menasehati mereka semenjak mereka kecil. Aku bukan ibu yang baik Chanyeol. Akulah yang menghancurkan anak-anakku sendiri."

Air mata mengalir dengan deras dari mata Baekhyun. Chanyeol dengan segera menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Baekhyun dan berbisik menenangkan.

"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, Baekhyun-ah. Aku juga bukan ayah yang baik untuk mereka. Bukan maksudku untuk mengizinkan mereka bersama. Hanya saja, kita tidak boleh melarang mereka terlalu keras. Karena nantinya akan berdampak buruk, bagi keluarga kita."

Tangis Baekhyun semakin pecah mendengar ucapan Chanyeol. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol. Berpuas diri untuk menangis di dekapan hangat sang suami yang sudah beberapa minggu tak bertemu.

"A-Aku mengerti," gumam Baekhyun serak yang teredam dada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lembut, tangannya tak berhenti mengusap rambut Baekhyun.

'Maafkan aku, Baekhyun-ah.'

.

.

"Tunggu aku, Jihoon-ah!"

Jihoon berhenti berjalan ketika seseorang berteriak ke arahnya. Menolehkan kepalanya ke arah kirinya, Jihoon menemukan Mark Lee, teman sekelasnya, yang tengah berlari kecil menyusulnya. Jihoon dengan wajah datarnya menatap bingung pada ketua klub Rap di sekolahnya itu. Mereka memang teman sekelas, tapi Jihoon juga cukup sadar diri jika mereka tak terlalu dekat. Bahkan saling bertukar nomor ponsel saja, mereka tidak melakukannya.

"Ada apa?" Jihoon bertanya setelah Mark sampai di depannya.

"Aku melihat Woojin bersama Hyungseob tadi. Mereka ada hubungan apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Jihoon, Mark malah melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat dahi Jihoon berkerut tak senang.

"Memangnya aku tahu," jawab Jihoon kesal. "Jadi, kau hanya ingin menanyakan hal itu? Bukannya kau sudah sering melihat mereka berdua bersama? Kenapa baru bertanya sekarang? Dan lagi pula, apa hubungannya denganmu?" Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Jihoon dengan nada kesal yang begitu kentara.

Mark terkekeh kecil, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan mengulurkannya ke hadapan Jihoon. "Aku bertemu Haknyeon tadi, dan dia menitip itu," ujar Mark lengkap dengan senyum menawannya.

Jihoon mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengambil amplop putih yang berada di hadapannya itu.

"Ini, apa?" Tanya Jihoon ragu.

Mark menggendikkan bahunya. "Aku juga tak tahu. Haknyeon hanya memintaku untuk mengantarnya padamu. Dan tentang Woojin dan Hyungseob, aku hanya ingin bertanya saja. Tak bermaksud apa-apa. Kau tenang saja," jawab Mark seraya mengerlingkan matanya.

Jihoon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

"Baiklah, aku pergi dulu. Sampai nanti, Jihoon-ah!" Mark berlalu meninggalkan Jihoon yang masih berdiri di tempatnya. Matanya bergantian menatap amplop di tangannya dan juga kelas Haknyeon yang berada di samping kelasnya.

Helaan nafas kembali terdengar. Mau apa lagi si Joo itu? Desah Jihoon sambil mengacak rambutnya frustasi sebelum kembali melangkahkan kakinya.

Bolos pelajaran Matematika, tidak ada salahnya 'kan?

.

.

Matanya menyipit, dan giginya saling bergemeletuk ketika ia mendengarkan ucapan pemuda di hadapannya itu.

"Apa kau benar-benar Ahn Hyungseob yang ku kenal?" Tanya Woojin dengan nada penuh penekanan.

Pemuda di hadapannya hanya terkekeh kecil sebelum merubahnya menjadi senyuman manis yang amat memuakkan di mata Woojin.

"Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar untuk mendapatkan cintaku, Park Woojin," ujar Hyungseob dengan raut wajah yang berubah, menjadi lebih serius dan matanya menatap tepat pada mata Woojin. "Aku mencintaimu selama ini. Dan kau akan hal itu. Bukannya memikirkan bagaimana cara agar kau membalas perasaanku, kau malah memilih jatuh cinta pada adik kembarmu itu. Di mana hati dan otakmu sebenarnya, Park Woojin!"

Woojin terdiam, matanya menatap datar pada Hyungseob sebelum menampilkan seringai kecilnya.

"Yang jelas, aku tidak akan pernah menyesal jatuh cinta pada adikku sendiri. Daripada aku jatuh cinta padamu, yang ternyata egois seperti ini," Sarkas Woojin.

Hyungseob mengepalkan tangannya emosi, matanya berkilat menatap penuh emosi pada Woojin.

"Tapi kau tidak bisa seenaknya padaku seperti ini, Park Woojin! Harusnya kau menghargai perasaanku selama ini, perhatian dan kasih sayangku padamu lebih besar daripada Jihoon. Kenapa kau tidak juga melihatku?" Satu tetes air mata menetes. Hyungseob terlalu emosi, ia tidak tahu harus menyalurkan emosinya pada apa selain air mata.

Woojin melembutkan ekspresi wajahnya, matanya menatap jendela kamar Hyungseob yang tak jauh dari tempat keduanya duduk.

"Kata orang, cinta itu hadir karena kebiasaan. Mungkin karena aku terlalu terbiasa bersama Jihoon, makanya perasaan itu perlahan-lahan muncul. Aku bukannya tidak pernah melihat perasaanmu padaku Hyungseob-ah. Atau juga, bukannya aku tidak pernah mencari cara untuk membalas perasaanmu padaku. Hanya saja, itu terlalu sulit. Aku sudah terlalu jatuh ke dalam pesona Jihoon, dan aku tak tahu bagaimana caranya aku bisa bangkit darinya."

Air mata Hyungseob semakin deras ketika telinganya terus mendengungkan kalimat-kalimat yang Woojin ucapkan tadi. Mata Hyungseob yang memerah dan penuh dengan air mata, kini menatap terluka pada Woojin.

"Tapi, dia adikmu Woojin. Adik kembarmu sendiri! Tidakkah kau sadar?" Nafas Hyungseob tercekat di tenggorokannya. Terlalu banyak menangis yang mengakibat Hyungseob menjadi susah bernafas.

Woojin memandang Hyungseob yang tengah berusaha keras untuk bernafas dengan normal. Bukannya Woojin tidak ingin membantu, hanya saja, Hyungseob pasti bisa menangani masalahnya ini sendiri.

"Aku sadar akan hal itu, Hyungseob. Aku juga tidak pernah berfikir untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya akan menyimpan perasaan ini di dalam hatiku, hanya itu," ujar Woojin lemah seraya menundukkan kepalanya.

Nafas Hyungseob mulai membaik, meski dengan wajah yang masih memerah, Hyungseob melihat pada Woojin dengan senyum samar yang mengembang. Air matanya mulai berhenti keluar. Ia pun mengusap kasar wajahnya menggunakan telapak tangannya.

Dengan cepat, Hyungseob meraih tangan Woojin dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, biarkan aku menggantikan posisi Jihoon di hatimu. Meski itu butuh waktu lama, bukan masalah. Dan aku berjanji, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Dan aku juga akan merubah sikapku. Kau, mau 'kan, Woojin-ah?" Hyungseob menatap penuh harap pada Woojin.

Woojin mendongak, menatap beberapa saat mata Hyungseob sebelum mendesah pelan. Woojin menutup matanya, membalas genggaman tangan Hyungseob sebelum menganggukkan kepalanya.

Hyungseob tersenyum senang. Ia lantas memeluk Woojin sambil berseru, "Aku mencintaimu!"

'Maafkan aku, Jihoon-ie.'

.

.

"Jihoon-ah, lihat! Bukankah itu Bae Jinyoung? Dia menatapmu sedari tadi." Jihoon melirik pada tempat yang ditunjuk oleh Yehyeon, teman satu kelompoknya, seraya mengendikkan bahunya.

"Aku tidak peduli," ujar Jihoon cuek. Keduanya kemudian melanjutkan langkah mereka, dengan sesekali Yehyeon melirik ke belakang dan menemukan Jinyoung yang masih memperhatikan keduanya. Atau bisa dibilang, hanya memperhatikan Jihoon.

"Kau yakin, tidak mau menemui Jinyoung dulu? Sepertinya ada sesuatu atau banyak hal yang ingin dia bicarakan denganmu. Sedari tadi, dia menatapmu terus, Jihoon-ah," ucap Yehyeon dengan suara pelan.

"Jangan pedulikan dia. Aku tidak ada urusan apapun dengannya, sungguh," balas Jihoon malas. Matanya melirik pada Jinyoung yang masih di belakangnya. Dan ketika kedua mata mereka bertemu, seketika itu pula Jihoon mendesah berat.

"Mungkin kau benar, Yehyeon-ah. Kau masuk duluan saja. Aku akan menyusul," ujar Jihoon seraya menatap Yehyeon. Yehyeon mengangguk ragu, sebelum melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumah Jihoon di depannya itu.

Jihoon kemudian menyandarkan tubuhnya ke gerbang rumahnya, menunggui Jinyoung yang berada lima meter di depannya sekarang.

"Kenapa mengikutiku?" Tanya Jihoon to the point. Matanya menatap malas pada Jinyoung yang dibalas tatapan datar andalannya.

Hening beberapa sekon, sebelum Jihoon memekik kaget saat Jinyoung tiba-tiba menariknya dan memeluknya.

"Aku, mencintaimu.." Bisik Jinyoung tepat di telinga Jihoon.

Mata Jihoon sontak membulat, ia melepaskan pelukan Jinyoung dan menatap tak percaya pada adik kelasnya itu.

"Kau jangan bercanda!" Pekik Jihoon.

Jinyoung perlahan tersenyum, menatap lurus pada mata Jihoon dan meraih sebelah tangan Jihoon yang lalu digenggamnya erat.

"Aku serius, Jihoon-hyung. Aku mencintaimu, dari awal kita bertemu, hyung."

Jihoon diam, tidak membalas apapun pernyataan Jinyoung. Karena, memangnya Jihoon harus mengatakan apa? Bukankah sudah jelas jika Jihoon itu mencintai Woojin? Jadi, tidak mungkin jika Jihoon akan menerima Jinyoung sebagai kekasihnya.

"Aku akan membantumu untuk melupakan Woojin-hyung, hyung. Aku janji."

Mata Jihoon mungkin saja bisa keluar sekarang. Apalagi mendengar perkataan Jinyoung barusan. Jihoon melangkah mundur, kembali menatap tak percaya pada Jinyoung.

"Jadi, bagaimana, Jihoon-hyung?"

Atau mungkin, Jihoon harus merubah keputusannya mengenai Jinyoung.

.

.

TBC

.

.

09 September 2017

Panda