Ketika masih kanak-kanak, Levi sudah ditampar oleh sakitnya realita.
Dunia alfa dan omega masih begitu hijau di matanya—usianya bahkan belum mencapai titik akil balig kala itu—dan tidak pernah ia ketahui bahwa nasib para omega justru hancur sebab mereka mampu bereproduksi.
Yang dia tahu, ayahnya, seorang petani sederhana berstatus alfa, menikahi ibunya yang omega. Mereka saling mencintai, dan sepakat untuk menyatu setelah sang ayah memboyong ibunya ke rumah. Levi lahir pada malam Natal, sembilan bulan setelah momen penyatuan itu dituntaskan, ditemani rintik salju serta nyanyian sang ibu yang wajah serta lehernya dipenuhi titik-titik keringat.
Levi kira ia akan bahagia, walaupun dunianya tidak bergelimang emas dan mainan lebih banyak daripada yang teman-temannya miliki. Ia kira, tawa ibunya akan tetap terdengar bahkan ketika ia beranjak remaja, dan Levi selalu menanti saat-saat ketika ibunya berdiri di balik oven dan memasakkan manisan kesukaannya. Kadang-kadang, ketika hujan turun, cokelat panaslah yang menjadi penenang hati Levi. Ia bangun dan tidur setiap harinya, dan kebiasaan itu terus berlanjut.
Mimpi buruknya dimulai beberapa tahun setelahnya, ketika sang ibu mengandung anak kedua.
Nyawa dibayar nyawa, ibunya meninggal ketika adik perempuannya hadir dengan selamat. Mungkin bayi kecil itu menangisi kepergian ibunya ketika dokter menarik tubuhnya keluar—atau justru eksistensinya sendiri. Air mata yang berjatuhan menggantikan air mata Levi, yang hingga detik ini tidak pernah keluar.
Dikiranya semua berakhir di sana—sampai sang ayah membopong ibunya yang sudah tak bernapas ke suatu tempat; dan tempat itu jelas-jelas bukan pemakaman. Ayahnya, tidak menangis seperti Levi, membawa ibunya pergi begitu saja. Meninggalkan Levi, adik bayinya—Isabella, serta seorang paman yang otaknya hobi melantur ke mana-mana.
"Ibu dibawa ke mana?" suara kecilnya bertanya, ketika ayahnya kembali tanpa sosok sang ibu di sisinya. Ekspresinya lelah, dan ada gurat-gurat kehitaman di bawah matanya. Levi tidak peduli. Yang ia inginkan adalah ibunya, sehat dan bahagia, menyambut Levi dengan kedua tangannya yang putih.
"Ibumu sedang diisi ulang," kata ayah—sebanyak kalimat tanya yang diajukan putra sulungnya—dengan nada sesabar mungkin. "Dan dia akan kembali."
'Diisi ulang' di otak Levi adalah kata-kata yang aneh, sebab ibunya adalah manusia; bukan kendaraan. Tapi ia terlalu polos untuk mendebat ayahnya saat itu. "Benarkah?"
"Aku tidak pernah bohong, Nak."
Tidak pernah ayahnya menjelaskan tentang prosedur isi ulang. Levi dibiarkan menggantung dalam pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, dengan kepastian repetitif: "Ibumu akan kembali."
Maka Levi kecil berlatih. Menggantikan figur ibu, ia menjadi tukang bersih-bersih merangkap koki. Secara natural hidungnya mengernyit pada titik yang tidak bersih, menabukan segala jenis ketidakhigienisan, dan menumbuhkan jiwa maternal—hanya sedikit, tentu saja—dengan mengganti popok adik perempuannya setiap malam dan membuatkan susu.
Kemudian, setelah penantian berbulan-bulan, ibunya hadir kembali. Tanpa raut kesakitan, dengan wajah kemerahan—dan bukan pucat pasi—seperti biasa; dan rumah-rangga Ackerman kembali berjalan seperti biasa.
...atau justru sebaliknya.
Wanita di depan matanya adalah ibunya. Levi tahu. Atau ia tahu dari ayahnya; sama saja. Sarapan buatannya persis dengan yang biasa ibunya buat—panekuk berlapis madu kental di permukaan, favorit Levi dan seantero anggota keluarga Ackerman lainnya—juga wanita itu mengingat setiap detail kenangan mereka: tentang Levi yang cerdas, tentang Levi yang begitu cinta kebersihan sehingga tidak tahan untuk tidak memegang perangkat pembersih sendiri, dan tentang hal-hal kecil yang pernah mereka lakukan bersama (rahasia-rahasia kecil mereka, yang tidak mungkin ibunya bisikkan ke telinga orang lain!).
Tapi, di sisi lain, Levi tidak mengenali sosok di hadapannya itu. Ada garis tak kasat yang secara nyata membatasi ibunya dengan orang asing. Dan sejak kecil Levi tahu: garis tersebut tidak akan pernah bisa dilewati; tidak dengan cara apapun. Seolah-olah sosok wanita itu tidak lebih dari seorang aktris yang mampu memerankan ibunya dengan begitu sempurna—tapi mau sesempurna apapun, ia bukanlah ibunya yang asli. Ibunya yang pertama kali membopong Levi ketka ia lahir, yang menyalurkan kehangatan padanya sebelum tidur, dan yang suaranya selalu mengalir lembut seperti angin di pagi hari.
Sekali itu, ia mengutuk ayahnya sendiri yang menjadi seorang penipu. Sebab tidak pernah lelaki itu cerita soal eksistensi dinding tak kasat ini—atau dia sendiri yang berdelusi?
Pernah, sekali, ia mencoba menabrakkan diri pada dinding tersebut. Menendang, memukul, menyikut—apapun yang tubuh mungilnya dapat lakukan. Malam-malam dilaluinya dengan jerit agoni, atau rindu, sebab wajah ibu kandungnya muncul dan hilang tanpa ia sempat menjamah. Berkali-kali ia ingin bertanya langsung pada ibunya, "Ibu pergi ke mana? Kenapa tidak pernah kembali lagi?"—tapi berkali-kali pula Levi terbangun tanpa menerima jawaban apapun.
Ia tumbuh besar, bersama wanita itu, dengan adiknya yang menggantung manja di sisi sang ibu—dengan kesadaran sintesis bahwa wanita itu adalah ibu biologisnya (padahal keduanya adalah sosok yang berbeda)—dan Levi berusaha bertahan, mengawasi, sesekali berharap kalau ibunya akan kembali. Pada tanggal satu April, barangkali, dengan tubuh terbungkus kertas kado dan meneriakkan "April Mop" sambil tertawa. Atau mungkin ia hanya bermimpi dan wanita di depannya saat ini adalah bagian dari mimpinya.
Tapi bulan April sudah datang dan pergi beberapa kali. Ia tidur dan bangun lebih sering dari seharusnya. Ibunya tidak juga datang. Atau tidak akan pernah kembali lagi; Levi tidak tahu mana yang lebih buruk. Mimpi buruk selama tiga—atau lima?—tahun terakhir sudah lebih dari cukup untuk meyakinkannya.
Levi mulai belajar untuk berhenti menangisi nasib.
Kemudian ia bertumbuh besar. Secara usia, bukan tinggi badan. Jangan coba-coba mengaktifkan sisi berbahaya laki-laki itu untuk topik yang satu ini. Setelah beberapa malam membenci 'ibu' barunya, juga sosok adik—yang selama ini dituduhnya mencabut nyawa ibu aslinya—Levi belajar untuk pasrah.
Bukan menerima; tapi pasrah. Tahap baru dalam garis konfliknya. Mau terus membenci juga tidak ada gunanya. Toh, waktu tidak bisa diputar balik.
Rasa sakit itu ditimbun. Begitu dalam, serta tersembunyi begitu baik. Adik perempuannya—yang kelak dinamai Isabel—tumbuh tanpa pernah mendekap sosok ibu kandungnya. Tapi gadis itu tidak sadar; dan Levi tidak pernah berniat membuka rahasia.
Seperti singa terlatih, ia mencium punggung tangan ibunya. Mendekapnya dalam pelukan dingin—wanita itu tidak pernah lagi membungkusnya dengan cara yang sama—dan mencoba memancing konversasi. Hal serupa ia lakukan pada adiknya, sekalipun mereka tidak pernah benar-benar dekat. Walaupun seekor singa, seberapa terlatihnya ia, lebih menyukai kebebasan alih-alih kenyamanan sintesis.
Lima bulan setelah ia diklaim sebagai seorang alfa dan mengalami rut pertama, Levi memutus tali ikatan dengan keluarganya—sekaligus memasuki institusi yang dipenuhi oleh manusia-manusia sejenisnya. Menyisakan luka hati masa lalu di belakang. Ia belajar bahwa ibunya, seperti juga para omega yang telah melahirkan anak kedua mereka, akan mati. Tubuh mereka akan berhenti berfungsi tanpa adanya ilmu medis yang dapat menunjang hidup mereka lebih lama lagi. Tapi para dokter memercayai bahwa jiwa para omega itu masih melayang-layang di dalam tubuh yang telah mati itu. Mereka percaya bahwa jiwa itu bisa dipindahkan ke dalam tubuh lain, sehingga mereka dapat menciptakan entitas baru yang memiliki ingatan serupa dengan tubuh jiwa itu sebelumnya.
Tapi Levi tidak menyukai kepercayaan itu. Yang ia ketahui, jiwa seseorang akan mati bersama dengan tubuhnya. Mereka boleh saja memindahkan memori dari satu tubuh ke tubuh yang lain dan mengklaim kalau kedua tubuh itu adalah milik orang yang sama, tapi tidak. Mereka akan tetap berbeda. Mereka akan membawa ingatan orang yang telah mati seperti robot, bersikap seperti robot, dan berpura-pura kalau mereka adalah manusia.
Dan hal itulah yang membuat Levi yakin bahwa ibunya—orang yang saat ini hidup dan tersenyum padanya—hanyalah robot tak berhati.
Ketika ia bertemu dengan Seijuurou, tidak pernah diduganya bahwa mimpi buruk itu bisa terulang dua kali. Dikiranya masa depan tidak akan sekejam itu untuk menghadangnya dua kali—
—di mana, untuk sekali itu, asumsinya keliru besar.
Malam itu, keduanya sedang menghabiskan waktu bersama. Memandangi bintang-bintang, menghabiskan minuman panas di dalam cangkir, dan mengurung diri dalam kesunyian. Seharusnya semua baik-baik saja—kalau saja Seijuurou tidak tiba-tiba saja memulai percakapan itu.
"Levi."
"Hmm?" mata masih tertuju pada teh hitam. Disesap sekali. Enak. Teh buatan Seijuurou memang selalu yang terbaik—
"Levi." Seijuurou kembali memanggil, namun jauh lebih dalam. Lebih serius. Juga lebih berbahaya. Nada yang selalu ia gunakan jika posisinya sedang terjepit; identik dengan masalah besar.
Firasat buruk mengempas perutnya. Mendadak keinginan menghabiskan teh sirna begitu saja. "Aku mendengarmu, Sei. Tidak usah memanggilku dua kali seolah-olah aku tuli."
Sekalipun begitu, punggungnya menegak. Cangkir teh tidak lagi berada di genggaman. Levi siap totalitas mendengar.
Ada jeda beberapa saat. Seijuurou seolah mengunyah makan malamnya lambat-lambat, dengan mata terpancang lurus ke arah Levi. Ada ekspresi aneh di sana—ekspresi yang ingin Levi singkirkan sepenuhnya.
"Ayo kita—" jeda lagi. "—menyatu."
Oke. Sekarang Levi benar-benar berharap ia tuli.
Napasnya terasa begitu berat setelahnya. "Habiskan makanmu dulu," gumamnya kemudian. "Baru setelah itu kita bicara lagi—"
Perintah itu dijawab dengan gelengan yang sama tegasnya. "Aku ingin kita menyatu," ulang Seijuurou lagi. Jauh lebih mantap ketimbang sebelumnya. Aura di sekitar lelaki itu mendingin, tapi Levi dapat melihat bara api menari-nari di sekujur tubuhnya secara imajiner.
Rahang Levi mengeras. "Sei, aku sedang tidak ingin mendengar omong kosongmu—"
"Ini bukan omong kosong, Levi." Levi membenci betapa suara Seijuurou terdengar sedih. Diakah penyebabnya? "Aku serius."
"Baik. Kau serius, tapi aku juga," kata Levi. "Aku sudah bilang untuk bicara soal ini nanti, kan?"
"Kau tidak akan pernah mau mendengarku setelah ini. Aku tahu sikapmu, Levi."
Oh. Dan kau harusnya tahu betapa aku membenci obrolan ini, kan?
"Dengar," alih-alih memerintah, suara itu justru terdengar seperti permohonan. "Kita sudah bersama sebegini lamanya."
Levi mendengus. "Tidak usah mengingatkanku soal itu—"
"Dan tidak pernah sekalipun kau benar-benar menandaiku."
Skak mat.
Lirikan Levi jatuh pada leher Seijuurou. Masih putih dan bersih—dan memangnya Levi tidak tergoda untuk meninggalkan jejak di lekuk itu?—"Kukira kau bukan orang yang peduli dengan hal-hal remeh itu."—dan bukannya kau yang mengamuk tidak ingin kujamah selama ini? Dasar bocah labil.
Seijuurou yang ia kenal akan mengangkat kepala tinggi-tinggi, begitu angkuh dengan senyum tipis sarat intimidasi, dan membisikkan kalimat-kalimat ancaman pada mereka yang berani bergunjing. Melihat kekasihnya sebegini galau adalah sesuatu yang baru—dan sedikit jiwa sadistis muncul dalam diri Levi, anehnya.
"Masalahnya, aku peduli pada hal-hal seperti ini." Ada sesuatu dalam kalimat Seijuurou yang membuat Levi, mau tidak mau, harus menoleh. "Kita pasangan, dan ini sudah memasuki tahun pertama status kita."
"Lalu kau ingin aku mengucapkan selamat hari jadi, begitu?"
Kerut di antara alis Seijuurou semakin nyata. "Harusnya kau yang paling paham," katanya tajam. "Orang-orang mengira kehidupan rumah tangga kita tidak bahagia."
Oh, mulai bawa antek-antek dari luar, rupanya.
"Apa peduli mereka dengan kehidupan pribadi kita?"—padahal dadanya sudah dipukul-pukul oleh rasa bersalah—"Yang menjalani rumah tangga ini kita, bukan mereka."
Lagi-lagi ia dihadiahi tatapan tajam, yang siap membabat jiwa para omega serta meremukkan para alfa. "Mungkin kau tidak peduli, tapi aku jengah mendengar mereka berbisik-bisik. Aku tidak suka melihat mereka menginjak-injak harga diriku begitu saja." Alis Seijuurou menukik. "Dan bisik-bisik itu semakin intens ketika mereka tahu... sudah selama ini pula aku tidak mengandung."
Levi bungkam. Otot-otot menegang. Ia tidak menyukai arah konversasi ini. Tolong jangan bicara soal itu. Tolong hentikan. Tolong—
"Levi." Sentuhan Seijuurou telak membuatnya terlonjak. "Kukira kau—"
Jeda.
"Kukira kau menyukaiku." Rona merah mewarnai pipi itu, yang kalau saja tidak muncul di saat seperti ini akan Levi lumat dalam kecupan.
Perasaanku lebih daripada sekadar suka, Bocah—"Sampaikan saja poinmu. Aku tidak suka pembicaraan berbelit."—asal tidak menjurus pada konteks itu. Apapun kecuali itu. Tolong.
Seijuurou seolah mengumpulkan kekuatan seiring tarikan napasnya. "Sudah kubilang, aku ingin kita menyatu. Atau berhubungan badan. Apapun kau ingin menyebutnya."
"Kalau itu keinginanmu," Levi mengibaskan tangan. Tidak tahan lagi untuk berlama-lama memandang wajah Seijuurou—sebab ia sadar pertahanannya akan melemah jika memaksakan diri—ia membuang wajah. "Aku menolak."
"Tapi—"
"Perkara aku mencintaimu atau tidak, jawabannya jelas yang pertama." Suara Levi terdengar kalem, padahal tenggorokannya serasa terbakar. "Tapi aku menolak berhubungan badan denganmu. Aku sudah bilang sejak percakapan kita dulu, dan kau sudah terlanjur berjanji. Ingat?"
"Aku memang ingat," sergah Seijuurou. "Tapi—"
"Aku menolak permintaanmu," ulang Levi. Suara beratnya menekan perasaan aneh dan tidak nyaman yang menari-nari di dalam perutnya. "Tidak dengan resiko setinggi itu."
"Levi."
"Kau mau memanggilku seratus kali pun aku tidak akan berubah pikiran."—malah semakin yakin untuk menolak, karena dengan begitu aku akan semakin sulit melepasmu. "Pembicaraan ini berhenti sampai sini, Seijuurou. Jangan coba-coba memancingku lagi."
Dan tidak ada yang berbicara lagi. Seijuurou kecewa, jelas terlihat di parasnya, tapi ia tidak memprotes. Levi merasakan jemari itu semakin erat menggenggam lengannya, entah membujuk, entah minta maaf, dan Levi membalasnya dengan belaian kaku.
Mungkin mereka ingin menjaga pertalian di antara keduanya. Atau sengaja meredam egoisme masing-masing di dalam aktivitas sehari-hari—mereka tetap berbincang seperti biasa, mengecup bibir sebagai sapaan, tanpa melibatkan entitas bocah kecil berstatus 'calon anak' di tengah-tengah percakapan.
Tapi pasangan itu tahu, hubungan mereka mulai membeku. Senyum Seijuurou muncul begitu tipis, dan tidak pernah sekalipun Levi berhasil memancingnya menarik sudut-sudut bibir itu. Ia akan merangkul omega-nya sebelum bekerja, yang dibalas dengan sopan—tanpa eksistensi kehangatan di sana—dan makanan sajian Seijuurou seolah kehilangan rasanya.
Seolah-olah Seijuurou sudah mati, bahkan sebelum ia benar-benar menjalankan tugasnya.
Atau Levi hanya berdelusi. Mudah-mudahan saja opsi kedua.
Sebagaimana ia tak pernah membeberkan masa lalunya pada Seijuurou, ia juga memilih diam ketika Isabel bertanya. Ditepisnya pertanyaan-pertanyaan sang adik dengan berpura-pura tuli. Dibungkamnya Isabel yang menyerocos soal 'calon keponakan'—perempuan itu hanya mengejar status atau bagaimana, sih?—dengan balik meledeknya yang belum juga lulus dari institusi.
Levi terus menghindar, memutar tubuh, menutup telinga—apapun ia lakukan demi melihat Seijuurou terbangun di sisinya.
Ia adalah alfa terkuat. Maka harusnya tekanan sebegini saja tidak akan cukup untuk membuatnya runtuh.
Seijuurou-nya, sekalipun berstatus omega, juga menyandang gelar 'terkuat' di kaumnya. Maka bersama-sama, dua manusia ini akan bertahan, melindungi diri dan satu sama lain, mencegah mereka berdua dalam kehancuran—
Walau sayang, dunia seolah tidak berhenti menghardik mereka. Atau menghardik Levi seorang, karena pikirannya kelewat kaku dan egoistis.
Namanya yang melejit tinggi kali ini berbalik mewujud kutukan. Dari yang dulu disegani, kini dinyinyiri. Tidak ada orang yang ia lewati tanpa berbisik pada rekan di sisinya, memperbincangkan soal penerus Ackerman yang tidak kunjung hadir setelah beberapa minggu setelah Malam Gala Seijuurou berlalu.
"Padahal sudah berhari-hari, tapi sama sekali tidak ada kabar kalau Seijuurou sudah mengandung atau semacamnya."
"Tadinya kukira omega semacam dia akan sangat subur, lho," yang lain kedapatan berbisik. "Tapi sepertinya aku keliru."
Awalnya, Levi hanya melengos dan memilih pergi. Mereka memang babi yang tak tahu diuntung, eh? Bersyukurlah aku tidak membuang-buang tinjuku untuk menghabisi kalian.
Sayang, ketika waktu berlalu, ia sudah tidak punya tempat untuk melarikan diri lagi. Beberapa bahkan menghina Seijuurou, yang mereka anggap tidak menghargai kodratnya sebagai omega. Yang tidak menjadi pasangan yang baik dan 'melayani' alfa-nya dengan baik. Bahkan beberapa teori yang bermunculan mengatakan kalau Seijuurou sebenarnya mandul, sehingga ia sengaja menutupi kecacatannya itu dengan memoles penampilannya sebaik mungkin. Malam Gala itu, kata mereka, hanya panggung sandiwara untuk menutupi kenyataan itu.
Ah, betapa Levi gemas ingin mematahkan hidung mereka dengan tinjunya. Tapi ia selalu memilih untuk diam dan menunggu, berharap mereka akan lelah dan mereda dengan sendirinya.
Tidak peduli berapa banyak sugesti yang ia katakan untuk menyumbat pendengaran, tidak peduli bagaimana ia selalu menghindari topik perolehan keturunan, mereka selalu datang. Menyerang tanpa ampun. Mengorek harga diri dan sisi lemahnya—mengikis Levi sampai ia betulan muak.
Maka pada malam itu, ketika mereka memandangi langit malam—hal favorit keduanya; sebab dengan memandangi bintang, keheningan tidak lagi terasa canggung—ia berkata, "Berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang meresikokan nyawamu."
Seijuurou menoleh. Rautnya jelas terkejut. "Apa?" Wajahnya, kendati demikian, tidak meredupkan sedikitpun fitur mempesona yang selalu membuat Levi ingin menjaganya lebih lagi.
"Aku yakin kau tidak tuli, Seijuurou." Levi berharap cengkeramannya pada lengan kursi tidak menunjukkan ketegangan yang mendesak-desak ingin keluar.
Alis kekasihnya bertaut. "Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"
"Katakan 'aku berjanji', dan aku akan memberitahumu."
"Aku tidak mempan dipancing begitu."
"Cukup jawab 'ya', atau 'tidak', apa susahnya?" Celah mata Levi menyempit. "Atau kau ingin aku menghitung mundur lagi seperti dulu—"
Seijuurou sengaja membuang napas dengan cara yang dilebih-lebihkan. "Oke, aku janji." Diucapkan dengan cepat dan asal-asalan, sehingga Levi sulit dibuat percaya. "Sudah, kan? Sekarang gantian kau yang—"
"Termasuk untuk tidak punya anak sekalipun?" tembak Levi.
"Apapun termasuk itu—" diam. Memproses. Kepalanya berputar lebih cepat dari gasing dengan kedua mata membelalak. "Tunggu. Apa?"
"Ucapanku kurang jelas?"
"Secara literal, tidak, tapi kau curang." Seijuurou menegakkan postur—hal yang selalu ia lakukan jika merasa terancam, jika tidak berniat menantang. "Apa maksudmu aku tidak boleh punya anak? Itu tugasku!"
"Kau terdengar seperti budak masyarakat, Sei," desah Levi.
"Lebih baik daripada jadi budak untuk orang sepertimu." Kekasihnya menggeleng tegas. "Tidak. Lupakan kata-kataku yang tadi. Aku menolak untuk setuju."
"Dulu kau sudah setuju."
"Dan apakah salah kalau aku berubah pikiran?"
"Jelas salah. Artinya kau pengecut."
"Justru pengecut sepertimulah yang melarikan diri dengan kelewat keras kepala," tukas Seijuurou sinis.
Terserah.
Dada Levi memanas. "Aku tidak mengizinkanmu mempertaruhkan nasib dengan melahirkan anak."
"Permintaanmu tidak masuk akal," kata Seijuurou gelisah. Tungkainya bergerak-gerak, dan betapa Levi ingin menahan paha itu dengan kedua tangannya. "Sial. Harusnya aku sudah menebak arah pembicaraan ini sejak awal."
"Masuk akal saja." Levi mengangkat dahu. Sengaja pamer otoritas sebagai pemegang tanggung jawab tertinggi dalam rumah tangga. "Aku ingin mendengar janjimu, Sei."
"Levi." suara Seijuurou menegang, memperingatkan, "Untuk satu hal yang itu aku tidak bisa berjanji. Aku pernah bilang kalau janjiku saat itu tidak untuk selamanya—"
Levi memilih untuk pura-pura tidak mendengar. "Punya anak itu ide buruk," katanya. "Lebih baik tidak meresikokan tubuhmu untuk hal yang tidak benar-benar kita inginkan, kan?" ada penekanan khusus ketika mengucapkan 'kita', dan Levi berharap Seijuurou menangkap pesan itu.
"Jangan melibatkan aku dalam egomu," tukas Seijuurou. Levi menangkap nada kesal dalam suaranya. "Kau yang terus-terusan menolak, dan bukan aku."
"Tapi kau juga menolakku sebelum ini."
"Aku tahu." Merah merambati pipi. Tapi nada tegas itu masih persisten untuk tinggal. "Karena aku harus membiasakan diri, tentu saja."
"Dan kehidupan yang sekarang tidak buruk, kan?"
"Buruk untukku, Levi." Seijuurou menatap Levi dengan ekspresi yang begitu menggetarkan hati.
Tapi bukan Levi namanya kalau goyah semudah itu. "Dan lebih buruk lagi kalau kau gegabah ingin kusetubuhi." Kalimat berikutnya mengalun begitu pelan dan berat. "Tubuhmu bisa hancur, Seijuurou. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Lebih baik memungut anak, seperti yang pernah kusarankan."
Jeda sesaat. "Aku tahu," senyum pahit menghiasi wajah tampan itu. "Tapi memang itulah resiko jadi seorang omega, kan? Memungut anak sama saja mengabaikan tanggung jawabku. Aku tidak mau lari dari tanggung jawab dengan cara pengecut."
"Kalau dengan menantang resiko justru berakhir menjerat lehermu sendiri, aku tidak akan kagum."
Dagu itu kembali terangkat. Angkuh. "Aku tidak pernah memintamu kagum."
Sama-sama keras kepala, sama-sama memegang idealisme yang dirasa absolut. Untuk sekali ini saja, Levi harus tegas.
"Kau tahu betul maksudku." Iris hitam menembus netra merah. Berusaha memerangkap jiwa rebel di dalamnya. "Untuk sekali ini saja, dengarkan aku—"
Dia tidak ingin kehilangan. Tidak untuk yang kedua kalinya.
"—jangan menyia-nyiakan dirimu untuk sesuatu yang tolol seperti ini."
"Punya anak bukan tindakan tolol, Levi." Seijuurou menjawab panas. "Dan akan lebih sia-sia lagi kalau aku melupakan tugasku sebagai omega untuk alasan seegois 'bertahan hidup'."
Kini ganti Levi yang dibuat bungkam. Ia ingin bilang bahwa keputusan Seijuurou tidak kalah egois, tapi entah kenapa lidahnya kelewat kelu untuk merangkai kata-kata.
Seijuurou mengusapkan jemarinya ke punggung tangan Levi. Meluluhkan es yang mengurung dada itu dengan baranya. "Kau sendiri yang bilang kalau tubuhku lebih kuat dari omega lainnya." Wajah itu merengut. "Bisa saja kali ini ada sesuatu yang berbeda, kan?"
"Kemungkinannya hanya satu dibanding satu miliar—"
"Maka aku akan meraih satu kemungkinan kecil itu."
Kerikil panas muncul begitu saja di tenggorokan. "Sei."
"Aku tahu aku juga sangat egois karena memaksamu seperti ini," jemarinya membungkus tangan Levi yang terkepal. "Tapi aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku akan mencoba untuk—tidak, aku akan tetap hidup. Demi kita, dan demi anak kita kelak."
Anak kita. Kata itu terdengar asing di telinga Levi, sekalipun ia ingin percaya. "Kau yakin?"
"Sangat yakin."
Levi mengusapkan tangannya yang bebas ke pipi Seijuurou, berusaha menyerap kehangatan pada pipi itu. Mata Seijuurou merah—dan betapa bodohnya Levi; tidak memperhatikan perubahan itu selama bulan-bulan terakhir. Lelaki itu jelas tersiksa, jauh lebih menderita daripada dirinya. Dan betapa bodohnya Levi, berkali-kali menolak takdir dengan bersikap begini egois.
Bisik-bisik kejam itu pasti mendera Seijuurou lebih dari mereka menyiksa dirinya sendiri. Sebagai omega, lelaki itu terbukti lebih kuat dari yang lain; sebab punggungnya mampu memikul cemooh sekaligus menyunggingkan senyum—sekalipun lengkung bibir itu selalu, dan akan selalu, terlihat kaku.
Ibu jarinya berhenti pada sudut bibir Seijuurou. Sesak di dada Levi semakin merajalela.
Akankah senyum itu berubah nantinya? Atau inikah kali terakhir Levi menatap raut Seijuurou yang selalu menghantui mimpi?
Tidak, kepalanya menggeleng kuat-kuat. Tanpa sadar mengerutkan kening semakin dalam. Tidak kubiarkan opsi yang satu itu terjadi. Jangan sampai.
"Tapi," kata Seijuurou lagi, dan kali ini suaranya tidak semantap sebelumnya. "Kalau kau masih menolak, kalau memang kau keberatan dengan keputusanku, mungkin—"
"Aku bahkan belum bilang apa-apa, kan?"
Pasangannya mengerjap. "Kau bilang kalau keputusanmu tidak akan berubah."
"Dan katamu hanya pengecut yang punya prinsip itu, kan?"
Kini wajah mereka begitu dekat. Terlalu dekat, malah. Levi merasakan napas Seijuurou, yang wangi mint serta cokelat manis. Tak tahan untuk tidak mendaratkan kecupan pada bibir yang membuka itu.
"Kau ingin anak, dan aku ingin kau," kata Levi pelan. "Seharusnya tidak apa-apa kalau melahirkan satu anak saja, kan?"
Masih shock, Seijuurou mengangguk. Iris merahnya—yang sangat disukai Levi—melebar tanpa ada intensi menjauhkan diri.
"Kalau begitu, kita bertiga—aku, kau, dan anak kita kelak—akan hidup bersama."
Seijuurou meremas paha Levi. Senyumnya menggetarkan hati. "Kita bertiga," tegasnya. "Aku akan tetap hidup dan mengawasi anak-anak kita sampai tua."
"Jangan sampai lalai, Sei, atau aku akan menghukummu."
Sang omega tertawa lembut. "Aku mengerti."
Akashi Seijuurou di mata Levi adalah jelmaan burung phoenix. Ia cantik, ia punya kekuatan menyembuhkan bagi orang lain, maka seharusnya ia juga bisa menyembuhkan dirinya sendiri—
"Sekarang tidurlah," Levi mengecup keningnya dengan lembut. Doa-doanya sengaja dikumpulkan ke sana, ke kepala Seijuurou, agar omega-nya itu dapat mengingat doa-doa itu dengan baik. "Kuharap kau tidak keberatan menunggu sampai akhir pekan ini—masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan."
Seijuurou tersenyum. "Tentu saja, Levi."
—dan hidupnya akan terus abadi.
.
.
Levi tidak pernah melupakan ritual penyatuan mereka.
Beberapa jam di atas ranjang dan mencumbui Seijuurou menghapus rasa takutnya begitu saja; sebab belum pernah ia merasa senikmat itu dalam menjelajahi tubuh seseorang. Ia suka melihat bagaimana raut yang awalnya angkuh dan penuh kebanggaan itu tunduk dan pasrah seperti anak kecil. Bagaimana ia bisa-bisanya berkilah bahwa gemetar pada tubuhnya muncul karena udara dingin alih-alih rasa takut—sungguh, Levi jadi tak tahan untuk tidak menjaga wajah anak itu di dalam kotak kaca, menyimpan agar Seijuurou tetap abadi dalam keindahannya yang sekarang.
Pekikan Seijuurou di telinganya bahkan terdengar seperti lonceng indah yang ingin ia perdengarkan terus-terusan. Otak Levi jadi gemas ingin mencobai omega-nya dengan berbagai hal. Ia keluarkan koleksinya yang tidak pernah terpakai sebelumnya, dengan harapan bisa mengabadikan keindahan suara Seijuurou lewat alat-alat itu.
Dan Seijuurou tidak pernah berhenti memuaskannya. Di satu sisi, ia bisa terlihat garang. Matanya menyala-nyala penuh ambisi bahkan dalam posisinya sebagai submisif di dalam ranjang. Tapi dengan sedikit dorongan, mata itu tidak lebih memelas dari milik anak anjing lucu. Kadang-kadang Levi berhenti "menyiksanya" hanya untuk mengagumi bagaimana wajah seperti itu bisa ada di dunia, dan betapa beruntungnya Levi bisa menjadi pemilik eksklusif dari pemilik wajah itu.
Levi bukan orang yang secara gamblang membisikkan "aku sayang padamu" pada kekasih hatinya. Ia adalah pria dengan aksi; yang membuktikan afeksinya lewat gerakan fisik. Dan ia memastikan pesan itu tersampaikan dengan baik lewat ritual penting mereka malam itu.
"Kau tahu, tidak?" bisik Seijuurou di tengah napasnya yang naik-turun kelelahan. "Sebut aku masokis, tapi aku suka melihat wajah garangmu menggagahiku—atau mungkin aku sedang mabuk sampai tidak bisa bicara dengan benar."
"Aku tahu," Levi balas berbisik. Ia melumat leher Seijuurou yang telah ia tandai dan menghisapnya dengan penuh afeksi. "Dan wajahmu yang sedang erotis seperti ini juga tidak buruk di mataku."
Seijuurou hanya tersenyum, dan senyum itu tertinggal di wajahnya ketika ia diam-diam tertidur dalam keadaan telanjang. Levi menahan diri untuk tidak menggerayangi tubuh itu dan memakannya bulat-bulat, sehingga Seijuurou bisa tetap aman di dalam mulutnya. Ide bodoh, tapi begitu menggiurkan untuk dicoba.
Levi membenci dunia yang kotor, dan orang lain di matanya adalah sumber kekotoran yang paling besar, paling tak termaafkan dan paling harus dihindari. Tapi cecair Seijuurou, yang kini leleh ke sepanjang tubuhnya dan menciprati permukaan kasur, sama sekali tidak membuatnya jijik.
Malah, Levi ingin melihat cecair itu keluar dari tubuh Seijuurou lebih banyak lagi.
Imajinasinya bergerak liar. Ia mengeluarkan barang-barang yang ia kira tidak akan pernah digunakannya sebelumnya, dan dibayangkannya wajah Seijuurou—berkeriut penuh agoni dan orgasme di saat yang bersamaan—yang diam-diam membuat penis Levi sedikit mengembung dalam euforia persenggamaan mereka.
Ketika Seijuurou memekik karena dildo itu bergetar di dalam lubangnya, Levi merasakan gejolak aneh. Ketika pasangannya itu mendesahkan namanya di tengah-tengah rintih sakitnya, Levi tergoda untuk melakukan lebih banyak hal pada tubuh indah itu. Ia ingin melihat kobaran api yang lebih besar dari ini. Ia butuh melihat phoenix-nya berteriak—hanya padanya seorang.
Kalau bisa, Levi ingin menghentikan waktu. Membiarkan mereka bergelut sampai lelah, lalu beristirahat untuk kembali beradu setelahnya. Siklus yang terdengar begitu utopis di benak.
Levi menyentuh, mencambuk, mengecup, dan menggerayangi Seijuurou dengan keganasan seekor predator lapar. Dan Seijuurou sungguh memunculkan reaksi yang memuaskan—benar-benar tepat pilihan Levi untuk menjadikannya separuh hidupnya.
"Levi—"
Teruskan, Nak.
Peluh mereka menyatu,desahan mereka saling bersahutan, dan ruangan serasa begitu pekat oleh udarapenuh nafsu. Levi bergerak maju, menekan tubuh Seijuurou ke kasur, dan melahaplehernya. Seijuurou mendesahkan nama Levi lagi, dan lelaki alfa itu bergetar sakingterangsangnya. Spermanya tersemprot keluar, memasuki lubang Seijuurou, bersiapmembentuk kehidupan baru di dalam sana.
.
.
Lalu Seijuurou divonis hamil.
Perasaan Levi bercampur—antara senang, bangga, atau justru ketakutan. Nyawa Seijuurou seolah dipertaruhkan oleh makhluk kecil di dalam perutnya, dan beberapa kali dalam tidur Seijuurou Levi meminta anak itu untuk tidak membunuh Seijuurou. Untuk menjadi putra pertama dan terakhir mereka, sehingga Levi tidak perlu mengalami kehilangan yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Mereka telah menyiapkan segalanya—kamar bayi, pakaian bayi, bahkan perabot-perabot yang sebenarnya begitu kontras dengan mansion mereka yang diwarnai dengan warna cokelat dan kesan dingin.
"Aku ingin semuanya sempurna pada hari kelahiran bayi kita," kata Seijuurou saat itu.
Levi hanya mengangguk. Tahu kalau permintaan Seijuurou setara dengan perintah yang tak terbantahkan. Dan jika menyiapkan semua itu dapat membuat omega-nya merasa lebih baik, maka Levi rela mengeluarkan uang sebanyak mungkin untuk melihat senyum itu muncul lebih sering dari seharusnya.
Tapi perut Seijuurou membesar dari waktu ke waktu, rasa sakitnya muncul dan hilang lebih banyak daripada senyum yang Levi tunggu-tunggu, dan dokter menyampaikan kenyataan pahit itu.
"Seijuurou akan melahirkan anak kembar. Laki-laki dan perempuan, kalau menurut hasil pemeriksaan."
Levi seolah tidak dapat mempercayai pendengarannya saat itu. Dunianya, begitu juga pendengarannya, langsung mengabur begitu mendengar kata 'Seijuurou akan melahirkan anak kembar'.
Kembar.
Yang artinya Seijuurou harus melahirkan dua orang anak sekaligus pada pengalaman pertamanya memiliki artinya—
"Tapi dia akan selamat, kan?" Suaranya, mau ditekan dengan cara seperti apapun, tetap terdengar tegang dan sarat intimidasi. "Seijuurou tidak akan mati karena melahirkan bayi kembarnya, kan?"
"Sejauh ini ilmu kedokteran belum bisa melakukan hal seperti itu," kata dokternya pelan. Jelas tahu bahwa kata-kata yang salah bisa meningkatkan amarah Levi. "Tapi kami akan berusaha untuk memastikan kondisi Seijuurou ketika melahirkan tetap prima—"
"Bukan itu pertanyaanku," geram Levi. "Aku ingin Seijuurou tetap hidup bahkan setelah ia melahirkan. Masa melakukan hal seperti itu saja kalian tidak bisa?"
"Sudah kami bilang, kami tidak berani memastikan. Sejak awal, tubuh omega tidak akan bertahan lama kalau sudah melahirkan anak kedua. Hal itu jelas-jelas di luar kemampuan kami."
Di sebelahnya, Seijuurou duduk begitu tenang—terlalu tenang, malah. Levi berharap laki-laki itu setidaknya terlihat takut, lebih takut dari Levi sendiri, tapi ia malah tersenyum.
Apa-apaan itu?
Apa sebenarnya Seijuurou dan dokternya tengah berkomplot menggoda Levi? Sebab hal ini jelas-jelas tidak lucu. Ia bersiap membuka mulut, mengeluarkan ribuan protes yang sudah tertata di dalam kepala—
Tapi Seijuurou menggenggam tangannya, tersenyum pahit, dan berbisik pelan sehingga hanya Levi yang dapat mendengarnya. "Semua akan baik-baik saja, Levi. Tidak usah marah-marah begitu."
"Sei—"
Tapi Seijuurou sudah mahir membungkamnya. "Aku akan tetap melahirkan anak-anak ini," katanya mantap. "Mereka anak-anak kita, dan mereka membutuhkan kehidupan, Levi. Kita tidak bisa membunuh mereka demi nyawa satu orang begitu saja."
Tapi kau juga harus hidup. Untuk sekali ini saja, tidakkah lebih baik kau bersikap egois dan menjaga keindahan tubuhmu—sebagaimana yang selalu kaulakukan?
Levi menunduk, memandangi dadanya. Rasa sakit perlahan-lahan merambati dada. Kalau kau mati, aku akan kehilangan separuh jiwaku. Aku mungkin akan mati bersamamu. Apa kau menginginkan hal yang seperti itu?
Tapi Seijuurou terus saja melebarkan kobaran apinya. Memaksa Levi untuk tertarik ke dalam kehangatannya.
"Jelas tidak bijaksana kalau kita membunuh dua nyawa sekaligus untuk menyelamatkan satu nyawa saja, kan?" Bola matanya begitu teduh dan mendinginkan sisi hati Levi yang terbakar emosi. "Tidak usah berpikir jauh-jauh dulu. Yang penting aku selamat setelah melahirkan mereka. Setelahnya akan kita pikirkan nanti."
Levi memegang tangan Seijuurou dengan begitu erat—saking eratnya sampai-sampai omega-nya itu merintih.
"Kalau kau mencengkeram tanganku seperti itu, aku mungkin tidak akan bertahan hidup lebih lama dari dua hari," candanya.
Levi membelalak galak. "Jangan macam-macam."
"Aku tidak macam-macam—Levi, lepaskan tanganku. Aku tidak akan pergi ke mana-mana, kok." Dan Seijuurou mendaratkan ciuman langkanya pada batang hidung Levi. "Aku janji. Aku tidak akan membiarkan anak-anak ini lahir tanpa mamanya, kan?"
Maka Levi menarik napas panjang-panjang, membiarkan tali imajiner yang mengikat dadanya terputus, dan menggenggam tangan Seijuurou dengan cara yang lebih lembut dari biasa. Tatapannya, kendati demikian, tidak berhenti merapal doa.
"Kalau begitu bertahanlah," katanya dengan suara paling rendah yang pernah ia keluarkan. "Bertahanlah—agar aku, dan anak-anak kita kelak, bisa melihatmu memenuhi janji itu."
Dan Seijuurou tersenyum. Senyum yang selalu—dan tidak pernah tidak—berhasil melelehkan hati beku Levi. Senyum yang berani, penuh kepercayaan, dan begitu cantik; seperti burung phoenix.
Tetaplah hidup, Seijuurou.
.
.
Tapi takdir seolah siap mempermainkan mereka. Seperti anak kecil yang kesepian, ia mencari teman. Seperti predator, ia mencari mangsa.
Dan seperti pasangan yang sedang jatuh cinta, ia memeluk erat-erat. Terlalu erat, malah, sebab pada malam-malam tertentu Seijuurou diserang oleh rasa mual yang mendorongnya untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Levi bahkan lupa kapan ia tidur dengan nyenyak, sebab suara tutup kloset yang dibanting membuka dan menutup selalu membuatnya terjaga. Hal yang seharusnya tidak terjadi ketika masa hamil berakhir. Seperti terbang, tangannya tahu-tahu saja sudah menepuk-nepuk punggung Seijuurou yang gemetar. Ia tidak peduli bahwa kekasihnya berkeringat dan mengeluarkan cecair menjijikkan. Ia tidak peduli bahwa wajah Seijuurou memucat dan pipinya menjelma cekung.
"Ini biasanya terjadi selama bulan-bulan pertama kehamilan," kata Seijuurou lemah. Bahkan dalam kondisinya saat itu ia mampu menciptakan alasan untuk menghapus kekhawatiran kekasihnya. "Setelah ini ... semuanya akan baik-baik saja."
Levi mengangguk kaku, sekalipun Seijuurou tidak dapat melihatnya—kepala berhelai merah itu sudah kembali tenggelam ke lubang kloset dan memuntahkan semua menu makan malam mereka. Helai-helai itu lengket oleh keringat, dan Levi sama sekali tidak keberatan membelainya.
Sebab di mata Levi seorang, Seijuurou adalah—dan selalu akan menjadi—sesosok burung Phoenix. Phoenix-nya yang cantik dan kuat.
Maka jika Seijuruou berkata demikian, maka semua memang akan baik-baik saja.
.
.
Ketika Seijuurou terlalu lemah untuk meninggalkan tempat tidur, Levi belajar untuk menggantikan perannya. Seperti beberapa dekade yang lalu, ketika ia berperan sebagai ibu bagi Isabella; kini ia menjadi ibu bagi anak-anaknya dan 'istri pengganti' bagi Seijuurou.
Ia memutuskan untuk meracik minuman sendiri, memasak sendiri—walaupun sesekali para pelayan membimbingnya; jangan sampai Tuan Levi cedera memegang perkakas dapur—bahkan mengurus kedua bayi yang baru lahir itu. Levi bersikeras untuk menjaga menu makanan Seijuurou, berharap makanan yang ia masak sendiri dapat memulihkan setidaknya sedikit dari tenaga kekasihnya yang menghilang.
Tapi Seijuurou selalu menolaknya. Selalu menggeleng dengan cara yang sama, menjauhkan wajah dari sendok dengan raut muka berkerut, dan mendesahkan alasan yang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. "Aku tidak lapar, Levi."
"Tapi kau bahkan tidak menyentuh makananmu. Sarapan tadi pagi saja cuma kauhabiskan sedikit."
Seijuurou hanya tersenyum. Manis, tapi juga pahit. "Aku akan makan nanti, kalau perutku sudah lebih lega," katanya lembut. "Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin tidur."
"Kau sudah tidur lebih dari dua belas jam sehari, Seijuurou," tukas Levi. Kekhawatiran jelas-jelas mewarnai suaranuya. "Kau harus makan. Sedikit saja."
Seijuurou tertawa lemah, walaupun wajah itu—lagi-lagi—menjauhi uluran sendok alfa-nya. "Kau hanya cemburu karena pekerjaanmu tidak mengizinkanmu tidur lebih lama dari lima jam tiap harinya."
Levi mendengus, walaupun tawa Seijuurou membuatnya tertarik untuk mengecup keningnya dan mengirimkan, setidaknya sedikit kekuatan ke dalam tubuh ringkih itu.
"Kau benar. Aku memang cemburu," katanya lembut. "Tapi bukan padamu—aku cemburu pada tempat tidur yang bisa terus-terusan memelukmu seharian penuh, bahkan ketika aku sedang tidak ada di dekatmu."
Seijuurou tertawa lagi. Tipikal tawa yang dapat membuatmu tuli begitu saja, sebab tidak ada suara lain yang ingin kaudengar kecuali tawanya. Omega-nya memang terlihat lelah, juga lemah, tapi ia tetap Seijuurou yang ia kenal; yang bahkan dalam kondisi terlemahnya terlihat menawan.
Levi mengecupnya lagi, kali ini lebih lama dari yang sebelumnya. "Tidurlah," katanya, nyaris serupa bisikan. "Kau akan baik-baik saja setelah tidur siang."
Dan aku berjanji akan menghalau semua rasa sakitmu selama kau tidur.
.
.
Rasanya menderita sekali menyaksikan Seijuurou melahirkan anak-anak itu—anak-anak mereka. Tubuh Seijuurou tidak pernah absen dari keringat, menetes begitu deras seperti pada malam penyatuan mereka, dan jerit sakit itu—ah, alih-alih nikmat, Levi jadi ikut merasakan kesakitan omega-nya.
Levi tidak bisa melupakan sepuluh jam yang panjang itu, ketika tangan Seijuurou menggenggam tangannya dengan begitu erat, dan Levi terlalu ketakutan untuk merintih sakit. Tidak. Ia terlalu takut kalau rintihannya akan menambah rasa sakit Seijuurou, maka ia memutuskan untuk tetap diam. Setiap desis dan jerit Seijuurou membuat dadanya digaruk—oleh rasa bersalah dan marah, sebab Levi tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengurangi rasa sakitnya—dan kakinya memutuskan untuk tetap berdiri di sana, di sisi Seijuurou, sampai akhirnya kedua makhluk kecil itu muncul dan menangis.
Padahal Seijuurou saja tidak menangis setelah sepuluh jam yang menyakitkan itu. Atau barangkali, ia sengaja mengirimkan tangisannya pada bocah-bocah itu, supaya mereka menangis untuk ayah mereka yang terlalu kesakitan untuk bersuara.
"Ackerman-Ackerman kecil kita, Levi," desah Seijuurou bangga. Levi mengecup keningnya yang berkeringat dan bersyukur karena sekalipun lelah, lelaki itu terlihat baik-baik saja. "Aku tidak sabar untuk menamai mereka—"
"Jangan khawatir," kata Levi. "Anak-anak itu tidak akan memilih nama mereka sendiri. Sebaiknya kau beristirahat. Tampangmu kacau sekali."
Seijuurou tertawa kecil. "Aku tahu."
"Kalau kau terlalu lemas untuk bangun, aku tidak keberatan memandikanmu."
"Bahkan di saat-saat seperti ini kau berusaha mengambil keuntungan dariku," kata Seijuurou pelan. Bibir bawahnya maju ke depan, dan Levi tidak tahan untuk tidak mengulumnya. "Aku benar-benar membencimu, Levi Ackerman."
"Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh mengatakannya." Levi tersenyum tipis. "Sekarang tidak usah memikirkan yang tidak-tidak dan istirahatlah. Tubuhmu harus benar-benar bugar kalau mau merawat cecunguk-cecunguk itu."
"Mereka anak-anak kita, Levi."
"Aku tahu. Dan jangan menunda-nunda waktu tidurmu lagi."
Levi mengusap dahi Seijuurou yang berkeringat dan mengecupnya sebelum omega itu terlelap, berharap tubuh Seijuurou akan baik-baik saja setelah ini.
.
.
Tapi Seijuurou tidak pernah lagi kembali seperti semula.
—atau belum. Harusnya begitu.
Levi kira, efek paska melahirkan memang seperti itu; tubuh omega-nya akan melemah selama beberapa saat karena kecapekan, baru setelahnya berfungsi normal seperti orang sehat pada umumnya. Levi kira mereka bisa mengurus anak-anak itu bersama, mengamati Seijuurou bolak-balik ke kamar bayi sambil menggerutu, lalu memungkas hari mereka dengan beradu berdua di atas tempat tidur.
Oh, Seijuurou memang mengurus anak-anak mereka. Tapi Levi tidak pernah tidak melihatnya terhuyung ke satu sisi, sementara wajahnya sepucat dinding yang dijadikannya penopang.
"Istirahatlah," gumam Levi. "Akan kuminta pelayan mengganti popok bayi-bayi itu."
Seijuurou menggeleng. "Mereka membutuhkanku, Levi."
"Dan kau butuh istirahat." Tangannya tidak lepas dari lengan Seijuurou, tidak peduli seberapapun sang omega mengelak, menuntunnya kembali ke tempat tidur.
Lalu siklus itu muncul lagi. Menyergap pasangan itu seperti halnya mimpi buruk, bahkan ketika mereka terjaga.
Malam-malam Levi tidak pernah dilalui dengan tenang, sebab ia harus memastikan Seijuurou baik-baik saja setelah memuntahkan isi perutnya ke dalam lubang kloset. Suara itu—rasanya seperti mengeluarkan sebagian dari dalam perut Levi juga.
"Katamu yang seperti ini hanya terjadi kalau sedang hamil," kata Levi. Tangannya, sementara itu, tidak berhenti membelai punggung omega-nya. "Kenapa malah kumat-kumatan begini lagi?"
"Kepalaku pusing," Seijuurou balas menggerutu. Napasnya gemetaran dan menggaung di sepanjang kamar mandi. "Jangan malah memberiku pertanyaan yang macam-macam. Ambilkan air atau teh hangat saja kalau mau marah-marah."
Maka Levi patuh saja. Ia, yang biasanya memerintah, bersedia merangkak untuk Seijuurou jika hal itu dapat membuat omega-nya merasa lebih baik.
Ya. Seijuurou harus baik-baik saja, dan tidak boleh tidak.
.
.
Ada satu hal yang perlu kauketahui soal Levi.
Levi adalah orang yang tidak pernah bisa marah dengan benar. Ia hanya akan menekan keningnya sampai alisnya bertekuk, dan suaranya akan membuat siapapun menekuk lutut karena takut. Ia tidak pernah berteriak, sebab suaranya terlalu berharga untuk dibuang-buang begitu saja.
Tapi satu hal yang jelas, ia juga tidak akan tinggal diam ketika sesuatu berjalan di luar ekspektasinya.
"Ini konyol," gerutu Levi. Telapak tangannya melekat di kening Seijuurou, berganti-gantian dengan punggung tangannya. Gejolak kesal menggedor-gedor dadanya. "Seharusnya demammu sudah turun sejak kemarin—kenapa masih tinggi juga?"
"Soalnya tanganmu memegangi keningku terus-terusan, jadinya hangat," sengal Seijuurou. "Tidak usah paranoid begitu, Levi."
Raut Levi mengeras. "Kita ke dokter."
"Aku tidak mau."
"Harus mau."
Dan Seijuurou akan menatapnya dengan ekspresi yang selalu membuatnya merasa bersalah. "Aku hanya ingin tidur," katanya singkat. "Kalau aku tidur dengan benar pasti semua akan baik-baik saja. Tidak usah pakai dokter-dokteran segala."
"Itu juga yang kaukatakan bulan lalu," gerutu Levi. "Kalau kau memang ingin merawat Nash dan Mikasa, pilihan terbaikmu adalah mengunjungi dokter, Sei."
Seijuurou menggeleng, kali ini wajahnya melembut. "Benar-benar kau ini ... aku tidak bisa kalah darimu, kan?"
Levi tidak menjawab, sekalipun hatinya bergemuruh oleh rasa sakit.
Terbalik, Sei. Akulah yang selalu kalah darimu.
Kunjungan ke dokter adalah momen yang paling menyakitkan bagi pasangan itu. Mengamati bahwa tubuh Seijuurou, yang dulu penuh oleh bara api dan keperkasaan, kini tidak ubahnya asap yang rapuh dan bisa lenyap dengan satu kibasan tangan. Levi, awalnya, memilih Erwin Smith, dokter terbaik di rumah sakit itu, dengan harapan kobaran dalam diri Seijuurou bisa kembali terlihat.
—atau semua itu hanya berada di angan-angannya saja; sebab api Seijuurou semakin redup dan redup.
Memasuki bulan ketiga, Erwin Smith-lah yang mendatangi mansion Levi, sebab Seijuurou bahkan tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Tubuhnya datar menempel di permukaan tempat tidur, berkeringat tapi terus-terusan menggigil. Ekspresi prihatin jelas sekali mewarnai wajah Erwin ketika ia memeriksa omega yang tengah kesakitan itu.
"Omega lain saja barangkali sudah tidak sanggup bicara pada tahap ini," desahnya. Apakah itu menunjukkan simpati, atau justru ironi, Levi tidak peduli. "Adalah sebuah keajaiban dia bertahan sampai sejauh ini. Kekuatannya memang luar biasa."
"Orang luar sepertimu tidak akan tahu," Levi menukas. "Dia akan hidup."—menjebol rekor sebagai omega pertama yang bertahan hidup.
Raut wajah sang dokter tidak dapat dibaca. "Aku tidak akan sepercaya diri itu."
"Dan kenapa tidak?"
"Separti yang kaulihat," pupilnya bergerak ke arah Seijuurou. "Kondisinya sudah sebegini parah. Kalau sampai paru-parunya ikut melemah, maka hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah menunggu—"
Kalimat itu menggantung di udara, walaupun jelas Levi dapat menangkap kata 'kematian' terbentuk samar di gerak bibir sang lawan bicara.
Alisnya menukik. Jelas kesal. Apa maksudnya Seijuurou tidak sekuat itu untuk melawan pertarungan dengan maut? Jika ia mampu bertahan hidup atas penyatuan mereka malam itu, maka seharusnya yang ini juga tidak akan membunuhnya.
Seharusnya begitu. Tidak boleh tidak.
"Berapa uang yang kauinginkan?"
Jeda.
Erwin menggeleng lelah. "Ini bukan perkara uang."
"Tidak usah arogan," sambar Levi. "Sebutkan nominalmu, dan akan kubayar lunas di muka. Kalau namamu sebagai dokter terbaik tidak mau terancam punah, maka lakukan sesuatu. Lakukan operasi. Beri dia obat. Apapun yang bisa tangan sialanmu itu lakukan untuk membuat Seijuurou hidup."
"Levi—"
"Kalau memang dengan jatuh miskin Seijuurou akan tetap hidup, maka itu yang akan kulakukan. Tapi kalau usahamu gagal—" hidung sang dokter disodori kepalan tinju. "—anggap saja nyawamu siap kukirim ke neraka."
Erwin menggeleng lagi. "Berhenti mengancamku. Kau tahu sendiri sejak awal para omega tidak ditakdirkan hidup setelah melahirkan anak kedua—"
"Takdir bisa diubah."
"—dan ilmu kedokteran tidak bisa melakukan apa-apa." Lelaki itu menarik napas panjang. "Dengar, aku tidak tega membiarkan Seijuurou menderita lebih lama lagi. Lebih baik berhenti mengulur waktu dan segera lakukan kloning."
Panas menjalari dada Levi. Erwin Smith boleh saja temannya, tapi untuk menyetirnya ke arah opsi yang selama ini ia hindari? Lebih baik Levi ikut mati bersamanya.
Lagipula, dia bisa menemui ibunya kembali—sosok ibu yang ia rindukan semasa kecil. Jadi seharusnya ia tidak akan kehilangan apapun, kan?
Walau sayang, ia yakin dunia paska kematian tidak akan semanis ekspektasi. Dan si pirang sialan itu, sialnya, juga benar. Tidakkah kejam jika ia membiarkan kekasihnya menderita lebih lama lagi hanya untuk mati?
Jelas tidak.
"Pilihanmu hanya dua," kata Erwin tenang. "Membiarkan hidup Seijuurou berakhir sekarang—atau memberinya kesempatan baru dan memulai semuanya dari awal."
Tapi dia tidak akan kembali sebagai Seijuurou-ku. Tubuhnya adalah Seijuurou, tentu saja, tapi hatinya bukan. Tapi Levi adalah Levi, dan ia tidak membiarkan Erwin mendengarkan keluh-kesahnya seperti sepasang teman dekat yang masih remaja.
Erwin menatap Levi, lama dan dalam, kemudian mengembuskan napas. "Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi nasib Seijuurou sekarang ada di tanganmu. Kau tidak mungkin membiarkan perjuangan Seijuurou berakhir sia-sia, kan?"
"Pergilah."
"Sikap keras kepalamu tidak akan membantu. Nyawa Seijuurou—"
"Erwin Smith," Levi memejamkan mata. Menolak bertatap wajah dengan sang dokter. "Sekarang pergilah. Akan kupanggil lagi lain kali—kalau aku masih bersedia menggunakan jasamu."
Kilat mata Erwin menggelap. Ia menatap Levi dengan ekspresi yang tak terbaca—jangan khawatir, Levi juga tidak bersedia menafsirkan arti raut itu—dan dalam satu kibasan jubah, ia sudah meninggalkan mansion itu berikut penghuninya.
Yah, orang tidak kompeten seperti dia seharusnya tidak layak merawat burung phoenix-nya.
.
.
Ia kembali ke kamar dan mendapati Seijuurou sudah terbangun.
Kepalanya bergerak lemah ke arah pintu untuk menyambut Levi, sementara bibirnya yang kering berbisik, "Apa kata dokter?"
Levi melirik ke arah luar. Berharap salah seorang pelayan telah menggiring dokter sialan itu pergi. "Dia bilang kau hanya perlu istirahat," katanya. "Makan yang benar dan tidak usah terlalu mencemaskan anak-anak. Prosesnya lambat, tapi kau akan sembuh—"
Seijuurou tersenyum tipis. Tangannya yang kurus terulur ke arah alfa-nya, gemetaran. Levi menangkap tangan itu dan menciumnya dalam-dalam, menghirup aroma keringat Seijuurou yang mengemfasis bahwa lelaki itu masih hidup. Gemuruh di dalam dadanya semakin hebat ketika ia melihat cahaya di sekeliling Seijuurou semakin meredup dari hari ke hari.
"Aku harus tetap mengikuti prosedur kloning itu, Levi." Suaranya nyaris serupa desahan ketika ia berkata, "Bukan begitu?"
Levi membelalak. Dadanya seperti disentak jatuh. "Apa maksudmu 'harus'?" sambarnya cepat. "Kau akan sembuh dengan sendirinya, Seijuurou. Kau tidak akan mati."
"Kau ini memang tolol, ya." Seijuurou terkekeh, yang dalam hitungan detik berubah menjadi batuk-batuk kecil. Pria ringkih itu meringis, dan Levi merasa sesuatu meremas perutnya. "Aku sama sekali tidak tahu kenapa aku mau-mau saja menjadi omega-mu."
Levi mendengus geli. "Tentu saja karena aku memilihmu."
"Dan kau nyaris melecehkanku hari itu juga—"
"Sei, kau tahu benar kalau aku tidak bermaksud begitu."
"Bercanda," kata Seijuurou. Ia mengernyit lagi, dan Levi meremas tangan kurusnya erat-erat. "Kau yang keras kepala dan sombong ini ... aku tidak mungkin bisa melepaskanmu begitu saja, kan?"
Alis Levi bertaut. Ia tidak suka arah pembicaraan ini.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Sei, dan kau juga tidak," katanya tegas. "Ini perintah."
"Kau selalu seperti itu," kata Seijuurou serak. Ia berdeham sekali, tapi Levi masih tidak menyukai betapa lirih suaranya terdengar di kupingnya. "Pemaksa dan tukang perintah. Kuharap kau tidak mengerasiku ketika aku kembali nanti."
"Sei—"
Tapi Seijuurou membungkam mulutnya. Jarinya, yang kini tidak lebih besar dari sulur anggur di kebun Levi, menempel pada bibir Levi, menyegel apapun yang ada di dalam kepala sang alfa untuk keluar dan menyerangnya dengan begitu banyak protes.
"Kau yang bilang kalau aku lebih baik tidur," katanya lembut. "Baru setelah ini aku akan makan—kalau aku memang lapar."
"Itu yang kaubilang seminggu lalu," gerutu Levi. "Omelet saja bagaimana? Mudah dicerna dan cepat. Aku akan memasaknya sendiri kalau kaumau."
Seijuurou mengangguk samar. Senyumnya membangunkan kembali gemuruh di dalam dada Levi. "Kedengarannya enak." Hati-hati ia bangkit, tapi tangannya terlalu gemetar untuk melakukannya sendiri. Levi menggigit bibir bawahnya dan membantu Seijuurou duduk.
Bahkan untuk melakukan hal sesederhana itu saja napasnya sudah tersengal. Dulu, Seijuurou dapat menari selama satu jam penuh tanpa kehabisan napas. Kenyataan itu mengempas perut Levi dengan rasa sakit.
"Berjanjilah untuk tidak memuntahkannya lagi," ia berbisik lembut. "Kau butuh sesuatu untuk mengisi perutmu. Oke?"
"Aku juga inginnya begitu," Seijuurou terbatuk lagi. Senyumnya terlihat seperti upaya untuk menahan rasa sakit. "Tapi kalau tubuhku menolak, aku bisa apa?"
Levi tidak menjawab. Tahu bahwa jawaban seperti apapun tidak akan berhasil meyakinkan Seijuurou. Ia menepuk pundak Seijuurou sekali, seolah menyatakan bahwa semua akan baik-baik saja dalam gestur bisunya, lalu pergi meninggalkan kekasihnya sendirian di dalam kamar tidur yang gelap itu.
.
.
Tapi keesokan harinya, Seijuurou bahkan tidak terbangun.
"Apa maksudnya ini?" geram Levi. Ia bersumpah untuk menghajar setiap dokter—atau perawat; siapapun—yang menjawab pertanyaannya dengan suara gagap, seolah-olah mengemfasis kalau mereka begitu tidak kompeten di bidangnya. "Kemarin dia baik-baik saja. Harusnya dia juga terbangun dalam keadaan baik-baik saja!"
Dan Erwin Smith, dengan gayanya yang sok tahu dan kurang ajar itu, menjawab Levi dengan kalimat yang jelas-jelas tidak menenangkan. "Aku sudah bilang, kan?" katanya dengan nada yang nyaris sebeku es. "Seharusnya Seijuurou langsung dilarikan ke rumah sakit sejak awal. Kondisinya yang sudah gawat kauperparah dengan bersikap keras kepala seperti itu. Wajar saja kalau dia koma, kan?"
Levi gemas ingin menjawab kalau hal itu jelas-jelas tidak wajar; sebab ia telah berjanji akan memasakkan sup yang enak untuk Seijuurou dan membacakannya dongeng pengantar tidur—dan Seijuurou adalah pemegang janji terbaik yang bisa Levi ingat. Padahal baru kemarin Levi memutuskan untuk mendatangi kamar bayi anak kembarnya, berusaha berdamai dengan mereka sebagaimana ia mulai berdamai dengan kondisi Seijuurou.
Tapi, tetap saja—"Tidak bisakah kalian melakukan sesuatu?" Bahkan Levi tidak dapat menyembunyikan nada putus asa dalam suaranya. "Pasti ada yang bisa kalian lakukan. Pasti ada, kan?!"
Orang-orang itu membisu—sialan, mereka sengaja mempermainkannya atau bagaimana?
"Tuan Levi," salah satu dari mereka akhirnya berujar berat. "Anda sudah tahu bahwa satu-satunya cara adalah dengan menyiapkan prosedur kloning. Dengan begitu Anda tidak akan pernah kehilangan Tuan Seijuurou yang begitu Anda cintai itu—"
"Itu sama saja membiarkannya mati, kan?" sambar Levi berang. "Dia akan sembuh tanpa dikloning. Dia tidak akan mati dan hidup lagi sebagai orang lain. Satu hal itu aku tahu."
"Gagasan yang tidak masuk akal, Tuan Levi. Suami Anda sudah sekarat. Organ-organ tubuhnya bisa berhenti berfungsi sama sekali kapan saja. Semakin lama Anda membuatnya sengsara, semakin kecil pula keberhasilan kloning ini."
Levi terdiam. Jemarinya mengerat dalam kepalan. Kalau saja ia berhenti berpikir, mungkin salah satu dokter di dalam ruangan itu—atau semuanya saja sekalian—sudah jatuh ke lantai dengan kepala menghadap ke lantai dan tubuh bermandikan darah. Biar mereka saja yang dikorbankan; tapi jangan Seijuurou-nya!
Dengan geram, ia meninggalkan orang-orang—babi-babi—tolol itu, berharap mereka telah menyesal meremehkan Seijuurou sebagai phoenix terkuat yang pernah ada.
.
.
Butuh satu putaran purnama lamanya bagi Levi untuk menyadari bahwa upayanya mengurung Seijuurou tidak lebih dari usaha yang sia-sia. Ia hanya memerangkap Seijuurou dalam rasa sakitnya, dan melihat lelaki itu berjuang untuk bertahan hidup karena keegoisannya sendiri menohok dada Levi dengan cara yang begitu nyata sampai ia nyaris lupa untuk bernapas karenanya.
Tapi dasar keras kepala, Seijuurou selalu saja mengucapkan kalimat yang sama di sela-sela napas beratnya: "Kau tidak usah terus-terusan menungguiku seperti ini, kautahu?"
Dan Levi selalu menggeleng. Selalu mengelak. "Kau bahkan tidak bisa bicara dengan benar. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu?"
"Karena wajahmu itu ... sudah seperti orang yang tidak bisa tidur bertahun-tahun," kata Seijuurou. Untuk membelai pipi Levi saja ia sudah tidak sanggup. Hanya senyum dan matanya yang menunjukkan bahwa ia masih hidup—masih ada, dan masih menjaga Levi hidup bersamanya. "Nash dan Mikasa ... juga membutuhkanmu ... kautahu?"
Levi menggigit bibir. Sudah berapa lama ia tidak masuk ke dalam kamar bayi itu dan menjenguk putra-putrinya sendiri? "Aku sudah meminta tolong Isabel untuk mengasuh mereka, jadi kau tidak usah khawatir—"
Seijuurou merintih. Genggaman Levi pada tangannya mengerat. "Tapi ... mereka membutuhkan ayah mereka, Levi."
"Kau juga membutuhkanku, Nak."
Seijuurou menggeleng samar. Titik-titik keringat membasahi kening dan pelipisnya. "Aku ... akan baik-baik saja," bisiknya lemah. "Tapi bayi-bayi kita tidak. Mereka ... mereka butuh ayah mereka, Levi. Bukan orang lain."
Alis Levi menukik. "Isabel bukan orang lain. Dia adikku."
"...tetap saja, Isabela bukan ... orangtua mereka—"
"Sei." Levi mengecup pipinya dalam-dalam. "Tolong jangan terlalu banyak bicara. Kau butuh istirahat. Terlalu banyak berpikir tidak akan membuatmu baik-baik saja."
Seijuurou menggeleng lagi. Matanya, sekalipun tidak fokus, berhasil menghunjam dada Levi. "Dengarkan aku, Levi," sengalnya. "Aku tidak ingin mereka ... tumbuh tanpa ... merasakan kasih sayang kedua orangtuanya."
Panas menjalari kelopak mata Levi. Ia memilih untuk bersabar.
"Jadi tolong—" sang omega mengernyit, dan perut Levi secara otomatis terkocok dibuatnya. "—tolong ... jangan jadikan aku alasan untuk membenci Nash ... dan Mikasa."
Bagaimana mungkin Levi bisa menolak permintaan Seijuurou kalau kekasihnya sudah meminta tolong seperti ini? Lagipula, Levi juga tidak ingin memperlakukan bayi-bayi mereka seperti ia memperlakukan Isabel di masa lalu. Ia ingin mereka hidup tanpa penyesalan, bahagia karena telah dilahirkan, dan bukannya menyesal karena telah merenggut nyawa seseorang tanpa mereka sadari.
"Kautahu," katanya dalam desah. "Aku benar-benar membenci kau yang keras kepala seperti ini."
Kekeh lemah menyahutnya. "Tapi kau juga ... tidak akan pernah bisa meninggalkanku yang seperti ini, kan?"
Levi mendengus. Seijuurou tersenyum. Kedua-duanya menyimpan agoni, yang tersembunyi temporer di dalam relung masing-masing. Cuma sementara, sebab Seijuurou sudah kepalang berkawan dengan rasa sakit. Dalam hitungan detik, matanya kembali berpejam erat. Tangannya yang dingin dan berkeringat mencengkeram ujung selimut. Jerit sakitnya keluar tanpa kata-kata, tapi tidak butuh suara untuk membuat Levi paham.
Saat ini, Seijuurou tengah berjuang. Untuk dirinya sendiri. Untuk Levi dan putra kembarnya.
Maka Levi juga akan berjuang. Untuk Seijuurou. Untuk separuh jiwanya yang bisa lenyap sewaktu-waktu.
Dan seandainya Seijuurou memilih untuk pergi, maka Levi akan membiarkannya. Mengizinkan Seijuurou mengakhiri rasa sakitnya sendiri dan memulai kehidupannya yang baru—tidak peduli seperti apa nantinya kehidupan itu kelak.
Genggaman Seijuurou melemah setelahnya, dan Levi tidak juga berhenti menciumi jemari kurus itu untuk menyampaikan betapa ia sangat menyayangi omeganya itu.
.
.
Sampai akhirnya Seijuurou benar-benar berhenti bernapas, kekosongan yang selama ini Levi takuti kembali memasuki dadanya. Kekosongan yang sama seperti ketika ibunya meninggal, dan kekosongan yang juga menyergapnya ketika ia kembali sebagai orang yang berbeda.
Levi menggendong tubuh Seijuurou yang begitu kurus ke rumah sakit, mengabaikan tatapan "apa-aku-bilang" yang diterimanya dari Erwin Smith, dan membaringkannya ke tempat tidur putih yang seolah menyatu dengan kulit pucatnya. Kehangatan yang tadinya meledak-ledak dari dalam tubuh itu kini menghilang sepenuhnya, seolah membawa rasa sakit yang Seijuurou tanggung selama ini pergi bersamanya.
Para dokter berdatangan, menggumamkan kata-kata penyemangat yang tak ubahnya angin lalu—lagipula buat apa ia mendengarkan mereka? Sumber semangatnya, toh, sudah menghilang sekarang—lalu memegangi tubuh Seijuurou seolah-olah ia adalah objek penelitian.
Ia menarik napas, mengawasi tubuh Seijuurou—burung phoenix kesayangannya—di atas pembaringan, dan menjawab dengan suara semantap yang ia keluarkan pada malam ia memilih Seijuurou sebagai omega-nya.
"Silakan mulai prosedur kloningnya."
Seijuurou tidak akan mati semudah itu. Ia sudah berjanji.
Untuk yang terakhir kalinya, ia mengecup wajah Seijuurou, berharap kecupan itu dapat menggiringnya ke hidup yang baru. Ke dunia tanpa rasa sakit yang selalu ia impikan selama ini.
Sebab Seijuurouadalah burung phoenix-nya, dan burung phoenix akan hidup kembali darikematiannya.
