Di antara mereka berdua yang harus kupilih? Bukankah jawabannya sudah jelas tanpa perlu ditanyakan? Wendy adalah adikku satu-satunya, jadi aku merasa dialah pilihan yang pantas. Sedangkan Erza? Wanita itu hanya seorang maniak buku yang tidak tau sopan santun, masuk ke kamar orang lain sembarangan, main tuduh seenak jidat, lalu ikut campur masalah pribadiku. Gajeel menyeringai, dapat mengetahui siapa yang akan aku pilih.
"Singkirkan pisaunya dari leher Wendy. Bunuh Erza sekarang…."
DEP!
Aku memeluk erat Wendy dan Erza, membuat pistol di tangan body guard tersebut terpaksa disingkirkan. Gajeel mengernyitkan dahi, mendapati pilihanku yang melenceng dari seharusnya. Nyawa kami bertiga bisa saja dalam bahaya, tetapi aku telah membulatkan tekad untuk mengiring si tua bangka mendekam di penjara. Dia mengeluarkan kartu AS terakhir, buku sampul merah berjudul 'Penyesalan Sebatang Kara di Kota Aifeel'.
"Tu-tunggu, kenapa berada di tanganmu?!" teriakku tidak mempercayai benda yang dipegangnya. Sekali lagi Gajeel menyeringai, penuh kemenangan diliputi aura gelap
"Aku menyuruh Levy mencurinya, sangat mudah. Kamu tau apa rencanaku?"
"Mempublikasikannya di depan umum dan mempermalukanku?!"
"Jawaban yang sempurna, Jellal. Aku bisa berbaik hati, asal kamu mau memenuhi kedua syaratku. Pertama, pilih salah satu dari Erza dan Wendy. Kedua, berikan kode berangkasmu sebelum aku sendiri yang membongkarnya"
"Tidak, aku tetap memilih mereka berdua"
"Kenapa? Bukankah Erza tidak berharga bagimu?" tanya Gajeel memegang dagunya heran. Memang pikiranku juga berkata serupa, tetapi hati justru merasakan hal lain. Ada yang aneh, aku sadar
"Karena aku mencintainya, itu saja"
Erza POV
Pandanganku gelap total. Aku juga sempat mendengar suara familiar di luar sana, apa dia Jellal? Kata-kata yang diucapkannya aneh, mencintai apa dan siapa? Aku memaksakan diri membuka mata perlahan-lahan, melihat ruangan sebesar 3x4 bersama seorang lelaki dengan bau badannya yang khas. Surai berwarna biru itu setengah terlihat, entah kenapa terasa dekat, seakan jarak di antara kami tidak terpaut jarak.
"Hangat….tetapi siapa?" tanyaku bergumam seorang diri, mengelus punggung tegak berbalut seragam SMA Fairy Tail. Aku hanyut dalam alam khayal, semakin mempererat pelukan tanpa disadari
"He-hentikan! Aku geli tau!" teriakannya menusuk gendang telinga! Aku mendorong orang itu kasar, ternyata Jellal pantas terkesan menyebalkan!
"Tadi kamu mengatakan mencintaiku, apa itu benar?!" ya, aku mulai mengingatnya pasti. Apalagi nada bicara Jellal di luar kebiasaannya sehari-hari, dia jadi lebih jantan
"Aku mengucapkannya karena tidak tau mesti menjawab apa" asal bicara, kesimpulan itulah yang dapat ku ambil dari mulutnya yang mendadak kikuk
"Salah siapa sehingga membuatku berharap seperti tadi" aku keras-keras mengucapkannya, lupa apa arti malu dan keberadaan orang-orang di sekitar
"Kalian pikir, melupakanku maka masalah terselesaikan, hah?!" sahut suara di sebrang sana, yang mengalihkan perhatian kami berdua dari kesibukan masing-masing. Gajeel-san marah, menampilkan sorot mata yang terkesan mengancam
"Tch! Kembalikan bukunya!" teriak Jellal memaksa. Dia ingin melakukan perlawanan, tetapi dengan sigap body guard menahan kedua lengannya dan berhasil diredam sesaat
"Bawa mereka ke penjara bawah tanah!"
Penjara bawah tanah? Aku jadi tidak yakin bahwa Demos adalah nama perusahaan! Mulut Jellal didekap, membuat suara yang keluar sekadar bergumam biasa. Kenapa dia sangat menginginkan buku bersampul merah itu? Jelas aku mau bertanya, namun situasi di antara kami berdua sama sekali tidak mendukung. Jerjuji besi didorong menutup, sedikit menimbulkan kebisingan meski bukan hal penting untuk dipusingkan. Seorang wanita berambut biru sebahu berdiri di depan penjara, menatap sinis yang bikin bulu kuduk merinding!
"Inilah akibatnya jika melawan Gajeel-sama" sindir wanita itu terlihat senang, melihat perubahan ekspresi drastis yang Jellal tunjukkan
"Hmm….aku ingat betapa lembutnya rambutmu. Boleh ku belai sekali lagi?" ca-candaannya bermasalah! Mana mungkin orang seberbahaya dia berani Jellal permainkan. Aku diingatkan oleh kejadian beberapa hari lalu, bukankah bocah tengil itu juga pernah melakukan perbuatan serupa?
"Jaga mulutmu Jellal-san. Lagi pula kita baru bertemu sekarang, jangan katakan menurut opini pribadimu"
"Terserah kau mau pura-pura tidak tau atau apa. Kita ganti saja topiknya, dimana Wendy?"
"Entahlah, siapa yang tau" gertakan gigi Jellal menandakan, dia menolak jawaban tersebut mentah-mentah. Lebih baik aku diam, sejuta pertanyaan yang terngiang dalam benakku harus ditahan agar tidak keceplosan
"Baiklah, tidak apa-apa kalau kamu enggan menjawabnya. Kita ganti topik lagi, kenapa kamu mematuhi Gajeel?" perkataanmu tidak menggambarkan isi hatimu sama sekali! Wanita misterius itu bungkam, mengambil jeda yang cukup lama sampai membuat kami menunggu
"Karena saya mencintai Gajeel-sama. Hentikan pembicaraan ini, aku muak!" pistol ditodongkan menghadap kepala Jellal, sekali pelatuknya ditarik tamat sudah
"Maafkan Jellal, dia hanya bercanda kok, hehehe…."
"Tolong jaga pacarmu baik-baik, Erza-san"
Di-dia tau namaku! Pekerjaannya apa sih? Setengah peramal setengah body guard? Dan Jellal bukan pacarku! Menyebalkan sekali harus mendengar ucapan semacam itu keluar dari mulutnya yang tajam. Kapan kami dibebaskan? Aku gelisah setengah mati karena mendekam di penjara tanpa alasan jelas, rasanya waktu berjalan lambat, kegiatanku hanya duduk manis tanpa bertindak, memperhatikan Jellal tengah berpikir sesuatu, apapun itu asal jangan ide gila.
"Perbincangan ringan tidak memubuatmu muak kan?" apa tujuan yang hendak Jellal capai? Aku siap-siap memasang telinga, berharap ujung pembicaraan mereka berakhir damai
"Boleh, aku juga ingin mengenalmu lebih jauh"
"Perkenalan selalu dimulai dari nama. Siapa dan apa pekerjaanmu?"
"Levy Mc Garden, sniper kelas atas" akal sehat tidak membiarkanku mempercayainya. Mau dilihat dari manapun dia sebaya dengan kami. Kemungkinan terbesar ialah, masa lalu yang telah membentuk kepribadiannya setelah berpuluh-puluh tahun berlalu
"Dan orang yang melukai kakiku adalah kamu, benar?"
"Tepat sesuai dugaanmu. Omong-omong aku tambah bosan"
"Kita baru mulai, Levy-san. Kenapa kamu mencintai Gajeel? Pria tua itu bukanlah pilihan yang tepat"
"Jangan sembarangan mencela, kamu tidak tau apapun tentang Gajeel-sama, sehingga berkata seperti tadi"
"Tidak mengetahui apapun tentang Gajeel? Justru kamu yang telah ditipu. Ceritakan apa alasanmu"
"Jellal-san, pertayaanmu menyangkut masalah pribadiku. Bukankah tidak sopan?"
"Hanya perlu bercerita, apa sesulit itu? Kalau kamu tidak memiliki alasannya, bagaimana aku tau kalau Gajeel memang sebaik yang kamu katakan?"
Flashback….
Satu-satunya anggota keluargaku meninggal dunia tujuh tahun lalu. Dia bernama Lucy, anak ke-dua yang telah ayah dan ibu buang sejak lahir, karena dokter memvonis adikku buta juga kemungkinannya untuk selamat sangatlah kecil. Akibat kebencian mereka, aku mengajak Lucy pergi ke luar kota tanpa persiapan memadai. Semua orang memiliki hak hidup termasuk yang cacat sekalipun. Prinsip tersebut menjadi keyakinanku selama dua tahun merantau.
Aku bekerja paruh waktu di cafe dekat pinggir jalan, hanya diposisikan sebagai tukang bersih-bersih mengingat umurku yang masih belia. Namun empat bulan kemudian ditutup paksa, karena ketahuan menyuguhkan daging tikus dalam menu steak. Semua ditangkap kecuali aku, polisi merasa seorang bocah berusia dia belas tahun tidak tau apapun tentang perkara tersebut. Setidaknya aku patut bersyukur.
Mencari pekerjaan sangatlah sulit, aku diusir, dicaci maki dan dipandang sebelah mata. Hingga suatu hari, alasanku untuk hidup ikut direnggut oleh seorang penjahat kelas kakap. Lucy diculik, lalu ditemukan oleh polisi dalam keadaan tidak bernyawa. Gajeel-sama datang, menjadi penyelamatku yang nyaris bunuh diri ditelan keputusasaaan. Dia memberiku rumah, pekerjaan, baju, semuanya dipersiapkan sebaik mungkin, aku tidak merasa kekurangan atau menderita.
Ada berita yang saat itu menarik perhatian seluruh penduduk Fiore, termasuk luar negeri. Aku juga menyaksikannya, semua wanita bernama Lucy (apapun nama belakang mereka) meninggal bertepatan dengan adikku dimakamkan. Jelas, fenomena tersebut dirasa aneh dan absurd. Banyak yang mengatakan 'hanya mencari sensasi', tetapi seiring waktu berjalan kebenarannya mulai terbukti.
"Bagaimana menurutmu setelah melihat berita itu?" tanya Gajeel-sama
"Mengerikan….siapa yang tega melakukannya?!" rasa keadilanku meluap-luap. Perbuatan si pelaku bertolak belakang dengan prinsipku yang menghargai hak asasi manusia
"Aku bisa membantumu mencari si pelaku, tertarik?"
"Apa yang harus saya lakukan, Gajeel-sama?"
"Mulai sekarang, kamu akan saya latih untuk menjadi sniper. Lima atau sepuluh tahun ke depan, kemampuanmu pasti menyamai professional. Dan…."
"Selain balas dendam, mungkin saja adikmu bisa dihidupkan kembali"
Lima tahun berlatih cukup sulit dilalui, Gajeel-sama begitu keras terhadap kami semua sedikit saja melakukan kesalahan maka hukumannya tidak main-main. Tak jarang ada yang kabur bahkan dibuang. Dan inilah hasil yang aku tuai, seratus persen memuaskan. Tetapi sampai sekarang….si pelaku tak kunjung ditemukan.
End flashback….
Usai mendengar cerita singkat dari Levy-san, terutama ketika mendengar bagian 'semua wanita bernama Lucy meninggal bertepatan dengan adikku dimakamkan', ekpsresi wajahnya berubah lagi, lagi dan lagi. Dia berupaya terlalu keras menutupi segala perasaan buruk yang dikecapnya hari ini, pahit dan asam bercampur aduk jadi satu, membuat lidah serta hati Jellal terasa getir.
"Sekarang giliranmu, ceritakanlah…." Jellal memotong permintaan Levy, aku tau dia sengaja. "Dimana buku itu?"
"Hey, jangan mengalihkan topik pembicarannya! Beritau aku…."
"Dimana buku itu?"
"Hey! Kenapa kamu bersikeras menginginkan buku bersampul merah itu? Karena langka dan tidak lagi dipasarkan atau apa?!" tanyaku berusaha mengerti jalan pikir Jellal. Bukannya penasaran maupun modus, tingkah lakunya aneh sejak buku berjudul 'Penyesalan Sebatang Kara di Kota Aifeel' berhasil Gajeel curi
"Bukan, alasannya lebih berharga dari nilai budaya yang terkandung! Dalam buku itu terdapat kisah hidup dan segala penyelasanku empat tahun belakangan"
"Lalu buku notesmu?"
"Masih ada di dalam berangkas, Gajeel tidak dapat mencurinya karena aku memasang kata sandi. Asal kau tau saja, dia ingin menjebloskanku ke dalam penjara dengan mempublikasikan buku tersebut di media, lalu mengambil notesku dan jadi penguasa dunia. Jika berdiam terus di sini, kita bertiga bahkan dunia berada dalam bahaya!"
"Cerita fiksi yang bagus, tuan pengarang"
"Sayangnya Levy-san, aku benar-benar serius saat ini. Dan perkenalkan, aku adalah orang yang telah merenggut nyawa adikmu dan seluruh wanita di dunia yang bernama Lucy"
Pengakuan terang-terangan yang gila! Levy tercengang begitu juga aku. Jellal tidak menunjukkan penyesalan, melainkan seringai seram seakan dia menikmati dosa yang dilakukannya tiga tahun lalu. Kebimbangan mengisi ruang hatiku, mundur atau bertahan? Tentukan pilihanmu sebelum si otak miring berbuat macam-macam, Erza Scarlet.
Bersambung….
Asking, asking, asking :
Erza : Tidak disangka, Jellal yang ku kenal sebagai cowok baik-baik ternyata pernah membunuh di masa lalu, bahkan dia melibatkan nyawa seluruh wanita di dunia yang bernama Lucy
Me : Yap, saya memang sengaja menjadikan Jellal pembunuh. Di chapter sembilan akan diceritakan mengenai masa lalu Jellal, kebenaran dibalik notes tersebut dan segala usaha Jellal untuk mencengah impian Gajeel terwujud
Erza : Ditunggu naskah selanjutnya
Me : Baca terus ya semuanya! Thx buat yang udah review. Maaf nih karena update-nya lama, author sibuk. Mohon dimaklumi.
Balasan review :
Fic of Delusion : Iya benar, karena kebanyakan ngeblokir ffn jadi cara2 kayak pake anonymox dan UC browser sering dipakai. Aku sendiri pake zen mate di google chrome, jadi bisa buka ffn deh meski pake tri. Thx ya udh review. Semoga suka chap 8-nya
NlorenZo : Maaf ya gak bisa update kilat, author disibukkan sama tugas dan ulangan harian. Thx udah review, semoga gak bosan menunggu kelanjutannya!
