.

Lama sejak Yunho sudah tertidur pulas, Changmin masih belum sanggup memejamkan mata. Benaknya masih berputar aktif berusaha menyelesaikan persoalan yang ada di depan mata.

'Apakah aku illfeel, jijik dan marah saat Yunho-hyung mencium bibirku? Jawabannya jelas. Tidak. Ia tidak merasa illfeel, jijik ataupun marah saat Yunho hyung, yang adalah seorang namja, mencium bibirnya. Lalu pertanyaannya adalah…

Kenapa ia tidak merasa illfeel dan marah saat Yunho-hyung menciumnya?'

.

.

.

Author Ela_JungShim presents

An Alternate Universe FAN-FICTION

"Pretended To Be"

Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)

Rate : T

Length : 8

Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK/TVXQ/ToHoShinKi. Yang Ela punya hanya plot fanfic, ide gila dan cinta buat TVXQ!

Warn : TYPO's! AU! Pretended-relationship. 06-02-2018 Yunho berusia 32th kalau usia internasional, tapi 33tahun usia korea. Yunnie=nama panggilan Yunho. Seokie=nama panggilan suami Jihye(Seokhee), Hye-ah=nama panggilan Jihye.

This is HOMIN Fanfiction. Jadi pair utamanya adalah HOMIN. Bagi yang tidak suka, silahkan angkat kaki dari fanfic ini. Simple.

.

.

.

.oOHOMINOo.

.

.

.

Note : tolong baca chapter ini pelan-pelan dan resapi kata demi kata-nya.

.

.

.

.

Gusar.

Ia tidak tenang.

Pikirannya kacau.

Hari ini adalah hari yang paling mengacaukan tidak hanya pikiran, tapi juga hatinya.

Sudah menjelang pagi, tapi ia masih tidak bisa memejamkan kedua matanya barang sekejap pun. Sedangkan tersangka utama yang membuatnya merasa kacau, bingung dan tidak bisa tenang itu malah sudah terlelap nyenyak dari tadi.

Suara dengkur halus Yunho itu biasanya membuatnya geli, tapi kali ini, dengkuran itu membuatnya kesal. Kesal karena namja itu sudah tidur nyenyak, sementara ia disini masih terjaga.

Merasa kesal yang berkepanjangan, Changmin memutuskan untuk turun saja. Mencari makanan, yang pasti akan bisa membuatnya lebih tenang dan lebih gembira.

.

..

'…tapi kenapa namja ini tak mau melepaskan pelukannya sih!' gerutu Changmin saat ia kesusahan untuk turun dari tempat tidur. Tangan Yunho yang melingkar di pinggangnya itu selalu kembali melingkar ke tubuhnya setiap kali berhasil ia singkirkan.

Akhirnya ia siapkan bantalnya saja. Saat ia menyingkirkan tangan Yunho, ia cepat-cepat menyelinap keluar dari kungkungan Yunho, dan menyelipkan bantal di tempatnya tadi.

Ia menatap Yunho yang sedang tidur. Mulutnya setengah terbuka mengeluarkan dengkuran halus. Dan sepasang tangannya masih setia memeluk bantal yang menggantikan keberadaannya.

Changmin terdiam cukup lama disitu—sebelum akhirnya ia tersadar, dan berjalan keluar. Menuruni tangga, ia menyalakan lampu dapur.

Karena seharian tadi sudah membantu Eomma-Jung di dapur, ia jadi tahu letak minuman coklat sachet di dapur, dan membuatnya. Duduk di pantry, dan menikmati minuman coklat hangatnya di malam menjelang pagi yang masih dingin ini.

Duduk diam sendiri seperti ini membuat benaknya kembali berkelana mengenai namja yang masib tertidur nyenyak di kamar mereka itu.

Jujur saja ia tak menyangka sama sekali kalau hyung-nya itu akan menciumnya di bibir dan kemudian mengungkapkan perasaannya. Dan itu semua benar-benar seolah kejadian yang tidak nyata. Hyungnya itu… memiliki perasaan cinta pada dirinya?

Sejak kapan ia terlempar masuk ke dunia fanfiction yang biasa di buat para fans-nya ini?

….karena selain dalam cerita fiksi, mana mungkin Yunho-hyung menyatakan cinta padanya?!

Impossible.

Tidak mungkin terjadi.

Tapi kalau tidak mungkin terjadi, hal yang baru berlalu beberapa jam tadi itu apa?!

Ingin bilang kalau tadi itu hanya mimpi belaka, tapi ia belum tertidur sekejap-pun. Lagipula, ia tak akan pernah sampai bermimpi kalau hyung-nya itu mencium dan menyatakan perasaannya.

Jadi kesimpulannya, hal yang terjadi beberapa jam lalu itu benar-benar terjadi.

Nyata.

Bukan fiksi, juga bukan mimpi.

'…Oh Tuhan…'

Changmin merasa ingin menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya. Tapi mengingat rambutnya itu aset berharga, ia memilih untuk menenangkan diri dengan menyeruput coklat hangatnya.

"Aku harap kau memikirkannya matang-matang, Changdol. Apakah tadi saat aku menciummu, kau merasa illfeel, jijik dan marah? Jika iya, mungkin itu berarti kau hanya menganggapku sebagai seorang hyung. Tapi jika tidak…? Hanya kau seorang yang tau jawabannya."

Ucapan Yunho-hyung terngiang lagi di telinganya.

Jika ia harus terpaksa jujur pada dirinya sendiri, sejujurnya ciuman Yunho tadi begitu memabukkan. Ia menyukainya. Bahkan tadi tubuhnya bereaksi hanya dengan ciuman Yunho di bibirnya.

Hanya sebuah ciuman di bibir, dan tubuhnya begitu memanas, bergairah hingga adik kecilnya bereaksi.

'…oh Tuhan, mungkinkah aku gay? Seorang namja yang sampai bagian bawah tubuhnya bereaksi hanya karena ciuman dari sesama namja juga… itu terdengar sangat gay.'

Tapi Changmin menghentikan pikirannya sejenak disitu. Kalau ia gay, tak pernah sekalipun ia membayangkan ingin mencium atau di cium namja lain. Contohnya dengan KyuLine-nya sendiri. Dengan Kyu, Minho, Jonghyun atau Suho, kalau di kecup pipi sih masih boleh. Tapi membayangkan mencium mereka, atau di cium oleh mereka di bibir? BIG NO! Bahkan kalau ia diharuskan mencium atau di cium oleh Donghae-hyung atau Siwon-hyung yang semakin dekat dengannya karena wajib militer bersama saja, ia menolak dengan keras!

Ia bukan gay!

.

..

…tapi kalau di cium oleh Yunho-hyung…?

.

..

Ia seratus persen bukan gay, tapi andai Yunho-hyung menciumnya, ia tidak akan menolak.

Apa-apaan ini?!

Ia sudah gila. Benar. Ini pasti tanda-tanda kegilaan. Belum genap ia berusia tiga puluh satu tahun, dan tanda-tanda kegilaan sudah muncul pada dirinya. Bagus sekali.

Ia jadi lelah memikirkan semua ini.

Tapi kalau tidak di pikirkan, apa mau tetap menggantung seperti ini? Dengan dirinya yang 24jam nonstop bersama Yunho-hyung? Jelas tidak bisa. Ini semua harus di selesaikan.

Jadi, dirinya ini jelas-jelas bukan gay. Tapi tidak marah ataupun jijik kalau di cium oleh Yunho-hyung. Apa itu berarti kalau ia… sebenarnya ada rasa pada Yunho-hyung?

Kalau rasa sayang, jelas ada. Yunho-hyung itu hyung yang terbaik. Banyak kekurangannya yang sering membuatnya kesal, tapi itu semua kalah dengan segudang kelebihannya. Yang bisa membuat mood-nya membaik hanya dalam sekejap mata itu hanya Yunho-hyung seorang.

Andai saja nih. Andai saja ia tidak yakin dengan perasaannya, dan akhirnya ia memutuskan untuk menolak Yunho-hyung, lalu apa yang akan terjadi?

Yang pasti suasana di antara mereka akan sangat canggung. Bisa jadi hyung-nya akan kembali ke apartementnya sendiri, dan berusaha menghindarinya. Bertemu hanya jika urusan pekerjaan, dan itupun masih akan terasa canggung.

Siapkah ia menghadapi itu semua?

Jelas tidak.

Tapi apakah tidak inginnya ia canggung dan di jauhi oleh hyung-nya itu cukup untuknya memutuskan menerima pernyataan cinta Yunho-hyung?

Jangan bodoh.

Jika ia menyatakan cinta pada orang, dan orang itu menerimanya hanya karena tidak ingin suasana nyaman mereka terganggu, jelas ia tidak akan menyukai hal itu.

Lalu apa?

Kalau ia tetap menolak Yunho-hyung, dan suasana mereka tetap seperti biasa, apa yang terjadi kalau Yunho-hyung akhirnya sadar dan menemukan seorang yeoja yang cocok dengannya?

BoA-noona misalnya.

Ah, tidak. Mereka berdua hanya berteman akrab saja. Tidak lebih.

Go-Ara-noona?

Tidak, tidak. Meskipun mereka dekat, itu hanya karena mereka berdua adalah sahabat dari BoA-noona. Jadi tidak mungkin Yunho-hyung akan pacaran dengan Ara-noona.

Kalau begitu, dengan pasangan sesama 'menantu-idaman-para-orangtua-di-korea-selatan' Im Yoona?

Ini juga tidak. Yunho-hyung hanya menganggap Yoona sebagai adik saja. Tidak lebih.

Degg!

Menganggap sebagai adik… bukankah tadinya Yunho-hyung juga menganggapnya hanya sebagai adik saja? Dari menganggap sebagai adik, kemudian tumbuh rasa cinta…

Changmin mengatupkan bibirnya tidak senang.

Entah kenapa ia sangat terganggu dengan pemikiran mengenai Yunho-hyung dengan Yoona.

Jangan salah paham, Yoona itu yeoja yang baik. Cantik, berprestasi, dan memang asli orangnya benar-benar baik. Ia mengenal Yoona dengan baik semenjak ia menjadi trainee di SM, sampai menjadi terkenal sebagai member snsd, maupun seorang aktris. Dan jujur saja, Yoona itu yeoja yang baik dan sangat sempurna sebagai seorang kekasih.

Tapi tetap saja ia tak suka membayangkan kalau sampai Yunho-hyung berpacaran dengan Yoona.

Kalau nanti Yunho-hyung berpacaran dengan Yoona, berarti nanti yang dimanjakan dan di sayang-sayang oleh hyungnya itu adalah Yoona. Bahkan nanti yang diberikan ciuman oleh Yunho-hyung tak lagi dirinya, tapi Yoona!

Itu tidak boleh terjadi!

Yunho-hyung hanya boleh memanjakan dirinya seorang!

Yang boleh di cium oleh Yunho-hyung juga hanya dirinya saja!

Dan kalau hubungan mereka terus berjalan tanpa ada hambatan… hingga akhirnya Yunho-hyung melamar Yoona—

Tidak!

Itu tidak boleh terjadi!

Yunho-hyung itu MILIKNYA!

Yunho-hyung hanya boleh menyayangi dan mencintai dirinya saja! Karena ia juga mencintai—

.

.

..

..

.

'—Oh Tuhan….'

Changmin memukulkan keningnya sendiri ke meja pantry.

Ia merasa menjadi orang yang paling idiot dan paling bodoh di muka bumi ini.

Menutupi dan tidak mau mengakui perasaannya, bahkan dari dirinya sendiri.

Baru mau mengakuinya saat ia membuat skenario di dalam otaknya sendiri, dan merasa cemburu berlebihan, padahal itu hanya skenario khayalan.

Karena itukah ia selalu senang membuat hyung-nya cemburu dan khawatir dengan sering-sering pergi dengan KyuLine, sampai-sampai Yunho-hyung selalu meneleponnya? Dan ia selalu tersenyum senang saat ponselnya berbunyi menandakan panggilan dari Yunho hyung.

Karena itukah ia selalu menahan diri menerima skinship berlebihan dari Siwon-hyung, dan langsung bahagia dan merasa puas saat Yunho-hyung-nya itu berwajah kesal?

Karena itukah ia selalu menganggap biasa saja saat Yunho-hyung melakukan berbagai skinship padanya? Mengelus-elus pahanya, menggenggam jarinya, memeluk bahu dan pinggangnya, mengecupi pipi dan dahi-nya...

"..bodoh! Bodoh! Kau ini sungguh sangat bodoh, Shim Changmin!" maki Changmin pada dirinya sendiri dengan volume pelan.

Sungguh bodoh.

Harusnya saat ia menyukai ciuman bibir Yunho, ia sudah bisa sadar kalau ia juga menyukai hyung-nya itu.

Haruskah ia cemburu berlebihan dulu pada khayalannya sendiri untuk mengakui kalau ia memang memiliki perasaan yang sama posesif-nya pda Yunho?

'…oh Tuhan. Aku mencintai Yunho-hyung. Dan baru sekarang aku mau menyadarinya…'

Tapi mungkin kalau ia mengakuinya, ia takut pada hubungan mereka berdua ke depannya. Apakah ia siap dengan segala konsekuensinya jika ia benar-benar berpacaran dengan Yunho-hyung?

Dari keluarga Yunho-hyung sih tidak masalah. Tapi bagaimana tanggapan dari keluarganya? Dari teman dan rekan di SM? Dari fans mereka dan para netizen Korea Selatan?

Memang hubungan gay sudah di sah-kan oleh Perdana Menteri dari beberapa tahun lalu, tapi bukan berarti kalau ia akan siap menghadapi semua reaksi orang-orang di sekitar mereka ketika ia mengakui kalau ia gay.

…tapi jika ia tidak mengakui perasaannya pada Yunho-hyung, bukankah itu akan lebih menyakiti dirinya dan juga Yunho-hyung? Tak lupa juga dengan keluarga Jung yang sudah menerimanya…

Bukankah yang paling penting adalah kebahagiaan dirinya dan orang yang paling dekat dengannya?

Manakah jalan paling benar yang harus ia ambil?

.

.

.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

.

.

.

Pagi itu Yunho terbangun dengan tidak semangat. Tak ada Changdol dalam pelukannya. Mungkinkah itu berarti kalau Changdol… menolaknya?

Tidak, tidak. Ia tidak boleh berprasangka buruk dulu. Selama Changdol tidak mengucapkan dari bibirnya sendiri kalau ia menolaknya, ia harus tetap yakin kalau Changdol akan membalas perasaannya.

Selangkah demi selangkah ia menuruni tangga, dan samar-samar ia bisa mendengar percakapan antara Changdol dengan… Eomma-nya? Yunho menajamkan pendengarannya, dan memilih untuk berdiam di tangga. Menguping.

"Changminnie, semalam kalian dari mana saja? Pulangnya larut malam sekali."

"Oh, semalam aku dan Yunho-hyung berkeliling kota. Yunho-hyung menunjukkan padaku Gwangju Primary School, lalu ke taman kecil tempat Yunho-hyung biasa bermain, habis itu berlanjut ke Dojang tempat Yunho berlatih Hapkido. Ke Iwolge Junior High School. Dan juga ke tempat bowling langganan Yunho-hyung. Semua tempat itu sudah tutup sih. Tapi aku jadi tahu tempat-tempat Yunho-hyung menghabiskan waktunya sebelum bertemu denganku."

"Oh, kalian romantis sekali~"

"Romantis? Ke tempat-tempat seperti itu memangnya romantis ya, Eomma?"

"Bukan masalah tempatnya seperti apa. Tapi kenangannya disana. Yunnie membawamu ke tempat-tempat dimana ia tumbuh. Menunjukkanmu semua tempat yang membentuknya hingga ia jadi seperti sekarang. Benar-benar romantis ya kalian berdua ini."

"Be-begitukah, Eomma?"

"Tentu saja. Selain itu, kau sendiri tak kalah romantisnya dengan Yunnie."

"A-aku?"

"Iya, Changminnie. Dari kemarin kau selalu saja membantu Eomma di dapur. Apa kau pikir Eomma tak memperhatikan kalau kau mengamati dan mencatat semua dalam ingatanmu bagaimana cara Eomma memasak dan menyiapkan makanan favorit Yunnie? Kau ingin agar nanti di Seoul kau bisa membuatkan makanan kesukaan Yunnie dengan rasa seperti masakan khas rumah ini kan?"

"A-ah, Eo-eomma mengada-ada. Aku tak begitu kok."

"Kalau memang tidak begitu, nanti Eomma batalkan meminjamimu buku resep buatan Eomma sendiri lho."

"E-eh! Ja-jangan begitu dong Eomma! Eomma kan sudah berjanji meminjamkan buku resep itu padaku. Eomma tidak boleh begitu padakuuuuuu…"

Yunho yang memutuskan sudah cukup ia menguping pembicaraan itu—karena kalau tidak, ia takut mukanya akan terbelah karena ia tak bisa menahan senyum lebarnya—dan sengaja berjalan dengan langkah kaki keras menuruni tangga.

"Hoaahhmmm… Changdol, kenapa kau meninggalkanku di kamar sendirian?"

"Salah hyung sendiri yang sukanya bangun siang. Hyung sudah cuci muka dan gosok gigi kan?" selidik Changmin.

"Sudah, sudah semua. Kau tak lihat rambutku agak sedikit basah? Dan nafasku juga sudah segar kok. Mau bukti? Sini, sini, kucium dulu Changdol kesayanganku ini~" goda Yunho sambil menghampiri Changmin dan secara reflek tangannya langsung memeluk pinggang Changmin, dengan bibir yang ia monyong-monyongkan ke wajah Changmin.

"Yah! Yah! Lepaskan atau nanti pisau ini tak sengaja terselip dan mengenai-mu, hyung." ancam Changmin yang saat itu sedang membantu Eomma-Jung mengupas kentang.

"Yunnie, sana tunggu di depan bersama yang lain. Eomma merasa ngeri melihatmu ada di dapur. Takut ada bencana."

"Tuh, dengarkan apa kata Eomma." tambah Changmin.

"Aish, kalian berdua ini tega sekali padaku. Aku pergi saja deh kalau begitu."

.

.

.

.

.

Pagi itu seperti biasa, mereka semua berkumpul bersama di ruang makan untuk menyantap sarapan buatan Eomma Jung, yang di bantu asisten Shim. Percakapan demi percakapan ringan mengalir selama mereka sarapan pagi.

Namun yang berbeda di pagi itu adalah saat semuanya sudah menghabiskan sarapan di piringnya, Changmin berdehem keras. Membuat perhatian semua orang tertuju padanya.

"Uhm, mumpung semuanya sedang berkumpul, aku mau memberitahu sesuatu kepada kalian." mulai Changmin. "Aku… meminta maaf yang sedalam-dalamnya karena sudah mau membantu Yunho-hyung untuk membohongi kalian semua."

Yunho membelalakkan mata mendengar kalimat Changmin. 'Jangan bilang kalau Changdol akan…'

"Sebenarnya aku dan Yunho-hyung… bukan sepasang kekasih. Kami tidak berpacaran."

.

.

.

'C-changdol…..wae?'

.

.

.

.

.

~TBC~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bohong ding, enggak jadi TBC kok. Hihihihihi.. Yuk mari di lanjut~

.

.

.

.

.

"C-changdol…"

Changmin meraih tangan Yunho-hyung dan menggenggamnya erat. Di atas meja makan, tempat semua orang bisa melihatnya.

"Aku tidak ingin ada kebohongan di sini, hyung." sahut Changmin dengan suara mantap. "Jadi sebelumnya, aku dan Yunho-hyung meminta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membohongi kalian semua dengan mengatakan kalau kami ini berpacaran."

Yunho tak bisa melepaskan pandangannya dari Changmin. Namja yang lebih muda dua tahun darinya itu terlihat tenang dan yakin. 'Mungkin inilah yang harus aku hadapi… tapi kenapa harus di depan keluargaku, Changdol?' batin Yunho dengan tatapan terluka.

"Changminnie—"

Ucapan Eomma-Jung langsung di potong oleh Changmin dengan menggeleng-gelengkan kepala. "Tolong dengarkan aku dulu sampai selesai. Saat kami berdua tiba di rumah ini, kami berdua benar-benar bukan sepasang kekasih. Kami berdua tidak berpacaran."

Kalau ada yang tahu rasa sakit orang yang hatinya di tusuk dengan besi panas, mungkin inilah yang dirasakan Yunho sekarang.

"Oh, bukan 'tidak' berpacaran, tapi 'belum' ." ralat Changmin. "Saat itu kami berdua belum menyadari perasaan kami masing-masing. Dan kedatangan kami disini, meskipun baru tiga hari yang lalu, benar-benar membuka mata dan hati kami berdua. Penerimaan kalian yang begitu antusias dan sangat bahagia membuat Yunho-hyung tadi malam menyatakan cintanya padaku. Dan pagi ini, di depan kalian semua, aku menerima dan akan membalas rasa cinta Yunho-hyung dengan sama besarnya. Karena itu aku ingin meminta maaf, sekaligus memohon restu dari kalian."

Yunho tercenung.

Ia dibuat terdiam tanpa kata.

Ia benar-benar tidak menyangka sama sekali kalau Changdol-nya itu akan…

"Changminnie! Yunnie! Dasar kalian berdua ini anak-anak nakal! Tega sekali kalian membohongi kami. Untung saja akhirnya kalian berdua benar-benar berpacaran. Kalau tidak, kami jadi masih harus menunggu sampai kalian berdua menyadari perasaan kalian masing-masing…"

Yunho tidak mendengarkan kalimat maupun komentar dari Eomma, Appa, Jihye ataupun Seokhee. Yang masih terputar di benaknya adalah ucapan Changdol bahwa cintanya terbalas, dan Changdol bahkan minta restu dari keluarganya…

Ia… tidak perlu lagi menahan semua perasaannya pada Changdol lagi? Tidak perlu cemburu dan khawatir lagi setiap Changdol keluar dengan orang lain? Tidak perlu lagi menahan diri—

"Hyung? Yunho-hyung? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau—hmpphhh!" ucapan Changmin terpotong karena Yunho langsung meraih pipi Changmin dan mendaratkan bibirnya ke bibir Changmin. Ia langsung melumat bibir yang tadi membuatnya khawatir setengah mati dengan penuh cinta.

"…hyung—hmpfhh!...—kita di depan orang tu—hmpphh!" Changmin berusaha mendorong tubuh Yunho dan mengingatkan kalau ada audience di sekitar mereka. Namun setiap kali ia berhasil melepaskan bibir Yunho dari bibirnya, namja yang gigih itu kembali meraup bibirnya lagi.

"Yunho-yah! Kalian berdua kembalilah ke kamar!" seru Appa-Jung yang melihat betapa bersemangatnya Yunho 'memakan' Changmin.

Mendengar ucapan sang Appa, Yunho menghentikan diri mencium bibir lembut Changmin. "Baiklah. Dan jangan kami sebelum kami turun, oke? Aku mau menikmati hadiah ulang tahun terbaikku." ucap Yunho yang langsung menyelipkan tangan di punggung dan lutut Changmin dan mengangkatnya.

"Y-YAH! Turunkan aku, hyung!"

"Wae, Changdol? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang akan 'menerima dan membalas rasa cintaku dengan sama besarnya'? Dan sekarang akan kutunjukkan betapa besar rasa cintaku padamu."

"A-aku tarik kata-kataku kembali! Hyung! Turunkan akuuu!"

"Kau akan kuturunkan kalau kita sudah sampai di ranjang." Adalah ucapan terakhir Yunho yang terdengar sebelum pintu kamar mereka tertutup rapat.

.

.

.

.

.

"Hye-ah, jangan lupa hubungi Sooyeon dan Jiyeon untuk mengabarkan kalau penantian kita sudah benar-benar berakhir. Aku juga mau menelepon Shim Dongsik dan Yooyeon! Aku tak sabar mau mengabarkan kalau kita semua sudah benar-benar akan ber-besan-an sebentar lagi! Saat yang kita semua tunggu-tunggu akhirnya akan segera tiba!" seru Eomma-Jung yang tak menunggu lama untuk menelepon Appa dan Eomma Changminnie di Seoul.

Akhirnya!

.

.

.

.

.

.

.

~END~

SELESAAAAIIIII~!

Dan karena masih tanggal 18Februari, Ela masih mau mengucapkan

HAPPY BIRTHDAY CHANGMIN~!

Yang katanya bener-bener Malu karena Yunho tereak 'Changmin-ah saengil chukkahamnida!' pas tampil Keep Your Head Down…tapi hari ini malah upload Video pas kejadian itu di ig.. ckckckckck… katanya Malu? Koq malah Pamer siiihhh.. nggemesin deeeeehhh _

Doaku cuma semoga CHANGMIN langgeng terus sama YUNHO yaaaaaa~! 😘😘😘