Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : M

Pair : NaruSasu

.

.

.

.

.

The Beast in the Forest

(Chapter 8)

.

By Midory Spring

.

.

WARNING: OOC, YAOI, TYPO, MPREG

Happy Reading!

.

.

Aku harus melindungi anak ini.

Kata-kata itu terus tertanam dikepala Sasuke.

Ia menolehkan kepalanya menatap pemuda berambut blonde yang tengah tidur di sisinya dengan tenang. Sasuke mencintai Naruto dan perasaan ini begitu disyukurinya. Naruto adalah keluarga yang Sasuke miliki dan begitupula dengan anak dalam kandungannya. Ia tidak bisa membiarkan salah satunya menyakiti yang lain.

Sasuke mengelus pipi Naruto dengan lembut. Pemuda itu sangat tampan, kulit wajahnya yang kasar dan tiga garis tegas di masing-masing pipinya memberikan kesan garang yang liar. Jemari Sasuke turun ke leher jenjang sang jinchuuriki, meraba jakunnya lalu semakin turun ke dada bidangnya yang terbungkus kain putih tipis. Sasuke bisa merasakan lekukan-lekukan otot sixpacknya yang kuat saat menyusuri perutnya. Tubuh yang sempurna dan semua itu adalah miliknya.

Dengan peralahan mata safir Naruto terbuka.

"Kenapa kau tidak tidur?" Pemuda blonde itu bertanya, sedikit memejamkan mata merasakan belaian Sasuke dipipinya.

Sasuke tidak menjawab. Ia mendekatkan wajahnya ke Naruto, lalu mencium bibir pemuda blonde itu. Ciuman manis, yang semakin lama berubah menjadi ciuman seduktif pembangkit gairah.

Sasuke tiba-tiba saja merasakan gelegak aneh dalam tubuhnya. Nafsu membuncah dan dia tidak bisa mengontrol dirinya. Ia ingin bercinta dengan Naruto, melihat pemuda itu saja membuat Sasuke terangsang. Sungguh ada yang aneh pada dirinya. Sasuke yang biasanya tidak seperti ini.

"Hmmpph… Sasuke…" Naruto berusaha melepaskan dirinya, tapi Sasuke terus menyerangnya. Memasukkan lidahnya ke dalam mulut sang pemuda blonde, semakin lama semakin liar.

Sasuke bisa merasakan tarikan napas berat Naruto, ia juga telah tegang disisinya. Tangannya yang berusaha menghalau tubuh Sasuke semakin melemah, dan Sasuke menggunakan kesempatan itu untuk menaiki tubuh Naruto.

"Sasuke! Hentikan!" Naruto mencengkram kedua pergelangan tangan Sasuke.

"Aku ingin melakukannya Naruto." Sasuke berkata, sambil mendudukkan pantatnya tepat di selangkangan sang blonde. Ia tersenyum ketika merasakan benda Naruto telah menengang dibawah sana.

"Kita tidak bisa melakukannya!" Balas Naruto tegas.

"Kenapa?" Sasuke bergerak semakin seduktif, ia menggerakkan bagian bawahnya ke selangkangan sang blonde. Menggeseknya tepat ke benda mengeras Naruto.

Naruto mengerang, hampir menyerah saat Sasuke mempercepat gerakannya. "Kita-ugh-tidak boleh!" Dahi pemuda blonde itu mengernyit, giginya bergemeletuk berusaha mempertahankan kewarasannya. Ia tidak boleh kalah. Dan tiba-tiba Naruto mencengkram kedua lengan Sasuke dan membantingnya kembali ke ranjang.

Sasuke menatap Naruto dengan tersinggung. Pemuda blonde itu telah beranjak menjauh darinya. "Kenapa? Apa pria hamil tidak menarik lagi untukmu?" Perutnya bahkan belum membesar.

Naruto memberikan tatapan terkejut pada Sasuke. " Aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama."

"Kesalahan?" Ulang Sasuke dengan getir. Ia membuang wajahnya dari Naruto dan menatap langit-langit kamar. Ekspresinya dipenuhi dengan kekecewaan. "Kau berubah Naruto."

"Aku? Kaulah yang berubah Sasuke. Sejak kapan kau menjadi seagresif ini?" Suara Naruto terdengar lantang dan penuh penekanan saat ia berbicara, seakan-akan Sasuke tidak akan mengerti jika ia mengatakannya dengan nada biasa.

Sasuke mendesah. Ia terdiam sejenak, masih menatap langit-langit. Dia tahu, masalah ini tidak akan selesai jika tidak ada salah satu diantara mereka yang mengalah. Ia sebenarnya tidak ingin berdebat dengan Naruto disaat-saat seperti ini.

"Benar, kurasa aku berubah." Sasuke tiba-tiba mendudukan dirinya diranjang, seakan dia baru sadar akan sesuatu. Ia menatap Naruto dengan penuh perhatian. Sedangkan Naruto hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.

Lagi, mood sang Uchiha berubah dalam sekejap mata.

"Tidakkah menurutmu ini pengaruh dari anak kita?" Tanya Sasuke, tangannya bergerak ke perutnya.

Naruto melirik perut Sasuke, tapi tidak mengatakan apapun.

"Sial, yang kutakutkan sepertinya akan terjadi." Sasuke mendesah. "Aku rasa anak kita mirip kau!"

Huh, apa Sasuke sedang menyinggungnya?

"Memangnya ada masalah jika dia mirip denganku?" Tanyanya dengan nada tersinggung.

"Tentu saja. Dia seharusnya mirip aku. Kau urak-urakan, berpikiran pendek, kasar, dan emosional."

Naruto mendengus tidak terima, dia menyingkirkan tangan Sasuke dari perutnya yang dan ganti menempelkan tangannya sendiri.

"Dia akan jadi super keren jika mirip denganku."

"Heh, Kau pikir kau keren?"

"Setidaknya aku lebih baik darimu." Naruto mengelus perut Sasuke dengan lembut, "Jika mirip denganku, itu berarti dia akan tumbuh menjadi Jinchuuriki yang kuat sepertiku, tampan sepertiku, punya banyak teman sepertiku, dan…"

Naruto tiba-tiba menangkap pandangan Sasuke padanya. Pemuda raven itu sedang menatapnya dengan penuh arti. Dan tiba-tiba sesuatu memukul Naruto kembali, pandangannya yang lembut berubah menjadi keras. Ia menarik tangannya dari perut Sasuke dan beranjak dengan tiba-tiba seakan-akan sentuhannya pada Sasuke bisa melukainya.

Naruto menggaruk rambut blondenya, pandangannya menatap ke segala tempat selain Sasuke. Berusaha menghindari tatapan sang onyx.

"Apa kau lapar?" Ia mengalihkan topik pembicaraan.

Sasuke menatap Naruto sejenak, kemudian menjawab dengan pelan. "Ya."

"Aku akan ambilkan makanan." Kata pemuda blonde itu. kemudian ia keluar dan menghilang dari pandangan Sasuke.

Sasuke menghela napas berat. Ia menunduk lalu menatap perutnya dengan kasihan. Sasuke tahu, Naruto menyayangi anak ini, ia tahu Naruto menginginkannya. Naruto tidak sama dengan para ayah Jinchuuriki di pemukiman ini. Jika saja bayi ini bisa lahir, Sasuke yakin Naruto tidak akan menelantarkannya. Pemuda blonde itu penuh dengan cinta. Mereka menikah karena mereka saling mencintai. Tidak seperti pasangan Jinchuuriki lain yang menikah demi kelangsungan ras mereka.

Tapi karena takut kehilangan Sasuke, Naruto bermaksud membunuh anak ini.

Rasa cinta Sasuke untuk bayinya begitu melimpah, ini pertama kalinya Sasuke mengalaminya. Jika ia harus mati demi anak ini, ia sama sekali tidak keberatan. Tapi walaupun begitu, setiap ia sendirian dan menghabiskan waktu untuk memusatkan perhatian pada cabang bayinya, Sasuke sama sekali tidak merasakan kekhawatiran apapun. Ia merasa sangat baik-baik saja. Malah ia merasa sangat baik dan bertenaga. Setelah mengetahui makanan yang cocok dengan perutnya, tubuh Sasuke terasa berbeda. Ia jadi lebih kuat dan lebih gesit. Apa itu wajar?

Tubuhnya bereaksi dengan si cabang bayi dalam kandungannya. Bayi itu menyerap semua gizi Sasuke, hingga Sasuke harus terus makan setiap tiga jam sekali. Daging mentah yang masih segar adalah makanan kesukaan Sasuke saat ini. Walau begitu, karena perubahan selera makannya yang ekstrim Naruto jadi tidak pernah berhenti memberikan tatapan menusuk bahwa ia sedang membesarkan seorang monster pembunuh yang sebentar lagi akan merampas segala hal yang dimilikinya.

Sasuke beranjak dari kasurnya, mengintip dari balik jendelanya, menatap Naruto yang berjalan di tengah salju. Tapi bukannya menuju ke gudang penyimpanan makanan, pemuda blonde itu bergerak ke tempat lain. Sasuke tahu Naruto pergi menemui Gaara. Sepertinya, Sasuke sudah sedikit lepas kendali tadi. Mungkin Naruto melihatnya sebagai kabar buruk bahwa bayi itu telah terlalu banyak mempengaruhi Sasuke.

Sasuke tersenyum pahit. Matanya tidak lepas dari punggung sang pemuda blonde. "Tidak apa-apa. Aku akan melindungimu." Katanya sambil meletakkan tangannya ke perutnya dengan protectif.

.

.

.

Musim dingin hampir berakhir. Sasuke bisa merasakan sinar matahari bersinar lebih terang dari biasanya. Ia duduk di pinggir danau, membiarkan tubuhnya bermandikan cahaya matahari, untuk pertama kalinya ia kembali menginjakkan kakinya di luar. Air danau terlihat seperti cermin yang memantulkan gambar wajahnya. Tenang dan tanpa gelombang sedikitpun, begitu misterius. Sasuke terus memandanginya sampai tiba-tiba Naruto mulai melempar batu ke dalamnya dan merusak ketenangan air.

"Sampai kapan kita akan duduk disini?" Tanya Naruto, ia mengambil batu keduanya dan kembali melempar ke danau, jelas sekali dia sudah sangat bosan.

"Kau bisa bergabung dengan yang lain jika kau mau." Tawar Sasuke. Mata onyxnya menatap batu, yang di lempar Naruto, memantul di air beberapa kali sebelum tenggelam.

"Dan meninggalkanmu sendiri?"

"Aku baik-baik saja."

"Kau tidak baik-baik saja."

Sasuke merasakan nada mutlak dalam suara Naruto, membuat ujung bibirnya tertarik.

"Baiklah." Ia akhirnya beranjak dan berdiri tegak. "Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat? Kau ingat, tempat dimana kau menemukanku pertama kali. Tebing itu."

Naruto yang baru akan melemparkan batu kerikilnya lagi langsung berhenti, "sekarang?" Tanyanya tidak yakin.

"Ya."

"Kenapa tiba-tiba kau ingin pergi ke sana?"

Sasuke tersenyum misterius, "apa aku harus punya alasan?" ia bertanya balik, satu alisnya terangkat dengan menantang. Tapi melihat ekspresi bengong Naruto, ia akhirnya tertawa kecil dan menepuk punggung matenya itu.

"Ayo kita kesana." Ajaknya. Ia sudah melangkah pergi sebelum Naruto sempat memprotes.

.

.

.

Sasuke berdiri di atas tebing karang. Angin dingin memburai rambut hitamnya ketika dia menunduk menatap ke bawah tebing. Disana air berbuih dan menggelegak menghantam karang dengan brutal. Suara gemuruh gelombang ombak mencapai telinganya, menenggelamkan suara yang lain.

Kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terngiang di kepala Sasuke. Ingatannya masih sangat jelas tentang peristiwa malam itu. Ia yang berlari sekuat tenaga untuk menghindari serangan musuh berakhir di tempat ini. Saat itu gelap, dia tidak bisa melihat apapun, tapi udaranya, suaranya, semuanya sama.

"Disini dingin." Naruto berusaha mengimbangi suara ombak. Cuaca sedang tidak bersahabat saat ini. Angin sisa musim dingin begitu kencang. Naruto memandang sekitarnya dengan khawatir.

Sasuke tampak sangat tenang. Ia berdiri di ujung tebing dalam diam, seakan sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Sasuke." Panggil Naruto. Ia berdiri di sisinya. Jemarinya menggenggam jemari Sasuke yang dingin.

"Bagaimana caramu bisa menyelamatkanku di tengah ombak besar pada waktu itu?" Sasuke bertanya, pandangannya menerawang jauh.

Naruto tampak terkejut. "Bukankah sudah kubilang aku menemu—"

"Kau tidak pintar berbohong Naruto. Jadi jangan sembunyikan apapun dariku." Sela Sasuke.

Naruto terdiam sejenak. Ia kemudian menghela napas dan berkata. "Yah, aku memang menyelam untuk menyelamatkanmu."

Bibir Sasuke melengkung membentuk senyuman yang sayangnya tidak mencapai matanya. Mata onyx itu menatap lurus ke depan sementara angin mengibarkan rambut ravennya. "Kau mempertaruhkan nyawamu untukku."

"Agak berlebihan untuk menyebutnya sebagai mempertaruhkan nyawa." Jawab Naruto dengan meremehkan. " Itu bukan apa-apa, bahkan ombak besar ini tidak berarti apa-apa untukku."

Sasuke menatap ombak besar yang baru saja menghantam tebing. Cipratannya sedikit mengenai Sasuke.

"Disini semakin dingin." Kata Naruto. "Ayo kita kembali." Ajaknya. Ia menarik Sasuke, tapi pemuda raven itu tidak bergerak.

Naruto tertegun. Ia menatap jemari Sasuke yang menggenggam jemarinya. Terkadang ia merasa Sasuke lebih kuat dari biasanya. Ia mengerutkan alisnya lalu bergerak kehadapan pemuda raven itu. Sambil membelakangi lautan, ia menatap Sasuke dengan khawatir.

"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.

Mata onyx Sasuke berpindah menatapnya. Senyuman menenangkan menghiasi wajahnya. "Aku baik-baik saja." Ia menjawab. Tapi Naruto masih terlihat khawatir.

"Apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhmu?"

Sasuke menatap pemuda blonde itu sejenak. Tatapannya tidak bisa dibaca, tapi senyuman masih belum sirna dari wajahnya. "Aku senang menikah denganmu." Ia berkata.

"Apa?" Naruto agak bingung dengan perpindahan topik yang tiba-tiba.

Sasuke mendekatkan dirinya pada Naruto Kemudian menarik pemuda blonde itu ke dalam dekapannya. "Mungkin aku tidak akan bertahan jika tidak ada dirimu." katanya

"Kau kenapa Sasuke?" Naruto semakin heran, tapi tangannya bergerak juga melingkar dipinggang Sasuke.

Sasuke memisahkan dirinya dan menatap mata safir Naruto lekat-lekat. "Aku mencintaimu."

"Yeah, aku juga." Balas Naruto. Walau bingung tapi ia merasa senang juga.

"Aku benar-benar mencintaimu." Ulang Sasuke, dan ia mendekatkan wajahnya ke Naruto. menempelkan bibirnya, mencium pemuda blonde itu.

Naruto membalas ciumannya. Tapi tidak ada gairah dan nafsu di dalamnya, hanya luapan cinta yang terasa manis. Ciuman tanpa tuntutan tapi mengalir karena luapan rasa sayang. Saat Sasuke menarik dirinya dari Naruto, ia memerhatikan wajah pemuda blonde itu baik-baik. Bibirnya, hidungnya, mata safirnya, segalanya.

"Aku baik-baik saja Naruto." Ia memberitahunya. "Kau tidak perlu khawatir." Sasuke sedikit mengambil jarak darinya. Tatapan matanya memberikan kesan seakan-akan ia akan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Senyuman Naruto sedikit memudar, ia menatap Sasuke dengan kedua alis terangkat.

Masih tersenyum Sasuke kembali berkata."Segalanya akan baik-baik saja." Ia berbisik.

Dan sebelum Naruto sempat menanyakan apa yang dimaksudnya, tangan Sasuke telah bergerak lalu mendorong tubuhnya. Lagi-lagi dengan kekuatan yang tidak disangka-sangka Naruto. Pemuda blonde itu tidak sempat bereaksi, ia terlalu kaget. Tubuhnya terdorong kebelakang dan seketika ia terjatuh dari atas tebing.

Sasuke menatap mata safir pemuda blonde itu. Ekspresinya masih dipenuhi dengan kebingungan. Tapi Sasuke memberikan senyuman menenangkan padanya sebelum ombak menerjang tubuh Naruto dan menelannya masuk ke dalam air.

Sasuke menengadahkan kepalanya, mata onyxnya menatap matahari yang kini tersembunyi dibalik awan.

"Aku akan merindukanmu." Katanya. Lalu ia menghela napas dan berbalik masuk ke dalam hutan. Sekarang ia punya cukup waktu.

.

.

.

.

Burung gagak terbang berputar-putar di atas kepala Sasuke, berkoar-koar dengan suara nyaring yang mengerikan. Sasuke menatap burung-burung itu, mata mereka putih dan terlihat sudah mati, seakan-akan tidak ada jiwa yang mengisi tubuhnya. Sasuke memejamkan matanya selama beberapa detik dan saat ia membukanya kembali pandangannya berubah menjadi tajam dan penuh konsentrasi. Ia megawasi sekeliling hutan dengan penuh waspada.

"Sampai kapan kau akan terus bersembunyi? Keluarlah." Ia tiba-tiba berbicara.

Tidak ada jawaban. Hutan tampak kosong. Selain nyanyian para gagak yang mengerikan, tidak ada apapun lagi yang menyambutnya. Sasuke menghela napas, tidak puas.

Ia menyampirkan jubahnya lalu mengambil sebuah belati pendek yang diselipkan di ikat pinggangnya. Ia menarik belati itu seraya berkata. "Kau pikir aku tidak tahu bahwa selama ini kau mengikutiku? Kau bisa menyamarkan baumu untuk menipu para Jinchuuriki. Tapi bagiku kau adalah penguntit dengan kemampuan yang sangat buruk…" Sasuke memusatkan perhatiannya ke satu sudut, tepat ke arah sebuah pohon palem besar yang penuh cabang. Pohon palem itu memiliki pantulan bayangan yang dua kali lipat lebih besar dari ukuran aslinya.

Sasuke mengencangkan genggamannya pada belati itu. "Jangan remehkan aku! Aku yang telah memiliki banyak pengalaman tidak akan tertipu semudah itu!" Sasuke mengayunkan belatinya ke arah pohon itu. Pisau pendek itu melesat dengan cepat ke batang pohon.

Kekuatannya begitu besar, Sasuke bisa merasakan tenaganya berlebih. Hingga alih-alih menancap ke batangnya, belati kecil itu malah menembusnya dan melesat ke pohon dibelakangnya dan menancap disana. Sebuah seringai bangkit di wajah Sasuke.

"Aku sudah membunuh seorang penyihir sebelumnya, dan sekarang aku yakin bisa membunuh satu lagi jika aku mau." Suara Sasuke penuh percaya diri, hingga terkesan arogan.

Dua burung gagak yang hinggap di cabang pohon itu langsung terbang sambil berkoar-koar dengan marah pada Sasuke. Bertepatan dengan itu, seorang wanita keluar dari balik pohon, ia menatap Sasuke dengan penuh keterkejutan tapi disaat yang sama juga terlihat puas.

"Uchiha memang luar biasa." Wanita itu berkata, sisi kiri jubah bulunya yang tebal sobek sedikit. Sepertinya ia tadi terlambat menghindari serangan Sasuke. "Kelihatannya bayi jinchuuriki itu memberimu kekuatan yang istimewa."

"Namamu Hyuuga Hinata kan?" Sasuke bertanya dengan suara penuh kekuasaan, seakan-akan ia telah kembali menjadi seorang panglima yang pernah memimpin puluhan prajurit di medan perang.

Hinata mengambil beberapa langkah mendekati Sasuke. Ketika mereka hanya berjarak selangkah, ia berhenti dan menundukkan kepalanya dengan takluk. "Ya, Yang mulia. Aku senang anda mengingatnya."

Sasuke mengamati wanita itu dengan lebih mendetail. Hinata mengenakan sebuah jubah bulu rusa yang biasanya dikenakan oleh Kiba. "Dimana Kiba dan yang lainnya?" Ia bertanya.

"Aku membuatnya tertidur sebentar." Hinata menjelaskan. Ketika melihat mata Sasuke menyipit dengan tidak senang, ia cepat-cepat menambahkan. "Tidak perlu khawatir. Aku hanya memingsankan mereka."

"Tentang yang kau katakan mengenai kakakku, apa kau berkata jujur?" Tanya Sasuke.

"Ya, Yang mulia, Uchiha Itachi masih hidup." Hinata menjawab. ia menatap Sasuke sejenak. "Jika sekarang anda berada disini, apa itu berarti anda percaya pada saya?"

Sasuke diam. Ia memandangi gadis itu, seakan sedang berusaha membongkar isi otaknya. Tapi mata khas penyihir Hinata sungguh sulit dibaca, mata itu begitu kosong tapi disaat yang sama seperti menyimpan banyak misteri. Sasuke menghela napas berat, ia tidak punya pilihan lain.

"Ya, aku percaya padamu." Katanya akhirnya.

"Kalau begitu anda juga bersedia kesana dengan saya?"

Sasuke mengangguk mengiyakan.

Sebuah senyuman penuh kelembutan menghiasi wajah gadis itu. senyuman penuh kelegaan, dan sedetik Sasuke merasa bahwa gadis itu tidak berbohong. Ekspresi Hinata seakan-akan dia tengah terlalu lama berada dibawah kegelapan dan telah mendapatkan kembali cahayanya. Raut penuh kelegaan itu, Sasuke bisa membacanya.

"Kalau begitu kita harus cepat. Para Jinchuuriki tidak lama lagi akan menyadari kepergiaanmu dan saat itu tiba, mereka pasti akan mengejar kita. Aku tahu seluk beluk hutan ini. Tempat-tempat yang biasanya tidak pernah diusik para jinchuuriki."

Sasuke menoleh kebelakang. Ini kedua kalinya ia pergi dengan diam-diam. Tapi dibanding yang lalu, saat sekarang malah terasa berkali-kali lipat lebih berat, seakan-akan ada seseorang yang menumpukkan batu bata ke kakinya. Karena ketika ia melangkah, ia setengah menyeret kakinya yang enggan.

Tidak ada jalan lain. Ini semua diperlukan untuk menyelamatkan anak mereka. Sasuke menatap ke depan lagi. Hinata terus mengawasinya dengan tidak sabaran.

"Tunjukkan jalannya padaku." Ia memerintah.

Hinata tersenyum puas seraya berkata. "Dengan senang hati tuan." Katanya.

.

.

.

"Sial" Naruto menatap sekelilingnya dengan kalap. Ia telah memanjat dengan susah payah kembali ke atas tebing untuk menemukan bahwa tempat itu telah kosong. Tidak ada sasuke, pemuda raven itu telah pergi.

"Kenapa?" Ia menatap sekelilingnya degan tidak mengerti. Apa yang sedang dilakukan pemuda raven itu? Pikiran-pikiran buruk berputar di kepala Naruto. Apa sasuke meninggalkannya? Kenapa tadi terasa seperti sebuah perpisahan?

"Tidak!" Naruto membentak bisikan-bisikan dikepalanya. Bisa saja tadi Sasuke hanya ingin bermain-main saja. Sasuke sedikit berubah karena dia hamil pikirannya tak tertebak. Mungkin ia telah kembali ke ke pondok mereka duluan.

Naruto mengedarkan pandangannya sekali lagi. Seandainya ia punya kemampuan seperti kiba, itu pasti sangat berguna. Ada beberapa jinchuuriki yang terlahir dengan kemampuan spesial. Kiba salah satunya, daya penciumannya sangat tajam. Saking tajamnya, Ia bahkan bisa mencium seseorang lewat baunya bermil-mil jauhnya.

Naruto mengatur nafasnya. Tidak membiarkan emosinya mengambil alih isi kepalanya. Dia tidak akan bisa berpikir dengan baik jika emosinya meluap-luap. Dalam sekejap Naruto berubah ke wujud rubahnya, semakin cepat dia sampai itu semakin baik. Dia berlari menyongsong udara musim dingin, bergerak dengan cepat melewati pepohonan dan kembali ke pemukiman.

Tempat pertama yang ia datangi adalah tempat tinggalnya bersama Sasuke yang ternyata kosong.

"Sasuke?" Naruto memanggil untuk memastikan, dan seperti yang terlihat, ia hanya dijawab oleh kesunyian.

"Sial!" Ia kembali ke luar dengan perasaan tidak karuan. Kenapa Sasuke melakukan ini padanya. Ia memutari pemukiman jinchuriki untuk mencari sasuke. Tapi semakin dalam ia masuk semakin ia merasa apa yang dilkukannya ini percuma, Sasuke tidak begitu bersahabat dengan tempat ini. Ia tidak punya alasan berkeliaran di tempat-tempat seperti itu.

"Shino?" Naruto sampai di alun-alun dan mendatangi kawan jinchuurikinya.

Shino tengah duduk di lingkaran bocah-bocah jincuuriki. Ia menoleh saat Naruto mendatanginya.

"Hei Naruto kau ingin ikut bergabung? Aku sedang menceritakan ki–"

"Kau lihat Sasuke?" Potong Naruto.

"Sasuke?" Shino berpikir sejenak. "Bukannya dia pergi denganmu?"

Naruto langsung mengerang penuh frustasi. Ia telah berbalik ketika shino kembali menyahut padanya.

"Kenapa kau tidak tanya Gaara?"

Naruto berhenti, saran Shino seperti titik terang untuknya. "Dimana Gaara?"

"Pergi berburu bersama yang lainnya."

Naruto semakin bersemangat mendengar ini. Masuk akal. Bisa jadi Gaara bertemu Sasuke dan mengajaknya berburu bersama. Sasuke paling suka berburu.

Naruto baru akan kembali ke hutan ketika melihat segerombolan jinchuuriki berkumpul didekat gerbang. Mereka mengelilingi sesuatu yang tidak bisa dilihat Naruto.

"Siapa yang melakukan ini?"

"Penyihir."

Bisikan-bisikan itu terdengar dari dalam kerumunan ketika Naruto melewatinya. Di tengah kerumunan, Naruto melihat Gaara tengah bersujud. Di hadapannya tergeletak kaku tubuh seseorang yang dikenalinya. Itu mayat Amura dengan posisi kepala yang aneh. Kepalanya berputar 180 derajat ke belakang. Dibawah lehernya yang patah terdapat punggung alih-alih dada.

"Apa yang terjadi?" Tanya Naruto, berjongkok untuk memeriksa mayat itu.

"Aku menemukannya di hutan." Jelas Gaara. "mati di bawah tumpukan salju. Ia berada disana selama musim dingin, bersama Kiba yang sekarat."

"Apa ini ulah..."

"Penyihir wanita yang dulu. Ya, kurasa begitu."

Naruto tertegun dengan tidak percaya. Seorang penyihir berhasil mengalahkan dua jinchuuriki sekaligus. Dia pasti benar-benar kuat.

"Kita harus menguburkannya." Gaara memberitahu teman-teman jinchuurikinya.

Saat ia beranjak, Naruto juga ikut beranjak.

"Apa kau tidak bersama dengan Sasuke?"

"Sasuke?" Gaara menatap Naruto dengan alis bertaut. "tidak, aku tidak bersamanya. Memangnya ada apa dengan Sasu..." kalimat Gaara terhenti ekspresi Naruto telah cukup menjelaskan semuanya. "Dia pergi lagi?"

"Entah, dia tiba-tiba saja—" Naruto menelan ludah, emosinya menguasainya. Dia menatap Gaara dengan sirat penuh ketakutan. "Aku akan mencarinya di hutan, dia pasti tersesat."

Naruto melangkah keluar tapi Gaara tiba-tiba berkata dengan suara lantang yang langsung menghentikan langkahnya.

"Dia pasti tahu rencana kita."

Naruto dengan perlahan berbalik. "Ia tidak tahu."

"Ia tahu, makanya dia memutuskan untuk pergi."

Naruto terdiam. Matanya masih menatap Gaara. "kalau begitu dia mungkin belum jauh." Katanya dan saat ia berbalik Naruto telah berubah ke wujud rubahnya dan menghilang di tengah pepohonan.

Gaara menatap sosok itu sampai menghilang. Ia kemudian menghela napas berat sambil bergumam, "kau benar-benar merepotkan Uchiha Sasuke." dan kemudian dia juga berubah kewujud srigalanya dan menyusul Naruto.

Mereka berputar-putar di sekitar hutan, mendaki satu-persatu hamparan bukit. Tapi bagaikan menemukan jarum diantara jerami, hutan itu terlalu luas untuk ditelusuri oleh dua orang jinchuuriki. Walau dalam wujud binatangpun, tetap terasa mustahil. Gaara tahu mereka tidak akan berhasil. Itulah yang dirasakannya ketika sampai ke kastil Uchiha yang kosong. Tempat itu masih sama sunyi dan tak berarti seperti terakhir kali ia datangi.

"Kita lebih baik kembali." Saran Gaara. Ia menatap matahari yang mulai terbenam.

"Tidak, sebelum aku menemukannya." Balas Naruto.

"Hutan berbahaya pada malam hari." Sahut Gaara.

"JIka kau takut kau bisa kembali."

Gaara memutar bola matanya dengan jengah. "Baiklah, aku punya ide."

Naruto tidak terlihat mendengarkan , ia sedang memandangi puncak menara kastil Uchiha yang tinggi menjulang.

Tapi Gaara tetap memaparkan idenya. "Kita kembali dan temui Kiba. Ia satu-satunya orang yang bisa menolong kita." Ia melihat Naruto sedikit menoleh kepadanya. "Sesungguhnya kita buang-buang waktu disini. Semuanya akan lebih mudah jika Kiba ikut bersama kita. Dia bisa menolong."

Gaara tahu idenya masuk akal, karena Naruto mempertimbangkannya sejenak dan akhirnya mengangguk. "Ya, Kiba. Aku membutuhkannya." Katanya dan ia kembali ke wujud rubahnya dan melompat ke pepohonan tanpa mengatakan apapun lagi. Seakan-akan waktu sedetikpun sangat berharga untuknya.

Gaara mengikuti langkahnya. ia merasakan matahari terbenam di balik punggunya yang berbulu. Keempat kakinya bergerak sangat cepat untuk mengimbangi Naruto. Tapi rubah itu telah bergerak begitu jauh ke depan, dan jauh lebih cepat dari dirinya. Ia melihat ekor rubah itu menghilang dari pepohonan. Naruto tidak bisa mengontrol dirinya sekarang. Gaara mulai takut apa yang akan terjadi pada Naruto, jika Sasuke tidak bisa ditemukan.

Sesampainya di tempat Jinchuuriki, mereka pergi ke pondok Kiba. Kiba sedang berbaring di ranjangnya, wajahnya pucat pasi dan ia terlihat sangat lemah. Tapi saat Gaara dan Naruto menghambur ke ruangannya ia menoleh dan langsung berdecih dengan penuh kemarahan.

"Si penyihir sialan itu! Aku akan membunuhnya!" Umpatnya. Gaara tersenyum maklum. Setidaknya kemarahan berapi-api itu adalah bukti bahwa Kiba baik-baik saja.

"Dia menjebakku, lalu menyerang kami dengan gagak-gagak busuknya! Penyihir sialan, akan ku—"

"Aku butuh kau Kiba." Naruto berkata tanpa basa-basi.

Kiba menatapnya dan umpatannya langsung menghilang. Pemuda blonde itu menatap Kiba dengan penuh emosi. "Jika dilihat dari wajah gusarmu, kurasa telah terjadi sesuatu pada si raven angkuh itu, ya?" tebaknya.

Naruto menatap Kiba tajam. Bibirnya terkatup.

"Yeah dia pergi lagi dan hanya kau yang bisa menemukannya." tukas Gaara.

Kiba terdiam sejenak. "Seperti yang kalian lihat sekarang. Tubuhku tidak bisa bergerak sesuai keinginanku."

Naruto melangkah dan mendekat padanya. "Biar ku sembuhkan."

"Ini bukan masalah sembuh. Penciumanku tidak bisa disembuhkan dengan kekuatan, aku butuh istirahat total untuk menambah energiku dan itu akan membutuhkan waktu berhari-hari." Jelasnya.

"Berapa hari?" Naruto terlihat sama sekali tidak senang dengan jawaban Kiba. "Aku membutuhkanmu untuk melacak Sasuke. Aku tidak punya waktu."

Kiba terdiam, nampak berpikir. Wajahnya yang masih pucat pasi terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Aku rasa aku tahu kemana Sasuke pergi." Ia berkata perlahan.

"Kau tahu?"

"Ya, kemana lagi, pemuda raven itu akan pergi." Semakin lama Kiba memikirkannya ia semakin yakin dengan jawabannya. "Dia pasti pergi ke tempat keluarganya berada."

Naruto menatap Kiba seakan-akan pemuda itu tengah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. "Keluarganya sudah mati. Kau sendirikan yang mengatakannya?"

"Sayangnya aku berbohong dan apa yang dikatakan penyihir itu benar. Ya, aku memilih berbohong karena aku benci penyihir. Walau ia mengatakan kebenaran sekalipun, kita tetap tidak tahu apa yang ada dikepalanya. Para penyihir sangat licik." Kiba melirik Gaara yang mengangguk dibelakang Naruto.

"Aku yakin Sasuke sedang menuju ke sana sekarang dan kupastikan ia sedang bersama dengan penyihir sialan itu."

"Penyihir itu bersama Sasuke?"

"Aku hanya menebak karena ia benar-benar menginginkan Sasuke." Jelas Kiba. "Penyihir itu tinggal di hutan untuk bertemu Sasuke jadi aku yakin seratus persen perginya Sasuke ini adalah kesempatannya untuk mendapatkannya."

"Itu masuk akal, Kiba." Dukung Gaara. Ia kemudian menatap Naruto. "Kurasa kita mendapatkan titik terangnya. Aku tahu tempat keluarga Sasuke berada, aku bisa mengantarmu."

Naruto tampak tidak yakin. Tapi dengan perlahan dia mengangguk.

.

.

"Jadi kau benar-benar penyihir berdarah campuran?" Sasuke berkata seperti itu, setelah seharian melakukan perjalanan bersama Hinata.

Hinata berjalan dengan mudah dibawah cahaya sinar matahari. Sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh penyihir murni manapun. Seorang penyihir murni tidak akan bertahan dibawah sinar matahari, mereka hanya bisa hidup ditengah kegelapan. Itu adalah salah satu kelemahan mereka, yang membuat mereka dengan terpaksa hidup di hutan Uchiha yang luas dan masih belum terjamah.

Salju sedikit demi sedikit mulai mencair. Sasuke bersyukur akan hal itu, terkadang musim dingin di tempat ini terlalu ekstrim. Mereka tidak akan bisa bertahan dalam cuaca yang membekukan seperti kemarin. Tapi bagaikan para dewa menghendaki pilihannya, cuaca kini lebih bersahabat.

Cahaya matahari sudah terbenam dari tadi. Dan sekarang mereka sedang duduk saling berdampingan di dalam gua kecil dengan sebuah api unggun yang menyala, menghangatkan seisi tempat itu.

"Ya, Yang mulia. Aku campuran. Ibuku seorang penyihir dan ayahku seorang manusia. Berdasarkan dari cerita ayahku, ia pernah tanpa sengaja bertemu dengan seorang penyihir saat berburu di hutan. Dia mengatakan ibuku adalah penyihir yang sangat cantik." Hinata menjawab seraya duduk bersandar pada tembok gua, sambil memeluk lututnya.

Sasuke membayangkan wajah penyihir yang pernah ditemuinya. Penyihir bertubuh besar dengan rambut putih panjang, kedua mata tak berpupil, dan dua tanduk di kepalanya. Sasuke agak sedikit kesulitan menggambarkan deskripsi dikepalanya itu dengan apa yang dikatakan Hinata sebagai cantik. Tapi mungkin penyihir wanita tidak seperti itu.

Hinata masih menceritakan kisahnya dengan antusias. "Ayahku sebenarnya tidak ingat bagaimana mereka melakukannya, tapi suatu ketika ia terbangun di tengah hutan dengan bertelanjang bulat. Dan setahun kemudian aku diletakkan di depan pintunya. Saat melihatku, ia sadar bahwa aku adalah putrinya."

Sasuke mendengarkan Hinata sambil sesekali menatap sekelilingnya dengan waspada. Ada banyak bunyi aneh di hutan yang penuh misteri ini. "Jadi apa kau pernah bertemu ibumu?"

Hinata tersenyum pahit. "Ibuku sudah mati. Ayahku menemukan kain gosong saat menemukanku. Penyihir murni tidak bisa terkena cahaya. Tapi demi aku ia meninggalkan kegelapan dan merangkak menuju pondok ayahku walau cahaya membakarnya sedikit demi sedikit."

"Dia pasti sangat menyayangimu." Komentar Sasuke. "Memang tidak ada yang bisa mengalahkan rasa sayang antara orang tua kepada anaknya."

"Ya begitulah." Kata Hinata sambil mengangkat bahu.

"Kurasa kita harus mencari tempat yang lebih terang." Usul Sasuke. Belajar dari pengalamannya, duduk di tengah hutan yang gelap bukanlah ide yang baik.

"Tidak apa-apa, para penyihir tidak akan menyerang kita." Balas Hinata. "Kau aman bersamaku."

"Kau bertemu mereka?"

"Ya, tentu saja." Hinata memberikan tatapan, bukankah itu sudah jelas. "Kami para penyihir saling menghormati urusan satu sama lain. Kami tidak saling menyakiti."

Sasuke menatap Hinata sejenak. Kami? Dia menyebut dirinya sebagai bagian dari penyihir.

"Jadi kau tenang saja. Kami tidak separah Jinchuuriki." Ia mengerucutkan bibir. "Jadi apa alasanmu meninggalkan para Jinchuuriki?" Hinata mengalihkan topik.

"Itu bukan urusanmu." Balas Sasuke tiba-tiba menjadi dingin.

"Apa kau tahu bahwa kelompok Jinchuuriki adalah penghuni hutan yang paling aneh diantara makhluk yang lain?" Hinata kembali berkata. "Mereka hanya perduli dengan sesama mereka, tapi dilain pihak mereka membunuh satu sama lain."

"Mereka tidak saling membunuh, itu adalah pengorbanan yang harus dilakukan beberapa Jinchuuriki submissive untuk mempertahankan kelangsungan ras mereka." Bela Sasuke.

"Kau salah satunya bukan?" Hinata menyahut. "Dan sekarang kau bertanggung jawab untuk melahirkan satu monster yang ada di dalam perutmu itu."

Tatapan Sasuke langsung mengeras penuh ancaman. "Jaga mulutmu. Anakku bukan monster!" Desisnya.

Hinata terlihat kaget. ia cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dari Sasuke. "itu—itu karena kau memakan…" Ia tidak melanjutkannya, tapi ekspresi wajahnya sudah cukup menjelaskan apa yang ingin dia katakan. Tepat dihadapan Sasuke ada tulang belulang milik seekor rusa, itu adalah makan malam Sasuke.

Apa kau tidak takut mati?" Hinata berkata lagi. Nada suaranya terdengar seperti sebuah tantangan.

"Jika aku harus mati, maka biarlah aku mati. Tapi selama aku masih hidup dan punya kekuatan aku akan melindungi apa yang kumiliki dengan seluruh ragaku." Jawab Sasuke lantang.

Hinata tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. "Kau benar-benar hebat Uchiha-san." Katanya dengan pandangan berkilat yang misterius. "Aku tidak sabar melihatmu melakukan itu nanti."

Sasuke menatap Hinata. Tapi wanita itu telah memindahkan tatapannya dari Sasuke. Ia membaringkan dirinya dan menjadikan tangannya sendiri sebagai bantal kepalanya. "Selamat tidur, tuan muda." Katanya lalu memejamkan mata.

Sasuke menghela napas berat. Ia mengulurkan tangannya ke api unggun untuk menghangatkan diri. Pikirannya di penuhi dengan Naruto. Apa yang dilakukan pemuda itu sekarang? Apa sekaranga dia sedang mencari-cari dirinya? Lihat, belum apa-apa ia sudah merindukannya.

Keesokan paginya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka mengarungi lapangan kosong yang penuh rumput setinggi betis. Mereka berjalan menembusnya. Sekali-kali Sasuke menebas rumput-rumput gatal yang menggelitik pahanya.

Tidak lama kemudian jalan mereka terputus oleh aliran sungai yang cukup deras dan dalam. Tidak terlihat dimana sungai itu bermuara, tapi Sasuke yakin bahwa ia sudah cukup jauh dari pemukiman Jinchuuriki.

"Kita akan semakin dekat jika mengarungi sungai ini." Jelas Hinata. Ia berjalan menuju ke sebuah perahu kayu kecil yang telah tertambat di pinggir sungai. Wajah Hinata telihat luar biasa bergairah.

"Aku senang arusnya deras, kita jadi tidak perlu repot-repot untuk mendayung." katanya.

"Sebenarnya dimana kakakku berada?" Tanya Sasuke.

"Disuatu tempat di utara, tempat dimana air terjun terbesar berada."

Hinata melepaskan mantel Kiba dari punggungnya. "Aku benci bau para jinchuuriki." Komentarnya. Ia melepaskan kaitan perahu dan menariknya ke tepi. Ada dua buah dayung di dalam perahu itu.

"Aku sebanarnya datang dengan perahu ini." Katanya. "Tenang saja perahu ini kuat kok. Kita aman naik ini. Nah silahkan, tuan."

Sasuke mengikuti Hinata, menaiki perahu dan duduk disisinya. Ia menyorong perahu itu ke arah air dengan dayung. Perahu bergoyang dengan kuat saat arus sungai menabraknya. Tapi perahu itu mengapung dengan kuat dan terlihat bisa diandalkan.

HInata tersenyum tipis melihat Sasuke. mereka tidak berbicara apa-apa lagi saat perahu mulai bergerak mengikuti arus sungai. Sasuke menatap sudut-sudut hutan yang gelap. Ia benar-benar keluar dari hutan Uchiha. Naruto pasti semakin sulit menemukannya.

Perahu bergerak dengan cepat mengarungi sungai,sekejap pepohonan terlah menghilang dan berganti dengan hamparan lautan yang kosong. Tidak ada pemandangan lain selain air. Walau begitu perahu terus bergerak, Sasuke tidak ingat seberapa lama ia didalam perahu. Tapi tiba-tiba saja matahari mulai tenggelam kembali dan Sasuke merasakan perutnya keroncongan. Ia sedang memakan bekal daging rusa yang disimpannya sementara cahaya mulai tenggelam dan digantikan oleh kegelapan.

Malam terasa sangat dingin. Sasuke seharusnya membawa selimut saat pergi tadi atau seharusnya mengambil jaket Kiba yang dibuang Hinata begitu saja. Tapi berkebalikan dengan Sasuke, Hinata tampak baik-baik saja. Mungkin darah penyihirnya membuat tubuhnya tahan dalam suhu yang sangat dingin.

Sasuke tanpa sadar tertidur, dan baru bangun kembali ketika merasakan perahu bergetar menghantam daratan. Ia membuka matanya dan melihat hamparan pepohonan yang lain. Matahari masih belum sepenuhnya terbit. Kabut terlihat dimana-mana, mengelilingi pepohonan di hutan. Hinata beranjak dan turun dari perahu, Sasuke mengikutinya.

"Kita sudah sampai." Kata Hinata sambil berjalan menyongsong kabut dan masuk lebih dalam ke pepohonan.

Sasuke menatap sekelilingnya, kabut itu menghalangi pandangannya, dan itu membuatnya tidak tenang. "Dimana kita?" Tanyanya.

"Hutan… "Jelas Hinata, "lima ratus meter dari kastil senju."

"Kita berada di kerajaan senju?" Sasuke mengernyitkan dahinya. "Apa kakakku tinggal disana?"

Hinata membalikkan tubuhnya pada Sasuke. Wajahnya dipenuhi dengan seringai licik, dan matanya menatap Sasuke dengan jijik. Saat ia berbicara, suaranya terdengar kasar dan tidak sopan, berbeda total saat ia berbicara pada Sasuke sebelumnya

"Tentu saja tidak, pangeran bodoh! Kita kemari karena aku membutuhkanmu. Seperti yang kau ketahui, penyerangan senju ke kerajaan Uchiha berakhir dengan tragis. Kerajaanku kalah dan Uchiha mendapatkan kakakku. Senju diambang kritis karena rakyatnya tidak lagi mempercayaiku. Mereka tidak mempercayai ratunya! Mereka mengira aku tidak sehebat kakakku dan tidak seterhormat ayahku, hanya karena aku perempuan! "

Wajah Hinata terlihat luar biasa berbeda. Kelembutan dan kecantikan sirna begitu saja dan sekejap ia terlihat seperti penyihir yang pernah Sasuke temui. Mata pupilnya menajam, menampilkan urat-urat mengerikan yang menjalari wajahnya.

Sasuke mundur selangkah, ia tahu ia telah melakukan kesalahan besar, karena telah mempercayai seorang penyihir.

"Tapi, jika aku membawamu ke kerajaanku, seorang pangeran Uchiha yang hebat dengan tanganku sendiri, aku yakin rakyatku pasti mengakuiku. Kau benar-benar membantu Sasuke, kau adalah penolongku."

Sasuke mengambil langkah mundur, tangannya bergerak masuk ke dalam mantelnya, meraba senjata yang tertancap di ikat pinggangnya. Tapi saat ia akan menariknya, ia mendengar suara-suara lain. Seperti suara langkah kaki. Dan kedengarannya bukan hanya satu.

"Sudah terlambat Sasuke." Kata Hinata dan seketika Sasuke merasakan tubuhnya terlempar dari tanah dan menghantam pohon dengan keras.

Sasuke mengerang, tubuhnya jatuh di tanah dengan menyakitkan. "Sial!" Umpatnya. Ia berusaha bangkit tapi dua pasang tangan menahan tubuhnya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar enam pria berpakaian prajurit lengkap muncul dari dalam kabut.

Hinata berjalan mendekatinya, ia berjongkok dan memberikan senyuman penuh kemenangan pada Sasuke.

"Kau menipuku!" Bentak Sasuke keras sementara dua orang prajurit memitingnya dengan kuat ke tanah.

Hinata menundukkan kepalanya, matanya sudah kembali tampak normal tapi senyuman licik yang menghiasai wajahnya, membuat kecantikannya menjadi sia-sia.

"Bukankah si jinchuuriki blonde itu telah memperingatimu?" Ia bekata. "Hanya orang bodoh yang percaya pada penyihir."

.

.

.

Fajar menyingsing jernih dan dingin, menerangi seluruh cakrawala. Dua orang jinchuuriki berdiri tegak di depan pintu gerbang raksasa. Kerajaan itu sangat unik. Menghadap ke pantai dengan tembok-tembok besar berjejer membentuk setengah lingkaran. Suara air terjun masih terdengar dari baliknya. Walau begitu tembok itu sangat kokoh bagaikan perisai kuat yang melindungi satu kota dari dunia luar. Siapapun tidak akan bisa membobolnya. Satu-satunya cara hanyalah melewati gerbang raksasa yang lebarnya hampir melingkupi dua tebing tinggi yang dibentuk oleh alam.

"Kita butuh rencana." Gaara tampak ragu ketika berdiri di hadapan tembok besar itu.

"Rencananya." Naruto berajalan mendekati pintu gerbang. Matanya berkilat penuh ancaman. "Mereka harus mengembalikan apa yang menjadi milikku."

"Itu bukan rencana, Itu namanya perang!" Balas Gaara. "Jangan melibatkan diri terlalu jauh dengan para manusia."

"Aku tidak perduli!" Bentak Naruto keras. "Aku hanya ingin Sasuke kembali!"

Gaara masih akan membalas, tapi Naruto telah lebih dulu berjalan menyosong ke depan gerbang.

Melihat keteguhan Naruto yang berkobar-kobar, Gaara tahu masalah ini tidak akan selesai, sesimpel yang diharapkannya.

.

.

-Tbc-

.

.

.

Midory akhirnya mutusin buat lanjutin ini dulu. Tinggal berapa chapter lagi soalnya, jadi yang The rare one terpaksa di telantarin dulu.

Katanya ini mirip breaking dawn. Midory bukan fans breaking dawn sih, tapi karena itu midory jadi tergugah buat baca novelnya hihihi. Yah midory pas nulis juga sadar. Heran sendiri, Kok rada mirip breaking dawn dibagian ini ya? tapi nggak kok ini beda banget, beneran. Midory nggak bakal terlalu muter-muter kebagian itu.

Anaila: gak apa-apa. dapat flamerpun Midory gak masalah

.vikink : predisksimu hampir benar.

little lily : wah ide bagus tapi midory gak tega bikin Gaara jadi licik kayak gitu. Midory sayang Gaara #peluk

FujoshiFujo : maaf ya updatenya lama banget, hiks hiks tapi nggak kok ini happy ending

TheUltramarine : hehehe yang bagian naru hamil itu cuman selingan aja. Lelucon gitu

Sasofi No Danna: semua jinchuuriki submissive yang hamil pastinya sudah siap mati

Fro Nekota : Midory gak pernah nonton Tokyo ghoul, tapi kok serem bener ya? Sasu OOC? Naluri seorang ayah mungkin membuat dia terlihat OOC. Tapi Sasuke tipe yang sayang keluarga melebihi apapun.

Hitsugaya Toushirou : Yup gara-gara hamil

Maaf ya, Midory nggak balas semua, soalnya gak tau mo balas apa #bletak

Makasih yang udah nungguin, Midory bakal lebih berterima kasih lagi kalau ada yang mau review #smile