Sakura selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan klan-nya.

.

.

.

LOVE ME

Sasuke-Sakura's fic by Mrs. Bastian

Naruto © Kishimoto Mashashi

.

.

Kilatan cahaya terang serta suara gemuruh letusan kembang api membahana di langit malam Konoha. Sang Hokage keenam−Uzumaki Naruto kini tengah tersenyum lebar atas pencapaian prestasi seluruh peserta ujian chunnin dari Konohagakure yang berhasil lolos hingga babak akhir. Tak hanya Naruto yang merayakan prestasi yang membanggakan ini, Kazekage Suna−Sabaku no Gaara juga tengah berbangga karena hampir seluruh kandidat dari negaranya lolos, dan menempati urutan kedua setelah Konoha.

Tawa riuh serta pekikan kagum membuat suasana perayaan yang berlangsung di lapangan terbuka desa shinobi itu semakin bertambah meriah. Ditambah lagi dengan banyaknya warga serta shinobi yang sengaja meliburkan diri untuk menikmati suasana kebersamaan ini, sehingga membuat lapangan yang bisanya sepi menjadi lautan manusia.

Semuanya bergembira. Naruto, warga Konoha, seluruh peserta ujian chunnin yang lolos, para jounin pembimbing, dan semua manusia yang ada di sana bergembira bersama malam ini. Peristiwa ini adalah peristiwa yang membanggakan sekaligus jarang dilakukan di desa yang damai dan tenang seperti Konoha.

Namun tawa serta ekspresi gembira dari seluruh manusia itu berbanding terbalik dengan apa yang Sakura rasakan. Raut wajah wanita bermata hijau itu memang menunjukan kegembiraan−walaupun samar−, tapi apa yang dirasakan hatinya tidak sedikit pun menunjukkan hal itu.

Keputus asaan, kesedihan, serta patah hati yang ia rasakan adalah penyebabnya. Sakura sedikit menyesali persetejuannya atas ajakan Amaya untuk pergi ke perayaan ini. Gadis kecil itu mengatakan kalau Sakura juga harus menikmati perayaan ini, karena bagaimanapun keberhasilan kelompok gadis itu dalam menjalani ujian chunnin sampai tingkat ini adalah pengaruh dari Sakura juga. Awalnya Sakura berpikir bahwa tak masalah untuk menerima ajakan gadis manis itu, setidaknya rasa sedih yang ia rasakan bisa berkurang. Tapi justru berdiam seperti ini dan memandang langit malam yang begitu indah karena letusan kembang api, malah membuat pikirannya melayang kepada seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang tidak ia jumpai selama tiga hari ini.

Selama tiga hari pula Sakura menyimpan semuanya sendiri. Menelan semua kepahitannya sendiri walaupun terasa sangat sulit. Sempat terpikir olehnya untuk membagi semuanya dengan Ino, dan meminta pendapat atas kelu kesahnya dari sahabatnya itu. Masih segar di ingatan Sakura saat ia menegaskan kepada Ino bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Sasuke mencintainya, namun apa yang terjadi sekarang menunjukan sekali kalau Sakura adalah wanita rapuh. Cukup banyak pengorbanan yang dilakukan istri Sai itu untuk kebahagiaan hidupnya, dan Sakura tidak cukup mempunyai muka untuk kembali mengeluh dan meminta bantuan pada Ino.

Ino pasti akan menertawakan sifat menyerahku, batin Sakura seraya tertawa hambar−walaupun ia sangat yakin Ino akan melakukan hal yang sebaliknya dan kembali menolongnya.

Lalu kepada siapa? Kakashi? Tidak. Sakura tidak ingin gurunya itu tahu yang sebenarnya. Gurunya sudah begitu banyak berdo'a dan berharap untuk kebahagiannya. Memberitahu apa yang sebenarnya terjadi malah akan membuat perasaan pria itu tak tenang.

Hinata? Tenten? Tidak. Mereka tidak cukup paham tentang kehidupannya.

Naruto? Oh... entah apa yang akan terjadi pada suaminya jika Naruto mengetahui semua hal tentang kehidupan rumah tangganya.

Sakura menghela napas pelan. Lehernya terasa pegal karena sedari tadi ia terus mendongak menatap kembang api. Wanita itu pun menundukkan kepalanya, membiarkan pikirannya tenggelam pada seseorang yang membuat hatinya gundah.

.

Saat itu adalah malam terakhir dimana Sakura masih bisa tersenyum bahagia. Di kamar yang hanya diterangi lampu meja itu, ia duduk di ranjang dengan kaki yang diselonjorkan. Punggungnya bersandar pada sandaran ranjang tidurnya, dan mata hijaunya terpaku di barisan kata pada buku yang ada di pangkuannya. Sesekali wanita itu bergumam pelan untuk membaca atau mengulangi sesuatu yang ia kurang pahami di sana. Kerutan samar yang tergambar di dahi Sakura menunjukan kalau wanita itu tengah serius dengan kegiatannya, sehingga ia tidak menyadari ketika sosok yang sedari terlelap di sebelahnya terbangun dan tengah menatapnya heran.

"Kau tidak tidur?"

Sakura hampir saja menjerit kaget ketika suara berat itu terdengar begitu jelas di telinganya. "Sasu− Astaga, kau membuatku kaget!" pekik Sakura tertahan.

Sasuke menatap istrinya yang kini tengah mengatur napasnya supaya kembali normal. Rambut gelapnya sedikit berantakan. Pria itu terlihat berusaha menahan rasa kantuk jika dilihat dari kedua bola mata hitamnya yang tidak fokus. Dahinya berkerut saat menyadari benda yang ada di pangkuan istrinya. "Apa yang kau baca?"

"Buku medis," jawab Sakura seraya menundukkan kepalanya mengikuti arah pandang Sasuke.

"Malam-malam begini?"

Seolah baru saja tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan, Sakura langsung memasang tampang menyesalnya. "Astaga, maafkan aku, Sasuke-kun. Aku pasti telah membuatmu terbangun."

Sasuke hanya diam menatap Sakura.

"Gomennasai, Sasuke-kun," ucap Sakura memohon.

"Hn." Sasuke meraih buku medis Sakura dan meletakannya di meja di samping ranjang tidurnya. "Matikan lampunya, dan cepat tidur! Kau bisa kesiangan nanti."

"Tapi−" Sakura merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat Sasuke membuat gerakan seperti ingin memeluknya. Bibir Sakura tak sanggup meneruskan perkataannya, hingga ia melihat Sasuke hanya berusaha mematikan lampu yang ada di meja di samping ranjangnya. "Eh−"

"Tidur."

Mata Sasuke yang menatapnya tajam semakin membuat Sakura gugup. "I−iya," ucap Sakura seraya merebahkan tubuhnya.

Sakura dapat merasakan tatapan Sasuke yang masih mengawasinya ketika ia sudah dalam posisi tidurnya. Sesaat setelah itu, Sasuke turut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.

"Pakai selimut dengan benar, Sakura."

"Ya."

Sasuke sudah memejamkan kedua matanya ketika Sakura melirik pria itu dari sudut matanya. Bibirnya membentuk lengkungan tipis menatap wajah tampan suaminya yang sudah terlelap. Uchiha Sasuke yang disegani oleh para shinobi karena reputasi membanggakannya dalam bertarung dengan banyak lawan dan menyelesaikan banyak misi berbahaya, kini terlihat begitu damai dalam tidurnya.

Wajah Sakura sedikit menghangat ketika mengingat apa yang ia pikirkan tentang suaminya beberapa saat lalu. Wanita itu menutup mulut dengan telapak tangannya untuk menahan tawa geli yang keluar dari mulutnya.

Bisa-bisanya aku berpikir sampai sejauh itu. Benar-benar konyol.

Rambut hitam Sasuke yang terhampar di atas bantal, entah mengapa membuat Sakura setengah mati ingin menyentuhnya. Jemari Sakura menyentuh perlahan ujung rambut suaminya, sebelum mulai berani untuk sedikit mengelusnya.

Mengapa... aku merasa bahagia ketika aku dapat menyentuhmu seperti ini, Sasuke-kun?

.

.

Berada di dekat Sasuke memang suatu kebahagiaan tersendiri bagi Sakura. Wanita itu selalu menikmati setiap detik ia menatap wajah suaminya, menikmati setiap detakan jantungnya yang cepat ketika ia mendapat sentuhan lembut suaminya, atau bahkan merasakan sensasi menyenangkan dari kedua sisi pipinya yang menghangat ketika suaminya berperilaku manis untuknya.

Tapi semuanya kini terasa jauh. Ketiadaan sosok suami yang bisa membuatnya tenang, serta kepasrahan Sakura akan kebahagiannya sendiri semakin membuat wanita itu terpuruk dalam lamunan kesedihannya. Butiran air mata yang sudah menjadi teman kesendiriannya dalam tiga hari ini kembali mendesaknya.

.

"−sei? Sakura -sensei?"

Suara yang semakin membesar itu kembali terdengar di telinga Sakura.

"Sakura-sensei?"

"Aah, i−iya," sahut Sakura ketika ia tersadar dari lamunannya. "Ada apa Amaya-chan?"

Amaya sedikit heran menatap wajah Sakura. "Aku hanya ingin memberikan ini," ucap Amaya seraya menyodorkan sebuah piring kertas dengan beberapa tusuk takoyaki di atasnya. "Kau mau mencobanya, sensei?"

"Tidak, Amaya-chan. Terimakasih."

"Sensei baik-baik saja? Kenapa dari tadi murung?"

"Benarkah?" Sakura berusaha tenang dengan suara yang sedikit parau. "Aku tidak−"

"Apa kau sedang sakit, Sakura?" Kali ini Tenten yang duduk di bangku sebelah Amaya membuka suara. "Wajahmu kelihatan pucat."

Air mata yang secara perlahan mulai menggenangi kedua mata hijau Sakura membuatnya susah untuk berbicara. "Ti−tidak. Aku baik, Tenten. Yah−" Sakura menghentikan perkatannya untuk mengambil napas yang terasa begitu sulit untuknya. "−mungkin aku hanya kelelahan."

"Sebaiknya kau cepat beristirahat, Sakura," ucap Tenten dengan nada khawatir yang terdengar jelas. "Apa perlu kuantar pulang?"

Sakura memaksakan senyum kecil di bibirnya. "Tidak perlu, Tenten. Terimakasih. Aku masih bisa pulang sendiri."

Setelah berpamitan kepada Tenten dan ketiga muridnya, Sakura segera beranjak dan melesat pergi dari sana. Genangan air mata yang sudah penuh di kelopak matanya, memaksa Sakura untuk tidak lagi menolehkan kepalanya untuk membalas tatapan heran Tenten. Wanita itu terus berjalan dengan menundukkan kepalanya dan menerobos kerumunan orang yang berjejal di sepanjang langkahnya. Sesekali ia meminta maaf dengan suara lirih ketika mendengar beberapa orang merasa terganggu dengan apa yang ia perbuat.

Langkah kaki Sakura baru saja terbebas dari kerumunan orang yang menghadiri perayaan itu, ketika ia mendengar suara berat yang ia kenali tengah memanggilnya.

"Sakura?"

Oh tidak, Kami-sama. Jangan sekarang.

"Sakura?"

Sakura terus saja berjalan seolah-olah ia tidak mendengar suara itu sama sekali di telinganya.

"Kau mau kemana?" Kali ini Sakura bisa merasakan sebuah tangan besar menahan pergelangan tangannya sehingga membuat ia berhenti dan berbalik. "Acaranya belum selesai."

Gaara tengah menghalangi langkah Sakura. Raut wajah pria itu masih tetap terlihat sumringah seperti yang Sakura lihat saat dimulainya perayaan.

"Pulang," jawab Sakura dengan nada yang diusahakan seperti biasa.

Namun Gaara tetap tak bisa dibohongi. Pria itu menatap Sakura dengan heran saat menyadari jejak air mata yang terdapat di wajah wanita itu. "Kau baik-baik saja?"

Lidah Sakura yang terasa kelu serta desakan air mata yang semakin menguat, membuat wanita itu ingin segera menghilang saat ini juga. "L−lepaskan."

"Kau menangis?" tanya Gaara seolah tidak puas dengan jawaban Sakura.

Tubuh Sakura sedikit menegang tatkala ia tidak bisa menghalau butiran air mata yang kembali jatuh di pipinya. Emosi pun mulai menguasainya karena pria yang ada di depannya saat ini sama sekali tidak menanggapi permintaannya. "Kumohon lepaskan tanganku, Gaara-sama."

Gaara bergeming. Tangannya yang semakin kuat memegang pergelangan tangan Sakura, membuat emosi yang ditahan wanita itu lepas kendali.

Dengan kasar, Sakura menyentakkan tangannya sehingga cengkraman Gaara terlepas dari pergelangan tangannya. "LEPASKAN AKU!" teriak Sakura murka di depan Gaara.

Raut wajah Gaara yang berubah beku membuat Sakura terperanjat saat itu juga. Kedua telapak tangan wanita itu dengan cepat membekap mulutnya sendiri.

Kami-sama, apa yang baru saja kulakukan?

"Ma−maaf... Maaf. Ak−aku..." Sakura merasakan suaranya tertahan di ujung tenggorokannya. Wajah wanita itu terlihat ketakutan, dan tangannya yang bergetar di depan mulutnya, menunjukan sekali kalau wanita itu kesulitan hanya untuk sekedar berbicara dengan jelas. "Gaara-sama, a−aku tidak... Sungguh, aku m−minta maaf."

Tak ada perubahan yang berarti di wajah Gaara. Bibir pria itu terkatup rapat. Tatapan jade-nya yang tajam seakan menghujam benak Sakura. Menyudutkan wanita itu dalam perasaan bersalah yang susah untuk diampuni, bahkan oleh Sakura sendiri.

"Ti−tidak seharusnya aku bersikap ku−kurang ajar seperti t−tadi. Aku s−sungguh minta ma−"

Belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya, Gaara mengulurkan kedua lengannya dengan cepat untuk menarik tubuh Sakura ke dalam dadanya. Membelenggu wanita itu dalam pelukan tiba-tiba. Dekapan Gaara yang begitu dalam entah mengapa membuat Sakura merasa terhenyak untuk sepersekian detik.

"Gaara-sama!" pekik Sakura dengan sedikit mendorong dada Gaara untuk melepaskan dirinya dari rengkuhan pria tersebut. "Apa yang−?"

"Menangislah," bisik Gaara lirih di telinga Sakura. Pria itu mengeratkan pelukannya sehingga membuat Sakura dapat mencium aroma menenangkan yang menguar dari tubuhnya. "Menangislah jika kau menginginkannya, Sakura."

Sakura terus berusaha melepaskan pelukan erat Kazekage itu dengan mendorong lebih kuat. Namun semakin kuat Sakura mendorong semakin kuat pula Gaara memeluknya. "Tidak. B−bukan seperti ini, Gaara-sama."

"Tak apa. Jangan pedulikan apa pun."

"Tidak bisa, Gaara-sama. Ini tidak benar."

Pelukan Gaara yang tak terlepas dari tubuhnya, serta bisikan halus untuk membuatnya tenang yang berkali-kali diucapkan pria itu semakin menawarkan emosi Sakura untuk kembali hadir. Perlahan tapi pasti, dorongan Sakura ke tubuh Kazekage itu melemah dengan sendirinya.

"Tapi..." Sakura menggantung ucapannya begitu saja saat merasakan kesedihan kembali menyerbu hatinya. Isakannya pun mulai terdengar pelan.

"Sudahlah."

Ucapan Gaara serta belaian lembut tangan pria itu di rambutnya, semakin membuat Sakura larut dalam emosinya sendiri. Berbagai perasaan yang bercampur aduk di benaknya dengan cepat membuatnya kembali menjatuhkan air mata. Tak butuh waktu lama hingga tangis Sakura pecah dalam dekapan pria itu. Jemarinya dengan kencang meremas bagian depan jubah Gaara untuk sedikit mereda suara tangisnya.

Suara ledakan kembang api yang lagi-lagi membahana, serta suara bising yang diciptakan ratusan manusia yang tengah berdiri tidak jauh membelakangi Gaara dan Sakura, menjadi latar belakang penyampaian emosi dari masing-masing insan itu. Keduanya benar-benar terhanyut hingga tidak ada keraguan sedikit pun untuk saling membalas pelukan satu sama lain.

Mengapa bukan kau, Sasuke? Mengapa bukan kau yang menenangkanku sekarang? Mengapa harus pria lain?

.

.

.

Berkilo-kilo jauhnya dari Konoha, di tengah sebuah hutan yang luas, serta hanya disinari dengan sinar rembulan dan cahaya api unggun yang menyala di atas kayu bakar, Uchiha Sasuke duduk diam di sana. Mata hitamnya terpaku menatap api yang tengah bergoyang indah di depannya dengan tak mengurangi tingkat kesigapannya sedikit pun.

Sasuke tidak sendirian di sana. Di seberangnya, terlihat seseorang tengah meringkuk di bawah selimut selimut tebal sehingga hanya sejumput rambutnya yang berwarna gelap yang tampak dari luar. Sedangkan tepat di samping kanannya, terdapat dua orang pria tengah bercengkrama tentang hal yang tidak begitu Sasuke minati. Memikirkan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya lebih berguna bagi Sasuke ketimbang ikut atau mendengarkan pembicaraan dua anggotanya.

"Sasuke-taichou, lebih baik kau beristirahat. Biar aku saja yang jaga."

Kini yang berada di samping Sasuke hanya terdapat satu orang pria saja yang tersisa karena seorang pria yang lainnya tengah menyamankan posisi dan bersiap untuk beristirahat. Sasuke diam sejenak menatap anggotanya. "Tidak perlu. Kau saja yang beristirahat."

"Tapi−"

"Kau harus mengumpulkan tenagamu untuk besok," sela Sasuke cepat.

Meskipun menunjukkan raut wajah yang tidak terlalu puas, pria di samping Sasuke itu tetap menuruti perintah ketuanya. "Baiklah. Bangungkan aku jika kau sudah merasa lelah, taichou."

"Hn."

Suasana hutan itu menjadi lebih sunyi lagi saat satu-satunya sumber suara yang sedari tadi mengisi kesunyian, kini sudah tidak terdengar. Hanya suara kerikan serangga yang saling bersautan saja yang membuat suasana malam hari di hutan itu semakin terasa. Dinginnya angin malam yang bertiup sepoi-sepoi sama sekali tidak menggoda Sasuke untuk memejamkan matanya barang sejenak. Seandainya saja hatinya tidak gundah, Sasuke akan dengan senang hati menerima tawaran anggotanya untuk berjaga, dan ia akan beristirahat tenang seraya menikmati suasana alam terbuka seperti ini. Namun, tampaknya ketenangan tidak berpihak padanya beberapa hari terakhir ini.

Sasuke jelas tahu bahwa dirinya lah yang menyebabkannya seperti ini. Keraguan serta ketololannya sudah menyakiti seorang wanita yang telah menghiasi hidup serta hatinya selama dua bulan terakhir. Ia tidak tahu apakah ini yang disebut cinta. Yang ia tahu, dirinya selalu merasa tenang jika berada di dekat Sakura. Melihat senyum tulus dan tawa ceria dari wanita itu membuatnya merasa damai tanpa ia sadari sendiri dengan gamblang. Sambutan senyum wanita itu kala ia baru saja datang dari misi, celoteh wanita itu kala makan bersama, aroma indahnya... sungguh Sasuke selalu menginginkan itu semua. Ia tidak mau jika apa yang ia dapatkan dari wanita itu lenyap sampai kapan pun, dan oleh siapa pun. Termasuk seseorang yang ia anggap lawan dari dulu, Sabaku no Gaara.

Rasa panas dengan cepat menjalari hatinya ketika ia melihat sebuah pemandangan yang menyesakkan dadanya beberapa hari yang lalu. Saat ia hendak mengajak Sakura makan siang bersama di luar rumah untuk yang pertama kalinya. Berkali-kali Sasuke menegaskan hatinya bahwa alasannya mengajak sang istri makan siang adalah karena sang istri tidak sempat sarapan karena bangun lebih siang dari biasanya−walaupun Sasuke sendiri tahu alasan lain dari sikapnya yang tidak biasa−. Seorang perawat yang memberitahunya bahwa Sakura tengah berada di taman rumah sakit, segera menuntun langkahnya untuk menemui wanita itu. Sasuke mempercepat langkahnya saat ia melihat sosok yang ia cari tengah duduk di bangku taman, namun langkahnya terhenti begitu saja saat ia menyadari Sakura tidak sendirian di sana.

Sakura yang dengan mudahnya tersenyum atau bahkan tertawa oleh pria lain, entah mengapa membuat hatinya panas. Sasuke tidak akan mempermasalahkan hal itu jika saja pria itu adalah Naruto, atau pria-pria lain yang ia tahu memang selalu membuat lawan bicaranya tertawa. Tapi ini adalah Gaara, seorang Kazekage Suna yang ia tahu memiliki pribadi tak jauh darinya. Sharingan-nya hampir menyala saat itu juga, dan yang semakin membuatnya ingin menghajar pria itu adalah gerakan kepalanya yang mendekat seolah-olah ingin mencium istrinya, sebelum pria itu kembali ke posisinya yang semula. Tanpa menunggu kemungkinan lain yang bisa membuat amarahnya memuncak oleh ulah Kazekage itu, Sasuke segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.

Marah dan panas. Sasuke merasakan hal itu hingga ke sumsum tulang belakangnya. Bisa-bisanya istrinya bergaul begitu dekat dengan seorang pria hingga membuatnya merasa kalap seperti ini? Apa Sasuke harus memarahi Sakura? Membentak wanita itu dengan kejam? Atau bahkan menyingkirkan wanita itu begitu saja seperti ia menyingkirkan orang yang tidak ia sukai? Tidak. Sasuke paham bahwa ia tidak akan bisa melakukan itu semua, apalagi harus melakukan pilihan ketiga. Melakukakannya, sama dengan menghancurkan hidupnya. Orang tolol macam apa yang sanggup melakukan hal seperti itu? Dan Sasuke pun memilih diam sebagai luapan emosinya. Mendiamkan Sakura sampai emosinya mereda, dan memberi kesempatan wanita itu untuk lebih memahami apa yang ia inginkan tanpa pernah membicarakannya sedikit pun.

Sasuke menghela napas panjang. Ia sungguh menyesal. Mendiamkan Sakura ternyata tidak menyelesaikan masalahnya dengan mudah seperti yang ia pikirkan. Sasuke bisa saja menutup diri dari istrinya, namun hatinya tidak bisa dibohongi. Bertemu dan melihat tatapan mata Sakura merupakan masalah lain bagi Sasuke. Mata hijau itu selalu membuatnya tersadar dalam pikiran yang selalu Sasuke hindari. Menyadarkannya bahwa hal lain yang membuatnya marah adalah rasa kegagalannya mempertahankan Sakura di sisinya. Seharusnya ia langsung tidur saja malam itu, melihat bulan serta bintang yang bersinar indah malah membawanya ke dalam permasalahan pelik yang sama sekali tidak ia inginkan.

Saat ia merasakan kehadiran Sakura tepat di sampingnya, Sasuke sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Suara wanita itu begitu membuat Sasuke ingin menatap pemiliknya. Hanya sekilas, dan Sasuke tidak merasa cukup puas. Saat ia kembali menatap istrinya, sekelumit rasa cemas menghampirinya. Sakura terlihat pucat, dan tatapan wanita itu yang mengarah padanya terlihat kosong. Walaupun pada awalnya Sasuke hanya berniat mengecek suhu badan Sakura dengan menempelkan punggung tangannya di kulit leher wanita itu, jiwanya sebagai pria normal membuatnya ingin menyentuh Sakura lebih jauh. Sebutir air mata yang jatuh dari pemilik bola mata emerald itu memang membuat Sasuke heran untuk beberapa detik, namun ketika sosok itu beranjak meninggalkannya, Sasuke benar-benar tidak rela.

Sasuke berhasil menahan Sakura, ia juga berhasil menyentuh wanita itu lebih jauh. Sentuhan yang semakin lama semakin membuatnya terlena dan menggila. Keraguan Sasuke sirna saat sang istri dengan sangat baik menyambutnya dan membalasnya. Namun keraguan itu kembali muncul dengan skala yang lebih besar dari sebelumnya saat Sakura mengucapkan kata yang seolah menghantamnya.

'Aku mencintaimu, Sasuke'

Begitu besar pengorbanan Sakura, dan begitu kuat cinta wanita itu untuknya. Menyentuhnya tanpa membalas cintanya sama saja akan menyakiti Sakura. Sasuke tahu ia begitu munafik untuk mengakui bahwa ia juga mempunyai perasaan yang sama, namun ia juga tidak mau sesumbar atas sesuatu yang tidak begitu ia yakini dengan sepenuh hati. Segalanya terasa membingungkan hingga ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya, dan memilih meninggalkan Sakura tanpa memberikan penjelasan apa pun pada wanita itu. Seandainya saja saat itu ia berhenti hanya untuk sekedar berbalik, permasalahannya tak akan serumit ini. Baik hati serta pikirannya tidak siap untuk bertemu dengan istrinya lagi.

Seandainya saja, Sakura...

.

.

.

Bergaul begitu dekat dengan pria lain dalam kondisi dirimu telah bersuami. Sakura paham itu adalah teori yang salah, apalagi sampai memeluk pria lain dengan sangat erat. Entah apa yang merasukinya hingga berbuat seperti ini. Ia bahkan tidak pernah merasakan pelukan yang begitu dalam hingga membuatnya tenang dari suaminya sendiri. Semuanya mengalir begitu saja, baik perasaan gundah dan air matanya. Yang ingin ia rasakan adalah sebuah ketenangan, dan seorang pria yang tidak terpikir sedikitpun olehnya,−Gaara−telah membuatnya merasakan hal itu.

.

.

.

Bersambung.

.

.

.

Saya bingung mau ngomong apa *dilempar lembing

Saya sibuk cari perguruan tinggi, dan acara-acara sekolah saya juga ada banyak. Mood untuk ngelanjutin fic ini entah mengapa sirna begitu saja. Sebenarnya sih hanya pengembangan diksi-nya yang bikin mood saya hilang, kalau plot cerita ini sih udah saya siapin sampai cerita ini tamat. Maklumlah, saya amatir kalau masalah diksi dan kata-kata yang pas, hehe ^^"

Tapi hal positif dari hilangnya mood saya adalah munculnya ide-ide cerita baru :D

Back to story, chap ini bisa dibilang adalah curhatan si Sasuke. Kalau di beberapa chapter yang lalu saya bilang sudut pandang Sasuke cuman seuprit-uprit aja, kayaknya di chapter ini semuanya terbantahkan. Maaf yah, saya gak konsisten DX #authorpayah

Baiklah, semoga chapter ini bisa menjawab pertanyaan reader semua ^^ Sekali lagi terimakasih untuk apresiasi fic ini yah ^^

Bye ^^