"Kita tidak mampu merobek dan membuang satu halaman dari kehidupan, tetapi kita bisa melempar keseluruhan bukunya ke dalam bara api." - George Sand
Kamar nomor 1210 di Rumah Sakit Umum Shinjuku adalah sebuah unit kamar bertipe VIP yang hanya ditempati oleh satu orang pasien. Dinding kamar tersebut dilapisi oleh kertas dinding berwarna pucat yang seolah tidak benar-benar mengharapkan supaya pasiennya segera sembuh, dan dilengkapi oleh satu ranjang yang kesepian tepat di tengah ruangan. Pada pukul dua belas malam, lampu kamar sudah dimatikan dan tirai telah menutup jendela, menyisakan sinar dari koridor yang lolos dari celah di bawah pintu sebagai sumber penerangan tunggal.
Pada pukul dua belas malam pula, para suster telah usai mengantarkan jadwal pemberian obat dan makan malam terakhir bagi pasien-pasiennya, sehingga kecuali pada unit gawat darurat, suasana rumah sakit relatif hening. Perawat yang kebagian jaga malam di bangsal berlalu-lalang sekali dua kali, beberapa hanya duduk di pintu bangsal sambil bergosip.
"Senpai, kau tahu siapa yang menghuni kamar 1210?" bisik perawat muda yang baru mulai bekerja bulan lalu. "Ia sakit apa? Kurasa dia sudah berada di sini cukup lama."
Senpainya mengambil keripik kentang lagi sebelum menjawab. "Aa. Seorang anak yang manis, ya 'kan? Agak keras kepala dan menyebalkan kadang-kadang, tapi semua perawat di sini menyukainya," suster paruh baya itu tersenyum hangat. "Kudengar, kecelakaan. Sayang sekali, padahal dulunya ia atlet muda berbakat, lho."
Perawat yang lebih muda menggeleng sendu. "Begitu. Aku enggak pernah melihat keluarganya datang menjenguk. Kecuali, well, anak laki-laki genit itu."
"Memang. Kasihan," lawan bicaranya misuh-misuh. Mengunyah keripik. "Tapi jangan khawatir. Bukannya tugas kita juga untuk membuat pasien bahagia?" tukas si perawat optimis. Kouhainya tertawa halus, kemudian melanjutkan kepada topik pembicaraan yang lebih menyenangkan untuk menghabiskan malam.
Namun, di situlah sebenarnya letak kesalahan mereka. Faktanya, penghuni kamar 1210 punya penjenguk lain. Cuma, sayang sekali mereka tidak mampu melihat sosoknya saat ia menembus pintu bangsal, melewati meja mereka sambil menoleh sinis, lalu berbelok masuk ke kamar tujuannya.
Sharaku Mikage tersentak bangun.
Napasnya tercekat. Kedua mata gelap gadis itu dengan cepat menelusuri semua pojok kamar inap gelap tempat ia dirawat. Pada sofa yang sudah berdebu karena toh tak seorang penjenguk pun pernah menghabiskan malam di sana: tidak ada. Di balik tirai yang menyaring gemerlap kehidupan malam Shinjuku: tidak ada. Selang infus yang terhubung pada jarum yang tertancap pada lengan Mikage ikut bergerak selagi ia meremas ujung selimutnya was-was.
"Siapa itu?" gertak Mikage bergetar. Ia direspon oleh tik-tok kaku jam dinding. Mikage menelan ludah. Mungkin cuma perasaannya saja. Perempuan itu segera merebahkan kepala pada bantal untuk kembali terlelap.
"BOOP!"
Tidak secuilpun bagian dari diri Mikage terkesan pada perbuatan iseng seorang hantu bermata krimson yang mendadak telah menempati sisi kanan ranjang rumah sakit miliknya. Dengan santai memencet (menembus?) ujung hidung Mikage pakai jari telunjuk. Saat hantu itu melebarkan seringai seram pada bibir, Mikage sekadar menatapnya balik malas. Agak sulit menggolongkan Izaya ke dalam stereotip "hantu yang perlu ditakuti" apabila rupa wajah lelaki itu mirip model pada kover majalah fashion pria.
Bukan berarti keberuntungan semata ini memperbaiki karakter Izaya dalam persepsi Mikage.
"Ugh."
Izaya menopangkan kepalanya kasual di atas siku. Menatap Mikage menggoda. "Ooh, judes benar. Kau kecewa karena aku bukan Izumii-kun?"
Telinga perempuan itu memanas pada nama yang barusan disebut. Ia mendelik Izaya dengan benci. "Apa maumu?"
"Menjenguk tsundere-sama yang menyedihkan ini."
Desisan jengkel. "Cukup basa-basinya."
Si pemuda hantu melempar kedua kakinya ke samping, kemudian perlahan turun dari kasur. Ia berdiri di samping ranjang, tangannya tersembunyi dalam kantung celana. Izaya melempar seulas senyum kekanak-kanakan. "Bagaimana kabar cinta yang dituangkan kepada Shizu-chan hari ini, Mikage-chan?"
Mikage menghela napas panjang. "Bukan cinta," koreksinya, sembari menutup mata sejenak. "Hmmm. Kuat seperti biasa. Lebih kuat dari kemarin, malah."
"Hee-hee. Kalau begitu aku yakin Izumii-kun belum lama ini merekrut anggota baru."
"Ya..." aku gadis itu setengah hati, kemudian menyorot Izaya tajam dari balik helai poninya yang memanjang sampai melewati mata. "Hei, jauhi Izumii. Sebaliknya, aku merasakan hal yang lebih besar... sesuatu yang bukan hasil perbuatan nemesis-mu itu. "Sesuatu" terbangun di Tokyo, kau tahu, dan Izanami berkeliaran setiap malam sekarang. Ia cemas. Atau kesal." Mikage terlihat khawatir. "Berdoalah bahwa ini bukan imbas dari perilakumu, Izaya."
"Buat apa aku memancing amarah Izanami? Aku enggak sebodoh itu," Izaya mengibaskan tangan ringan. Mikage tidak memercayai sekelumitpun omongannya. "Well, aku ke sini hanya ingin memastikan. Shinra sedang dingin sekali kepadaku akhir-akhir ini. Sial."
Mikage berkonsenterasi. "Shinra ini, semacam... fanatik Izanami, ya 'kan?"
"Kurang lebih begitu."
"Dia tidak punya jangkar pada kehidupan sama sekali. Kecuali... eh..." Mikage mengangkat sebelah alis skeptis saat bayangan figur yang menjadi jangkar Shinra pada kehidupan muncul dalam benaknya.
"Aku tahu kok," Izaya tampak geli pada reaksi gadis itu. "Kalian para shaman mempunyai kesamaan yang unik, ya? Bagaimana menurutmu? Bukankah sebenarnya Shinra-kun sama saja kasusnya dengan pembunuh berantai kita?"
Alih-alih menanggapi, Mikage justru menggigit bibir. Jemarinya kembali memegang erat selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Melihat gadis itu memilih bungkam, Izaya memberikan dengusan terakhir, sebelum berbalik arogan untuk meninggalkan kamar 1210.
Langkahnya terhenti saat Mikage tiba-tiba angkat bicara lagi.
"Ngomong-ngomong, kapan kau akan menerima kenyataan, Izaya?" Mikage bertanya, suaranya bergaung dalam ruangan yang sepi. Menggantung tidak nyaman di udara.
Drap. Izaya berdiri tegak, badannya masih memunggungi si gadis. Saat ia berbicara, nadanya seolah tanpa beban. "Apa maksudmu, Mikage?"
"Menerima kekalahanmu," lanjut Mikage tak gentar, "menerima kematian-"
"Kalau ada salah satu dari kita yang harus mengaku 'kalah', maka kaulah orang itu," Izaya memotong kalimat Mikage dan dalam sekejap sudah berada di samping ranjang. Ia memasang raut prihatin yang dilebih-lebihkan, mengerling infus dan segala alat medis yang menyongsong kehidupan gadis di hadapannya. Menyiratkan rasa jijik dan merendahkan. "Ne?"
Tangan Izaya menembus pipi perempuan itu. Mikage menepis tangannya kasar. "Kau sudah mati."
Pemuda bernetra merah mengangkat bahu. "Dan kau sebentar lagi," tukasnya puas. "Ah... kalian yang hidup dibayangi kematian! Kau tidak mengerti betapa aku mencintai dirimu yang dengan putus asa berjuang untuk bertahan hidup, meskipun ajal mengintai setiap napasmu. Cinta sekali. Hahaha..."
Terkadang Sharaku Mikage berharap hantu bisa mati dua kali. Jika hal itu mungkin terjadi, Mikage mau kematian kedua Izaya berada di tangannya sendiri.
Celty memiliki sebuah sabit sepanjang dua meter dengan warna segelap eboni mengilap. Apabila dihujamkan pada tubuh roh tanpa raga, sabit ini akan menghapus eksistensi mereka dari dunia manusia dan mengirim mereka ke alam selanjutnya. Shinra tidak tahu apa yang terjadi jika sabit tersebut dihujamkan pada tubuh orang hidup, tetapi kelihatannya rasa penasaran Shinra akan segera terjawab.
"Whoa whoa, Celty-chan," Shinra terpaku karena risiko tegores ujung belati. Punggungnya menempel pada pintu. "Aku bisa jelaskan..."
"Bagaimana Shizuo tahu tentang Izaya?"
Dingin belati merayapi permukaan kulit pada leher Shinra. "Izaya ingin bertemu Shizuo-kun, beberapa waktu yang lalu. Kau tahu, soal jangkar dan macam-macamnya," pemuda itu nyengir, "aku cuma membantu mengatur pertemuan antara mereka berdua, sumpah!"
"Apa maksudmu jangkar?" tuntut Celty.
"Izaya-kun bilang ia adalah jangkarnya Shizuo-kun... semacam itu."
"Yang benar saja," Celty menurunkan tombaknya sedikit. Namun, kekesalan yang melingkupi dirinya belum pudar. "Orang seperti Shizuo-kun sudah punya cukup banyak masalah pribadi tanpa perlu kau tambah lagi, Shinra. Kalau kau mau berbaik hati, maka berhentilah mempermainkan dia dan jauhkanlah dia dari Izaya."
Shinra mencibir sambil mengelus-elus lehernya yang telah bebas dari ancaman tertancap sabit. "Tapi kau tetap bilang kalau aku enggak sepantasnya meninggalkan Izaya. Aku cemburu, Celty-chan."
"Itu karena berkenalan dengan Izaya merupakan pilihanmu sendiri, dan tidak ada sangkut-pautnya denganku," Celty menghembuskan udara banyak-banyak. "Bagaimanapun juga, apa yang diinginkan Izaya dengan memuntir manusia ke dalam muslihat-muslihatnya?"
Shinra menggeleng heboh. "Ja-jangan tanya aku. Bahkan belakangan ini aku dan dia sedang... menjaga jarak," laki-laki berkacamata tersebut kesulitan memilih diksi. "Ah~! Tapi ada bagusnya juga Shizuo-kun terseret olehku dan Izaya-kun. Dia sangat menarik-agak kasar sih pada awalnya, tapi kalau kau memerhatikan lebih dekat kau akan tahu di balik ototnya itu cuma terdapat permen dan glitter."
Sang dewi kematian nampak tidak terkesan.
Shinra mengimbuhkan, "tentu saja enggak ada orang lain yang lebih menarik daripada Celty-chan, tapi memiliki orang yang bisa kuajak ngobrol seharian penuh menyenangkan juga..."
"Tunggu," sela Celty, "kau tahu 'kan itu artinya kau membiarkan Shizuo-kun meminjam kemampuanmu?"
Shinra mengerjap. "Tentu. Sudah kubilang Shizuo-kun orang baik, jadi enggak masalah."
Celty menutup jarak di antara mereka sebal dengan satu hentakan. Shinra makin mengkeret pada posisi super intens itu. "Uhhh. Saat ada kasus janggal yang terjadi dan entah apa yang mengakibatkannya? Tidak. Tidak juga."
"...yah."
"Sebaiknya kau jaga dirimu dan sahabat barumu itu, oke," saran Celty pasrah. "Bukan hanya dari Izaya. Atau dari kasusnya. Tapi juga dari para Children."
Itu tidak diharapkan. "Children?" Shinra mengulang cemas.
"Mereka muncul lebih sering sekarang."
"Oh. Baik..."
Suasana jadi agak tegang.
"Tapi pertama-tama-jauhi dia dari Izaya."
Shinra tiba-tiba terkekeh keras. Tangan kanannya meraih-menembus kepulan bayangan hitam dari kepala Celty, memainkannya hati-hati di antara jemari. "Aku heran," ujarnya setengah berbisik, "kenapa kau menolak untuk segera melenyapkan Izaya sih, Celty-chan? Kadang aku merasa... kau merahasiakan sesuatu dariku."
Celty tetap sukar terbaca. "Seandainya pun ada rahasia, kau tidak akan pernah tahu."
"Maa," keluh Shinra, sambil membenamkan kepalanya pada bahu Celty. Menghirup aroma familiar yang menggelitik inderanya—seperti dupa, atau abu, atau sesuatu yang sangat amaaat lamban. "Aku juga bisa berahasia."
Wanita di hadapannya membiarkan pemuda itu menikmati halus sutra kain kimononya sedikit lebih lama. Seorang wanita dengan kulit seputih salju pertama dan dua iris cokelat tanah. Setidaknya, begitulah Izanami no Mikoto menurut Kishitani Shinra.
