Unconditional Love
DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto
WARNING : AU, OOC (?), TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.
.
.
.
.
.
.
.
Just enjoy the story ^.^
Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 8 – Hilang
Pemuda berwajah baby face itu tengah mengepak barang-barangnya ke dalam koper. Ia bersiap untuk mengunjungi adiknya yang sedang menempuh pendidikan di kota lain. Sasori sudah tidak bisa lagi membendung kerinduannya pada Sang adik. Di sela kesibukannya sebagai desainer boneka, baru kali ini ia dapat kesempatan untuk mengajukan cuti beberapa hari pada bosnya.
Keinginan ini diperkuat saat Sasori merasa ada yang aneh saat menelepon adiknya beberapa waktu lalu, ia mendengar samar suara laki-laki yang meminta tolong mengambilkan handuk. Tapi saat Sasori bertanya itu siapa, Sakura menglihkan pembicaraan dan segera menutup teleponnya. Padahal jelas-jelas Sakura mengatakan jika sedang berada di apartemennya bukan di kampus.
Apa jangan-jangan Sakura menyembunyikan sesuatu darinya?
Apa mungkin dia melanggar janji untuk tidak memiliki hubungan spesial dengan laki-laki?
Sebenarnya saat berteleponan Sasori berencana untuk memberitahu jika dia berencana berkunjung ke Konoha tapi ia urungkan, karena ia ingin menjadikannya kejutan saja. Atau malah nantinya ia yang akan mendapat kejutan.
Dan dugaannya memang benar. Justru dialah yang mendapat kejutan yang amat mencengangkan. Bukan soal siapa laki-laki yang bersama Sakura saat itu, tapi status kemahasiswaan Sakura lah yang membuatnya tercengang. Niat awal Sasori ingin menanyakan jadwal kuliah Sakura tetapi ia justru mendapat hal lain. Sasori sangat yakin dengan pendengarannya bahwa petugas front office kampus mengatakan jika adiknya Haruno Sakura sedang cuti kuliah. Bahkan Sasori mencoba meyakinkan dirinya lagi dengan menyuruh petugas FO itu untuk mengecek kembali apa Sakura yang ia cari benar Sakura yang ia maksud. Petugas itu menjawabnya tanpa ragu sekali lagi.
Sasori meremas rambutnya frustasi, kedua tangannya mengepal erat. Ia tidak memahami apa yang terjadi, kenapa adiknya membohonginya? Terlebih lagi yang membuatnya tak habis pikir adalah alasan cutinya adalah menikah. Sasori rela melepasnya pergi jauh darinya karena adiknya memaksa tidak ingin kehilangan kesempatan beasiswa kuliahnya, lalu bagaimana dengan kenyataan yang sekarang ini?
Sulung Haruno itu akhirnya berusaha untuk menenangkan diri, mencoba berfikir jernih agar ia bisa tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Setelah berhasil menenangkan diri, Sasori kembali lagi pada petugas FO itu menanyakan dimana sekarang Sakura tinggal, dan tanpa pikir panjang petugas tersebut memberikan alamatnya. Bukan tanpa alasan, mereka tahu jika Sasori adalah kakak atau wali Sakura sesuai dengan keterangan diri mahasiswa yang dicantumkan adiknya itu.
Saat ini ia tengah berada di depan sebuah rumah megah bergaya kontemporer. Ia menatap sendu rumah bak istana itu. Apakah benar saat ini adik kesayangannya itu tinggal di sini?
Sasori mengurungkan niatnya mengetuk pintu. Ia mencoba sekali lagi berpikir alasan adiknya menyembunyikan semua ini darinya, padahal keduanya sering berkomunikasi. Berulang kali juga Sasori selalu bilang untuk menceritakan masalah apapun. Apapun itu. Dan hal yang terjadi ini membuat Sasori berkesimpulan bahwa adiknya tidak akan menikah secara diam-diam kalau tidak karena sebuah keterpaksaan.
Hanya satu alasan logis yang ada dipikirannya saat ini.
Sakura hamil. Ya, adiknya itu hamil diluar nikah dan memutuskan untuk merahasiakan ini karena takut mengecewakannya.
Ia kembali menarik napas dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan untuk menetralisir emosinya yang meletup-letup. Sasori akhirnya memberanikan diri untuk menekan bel.
TING TONG
"Sakura, kenapa lama – eh…siapa kau?" Sasuke terkejut salah mengira sosok dibalik pintu itu adalah istrinya.
Sasori mendecak kesal. Dugaannya 100% benar. "Jadi benar Sakura tinggal di sini?"
Sasuke mengernyitkan dahinya, ia menatap tak suka pada lelaki di depannya ini seolah mengenal Sakura. "Ya, benar."
BUAGH
Satu pukulan langsung dilayangkan pada Sasuke hingga terjungkal ke belakang dan sudut bibirnya berdarah.
"Brengsek! Jadi kau yang menghamili Sakura?!"
Sasuke mengusap kasar darah di sudut bibirnya dan berusaha bangkit. Ia menatap nyalang Sasori, lalu menerjangnya dengan satu pukulan keras. "Sialan! Siapa kau hah?!"
Sasori terkekeh meski sudut bibirnya terasa perih. "Siapa aku? Aku…adalah orang terpenting dihidup Sakura."
Sasuke membelalak. Ia menggretakkan giginya keras. Kehadiran Sai dihidup Sakura sudah menjadi penghalang baginya, sekarang bertambah satu orang lagi. "BRENGSEK?!"
Perkelahian antara dua lelaki penting di hidup Sakura itu pun tak bisa dihindari hingga memancing amarah tetangga Sasuke yang merasa terganggu. Bahkan security di rumah mereka gagal menghentikan baku hantan di antara keduanya.
Sakura menautkan alis saat melihat banyak orang bergerumbul di depan pintu rumahnya. Ia sempat berpikir jika mereka adalah tamu Sasuke, tapi semua itu terbantahkan saat Sakura berusaha menerobos kerumunan itu dan melihat Sasuke sedang berkelahi dengan seseorang yang tak asing baginya.
"ASTAGA! SASUKE-KUN! SASORI! HENTIKAN SEKARANG JUGA!" teriakan Sakura yang menggema cukup keras akhirnya mampu menghentikan aksi baku hantam itu.
Keduanya menatap kaget Sakura, lalu saling mendorong satu sama lain.
Sakura berusaha mengatur napas karena berteriak cukup keras. Ia berbalik dan meminta maaf pada para tetangga yang sudah merasa terganggu karena tindak kekanakan Sasuke dan Sasori. Ia memohon agar tidak perlu melibatkan polisi dalam hal ini. Ia berjanji masalah ini bisa diselesaikannya, karena ini masalah keluarga. Sakura mempertimbangkan reputasi Uchiha yang bisa saja tercoreng karena tindakan bar-bar Sasuke.
Keheningan menyelimuti mereka bertiga saat para tetangga telah pergi dari rumah megah Uchiha.
Sasori menatap sengit sekaligus iri karena Sakura justru memberikan pertolongan pertamanya pada 'lelaki brengsek' itu daripada ia yang kakaknya sendiri.
"Kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku Sakura?" Sakura sontak menghentikan membalut luka Sasuke dan menatap sendu kakaknya.
"Aku…"
"Tidak perlu!" sergah Sasuke tegas. "Karena dia hanya perlu memberikan penjelasan pada suaminya saja, bukan orang lain." Sasuke menekankan kata 'suami'
Sasori terkekeh mendengarnya. "Jadi kau tidak tahu siapa aku?"
"Aku tidak peduli dengan masa lalu Sakura. Yang jelas dia istriku sekarang." Sahut Sasuke dingin.
Sasori kembali tertawa keras, membuat Sasuke makin benci melihatnya.
Selesai melanjutkan mengobati Sasuke, Sakura beringsut mendekat pada Sasori tapi ditahan oleh suaminya.
"Kenapa mendekatinya?" tanya Sasuke dengan nada tidak suka.
"Maaf aku belum mengatakan tentang Sasori." Sasuke mendecak pelan, "Dia kakakku, Sasuke-kun. Selama ini dia ada di Suna karena itu kau belum pernah bertemu dengannya."
Sasori menyeringai penuh kemenangan saat melihat keterkejutan pada wajah bungsu Uchiha itu.
"Jadi…dia kakakmu?" Sakura mengangguk lemah, lalu beranjak mengobati Sasori.
Sasuke menatap tajam Sasori, meski dalam hati ia benar-benar malu karena mengira jika Sasori adalah salah satu pria di masa lalu Sakura. "Aku tidak akan minta maaf untuk yang tadi."
"Khe…kau memang pantas mendapatkan pukulanku. Awh…sakit Sakura!" protes Sasori saat merasakan perih karena Sakura menekan luka robek dibibirnya.
"Salah sendiri kenapa bertindak tanpa bertanya lebih dulu!"
Sasori mendecih. "Kenapa malah membelanya?"
"Dia suamiku kak." sekarang berganti Sasuke yang tersenyum penuh kemenangan. "Kenapa kakak bisa ada di Konoha? kenapa tidak memberitahuku dulu?"
Sasori diam, tak menjawab pertanyaan Sakura. Ia baru ingat soal status pernikahan Sakura. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada adiknya itu.
"Aku memang berniat memberimu kejutan, tapi justru aku yang mendapat 'kejutan'", Sasori menghela napas lelah melihat Sakura semakin menunduk.
"Setelah ini ikut aku pergi. Aku butuh penjelasan." Sakura tersentak mendengarnya dan hanya mampu mengangguk pasrah. Memang sudah seharusnya ia mengatakan yang selama ini terjadi.
"Tidak!" Sasuke menarik Sakura ke belakang tubuhnya. "Mau kau bawa kemana istriku?"
"Itu terserah padaku bocah! Dia adikku." Balas Sasori tak kalah sengit.
"Sasuke-kun…" Sakura tersenyum menggeleng, "Aku hanya sebentar. Lagipula ada banyak hal yang harus aku katakan pada kakak."
Netra hitam Sasuke menatap dalam emerald wanita merah jambu itu. Sejujurnya ia merasa berat harus membiarkan Sakura pergi tanpanya, tapi memang benar kata Sasori. Ini urusan antara kakak dan adik.
Sasuke mendesah. "Baiklah." Lalu memberikan deathglare pada Sasori. "Jaga baik-baik istriku."
"Sialan! Kau pikir aku akan menyakiti adik dan calon keponakanku huh?!"
Perkelahian bagian kedua hampir saja terjadi jika saja Sakura tidak segera menarik Sasori keluar dari rumah.
.
.
.
.
- oOo -
Sasori sengaja menyewa sebuah mobil untuk bisa mengajak Sakura 'jalan-jalan' dan memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai manju karena tiba-tiba Sakura menginginkannya.
"Kau sedang dalam masa ngidam ya?" sindir Sasori yang melihat Sakura makan manjunya dengan lahap.
"Mungkin" Sakura tersenyum mengelus perut buncitnya.
Sasori berencana marah besar pada adiknya itu, tapi melihat senyum cerah Sakura. Rasa marahnya meluap begitu saja.
"Berapa usianya?" Sasori ikut mengelus perut Sakura membuatnya sedikit kaget.
"4 bulan kak."
"Hm…begitu" gumam Sasori. Lalu memakan 1 buah manju lagi.
Suasana kembali hening lagi. Sakura tahu jika kakaknya masih marah padanya karena merahasiakan semua ini. Salahnya bersikeras untuk menyembunyikan semuanya padahal Sakura tahu jika pemuda berambut merah itu benci jika Sakura menutupi masalah darinya.
"Aku minta maaf kak" Sasori menatap lurus emerald indah adiknya tanpa suara.
"Aku tahu kalau kata 'maaf' saja tidak cukup untuk membuatmu tidak marah padaku. Tapi aku…" Sasori tahu Sakura sedang menahan tangisnya, "aku hanya tidak mau menambah beban kakak"
Sasori masih diam.
"Ini semua salahku yang tidak bisa menjaga diri. Aku mohon maafkan aku…" tangisnya pecah begitu saja tanpa bisa ditahannya.
Sasori tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Kak, kumohon bicaralah…kau boleh memukulku kalau kau mau!" Sakura berusaha mengarahkan tangan Sasori ke kepalanya tapi Sasori menepisnya kasar.
"Dasar bodoh!" Sakura tersentak, tapi lega akhirnya Sasori kembali bicara.
"Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menutupi apapun. Apapun itu Sakura." Sakura mengangguk lemah sambil terisak, "Kita hanya berdua di dunia ini, ayah dan ibu sudah pergi. Karena itulah aku selalu bilang bicarakan masalahmu dengan kakak. Aku tidak akan marah. Tapi apa ini?"
Sakura masih tertunduk menyesali perbuatannya. Sasori berinisiatif mendekat dan memeluk erat adik satu-satunya itu. Membiarkan tangis Sakura teredam di dadanya.
"Aku sangat menyayangimu Sakura, lebih dari apapun di dunia ini. Setelah ini berjanjilah jangan rahasiakan apapun lagi. Mengerti?" Sakura mendongak menatap Sasori lalu mengangguk pelan.
Sasori tersenyum lembut, dan mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipi Sakura. "Sekarang ceritakan padaku kisah cinta rumit kalian berdua."
Ssebelumnya Sakura menarik napas dalam sebelum bercerita panjang lebar.
"Sebenarnya kami tidak saling mencintai." Kata Sakura sendu.
"APA?! Ken-" Sakura menahan ucapan Sasori dengan meletakkan telunjuknya di bibir Sasori.
"Dengarkan aku dulu kak…jangan potong ucapanku." Sasori mengangguk patuh.
"Saat itu kampus mengadakan pesta hari jadinya. Sebenarnya aku tidak ingin datang ke sana tapi sahabatku Ino memaksa dengan mengatakan kalau semua mahasiswa wajib hadir. Dan akhirnya aku datang malam itu. Tapi diluar dugaan Ino batal datang." Mata Sakura kembali berkaca-kaca mengingat kenangannya bersama Sai.
"Lalu tanpa sengaja aku meminum entah wine atau apa itu. Kepalaku pusing dan tanpa sadar juga aku sudah mabuk. Lalu temanku bernama Sai datang, dia menyadari jika aku sudah mulai mabuk meski hanya meminum segelas saja. Kemudian dia menawarkan untuk mengantarku ke rumah tapi aku bilang aku tidak mau karena takut kalau kau marah."
Sasori menggertakkan giginya, memejamkan matanya erat. Sepertinya dari sini ia mulai memahami ini.
"Jadi Sai membawaku ke rumahnya, dan saat aku mabuk tanpa sadar aku menyatakan perasaanku padanya. Aku bahkan menciumnya, meski dia menolaknya karena tidak ingin menyakitiku. Tapi ternyata Sai memiliki perasaan yang sama denganku, kami larut dalam suasana itu dan…kami melakukannya." Sakura memalingkan wajahnya memerah karena malu luar biasa.
"Tapi kenapa kau menikah dengan Si Sasuke itu? Apa Sai melarikan diri dari tanggung jawab?!" sela Sasori emosi tak bisa menahan lagi rasa penasarannya. Ia tak menyangka adiknya mengalami hal sepelik ini.
Sakura menggeleng cepat. "Sai bahkan sempat mengatakan jika dia ingin menikahiku, tapi Tuhan berkata lain hiks…hiks…. Sai meninggal karena sebuah kecelakaan saat menjemput kepulangan ayahnya dari luar negeri kak…" Sakura menutup wajahnya yang sudah basah karena air mata.
"Awalnya aku tidak percaya itu semua. Tapi aku melihat sendiri makamnya. Dan…" Sakura berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak. "Dan aku tidak tahu bagaimana aku sudah berada di rumah sakit. Sasukelah yang menolongku katanya aku pingsan di makam Sai. Lalu dia menawarkan sebuah pernikahan padaku. Dia bilang mau menolongku karena untuk membalas budi."
"Membalas budi?" alis Sasori terangkat tinggi.
Sakura mengangguk. "Aku pernah menolong seorang wanita paruh baya korban kecelakaan dan ternyata itu ibunya Sasuke."
Sasori menghela napas dalam. "Sakura, aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu saat itu sampai-sampai kau merahasiakan masalah sebesar ini dariku."
"Maaf kak…aku takut kalau kau kecewa dan akan menyeretku kembali ke Suna."
"Tentu saja kembali ke Suna! Memang mau kemana lagi? Beasiswamu pasti sudah dicabut kan?" balas Sasori tak terima.
Sakura menggeleng kuat. "Tidak kak. Kampus tidak mengetahui jika aku hamil di luar nikah. Karena Sasuke menikahiku, jadi aku bisa beralasan cuti menikah."
"Jadi kau berencana melanjutkan kuliahmu lagi setelah melahirkan?" Sakura mengangguk sekali lagi.
Sasori memijit pelipisnya yang terasa pening. Lalu menghela napas kasar. "Kita lanjutkan saja jalan-jalannya. Kurasa kita butuh refreshing agar tidak strees."
.
.
.
.
- oOo -
Berulangkali netra hitamnya menatap ke arah jam dinding. Uchiha Sasuke ingin sekali membunuh waktu agar membuatnya tak menunggu terlalu lama kepulangan Sang istri atau seharusnya 'membunuh' kakaknya Sakura?
Sasuke mendecak kesal. "Ini sudah hampir jam 10 malam. Kemana muka bayi itu membawa Sakura?!"
TING TONG TING TONG
Sasuke langsung melesat menuju pintu depan begitu terdengar suara bel berbunyi. Begitu ia membuka pintu terkejut bukan main melihat Sakura berada digendongan kakaknya.
"Apa yang-" teguran Sasuke terhenti karena Sasori mengisyaratkannya agar tidak mengeraskan suara.
"Sakura kenapa?" Sasuke mengecilkan suaranya.
Sasori tak menjawab malah langsung masuk ke dalam rumah. Menoleh malas ke arah Sasuke, "Dimana kamar Sakura?"
"Maksudmu kamar kami berdua?" Sasuke menunjuk kamar yang berada di sebelah kiri tangga, di lantai dua.
Sasori meletakkan Sakura dengan hati-hati di ranjang karena takut membuatnya bangun dari tidur lelapnya. Lalu meminta Sasuke ikut keluar dari kamar karena ia ingin membicarakan sesuatu dengan suami Sakura itu.
"Jadi…" Sasuke mulai membuka pembicaraan, "kenapa Sakura?"
"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan tertidur di mobil saat perjalanan pulang."
"Sudah kubilang untuk menjaganya kan?" Sasuke kesal setengah mati, "Kau mau mencelakakan anakku?!"
Sasori mendenguskan tawa. "Anakmu? Aku sudah dengar semua ceritanya."
Sasuke tersentak sesaat, lalu mengalihkan pandangannya dari pemuda berwajah baby face itu.
Sasuke diam. Dan Sasori pun ikut diam, tapi ia terus menatap intens Sasuke.
"Hei pantat ayam!"
"Apa kau bilang!" Sasuke mendelik, nyaris menerjang Sasori tapi perkataannya menghentikan Sasuke.
"Ceraikan Sakura." Titahnya tegas.
Sasuke membeku. Menatap Sasori terkejut. "A..pa?" tanyanya lirih.
Sasori diam balas menatap tajam Sasuke.
"Aku tidak akan melepaskan apapun yang sudah menjadi milikku." Kata Sasuke penuh penekanan.
"Tapi kau tidak mencintai Sakura kan? Jadi lepaskan dia."
Sasuke tersenyum miring. "Aku tidak peduli dengan pendapatmu. Sakura dan bayi dalam kandungannya milikku."
"Meski dia bukan anakmu?" sela Sasori.
"Ya. Sejak awal aku sudah tahu dan aku tidak peduli meski-"
"Kau mencintainya." Potong Sasori cepat. Ia menyeringai kala melihat Sasuke terperangah.
"Alasan balas budi itu alasan paling konyol yang pernah aku dengar. Aku tahu kau bukan tipikal yang akan membalas kebaikan seseorang dengan mengorbankan hidupmu. Kau punya uang dan segalanya, tentu bisa membalasnya dengan cara lain." Lanjut Sasori panjang lebar.
"Perlu cinta yang besar untuk menerima Sakura yang mencintai dan mengandung bayi orang lain. Tapi kau bisa melakukannya." Sasuke tersenyum tipis mendengarnya.
"Tapi dengar satu hal" ada kilatan tajam dikedua netra hazel Sasori, "kalau suatu saat kau merasa menyesal menikahi adikku dan kau meninggalkannya begitu saja. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Aku tidak peduli jika itu berarti aku juga harus mati."
Sasuke bisa menilai dengan mudah jika pria di depannya ini pengidap sister complex tingkat akut. Sebenarnya ia merasa sedikit cemburu saat ada pria lain yang begitu dekat dengan Sakura, tapi ia tak punya hak untuk melarang Sakura berhubungan dengan kakak kandungnya sendiri kan? Tapi di sisi lain ia lega, ucapan Sasori layaknya restu baginya.
"Aku bisa melepaskan segalanya, kecuali Sakura."
Perkataan Sasuke membuat Sasori lega, sekarang ia punya alasan untuk tidak terlalu mengkhawatirkan lagi adik tersayangnya. Menurutnya Sakura sudah berada pada tangan yang tepat.
.
.
.
.
- oOo -
Hal inilah yang ia takutkan semenjak kedatangan Haruno Sasori di rumahnya. Sudah beberapa hari ini, Sasori berhasil mencuri perhatian Sakura darinya. Banyak waktu yang biasanya ia habiskan berdua saja dengan Sakura, sekarang diambil alih oleh kakaknya itu.
Seperti hari ini contohnya, biasanya ia akan mendengar suara merdu dan belaian lembut Sakura di kepalanya untuk membangunkannya sarapan pagi tapi kebiasaan itu mendadak sirna. Sasuke tak mendapati Sakura membangunkannya, justru asyik bercengkrama dengan kakaknya di dapur.
"Kenapa tidak membangunkanku?"
Sakura tersentak mendengar teguran suaminya saat sedang asyik memasak di dapur dengan Sang kakak.
"Kau kan bukan anak kecil? Bisa bangun sendiri kan?" sindir Sasori masih berkutat dengan sup kentangnya.
Sasuke mendecih pelan, sedetik kemudian ia menyeringai dan secepat kilat mendekati Sakura dan mendaratkan kecupan singkat di dahinya. "Ohayou tsuma…"
Wajah Sakura langsung memarah padam mendengar panggilan baru Sasuke padanya. Tidak biasanya dia seperti ini.
"Ugh! Sialan mataku ternoda adegan rate M. lakukan itu dikamar, pantat ayam!" sindir Sasori sambil berpura-pura menutup mata. Sasuke tersenyum miring.
"Kakak!" wajah Sakura makin memerah seperti buah kesukaan Sasuke. Ia langsung beringsut ke ruang makan karena tidak tahan digoda oleh kakak dan suaminya.
"Hei!" Sasuke menghentikan langkahnya yang ingin menyusul Sakura. Lalu mengisyaratkan 'ada apa?' melalui matanya pada Sasori.
"Kau tidak seharusnya cemburu padaku, adik ipar." Sasori meyeringai kala melihat Sasuke tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, "Saat bersamaku dia selalu menceritakanmu. Bukankah itu awal yang bagus untukmu mengambil hatinya?"
"Hn" hanya gumaman ala Uchiha yang keluar dari mulutnya, tapi dalam hatinya ia berteriak kegirangan saat tahu jika Sakura mulai membicarakan dirinya. Terlebih sekarang ia juga sudah mendapat dukungan dari kakak iparnya.
Setelah sempat terjadi perdebatan di dapur, mereka bertiga kembali akur dan sarapan pagi dengan tenang. Awalnya Sasuke menganggap Sasori sebagai pengganggu yang menyebalkan tapi lambat laun penilaiannya berubah. Menurutnya, Sasori kakak yang penyayang dan tegas. Hal itulah yang dipelajarinya, dia akan melindungi Sakura melebihi kakak kandungnya.
"Sasuke-kun tidak ke kantor?" tanya Sakura seraya membantu Sang kakak membereskan peralatan makan.
Sasuke menggeleng. "Tidak, hari ini aku ada jadwal kuliah."
"Ya sudah cepat berangkat sana!" Sasori membentuk gesture mengusir Sang pemilik rumah. "Biar aku yang menjaga Sakura."
"Hn"
Tidak ada alasan Sasuke untuk meragukan Sasori (lagi). Sakura pasti akan baik-baik saja bersama kakaknya.
"Ittekimasu"
"Itterasai, Sasuke-kun." Sakura melambaikan tangan pada Sasuke yang memasuki mobilnya.
.
.
.
.
- oOo -
Sasuke menghela napas kasar mendengar sahabat pirangnya yang terus bergerak gelisah disampingya. Padahal Sasuke tahu jika Naruto itu paling mengerti dirinya yang membenci suasana berisik saat sedang konsentrasi belajar.
"Dobe, lebih baik kau pulang sekarang." Ucap Sasuke kesal setengah mati.
Naruto memanyunkan bibirnya. "Mana mungkin? Masih ada kuliah Iruka-sensei, kalau bolos lagi pasti dia tidak akan meluluskanku di mata kuliah ini."
"Tapi kau mengganggu konsentrasiku, baka! Sebenarnya ada apa denganmu?"
Naruto menatap Sasuke sesaat, sebelum kembali menelungkupkan kepalanya.
Sasuke mendecak kesal. "Apa ini soal kepulangan Hinata ke Konoha?"
Naruto tidak memberi respon dan Sasuke artikan itu 'iya',
"Aku tahu kau itu usuratonkachi," Naruto mendelik, "tapi aku yakin kau bisa memahami jika Hinata menyukaimu. Benar-benar menyukaimu Naruto."
"Ya"
"Lalu?" sahut Sasuke kehilangan kesabaran.
"Aku…ehm…hanya merasa tak pantas menyatakan perasaanku." Kata Naruto lirih.
"Apa yang membuatmu tak pantas?" Sasuke bersidekap.
"Kau tahu sendiri jika aku yatim piatu kan? Aku tidak memiliki apa-apa untuk bisa membahagiakan Hinata."
"Aku yakin kau tidak akan membiarkan itu terjadi. Lagipula Hinata sejauh yang kukenal bukanlah wanita seperti itu." Sasuke menepuk pundak Naruto, "Dia jatuh cinta padamu karena kebaikan hatimu." Sebenarnya Sasuke merasa jijik memuji sahabat dobenya. Seperti bukan dirinya saja.
"Mungkin Hinata bisa menerimaku, tapi bagaimana dengan orang tuanya? Juga jangan lupakan Neji." Naruto begidik ngeri mengingat Neji pengidap sister complex.
"Setahuku kau tidak punya alasan untuk minder. Kau bukan kriminal atau pengangguran. Bahkan kuliah ini dari hasil kerja kerasmu sendiri, bukankah itu membanggakan?" Sasuke menyesap jus tomatnya. Naruto bekerja keras sejak duduk di bangku SMA untuk membiayai kuliahnya dengan kerja paruh waktu sebagai desainer freelance disebuah perusahaan swasta. Menurut Sasuke itu cukup membanggakan, dibanding dirinya yang hanya meneruskan usaha dari orang tuanya.
"Dan soal orang tua Hinata dan Neji kau hanya perlu keberanian untuk meyakinkan mereka berdua."
Naruto termenung mendengar penjelasan sahabat masa kecilnya. "Entahlah teme…"
Sasuke memutar bola matanya bosan. "Kesempatanmu hanya tinggal hari ini saja."
"Apa maksudmu?"
"Hinata akan kembali ke Prancis malam nanti. Aku beserta keluarga akan mengantarnya ke bandara." Ucap Sasuke sedikit menyeringai. Dari ekspresi Naruto saja Sasuke bisa menebak, bahwa sahabat masa kecilnya itu tidak akan diam saja.
Sasuke melirik sekilas jam tangannya, lalu menepuk pelan bahu Naruto, "Waktunya mata kuliah Iruka-sensei."
.
.
.
.
- oOo -
"Jadi besok kakak akan pulang?"
Sakura menghentikan aktivitasnya menyiram bunga di taman belakang rumahnya. Ia menatap tak percaya Sasori yang sedang santai menikmati ocha hangat duduk di bangku taman.
"Ya."
"Tapi…kenapa cepat sekali? Kau sudah bosan melihatku?" Mungkin ini pengaruh mood ibu hamil. Kedua manik hijau cerah itu berubah meredup karena air mata yang siap tumpah kapan saja. Ia masih sangat merindukan kakaknya, masih ingin bersama kakaknya.
Sasori yang melihat itu berjalan mendekat dan menepuk lembut puncak kepala merah muda Sang adik. Sakura memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Hei, kau pikir mudah minta izin cuti bosku disaat banyak tugas deadline menumpuk? Ditambah lagi aku ini pegawai baru, jadi mana bisa seenaknya."
Sakura membalikkan badan mempoutkan bibirnya. Sasori menghela napas lelah.
"Aku minta maaf ya? Aku janji jika ada waktu lagi aku akan mengunjungimu." Sasori memeluk Sakura dan mengusap punggungnya penuh kasih sayang. Sakura membalas pelukan Sang kakak sambil terisak.
"Janji ya?" Sasori mengangguk.
"Aku akan bawakan hadiah besar untuk keponakanku nanti." Kata Sasori seraya mengusap perut buncit Sakura. Sakura terkekeh mendengarnya.
Sakura kembali melanjutkan aktivitas menyiramnya. Sebenarnya Sasori melarangnya bekerja berlebihan, tapi Sakura ngotot bahwa jika menyiram bukan pekerjaan yang berat dan tidak membahayakan diri dan janinnya. Akhirnya Sasori hanya bisa mengawasinya dari jauh.
Setelah menyiram bunga Sasori membantu Sakura menyiapkan makan malam. Sebenarnya dirumah ini Sasuke sudah mempekerjakan beberapa maid tapi Sakura melarang maid khusus untuk memasak di dapur, kecuali ada acara besar.
"Eh…Sakura marga suamimu itu Uchiha kan?" Sakura mengangguk.
"Kenapa kak?" Sakura menatap heran kakaknya. Ia yakin Sasori sebelumnya tak pernah mengenal Sasuke.
Sasori menggeleng tersenyum. "Ah…tidak. Mungkin hanya perasaanku saja. Aku merasa familiar dengan marga itu."
Sakura memilih untuk tak bertanya lebih jauh lagi. Dan ia mulai menata nasi, sayur, dan lauk pauk di meja makan.
"Tadaima"
"Sasuke-kun sudah pulang." Ucap Sakura berbinar membuat Sasori terkekeh. Adiknya ini mirip remaja yang sedang kasmaran saja. Ia yakin tak butuh waktu lama untuk Sasuke bisa merebut hati adiknya.
"Ya sudah sana cepat sambut suamimu dengan kecup basah." Goda Sasori tertawa keras dan mendapat pukulan di lengan lumayan keras juga dari Sakura sebelum adiknya itu menuju ruang tamu.
"Okaeri" Sakura menyambut Sang suami dengan senyum lebar, "Aku sudah siapkan makan malam Sasuke-kun. Em…atau kau mau mandi dulu?"
"Aku mandi dulu saja. Sebentar lagi aku menyusulmu ke ruang makan." Sakura mengangguk.
"Dimana si pantat ayam itu?" tanya Sasori sekembalinya Sakura dari ruang tamu.
"Kak, jangan memanggilnya begitu!" keluh Sakura menjewer pipi Sasori.
"Kenapa? Rambutnya memang mirip pantat ayam." Sasori mengelus pipinya yang serasa panas.
"Dia hanya iri denganku Sakura" celetuk Sasuke yang langsung menduduki salah satu kursi di ruang makan. Sasori mendecih dan memilih tak menanggapi sindiran adik iparnya itu.
Sakura tertawa kecil melihatnya. Tingkah suaminya dan kakaknya memang kekanakan. Awalnya dia merasa terganggu dengan hal ini, tapi lambat laun ia mulai terbiasa dan menganggap hal ini sebagai keakraban yang terjalin antara suaminya dan kakaknya.
"Sakura, setelah ini bersiaplah kita akan ke bandara."
Sasori nyaris tersedak minumannya. "Kalian mau kemana? Bulan madu kedua?"
Sasuke mendecak pelan. "Bukan urusanmu!"
Sakura menghela napas lelah. Pertengkaran tidak penting selalu terjadi saat keduanya bertemu begini. "Memang kita akan kemana, Sasuke-kun? Apa ini urusan bisnis?"
Sasuke menggeleng. "Bukan 'kita', tapi Hinata. Dia akan kembali ke Prancis nanti."
"Siapa Hinata?" timpal Sasori, menyipit menatap tajam Sasuke.
"Hinata teman Sasuke sejak kecil, kak." Jawab Sakura.
Sasori mendenguskan tawa. Teman? Di zaman sekarang ini teman itu memiliki banyak arti, apalagi pertemanan antara lelaki dan wanita. Jarang diantara mereka yang memang hanya murni bersikap layaknya teman.
"Dengar ya pantat ayam!" Sasuke mendelik tak suka pada Sasori, "Jangan lupakan yang kukatakan waktu itu. Aku. Tidak . Main-main." Ucapnya penuh penekanan.
"Memang apa yang kakak katakan pada Sasuke-kun?" kini giliran Sakura mentap curiga pada kakaknya.
"Itu urusanku dengan pantat ayam ini, Sakura." Katanya masih melirik pada Sasuke. Sedangkan yang dipandangnya acuh saja menangkat bahu. Kecurigaan Sasori tak akan terbukti apapun, karena baginya Hinata hanya sahabatnya saja dan ia memperlakukannya layaknya seorang teman. Bukan teman tapi ini atau itu seperti yang ada dipikiran Sasori.
Sakura mendesah lelah, lalu berpamitan pada suaminya untuk berganti baju.
.
.
.
.
- oOo -
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu memeluk erat gadis bersurai sewarna dengannya. Mengelus punggungnya penuh kasih sayang. Ia sudah menganggap gadis dipelukannya seperti putrinya sendiri.
"Kau harus tetap sering ke Konoha ya? Jangan lupakan Paman dan Bibi." Ucap Mikoto mengelus lembut pipi gembil Hinata.
Hinata mengangguk. "Tentu Ba-san. Konoha tetaplah rumahku kemana pun aku pergi."
Fugaku yang berada tak jauh dari istrinya berjalan dan memberikan pelukan singkat pada Hinata. Dan menepuk puncak indigo milik Hinata. "Jaga dirimu." Hinata mengangguk lagi.
Gadis berdarah Hyuuga itu tak dapat menahan air matanya untuk tidak menetes menatap haru ayah, kakak juga keluarga Sasuke begitu menyayanginya layaknya keluarga sendiri. Mereka yang selama ini mendukung penuh karir Hinata.
"Hinata-san."
"Ah…Sakura ka? Terima kasih sudah datang kemari. Apa Sasuke-kun yang memaksamu kemari?" sindirnya melirik Sasuke yang menatap malas padanya.
Sakura menggeleng tersenyum. "Tidak. Dia tidak memaksaku, hanya mengajakku." Sakura terkekeh lagi, "Selamat jalan. Aku mendoakan agar karir Hinata-san terus lancar dan jangan lupakan kami. Kami akan selalu merindukanmu di sini."
Hinata tersipu. "Ah…kau manis sekali Sakura-san." Hinata memeluk Sakura dengan erat.
"Jangan memeluknya terlalu erat!" celetuk Sasuke memaksa melepas pelukan Hinata pada Sakura, "anakku tidak bisa bernapas nanti."
"Dasar pelit!" Hinata meleletkan lidah. "Sakura aku janji kalau anak kalian lahir, aku usahakan kembali lagi ke Konoha." Sakura mengangguk seraya mengulum senyum.
"Jaga dirimu baik-baik. Kau tahu bagaimana cara mengabariku kan? Alamat emailku masih sama." Ucapan Sasuke ini memang terdengar dingin. Tapi Hinata paham ini bentuk perhatiannya sebagai sahabat. Ia tahu jika Sasuke tidak pandai berkata manis.
Hinata mengangguk. "Kabari aku jika anak kalian sudah lahir."
Hinata meraih kopernya dan mulai berjalan ke arah gate dengan tujuan ke Prancis. Ia melambaikan tangan ke arah keluarga yang mengantarnya dengan tatapan sendu. Sebenarnya ada satu orang lain lagi yang masih ia tunggu kedatangannya. Dari awal kedatangannya ke Konoha ia selalu berharap berita yang beredar tentang kepulangannya akan membuat orang itu datang menemuinya meski hanya sekedar menyapanya. Tapi nyatanya Hinata sudah 2 minggu di Konoha, orang itu sama sekali tidak menemuinya.
Hinata menggeleng kecil. Tidak seharusnya ia menaruh harapan padanya. Padahal sudah jelas dia tak memiliki perasaan yang sama pada Hinata. Ia memantapkan langkahnya berbalik dan menyegerakan untuk pergi dari sini. Setelah ini ia benar-benar harus menghapuskan harapannya.
"HINATA!"
Hinata merasa seluruh tubuhnya beku mendengar suara yang memanggilnya. Berapa tahun sejak pertemuan terakhirnya akhirnya ia bisa mendengar suara ini lagi. Ia merasa lega, bahagia, juga gugup.
Dengan gerakan kaku Hinata membalikkan badannya. Amethyst-nya melebar kala melihat sosok yang sudah disukainya sejak lama sedang berusaha mengatur napasnya yang tersengal, rambut jabrik kuning kebanggaannya terlihat sangat berantakan, keringat juga bergerumbul dipelipisnya. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah pemuda Uzumaki itu mengenakan pemberian ulang tahunnya beberapa tahun lalu. Sebuah syal berwarna merah buatan tangannya sendiri.
Apakah dia baru saja berlari sekuat tenaga kemari?, tanya Hinata dalam hati.
"Na..Naruto-kun."
Naruto berjalan semakin mendekat hingga jarak mereka tidak lagi terlampau jauh.
"Maaf…hah…aku datang…hah…terlambat." Kata Naruto yang masih berusaha mengatur napasnya.
Hinata menggeleng. "T-tidak apa-apa, Naruto-kun." Kebiasaan bicara terbata-bata ini muncul lagi jika ia sudah merasa gugup setengah mati.
Hening.
Hinata berusaha memalingkan pandangnnya saat menyadari Naruto menatapnya intens.
"Kau…pergi lagi?"
Hinata mengangguk. "Un…Pekerjaan di Prancis masih menunggu. A-aku harus segera kembali."
Naruto menggeleng kuat. "Bukan itu-ttebayou. Tapi dari hidupku."
Hinata terperangah.
"Aku…begitu bodoh baru menyadari ada gadis cantik yang begitu baik mencintaiku dengan tulus. Tapi aku terlalu sibuk menilai diriku sendiri. Aku terlalu takut untuk dicintai orang baik sepertimu Hinata, karena itu selama ini aku hanya diam saat kau dulu menyatakan perasaanmu." Naruto meraih pergelangan tangan Hinata. Menggenggamnya erat.
"Sekarang aku tidak akan melepasnya lagi. Sudah cukup aku kehilangan orang yang aku sayangi."
"Na-Naruto-kun, k-kau…" wajah Hinata sudah merona hebat. Ia bersyukur tidak pingsan saat ini.
Naruto mengulum senyum, lalu mengangguk. "Ya. Aku mencintaimu Hinata."
Gadis Hyuuga itu berharap bahwa hari ini bukan mimpi belaka. Pria yang selama ini dicintainya membalas perasaannya setelah bertahun-tahun ia menunggu. Hinata tak tahu harus berekspresi seperti apa, ia terlalu bahagia. Sampai rasanya ingin meledak.
"Naruto-kun, terima kasih. Aku…mencintaimu." Hinata melompat memeluk Naruto tanpa sadar. Ia tak peduli meski jadi tontonan banyak orang, termasuk keluarganya. Sekarang yang terpenting adalah Naruto menerima perasaannya.
Naruto mengendurkan pelukannya setelah beberapa saat, dan kemudian mendekatkan wajah mereka berdua hingga akhirnya kedua bibir itu pun menyatu. Naruto melumat lembut bibir Hinata.
PLOK PLOK PLOK
Bagai menonton drama gratis. Semua calon penumpak yang berada disekitar Hinata dan Naruto memberikan tepuk tangan meriah. Menatap kagum keromantisan mereka berdua.
"NA-RU-TOOO!"
"Dobe! Bahaya mendekat!" teriak Sasuke kalut dari kejauhan sambil menunjuk ke arah Neji yang berlari ke arahnya.
Ups! Terlalu larut dalam suasana Naruto sampai lupa jika Ayah Hinata dan kakak Hinata yang pengidap sister complex itu masih ada di sini. Mereka berdua lantas memisahkan diri. Naruto menatap ngeri Neji yang terlihat menyeramkam, seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Kemari kau! Beraninya menyentuh Hinata!" teriak Neji murka. Ia terus berusaha menerjang Naruto tapi Hinata menghalanginya.
Sekali lagi orang-orang disekitar mereka tertawa lepas melihat tingkah keluarga Hyuuga dan Naruto. Mikoto dan Fugaku hanya tertawa kecil, sedangkan Hiashi hanya bisa mengelus dada. Sepertinya dalam waktu dekat ia akan segera menyusul keluarga Uchiha membuat sebuah acara pernikahan untuk putrinya.
Sasuke meringis membayangkan nasib Naruto selanjutnya. Diam-diam ia melirik istrinya disebelahnya yang menatap haru ke arah pasangan yang baru saja meresmikan hubungan mereka. Sebuah ide jahil terlintas dibenaknya.
Sasuke menyikut pelan lengan Sakura hingga membuatnya kaget. "Kau tidak lagi salah paham dengan hubunganku dan Hinata kan?"
"Se-sejak awal kan sudah kubilang kalau aku tidak salah paham." Jawab Sakura memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Aku hanya iri pada mereka." Sakura kembali menatap bahagia Naruto dan Hinata.
Sasuke diam sambil ikut menatap ke arah Naruto yang menjadi 'sasaran empuk' Neji. Apa yang membuat istrinya ini iri?
Sasuke menyeringai. "Oh…jadi kau menginginkannya ya?"
"A…pa?" Sakura memundurkan wajahnya karena Sasuke semakin mendekat.
"Ciuman seperti mereka." Tukas Sasuke.
Sakura salah tingkah luar biasa. Dengan cepat ia merogoh isi tasnya dan mengambil smartphone-nya. "Ha..halo? oh..iya kak sebentar lagi ini juga akan pulang. Iya..iya…takoyaki kan? Ya..ampun malam-malam begini masih ingin makan juga kau ini."
Sasuke menggelengkan kepalanya. Sudah jelas jika istrinya ini berbohong. Tapi ia masih punya stok kesabaran untuk bisa mendapatkan seluruh hati wanita merah muda ini.
.
.
.
.
- oOo -
Sudah satu bulan berlalu sejak kepulangan pemuda berwajah baby face itu ke Suna. Hal itu membuat suasana hati Sakura juga ikut berubah, ditambah lagi saat ini Sasuke harus meninggalkan istrinya itu untuk urusan bisnis keluar kota 3 – 4 hari. Kalau tidak sangat mendesak sudah pasti ia menolak pertemuan dengan klien barunya.
"Jangan khawatirkan apapun, Sasuke. Istrimu akan baik-baik saja bersama ibu." Ucap Mikoto mengelus perut buncit Sakura penuh kasih sayang.
Bungsu Uchiha itu memang sudah merencanakan kepindahan sementara Sakura ke rumah orang tuanya selama Sasuke pergi ke luar kota. Awalnya Sakura menolak karena tidak mau merepotkan Sang mertua, tapi dasarnya Sasuke keras kepala jika mengenai keselamatan istrinya, akhirnya Sakura mengalah meski dalam hati ia masih merasa tidak enak pada ayah dan ibu Sasuke.
"Maaf merepotkan bu. Sasuke-kun yang"
"Merepotkan apanya?" hardik Mikoto, "Kau itu putriku juga. Benar sudah yang dilakukan putraku menitipkanmu disini selama dia pergi, jadi kami atau pun Sasuke tidak perlu was-was."
Sakura hanya bisa memaksakan senyum diwajahnya. Tapi entah mengapa rasanya aneh berjauhan dengan suaminya. Ini memang pertama kalinya Sasuke pergi ke luar kota sejak mereka menikah. Mungkin perasaan ini muncul karena Sakura sudah mulai terbiasa dengan segala perhatian Sasuke.
Sore harinya Sakura membantu suaminya untuk mengepak pakaian yang akan digunakan Sasuke selama pergi ke Kota Ame. Pemuda berwajah tampan itu sudah melarangnya, tapi kali ini ia tak bisa melawan mood ibu hamil. Sakura jika sedang marah lebih menyeramkan darinya.
"Hanya 3 – 4 hari kan?" Sakura menatap Sasuke sendu. Sasuke mengangguk.
"Aku usahakan lebih cepat." Sasuke mengacak pelan rambut sewarna bunga kebanggaan Jepang itu, lalu menarik Sakura dalam pelukan yang posesif meski tak terlalu erat. Sakura membalasnya perlahan.
"Aku akan merindukanmu." Gumam Sasuke.
"Kau jaga diri disana, jangan terlalu lelah." Sasuke mengendurkan pelukannya dan mengangguk, "Kami menunggu disini, Tou-san." Sakura mengeluarkan suara jenaka layaknya anak kecil, seraya mengelus perut menonjolnya.
Sasuke tertawa kecil dan menyentil dahi Sakura pelan sebagai balasannya.
"Ne, Sasuke-kun. Kira-kira apa yang terjadi dengan Naruto ya?" Sakura teringat insiden di bandara beberapa waktu lalu. Sampai sekarang masih belum terdengar perkembangan hubungan antara Naruto dan Hinata.
Dahi Sasuke mengernyit. "Memang kenapa?"
"Maksudku…apa Hiashi-jisan dan Neji-san akan merestui hubungan mereka? Lalu bagaimana dengan karir Hinata-san?" cerca Sakura penasaran.
"Oh…Hinata memang kemarin tetap kembali ke Prancis untuk menyelesaikan pekerjaan disana, tapi ia berencana akan kembali berkarir di Konoha karena dobe akhirnya menyadari perasaannya." Jawab Sasuke.
"Kalau soal Hiashi-jisan dan Neji, tergantung bagaimana perjuangan Naruto meyakinkan keduanya. Toh…Paman dan Neji mengenal Naruto tidak satu atau dua hari tapi sejak kecil. Orang tua kami bertiga bersahabat sejak lama. Sayangnya, Orang tua Naruto mengalami kecelakaan pesawat dan meninggal saat Naruto baru masuk SMA." Tukasnya.
Sakura terenyuh mendengar kisah salah seorang teman Sasuke. "Naruto orang yang tegar ya? Aku berharap hubungan keduanya berjalan lancar."
"Hn. Sekarang kau harus istirahat." Sasuke menggiring Sakura menaiki ranjang mereka. Dalam hati ia pun berharap perjuangannya mendapatkan hati Sakura juga berjalan lancar.
.
.
.
.
- oOo -
Wanita beriris emerald itu menatap heran mertuanya sedang mengenakan pakaian serba hitam. Padahal sebelum ini Sakura yakin tidak mendengar berita kematian disekitar Mansion Uchiha.
"Eh…Ibu ingin melayat kemana?" tanya Sakura akhirnya memberanikan diri. Ia menghampiri Mikoto yang sudah akan berjalan menuju halaman rumah.
"Oh Kami-sama, aku sampai lupa memberitahumu. Hari ini adalah hari peringatan kematian kakeknya Sasuke. Karena itu kami berencana mengunjungi makamnya." Jelas Mikoto.
"Boleh aku ikut?" Sakura berharap mertuanya tidak menolaknya.
"Tapi…"
"Biarkan dia ikut, Mikoto." Potong Fugaku cepat, "Sekalian memperkenalkan anggota baru keluarga kita pada ayah."
Mikoto nampak berfikir sejenak, dan akhirnya menjawab. "Baiklah, ini tidak akan lama. Aku tidak mau membuatmu lelah dan Sasuke bisa mengomeliku nanti."
Sakura mengangguk senang seraya terkekeh kecil. Terkadang Ibunya terlihat lebih takut pada putranya ketimbang suaminya sendiri.
Sesampainya di sana Mikoto dan Fugaku berjalan ke arah makam yang tak jauh dari pintu masuk areal pemakaman. Mereka menaruh seikat bunga dan sesaji di salah satu makam bertuliskan 'Uchiha Madara'. Sebagai menantu yang baik Sakura pun ikut mendoakan kakek Uchiha Sasuke itu.
"Ayah, perkenalkan ini menantuku. Namanya Sakura. Lebih tepatnya Uchiha Sakura." Ucap Mikoto pada batu nisan di depannya setelah menyelesaikan doa.
"Aku berharap ayah bisa tenang di sana karena sekarang Sasuke sudah bersanding dengan orang yang tepat. Cucu kesayanganmu sudah dewasa, Ayah." Timpal Fugaku seraya menyunggingkan senyum tipis ke arah Sakura.
"Yoroshiku, Madara-jiisan" Sakura menunduk hormat.
"Mikoto?"
Mikoto yang mendengar namanya dipanggil menoleh ke arah timurnya saat mereka bertiga sudah hampir sampai di pintu masuk pemakaman.
"K..kau Yoshino kan?" pekik Mikoto senang.
Yoshino mengangguk. "Aku senang kau masih ingat denganku."
Mikoto langsung berhambur memeluk teman lama semasa SMA-nya itu. Entah sudah berapa tahun mereka tidak bertemu dan lost contact, ia tak menyangka akan bertemu disini. Fugaku yang juga mengenal Yoshino pun ikut menyapa. Mereka bertiga akhirnya terlibat perbincangan hangat.
Dari arah kejauhan Sakura melihat ada wanita paruh baya sedang susah payah mengumpulkan buah untuk sesaji yang jatuh karena kantongnya yang rusak. Sakura pun berinisiatif mendekat dan membantunya.
"Ah…terima kasih nona. Anda baik sekali, tapi sebaiknya jangan diteruskan Anda sedang hamil." Kata wanita itu mencoba menahan tangan Sakura yang membantunya memungut buah-buahan yang jatuh.
Sakura menggeleng tersenyum, lalu berkata, "Tidak apa-apa bu… biar saya-"
DUAK
Sebuah pukulan cukup keras mendarat ditengkuk Sakura. Sekuat tenaga ia mencoba untuk mempertahankan kesadarannya tapi naas Sakura akhirnya tidak dapat mempertahankan keseimbangannya pun limbung dan tak sadarkan diri. Hal terakhir yang ia ingat ada sepasang tangan yang menahan tubuhnya tidak sampai jatuh ke tanah.
"Ah…iya Yoshino, aku sampai lupa memperkenalkan menantuku. Perkenalkan dia…Sakura? Kami-sama! Dimana Sakura?" Mikoto mendadak panik tak mendapati Sakura yang tadinya berdiri dibelakangnya.
"Sakura!" Fugaku jadi ikut panik mencari menantunya itu. Tapi nihil, dia tidak ditemukan dimana pun.
"Bagaimana dia bisa hilang?" Yoshino ikut terkejut mendengar jeritan Mikoto.
"Anata, bagaimana ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Sakura?" keluh Mikoto tanpa bisa menahan air matanya. Yoshino berusaha menenangkannya.
Fugaku sendiri langsung menghubungi anak buahnya untuk melakukan pencarian di sekitar areal pemakaman.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
A/N:
Akhirnya satu fic multichap bisa update lagi (ambekan gede). Mohon maaf ya lama updatenya *DilemparGolok *AuthorTepar XD
Mbah Madara yang ganteng saya munculkan sedikit (namanya saja) :D
Kira-kira siapa yang nyulik Sakura ya? Hmm….ditunggu dichap depan ya? :D (modus author)
Waktunya balas review *_*
Hanazono yuri: Nejisaku ya? Hm…bisa diatur. Wani piro? Wkkwkw becanda…becanda loh… kemungkinan ada meski porsinya ngga banyak.
Wowwoh geegee: Yang nonjok udah ketauan di chapter ini. Ngga penasaran juga sama yang nyulik Sakura? (modus mode on)
Williewillydoo: Jreng…Jreng…. Sudah terjawab.
echaNM: Yupz…tapi masih akan muncul lagi kok.
DaunIlalangKuning: Sayangnya ngga punya wattapad :(
Phi Hatake: Panjangnya saya segini saja. Semoga tetep suka sama fic abal saya yah? ;-)
Kucing genduttidur: Yupz, tapi dia akhirnya dapet restu dari Sasori loh.
CEKBIOAURORAN: hahaha…. tapi dia akhirnya dapet restu dari Sasori loh.
