"Dan beginilah hasil teori yang kau aplikasikan barusan," Hermione Malfoy berkata dengan nada nyaris santai—yang tentu tidak klop dengan kondisi saat ini, sambil menengokkan kepalanya ke pemandangan di belakang mobil. Rambut cokelat lurusnya melambai-lambai sementara sebagian lagi meliliti leher jenjang yang penuh peluh.

Bom-nya berhasil dimatikan dengan bonus berupa ledakan kecil seperti petasan merah.

Sekitar kurang lebih delapan mobil dengan arah berlawanan kocar-kacir seperti permainan dalam taman bermain.

Eh? Ada satu mobil polisi meraung-raung menggelikan.

Hermione sendiri masih meragukan apakah Harley Arafat termasuk juga dalam kumpulan mobil tak berdosa tersebut. Namun, Draco sebaliknya.

"Semuanya pasti aman, Malfoy," jawab Granger dengan lagak bossy, menurunkan kaca mata hitam Diornya dan kembali menginjak gas Ferarri merah seksinya. Hermione yang ada di kursi penumpang hanya menaikkan alis mata datar sambil kesal akibat perebutan alih kemudi oleh Draco saat detik-detik bom meledak.

ZNNNGGGGG.


.

Harry Potter © JK. Rowling

o0o

Fast, Malfoy And Furious © Gallatrance Hathaway

.

.

Chapter 8: Can't Hold Us

"Tonight is the night, we'll fight 'til it's over
So we put our hands up like the ceiling can't hold us"

.

.
Happy reading, RnR!

.

.

.


"Sial!" Diawali dengan fase muka terbakar, urat-urat yang bermunculan di pelipis dan gigi bergemeletuk, akhirnya umpatan itu menggelegar juga dari bibir Cedric. Satu-satunya manusia pertama yang 'berani' membodohi Diggory sudah bosan hidup rupanya. Tapi Granger tidak bosan hidup, dia hanya sedikit menciptakan cheat baru atas ide brilian Malfoy barusan.

Memancing Cedric berkata: mati. Dalam pembicaraan di telepon.

"Kau, sih," celetuk Blaise serius dengan sedikit penekanan nada takut di akhir kata. Ia menumpukan dagunya pada punggung tangan sambil mendengus kecil. Diliriknya Cedric yang seakan ingin berubah menjadi grim reaper.

"Aku harus mengambil chip sialan itu, dan membunuhnya SE-CE-PAT-NYA, mengerti?!" geram Cedric penuh aura pembunuh. Cengkeramannya pada gelas kaca tinggi tak berdosa berisi martini itu makin kuat. Daphne yang berada di sampingnya sampai mundur-mundur ke belakang, kalau-kalau gelas itu pecah dan dia bonus kecipratan belingnya.

Semuanya diam.

Semuanya memang tahu. Tapi Granger ini benar-benar bernyawa kucing. Ditambah kecerdikan dan seribu satu nilai Outstanding yang diperolehnya selama ini.

"Boleh saran?" Luna membuka suara. Anting-anting gear-nya yang besar sebelah ikut mengayun ketika ia menolehkan kepala.

Cedric hanya menatap gadis pirang itu sekilas pertanda perintah 'lanjutkan' dengan mata berkilat menimbun amarah.

"Sebaiknya serang dengan cara yang lebih frontal."

"Maksudmu?"

Sembari membuka laptopnya, gadis ramping berkulit pucat itu tersenyum licik. "Malam ini aku akan bertemu Lara Croft Granger, di dekat Heathrow. Masih punya stok polyjuice?"

Mengangkat alis kirinya perlahan, Cedric mengangguk seraya berjalan untuk duduk di samping Luna. Ia tak perlu khawatir untuk tahu apa ide Luna nantinya. "Aku selalu mempercayaimu lebih dari sekadar kerabat dekat, Loony."

Daphne dan Blaise hanya memutar mata mereka secara bersamaan. Dari dulu Luna memang dicap sebagai anak emas The Diggory's karena ide-ide fantastiknya yang selalu berhasil, terlebih oleh kerjasama antara Lovegood dan Diggory yang begitu kental.

"Bagaimana dengan kalian? Ada ide dari dengkulmu?

Lelaki negro itu cuma berdecak pelan, pura-pura memikirkan sesuatu. Sementara tangan kanannya sibuk mengelus-elus punggung sempurna ala model-model Victoria's Secret milik Daphne. Sang gadis brunette itu malah tampak sedikit cemas.

"Bagaimana dengan Astoria?" Pertanyaan yang meluncur dari mulut tipis Daphne sukses membuat seluruh mata mengarah padanya.

"Kau peduli padanya? Sejak ka—"

Daphne melotot horror. "Bukan maksudku—"

"Wajar 'kan kalian saudara," Blaise ikut memotong, tak mengerti bahwa gumulan asap dalam cerebrum anak pertama keluarga Greengrass tersebut makin pekat dalam jalurnya.

"STOP! AKU PIKIR... MAKSUDKU, DIA TERLALU CEROBOH DAN LEMAH DALAM MISI SEPERTI INI—"

Luna mengangkat tangannya di udara tanda berhenti. "Kau meragukan keselamatannya hingga sampai kesini? Akui saja, Daph. Kami juga peduli walaupun ewh dia Gryffindor. Dia—"

"Baik tinggalkan aku," seru Daphne tertahan, pergi meninggalkan ruang pusat sambil memegangi dahinya. Pening, yang ia rasakan. Hatinya memang masih ada, sedikit, ruang untuk adik satu-satunya itu. Meski terkadang bara api masih menyelimuti ruang dalam hatinya.

Blaise mulai berlagak bangkit dari kursinya. "Aku bisa ..."

"Biarkan dia sendiri, Blaise. Sekarang lanjutkan rencananya," ujar Cedric seraya meneguk martini-nya lagi. "Cari kemana Granger akan pergi sekarang, dan jemput Serena sore

ini," perintahnya pada staf-staf di ujung ruangan yang langsung berkerja.

"Aku pergi dulu, goodluck kalian," Luna beranjak dari kursi dan kembali memakai blazer hitamnya yang tergantung di punggung kursi, melangkah pelan keluar diiringi ketukan high heels seakan dipenuh aura misteri rencananya.

Kedua pria yang ditinggalnya mengangkat dagunya ke arah pintu. "Goodluck to, Lun."

"Rencana B lalu C lalu D hingga Z—" gumam Blaise pelan, mengamati layar LED di depannya.

"Tidak akan sampai Z. Meskipun batalyon Malfoy hampir sama besarnya dengan kita. Sekarang ia masih belum memanggil mereka kurasa, saat-saat inilah kesempatan emas kita."

Blaise menoleh skeptis pada Cedric. "Hn?"

"Atur hari ini. Tamu Amerika akan datang, usahakan sesempurna mungkin. Kita bisa bagi dua hasilnya dengan mereka asal si cecunguk itu cepat menyerahkan bokongnya padaku," ujar Cedric melangkah masuk ke ruangan pribadinya diikuti langkah besar Blaise. Sekitar lima wanita muda seksi dan cantik menyambut Cedric hangat.

"Maksimal rencana D. Jika sudah begitu si muggle masih hidup tanpa kaki dan tangan, aku akan langsung turun ke jalan."

Blaise menatap Cedric agak lama setelah temannya itu mengatakan akan ambil bagian secara langsung. London pasti pecah jika raja satu ini turun menguasai jalanan.

'Perang Dunia Ke-3 bisa saja terjadi,' batin Blaise ngeri. Ia berjalan menuju lemari besar Cedric dan memilah-milah mana yang bagus untuk rapat besar nanti. "Aku pinjam jas-mu dulu, mate."

"Oh, alright, ok Alexish kemarilah. Masalah ini membuatku stress, buat aku segar saat rapat nanti dimulai," Cedric berkata sambil kegerahan, direngkuhnya tubuh wanita itu ke atas kasur, melepas baju, menindihnya dengan napas memburu.


"Tenangkan dirimu, Neville. Dan bangun, please. Ini akan baik-baik saja," Pansy Parkinson kewalahan menahan berat badan seorang Neville yang tentunya sudah tidak jumbo lagi, namun tetap saja pria tinggi ini sangat berat. Keduanya sedang terduduk di trotoar dekat London Eye, mobil Neville baru saja mengalami keanehan, panas mendadak, mengeluarkan asap putih tebal di bagian depan dan kemudian hampir meledak jika warga setempat tidak menyiramnya dengan berember-ember air apapun.

"Perlu diantar ke Central Hospital, nona? Kekasih anda tampak shock," tanya seorang pria berumur 30 tahunan prihatin.

Pansy memerah. Ada satu perasaan menggelitik yang menjalari tubuhnya ketika pria itu berkata bahwa Neville adalah pacarnya. Yah, baiklah, Pansy memang mulai tertarik pada Neville yang sekarang. Senyuman tulus tanpa rasa jijik pada seorang Slytherin seperti Pansy, perkataan yang lembut dan beretika, sikap Neville yang sabar, membuat gadis itu merasa dihargai.

"Uh, oh oke, baiklah. Bagaimana dengan mobilnya? Akinya rusak?" Pansy membaringkan Neville perlahan dengan alas koran, mencoba men-starter mobil, namun tak ada hasil. Matanya terpaku pada GPS Cedric's Army yang telah ia matikan tadi malam—entah satu kekuatan apa yang membuatnya melakukan itu. Diliriknya Neville dari balik kaca mobil, sembari pikirannya melayang-layang ke beberapa orang mulai dari Cedric, Hermione, Luna, serta antek-antek Granger.

Dimana tempatku lebih di akui?

'Baiklah,' batinnya.

Central Hospital.

"Nama pasien?" tanya suster rumah sakit bertubuh pendek tanpa menoleh sedikitpun. Tangannya sibuk mengetik ribuan kata-kata di komputernya.

Pansy tampak berpikir sebentar. "Sebastian Allen," jawab Pansy dari balik meja resepsionis yang cukup tinggi.

"Lalu kau?" tanya suster itu lagi.

Ergh bawel, gerutu Pansy sambil berpikir lagi.

"Alexa Kravis."

Suster itu mengangkat kepalanya berserta topi putih ala rumah sakit yang tinggi, melihat Pansy yang langsung keringat dingin, lalu duduk lagi. Menulis nama Alexa Kravis.


"Permisi nona, kau tidak diizinkan membawa senjata sebanyak itu ke sini," seorang petugas bandara Heathrow berkata tegas pada wanita cantik dengan rambut hitam berkepang sepinggang didepannya saat pengambilan barang. "Lagipula nona naik pesawat apa? Seharusnya ini diperiksa dahulu, nona—"

"Hn?"

"Laura Cruz," lanjut petugas itu. Wanita bernama Laura itu melirik nametag sang petugas, Paulo Harris.

"Please Paul ..." Laura memasang wajah memelas, namun tetap dengan gestur seksinya. "Astaga aku sudah kelelahan seperti ini dan kau masih saja merepotkan perempuan seperti aku," Laura merintih pelan, mendekatkan wajahnya di depan hidung mancung Paul. Tangan kirinya meraih sebuah botol spray kecil dalam kantong branya.

PSSSTTTTT.


"Lara akan datang hari ini, Kolonel Hans Lada?" tanya Draco, berbicara dengan iPhone-mya. Sementara sang Malfoy di sebelahnya sibuk memainkan iPad, menunggu Ginny, Harry dan Arafat menuju ke tempat pemberhentian mereka yang kata Draco aman, di depan Central Hospital.

"Ya, kudengar dia sudah sampai. Kau mau jemput dia malam nanti di Trafalgar? Atau kau ada acara? Dan please boy, jangan panggil aku seperti orang tua."

"Hahaha, itu sebuah kehormatan, Kolonel. Malam nanti? Kurasa aku ada acara, tapi baiklah akan kusempatkan menjemputnya asal dia tidak bawel—"

"Astaga haha itu kakak sepupumu satu-satunya, Drake. Aku akan datang malam ini setelah membereskan beberapa komplotan gila Rio de Janeiro ini. Bagaimana Ceddy Teddy?"

"Okay, okay dia kakak sepupu perem— perempuankah? Hik hik siap, Kolonel. Oh haha baik, kami sedang bermain kucing-kucingan. Awas saja sampai ia memblokade seluruh jalanan London berserta bandara dan pelabuhan, aku akan gali tanah buat terowongan."

"Ckckck, the simple boy! Ekspresi panikmu sangat langka, dan sifat konyolmu itu. Benar-benar William junior. Baik, berhati-hatilah!"

"Yeah, Mister, hik hik."

Tutt... tut ...

"Kau bertelepon seperti para gadis saja," ujar suara dari seberang. "Terkikik-kikik," Hermione membuang muka ke depan, menahan tawa?

Draco mengangkat bibirnya penuh seringai, ronde pertama mulai lagi?

"Aku tidak tahu harus menggunakan apalagi untuk membungkam mulutmu," ujar Draco tiba-tiba, berlagak frustrasi, menyenderkan kepala pada setir mobil, kemudian merutuk tak jelas sambil mengacak-ngacak rambut pirang platina halusnya yang tertimpa cahaya matahari.

Hermione yang awalnya tak peduli, mulai peduli juga. Ia merasa sedikit bersalah, dirinya yang sulit diatur sampai-sampai Draco sang tutor ehm—love itu kewalahan. Tapi, namanya Malfoy, tetap Malfoy. Perasaan di hati dengan yang tersalurkan pasti berbeda.

"Lalu kau mau bungkam dengan apa? Silahkan saja," Hermione mencondongkan tubuhnya kekanan menantang, mendekati Draco yang masih menempel pada permukaan setir. "Plester, sumpal batu, atau beri cabe—"

"Kau bukan chili-chilian, 'kan," Draco memotong dengan suara yang tak jelas. Namun sebuah senyum aneh terpeta dalam bibir tipisnya ketika bibir Hermione sudah bertengger di bahu kirinya.

"Tentu bukan."

"Kusumpal dengan ini!" Draco yang tiba-tiba bangun langsung meraup wajah Hermione, mencium bibir sang pewaris Malfoy itu lembut, penuh perasaan.

.

.

.

God, salahkah aku?

SALAHKAH AKU?

Bayang-bayang Serena kembali hadir dalam pejaman mata Draco.

Aku, tidak salah.

Keduanya menikmati ini.

Sampai Draco kebingungan bagaimana cara membuka kelopak matanya dengan benar. Bibir lembut dan kenyal Hermione sungguh manis. Manis. Lidah Draco mulai membuka katupan gigi Hermione, mendorong pelan, dan terbukalah perlahan. Menghisapnya seakan ingin mengeluarkan jiwa kelam mantan Pelahap Maut perempuan ini. Dan menjadikannya mutiara baru, itu harapan Draco. Tak mau kalah, Hermione memperdalam ciuman mereka dengan memajukan badannya ke depan. Dan sesuatu yang kenyal menyetuh dada Draco saat mereka semakin rapat. Hawa dingin menjalari wajah dan tubuhnya. Kemudian menghangat dengan cepat.

Dengan sekuat tenaga Draco kembali mengumpulkan tenaganya untuk mengakhiri ini.

Ughh.

"Nah itu sudah cukup kusumpal," ujar Draco merah padam. Hermione hanya diam, menatapnya intens, membuat Draco makin kikuk.

"..."

"..."

"Ah, kau—" Hermione tampak telah kembali menguasai dirinya, bersiap untuk meledek Draco dengan seringaiannya. Namun masih ada 'perasaan aneh' yang datang persis dimana saat Draco memegang tangannya kala itu, pagi di kamarnya.

"Beli minuman dulu, berang-berang. Haus juga," Draco berkata sambil cepat-cepat membuang muka awkward pucatnya, kemudian keluar mobil menuju mesin softdrink di samping box telepon.

"Belikan aku juga, ferret!" teriak Hermione kencang. Gadis itu menyentuh bibirnya yang masih basah, menerawang seorang Granger dari jauh yang tampak idiot karena kebanyakan pencet angka botol akibat salah tingkah, jadi sekitar sepuluh botol meluncur begitu saja tanpa henti membuat Draco panik. Saat tiga botol sampai menggelinding ke jalanan, Hermione ikut turun dan membantu Draco dengan wajah meremehkan—meski kalah dengan wajah tawa tertahan.

"Tertawa saja. Tak usah sok-sok ditahan," ucap Draco sinis sambil cemberut meminta kantong plastik di minimarket sebelah Central Hospital untuk menampung botol-botol softdrink konyolnya, sementara di sampingnya Hermione memasang wajah sok gengsi meskipun kedua tangannya ikut menenteng seplastik isi lima botol softdrink.

"Granger selalu ceroboh, ckck," Hermione bersiul-siul santai mengamati jalanan, hingga matanya melotot melihat mobil Gemballa Mirage GT hitam dengan gambar gear di ujung plat-nya.

.

.

.

Luna.

"Apa lagi? Cepat jalan. Sudah tidak lucu lagi," gerutu Draco malas, dua langkah lagi mereka sampai di Ferrari Draco yang terparkir samping trotoar. Jadi mereka tepat di balik dinding perempatan Central Hospital.

"Luna, bodoh," bisik Hermione keras menarik kembali Draco serta belanjaan yang sudah melangkah sekali di trotoar.

"Hah?" Draco ikut serius, diliriknya dari balik tembok, seorang gadis berambut pirang pucat turun dari Gemballa Mirage GT hitam berserta dua pengawalnya, yang dikenal mereka sebagai Zacharias Smith dan Vincent Crabbe. Mereka bertiga berjalan cepat menaiki tangga Central Hospital.

"Apa yang akan mereka lakukan di sini?" tanya Draco bingung. "Mencari kita?"

Hermione kembali keluar dari persembunyiannya, berjalan mengendap-ngendap mengikuti ketiga antek-antek Cedric itu. Tiba-tiba Draco menyalipnya, masih membawa-bawa kantung plastik belanjaan yang oh— sungguh berisik. Namun Draco tetap tenang dan memerintahkan Hermione untuk berjalan lebih cepat agar tak ketinggalan jejak.

"Ssshhh," Draco mendadak berhenti di balik meja resepsionis, membuat Hermione yang mengekorinya jadi terantuk bokong Draco dengan tidak elit.

"Kau!" bisik Hermione tertahan sambil menyipitkan matanya.

"Diamlah. Pistolmu ada, 'kan? Kudengar Lovegood sangat agresif."

.

.

"Apa ada pasien bernama Neville Longbottom di sini? Dan ah dengan Pansy Parkinson," Luna tampak bertanya pada suster gendut itu, sementara dua jongosnya di belakang melihat-lihat keadaan sekitar.

"Apa? Neville? Dan Parkinson?!" bisik Draco agak keras pada Hermione. Gadis Malfoy itu balas melotot dan mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.

.

.

"Dokter bilang kau cuma sedikit shock, cukup minum obat ini dan relaks saja, Nev," ujar Pansy saat kembali dari mengambil obat seraya membantu Neville berjalan menuju ruang utama rumah sakit. "Kita ke mana?"

"Bagaimana kalau kerumah teman yang lain? Harry atau Draco atau Ron? Kau mau, Pans? Kalau tidak mau kita bisa kembali kerumah saja—"

"Boleh, boleh, Nev. Terserah kau," senyum Pansy merekah, Neville, juga adalah orang yang sangat mementingkan pendapat orang lain. Akhirnya mereka setuju ke rumah Harry.

"Ramai sekali di depan," gerutu Pansy melihat banyak orang yang berlalu-lalang di ruang utama.


Luna tampak mengernyit pada sang suster. Menurut data informan, Pansy dan Neville dilarikan ke sini. Kenapa bisa tidak ada?

"Benar tidak ada? Jangan tutup-tutupin kami, Miss," desis Luna tajam. Gadis pirang itu menurunkan kacamata hitamnya dan menyipitkan mata.

"ITU MEREKA!" ucap Draco dan Hermione bersamaan, panik melihat Pansy dan Neville sedang berjalan menuju pintu utama rumah sakit yang berseberangan dekat dengan tempat Luna.

Sang petugas kebersihan rumah sakit melotot melihat keberadaan dua orang aneh yang mirip kodok dekat meja resepsionis. "Hey kalian, jangan berjongkok disitu terus."

Bodoh.

Ucapan nyaring petugas kebersihan tersebut sukses membuat orang-orang di sekitar meja resepsionis mengalihkan pandangannya pada dua orang di bawah meja tersebut. Tak terkecuali tiga orang yang detik itu sangat dihindari Draco dan Hermione.

"Granger .." desis Hermione dengan gigi yang terkatup rapat, meraba kantung kanan jeans hitamnya untuk menarik sesuatu.

.

.

.

TBC


Oke, haha. Sedikit dulu ya, takutnya pada lupa. Sebenernya chap ini sampai 4k, hehehe.

Special thanks to:

christabelicious: HAHA ga ambigu sebenernyaaa baru sadar ambigu pas baca ulang-_-. Review lagi kakaaaa:3

Constantinest: Wah makasih kakak sarannya, udah aku masukin tuh:D. Ada kok, nyelip aja dikit-dikit... hehe. Review lagi:DD

Tsurugi De Lelouch: Hehe yuppyy. Review lagi?:d

Markoding Tumpahahe: Hay bu apakabar. Iyee wkwk review lagi laah

Nyanmaru desu: Nah! Saya juga mikir enakan film soalnya pas baca kebayang ini tuh skenarionya hahaha. Sihir? Liat aja chapter2 depan hehehe review lagi;DD

Wiandavirgo: Okee haha engga tinggi kan di chap ini? Gimana?

vanillathin: Makasihh hehe, kayaknya update lama masih seru gak yaa._.

riani: Hoho thanksss udah mengerti. Makin ngerti pasti sekarang?:D

d.r: Yupp sudah lanjutt

gothicamylee: Huaay, Kakak! Makasihmakasihmakasihhh, gimana yang chap ini?:D

Adellelicea: Terimakasihh, Adel? Hehe iyatuh dia keserett:(

Ms. Loony Lovegood: Huahee senpai! Iya hoho dia di kubu Cedric. Review lagiiXD

Ladyusa: Satu senpai lagi! Haha, terimakasih kakakk, iyalah aku juga mau happyend tapi ... hohoo

numpanglewat: Err banget gimana? Hahaha rnr okeyy

qunnyv19: Yea. Balik gue. WKWK. Makasyiiii review lagi yapppss;D

wike: Eh wkwk serius? Petualangan panjaaang inixD

Ismah: Haii maaf lama, kayaknya sampe belasan atau 20 kelamaan yah? Wkwk;)

Rochro: Yoi emang mirip itu. Hyahh betul itu summary song-nya si kyut 2Chainz sama Wiz Khalifa, yuhuuu. Eits? HEHE sumpah keren bgt gewlaaa itumah. Yah Brian O'Connornya...:'(((


Thanks allll, can i get revieww?;D