HAPPY FASTING MY BELOVED MOESLEM READER!
Layaknya kolam tenang yang tersentuh
sehingga riak air timbul-menyebar ke seluruh kolam
Sasuke tahu cakra siapa yang tiba-tiba menyentuhnya
Sasuke terhenti dan menengok ke arah lain
Sakura?
Bertanya-tanya, kapan mereka akan bertemu
.
.
.
"Ya, Ino?"
"Kau sudah bertemu Sasuke-kun?"
Sakura menahan telepon dengan bahu kanannya, sembari membuka pintu dengan punggungnya. Kedua tangannya masih sibuk memasukan kancing piyamanya satu persatu. Sakura menghela napas terduduk di kasur.
"Tidak, Ino, sayang sekali. Aku bahkan tidak tahu dia dimana."
"Eeeeeh!? Kau tidak tahu? Naruto tidak memberitahu?"
Ino mendengarkan suara napas Sakura selama beberapa saat, " Sakura?"
"Naruto juga tidak tahu," Setelah membenamkan diri ke kasur, Sakura berusaha meraih selimut, "aku rasa aku tidak perlu mencarinya, Ino," dengan wajah menerawang ke arah langit-langit, Sakura membayangkan apa yang sedang dilakukan Sasuke.
"Pasti banyak hal yang perlu dibicarakannya dengan Kakashi-sensei, mungkin mereka pergi mengurusi sesuatu."
"Ya, itu mungkin saja, sih. Asal dia tidak melupakan janjinya padamu," Sakura mendengar suara berisik dari seberang telepon, "kenapa aku jadi ikut campur begini?"
Sakura tertawa, "Karena kau juga ingin bertemu dengannya kan, Ino."
"Tadi jika bukan karena aku mendesakmu untuk memberi laporan langsung pada Kakashi-sensei, kau tidak akan tahu Sasuke-kun kembali ke desa, kan. Aku ingin kau jangan marah nanti kalau aku mau bertemu dengannya juga."
"Marah? Untuk apa aku marah? Bukankah orang yang seharusnya marah itu Sai?"
"Iya juga, kau tidak ada hak untuk marah," Gelak tawa Ino yang khas membuat Sakura mengerang, "Ngomong-ngomong aku belum pernah melihat Sai marah, seram kah?"
Sakura tiba-tiba membayangkan wajah Sai. Jika membicarakan tentang Sai, semua tentangnya terasa janggal, juga menyeramkan, meski akhir-akhir ini Sai telah berubah. Dia jadi jauh lebih dekat dengan Sakura dan Naruto. "Rasanya aku pernah melihatnya, kau tidak akan mau melihatnya, Ino."
"Aku tidak akan membayangkannya," Ino langsung memotong. Meskipun akhirnya, Sakura dan Ino terdiam sejenak, membayangkan wajah marah Sai.
"Ya sudah, sampai nanti, Sakura. Semoga besok kau bisa menemuinya. Bersiaplah yang cantik, buat Sasuke-kun ingin berlama-lama tinggal disini."
"Aku selalu cantik, ya," Sakura menimpali.
Ino terkekeh, "Kalau begitu, selamat malam, Sakura." TUT.
Ino menutup teleponnya begitu saja. "Dasar Ino."
Sakura berniat mengembalikan teleponnya kembali ke ruang keluarga. Tapi ia sadar betapa nyaman posisinya di dalam selimut dan sulit untuknya turun dari kasur. Sakura meletakkan gagang telepon dengan tangan kirinya ke atas laci. Jam di sampingnya menunjukkan waktu hampir tengah malam. Sakura segera merapatkan selimut dan memejamkan mata.
Kata-kata Ino terngiang dalam kepalanya, 'Asal dia tidak melupakannya janjinya padamu.' Ingatan Sakura kembali pada hari cerah waktu itu. Jemari Sakura secara refleks memegang dahi. Apakah Sasuke-kun melupakannya? Suara hatinya berulang sepanjang malam sampai akhirnya Sakura terlelap.
Dalam tidurnya Sakura bermimpi Sasuke berdiri di hadapannya, di bawah gerbang Konoha, sama seperti hari itu langitnya tinggi dan matahari begitu terang. Silau menutupi penglihatannya. Sasuke kemudian berjalan mendekat padanya. Dengan satu lengannya yang tersisa, Sasuke menghalau cahaya matahari dari wajah Sakura. Rahang yang biasanya tegas, bibir yang selalu terkatup, mata yang tajam menatap lurus. Sakura menyaksikan ekspresi lain pada Sasuke kali itu. Ia tersenyum. Senyum yang entah telah berapa lama hilang, sekarang terasa begitu akrab di wajahnya. Sasuke menyentuh dahi Sakura dengan jarinya.
"Maaf membuatmu menunggu, Sakura."
Suara Sasuke yang seakan berbisik membangunkan Sakura. Matanya terbuka. Sakura biasa terbangun ketika tidur. Setelah melewati Perang Shinobi ke-empat, membuatnya selalu terbangun di tengah malam, ditambah kejadian beberapa waktu lalu ketika ia diculik, Sakura jadi terbiasa untuk tidur setengah terjaga.
Sakura merasakan penglihatannya begitu aneh. Wajah yang dilihatnya dalam mimpi kini berada tepat di sampingnya. Bola mata janggal, yang berbeda di kanan dan kiri, menatap lurus ke arahnya. Sakura berkedip dan merasakan aura kuat tiba-tiba menyelimutinya. Sama seperti malam ketika ia diculik, Sakura merasakan cakra yang sangat dikenalnya.
Sial.
Sasuke langsung menyesali kecerobohannya. Ketika mata Sakura terbuka, Sasuke segera berdiri menjauh dari kasur. Cakra Sakura benar-benar tenang, terkontrol dengan baik, membuatnya sulit untuk memperkirakannya. Sasuke tidak sangsi dengan apa yang dilakukan oleh Sakura selanjutnya. Terlambat untuk mengatakan sesuatu, Sasuke hanya berdiri dalam gelap setelah berhasil menghindar dari dua kunai yang melesat melewati kedua telinganya sekaligus.
"Sa... Sasuke-kun?" Suara Sakura serak, "Apa yang..." Sakura mengusap matanya beberapa kali. Tidak memercayai penglihatannya bahwa saat ini ada seseorang yang mirip sekali dengan Sasuke berdiri di seberang ruangan bersamanya.
Sasuke mendengar suara pintu terbuka dari lantai bawah. Tidak lama kemudian disusul langkah kaki menuju tangga, menuju kamar Sakura. "Apa yang terjadi Sakura!?" Suara Kizashi menggema dari tangga.
Sial sial sial.
Sasuke benar-benar kehabisan langkah. Tidak mungkin untuknya menggunakan genjutsu sekarang. Jika Sakura pingsan dan kedua orangtuanya mengetahui, semua akan jadi kacau. Mata Sakura masih lurus ke arahnya, mencoba melihat dari balik samar temaram bulan. Sasuke mencari kesempatan agar Sakura lengah dan pergi dari sana, sebelum Sakura meraih kontak lampu atau kedua orangtua Sakura melihatnya.
Pintu tiba-tiba terbuka hampir mengenai wajah Sakura yang berdiri tepat di belakangnya. Kizashi muncul terengah-engah mendapati kamar Sakura kosong. Tidak ada siapapun, tidak juga Sakura. Mebuki menyahut dari belakangnya setelah meraih kontak lampu, "Kemana Sakura?"
Sakura yang melompat beberapa langkah menjauhi pintu, terhalang penglihatannya selama beberapa saat. "Ayah, ibu," katanya sembari mencoba menangkap kembali bayangan Sasuke di seberang ruangan, yang sayangnya sudah tidak lagi ada.
"Sakura ada apa?" Kizashi dan Mebuki segera menghampiri. Merasa lega ternyata Sakura berada di balik pintu dan tidak menghilang, "Ayah mendengar suara-suara dari kamarmu."
Mebuki melihat ke arah Sakura memandang, "Ada seseorang yang datang lagi?" Mebuki juga melihat jendela yang setengah terbuka. "Sudah ibu bilang, tutup jendelamu, kalau panas nyalakan saja kipasnya. Kalau sampai kau diculik lagi bagaimana, Sakura."
Sakura masih berdiri, tidak mampu bersuara, tidak memercayai apa yang telah dilihatnya. Setelah semuanya tenang, Kizashi di hapadannya memegang lengan Sakura, "Kembalilah tidur."
Sakura membaringkan tubuhnya di kasur. Cakra itu, jelas cakra milik Sasuke-kun. Dan Sakura sama sekali tidak ingat kapan ia membuka jendela kamarnya sebelumnya. Sakura tidak dapat memejamkan matanya sampai pagi datang.
.
.
.
Naruto mengintip Sasuke yang masih terduduk di ruang tamu rumahnya, sibuk menata senjata dari kantong miliknya ke atas meja. Sasuke menghitung beberapa dan kembali memasukannya ke dalam kantong. Naruto mengerutkan dahi.
"Bagaimana?" Naruto menengok pada Hinata yang berdiri di balik punggungnya.
"Aku sudah telepon Sakura-chan, kita tinggal menunggunya datang."
Keduanya kembali masuk ke dalam kamar. Naruto kembali mondar mandir di hadapan Hinata yang tidak melepaskan pandangan.
"Suaranya tidak terdengar semangat seperti kemarin, sepertinya ada sesuatu. Apa sih yang dilakukannya, Sakura-chan lama sekali," Kaki Naruto terhenti. Kemudian ia melompat ke samping Hinata di kasur, "aku semalam tidak ingat kapan Sasuke pulang, apakah sesuatu terjadi pada mereka berdua?" Tanya Naruto dengan mata menyipit tajam. Pikirannya dipenuhi adegan-adegan dari novel kesayangan Kakashi, Icha-Icha Paradise.
"Ya, tuhan, Naruto-kun. Tidak mungkin!" Hampir memekik, Hinata menutup mulutnya. Wajahnya kemudian memerah. Hinata teringat semalam Sasuke pulang larut sekali, dengan wajah tertunduk Sasuke meminta ijin pada Hinata untuk menginap karena kebetulan Naruto sudah hilang ke pulau mimpi.
"Kita tidak akan tahu apa jalan pikiran Sasuke. Pagi-pagi dia sudah membuat keputusan seperti itu... mungkin saja, kan." Naruto masih menggerutu, "membuatku hampir terkena serangan jantung, dasar teme!"
"Walaupun dia sudah memutuskan keinginannya seperti itu, aku rasa tidak mungkin. Lagipula kalaupun benar terjadi," Dahi Hinata berkerut, "aku tahu Sakura-chan pasti tidak akan membiarkannya, meski itu Sasuke-kun sekalipun."
Naruto terbungkam oleh perkataan istrinya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, yang perlu kita lakukan sekarang adalah membantu Sasuke-kun," Hinata menaruh tangannya di punggung Naruto, berulang kali naik dan turun, Hinata mencoba menenangkan suaminya.
Naruto tahu betul Hinata selalu jauh lebih dewasa darinya. Hinata yang selalu kehilangan kata-kata, menutupi wajahnya, hanyalah satu sisi dari diri Hinata yang sebelumnya ia kenal. Namun, setelah menikah dengannya, Naruto tahu lebih banyak sisi dari diri Hinata dan hanya Naruto seorang yang beruntung untuk melihatnya.
"Dia tidak memberitahukanmu apa yang akan dilakukannya? Atau bagaimana rencananya?"
Naruto menggeleng. "Dia hanya mengatakannya. Sudah, begitu saja, tidak jelas. Setelah mengatakannya dia berdiri terdiam lama sekali. Lalu sekarang, seperti yang terlihat dia duduk menghitung senjatanya."
"Aku yakin dia punya rencana," Hinata berpikir sejenak, "Kita sudah melakukan langkah awalnya, untuk selanjutnya kita serahkan saja pada Sasuke-kun."
Naruto mengerang pelan. Dari ruangan sebelah, Sasuke yang telah selesai merapihkan senjata miliknya terdiam mendengarkan percakapan Naruto dan Hinata. Sasuke mendengar bahwa Hinata telah menelepon Sakura, yang sebenarnya tidak diperlukan, karena Sasuke berharap ia dapat menemuinya sendiri, ia sudah berjanji. Sasuke menghela napas panjang.
Sasuke melirik ke arah jam, hampir satu jam telah lewat. Sasuke tidak terbiasa dibuat menunggu. Namun, kemudian ia teringat kata-kata Naruto pagi tadi. Sasuke mengistirahatkan punggunggnya ke sofa. Menutup matanya perlahan, ia teringat kedua bola mata hijau milik Sakura, juga rambut merah mudanya yang tergerai di bahu. Menunggu beberapa menit, beberapa jam sekalipun tidak akan pernah sebanding dengan yang Sakura lakukan untuknya.
.
TING. TONG.
"Sakura-chan!" Hinata melompat berdiri dari samping Naruto. Keduanya bersemangat bukan main, hingga berebut untuk membuka pintu.
Sakura berdiri tenang di balik pintu. Meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dan kantung matanya terlihat jelas. Sakura tidak bisa lebih lama lagi berdandan di depan cermin untuk menutupi itu semua. Sakura menarik senyum ketika mendengar suara langkah.
"Pagi, Hinata," sapa Sakura mendahului.
"Sakura-chaaan," Hinata membalas panjang. Terlihat jelas bahwa ia sudah menunggu Sakura cukup lama.
Mencoba menghilangkan rasa gugupnya ketika berjalan masuk, Sakura mengepalkan tangannya erat-erat. "Ma-maaf ya."
"Iya, tidak apa, Sakura-chan," Hinata membawa Sakura ke ruangan yang sudah sangat dikenalnya. Hinata berjalan pelan mendahului Sakura yang masih sangat gugup, mencoba mengatur napasnya. "Duduklah, Kami sudah menunggumu."
Sakura gagal mengatur napasnya.
Tepat ketika Sakura melihatnya, seseorang yang berjanji untuk kembali dan menemuinya, membuat Sakura menunggu dan mencari, begitu terus sampai Sakura bosan dibuat merindu. Sasuke yang duduk tenang di hadapannya–dengan wajah datar tanpa cela bagi Sakura untuk mengintip sedikit ekspresi–mengikuti arah mata Sakura, mata hijau yang menyala-nyala melihat ke arah Sasuke.
Hinata tidak tahan untuk tidak tersenyum. "Aku akan membawakanmu teh," kemudian Hinata meninggalkan Sakura bersama Sasuke di ruang tengah. Sakura tersadar dan menarik napas, ia terlambat untuk menahan Hinata.
Setelah memerhatikan Sakura beberapa saat, Sasuke menyapanya dengan suara beratnya yang khas, "Sakura."
Banyak pertanyaan yang tertahan diujung lidah Sakura. Namun, ia menepisnya jauh-jauh. "Sasuke-kun," katanya membalas dengan juga sepenggal kata.
Dari balik tembok, Naruto dan Hinata yang mengintip hanya bisa menggigit jari. Betapa kesal Naruto dibuatnya, melihat kedua sahabatnya yang hanya bisa memanggil nama satu sama lain bahkan setelah tahun-tahun yang dilewatinya tanpa bertemu muka. Hampir lima belas menit berlalu, keadaan tetap begitu. Sunyi.
Yang benar saja! Kalau mau begini kirim-kiriman surat lewat elangmu saja sana! "Hinata, keluarkan tehnya," kata Naruto tidak sabar.
Setelah mengangguk, Hinata berjalan kembali ke ruang tengah dengan nampan yang berisi Ocha hangat dan Dango untuk Sakura.
"Kau tidak perlu repot Hinata. Apakah Naruto tidak ada di rumah?" tanya Sakura. Berusaha membuat Hinata duduk disana bersamanya.
"Ngg, Naruto-kun, dia... ada di kamarnya," Hinata menjawab di sela senyum yang membuat Sakura curiga.
Sakura hanya mengangguk. Sakura mencium adanya keanehan di rumah ini, yang mungkin direncakan oleh Naruto juga Hinata. Membuatnya mati kaku duduk bersebelahan dengan Sasuke.
Sakura meraih cangkir berisi Ocha dari Hinata, "Hinata, duduk saja–"
"–Aku akan keluar, mungkin agak lama, bisa tolong sampaikan pada Naruto?" Sasuke menyela, membuat Hinata dan Sakura–juga Naruto di balik tembok–tidak bergerak. Ketiganya terkejut bukan main. "Kau bisa ikut denganku, Sakura?"
Cangkir tergantung setengah jalan menuju mulut Sakura yang kini terbuka. Sakura merasa kepalanya tiba-tiba menjadi ringan. Pendengarannya seperti berdenging.
"Tenang saja, Sasuke-kun, a-aku akan menyampaikannya," Jawab Hinata sembari melihat ke arah Sakura.
Sakura mengenggak Ocha-nya secara perlahan, berusaha mengulang pertanyaan Sasuke dalam kepalanya, kemudian mengangguk. "I-iya, Sasuke-kun." Sakura masih mempertanyakan pendengarannya.
"Terima kasih," Sasuke melihat Hinata, yang kemudian mengangguk memahaminya.
Setelah menunggu Sakura menghabiskan Ocha dalam cangkirnya, Sasuke berdiri dari kursinya. Sakura memerhatikan Sasuke, dari ujung helaian rambut hingga ujung kaki. Tidak satupun luput dari pandangan Sakura. Postur tubuh Sasuke, jelas membuat Sakura teringat kejadian tadi malam.
Keduanya meninggalkan rumah Naruto bersamaan. Sakura berusaha berjalan mengiringi langkahnya dengan Sasuke. Lagi-lagi Sakura gagal mengatur napasnya. Garis wajah Sasuke yang terlihat dari samping, Sakura tanpa sadar tidak berkedip memerhatikannya.
Belum lama mereka berjalan, Sasuke terhenti, "Ada apa?"
Sasuke tahu dirinya diperhatikan. Sasuke tahu Sakura bertanya-tanya akan kejadian tadi malam. Kini mereka berhenti, di tengah jalan yang berisi orang berlalu lalang. Sasuke balik memerhatikan Sakura.
"Kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Sasuke lagi.
Sakura mengalihkan pandangannya ke jalanan ramai, "Entahlah."
"Kau terlihat kurang sehat." Ada kantung hitam yang menggantung di bawah mata Sakura. Sasuke dengan cepat menyadari itu sesaat setelah Sakura muncul.
Sakura menggeleng perlahan. Sakura lagi-lagi mengurungkan niatnya untuk mengutarakan pertanyaan yang terus bermunculan di kepalanya. "Sebenarnya kita mau kemana?"
"Kalau kau sedang tidak sehat, kita bisa melakukannya nanti."
Kau mau pergi kemana bersamaku? Melakukannya nanti? Apa yang ingin kau lakukan, Sasuke-kun?
Sakura menghela napas panjang. Tenangkan dirimu.
Kejadian semalam masih membuat Sakura bingung dan sedikit takut, tapi Sasuke kini berdiri tenang di hadapannya tanpa rasa bersalah mengajaknya pergi entah kemana, lalu tadi Naruto dan Hinata bertingkah aneh, ditambah degup jantungnya dan napasnya–organ tubuhnya terutama jantung dan paru-parunya bekerja secara aneh ketika Sasuke berada di dekatnya–membuat Sakura berpikir sejenak.
Sakura sekarang berjalan–berdua–bersama Uchiha Sasuke. Ya, Uchiha Sasuke. Sakura merasa bodoh kalau sampai melewatkan hal ini karena mengkhawatirkan hal-hal lain. Sakura menepiskan pikiran bahwa Sasuke melupakan janjinya untuk menemuinya, juga pikiran lain yang mengganggunya. Kejadian seperti ini hanya akan terjadi seumur hidup sekali, Sakura!
"Tidak, aku baik-baik saja," Jawab Sakura setelah beberapa saat. Ia berjalan beberapa langkah mendahului Sasuke, "Aku tidak masalah kita mau kemana, ayo, Sasuke-kun."
Sakura melihat senyum kecil di sudut bibir Sasuke. Pemandangan di hadapannya membuat Sasuke sulit untuk tidak tersenyum. Keduanya kembali berjalan beriringan. Menuju tempat yang Sasuke rasa tepat untuk memulai semuanya.
Sakura kenal betul kemana jalan yang ditapakinya akan mengarah. Namun, ia memilih untuk diam. Keduanya baru saja melewati padang rumput hijau dibatasi pepohonan rindang dimana para Shinobi biasa berlatih. Sakura melihat sungai Naka di sebelah kiri dan bukit yang menjadi batas penghujung desa jauh di utara. Sejak Sasuke berjalan mengarah ke selatan, Sakura masih menerka-nerka kemana tujuannya, namun setelah melihat tugu pembatas di hadapannya, sudah jelas sekali kemana Sasuke membawanya. Kediaman Uchiha.
"Sasuke-kun?" tanya Sakura, membuat langkah Sasuke kembali terhenti.
"Aku rasa kau sudah tahu, bangunan disini akan segera dirubuhkan untuk pengembangan desa."
Sakura mengangguk cepat, "Aku tahu, tapi... apakah tidak apa? Apakah ada sesuatu–"
"–Ikutlah denganku," Sasuke membalik badan dan melanjutkan berjalan.
Sakura mengiringi langkah Sasuke masuk ke kompleks perumahan milik klan Uchiha yang sudah bertahun-tahun terbengkalai. Sakura tidak pernah kemari sebelumnya, tidak untuk menjalankan misi sekalipun. Seperti kota hantu, Sakura merasa kediaman klan Uchiha begitu luas dengan rumah yang berderet hingga ke ujung jalan tidak terlihat. Sakura mengintip beberapa rumah yang dilewatinya, rumput tinggi menjulang menutupi jalan masuk dan beberapa atap rumah sudah tidak lagi utuh. Sakura berjalan lebih merapat pada Sasuke.
Dada Sakura terasa nyeri. Ia meraih kerah bajunya, merasakan sesak yang hampir membuatnya terbatuk. Sasuke di sebelahnya yang tetap begitu tenang menengadahkan wajah ke satu arah.
"Sebelah sini," kata Sasuke berbelok masuk ke salah satu rumah besar.
Sakura melihat rumah besar di hadapannya. Ia baru menyadarinya, sekarang ia berdiri tepat di depan rumah Sasuke. Ukiran simbol klan di dinding kanan dan kiri pintu sudah terkikis. Pintunya sudah terbuka lebar. Kaki Sakura terasa berat, ia mencengkram erat tangannya sendiri. Bangunannya masih begitu kokoh, hanya pintu dan jendela yang sudah lapuk tidak terawat. Jalan masuknya dipenuhi daun dan rumput liar. Sakura masih memerhatikan kondisi rumah di hadapannya. Sementara Sasuke sudah berada di ruang tengah, mencoba mencari penerangan lebih.
Setelah mendobrak pintu ruang tengah yang terhubung dengan bagian pekarangan, dan merasakan cahaya matahari mengisi ke seluruh sudut ruangan, Sasuke berbalik melihat Sakura masih berdiri di jalan masuk.
"Sakura?"
Sinar matahari menerangi Sasuke dari belakang. Sakura melihat ruang tengah yang kini terang berbalik dengan keadaan sebelumnya. Pohon Sakura rindang yang kakinya dipenuhi ilalang menjadi pemandangan di pekarangan.
"Sasuke-kun... ma-maafkan aku, aku baru pertama kali kemari."
Sakura menghampiri Sasuke. Cahaya matahari terasa hangat di wajahnya. Sakura menarik napas panjang yang secara tidak sadar sedari tadi ditahannya.
"Ternyata rumahmu besar sekali."
Beberapa perabotan rumah tangga yang terbengkalai tertutup debu hingga tidak terlihat lagi bentuknya. Hiasan dinding dan pernak-pernik rumah tangga lainnya tergeletak begitu saja di atas lantai yang sudah berlubang.
"Kau punya pekarangan yang indah," Sakura melihat beberapa vas bonsai yang sudah pecah menyatu dengan tanah, ukiran simbol klan Uchiha di dinding, dan lampu hias yang sudah rusak di dua sudut pekarangan.
Sasuke mengangguk pada Sakura. "Ayah memiliki hobi merawat tanaman hias."
Sakura tersenyum, "Kau juga punya pohon Sakura yang indah."
"Ah," Sasuke memiringkan kepalanya, berpikir sejenak, "Aku tidak ingat sudah memilikinya sedari dulu."
"Masa dia tumbuh begitu saja?" tanya Sakura merasakan kedatangan angin.
"Hn."
Sasuke mengingat-ingat pekarangan yang ia miliki dulu, jelas kalau pohon itu tidak ada disana sebelumnya. Bunga Sakura bertebaran ke rerumputan juga ke lantai di bawah mereka. Satu jatuh tepat ke atas pundak Sakura. Menyatu dengan warna rambutnya.
"Eh?" Sakura terkejut ketika Sasuke mencoba meraih rambutnya. Matanya tidak berkedip melihat lengan panjang Sasuke melewati wajahnya, menyentuh helaian-helaian rambutnya.
"Indah memang," kata Sasuke menyerahkan bunga merah muda yang mekar sempurna ke atas telapak tangan Sakura. Wajah Sakura memerah seketika.
"Maaf jika membuatmu tidak nyaman dengan pemandangan ini."
"Ah, tidak, sama sekali tidak apa-apa," Jawab Sakura cepat, "Walau memang awalnya sedikit seram, tapi aku tidak keberatan."
"Hn."
"Tidak banyak orang tahu kalau kompleks perumahan ini akan segera dirubuhkan."
"Ya, tidak lama lagi tempat ini akan hilang begitu saja," Sasuke memerhatikan ukiran kipas yang menjadi simbol kebanggan Uchiha di sepanjang dinding pekarangannya. Tampak jelas telah lekang termakan waktu.
Dengan wajah yang masih memerah, Sakura mengintip Sasuke dari balik rambutnya yang menjutai, "Rasanya telat, tapi aku senang bisa kemari."
Sakura tersenyum begitu manis. Tiap senti dari wajahnya membuat penyesalan di hati Sasuke kembali muncul. Karena baru sekarang ia menyadari betapa wajah ini yang selalu membuatnya merasa nyaman. Setelah sekian lama, Sasuke kembali merasa seperti dirinya dua belas tahun yang lalu. Tersipu malu.
"Kau bisa tunjukan padaku apa yang ingin kau lakukan disini?"
Sasuke menjawab Sakura dengan tersenyum. Ia membawa Sakura berkeliling rumah. Sasuke mendobrak semua pintu dan jendela agar udara dan cahaya matahari bisa masuk. Ruangan yang dingin juga gelap kini dipenuhi sinar matahari yang menghangatkan. Sesekali angin datang menyapa dan menerbangkan dedauan dari pekarangan masuk ke dalam.
Sasuke menjelaskan semuanya, masa kecilnya, kedua orangtuanya, kakaknya, bahkan kakek atau nenek yang sangat jarang ia temui. Sakura memerhatikan Sasuke yang bercerita, sambil membayangkannya benar-benar menjadi nyata. Sasuke kecil yang selalu dilihatnya secara diam-diam kini berjalan kesana kemari di dalam rumah, kaki kecilnya membuat gema di sepanjang lorong, mengejar Itachi yang akan pergi ke Akademi, dan kedua orangtuanya yang tersenyum memerhatikan dari kejauhan.
Sasuke sesekali tersenyum ketika membicarakan tentang Itachi. Ada rasa bangga, juga rindu dalam ceritanya. Dan sebisa mungkin ia hanya menceritakan detail bahagia dari masa kecilnya tanpa menyentuh sedikitpun kenangannya yang kelam.
"Kau sudah pernah bertemu dengannya?"
"Itachi-san? Tentu saja," Sakura mengingat pertemuannya dengan Itachi. Pertemuan yang tidak formal, dan sebenarnya kurang–enak–untuk diingat. "Rambutnya panjang, terikat... dia berbeda denganmu."
Sasuke mengangguk. "Itachi lebih mirip ibu, sedangkan aku lebih mirip ayahku."
Sasuke membawa Sakura keluar dari kamar kecilnya menuju kembali ke ruang tengah. Sasuke meraih beberapa barang dan membolak-balikannya.
"Kau mencari sesuatu?"
"Foto keluargaku," kata Sasuke ketika akhirnya menggenggam sesuatu di tangannya. Sasuke menunjukkannya pada Sakura setelah menyingkirkan debu yang melekat pada frame foto, "Ayah dan Ibuku."
Sasuke memerhatikan raut wajah Sakura di hadapannya. "Kau benar, kau mirip sekali dengan ayahmu," Sakura tersenyum dengan mata yang sendu.
Mata Sakura bergantian menatap satu persatu sosok yang ada di dalam foto. Senyumnya tiba-tiba menjadi lebih lebar, "Tidak heran dari mana kau dapat model rambut seperti ini," sambung Sakura dengan menunjuk wajah kecil Sasuke. "Kau mungkin benar-benar mirip dengan ayahmu, kau mewarisi kekuatannya untuk melindungi desa."
Sasuke tersenyum kecil. Teringat akan pujian dari Sakura dalam surat Naruto, tentang bagaimana kini Sasuke telah berubah dan melindungi Konoha seperti cita-citanya dulu untuk menjadi polisi Konoha. Pandangan Sasuke tidak dapat lepas dari Sakura. Rasa puas, juga bahagia memenuhi rongga dadanya.
"Sakura, dengarkan aku."
Sakura mendongakkan wajah pada Sasuke, yang malah terdiam. Mereka hanya berdiri saling memandang satu sama lain beberapa saat.
"Ya, Sasuke-kun?"
Sakura melihat Sasuke menarik napas pelan dan tenang, "Aku kembali dari perjalananku bukan untuk kemari dan bernostalgia seperti yang kau pikirkan."
Mata Sakura terbuka lebar, ada ketakutan juga bingung yang berjuta kali lipat lebih besar dari yang sebelumnya Sakura rasakan, "A-apa maksudmu?"
Sasuke menegakkan tubuhnya, memandang lurus pada Sakura yang masih memegang erat foto keluarganya.
Inilah saatnya, ayah, ibu, kakak...
"Di sepanjang perjalananku, aku menyadari bahwa sejauh apapun aku pergi aku harus kembali untuk orang-orang yang kuanggap penting dalam hidupku. Aku merindukan rumah dan ini memang rumahku, tapi aku sudah menemukan tempat lain untuk kembali. Konoha tentu saja, tapi aku kembali untukmu,"
"Aku tidak memiliki cincin, bahkan aku tidak memiliki apapun," Sasuke melangkahkan kaki satu persatu mendekati Sakura, "Tapi ada satu hal lain yang jauh lebih penting, satu hal yang menjadi bagian terpenting dari diriku, yang aku ingin kau jadi bagian darinya. Aku ingin kau mengenakan simbol klan Uchiha dibalik punggungmu..." Sasuke mengatakannya perlahan, "untuk seumur hidupmu."
Ya, Tuhan. Sakura menahan napas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Menikahlah denganku, Sakura."
Air mata Sakura menetes membasahi kedua pipinya. Ada hening yang menggantung begitu lama sampai akhirnya tangis Sakura meluap. Sasuke tidak akan pernah tahu, betapa tidak terbayangkannya hal seperti ini dapat terjadi bagi Sakura. Sasuke membiarkan Sakura menangis cukup lama.
Tubuh Sakura bergetar, membuatnya menunduk menahan tangis. Luapan emosinya begitu kuat. Sasuke mengulurkan tangan ke hadapannya. Berpegangan pada Sasuke, Sakura menjawab di sela tangis, "Sas.. hu.. Sasuke-kun... hu... terima... kasih..."
Sasuke tersenyum lega, "Aku yang seharusnya mengatakannya. Terima kasih, Sakura."
Sasuke melepaskan pegangannya dan membiarkan Sakura menyelinap masuk ke balik lengannya, memeluknya erat.
"Maaf membuatmu menunggu selama ini."
Sakura menggeleng di dada Sasuke yang kini basah. Menenggelamkan dirinya dalam dekap hangat Sasuke. Sakura merasa semua bebannya hilang tidak tersisa.
Tuhanku akhirnya. "Selamat datang kembali, Sasuke-kun."
.
.
.
Ayah,
Ibu,
Kakak,
Aku bertaruh atas nama kalian,
atas nyawaku sendiri,
Aku akan menjaganya
.
.
.
"Sasuke-kun?"
"Hn?"
"Semalam kau yang datang ke kamarku, kan?"
"Aah"
"Aah?"
"Iya–
–aku sudah berjanji untuk menemuimu"
"Kau bisa menemuiku hari ini, kan?"
"Hn?"
"Kau tidak perlu mengendap masuk ke kamarku"
" ... "
"Sasuke-kun?"
"Aku ingin melihatmu..."
.
.
.
.
.
Pagi hari sebelumnya.
.
Langit masih gelap ketika Sasuke melangkahkan kakinya keluar. Lantai kayu yang dingin langsung menyapanya sampai ke kepala. Sasuke bergidik beberapa saat untuk menepiskan dingin. Ini belum seberapa. Tentu saja tanah di tengah hutan jauh lebih lembab dan dingin dari udara subuh di Konoha bagi Sasuke.
Bulan dan bintang masih jelas terlihat di langit. Sasuke menyandarkan tubuhnya di penyangga besi balkon. Sasuke sangat menyukai bumi di waktu subuh. Membuat pikirannya tenang. Beberapa waktu yang kini dilewatinya penuh dengan rasa berat di dada. Sasuke tidak paham kalau hal seperti ini disebut rindu. Semasa kecil ia merasakannya di sepanjang waktu.
Ketika cahaya matahari mulai menyelinap dibalik awan, suara kicau burung mulai terdengar di beberapa sudut desa. Kesunyian Sasuke hilang seketika ia mendengar langkah kaki Naruto yang berjalan ke arahnya.
"Kau pulang jam berapa semalam?"
"Tumben sekali kau bangun pagi."
Tanpa sadar Naruto dan Sasuke mengatakannya bersamaan. Naruto tertawa simpul. Sasuke melihatnya ikut bersandar di penyangga di sebelahnya.
"Merindukan Konoha, heh?" Tanya Naruto sambil menguap lebar.
"..."
"Kemaren Sakura-chan datang mencarimu. Wajahnya payah sekali, sepertinya ia baru pulang dari misi di Sunagakure. Sakura-chan dan Ino selalu sibuk pulang pergi kesana beberapa waktu ini."
"Hn."
Naruto memandangi Sasuke yang masih tidak mau berbicara. Naruto menyikut lengan Sasuke satu-satunya, "Kau harus menemuinya sebelum dia mengobrak-abrik seisi desa."
Wajah Sasuke mengarah lurus, ia memandang jauh tidak jelas kemana. Sasuke masih tidak mau berbicara.
"Ada apa?"
Suara napasnya terdengar berat selama beberapa saat, sebelum akhirnya Sasuke berbicara. "Aku benar-benar menyesali semua yang sudah aku lakukan padamu, juga pada Sakura. Aku begitu terlambat untuk menyadarinya. Aku memikirkannya sepanjang perjalananku."
"Memikirkan Sakura?"
Sasuke menangguk.
Naruto terdiam. Menunggu Sasuke melanjutkan perkataannya sampai matahari muncul lebih besar.
"Aku ingin ia hidup bersamaku. Apa yang harus kulakukan, Naruto?"
Mata biru laut milik Naruto terbuka begitu lebar. Tidak berbeda dengan mulutnya, yang kini menggantung terbuka. Naruto memandang lurus pada Sasuke. Dengan dahi berkerut, wajah Sasuke seperti memelas di hadapannya.
"A-apa!?"
"Ck! Kau mendengarnya, aku tidak akan mengulangi perkataanku."
Naruto memukul belakang kepala Sasuke cukup keras. "Isi kepalamu ini memang harus dihajar babak belur dulu baru bisa berjalan lancar. Kau akhirnya menyadarinya, setelah berapa tahun ini, iya kan, Sasuke," Naruto kemudian terkekeh, "Aku senang aku melakukannya dengan baik," katanya sembari mengacungkan kepalan tangan tinggi ke atas.
Sasuke menghela napas. Menyesali apa yang baru saja dilakukannya.
"Kau hanya perlu mengatakan pada Sakura yang sejujurnya."
Sasuke melirik Naruto. Wajah Naruto kini berubah serius, meski senyumnya yang menyebalkan masih terlihat.
"Katakan apa yang kau harapkan darinya, apa yang kau harapkan dari kalian. Sejujurnya kau tidak perlu banyak bicara, Sakura-chan akan menerimamu apapun itu."
Naruto teringat kenangan saat pertama kali ia merasakan apa yang saat ini Sasuke rasakan. Naruto mengutarakannya pada Sakura, dan Sakura membuatnya tersadar bahwa perasaan seorang gadis tidak akan mudah untuk berubah, bahkan tidak akan bisa berubah.
"Aku pikir aku dan Sakura sama saja, sebagai sahabat kami hanya ingin menyelamatkanmu dan membawamu kembali. Dan kini kau sudah kembali, tujuan kami berdua sudah tercapai. Tapi, bagi Sakura-chan, mungkin tidak sepenuhnya begitu."
"Perasaannya padamu tidak akan bisa berubah, Sasuke," Naruto melihat Sasuke yang terdiam mendengarkannya.
Keduanya terdiam. Matahari masih terus beranjak naik. Cahaya hangatnya menghilangkan gelap dan dinginnya subuh.
"Dia ingin menyelamatkanmu, tidak lebih dari itu! Gadis ini disini, yang hampir kehilangan nyawanya untukmu... dia masih menangis kapanpun dia memikirkanmu... Dan alasannya hanya karena dia terlalu menyayangimu sampai itu menyakitkan!"
"Satu hal yang membedakan Sakura adalah bagaimana perasaannya padamu bertambah kuat tanpa alasan... Dia tidak mengharapkan apapun, atau lebih tepatnya, siapapun selain dirimu... Tidak bahkan mengharapkan kau dapat melakukan hal yang sama."
Sasuke mengatupkan mulut rapat. Rahang Sasuke mengeras, sampai terlihat jelas oleh Naruto yang masih memerhatikan baik-baik di sampingnya. Sasuke memejamkan matanya, kata-kata Kakashi dan Taijiki melintas di kepalanya begitu saja.
Seperti angin sejuk di awal musim semi yang begitu menenangkan, seperti cahaya hangat matahari yang begitu menghangatkan, Sakura selalu mencoba meraih hati dingin Sasuke dengan rasa sayangnya yang begitu kuat. Sama seperti Naruto, bersusah payah, banyak peluh dan luka yang dialaminya, Sasuke tidak juga membuat Sakura mundur barang sejengkal.
"Aku tahu tidak banyak yang bisa kulakukan untuk menghentikan ini... tapi aku masih menyayangimu... aku tidak menyangka kau akan jadi seperti ini... andai aku bisa menggantikan seluruh bebanmu, aku akan melakukannya agar kau bahagia... yang bisa kulakukan hanya duduk dan menangis... itu jelas memalukan. Kalau aku masih punya tempat di hatimu walau sedikit... tolong jangan pergi..."
Dan tetap saja, terus menerus, Sakura berusaha menyelamatkannya, dan mencintainya.
"Sasuke adalah bagian dari tim 7. Dia adalah orang yang sangat berarti bagiku dan Naruto. Kami akan melakukan apapun untuk membantunya kembali."
"Setelah apa yang kulakukan padanya?" Tanya Sasuke pada sahabat di sebelahnya.
"Ya, bahkan setelah ini," Naruto mengepalkan tangan prostetiknya ke arah Sasuke, "Sakura masih bisa memaafkanmu."
Sasuke menempelkan kepalannya tangannya pada tangan prostetik milik Naruto. Keduanya telah melewati berbagai macam hal, jika bukan pada Naruto, Sasuke tidak tahu harus kepada siapa ia akan mengutarakannya. Naruto benar-benar sudah jauh lebih dewasa dari yang Sasuke bayangkan.
"Kau harus mengatakannya sebelum kau pergi," sambung Naruto setelah beberapa saat, "kalau tidak kau akan membuat Sakura-chan menunggu seumur hidupnya."
Entah kenapa Sasuke mengangguk mengiyakan. Naruto tersenyum lebar di sampingnya.
"Kalau tidak, dia akan mewarisi nasib sial Nona Tsunade, melajang sampai tua," suara Naruto mengagetkan beberapa pejalan kaki di jalanan.
.
.
.
Dan dengan begitu,
Sasuke membuat mimpi Sakura menjadi nyata...
Sakura membuat hidup Sasuke jauh lebih bermakna...
Di satu hari cerah, di pertengahan musim semi
Keduanya melangsungkan pernikahan sederhana
Tidak ada pesta
Hanya ada sahabat dan keluarga
Sakura dan Sasuke
Keluarga Uchiha pertama setelah sekian lama
Keduanya resmi menjadi awal yang baru
Sampai saatnya tiba,
Penerus Uchiha akan lahir membawa harapan
Aku tulis ulang foot notes nya ya :)
Maaf semuanya update nya lama banget. Maaf maaf maaf! Dan terima kasih untuk yang masih setia nunggu :')
Btw kalau aku nulis foot notes ini suka dibaca gak ya?
Tolong saran dan reviewnya untuk kekurangan dari chapter ini maupun yang sebelumnya, sarannya akan sangat amat membantu hehe
Love you guys
XOXO
