Chapter 8
Esoknya, semua teman-temanku mulai menjauhiku. Mereka takut dengan keberadaanku dan para guru pun tampak memandang buruk padaku. Bahkan Loke dan Levy-chan yang biasanya mengajakku bicara, berubah jadi pendiam. Rumor mengenaiku tersebar begitu cepat dikalangan murid-murid. Tak hanya disekolahku tapi juga seluruh sekolah di Magnolia. Papa dan Mama belum tahu mengenai kejadian itu. Pihak sekolah memilih untuk tutup mulut tentang itu daripada nama baik tercemar. Aku sedikit bersyukur dengan itu.
Aku tak berniat untuk menjadi berandalan, tapi setiap pulang sekolah, ada saja yang menghalangi jalanku. Mulai mengajakku berkelahi dengan alasan balas dendam maupun ingin menunjukkan kehebatan mereka. Tentu saja aku tak ingin pulang dalam keadaan terluka jadi kuikuti saja keinginan mereka.
Semenjak saat itu, aku mulai merubah penampilanku. Rambutku ku potong pendek. Entahlah, aku hanya berpikir bahwa itu jauh lebih nyaman. Papa dan Mama menanyaiku perihal rambutku tapi aku bilang apa adanya. Rambut panjangku membuatku risih.
Disekolah, aku tak memiliki teman-teman lagi. Aku hanya jadi gadis pendiam dan suka membolos kelas. Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Aku jengah dipandangi seperti monster oleh mereka. Aku muak mendengar gosip tak benar mengenaiku setiap aku berjalan. Itu yang membuatku melampiaskan kekesalanku pada berandalan. Disitulah, Black Heartfilia lahir.
Gadis manis berambut pirang khas Heartfilia namun berjiwa iblis.
Cukup lama aku bertarung dengan berandalan sambil menyandang julukan aneh itu. Cukup lama hingga para guru bosan dengan ketidakhadiranku dan juga berandalan yang sepertinya sudah tak sanggup direndahkan karena kalah oleh seorang gadis bertubuh mungil.
"Hei, kita bertemu lagi, manis." Aku hanya mendelik kesal menatap seorang lelaki berambut pirang mencuat-cuat. Tampangnya seperti kucing beringas yang ingin kuhabisi. Aku mencoba menahan emosi sambil terus melangkahkan kakiku dari sana. Ia tersenyum sinis lalu kembali menghalangi langkahku dengan berdiri dihadapanku sambil melebarkan tangannya.
"Wow, jangan secepat itu pergi dariku. Kau tentu masih ingat dengan ini, bukan?" tanyanya sambil menunjuk hidungnya yang terplester. Aku hanya mendengus kasar lalu menatapnya dengan sinis. "Lalu? Kau mau kutambahkan patahan lainnya selain hidungmu? Kurasa akan bagus kalau kau berjalan dengan kursi roda."
Ia mendesis kesal padaku. Tiba-tiba saja ia bersiul, memberikan tanda untuk memanggil kawanannya. Kupikir hanya beberapa orang, tapi aku benar-benar tak habis pikir. Puluhan orang baik laki-laki maupun perempuan mengepungku dilorong gang sempit. Aku mendecih dan menatap laki-laki tadi dengan tatapan merendah, yang membuatnya terpancing emosi. "Dasar pengecut. Memanggil rombongan. Apa kau segitu takutnya padaku sampai-sampai mengajak para yanke bodoh seperti mereka yang bisa kutebak berasal dari sekolah lain hanya untuk menyerangku, Jackal-kun~?"
"Tutup mulutmu, j*lang. Tak ada kata adil dalam pertarungan. Kau hanya harus menggunakan cara kotor jika tak memiliki cara lain." Ia langsung saja menyuruh salah satu kawanannya untuk menghajarku dari belakang. Aku yang sempat mengelak meski sedikit karena serangan tiba-tiba itu, langsung tersungkur dengan punggung yang terasa sakit.
Aku meringis pelan merasakan perihnya. Balok kayu berukuran sedang bisa menghancurkan punggungku jika aku tak menghindar daerah vital. Segera saja kutegakkan tubuhku sambil mengusap punggungku yang terasa sakit. "Hh… berarti kau membenarkan bahwa kalian memang orang bodoh. Baiklah, kemarilah kalian." Ucapku sambil memicing remeh pada mereka.
"Hajar dia."
Yanke-kun to Yanke-chan?
~Fairy Tail~
Pairing: Natsu x Lucy
Genre: Romance and Humor
Warning: OOC and Typo's bertebaran
Aku meringis pelan mendapati banyak luka saat itu. Tak menyangka bahwa mereka bertambah kuat dan tentunya kalah banyak. Pipiku bengkak, bibirku sobek dan rasanya rahangku bergeser saat itu. Perutku memar dan kakiku terluka akibat tergores dengan aspal gang. Tentu saja pakaianku sobek di beberapa tempat dan kotor akibat ulah mereka.
Aku menghela napas berat sebelum akhirnya mengambil tasku kembali dan berjalan melangkahi mereka yang sudah tepat kubuat. Kupijak dalang dari pengeroyokan ini dan menatap tajam padanya sambil mengusap rambutku ke belakang. "Temui aku lagi, dan aku takkan menahan diri lagi untuk meninju lehermu yang berharga. Ingat itu, blonde hyena." Ucapku lalu berjalan melewatinya yang memang sudah tak mampu bangkit.
Aku berjalan keluar gang kecil itu dengan bersandar pada tembok-tembok. Napasku terputus-putus dan rasanya kakiku tak mampu untuk berjalan. Aku tak memerdulikan orang-orang yang menatap ngeri padaku, mengenal siapa sosokku. Mereka sama sekali tak berniat membantu hingga akhirnya aku terjatuh di jalanan sepi karena kelelahan dan mendudukkan diriku di sisi tembok gedung kecil. Pandanganku buram saat itu hingga tak mendengar panggilan seseorang yang berteriak kaget kearahku. Aku pingsan ditempat.
"Lucy, bangunlah."
Seharusnya aku tak demam saat ini, itulah pikirku sebelum kegelapan mengambil alih kesadaranku.
"Kau demam saat itu?" tanya Natsu yang menghentikan omongan gadis pirang yang kini mengangguk membenarkan. Lucy membenarkan letak kacamatanya sebentar lalu tersenyum geli. Wajah horror Natsu benar-benar menggelikan dimatanya. "Kau mengerikan. Sendirian, demam, dan mengalahkan para yanke begitu saja. Bahkan setelah dipukul oleh balok kayu."
"Hei, aku tak sekuat itu. Buktinya aku langsung pingsan setelahnya." Balas Lucy tak terima. Ia sedikit kesal karena pasti menurut Natsu kekuatannya sudah menyamai monster. Kan dia hanya gadis kecil yang memang pernah berlatih Judo hingga sabuk hitam diam-diam di sekolah. Ia bahkan merengek pada pelatihnya untuk tidak mengikutkannya pada pertandingan Judo se-Jepang karena tak ingin ketahuan oleh orang tuanya.
Natsu mendengus pelan lalu mengambil jus jeruk yang tadi di sediakan oleh Mavis disaat Lucy berhenti bercerita sejenak hanya untuk meletakkan kotak P3K ke tempatnya semula. Ia teguk beberapa kali dan mendesah lega karenanya. Lucy tak tahan untuk tidak tertawa pelan karena tingkah Natsu yang seperti anak kecil.
"Tetap saja, Luce. Aku jadi semakin ingin mengajakmu bertarung."Lucy menggeleng pelan seraya mendesah pasrah. Matanya menatap kasihan pada Natsu sekaligus lelah. Apa pemuda ini tak sadar kalau dia masih terluka?
"Sembuhkan dulu lukamu, Dragneel-san. Aku tak mau tulangmu makin remuk. Dan ingat, aku tak mau bertarung lagi." Natsu mendecih pelan meski ia membenarkan perkataan Lucy. Ia hanya bercanda tadi. Tak mungkin dia bertarung dengan kekasih tersayangnya sedangkan melihat Lucy terluka saja sudah membuatnya kalang kabut seperti orang kesetanan.
Langit sore sudah berganti menjadi malam. Ruangan tengah tersebut langsung saja menjadi terang setelah Mavis muncul dari balik kamar mandi dan menghidupkan saklar lampu rumah. Mavis menyuruh Lucy untuk menutup gorden-gorden di ruang tengah sejenak, yang diiyakan oleh si pemilik nama. Tak butuh waktu lama dan Lucy kembali ke posisinya semula. Natsu yang tak punya kerjaan sama sekali, hanya bisa meringis pelan sambil mengusap pipinya yang bengkak.
"Jangan di tekan-tekan. Nanti makin sakit." Cegah Lucy yang di patuhi oleh Natsu dengan cepat. Kemudian pemuda itu kembali teringat dengan cerita Lucy yang belum selesai. "Lalu, setelah kau pingsan apa yang terjadi?"
"Ah ya, setelah itu…"
Aku mendapati diriku sudah berada di kamarku sendiri. Pakaianku sudah berganti menjadi kaos berlengan pendek dan celana selutut. Saat itu, yang bisa kulihat hanya Seira, pelayan pribadi Mama yang menungguku bangun. Ia membersihkan lukaku dan menutupinya dengan perban. Saat ia sadar aku sudah bangun, ia langsung membungkukkan badannya dengan kaku dan memandang datar padaku. Ciri khasnya.
"Kenapa aku bisa ada disini?" tanyaku padanya.
"Tuan Loke dan Nona Levy yang membawa anda kemari. Mereka sedang berada di ruang kerja Tuan Heartfilia." Aku mengangguk mengerti. Aku merasa kepalaku masih berdenyut karena sakit dan tubuhku yang seolah mati rasa. Saat aku mencoba untuk bangkit dari kasur, aku langsung teringat dengan perkataan Seira yang terasa ganjil. "Ruangan Papa? Apa yang mereka lakukan disana?"
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu nona daritadi. Kalau begitu, saya mohon diri." Setelahnya, gadis itu keluar dari kamarku. Aku sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi karena ini. Ragu, aku mulai melangkahkan kakiku keluar kamar.
Ruang kerja Papa berada di lantai tiga dan letakknya disudut rumah. Bersampingan dengan ruang baca dan ruang music. Butuh perjuangan untukku sampai di sana karena tubuhku yang tak sanggup untuk diajak berjalan karena luka. Menahan sakit hingga kakiku kembali mengeluarkan darah dibalik perban.
Kuketuk pintu kayu besar itu beberapa kali hingga suara Papa menyuruhku masuk. Jujur saja, tubuhku merinding seketika mendengar suara dingin Papa yang belum pernah kudengar.
Suara derit pintu kayu mahoni itu seolah memecah kebekuan yang ada di ruangan kerja Papa. Aku terkaget mendapati Loke yang mendapatkan lebam dipipinya dan Levy-chan yang tengah menahan tubuh Loke dengan tatapan sedih. Kulihat Mama dan Papa berdiri bersisian di depan meja kerja Papa dan juga seorang lelaki tua yang tak kukenal. Mereka semua menatapku yang berjalan masuk dengan kepala menunduk.
Tiba-tiba saja, entah karena apa, Papa langsung menamparku dan memukuliku dengan tangannya sendiri. Aku yang saat itu tak dapat mencerna apapun hanya diam menerima. Setelah aku terjatuh di lantai, barulah Papa menghentikan tindakannya memukuliku.
"Bukankah ini yang kau lakukan selama ini? berkelahi dan mencoreng nama baik keluarga?" hardik Papa dengan nada tinggi. Aku hanya terus diam dengan kepala tertunduk. "Dan kalian, bukankah aku menyuruh kalian untuk menjaga putriku selama di sekolah agar tak berbuat onar?!"
Amarah Papa menjadi-jadi sambil menunjuk Loke dan Levy-chan lalu tanpa perintah apapun dari Papa, Mama menyuruh mereka berdua keluar ruangan untuk pulang sebelum masalah berlanjut yang akan semakin memperburuk keadaan. Meninggalkanku sendirian di sana dengan pipi yang semakin nyeri dan darah yang mengucur dari bibirku.
"Gara-gara kau, banyak perusahaan lain yang ragu dengan Papa. Banyak rumor menggelikan yang membuat perusahaan Papa bangkrut!" teriak Papa yang sudah kurasa diambang batas kesabaran. Aku hanya bisa menangis dalam diam tanpa meneteskan air mata. Kulirik Mama dengan sedikit keberanian, meminta pertolongan padanya tapi yang aku tak mendapatinya sama sekali di mata Mama. Sosok yang biasanya tersenyum padaku di saat aku mendapatkan juara ataupun bertingkah baik di sekolah kini sirna entah kemana. Bahkan senyum Mama jauh lebih dingin dari Papa.
Mama berjalan mendekati lelaki tua –yang kelihatan berumur 50an- itu dan memberitahukan sesuatu padanya. Pria itu mengangguk patuh meski aku dapat melihat sorot nanar darinya.
Aku tak butuh tatapan kasihan itu!
Kemudian, suara Mama mengisi kekosongan dingin itu sementara Papa sudah duduk di kursinya sambil mendesah kesal dan hanya bisa mencercaku dari balik mulutnya meski ia tak menatapku. Dia hanya kembali berkutat pada computer, seperti biasa.
"Kembali ke kamarmu, Lucy. Untuk beberapa tahun, kau harus belajar di rumah dan memperbaiki sikapmu. Mama tak mau kau berkeliaran diluar lagi dan membuat masalah. Setiap hari kau akan diajarkan oleh Tuan Jose Porla untuk semua mata pelajaran di sekolahmu dan jangan pernah sekalipun menginjakkan kaki keluar rumah. Mama dan Papa sudah meminta para penjaga untuk mengawasimu." Perintah Mama seolah menjadi ultimatum yang tak bisa ku tolak. Kepalaku otomatis mengangguk patuh dan kemudian aku berjalan keluar ruangan Papa dengan suara meminta izin yang sangat kecil.
Saat diluar, aku mendapati Loke dan Levy-chan yang ternyata menungguku. Mereka menggenggam tanganku dan bertanya tentangku. "Aku baik-baik saja. Lakukan saja kegiatan kalian seperti yang biasa kalian lakukan dan anggap aku tak pernah ada. Aku sudah tak peduli." Jawabku saat itu. Aku tak tahu kenapa aku bisa berkata dengan sangat dingin tapi kepala dan hatiku benar-benar kosong saat itu. Rasanya sangat perih hingga sakitnya terbias begitu saja.
Mereka langsung saja bersujud meminta maaf padaku. Air mata mereka turun begitu deras akan rasa penyesalan. "Sudahlah. Kalian tak pernah melakukan salah apapun padaku. Tak perlu bersujud begitu. Takkan ada gunanya."
"T-tapi Lu-chan…"
"Pulanglah."
Esoknya Papa dan Mama benar-benar mengurus surat kepindahanku. Rumahku bagaikan penjara dan aku sedikit bersyukur karena itu. Aku takkan melihat tatapan takut, ngeri dan jijik yang biasanya aku dapatkan di sekolah. Aku pun takkan bertemu dengan para brandalan yang selalu mencari masalah denganku. Tapi aku tak suka. Pengawal berada di mana-mana dan para pelayan selalu berdiri di luar pintu, siap sedia melayani kebutuhan hidupku kecuali napas segar.
Aku menyesal melakukan tindakan onar diluar. Bukan, aku menyesal bahwa aku sangat lemah hingga aku merasa bahwa aku ini hanya boneka kedua orangtuaku untuk mendapatkan keuntungan besar dibalik kerjasamanya dengan perusahaan asing. Keadaan perusahaan kembali membaik dan melakukan perjodohan untukku agar perusahaan semakin berkembang besar. Saat itu aku memohon pada Mama agar perjodohan itu dibatalkan dengan janji aku takkan melakukan kesalahan yang sama dan akan mengikuti perintah mereka.
Tapi, bukan itu yang membuatku trauma. Jose, pria itu psikopat! Dia selalu memasukkan kata-kata layaknya cuci otak. Memasukkan kata-kata bagaimana mengejamkannya hidup ini dan tatapan orang-orang yang mampu membuatmu terbunuh seketika. Semuanya dimasukkan begitu saja ke dalam otakku dan tubuhku selalu mendapatkan perlakuan buruk. Pukulan dari kayu rotan dan juga sentuhan-sentuhan mesumnya yang hampir saja menghilangkan keperawananku. Aku sama sekali tak sadar dengan semua itu karena pikiranku sudah dipenuhi oleh kata-kata perintah Jose. Beruntung saja saat itu, Loke muncul dari pintu kamarku dan langsung menghajarnya. Loke yang awalnya ingin membawakanku berbagai macam makanan luar secara diam-diam saat kedua orangtuaku tak ada sebagai permintaan maaf.
Disaat itulah, aku langsung tersadar dengan semuanya. Loke langsung memberitahu Mamaku perihal itu dan Jose langsung dipecat saat itu. Tentu saja, berkat Loke-lah aku kembali sadar dengan dunia meski aku masih terperangkap di kamar. Aku pun sudah memaafkan Loke juga Levy-chan karena memang itu bukan salah mereka untuk bersikap takut padaku. Itu hal yang patut dimaklumi.
Jadilah, aku belajar seorang diri di kamar tanpa bantuan siapapun. Aku terus belajar dan sesekali merasa terhibur dengan sosok Loke dan Levy-chan yang bersedia menemaniku. Hingga akhirnya penglihatanku memburuk dan kacamataku semakin bertambah tingkat minusnya. Aku terus mengurung diri sampai kelulusan SMP dan saat Mama dan Papa memperbolehkanku keluar rumah –dengan alasan bahwa aku sudah berubah menjadi lebih baik, semuanya terasa asing dimataku.
"Lucy, kau baik-baik saja?" itulah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Loke kala melihatku berkeringat dingin menatap sekitar.
"Loke, aku takut. Mereka menatapku seolah ingin membunuhku."
TBC
Hai minna-san! akhirnya saya update juga chap ini setelah sekian lama saya tahan karena demam semingguan ini TT gimana menurut minna-san chap ini? saya harap dapat menghibur minna-san sekalian ;D ini full masa lalu lucy karena chap depan bakalan fokus sama nalu lagi.
okelah, saya akan membalas review minna-san semua
Hashimatsu: heheh iya, ini malah full masa lalunya. maaf ya kalau kurang greget. maklum saya bukanlah penulis yang handal dalam membuat cerita sedih XD... makasih loh udah suka sama ceritanya dan menikmatinya~ maaf ya gk bisa update kilat. kala bukan demam, saya udah megang laptop dari kemarin tapi apalah daya, tangan ini bahkan tak sanggup megang hp lama-lama TT
r dragneel77: hehehe rahasia~ saya masih mikir-mikir mana yang bagus soalnya kalau orangtua mereka yang asli saya gk kenal karena blum pernah kenalan langsung #plak *buang ke planet pluto... Mama lucy memang sengaja saya buat antagonis buat sementara aja. itu hanya sebagai pembentuk mental lucy biar kuat #apalagiinicoba... pokoknya makasih udah review~
hikanee: ini udah update... maaf ya lama updatenya TT gomeeeennnn
guest: hahaha, sepertinya kamu suka banget liat nalu kissu XD tenang aja, saya bakalan buat mereka kissu di chap depan atau depannya lagi... harus nyari suasana romantis biar pas XD
ifa. dragneel92: wah, kuterharu loh... makasih ya udah slalu nyemangatin author ;') yosh, saya semangat lagi karna kamu... ini udah update, moga kamu suka ya~~~
Fic of Delusion: hahaha senpai ada-ada aja. segitu penasarannya kah senpai dengan judulnya? XD saya kira senpai malah penasaran sama ceritanya hahaha... judulnya itu preman cowok sama preman cowok... dan yup ceritanya tentang preman kutu buku preman... nah, semoga senpai suka dengan chap ini ya~
hannah: ini udah dijelasin masa lalunya Lucy... semoga kamu suka ya~~ makasih udah review
saya juga mau berterima kasih pada reader yang udah sedia membaca cerita saya, semoga kalian suka ya~
oklah, saya rasa sekian dari saya
salam hangat penuh cinta
IreneReiko-chan
Mind RnR?
