Title:Winter In Seoul [REMAKE from Novel Winter In Tokyo]

Author:Rillakyuming97

Cast:

- Lee Sungmin

- Cho Kyuhyun

- Other Cast

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst.

Rating: T

Disclaimer:Alur, cerita, ide, dan jalan cerita ini murni milik Ilana Tan. Saya hanya meminjam ceritanya untuk di jadikan fanfiction—walaupun ada perombakan di sana sini. Cast milik diri mereka sendiri, Tuhan YME, dan serta ELF semua. Saya hanya meminjam nama, dan meminjam ide. Fanfiction ini milik saya walaupun remake=)) Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, dan Sungmin milik saya-_-v *kabur

Warning: Newbie, AU, OOC, REMAKE, Gender Switch, Typo(s), dan hal-hal yang tidak berkenan lainnya. No Bash, No Flame! Anda boleh memflame/membash fanfiction dan authornya, tetapi tidak membash jalan cerita dan cast-nya:)

Summary:

"Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Seoul. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya…"

-oOo—Winter In Seoul—oOo—

"REUNI SMP?" Kyuhyun memindahkan ponsel ke telinga kanan dan mendongak menatap lampu lalu lintas, menunggunya berubah warna. "Maksudmu, reuni satu sekolah? Bukan hanya kelas kita atau angkatan kita?"

"Bukan hanya angkatan kita," sahut Kim Jongwoon di ujung sana. "Semua alumni boleh datang. Malah undangan untuk para alumni sudah disebarkan satu bulan sebelumnya. Kau tidak menerimanya?"

"Ani."

"Yah, mungkin karena kau sudah pindah ke luar negeri sebelum tahun ajaran selesai," tebak Yesung—Kim Jongwoon. "Karena itu mereka tidak tahu bagaimana cara menghubungimu."

Lampu lalu lintas berubah warna dan Kyuhyun cepat-cepat menyeberang jalan bersama rombongan pejalan kaki lainnya. "Tapi memangnya aku boleh ikut? Maksudku, aku kan tidak menerima undangannya."

"Ah, kau tidak perlu cemas soal itu," kata Yesung ringan. "Biar aku saja yang mengurusnya. Kau hanya perlu hadir."

"Kapan reuninya?"

"Kira-kira seminggu setelah Tahun Baru. Aku lupa tanggal pastinya. Nanti akan ku kabari lagi."

"Baiklah. Tapi ngomong-ngomong apakah kita harus hadir sendiri atau…"

"Ah, maksudmu apakah kau boleh mengajak pasangan? Tentu saja. Kau tahu,

banyak teman kita yang akan mengajak suami atau istri mereka." Yesung terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada bergurau, "Kenapa? Ada seseorang yang ingin kau ajak ke acara itu?"

Kyuhyun tersenyum. "Mungkin."

Yesung mendesah. "Tidak mau bercerita rupanya. Tidak apa-apa. Tapi kuharap kau bisa mengajaknya dan mengenalkannya padaku."

"Baiklah," sahut Kyuhyun, tertawa.

"Mungkin aku juga akan mengajak seseorang," kata Yesung tiba-tiba.

"Tunggu dulu. Beberapa hari yang lalu sewaktu kita makan siang bersama, kau bilang kau belum punya pacar. Tepatnya, kau bilang kau tidak punya waktu untuk pacaran." Kyuhyun berjalan menyusuri jalan di distrik Myeong-dong yang sempit, panjang, dan dipadati pejalan kaki yang kebanyakan adalah remaja. Berbagai butik, kafe, restoran siap saji, toko kecantikan dan toko-toko kecil lainnya yang ditargetkan untuk kawula muda berjejer di sepanjang jalan. Kyuhyun menyenggol bahu seseorang dan ia menggumamkan kata maaf sambil membungkuk kecil tanpa berhenti berjalan.

"Memang. Tapi bukankah hidup memang aneh?" Suara Yesung terdengar ceria. "Aku bertemu dengannya tepat setelah aku makan siang denganmu hari itu. Sejak itu kami sempat bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan dan aku sempat mengajaknya makan siang atau minum kopi sesekali. Aku tidak tahu apakah dia mau kalau aku benar-benar mengajaknya kencan."

"Salah seorang perawat baru yang cantik?" tebak Kyuhyun.

"Aku memang bertemu dengannya di rumah sakit, tapi dia bukan perawat," kata Yesung, masih dengan nada ceria. "Tenang saja, kau akan bertemu dengannya nanti saat reuni."

Kyuhyun menutup ponsel dan masuk ke salah satu toko foto di sebelah kanannya, lalu tersenyum kepada penjaga toko yang menyambutnya. "Pesanan atas nama Kyuhyun sudah jadi?" tanyanya.

Gadis penjaga toko berwajah manis itu tersenyum lebar. "Ah, tentu saja. Harap tunggu sebentar."

Tak lama kemudian gadis ramah itu kembali membawa sebuah kantong kertas dan menyerahkannya kepada Kyuhyun. Kyuhyun mengeluarkan beberapa lembar foto yang cukup besar dari dalam kantong kertas itu dan memeriksa setiap lembarnya. Semua foto itu adalah hasil jepretannya sejak ia menginjakkan kaki di Seoul. Pemandangan kota Seoul, para pejalan kaki di persimpangan ramai yang sempat membuat Sungmin hampir terjungkal, anak-anak kecil yang berlarian di sekitar Hangang Park, beberapa kuil terkenal. Dan Lee Sungmin.

Kyuhyun memegang salah satu foto Sungmin yang diambilnya ketika ia melihat yeoja itu duduk sendirian di salah satu kafe di Myeong-dong. Ia sudah sering memotret Sungmin dan kebanyakan dari foto itu diambil tanpa sepengetahuan yeoja itu. Kalau Sungmin tahu Kyuhyun memotretnya, ia akan mengomel panjang-lebar tentang dirinya yang bukan fotomodel dan tidak berniat menjadi fotomodel.

"Semuanya sudah lengkap, bukan?" tanya si penjaga toko.

Kyuhyun mengangkat wajah dan tersenyum lebar. "Ye," sahutnya. "Terima kasih banyak."

Memandangi foto-foto Sungmin yang ada dalam genggamannya, Kyuhyun teringat sesuatu. Sebelum ia mengajak gadis itu ke acara reuni sekolahnya, ada hal lain yang ingin dikatakannya kepada Sungmin. Ia merogoh saku bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan dua lembar tiket pertunjukan balet. Swan Lake, salah satu pertunjukan yang sangat laris dan sangat ingin ditonton Sungmin. Tanggal pertunjukan yang tercetak pada tiket itu adalah 24 Desember, jadi Kyuhyun berharap Sungmin tidak punya acara penting pada hari itu.

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

Sungmin berjongkok merapikan buku-buku yang ada di rak bagian bawah sambil bersenandung lirih. Perpustakaan sedang sepi saat itu. Hanya ada beberapa orang yang membaca buku di meja-meja yang tersedia. Sungmin sangat suka suasana sepi perpustakaan. Begitu damai. Ia berdiri, menegakkan tubuh, dan memandang ke luar jendela. Natal tinggal beberapa lagi. Ia berharap salju akan turun pada Hari Natal.

Sungmin mendesah pelan dan melirik jam tangan. Sebentar lagi waktunya pulang. Tiba-tiba lagu Bonamana terdengar nyaring. Terperanjat, Sungmin buru-buru mengeluarkan ponselnya. "Yeoboseyo?" bisiknya. Wajahnya terasa panas ketika ia melihat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia cepat-cepat meninggalkan deretan rak buku dan kembali ke meja kerjanya.

"Sungmin-ah."

Mendengar suara Kim Jongwoon di ujung sana, Sungmin langsung memperlambat langkah karena kaget. "Sunbae?"

"Bagaimana kakimu?" tanya Kim Jongwoon. "Tidak ada masalah, bukan?"

Otomatis Sungmin menatap kaki kirinya yang tidak lagi diperban. Perbannya memang sudah dibuka kemarin. "Tidak masalah. Sudah sembuh sama sekali," sahutnya sambil tersenyum. "Sunbae masih di rumah sakit?"

"Ya, tapi sebentar lagi pulang. Kau ada acara malam ini?"

"Mmm... Tidak ada acara penting. Ada apa?"

"Bagaimana kalau kita pergi makan malam?"

Sungmin tidak butuh waktu lama untuk menjawab. "Tentu saja."

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

Sibuk.

Kyuhyun menutup ponselnya. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi Sungmin tetapi ponsel gadis itu sibuk terus. Tidak apa-apa. Ia akan pergi menemui gadis itu di perpustakaan tempatnya bekerja. Kyuhyun melirik jam tangan. Masih ada waktu.

Kemungkinan besar ia bisa sampai di sana sebelum gadis itu pulang. Lalu ia bisa sekalian mengajak Sungmin makan malam.

Tapi ternyata Sungmin tidak ada di perpustakaan. Menurut salah seorang rekan kerjanya Sungmin pulang lebih cepat hari ini. Kyuhyun melirik jam tangan. Kalau begitu ia akan menemui Sungmin di rumah saja.

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

Seharusnya ia memakai sarung tangan. Kyuhyun menggigil dan menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku mantel begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Uap putih keluar dari hidung dan mulutnya seiring dengan setiap embusan napas. Dingin sekali. Sepertinya tidak lama lagi akan turun salju.

"Hyung!"

Kyuhyun menoleh ke arah suara dan melihat Kim Ryeowook berlari menghampirinya.

"Oh, Ryeowook."

"Dingin... Dingin..." Ryeowook menggigil dengan berlebihan dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya. "Hyung mau pulang? Kajja, kita jalan sama-sama."

Kedua namja itu berjalan cepat menyusuri jalan menanjak yang mengarah ke gedung apartemen mereka.

"Jadi bagaimana?" tanya Ryeowook tiba-tiba.

"Bagaimana apa?" Kyuhyun balik bertanya.

"Tentang malam Natal."

"Hm?"

"Hyung sudah mengajaknya?"

"Siapa?"

Ryeowook berhenti melangkah. "Bukankah waktu itu Hyung bilang Hyung mau menghabiskan Natal bersama seseorang? Tapi waktu itu Hyung belum mengajaknya. Jadi apakah Hyung sudah mengajaknya sekarang?"

Kyuhyun juga menghentikan langkah. Ia menatap Ryeowook sejenak, lalu tersenyum. "Oh, itu." Kemudian ia kembali melanjutkan langkah.

Ryeowook menyusulnya. "Ya, yang itu. Jadi?"

"Aku akan mengajaknya malam ini."

"Hyung masih belum mengajaknya?"

"Sudah kubilang, aku akan bertanya padanya malam ini."

"Hyung sudah lupa kata-kataku tentang bergerak cepat?"

"Aigoo, anak ini! Bukankah sudah kubilang…"

"Eh, itu mobil siapa?"

Kyuhyun menahan omelannya dan memandang lurus ke depan. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen mereka, tidak begitu jauh dari mereka. Pintu di sisi pengemudi terbuka dan seorang laki-laki yang mengenakan jaket cokelat panjang keluar.

Alis Kyuhyun terangkat. Oh? Bukankah itu Kim Jongwoon, pikirnya sambil menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Ada apa temannya itu datang mencarinya?

Kyuhyun baru akan mempercepat langkah ketika pintu sisi penumpang terbuka dan seorang gadis melangkah keluar. Kyuhyun berhenti melangkah dan mengerjapkan mata ketika mengenali gadis itu.

Lee Sungmin?

"Eh? Bukankah itu Sungmin Noona?" Kyuhyun mendengar Ryeowook bertanya. "Lalu siapa orang yang bersamanya itu?"

Kyuhyun tidak menjawab. Ia sendiri juga heran. Sungmin dan Yesung?

"Jangan-jangan dia si dokter itu," sela Ryeowook tiba-tiba.

Kyuhyun menoleh ke arah Ryeowook di sampingnya. "Siapa?"

"Cinta pertama Sungmin Noona. Yang meneleponnya ketika kita semua sedang makan bibimbap di rumah Kakek Osawa."

Kepala Kyuhyun berputar kembali menatap Sungmin dan Yesung yang berdiri berhadapan. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu, lalu tertawa. Benar juga. Sungmin pernah memberitahunya nama cinta pertamanya adalah Jongwoon dan berprofesi sebagai dokter. Mungkinkah Jongwoon yang menjadi cinta pertama Sungmin adalah orang yang sama dengan Jongwoon—Yesung– yang adalah teman lama Kyuhyun? Ditambah lagi, tadi Yesung menyebut-nyebut tentang wanita yang baru dikenalnya. Apakah wanita yang dimaksudnya itu Sungmin?

Ryeowook kembali bersuara. "Kelihatannya hubungan mereka sudah dekat. Hyung, menurutmu apakah mereka pa..."

"Ryeowook," sela Kyuhyun tiba-tiba.

"Ne?"

"Ayo, kutraktir minum."

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap sedikit soju bisa membantu menjernihkan pikirannya.

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

"Oi, kau baik-baik saja?" tanya Kyuhyun pada Ryeowook yang berjalan dengan ceria di sampingnya. Mereka tidak berlama-lama di kedai minum karena Kyuhyun tidak mau berjalan pulang sambil menggendong Ryeowook. Baru setengah jam di kedai itu Ryeowook sudah harus berpegangan pada meja supaya tidak jatuh dari kursi. Anak itu benar-benar tidak kuat minum.

Ryeowook tersenyum lebar—terlalu lebar– dan mengangguk berkali-kali. "Ah, tentu saja. Tentu saja. Aku sangat baik. Memangnya kenapa?"

Kyuhyun memandangi Ryeowook, lalu mendesah, "Noonamu pasti akan menggantungku kalau melihatmu mabuk begitu."

Ryeowook tertawa. "Kyuhyun Hyung, aku tidak mabuk. Lihat, aku masih bisa berjalan lurus. Lihat? Lihat?" Ia merentangkan kedua tangan ke samping dan berjalan lurus dengan langkah lebar di jalanan yang sepi itu untuk membuktikan kata-katanya.

"Ya, ya, ya. Tapi hati-hati dengan tiang lampu di depanmu," kata Kyuhyun.

Ryeowook berhenti tepat pada waktunya sebelum hidungnya yang mancung menabrak tiang lampu. Ia menoleh ke arah Kyuhyun dan tertawa. "Aku melihatnya kok."

Kyuhyun hanya menggeleng-geleng pasrah. Ia kembali berjalan dan Ryeowook menyusulnya dari belakang.

"Ahjussi ini apa-apaan?"

Kyuhyun dan Ryeowook serentak menoleh ke arah suara wanita bernada tinggi itu. Tidak jauh di depan mereka terlihat seorang wanita dan seorang pria sedang bertengkar. Si pria berusaha menarik tangan si wanita sementara si wanita memberontak.

Sedetik kemudian Ryeowook berseru, "Noona!" dan langsung berlari ke arah kedua orang itu sebelum Kyuhyun sempat mencegahnya.

Noona? Kyuhyun segera menyadari kalau wanita yang sedang ditarik-tarik itu adalah Kim Heechul. Heechul terlihat sedang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman si pria tak dikenal. Dalam sekejap Ryeowook sudah tiba di samping mereka dan berseru, "Lepaskan tanganmu!"

Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Kyuhyun. Bersamaan dengan teriakan itu, Ryeowook juga melayangkan tinjunya ke rahang pria yang menarik-narik kakaknya. Namun pria itu tidak tersungkur seperti yang diharapkan Ryeowook. Pria itu masih tetap berdiri, malah ia menggeram dan balas melayangkan tinju. Ryeowook pun terjatuh ke tanah diikuti pekikan kakaknya.

"Jangan ikut campur, anak ingusan!" seru pria itu serak.

"Aigo," gumam Kyuhyun, dan langsung berlari ke arah mereka. Ia berhasil mencapai ketiga orang itu tepat ketika si pria tak dikenal bermaksud menendang Ryeowook yang masih terkapar di tanah. Kyuhyun langsung menahan dada pria itu dan mendorongnya ke belakang.

"Siapa lagi kau?" seru pria itu marah. "Cari mati ya?"

Kyuhyun menoleh ke arah Heechul yang berlutut di samping adiknya. "Heechul-ah, kau tidak apa-apa?"

"Kyuhyun-ah," bisik Heechul dengan mata terbelalak, lalu melanjutkan dengan cepat, "Ya, aku baik-baik saja. Orang gila ini bersikap kurang ajar terhadapku dan dia tadi meninju Ryeowook."

"Sebaiknya kau minggir. Urusi urusanmu sendiri," ancam pria itu dengan rahang terkatup. Ia menatap Kyuhyun dengan mata disipitkan.

Kini Kyuhyun bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Usianya mungkin sekitar pertengahan sampai akhir tiga puluhan dan bertubuh agak kurus. Kyuhyun memerhatikan penampilan pria itu: pakaiannya bagus, sepatunya bagus, ada beberapa cincin emas melingkari jari-jari tangannya. Mata Kyuhyun terangkat ke wajah pria itu.

Wajahnya agak seram karena penuh kerutan marah. Alis matanya lebat—berlawanan dengan rambutnya yang terlihat tipis di puncak kepalanya, membuatnya terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya—dan matanya kecil, hidungnya agak bengkok, bibirnya tipis dan berkerut. Dia mabuk, pikir Kyuhyun ketika melihat pria itu melangkah agak terhuyung-huyung mendekatinya.

"Tapi ini teman-temanku, jadi ini juga urusanku," kata Kyuhyun tenang. Ia menatap lurus ke dalam mata pria itu.

"Hah!" Pria itu mendengus keras. Ia menunjuk Ryeowook yang masih mengerang pelan di tanah. "Dia menyerangku, aku hanya membalasnya." Ia beralih menunjuk hidung Heechul. "Dan tentang perempuan jalang ini, dia yang menggodaku lebih dulu."

"Ya! Ahjussi mimpi, eoh?" sela Heechul galak dengan dagu terangkat tinggi. "Seharusnya Paman becermin dulu. Mana mungkin aku menggodamu?"

Pria itu mengangkat tangan kanannya. "Dasar perempuan…"

Kyuhyun bergerak ingin menghalanginya, tetapi telapak tangan pria itu malah mendarat di pipinya.

"Kyuhyun-ah!" pekik Heechul.

Kyuhyun memegangi pipinya dan mengernyit. Ia bisa merasakan darah di lidahnya. Sialan, pukulan orang itu kuat juga. Untung giginya tidak patah. Kyuhyun menegakkan tubuh dan menatap pria di depannya.

Pria itu mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan menantang. "Mwo? Mau lagi? Mau lagi? Ayo ke sini kalau mau."

Orang itu mabuk, kesal, dan tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak mungkin bisa diajak bicara baik-baik. Kyuhyun mendesah. Kalau begitu hanya ada satu cara.

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

Sungmin menonton televisi di ruang duduk apartemennya tanpa minat. Ia baru saja pulang dari makan malam bersama Yesung. Acara mereka memang terputus karena Yesung mendapat panggilan dari rumah sakit, tapi Sungmin tetap merasa kebersamaan mereka yang singkat itu sangat menyenangkan. Ia ingin mencari teman berbagi cerita.

Masalahnya apartemen Heechul kosong. Bahkan Kyuhyun juga tidak ada di rumah. Biasanya jam-jam segini Heechul sudah ada di apartemennya, menyiapkan makan malam untuk adiknya. Ke mana mereka semua? Kemudian Sungmin mendengar suara-suara di luar. Ia segera mematikan televisi dan bangkit dari lantai. Mungkin itu Heechul sudah pulang. Atau mungkin Kyuhyun? Sungmin membuka pintu dan melongokkan kepala ke luar.

"Kau mau masuk, Kyuhyun-ah?" Sungmin mendengar suara Heechul di lantai bawah.

"Tidak perlu. Aku naik saja." Kali ini suara Kyuhyun.

"Tapi itu…"

"Ah, ige? Gwenchana. Tidak usah dipikirkan," sela Kyuhyun, lalu tertawa kecil. "Kelihatannya justru Ryeowook yang harus diurus."

"Aku tidak apa-apa," Ryeowook membantah.

"Apanya yang tidak apa-apa?" potong Heechul. "Lihat pipimu memar begitu. Tapi Kyuhyun-ah, kau juga berdarah."

Berdarah? Mendengar itu Sungmin langsung keluar dari apartemennya dan bergegas menuruni tangga ke lantai bawah.

"Oh, Sungmin," kata Heechul yang melihat Sungmin lebih dulu, lalu yang lain ikut menoleh.

"Ada apa, Eonnie?" tanya Sungmin sambil memandang mereka bertiga bergantian, lalu terkesiap pelan ketika melihat wajah Ryeowook dan Kyuhyun. "Kalian berdua kenapa?"

"Tadi ada orang sinting yang menggangguku di jalan," Heechul yang menjawab dengan nada berapi-api. "Seenaknya saja dia menarik-narik aku seolah-olah aku ini wanita gampangan. Untung saja mereka berdua muncul." Ia menunjuk Kyuhyun dan adiknya. "Ryeowook langsung meninju orang itu setelah berteriak, 'Jangan sakiti kakakku!'…"

"Aku tidak bilang begitu," protes Ryeowook salah tingkah. "Aku hanya bilang, 'Lepaskan tanganmu'."

"Tapi aku tahu maksud hatimu yang sebenarnya," balas Heechul sambil mengacak-acak rambut adiknya. Lalu ia kembali menatap Sungmin. "Tapi orang itu balas memukul Ryeowook dan Ryeowook langsung terkapar. Saat itulah Kyuhyun-ah beraksi."

Sungmin berpaling ke arah Kyuhyun. Sudut bibir laki-laki itu terluka. "Kau juga dipukul?" tanya Sungmin khawatir.

"Cuma sekali," sela Heechul bahkan sebelum Kyuhyun sempat membuka mulut. "Lalu Kyuhyun-ah membuat orang itu lari terbirit-birit."

Sungmin menatap Kyuhyun lagi. "Bagaimana bisa?"

Masih Heechul yang menjawab, "Sabuk hitam karate."

Alis Sungmin terangkat. Kyuhyun menatapnya dan tersenyum lebar, lalu ia menggeleng. "Tidak juga. Hanya sedikit-sedikit."

"Tapi orang itu sempat mengancam Kyuhyun Hyung sebelum dia pergi," kata Ryeowook.

"Sebaiknya kau cepat masuk dan kompres pipimu," sela Kyuhyun.

"Benar. Ayo, masuk," kata Heechul sambil mendorong adiknya masuk ke apartemen mereka.

Sungmin membuka mulut. "Tapi..."

"Kau mau naik atau tidak?" panggil Kyuhyun yang sudah mulai menaiki tangga.

Sungmin menatap Kyuhyun, lalu ke arah Heechul dan Ryeowook, lalu kembali ke Kyuhyun. Akhirnya ia menyerah dan mengikuti Kyuhyun ke atas.

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

Kyuhyun menyentuh pipinya dan meringis pelan. Pipinya pasti bengkak besok. Ck, malam ini benar-benar kacau. Ketika ia berhenti di depan pintu apartemennya dan mengeluarkan kunci ia mendengar Sungmin bertanya dengan nada khawatir, "Apa maksud Ryeowook tadi?"

"Apanya?" Kyuhyun balik bertanya. Ia masuk ke apartemennya dan Sungmin mengikutinya dari belakang.

"Katanya orang itu mengancammu." Sungmin melepas sepatu dan mengenakan sandal Hello Kitty-nya sebelum memasuki apartemen Kyuhyun.

"Hanya gertakan kosong," gumam Kyuhyun sambil melepas syal, jaket, dan topi. Ia berbalik menghadap Sungmin. "Tidak usah dipikirkan."

Ia melihat Sungmin menatapnya dengan kening berkerut.

"Kenapa?" tanya Kyuhyun. "Ada sesuatu di wajahku?"

"Sudut bibirmu mulai membiru," gumam Sungmin muram. "Biar kuambilkan obat."

Ketika gadis itu hendak berjalan ke pintu, Kyuhyun meraih pergelangan tangannya. "Tidak perlu repot-repot," katanya lelah. "Aku juga punya obat. Kepalaku sakit kalau kau mondar-mandir. Duduk saja yang manis."

Sungmin menurut. Ia duduk di samping Kyuhyun di sofa dan menatap wajahnya untuk mencari luka lain. "Kau terluka di mana lagi?" tanyanya. "Kepala? Kau bilang kepalamu sakit."

"Kepalaku tidak terluka. Hanya pusing sedikit."

"Tangan?"

"Tidak."

"Kaki?"

"Tidak."

"Badanmu?"

Kyuhyun tertawa pendek. "Sungminnie, aku baik-baik saja." Melihat kening Sungmin yang berkerut tidak percaya, ia melanjutkan, "Sungguh! Atau kau mau aku membuka baju untuk meyakinkanmu?"

Sungmin mendengus, lalu bertanya, "Kau sudah makan?"

Kyuhyun tidak langsung menjawab. Ia menatap Sungmin sejenak, lalu memalingkan wajah dan mendesah. "Tadinya aku mau mengajakmu makan."

"Ah, aku pergi makan dengan Sunbae," kata Sungmin langsung tanpa ditanya. Senyumnya mengembang.

"Sunbae?"

Sungmin menegakkan punggung dan menatap Kyuhyun dengan mata berbinar-binar. "Aku sudah pernah bercerita padamu tentang dia, bukan? Cinta pertamaku? Namanya Kim Jongwoon."

Mendengar nama itu Kyuhyun mendesah pelan. Ia mengangguk-angguk pelan dengan pandangan kosong dan bergumam tidak jelas.

"Dulu, sewaktu pertama kali bertemu dengannya tiga belas tahun yang lalu, aku sama sekali tidak tahu dia orang yang seperti apa," Sungmin melanjutkan sambil melamun.

"Hm."

"Tapi sekarang aku tahu dia orang yang menyenangkan."

"Hm."

"Juga pintar."

"Aku haus," sela Kyuhyun tiba-tiba.

Sungmin terdiam sejenak, lalu berkata, "Biar kuambilkan air."

Sebelum gadis itu sempat bangkit dari sofa, Kyuhyun sudah mendahuluinya dan berjalan ke dapur. Ia kesal. Bagaimana gadis itu bisa membicarakan Kim Jongwoon di depannya seperti itu? Tapi, tentu saja, Sungmin sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Kyuhyun.

Merasa agak bersalah karena telah memotong cerita Sungmin, Kyuhyun menoleh ke arahnya dan bergumam, "Bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang."

Sungmin tersenyum. "Ya, memang."

Kyuhyun mengisi gelas dengan air dan langsung meneguknya sampai habis.

"Sebentar lagi Natal," kata Sungmin tiba-tiba.

Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia hanya menunggu gadis itu melanjutkan.

"Sunbae mengajakku menonton pertunjukan balet pada malam Natal nanti," kata Sungmin sambil menatap Kyuhyun. "Swan Lake."

Kyuhyun mengerang dalam hati. Tidak, jangan lagi. Kyuhyun mengerutkan kening. "Swan Lake?" ulangnya sambil meletakkan gelas ke meja.

Sungmin mengangguk dan Kyuhyun menyumpah dalam hati.

"Kau ada rencana apa untuk malam Natal nanti, Kyuhyun-ah?" tanya Sungmin.

Untuk apa mengatakan pada Sungmin bahwa ia juga punya tiket pertunjukan balet yang sangat ingin ditonton gadis itu? Akhirnya Kyuhyun hanya berkata singkat, "Pergi jalan-jalan."

Alis Sungmin terangkat heran. "Ke mana?"

Kyuhyun memaksakan seulas senyum. "Aku belum tahu," katanya sambil mengangkat bahu. "Kuharap kau bersenang-senang nanti."

Sungmin hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.

Kyuhyun menghela napas dalam-dalam dan menunduk. "Aku lelah," katanya. "Sepertinya aku ingin tidur sekarang."

"Kalau begitu, istirahatlah," kata Sungmin sambil berdiri dari sofa. Ia tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangannya. "Jaljayo, Kyuhyun-ah. Sampai jumpa besok."

Kyuhyun melihat gadis itu keluar dari apartemennya dan menutup pintu. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat. Terlambat. Seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk mengajak gadis itu keluar. Tetapi waktu itu ia berpikir sebaiknya ia mendapatkan tiket pertunjukan itu terlebih dahulu sebelum mengatakannya pada Sungmin. Sekarang ia harus menerima hasil dari keputusannya yang bodoh.

Gadis itu akan pergi dengan Kim Jongwoon. Kenyataan bahwa Yesung adalah teman baiknya malah membuat Kyuhyun semakin kesal. Sepertinya sejarah terulang kembali.

Ia tertarik pada gadis yang justru tertarik pada teman baiknya.

.

.

.

To Be Continued…

Preview Next Chapter…

"Kenapa meneleponku?"

"Untuk memastikan kau baik-baik saja. Karena kau pergi tanpa bilang-bilang padaku."

"Aku tidak tahu bahwa aku harus memberitahumu ke mana aku pergi. Sejak kapan kita pacaran?"

.

.

.

"Kau mau pergi kencan denganku malam ini?"

"Kencan?"

"Ya. Kau tahu, pergi makan malam dan semacamnya. Itu dinamakan kencan, bukan?"

.

.

.

"Sungminnie~ Berhati-hatilah,"

"Hati-hati? Terhadap apa?"

"Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku."

-oOo—Winter In Seoul—oOo-

Mingie ngepost agak cepet hari ini. Kenapa? Yang pertama, maag Mingie kambuh dari tadi malem, jadi rasanya nanti malem Mingie mau istirahat total biar besok bisa belajar untuk TOEFL-_-V maaf juga kalau Mingie nggak bisa bales review di chap ini, kepala Mingie bener-bener gak bisa diajak kompromi, ditambah maag kambuh, bener-bener menyiksaaaT….T

Finally, Mingie lagi-lagi Cuma bisa mengucapkan beribu terimakasih kepada para readers dan reviewers yang setia membaca cerita ini:""") Saya nggak bisa ngomong banyak-banyak, natep leptop aja nggak kuattT~~T Doakan Mingie cepat sembuh ya, biar bisa update besok:"")

And last,

Mind to Review?

_Rilakkyuming_