LOST INNOCENCE 8
.
.
By Ellden-K
.
.
.
.
.
Too Many Warnings to Mentions
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Taehyung melangkahkan kakinya dengan kasar dilorong rumah sakit, membuat beberapa perawat dan dokter harus membungkuk cepat akibat derap nya yang nampak terburu-buru.
Wajah bergaris aristokrat itu mengeras, seperti menahan emosi didalam kepalanya.
Sore ini Taehyung baru bisa terbebas dari segala pertanyaan menggelitik kepala keluarga Kwon setelah insiden tertimpa Jungkook tadi siang.
Ternyata ketika ia sedang asyik mempermainkan Jungkook dengan paha nya, tuan Kwon membuka pintu tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Setelah daun pintu terbuka, sepasang mata coklat beningnya disuguhi fenomena tidak biasa dari dalam kamar.
Jungkook tengah menindih seorang lelaki berambut hitam berkilau dibawah tubuhnya yang Jiyong ketahui sebagai Choi Taehyung, anak dari sang sahabat lama. Tentu saja pria paruh baya itu terkejut bukan main, walau sedikit canggung dan merasa aneh. Ekspresi terperangah tetap tidak dapat terhindarkan.
Kendati pun ia mengetahui bahwa Jungkook dan Taehyung sudah saling mengenal setelah mereka dipertemukan dirumah sakit beberapa pekan lalu, tapi hal yang begitu dekat ini tidak bisa dibilang wajar untuk sekedar sentuhan pertemanan bukan?
"Apa yang kalian lakukan?" Itu adalah pertanyaan pertama setelah Jiyong meneriakan nama anaknya dan berjalan satu langkah kedepan.
Nampak Jungkook kesulitan mengangkat tubuh, dibawahnya terdapat Choi Taehyung yang tidak kalah kesulitan. Mengap-mengap ditimpa tubuh 66 kg Jungkook. -sebenarnya itu hanya akting, fyi.
Setelahnya 2 penjaga muncul dari balik pintu yang tidak ditutup dan membantu Jiyong mengangkat Jungkook dari sesi godaan Taehyung yang ia buat sedemikian rupa agar terlihat lebih merugikan dirinya.
"Kau tidak apa-apa Taehyung? Apa yang terjadi? Kenapa Jungkook dapat menimpamu?"
Suara berat Jiyong menggema ditengah-tengah langkah kaki penjaga yang memindahkan Jungkook ke kursi roda, sedangkan Taehyung menyambut uluran tangan tuan Kwon sambil membangkitkan diri.
"Aku sedang melatih kakiku, tapi tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan dan aku jatuh menimpa Taehyung..." Jungkook bergumam sambil menghela nafas beratnya, sedikit memberi jeda ia nampak menggulung handuk kecil diatas pahanya. ".. Hyung.."
Mengapa ketika Taehyung membercandakan mereka berbeda 5 tahun semua itu nampak asli sebuah candaan. Namun ketika hal itu benar ada nya, Jungkook malah terkejut bukan main hingga harus menimpa orang didepannya. Saat itu tubuhnya terlalu kedepan dan ketika ia menatap wajah serius Taehyung, Jungkook benar-benar ketakutan dengan hal buruk yang akan terjadi. Semisal Taehyung menganggap Jungkook sebagai orang yang kurang ajar kepada lelaki yang lebih tua darinya, sikap arogan yang menggampangkan. Memang terdengar berlebihan, namun ini seperti trauma tersendiri bagi Jungkook. Sudah cukup ia menerima kemarahan dalam berbagai jenis pelampiasan.
Tatkala Jiyong menoleh menatap ketertundukan Jungkook sambil berusaha menutupi selangkangannya, wajah seputih salju itu memerah hingga telinga. Kemudian berlalu mendorong kursi rodanya sendiri menuju kamar mandi.
"Benarkah itu?"
Taehyung cepat menoleh ketika Jiyong mengalihkan pandangan kearahnya, mengangguk cepat sambil sesekali menepuk pantatnya yang tidak kotor.
Jiyong menghela "Kalau begitu, terima kasih sudah mencegahnya kembali terluka."
Taehyung mengangkat alis, tampaknya Jiyong selalu mengantisipasi hal-hal mengerikan itu terjadi kembali kepada putranya. Beberapa kali ia melihat Jungkook harus berada didalam ruangan terapi yang menyiksa tubuhnya, erangan dan ringisan itu terngiang jelas ditelinga. Bagaimana Jungkook menahan nyeri dipunggung dan kedua kakinya.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku tuan."
"Benar.. Ah ya, mari kita mengobrol sebentar diluar. Aku sengaja kemari karena mendengar kabar bahwa kau ada disini." Ucap Jiyong sambil tersenyum kecil.
"Baiklah.."
Dan sepertinya beberapa pertanyaan lain akan ditambahkan akibat insiden barusan.
.
.
Taehyung menggebrak ruangan dokter spesialis bedah syaraf dengan keras. Didalam tampak seorang dokter muda tengah memeriksa berkas penting sebelum terkejut oleh dentuman keras dari pintu.
"Taehyung. Apa-apaan-" Suara Yoongi pada kalimat terakhir terdengar gemetar akibat tarikan tangan Taehyung pada kerah kemeja nya.
"Apa maksudmu dengan kelumpuhan kaki? Syaraf tulang belakang yang sengaja kau cederai, padahal tidak apa-apa. Kenapa kau melakukan semua itu?" Antara marah dan berterima kasih, Taehyung menyerukan kekalutan yang ada didalam kepalanya. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, namun yang paling dominan menyembul dan menunjukan reaksinya dengan tindakan Taehyung saat ini.
Ingin ia meninju wajah seputih salju didepannya dengan sekali pukul. Namun Taehyung tidak ingin orang lain curiga tentang hubungannya dengan Min Yoongi.
"Si tunggal Kwon itu?" Yoongi menimpali dengan senyuman sinis. "Sebenarnya kau menjadi sangat bodoh akibat obsesi ini Choi Taehyung. Aku bahkan tidak benar-benar merenggut kemampuan berjalannya."
Kedua tangan Yoongi menggerayang lalu mencekal pergelangan Taehyung dan menyentaknya agar melepaskan kerah malang itu. Menyisakan kekusutan dari bekas cengkramannya.
"Dia akan segera sembuh. Kau hanya terlalu paranoid." Kembali si dokter muda duduk ditempatnya, membuka berkas-berkas pasien yang sempat teraibaikan kemudian berkata "Pergilah, jika kau tidak ingin membuat kecurigaan didalam rumah sakit."
Ya, ada banyak rumor antara Taehyung dan Yoongi yang beberapa kali nampak mencuri waktu untuk berbicara bersama. Namun tentu bukan obrolan intim, seperti apa yang para perawat tak punya kerjaan itu katakan. Mereka sering bergosip, menceritakan hal yang belum pasti dari mulut ke mulut. Membuat hal kecil nampak lebih menarik dan berbahaya.
"Tapi kau terlalu berlebihan." Timpal Taehyung sambil menghalau hasrat nya untuk benar-benar menerjang dan memukuli Yoongi.
"Aku hanya melakukan hal yang menurutku benar, anak itu berkeliaran tidak mau diam. Beberapa kali ia sempat memergokiku ketika hendak menghubungi Jimin maupun Jin hyung." Yoongi menaruh berkasnya keatas meja. "Kau pikir itu tidak mengganggu?"
"Ya! Tapi mengapa harus bermain-main dengan syaraf?!"
"Aku adalah dokter Taehyung! Tidak mungkin aku melakukan hal berbahaya seperti itu dengan sembrono, apa kau mulai meragukan aku?"
"Tidak, hanya saja itu terlalu berlebihan-"
"Reaksi mu yang terlalu berlebihan!" Potong Yoongi mengakhiri argumen panas antara mereka berdua, kedua kaki berbalut celana kain warna biru itu berderap meninggalkan ruangan.
Membiarkan Taehyung terlarut dalam hembusan nafas cepatnya yang mulai mereda.
Yoongi benar, Taehyung hanya takut...
Takut kehilangan si sempurna Kwon yang bahkan daya tariknya melebihi eros dan penguasa segala gairah sekalipun.
.
.
.
.
Sebenarnya bukan ia tidak merindukan rumah, namun Jungkook hanya memiliki sedikit traumatic kecil tentang kamarnya. Walau begitu, terpaksa ia harus membatalkan pemesanan kamar di hotel yang sudah ditentukan dan demi menghindari kecurigaan publik, dengan terpaksa lagi Jungkook kembali masuk kedalam mansion besar keluarga Kwon.
Walaupun penjagaan semakin ketat, mereka tidak ingin memicu kecurigaan apapun dari luar. Maka dari itu tuan besar Kwon menginginkan mereka yang berjaga didalam rumah. Berpakaian seperti tengah dirumah sendiri, namun tetap disiplin dengan pekerjaannya. Jungkook bahkan melihat beberapa penjaga yang berpakaian seperti pelayan-pelayan pria nya. Memakai seragam butler dan menyiapkan makanan.
Hm, persiapan yang memang benar-benar matang. Jungkook berharap di Amerika nanti ia tidak akan terus dibuntuti oleh para penjaga-penjaganya.
Jungkook akan menjalani terapi lanjutan disana, kemungkinan besar beberapa minggu ia akan bisa berjalan.
Angin senja yang menerjang jendela berhembus begitu lembut, menerpa helaian merahnya yang mulai kusut. Sepertinya Jungkook harus mengganti warna rambutnya, walaupun sang ibu sempat memarahi ketika surai hitam berkilau itu berubah menjadi merah menyala.
Well, tumben ia mengingat hal-hal kecil yang kurang menyenangkan itu? Tidak biasanya Jungkook mengenang hal yang membuat perasaannya tidak nyaman. Ia akan selalu memaksa diri agar melupakan hal tersebut, bahkan jika perlu ia akan menimbunnya hingga ingatan semacam itu tidak muncul lagi.
Tapi, masa bodoh lah..
Jungkook harus mengganti warna rambutnya, ia mulai bosan dengan bias terang itu. Mungkin ia akan memblondenya? Tidak buruk.
Pemuda yang sebelumnya tampak polos dan murni, kini terlihat lebih tenang dan tak terbaca. Bukan ia sedang memikirkan sesuatu yang berat, hanya saja Jungkook berpikir bahwa peristiwa-peristiwa kecil yang dialaminya memiliki keterikatan tersembunyi.
Seperti ketika bayangan-bayangan petaka mengerikan itu kembali melintas dikepalanya, kini tidak ada lagi erangan yang keluar saat ingatan itu timbul lagi. Dimana Jungkook melakukan percintaan pertamanya dengan sangat tidak istimewa.
Bukan dengan orang yang ia cintai, bahkan ia kenal sebelumnya.
Kenangan yang sebelumnya selalu memberatkan kepala Jungkook, membuatnya menanggung emosi yang tidak karuan. Bahkan sempat memaksanya untuk berniat menghilangkan ingatan dengan membenturkan kepala pada benda keras.
Semua ingatan buruk yang ingin ia lupakan terbayang dengan jelas dikepala Jungkook, setiap detik dari kejadian-kejadian laknat itu terputar jelas.
Namun kini tidak ada erangan, Jungkook tetap tenang dalam duduknya diatas kursi roda. Memandang langit kemerahan yang mulai redup.
Tatapan tajam dari hazel cokelat itu kembali ia ingat, kelopak indah dengan bulu mata panjang itu menatapnya penuh gairah.
Berkilau diantara kegelapan yang membutakan Jungkook saat itu.
Padahal sempat ia melupakannya, disaat paling menyakitkan saat tubuhnya sangat lemah dan tidak berdaya. Lagi-lagi Jungkook menatap onix itu didalam kegelapan pula, ketika persetubuhan kesekian melenakannya dalam kepasrahan.
Tidak, Jungkook tidak takut dan jijik dengan semua kejadian tersebut, hanya saja semua yang melintas bahkan terasa lebih jelas dan terlihat lebih nyata. Karena Jungkook tidak sedang mencoba memungkiri kenangan itu.
Retina nya membesar ketika gelap benar-benar merenggut cahaya dari matanya, kemudian beberapa pelayan masuk kedalam kamar untuk memeriksa keadaan Jungkook.
"Anda perlu sesuatu tuan?" Seorang berseragam waitress menyinggungnya sambil menyalakan lampu.
Awal yang ia temukan ketika memasuki ruangan sang tuan adalah, gelap, remang-remang dan cahaya hanya membias sedikit dari luar jendela. Dimana Jungkook berada saat ini.
"Ya, matikan lagi lampunya." Jawab suara dalam itu tanpa berbalik.
Wanita bername tag Park Jiyeon pun mengernyit.
"Tapi tidak biasanya? Bukankah tuan tidak nyaman dengan kegelapan?" Tanya Jiyeon lagi sambil membereskan piring dan gelas bekas diatas nakas.
"Sekarang aku mulai menikmatinya." Jungkook memberi jeda. "Maka dari itu, sebelum keluar matikan lagi lampunya."
.
.
.
.
Jungkook mengurut keningnya ketika kilauan cahaya menerpa wajah lelah yang awalnya nampak tenang, tubuh jangkung itu terlelap dalam posisi duduk.
Kepalanya terasa amat pening, bagaikan tidak tidur selama 2 hari. Jungkook pernah mengalaminya dan itu terjadi ketika ia masih diculik.
Padahal ia tertidur sejak kemarin sore.
"Kukira anda tertidur tuan..." Jungkook yang masih mengurut keningnya sambil memejamkan mata pun menoleh kearah suara yang ia dengar. Netra kelam itu perlahan membuka diri, kemudian pupilnya mengecil sambil menjelajahi ruangan besar dengan deretan kursi lengkap bersama pemiliknya itu. Mengakibatkan Jungkook harus mengernyit ketika ia mendapati dirinya sudah tidak berada didalam bilik kamarnya lagi.
Tunggu, ini seperti...
"Ini, bagaimana mungkin..." Jungkook menegakan tubuhnya, hingga selimut kecil yang menutupi setengah badan itu merosot hingga paha. Kemudian kepala bersurai maroon itu menoleh kekiri dan kanan guna menginvasi kabin pesawat.
Ya, mereka didalam pesawat!
"Kau sebaiknya istirahat tuan, sepertinya dari semalam anda belum tidur.." Ucap suara ringan disampingnya.
Jungkook nampak berpikir, sejak sore kemarin ia sudah tidur tapi kini pantatnya bahkan sudah menduduki kursi pesawat. Ia tidak lupa bahwa hari ini adalah jadwalnya untuk pergi ke Amerika.
Namun tidak mungkin mereka memindahkan Jungkook kedalam pesawat dalam keadaan tertidur. Ini terasa tidak benar, dan lagi siapa orang yang menyapanya barusan? Jungkook sama sekali tidak pernah melihat dia sebelumnya, bahkan sebagai pegawai maupun suruhan ayahnya.
Jungkook tidak ingin ia mengalami hal yang buruk lagi dengan orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, apalagi jika ia pandai bertipu daya. Jungkook tetap harus berhati-hati dan bahkan hatinya selalu was-was.
Pria kecil itu nampak tersenyum lebar kearah Jungkook, ia mengenakan setelan serba hitam dengan dasi bercorak biru kuning yang cocok dengan kemeja toscanya.
"Apa kau suruhan ayahku?" Jungkook membuka pertanyaan, kemudian pria kecil itu hanya mengangguk samar sambil menegakan duduknya.
"Mungkin lebih tepatnya sekertarismu tuan." Ia menimpali sambil kemudian menundukan kepala sekilas, pria kecil itu berniat memperkenalkan diri.
"Aku adalah sekertaris barumu.." Sebuah tangan terulur untuk menjabat milik Jungkook, dan yang paling muda pun membalas jabatan tersebut. "Namaku Park Jimin."
.
.
.
Mungkin ini adalah salah satu keuntungan Taehyung sebagai anak dari pemilik rumah sakit besar di Seoul. Ia dapat melakukan apapun sesuai keinginannya, termasuk memiliki Kwon Jungkook dengan cara apapun. Namun kadangkala nekat saja tidak cukup. Kau juga harus pintar.
Taehyung tersenyum kecil dari balik tudungnya yang kebesaran. Hoodie hitam longgar yang ia kenakan cukup banyak membantunya menyembunyikan diri, dari sudut kanan ia memperhatikan Jungkook yang nampak kebingungan. Ya, ia duduk diseberang Jungkook dua kursi dibelakang pemuda jangkung itu. Hingga Taehyung dapat melihat punggung lebar Jungkook yang terus menggodanya.
Jika saja mereka tidak sedang dipesawat atau orang-orang ini tidak ada didalamnya, Taehyung sudah tidak akan tanggung lagi menerjang punggung Jungkook untuk ia peluk.
Apalagi ketika ia sedang tidak bisa menggerakkan kakinya, tentu itu akan sangat mudah bagi Taehyung.
Namun sama seperti beberapa menit sebelumnya, Taehyung hanya bisa berandai. Memandangi wajah polos itu memejamkan mata setelah berbincang dengan orang disampingnya.
Taehyung pikir, seharusnya ia memesan tempat duduk disamping Jungkook. Mungkin pemuda itu akan semakin terkejut, sama seperti beberapa waktu dulu.
"Tuan.."
Kemudian seseorang disamping Taehyung mengubris kegiatan mengintainya, sedikit mengganggu -tidak, sangat malah.
"Ada apa?" Taehyung menoleh lalu menjawab, menatap pria bersetelan rapi disampingnya itu dengan enggan.
"Anda belum memesan hotel tuan, apa-"
"Sssttt..." Taehyung mengangkat telunjuknya didepan bibir, membungkam pria disampingnya dengan tatapan menusuk.
"Setelah aku tahu tujuan ku untuk apa ke Amerika baru aku akan memberitahumu untuk memesan dihotel mana."
Kemudian ia kembali memandangi Jungkooknya dengan senyum tipis yang sedikit janggal.
.
.
.
.
Berjam-jam duduk dikursi pesawat membuat punggungnya sedikit kaku, Park Jimin membantunya berpindah dari kursi roda dengan susah payah.
Awalnya Jungkook menapaki pinggiran kasur dengan tangannya, namun seprai tipis itu ternyata cukup licin.
"Biar kubantu, tuan."
Jimin datang setelah mengurusi semua keperluan Jungkook -read : pakaian dan benda lainnya- yang tidak terlalu banyak, karena ia dapat membeli setelan maupun baju yang lebih bagus disini. Itulah mengapa Jimin nampak tidak kesulitan membawanya seorang diri.
Ketika Jungkook hendak mengangkat tubuhnya sendiri, dengan sigap Jimin melingkarkan kedua tangannya dibelakang punggung Jungkook -lebih tepatnya memegang pinggang berotot itu agar tidak terjerembab kedepan.
Sang tuan muda hanya mengernyit sekilas, antara terkejut dan -atau perasaannya yang aneh.
Lengan kecil itu mampu menopang tubuh bongsornya, mendudukan Jungkook dipinggiran kasur lalu membantu mengangkatkan kedua kakinya yang sedikit lemas.
Kemudian Jungkook mengistirahatkan dirinya diatas kasur empuk apartemen mewah yang sudah Jiyong siapkan jauh-jauh hari untuk putranya.
Cukup membuat Jungkook nyaman, setidaknya disini ia jauh dari bayangan buruk tentang penculik itu.
Netranya menatap deretan gedung-gedung tinggi yang mencakar langit, dari sini Jungkook bisa melihat seluruh kota karena 50% dindingnya yang terbuat dari kaca setebal 6mm.
Dari ketinggian 15 lantai, langit cerah kebiruan itu menghipnotis Jungkook, pasalnya ia merasakan suasana yang berbeda setelah tiba disini.
"Sebaiknya anda beristirahat, apakah anda perlu sesuatu tuan?" Jimin dengan senyum manisnya berdiri sopan disamping Jungkook, sedikit banyak membuat tuannya nampak bertanya-tanya.
"Sebenarnya aku punya banyak pertanyaan.." Jungkook membenarkan posisi duduknya sambil memberi jeda, sedangkan Jimin menunggu dengan setia. "Dimana para penjaga yang lain, kukira orang-orang suruhan ayahku akan menjagaku juga disini."
Itu yang pertama Jungkook tanyakan, pada waktu yang sama Jimin tersenyum kecil.
"Cukup dengan aku sendiri saja tuan, anda tidak perlu khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Selain sebagai sekretarismu aku pun sudah amat 'terlatih'."
Ah, jadi embel-embel sekretaris hanya sebagai formalitas saja. Jungkook mulai memahaminya.
Pemuda tampan itu mengangguk paham, pada akhirnya Jimin pun berpamitan untuk pergi sambil menyimpan kursi roda Jungkook didekat kaki ranjang.
"Baiklah, aku ada di apartemen sebelah. Jika anda memerlukan sesuatu telpon saja aku."
Ketika Jimin hampir menutup pintu, Jungkook mengintruksinya dengan pertanyaan lain.
"Kukira kau akan tidur dikamar lain?"
Bilik pintu berwarna putih keabu-abuan itu pun kembali terbuka.
"Disini?" Jimin mencoba meyakinkan.
"Ya,"
Kemudian senyum kecil itu kembali muncul.
"Aku akan melakukannya jika itu diperlukan, lagipula disini rawan kejahatan tuan. Jadi, relax saja."
.
.
.
.
Sebuah cadilac hitam berhenti didepan gedung pencakar langit, nampak barisan jendela kaca kamar hotel pun membumbung tinggi disana.
Taehyung melangkahkan kaki membelah loby sendirian, ya karena orang yang bersamanya dipesawat tadi tengah sibuk dengan koper-koper didalam bagasi mobil. Dibantu oleh seorang pegawai hotel yang tinggi besar.
Taehyung menghampiri resepsionis sambil menenteng tas kulit berisi berkas-berkas penting ditangannya, tentu ketika berlibur ia juga harus bekerja bukan?
Wanita yang nampaknya warga negara rusia itu menyapa Taehyung cukup sopan.
Setelah mendapatkan kamar yang sesuai Taehyung pun segera beranjak menuju lift, lalu jemari lentik nan panjang itu menekan angka satu dan lima.
.
.
.
.
Taehyung membuka hoodienya setelah sampai didalam kamar hotel. Tubuh kurus itu melangkah langsung kearah ranjang king size yang ada didekat jendela. Kacanya menjulang dari atas hingga bawah, memberikan pemandangan khas kota sibuk dengan gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi.
Sambil membaringkan tubuhnya dengan posisi tertelungkup ia nampak sedikit menyunggingkan senyuman ketika kembali seluet tubuh sempurna itu membayang dinetra nya.
Taehyung mengambil sebuah teropong dari dalam tas nya.
Tubuh tegap dengan liuk menggoda yang membuat Taehyung ingin cepat-cepat melihat dia sembuh lalu ia akan membuat Jungkook kembali bertekuk lutut untuk kedua kalinya.
Memang Taehyung sering melihat Jungkook dari pesta-pesta meriah yang selalu diadakan JJ Group setiap tahun, namun perayaan tahun ini nampaknya sedikit berbeda dengan hilangnya Jungkook akibat penculikan yang ia dan kawan-kawannya lakukan.
Sejak awal, Taehyung telah mengetahui bahwa target incaran mereka adalah anak sahabat ayahnya sendiri. Namun rahasia harus tetap terjaga bukan? Bahkan mereka tidak mengetahui apapun tentang Taehyung yang seorang anak komisaris kaya pemilik rumah sakit besar di Seoul, terkecuali Jin dan Suga, atau kini kita bisa sebut dia sebagai Min Yoongi.
Beberapa tahun yang lalu perusahaan keluarga Taehyung belum sebesar ini, tapi mereka masih bisa membelikan 2 buah mobil mewah sekaligus jika Taehyung mau. Remaja tanggung belasan tahun yang sangat manis dan ramah.
Namun kalian tau sikap bisa berubah ketika beranjak dewasa, dengan berbagai faktor yang mempengaruhi dan kejadian-kejadian dimasa lalu.
Sebagai contohnya, saat Taehyung harus merelakan percintaan pertama yang direnggut oleh pria dewasa tak bertanggung jawab. Memanfaatkan anak kecil untuk pemuas nafsu belaka hingga akhirnya Taehyung jatuh kedalam jurang kegelapan seperti ini.
Namun setelah beberapa tahun, ia pun membalaskan dendam. Entah kenapa setelah membunuhnya Taehyung merasa ia semakin kehilangan akal sehat.
Tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut, kecuali berita pembunuhan sadis yang menggegerkan masyarakat.
Setelah bertahun-tahun tidak menemukan pelakunya polisi pun menyerah, dan Taehyung dapat duduk tenang dengan hati yang lega. Ia masih merasakan kentalnya darah itu menyentuh kulit, membuat hidungnya harus mencium bau anyir yang tiba-tiba menyeruak. Sama seperti ia menyukai jeritan Jungkook, wajah tersiksanya, bahkan Taehyung berpikir itu adalah kenangan paling indah dari semua percintaannya. Membayangkan Jungkook telanjang dan bergerak diatasnya, memompa dengan kekuatan penuh lalu meleburkan semua cairan cinta itu didalam ruang basah milik Taehyung.
Kenapa sekarang keadaan tampak seperti berbalik kepadanya? Seakan-akan kini malah Taehyung yang terus terbayang wajah Jungkook.
Nampaknya pria itu memiliki sihir yang tidak biasa, hingga seorang Choi Taehyung yang terkenal dingin dan sadis berencana membuat Jungkook mau menungganginya.
Taehyung menangkup dagunya sambil menatap keluar jendela.
Jika ini yang disebut dengan cinta, tentu saja Taehyung akan memperjuangkannya.
Benar bukan? Kwon Jungkook? Bahkan wajahnya yang nampak tenang dalam tidur yang lelap itu tetap menggoda Taehyung, walaupun mereka terpisahkan oleh dua gedung yang bersebelahan.
.
.
.
.
Mungkin Jungkook belum pernah melihat sosok Park Jimin sebelumnya, atau bahkan berinteraksi secara langsung dan sadar.
Ya, dia adalah Park Jimin yang sama, partner Choi Taehyung dan juga penggila Min Yoongi.
Perlu dijelaskan bahwa Jimin memang menyukai Yoongi secara terang-terangan, maka dari itu ketika Taehyung memintanya untuk bekerja sama pria bermarga Park tersebut tidak tanggung untuk menerimanya. Tentu saja tawaran itu juga dibubuhi dengan segala bujuk rayu setan yang mencakup nama Yoongi didalamnya.
Sedangkan orang yang bersangkutan tidak bisa berkutik akibat Taehyung adalah pihak yang paling kuat, ya dari sisi kedudukannya dirumah sakit dan perusahaan aksesoris yang ia kelola juga.
Akhirnya, disinilah Jimin.
Mengusap-usap jemarinya diatas gadget canggih berwarna emas ditangan. Nampaknya lelaki itu tengah membaca berita online yang masih hangat diperbincangkan, tidak dapat disangka sebelumnya. Ternyata kasus penculikan yang mereka lakukan memberikan dampak besar bagi JJ Group, akan tetapi Presdir Kwon menutupnya dengan begitu rapi.
Hingga keterpurukan kemarin berubah menjadi kebangkitan yang amat luar biasa.
Dari judul berita yang ia baca tertulis sebuah caption "DUGAAN PENCULIKAN YANG TIDAK BENAR MEMBAWA JJ GROUP SEMAKIN TERBANG KE LANGIT"
Jimin tersenyum kecil.
.
.
.
"Tuan, ada undangan pesta dari The Vallent Hotel.." Jimin membuka pintu kamar Jungkook setelah sebelumnya mengetuk sopan. Sambil menutup kembali bilik kayu tersebut, tangan kecilnya melambaikan sebuah amplop agak tebal kepada Jungkook. "Ini pesta topeng, apa anda ingin datang?"
Pemuda yang mulai menggeliat tidak nyaman itu nampak mengernyit dengan mata terpejam.
"Aku tidak pergi.." Jawabnya cepat.
"Tapi ini untuk bukti bahwa anda memang ada di Amerika." Jimin membawa langkahnya menuju samping ranjang, dimana Jungkook masih bergumul dengan selimutnya. Namun ketika Jungkook melepaskan diri dari gulungan tersebut, Jimin memberhentikan langkahnya tiba-tiba.
Nampak piyama satin berkancing itu tidak menutup sebagian dada Jungkook yang terbuka, membuat Jimin sedikit merasakan denyut jantung yang meningkat. Coba saja Taehyung yang ada disana, mungkin Jungkook akan berakhir dengan mendesah-desah keenakan. Tapi ini Jimin, ya hanya Jimin.
"Aku tetap tidak akan pergi," Jungkook meraih kursi roda disamping ranjang lalu berpindah menggunakan kedua tangan kekarnya. "Aku benci pesta."
Kemudian sosok tampan itu menghilang dibalik pintu kamar mandi, meninggalkan Jimin sendirian didalam kamar.
.
.
.
.
Pagi hari yang cerah, ditemani secangkir kopi panas ditangannya Taehyung berjalan santai setelah seorang pegawai hotel mengantarkan seonggok amplop kepadanya.
Sesekali menyeruput capuchino sambil mendudukan diri di balkon luas kamar hotel. Taehyung pun menaruh cangkir itu diatas meja.
Kemudian sebuah surat undangan ia dapat dari dalam amplop tadi, berwarna hitam kebiruan dengan tinta berwarna perak.
Taehyung tersenyum, sudah lama ia tidak datang ke pesta dansa dengan tema seperti ini. Apalagi acara tersebut hanya diperuntukan bagi tamu undangan saja, itu berarti tidak bisa sembarangan orang masuk. Hal tersebut dapat menjaga privasi Taehyung, ya pasalnya pria manis itu bukan tipe orang yang suka mengumbar apapun yang bersangkutan dengan dirinya sendiri.
Setidaknya, ia dapat menghibur diri disana.
.
.
.
.
Jika waktu dapat diputar, seharusnya Taehyung tidak datang ke pesta saja tadi.
Mendapati dirinya yang malah menangkup dagu bosan dimeja bar, pria kecil itu tidak berniat melepaskan topeng half face silver diwajah cantiknya.
Bukan karena suasana pesta yang kolot, temanya bahkan sangat menarik dan terbukti banyak orang yang menikmati waktunya berada disini. Hanya saja Taehyung bosan entah mengapa. Kendatipun beberapa pria tampan sempat menggodanya, tetapi tidak ada yang dapat membangkitkan kembali semangat bercintanya.
Mereka tinggi, berkulit pucat, tapi Taehyung tetap membayangkan seorang yang tinggi dan berkulit pucat yang lain. Wajah tampan yang lain.
"Kukira pria semanis dirimu terlihat agak aneh jika sendiri." Gumaman dengan suara dalam itu menyentakan Taehyung dari lamunannya.
Membuat wajah tirus tersebut menoleh dengan tanpa menunggu jeda. Alisnya mengernyit, membiarkan hazel bening itu menelusur tubuh tinggi nan menawan dihadapannya.
Pria yang barusan menyapa Taehyung pun menyunggingkan senyum miring yang ganjil, wajah tampan yang juga terhalang topeng half face. Senada dengan warna setelannya yang serba hitam.
Gemerlap pada pinggiran topeng berasal dari manik-manik kecil disekitarnya, menambah kesan karismatik yang tiba-tiba Taehyung sandangkan pada pemuda itu.
Namun Taehyung nampak mengenali postur tubuh tinggi dengan bibir merah yang membalut gigi kelinci didalamnya.
"Oh, dan seharusnya kau menemaniku bukan?" Taehyung mengangkat bahu, kemudian disusul kekehan kecil pria barusan.
"Ingin kutemani manis?" Surai soft brown itu menunduk, dengan sebelah tangan bertumpu pada meja bar. Semakin merapatkan diri pada perawakan kecil yang lebih pendek darinya.
"Ditempat lain?" Taehyung mengikuti gerakan pria tersebut, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung keduanya hampir bersentuhan.
"As you want it.."
.
.
.
.
TBC :'v
Maaf karena updatenya yg terlalu lama *sungkem
Hope you like it :'v
Big love for Mara997, terima kasih atas review nya ya nado saranghae :D
Thanks juga buat CuteTaetae, kayaknya antusias sekali sama ff ini :D
Salam kenal juga Chris Tyan97, terima kasih sudah mau baca
Juga Big love untuk semua yg sudah review, sorry gak bisa sebutin satu".. Tapi ell baca semua review kalian kok, khususnya yang berkesan dihati *ha?
Thanks JulianaLien, gak nyangka ada reader dari malaysia juga :o
Untuk Cloverssi-noona/? *maaf kalo salah gelar :'v, terima kasih untuk komentar" panjangnya :D ell juga mengikuti ff mu,, jjang (y)
Ya untuk masalah tinggal bersama saat di Amerika, kak whalme160700 tebakannya memang hampir mendekati kebenaran :v tapi mereka beda gedung :v
Nikken969, Mablank Tae, Junken1, zelochest, GaemGyu92, Sasaya-chan, vkookkookv, Hastin99, Angela Parker, Sucy253, strawbaekberry, JustcallmeBii, KimWeye, Wafflekid, Jaery Kim, Icha744, kukkk, shiroohan, arrakirina, YoiteDumb, Red Parfait, komomiki21, Sugacha, Kyunie, bangtaninmylove, Purplelittlecho, odorayaki, GestiPark, anindya13, Xxesuax, YeoNa95, princeRathena, sabitelfsparkyu, cuicuiwow, ara'seo & Jung Jisun big thanks and love buat kalian dan maaf yg gk kesebut..
Thanks udh suka sama ff ini...
See you in next chapter ya..
Mind to review?
