Sasuke mengerang pelan, ia meraih dahinya kemudian memijitnya pelan untuk menghilangkan pusing di kepalanya. Ia bangkit dari ranjangnya, matanya onyx-nya menjelajahi setiap isi di ruangan ini. Ia mencoba berdiri, namun pusing di kepalanya melawan keinginannya. Ia kembali mengambil posisi duduk, kepalanya tidak dapat diajak kompromi saat ini. Matanya kembali menjelajahi ruangan ini, namun kali ini matanya berhenti di meja kecil dekat ranjangnya. Sepiring nasi goreng dan juga jus tomat telah siap di sana beserta sebuah kertas kecil bertuliskan sesuatu. Dengan perlahan, Sasuke mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas tersebut. Onyx-nya kini focus membaca kata demi kata yang tertera.

Ini sarapan untuk Sasuke.

-Sakura-

Memang singkat, namun berarti untuk Sasuke. Ia tampaknya tidak dapat menahan rasa bahagianya. Ia tidak menyangka bahwa Sakura masih peduli padanya. Namun Sasuke belum dapat memastikan apakah gadis itu masih marah padanya atau tidak. Entahlah, yang penting sekarang, Sakura masih peduli padanya. Ia tinggal memikirkan bagaimana cara membujuk Sakura agar gadis itu tidak marah lagi padanya. Sasuke kemudian mengambil sarapan yang telah disediakan Sakura, dengan lahap ia memakannya hingga habis dan tidak lupa meminum jus tomat kesukaannya.

.

.

.

Kelas telah usai sejak 10 menit yang lalu. Murid-murid telah pulang ke rumah masing-masing, namun ada beberapa murid dari masing-masing kelas yang tetap tinggal di kelas untuk menyelesaikan tugas piketnya. Termasuk Sakura. Ia bersama beberapa temannya telah menyelesaikan tugas piketnya di kelas XII-1 IPA, yaitu kelasnya sendiri. Teman-temannya satu per satu mulai berpamitan padanya, Sakura hanya membalas dengan senyuman ataupun anggukan kepala. Saat semua teman-temannya yang bertugas piket sudah pulang, ia mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada. Kepalanya ia biarkan menempel dengan meja tersebut. Ia enggan pulang, terlalu malu jika bertatap wajah dengan Sasuke. Mengingat kebaikan Sasuke kemarin, yang membiarkannya menggunakan payung yang Sasuke bawa, sedangkan Sasuke malah pulang dengan hujan-hujanan karena Sakura yang tidak mau pulang bersama Sasuke. Sakura membenturkan kepalanya di meja akibat mengingat kejadian itu. Wajahnya tampak merona saat kembali mengingat kejadian kemarin, ketika Sasuke menciumnya dan ketika Sasuke tidur di atas pahanya. Oh, dunia sudah gila. Begitulah pikiran Sakura. Ia mengacak rambutnya geram. Ia menghentikan kegiatannya ketika seseorang telah bersandar di dekat pintu sembari menatapnya datar. Pemuda itu tersenyum tipis, kemudian kakinya melangkah mendekati Sakura, tangannya terulur untuk mengelus rambut pink Sakura. Sakura merona akibatnya, ia menundukkan kepalanya agar Gaara tidak dapat melihat wajahnya yang memerah. Kembali, Gaara tersenyum. Gaara menyentuh dagu Sakura, membuat Sakura mengangkat kepalanya. Emerald dan Jade bertemu. Sakura dapat melihat suatu perasaan yang dalam dari mata Jade Gaara. Membuat dirinya seakan terhipnotis karenanya. Wajah Gaara mendekat tanpa Sakura sadari. Bibir mereka menyatu, dan Sakura masih belum menyadarinya. Ketika Gaara mulai melumat lembut bibir Sakura dan ketika itu juga Sakura mulai menyadarinya. Ia berusaha melepas ciuman hangat Gaara, namun Gaara tidak membiarkannya begitu saja, ia masih terus melumat bibir Sakura. Sakura meronta lebih kuat agar Gaara mau melepaskannya, namun tetap tidak. Dan pada akhirnya, Gaara melepaskannya.

"Jadilah kekasihku," ucap Gaara mantap, Sakura membulatkan matanya, tidak percaya. Semudah itukah Gaara mengatakannya? Padahal Gaara tau bahwa ia sudah memiliki tunangan, bahkan mereka pernah bertemu.

Sakura bergeming. Pikirannya melayang pada Sasuke. Pria yang telah menjadi tunangannya dan berhasil merebut hatinya. Sakura menggeleng, ia menatap Gaara dalam. Hatinya telah mantap untuk memilih antara Gaara ataupun Sasuke.

.

.

.

Sasuke masuk ke dalam rumah Sakura tanpa mengucapkan salam, mengingat ia masih menginap di rumah Sakura dan ibu juga ayah Sakura yang pergi keluar kota. Ia berjalan gontai mendekati sofa, kemudian duduk dengan tatapan kosong, pikirannya kacau. Ia mengacak rambut ravennya kesal. Barusan ia melihat kejadian yang membuat hatinya seperti ditusuk ribuan pisau tajam. Bagaimana tidak? Ia melihat Sakura berciuman dengan pemuda berambut merah bata di dalam kelasnya. Padahal tadi Sasuke berniat menjemput Sakura, karena Sakura tak kunjung pulang ke rumah. Sasuke kembali mengacak rambutnya. Sasuke tahu, bahwa ia lebih kejam daripada apa yang Sakura lakukan. Ia pernah hampir bencinta dengan wanita akibat nafsunya yang ganas dan kepergok oleh Sakura. Ia tahu bahwa saat itu Sakura pasti sakit hati dan kini Sasuke merasakan sakit hati yang bisa dibilang hampir sama dengan Sakura.

"Tadaima," ucap seseorang lesu, terdengar langkah kaki yang mulai mendekat kearah ruang tamu dimana itu tempat Sasuke berdiam sekarang. Sasuke tahu siapa yang datang, maka dari itu ia tidak menjawab salamnya.

Seseorang itu Sakura, ia menoleh kearah ruang tamu dan mendapati Sasuke tengah menatapnya. Sakura memalingkan wajahnya dan segera berlari ke kamarnya. Sakura segera berbaring di ranjangnya tanpa mempedulikan dirinya yang belum mengganti bajunya. Sakura membenamkan wajahnya di bantal. Setengah jam berlalu, akhirnya Sakura tertidur. Sedangkan Sasuke yang masih merenung di ruang tamu kembali mengacak rambutnya. Sasuke kemudian lebih memilih bangkit dari sofa dan menuju kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.

.

.

.

Sakura membuka matanya ketika mendengar suara pintu yang diketuk. Ia mengambil posisi duduk dan menguap sebentar, sebelum akhirnya ia membukakan pintunya yang diketuk oleh seseorang.

Seketika kantuk Sakura menghilang ketika menatap seseorang yang mengetuk pintu kamarnya tadi, "Kaa-san?"

"Astaga Saku-chan, cepatlah, Sasuke-kun akan pulang ke rumahnya," ucap ibu Sakura sambil menatap anaknya yang belum mengganti baju sekolahnya tersebut. Sakura membulatkan matanya. Apa katanya? Sasuke akan pulang? Mengapa? Bahkan Sasuke belum dapat maaf darinya. Sakura segera berlari menuju kamar Sasuke yang berada tak jauh dari kamarnya.

Tap..Tap..Tap

Sakura membuka pintu kamar Sasuke tanpa meminta persetujuan dari Sasuke, sontak itu membuat Sasuke menolehkan kepalanya kearah Sakura, senyum tipis terpatri di wajah Sasuke. Sakura sedikit mendekat kearah Sasuke yang kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam koper yang dibawanya.

"Sasuke-kun, mau kemana?" tanya Sakura pelan. Posisi Sasuke yang membelakangi Sakura memudahkannya untuk menyembunyikan ekspresinya dari Sakura.

"Aku hanya kembali ke rumahku saja," jawab Sasuke ringan tanpa menolehkan kepalanya kearah Sakura yang menggigit bibir bawahnya.

"Kenapa?" Sakura berusaha menahan tangisnya. Sasuke bergeming, masih bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sakura.

Sasuke tersenyum tipis kearah Sakura,"kurasa, aku menyerah mendapatkanmu,"

Sakura membiarkan air matanya jatuh, dengan cepat ia berlari kearah Sasuke lalu memeluknya erat. Sasuke yang kehilangan keseimbangan seketika jatuh di ranjang. Sakura menindih Sasuke sembari memeluknya erat.

"Hiks..Hiks..Apakah Sasuke-kun tidak menyayangiku? Mengapa dengan mudahnya Sasuke-kun menyerah?..Hiks.." Sakura berbicara lirih sambil menatap mata onyx milik Sasuke yang menampakkan dengan jelas kekagetannya.

Sasuke memalingkan wajahnya, tiba-tiba wajahnya merona. Membuat Sakura menghentikan tangisannya dan menatap Sasuke bingung.

"Tentu saja aku menyayangimu, bahkan mencintaimu. Tapi, ketika aku melihatmu berciuman dengan Gaara tadi siang, sontak saja membuatku kehilangan semangat, padahal tadi aku ingin menjemputmu," itulah kira-kira kalimat panjang yang baru pertama kalinya Sasuke ucapkan dengan wajah merona. Sakura kembali menangis, ia menangkup wajah Sasuke agar menatapnya, kemudian ia tersenyum. Bibirnya kini mengecup lembut bibir Sasuke berkali-kali. Sasuke memejamkan matanya untuk menikmati ciuman yang dihujamkan oleh Sakura. Kali ini Sakura menghentikan ciumannya dan mulai berbicara.

"Gaara-kun memang sempat menciumku dan menyatakan perasaannya padaku, tapi aku menolaknya. Karena aku hanya mencintai Sasuke-kun," Sasuke tersenyum lembut mendengar ucapan Sakura. Dikecupnya kening Sakura lembut.

"Lalu, Sasuke-kun tidak jadi pulang'kan?"

"Hn? Aku tetap pulang,"

"Eh? Kenapa? Sasuke-kun jahat,"

"Hn?"

"Ayolah, Sasuke-kun~"

"Tidak mau,"

"Sasuke-kun~~~"

.

.

.

Setelah Sakura berhasil membujuk Sasuke untuk tidak pulang ke rumahnya, kini Sakura berada di dalam kamar Sasuke. Sakura tengah menunggu Sasuke yang sedang membersihkan diri alias mandi. Sedangkan Sakura sendiri telah selesaai mandi. Sakura yang bosan terus mengedarkan pandangannya, kemudian matanya berhenti di tempat Handphone Sasuke tergeletak. Ia mengambilnya, kemudian mengecek isi contacts dari Handphone Sasuke.

Sakura tersenyum manis ketika melihat nama contacts-nya. 'My Lovely, Sakura 3' begitulah namanya. Kemudian Sakura kembali melihat-lihat nama contacts yang ada, tangannya berhenti bergerak ketika menemukan nama contacts dengan nama Uzumaki Karin, dan dibelakangnya diikuti tanda love. Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali, mungkin ia salah lihat. Namun, semuanya tetap sama. Nama contacts itu tidak berubah. Sakura meletakkan handphone Sasuke, kemudian berlari ke kamarnya untuk mencari handphone-nya.

'Barangkali, aku bisa bertanya pada Naruto-san,'

Ketika telah sampai di kamarnya, Sakura dengan cepat mengambil handphone-nya dan mengetik SMS menuju Naruto, sahabat dekat Sasuke.

From : You
To : Naruto-san
Sub : -
Naruto-san, selamat malam :D

Sakura berharap agar Naruto cepat membalas, dan 1 menit kemudian, Handphone Sakura berbunyi.

From : Naruto-san

To : You

Sub : -

Selamat malam, Sakura-chan. Ada apa? Tumben sekali. Hehe :D

-END-

.

From : You

To : Naruto-san

Sub : -

Maaf mengganggu, Naruto-san. Apakah Naruto-san kenal dengan Uzumaki Karin?

.

From : Naruto-san

To : You

Sub : -

Ah, dia mantannya Teme. Memangnya kenapa, Sakura-chan? :D

-END-

'Mantan?' batin Sakura mulai gelisah membaca balasan dari Naruto. Ingin sekali rasanya ia membanting handphone-nya.

.

From : You

To : Naruto-san

Sub : -

Tidak apa kok, Naruto-san. Arigatou :)

Sakura meletakkan handphone di ranjang, ia membenamkan wajahnya di bantal. Ia tahu, pria setampan Sasuke pasti memiliki banyak kekasih dulu. Dan ia merupakan salah satu orang yang beruntung karena Sasuke bisa menjadi tunangannya karena perjodohan ini.

Tiba-tiba seseorang mengelus kepalanya lembut, Sakura menoleh dan mendapati Sasuke tersenyum lembut kearahnya.

"Ingin berjalan-jalan?" tanya Sasuke, Sakura hanya mengangguk pelan sambil mengalihkan pandangannya. Sasuke menatap Sakura bingung akan sikap gadis tersebut.

.

.

.

Sakura dan Sasuke duduk di kursi taman favorit mereka. Sakura sedari tadi terdiam, sedangkan Sasuke malah asyik bercerita. Sakura hanya melamun. Menyadari hal itu, Sasuke memeluknya perlahan.

"Ada apa?" tanya Sasuke lembut. Sakura tidak membalas perkataan Sasuke maupun pelukan Sasuke.

Sasuke melonggarkan pelukannya dan menatap Sakura lembut, ia mendekati wajah Sakura dan hendak menciumnya. Namun Sakura memalingkan wajahnya. Sontak itu membuat Sasuke kaget. Sakura melepaskan dirinya dari tubuh Sasuke yang masih memeluknya. Sasuke menghela napas sedih.

"Sasuke-kun?" Sakura dan Sasuke menoleh kearah suara itu berasal. Sasuke membulatkan matanya, sedangkan Sakura memandangnya bingung.

"Karin?"

"Astaga, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi,"

Sakura memperhatikan kedua orang berbeda gender tersebut yang asyik bercengkrama, seolah dirinya tak dianggap. Dan entah kebetulan atau tidak, ia bertemu dengan orang yang sangat ingin ia temui, yaitu mantan kekasih tunangannya, Karin.

'Pantas saja Sasuke-kun masih menyimpan nomernya, ternyata Karin sangat cantik,'

Pikiran buruk mulai menghantuinya. Apakah Sasuke akan meningalkannya setelah ini? Atau mungkin Sasuke akan selingkuh? Sakura menggeleng kuat. Berusaha mengenyahkan pikiran buruk tersebut. Tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Sakura.

"Ayo pulang," Sasuke tersenyum, sedangkan Sakura menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Karin-san kemana?"

"Hn? Dia sudah pulang,"

Sakura hanya mengangguk. Ia mengikuti Sasuke yang sudah berada di depannya, berusaha mensejajarkan posisi mereka. Sakura melirik Sasuke sekilas, ia takut kehilangan Sasuke. Ia takut Sasuke menyakitinya lagi. Ia takut. Sangat takut.

.

.

.

"Sasuke-kun?" panggil Sakura pelan. Kini Sakura dan Sasuke berada di kamar Sakura. Sasuke yang sibuk membaca buku, menyahut tanpa menoleh kearah Sakura.

"Hn?"

"Apakah Sasuke-kun menyukai Karin-san?" Sakura bertanya hati-hati. Sasuke menghentikan aktivitas membacanya. Ia menutup bukunya dan menoleh kearah Sakura. Sasuke mendekatkan dirinya kearah Sakura, kemudian menyentil dahi-nya pelan.

"Aww," Sakura mengelus dahinya kemudian menatap Sasuke kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

"Tentu saja tidak, bodoh," Sasuke menatap Sakura dalam. Berusaha meyakinkan gadis manis tersebut.

"Tapi, dia'kan mantan Sasuke-kun," Sasuke kaget dan menatap Sakura. Darimana gadis ini tahu? Begitulah pikir Sasuke.

"Hn,"

"Mengapa Sasuke-kun bisa putus dengan Karin-san? Ceritakan~"

"Hn? Tidak mau,"

"Ayolah~~~~"

"Ck. Yang jelas, ia yang memutuskanku,"

"Tapi, Sasuke-kun janji tidak akan menyelingkuhiku'kan?"

"Tentu saja, Saku-chan."

Dan Sakura berakhir di pelukan Sasuke yang hangat, tidak lupa dengan ciuman lembut yang Sasuke hadiahkan pada Sakura sebelum tidur.

-TBC-

Hoho, maaf minna-san, saya lama update dan saya membuat Sasuke sangat OOC di sini /bow/

Maaf juga atas cerita yang kurang seru dan konflik yang tidak menonjol ^o^

Mind to review, please? :D

Sign,

Hana.

Special thanks to :

Special Thanks, to : Cherysakusasu, hanazono yuri, SugarlessGum99, shintaiffah, dee-chaan, sasusaku kira, me, mako-chan, Karin-Choshi, , Rise Star, Karin Shawol, TFF UchiHaruno, , anzu qyuji, nana, Me, Guest, kachan, localychrysant, Nyimi-chan, , GuestTiffanyYuki, namiiko-chan, SasuSakuSasoGaa, pikwang, Deauliaas, Koibito cherry, Aizuka Nami, nadialovely, Guest, Canthy, Shin41, kyuhyun cho, .77, aguma, ocha chan, Rinsakurauchi, PL Therito, Lekimi, Shin 41, SaSakuToCherry, aiai, nelshafeena, white moon uchiha, Nurul ImMa, sasusaku uciha, jideragon21, MerisChintya97.