Jeon Jungkook terlihat panik.
Sepasang mata indahnya memerah, menunjukkan betapa khawatirnya ia. Atau, betapa marah dirinya.
Tubuhnya mengalami tremor, namun pemilik surai selembut madu tetap berusaha menjaga keseimbangannya. Ia berjalan modar-mandir, berusaha mengusir keresahannya. Walau begitu, detak jantungnya yang menggila tak mengizinkannya untuk merasa tenang.
Ia begitu marah.
Ia begitu kecewa.
Namun ia merasa lega.
Ia begitu tidak tahu dengan apa yang dirasakannya.
Jungkook sungguh tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
Mulanya, Jeon muda mengabaikan pria yang tengah menunduk di hadapannya. Namun kedua tangannya kini saling meremat. Nafasnya makin memburu saat sepasang netranya ia paksa untuk menatap sosok bersurai jelaga yang tengah duduk di sebuah kursi dengan tubuh yang basah kuyup. Jungkook melihatnya, tubuh kokoh itu bergetar, entah karena merasa kedinginan atau sebab diliputi penyesalan. Pria itu memeluk tubuhnya sendiri, memeluk tubuh putranya di dalam sebuah dekapan erat.
Dan Jeon Jungkook membawa dirinya untuk berjalan mendekati pria yang masih menundukkan kepala, diulurkannya kedua tangan untuk mengambil sosok mungil yang tengah dipeluk pria yang kini mendongak. Tatapan matanya menunjukkan betapa menyesalnya ia.
"Kook, aku -"
"Jangan katakan apapun." potong yang lebih muda. Ia mengambil Taekwon yang tengah menangis di dalam pelukan ayahnya. "Aku tidak ingin membicarakan apapun sekarang."
"Po -popwaa.." rengek bocah yang tubuhnya tak kalah basah dari sang ayah. Ia mengulurkan kedua lengannya, berusaha memberitahukan kepada sang bunda bahwa ia ingin tetap bersama ayahnya. Bibirnya bergetar kedinginan.
"Kwonnie mandi bersama momma."
Jeon mungil menggeleng kuat dengan air mata yang masih menuruni pipinya. Ia meronta di dalam gendongan Jungkook, dan itu membuat Kim Taehyung langsung berdiri dari duduknya, mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala putra kesayangannya dengan telapaknya yang besar.
"Ssttt… jangan begitu dengan momma. Kwonnie anak yang kuat, nanti momma bisa jatuh."
Mengabaikan ucapan itu, si bocah langsung mengalungkan lengan-lengan kecilnya ke leher sang ayah, lalu kembali menangis keras setelah berhasil menarik dirinya ke dalam dekapan Taehyung.
"Tidak mau… momma marah… marah te rus Kwonnie mau pop ppa." nafas balita itu tersengal. Ia menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Taehyung.
"Kwonnie…" Jungkook berusaha membujuk. Bagaimanapun, ia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya barusan.
"Biarkan aku yang memandikannya." bisik pria Kim. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap sudut mata kekasihnya yang berair. "Bisakah kau memaafkanku untuk saat ini? Kita akan bicara nanti, dan kau boleh melakukan apapun padaku. Tapi sekarang, kumohon?"
Tak ada pilihan bagi Jeon Jungkook selain menyetujuinya. Dihirupnya nafas dalam-dalam sebelum kembali bicara. "Kau juga mandilah bersama Kwonnie, akan kusiapkan pakaian ganti kalian. Setelah itu, kita sarapan."
Hanya sebuah anggukan yang Jungkook dapatkan. Setelah itu, Kim Taehyung berjalan melewatinya untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jungkook yang kini mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di kedainya. Ia bahkan tak mempedulikan basah di kursinya akibat Taehyung yang tadi duduk di sana.
"Apa yang sudah kulakukan…" gumamnya pelan. Seluruh tubuhnya terasa lemas kala mengingat gambaran Kim Taehyung dan Jeon Taekwon yang pulang dalam keadaan basah kuyup.
Dengan bahagianya, sang putra menceritakan bagaimana ia dan ayahnya hampir terseret ke tengah lautan, bagaimana perih hidungnya saat kemasukan air, dan bagaimana semua itu terasa menyenangkan.
Jeon Jungkook merasa sangat khawatir, tentu saja. Dan bisa-bisanya pria Kim hanya mendengarkan putranya berceloteh riang sambil menunjukkan cengiran penuh kebanggaan.
Kim Taehyung terlihat begitu bangga kepada dirinya sendiri yang hampir membiarkan putra mereka tenggelam.
Bagaimana bisa seorang ayah melakukan itu kepada putranya?
Jungkook membentak.
Ia berteriak.
Ia merasa sangat marah.
Dan Jeon Taekwon terlihat begitu takut saat menatap ibunya.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)
Rada vulgar
.
.
"Painted"
Part VIII: One Fine Muse
"Hei, Jagoan…" panggil pria bertubuh tegap dengan suara lembut. Tangannya dengan perlahan mengusak kepala putranya yang penuh dengan busa. Keduanya duduk berhadapan di masing-masing kursi pendek yang memang ada di dalam kamar mandi Jungkook.
Yang dipanggil hanya bergumam sambil mendongakkan kepala, menghadap sang ayah yang sibuk memandikannya. Sementara itu kedua tangannya memainkan Lamborghini Aventador yang dibelikan Paman Yumi. Benda berwarna kuning itu penuh dengan busa.
"Yang dimandikan mobil-mobilan ini saja. Mainan dari poppa tidak perlu dimandikan."
Kwonnie mengerucutkan bibirnya. "Nanti kalau kotor-kotor tidak keren. Sepeda dari Paman Yoon Yoon Kwonnie mandikan, tapi di luar. Nanti Kapten Optimus dan Bee juga mandi supaya keren."
Taehyung beralih menyabuni tubuh putranya, menariknya perlahan supaya berdiri. "Kalau terkena air, nanti mesinnya bisa rusak. Kalau rusak, nanti matanya tidak bisa menyala lagi. Mobil yang ini tidak ada mesinnya, jadi boleh mandi. Hadiah dari poppa ada mesinnya, tidak boleh mandi."
"Tapi tidak mau rusaaak…" rengeknya sambil menunjukkan wajah yang memelas. Ia lalu menunduk, memperhatikan mobil-mobilannya yang sudah terlanjur mandi.
"Makanya jangan dimandikan. Nanti kalau kotor dibersihkan menggunakan tissue saja. Mengerti?"
Walau masih dengan bibir mengerucut dan wajah cemberut, Jeon Taekwon mengangguk. Bagaimanapun, ia tak ingin mainannya rusak dan tidak keren lagi. Kata momma, ia harus mandi dua kali sehari supaya bersih dan tetap tampan. Pikirnya, mainan juga harus mandi supaya tetap bersih. Membersihkan pakai tissue saja tidak akan cukup. Tapi karena poppa kesayangannya yang menyuruh, Kwonnie harus menurut.
Bagaimanapun, apa yang dibilang poppa selalu benar, jadi mainan-mainannya psti akan tetap keren walau tidak mandi.
Pria bersurai jelaga adalah panutan si balita.
"Ya sudah, Kwonnie tolong bantu poppa keramas. Tapi poppa bersihkan dulu rambut dan badan Kwonnie."
Dan wajah Taekwon berubah cerah. Ia mengangguk bersemangat, namun kemudian terlihat anteng ketika sang ayah menyandarkan kepala mungilnya di paha. Sebelah tangan Taehyung mengguyurkan air perlahan ke kepala sang putra sementara satu lainnya ia gunakan untuk menghalangi air yang bisa saja masuk ke mata bocah kesayangannya..
Entah sejak kapan, Kim Taehyung menyadari bahwa putranya akan merasa sangat senang setiap kali ia bisa membantu orangtuanya, atau melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain, terutama yang tidak bisa dilakukan sang ayah. Misalnya, memakan cabai gendut.
Maka dari itu ia berinisiatif untuk membuat balita menggemaskannya kembali ceria dengan meminta tolong padanya.
Walau nyatanya Taekwon harus berdiri di pangkuan pria Kim, juga harus dipegangi supaya tidak terjatuh, bocah itu terlihat bersemangat saat menggosokkan shampoo beraroma melon ke rambut legam poppa kesayangannya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sang ayah harus menundukkan kepala hingga lehernya terasa pegal hanya agar Kwonnie bisa membalurkan shampoo ke seluruh bagian rambut Taehyung.
"Rambutnya poppa mulai panjang. Katanya momma, rambut panjang anak laki-laki keren. Rambutnya Paman Yumi juga pernah panjang sedikit, tapi sudah dipotong." Jeon mungil mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan sendiri apa yang barusan ia katakan.
Tanpa disadarinya, ucapan barusan membuat hati pewaris Kim Enterprise panas.
Lagi-lagi Paman Yumi yang menyebalkan.
"Poppa lebih keren dari si Yumi itu. Poppa tidak perlu rambut panjang untuk menjadi keren. Poppa juga lebih tampan. Buktinya anak poppa yang satu ini bisa sangat tampan dan menggemaskan."
Taekwon terbahak, bukan karena ucapan poppa-nya, namun karena pipinya yang tengah dimakan gemas oleh sosok pria yang begitu diidolakannya.
"Poppa hentikaaaan! Nanti Kwonnie pipinya hilaang! Nanti momma sedih kalau pipinya Kwonnie hilang!"
Taehyung terkekeh ringan saat menghentikan aksinya. Ia memeluk gemas tubuh Kwonnie lalu memberikan sebuah ciuman singkat di dahi sebelum mendudukkan putranya kembali ke kursi miliknya.
Setelahnya, ia menatap balita berusia empat dengan sorot serius. "Kwonnie tahu kalau momma akan sedih jika pipi Kwonnie hilang. Kira-kira kalau Kwonnie dan poppa yang hilang, momma akan bagaimana?"
Suara Kim Taehyung memang terdengar serius, namun sarat akan kelembutan di sana. Ia juga menyelipkan senyum tulus dan usakan ringan di kepala putranya ketika bicara.
Bocah mungilnya tampak berpikir. Ia memajukan bibir bawahnya sambil membayangkan hal-hal yang sekiranya bisa terjadi ketika dirinya menghilang.
Setelah kurang lebih dua menit terdiam, Taekwon menatap sepasang mata elang poppa-nya. Dahinya sedikit berkerut dan matanya memicing. "Nanti momma-ku sendirian. Kalau menangis bagaimana? Kwonnie tidak mau momma menangis…"
Sang ayah tersenyum puas atas jawaban putranya.
"Dengarkan poppa." pria Kim memberikan sebuah kecupan lembut di puncak kepala sebelum kembali bicara, seolah ia ingin meyakinkan Jeon Taekwon atas apa yang diucapkannya. "Momma tadi tidak marah, momma hanya takut kalau poppa dan Kwonnie terseret ombak dan menghilang di tengah lautan. Momma hanya takut kalau momma akan sendirian dan merasa sedih kalau tidak ada Kwonnie dan poppa."
Taekwon kembali terdiam. Ia ingat bagaimana sang bunda meneriakinya juga poppa. Mata bulat ibunya yang melotot biasanya terlihat lucu. Tapi dengan wajah marah sungguhan, semua berubah menyeramkan.
"Tapi kan poppa bisa berenang. Nanti Kwonnie digendong poppa berenang."
Taehyung kembali terkekeh. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Pria Kim melepaskan tubuh putranya, lalu mengguyur kepalanya, membersihkannya dari busa shampoo yang begitu banyak.
Benar, ia bisa berenang.
Dan itu membuatnya harus mencari kata yang lebih bisa menjelaskan keadaan Jungkook kepada balita pintarnya.
"Poppa bisa berenang, tapi kalau terseret ombak sampai ke tengah laut, poppa tidak bisa berbuat banyak." gumamnya usai membersihkan tubuhnya dari busa-busa.
Mata bulat bocah di hadapannya berkedip lucu. Bibirnya bergerak melontarkan sebuah pertanyaan yang begitu menohok. "Apa itu artinya poppa payah?"
Kim Taehyung tertawa canggung. Ia memang kebal dengan kata payah yang diucapkan oleh sepupunya yang bermulut pedas, Min Yoongi. Namun ternyata, jika kata itu lolos dari bibir menggemaskan Kim Taekwon yang polos dan jujur, ternyata membuat hatinya berdenyut ngilu.
Ia harus pandai memilih kata atau dirinya akan terlihat seperti pecundang sungguhan di mata putranya yang tampan.
"Poppa bukannya payah. Tapi di tengah laut, airnya sangat-sangat banyak dan juga dalam. Poppa bisa kelelahan jika harus berenang sampai ke pantai."
Si balita tampak berpikir keras seakan ia mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Kwonnie pernah naik kapal sama momma dan Jimin. Airnya banyak sampai pantainya yang jauh tidak terlihat. Katanya Jimin, kalau Kwonnie terjatuh ke laut nanti bisa dimakan ikan hiu. Tapi ikan hiu di TV menggemaskan, tapi yang sungguhan bisa makan orang. Kwonnie tidak mau dimakan jika di laut lama-lama."
Kali ini, senyum kecut yang ditunjukkan Kim Taehyung. Ia segera meraih tibuh Kwonnie, lalu memberikan sebuah pelukan hangat.
Kalimat bocahnya tidak beraturan karena begitu banyak yang ingin ia ceritakan, namun Taehyung tahu betul jika Kwonnie sudah paham betapa bahayanya jika sampai terseret ke tengah laut.
Walau ia sedikit berterima kasih kepada si brengsek Jimin yang sudah memberitahukan itu terlebih dahulu sehingga membuatnya lebih mudah menjelaskan kemarahan Jungkook, tetap saja tidak seharusnya si keparat menakut-nakuti putranya seperti itu.
"Jadi, kita harus minta maaf karena sudah membuat momma khawatir. Kwonnie tidak perlu takut kepada momma, oke?"
"Umm… tapi nanti momma marah dan menyeramkan lagi."
Sang ayah terkekeh ringan. Dicubitnya main-main pipi putra kesayangannya. "Tidak akan. Momma tidak akan marah seperti itu lagi."
Butuh waktu beberapa saat hingga Jeon mungil mengangguk kecil. Namun itu sudah cukup membuat pewaris keluarga Kim tersenyum lebar.
Baguslah, dirinya juga tidak ingin berlama-lama ada dalam situasi yang menyesakkan seperti ini. Jungkook boleh marah kepada dirinya, namun tidak kepada putra mereka. Ia juga rela jika dimaki, bahkan dikata-katai, asal tidak di hadapan putra mereka.
.
.
.
.
"Kwonnie, maafkan momma? Momma janji tidak akan seperti itu lagi." Jungkook tersenyum lembut begitu kedua pria kesayangannya mendudukkan diri di meja makan setelah selesai membersihkan diri.
Sejujurnya, ia merasa khawatir kalau-kalau sang putra tidak mau memaafkannya dan masih merasa takut padanya. Sungguh, itu membuat Jungkook terluka.
Taekwon yang terlihat senang mengenakan kaos putih tanpa lengan dan celana selutut bermotif army yang ibunya pilihkan langsung melirik sang ayah. Pria Kim yang duduk di sebelah pangeran kecilnya tersenyum kecil dan mengangguk. Setelahnya, Taekwon beralih menatap Jungkook dengan bibir yang tersenyum lebar. Ia mengulurkan kedua tangannya, tanda bahwa ia ingin dipeluk.
Pemilik surai madu langsung mendekap erat sang putra, kemudian memberikan ciuman gemas di pipinya.
"Katanya poppa, itu karena takut Kwonnie dan poppa hilang di laut." gumam Taekwon sambil menunjukkan raut penyesalan. "Kwonnie juga mau minta maaf karena sudah buat momma takut Kwonnie hilang."
Jungkook tertawa renyah seraya mengusak rambut putra semata wayangnya. Ia mengangguk singkat sebelum kembali memberikan ciuman di pipi putranya. "Momma sayang Kwonnie."
"Kwonnie juga sayang momma." balas si bocah sambil menunjukkan cengiran kotaknya. Ia kemudian memberi ciuman dalam ke pipi Jungkook hingga air liurnya menempel di sana.
Tidak apa, Jeon Jungkook tidak akan marah. Malahan, ia terbahak sambil memainkan kedua pipi putranya gemas.
"Tapi momma janji tidak marah-marahi poppa lagi? Nanti kalau poppa menangis harus dibelikan balon yang sangat besar karena poppa anak besar."
Tentu saja, permintaan itu segera disaguhi sang ibu dengan bonus tawa renyah.
Kalau dipikir-pikir, memang yang menjadi sasaran dari teriakan Jungkook adalah Kim Taehyung, namun putranya yang berdiri di antara mereka tentu merasa ketakutan juga.
"Kalau momma marah-marah lagi, nanti poppa makan balon-nya momma."
Kwonnie mengeryit saat mendengar ucapan ayahnya yang aneh. Sungguh aneh, karena Kim Taehyung mengatakan bahwa ia akan memakan balon. Sementara itu, ekspresi yang berbeda ditunjukkan oleh pemilik gigi kelinci. Pipinya langsung bersemu merah saat menyadari balon yang dibicarakan si mesum Kim adalah bagian belakangnya yang sekal.
"Poppa tidak boleh makan balon. Balon untuk ditiup, bukan dimakan. Walau kelaparan tidak boleh makan balon." Jeon Taekwon memberi wejangan. Ia terlihat begitu serius saat mengatakan hal yang diketahuinya, sedangkan poppa malah menunjukkan cengiran mencurigakan.
"Poppa mengatakan itu karena ingin segera sarapan. Ayo kita makan." Jungkook mencoba menetralisir kemesuman yang disebarkan oleh kekasihnya yang menyebalkan. Ia mengambilkan nasi untuk putranya, juga beberapa lauk yang ada. "Kwonnie makan yang banyak. Momma buatkan makanan kesukaan Kwonnie."
Dan si bocah mengangguk bersemangat.
Bocah berusia empat begitu terlihat asyik menatap sarapan yang dimasak ibunya. Ia suka sosis goreng berbentuk gurita yang berenang-renang di saus yang terasa manis. Ada juga sayuran rebus yang ditata di atas nasi miliknya sehingga terlihat seperti pepohonan yang tumbuh di atas tanah.
Jika digabungkan, gurita asam manis dan nasi beserta sayurnya terlihat seperti lautan, juga pantai dan pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya.
"Kwonnie suka, tapi sayang untuk dimakan." Taekwon terlihat ragu. Sendok di tangan kirinya bergetar kala ia mendekatkan ujungnya pada seekor gurita yang terlihat sangat menggiurkan. Susah payah ia melawan keinginan jahatnya yang begitu bernafsu merusak mahakarya di piring makannya. Niatnya, ia hanya akan memandangnya hingga kenyang, namun perutnya menginginkan hal lain. "Tapi Kwonnie lapar."
Dan tanpa aba-aba lagi, bocah itu menyendok ganas sosis di piringnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya rakus.
"Pelan-pelan, sayang. Poppa dan momma sudah punya, jadi tidak akan ada yang minta makanan Kwonnie." Jungkook terkekeh ringan. Tangannya terulur untuk mengusap kepala putranya yang mengangguk-angguk hingga rambutnya bergerak-gerak lucu. "Enak?"
Kali ini, anggukan lebih bersemangat yang diberikan oleh Kwonnie. "Momma masak masakan paling enak."
"Poppa setuju, masakan momma yang paling enak sejagad raya."
Jungkook tersipu, tentu saja. Ia masih ingat bagaimana dulu Kim Taehyung selalu hanya diam setiap kali menyantap masakannya. Pria berwajah tegas itu tak pernah berkata-kata selama di meja makan.
Dan kini, dengan tanpa ragu, sosok yang dicintai memberinya pujian. Pemuda bermata bulat bahkan tak peduli jika yang didengarnya adalah bualan. Selama Tuan Muda Kim mau berbincang, itu sudah cukup baginya.
"Pa, poppa. Jagad raya itu apa?"
Kim Taehyung sempat terdiam. Lagi-lagi harus berpikir keras untuk menjelaskan sesuatu kepada putranya.
"Sebentar." ucapnya santai, merasa percaya diri jika kali ini ia akan bisa menjelaskan arti kata jagad raya kepada putra kesayangannya. Ia mengambil ponselnya di atas meja pendek di depan televisi, untungnya benda itu tidak berada bersamanya ketika insiden terseret ombak. Ia membawanya ke hadapan putranya, lalu menunjukkan peta dunia yang diakses secara online. "Ini namanya Bumi. Kita semua tinggal di sini."
Si bocah mengeryitkan dahi. Yang dilihatnya hanyalah sebuah gambar yang menunjukkan kumpulan warna biru dan hijau, ada juga warna-warna lainnya, tapi ia sungguh tidak melihat rumahnya.
"Tidak ada rumah Kwonnie."
"Ada. Coba lihat ini." Kim Taehyung tampak bangga saat memperbesar petanya di daerah Korea Selatan, tepatnya di kawasan pantai Busan. Ia sengaja melakukannya perlahan-lahan supaya putranya tahu betapa besar jagad raya itu.
"Whoaaaa! Kwonnie bisa lihat rumput-rumput!" pekik si bocah saat melihat gumpalan hijau yang terlihat seperti foto rumput, padahal sebenarnya itu adalah pepohonan. Makhlum saja, ayahnya belum selesai memperbesar.
Sejujurnya, butuh waktu bagi Kim muda untuk bisa mengidentifikasi daerah rumah Jungkook. Untung saja, hotel tempatnya menginap beberapa waktu lalu sudah ditandai di dalam peta, entah oleh siapa. Jadi lebih mudah baginya untuk menemukan kediaman Jeon.
Sampai akhirnya, genteng sebuah rumah terlihat di ponsel poppa Kim. Ada beberapa pot yang berisikan tanaman hijau di salah satu sisi. Taekwon tahu betul kalau itu adalah tanaman yang ada di depan rumahnya. Apalagi ada sepeda miliknya yang ada di samping rumah. Mungkin momma lupa memasukkannya ke dalam rumah, mungkin juga momma mengeluarkannya tadi pagi.
"Apa itu rumah Kwonnie? Kwonnie lihat sepeda Kwonnie dan tanaman momma." si bocah bertanya, entah kepada siapa. Karena matanya sibuk menatap layar ponsel ayahnya sebelum melompat dari kursinya dan berlari keluar. "Kwonnie mau lihat sepedanya!"
Taehyung tertawa renyah. Ia berniat mengajak kekasihnya bicara, namun ketika menolehkan kepala ke arah pemuda pujaannya, yang didapatinya adalah senyuman lebar dan sorot teduh yang secara ajaib menghangatkan hatinya.
"Kau benar-benar menyayanginya."
Bukan sebuah pertanyaan, namun sebuah pernyataan yang meluncur dari bibir Jeon Jungkook saat pria di hadapannya balas tersenyum.
Sejujurnya cara Kim Taehyung menjelaskan sesuatu kepada Taekwon terkadang terasa rumit. Tetapi tidak apa, asal putra mereka mengerti, Jungkook tidak akan memberikan komentar. Lagipula, cara orangtua mendidik anaknya memang berbeda-beda.
"Dan juga menyayangimu." balas penyandang marga Kim. Ia berdiri dari duduknya, lalu menyambar sebuah ciuman dari bibir menggemaskan Jungkook-nya.
"Ada sepeda Kwonnie!" pekik si balita heboh. Ia segera menghampiri meja makan, lalu memanjat kursinya. "Kenapa ponsel poppa tahu sepeda Kwonnie ada di luar?"
"Tentu saja karena satelit yang ada di luar angkasa menangkap gambar rumah Kwonnie."
Baiklah.
Ini terlalu membingungkan untuk Jeon Taekwon. Lagipula usianya baru empat tahun dan Kim Taehyung dengan entengnya mengatakan satelit dan luar angkasa.
"Kwonnie tidak mengerti." gumam Taekwon sedih. Sejujurnya ia takut dikatai bodoh seperti yang dulu pernah dilakukan Jimin saat ia tidak paham dengan apa yang dijelaskan.
Baginya, itu terlalu menakutkan.
Namun usapan yang diberikan ayahnya yang keren, juga senyum tulus yang didapatkannya dari sang ibu membuat Taekwon menunjukkan cengirannya.
Tidak.
Poppa dan momma tidak akan mengatainya bodoh.
"Ingat saat melakukan video call dengan poppa? Poppa memakai kamera di ponselnya, tapi Kwonnie dan momma juga bisa melihatnya melalui ponsel momma." Jungkook ikut menjelaskan. Ia tak mau ketinggalan dalam urusan mendidik putra semata wayangnya. Ia sudah memberitahukan kepada putranya perihal video call yang merupakan sebutan untuk kegiatal telfon dengan video terpampang di layar ponsel, kegiatan yang sering dilakukannya ketika poppa berada di Jepang.
Setelah mendapat anggukan dari putranya, sang ibu menggeser kursinya mendekati kursi jagoan kecilnya yang selalu ingin tahu.
"Satelit itu seperti kamera besar yang ada di luar angkasa."
"Seperti ini." Taehyung menyahut. Menunjukkan sebuah gambar satelit yang ada di luar angkasa dengan Bumi berada di belakangnya.
Si balita menatapnya dengan penuh binar kekaguman, dan Jungkook memanfaatkan ini untuk menyuapkan sarapan yang sempat diabaikan.
"Nah, benda ini adalah kamera super canggih yang bisa menangkap gambar yang sangaaaaat jauh sehingga rumah Kwonnie yang sekecil ini…" pria Kim menggantung kalimatnya saat kembali kepada tampilan peta yang tertangkap satelit. Ia lagi-lagi menunjukkan betapa besar Bumi tempatnya berpijak, sebelum memperbesar hingga ke kediaman Jeon yang masih ada sepedanya. "… bisa terlihat."
Taekwon mengangguk puas. Ia merasa dirinya mengerti apa yang dijelaskan oleh ayahnya.
"Seluruh tempat ini yang namanya jagad raya."
"Jagad raya itu keren dan besar." komentar si bocah saat tangannya dengan kasual merebut ponsel pintar ayahnya yang menunjukkan gambar Bumi dan luar angkasa yang mengelilinginya. Ia menggeser-geser peta yang dilihatnya asal, bersikap seolah dirinya sudah paham betul dengan cara kerjanya.
Kim Taehyung harus bersyukur karena putranya tidak menanyakan mengapa Bumi terlihat bulat padahal tanah yang dipijaknya datar.
Harusnya, pewaris Kim Enterprise merasa lega. Namun ungkapan Taekwon selanjutnya sungguh mengejutkan.
"Kamera ponsel poppa kecil, seperti titit Kwonnie. Kalau satelit, besar seperti tititnya poppa."
Kim Taehyung tersedak.
Calon kepala keluarga Kim benar-benar terbatuk hingga nafasnya tercekat. Ia bahkan merasa dirinya hampir mati karena makanan yang tengah ditelannya nyasar ke saluran pernafasan.
Walau demikian, Jeon Jungkook yang biasanya begitu perhatian sama sekali tidak berniat memberikan pertolongan.
"Kenapa di atas tititnya poppa ada rambutnya, tapi tititnya Kwonnie tidak? Hm…" bocah menggemaskan Jeon nampak berpikir keras. Ia mengingat apa yang dilihatnya ketika mandi tadi. Sebenarnya ia sudah pernah melihat hal yang sama ketika dirinya mandi bersama poppa dan berendam di hotel waktu itu, tapi dirinya baru ingat sekarang dan langsung ingin mengetahui alasan dari perbedaan yang ditemukannya.
Tak disadarinya, kedua orangtuanya kesulitan meraup udara.
Jeon Jungkook dengan tidak berperasaan menatap nyalang calon suaminya yang masih tersedak. Pria itu dengan tampang konyolnya malah menunjukkan cengiran tak berdosa.
"Ahaaha.. itu…"
"Kenapa, pa?" si jagoan melayangkan tatapan penasaran kepada ayahnya.
"Ju -Jungkook…" kali ini pria Kim menyerah. Ia melimpahkan tanggung jawab untuk menjelaskan pubis yang dimiliki pria dewasa kepada Jeon Jungkook. Bukan apa-apa, ia hanya takut keceplosan saat menjelaskan.
Menghela nafas kasar, momma mengangkat putranya, lalu memangkunya sehingga mereka berhadapan.
"Kwonnie, jika Kwonnie sudah besar nanti, sudah dewasa, akan ada bagian yang ditumbuhi rambut." Jungkook berucap selembut mungkin, penuh kehati-hatian. Ia ingin mengatakan hal-hal yang hanya menjelaskan, dan tidak menimbulkan pertanyaan baru. "Misalnya, kumis."
Taekwon tertawa geli saat jari telunjuk ibunya mengelitik bagian di antara bibir dan hidungnya.
"Jenggot."
Kali ini daerah di sekitar dagu yang menjadi sasaran kejahilan Jungkook, putranya kembali tertawa.
Ketika Taehyung berada di Jepang, pria itu terlihat sangat sibuk sehingga tidak sempat mencukur kumis dan jenggotnya. Kwonnie yang saat itu penasaran sudah menanyai ayahnya perihal keberadaan rambut-rambut tipis di wajah tampan pria Kim, juga mengapa rambut itu tidak ada ketika mereka kembali melakukan video call di hari berikutnya.
Jeon Taekwon sudah paham jika ayahnya adalah pria dewasa yang seharusnya memiliki kumis dan jenggot, namun memilih untuk mencukurnya.
Sekarang, tinggal menjelaskan masalah yang sebenarnya.
"Nah, daerah di sekitar kemaluan Kwonnie juga begitu. Akan ditumbuhi rambut kalau Kwonnie sudah besar." gumam sang ibu mengakhiri penjelasannya. Ia memberikan kecupan lembut di pipi gembil putranya. "Mengerti?"
"Umm.. apa kalau punya rambut di atas titit berarti Kwonnie menjadi anak besar?" sepasang mata bulat Kwonnie menatap ibunya. Ia lalu menunjukkan senyum lebar ketika sebuah anggukan ia dapatkan. "Kwonnie mengerti!"
Kim Taehyung menghela nafas lega. Ia mungkin harus bersyukur karena putranya yang penuh akan rasa penasaran tidak menanyakan kenapa ayahnya tidak mencukur bagian itu, sedangkan kumis dan jenggotnya dicukur sampai benar-benar bersih.
Setelahnya, Jungkook yang mendengar suara salah satu pegawainya dari arah kedai langsung menyuruh putranya untuk menemui makhluk yang dicurigai sebagai Paman Yumi, tentu setelah memberinya peringatan supaya membicarakan masalah barusan hanya dengan momma dan poppa-nya.
"Kim Taehyung!" Jeon Jungkook menahan suaranya. Putranya memang sudah tidak bersama mereka, namun ia tetap tidak mau lepas kendali. "Bagaimana bisa kau menunjukkan itu kepada putramu? Kau bodoh atau sengaja?"
Dikatai bodoh oleh Jungkook bukan hal baru bagi Taehyung. Dulu ketika mereka masih dalam hubungan yang menyakitkan, Jeon kesayangannya sering sekali mengumpat. Tentu saja selalu berakhir dengan penyandang marga Kim yang memberikan hukuman di ranjang. Tapi sekarang, hal itu tidak akan ia lakukan.
"Bagaimana bisa kau seceroboh itu?"
Katakanlah Kim Taehyung benar-benar sudah gila karena ia malah tersenyum seperti orang bodoh saat Jungkook mengomel sambil memberesi sisa sarapan keluarga kecil mereka.
"Kau tahu putramu suka sekali menanyakan hal-hal yang baru ditemuinya, dan yang barusan itu… astaga!"
Taehyung terkekeh. Ia beranjak dari duduknya dan membantu sang kekasih membawa piring dan gelas kotor untuk selanjutnya dicuci.
"Kwonnie pernah bilang kalau kalian berdua sering mandi bersama. Kupikir kau juga, yeah… kupikir putra kita sudah pernah melihat pubis."
Jungkook membalikkan badannya. Ia melotot saat mendapati calon suaminya menunjukkan cengiran tanpa dosa. Dengan sangat kasual, tangannya terulur untuk menarik telinga kiri pria yang lebih tua enam tahun darinya.
"Bodoh! Tutupi bagian selangkanganmu dengan handuk atau sejenisnya!"
"Aduh… Kook! Jangan menjewer telingaku!"
"Kwonnie tidak akan bertanya macam-macam kalau kau tidak bertindak ceroboh! Kau bisa memasang handuk kecil padanya juga. Akan lebih mudah jika kita mengatakan bahwa bagian intim ditutupi supaya tidak malu! Mendapatinya menanyakan hal sensitif seperti tadi membuatmu pusing kan?"
Kim Taehyung masih mengaduh saat ia memberikan anggukan persetujuan. Tarikan di telinganya benar-benar terasa sakit karena kelinci manisnya tidak main-main menjewer. Walau begitu, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Bagaimanapun, Jungkook yang seperti ini benar-benar terasa seperti seorang ibu yang tengah kesal kepada ayah yang ceroboh.
Maka, daripada memohon supaya dirinya dilepaskan, pria bersurai jelaga lebih memilih untuk melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Jungkook. Dengan kurang ajar, ia memberi sebuah kecupan dan bisikan yang langsung menghentikan aksi penyiksaan yang dilakukan penyandang marga Jeon.
"Lain kali, poppa akan hati-hati. Momma seperti istri yang menggemaskan kalau sedang marah seperti ini."
Jeon Jungkook berdecak kesal, lalu dengan kasar mendorong tubuh pria yang dicintainya.
Pertama, mereka belum menjadi suami-istri.
Kedua, ia bersemu hebat setiap kali prianya memberikan pujian klise yang terdengar seperti gombalan.
Daripada berdebat lebih jauh, Jungkook lebih memilih untuk mencuci piring dan gelas kotornya.
Dan ketika sepasang lengan kokoh kembali memeluknya dari belakang, ia tahu bahwa dirinya harus melakukan sebuah tindakan, atau ia akan berakhir dengan memukul si pemilik lengan dengan gelas yang dipegangnya.
"Pergi ke depan dan bantu Yugyeom mengurus kedai." ucapnya cepat. Belum sempat Taehyung menanggapi, Jungkook sudah kembali bicara. "Tidak ada penolakan. Aku belum memaafkanmu soal terseret ombak. Dan kecerobohan yang barusan masih membuatku kesal. Lakukan apa yang kubilang atau aku tidak mau bicara denganmu lagi."
Pria Kim terkekeh.
Ia tahu Jungkook-nya tidak serius dengan ancaman barusan, namun kekesalan itu sungguh nyata terasa. Lagipula, ia sadar bahwa dirinya memang bersalah. Maka ketimbang mendebat calon istrinya atau menggodanya, Kim Taehyung lebih memilih untuk menuruti keinginan sang pujaan hati.
"Baiklah, poppa ke depan untuk membantu mengurus kedai. Tapi jangan salahkan poppa kalau ada cangkir yang pecah atau semacamnya." gumam CEO brand pakaian Vante yang bersiap untuk menjadi pegawai kedai kopi kepada calon istrinya yang hanya bergumam malas.
Setelahnya, sebuah kecupan dirasakan Jeon muda di pipi sebelah kirinya.
Taehyung dengan berat hati melepas pelukan sebelum berjalan keluar menuju kedai Jeon, meninggalkan Jungkook yang langsung menghela nafas lega.
"Astaga… Kim Taehyung benar-benar bisa membuatku mati muda. Membuatku khawatir setengah mati, membuatku kesal, membuatku tersipu, semua dilakukannya hanya dalam selang waktu beberapa menit."
.
.
.
Jeon Jungkook berdecak kesal.
Setelah menyelesaikan acara cuci piring, ia memang memutuskan untuk segera mencuci pakaian kotor. Karena baju Taekwon dan ayahnya basah, Jungkook pikir langsung mencucinya akan lebih baik.
Mungkin sekitar satu jam ia menghukum calon suaminya untuk membantu pekerjaan di kedai, dan ketika baru saja menginjakkan kaki di sana, pemuda Jeon langsung menunjukkan raut sebal.
Sepasang onyx-nya menangkap sosok pria tinggi yang mengenakan apron abu-abu panjang miliknya. Sosok itu tengah berdiri dengan muka datarnya di samping salah satu meja. Tangan kanannya memegang memo kecil, sementara tangan kirinya meremat pulpen. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang sangat malas.
Bukan itu yang membuat Jeon Jungkook merasa kesal.
Dua orang wanita yang duduk di meja terlihat genit dan memperlama acara memilih menunya, itu yang membuat mood-nya buruk. Jelas sekali terlihat bahwa keduanya ingin berlama-lama dengan Taehyung-nya.
Ia tak memungkiri, wajah datar Kim Taehyung memang tampak mengintimidasi. Namun kharisma yang dimilikinya tetap mampu mempesona siapa saja. Wajar jika tak hanya kedua wanita itu yang coba mencuri-curi pandang ke arah calon suaminya, tapi juga beberapa pelanggan yang datang.
Kalau dipikir-pikir, kedai Jeon terlihat lebih ramai dari biasanya.
Dan fakta bahwa hal itu terjadi hanya karena keberadaan seorang Kim Taehyung membuatnya geram. Tahu begini, Jungkook tidak akan memajang pria miliknya.
"Kwonnie di sana kalau kau mencarinya." Kim Yugyeom yang baru saja selesai membuat pesanan langsung menghampiri Jungkook. Ia tersenyum jahil saat menunjuk balita yang sedang duduk di salah satu meja dengan robot Bee dan Kapten Optimus-nya. Ia tampak sibuk berceloteh dan menggerak-gerakkan tangan kedua robotnya bergantian.
"Kalau kau mencari ayahnya, ia sedang tebar pesona. Kau tidak akan bisa menghitung berapa banyak pelanggan yang meminta nomor ponselnya."
Jeon Jungkook melotot kesal. Ingin rasanya ia mencekik leher pegawainya yang cerewet, namun jika yang dikatakannya benar, maka dirinyalah yang berada dalam masalah.
Karena yang menyuruh pria bersurai jelaga untuk menjadi pekerja di kedainya adalah Jeon Jungkook sendiri.
"Brengsek." umpat Kim Taehyung setibanya ia di meja counter. Ia membanting memo berisi pesanannya ke hadapan Yugyeom yang langsung membacanya. "Kenapa wanita lama sekali jika memilih pesanan? Mereka menyebut menu ini, membatalkannya dan mengubahnya dengan yang lain, lalu kembali lagi memesan menu yang pertama mereka pilih setelah beberapa kali mengubah pesanan. Sialan!"
Kali ini, Jeon Jungkook tidak mengomelinya karena Taehyung berkata kasar.
Ia lebih memilih untuk memaklumi karena tipe pelanggan seperti itu memang sangat menyebalkan.
Lebih menyebalkan lagi karena Kim Taehyung sepertinya tidak menyadari maksud tersembunyi dari mereka yang sengaja membuat kegiatan memesannya menjadi lama.
"Sudahlah, kau temani Kwonnie saja, hyung. Biar aku yang urus sisanya." pemilik kedai mengulurkan tangannya, memberikan sebuah usapan lembut di kepala Taehyung, lalu turun untuk membelai rahang tegas sang calon kepala keluarga. Ia tersenyum kecil saat mendapati wajah cemberut pria Kim yang menurutnya menggemaskan. "Maaf sudah membuatmu kerepotan."
Yang diajak bicara hanya menghela nafas. Ia perlahan melepas ikatan apron di belakang tubuhnya, lalu memakaikan benda itu ke tubuh ramping kekasihnya. Ia mengambil kesempatan dengan meremas nakal pinggang Jungkook ketika mengikatkan tali apronnya.
Dan karena kelinci manisnya tidak melayangkan protes, pria Kim mengambil sebuah kecupan di bibir sebagai bayaran untuk satu jam pekerjaan yang telah dilakoninya.
"Aku hampir saja membanting pulpen itu ke kepala mereka. Kalau saja tidak ingat bahwa ini kedaimu, pasti sudah kulakukan." gumam Taehyung saat ia menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher dan bahu Jungkook. Ia memeluknya lembut.
Pemuda bersurai honey hanya terkekeh. Sedikit banyak ia merasa kagum karena prianya bisa menahan emosi demi dirinya.
Jeon Jungkook merasa senang.
Baru saja ingin menanggapi ucapan sang calon suami, suara penyandang marga Kim lainnya sudah terlebih dahulu menginterupsi.
"Tuan Jeon, kuharap kau segera mengantarkan pesanan ke meja nomor tiga. Pegawaimu yang lain juga sedang sibuk, jadi jangan bermesraan dan mengabaikan pekerjaan."
"Tch! Pengganggu."
Bukan Jungkook yang menggerutu, melainkan Kim Taehyung.
Pria itu langsung berjalan menuju meja yang sudah diklaim milik putranya setelah melepas pelukan di tubuh Jungkook, juga menghadiahi Kim Yugyeom dengan sebuah death glare yang sepertinya tidak mempan.
"Dasar pengganggu." kali ini Jungkook yang mengungkapkan rasa kesalnya. Ia segera mengambil nampan berisi makanan dan minuman yang dipesan kedua wanita yang tadi dilayani calon suaminya.
Yugyeom hanya mampu menghela nafas berat. Ia tahu betul Jeon Jungkook sengaja bermesraan dengan Taehyung untuk menunjukkan kepada para pelanggan bahwa pria itu miliknya.
Dan sepertinya cara itu cukup manjur karena beberapa pelanggan langsung mendesah kecewa begitu mendapati pria yang menarik perhatian mereka malah memeluk pemilik kedai dan menciumnya.
Sementara itu, Taehyung yang mendudukkan diri di hadapan putranya langsung disambut senyum kotak yang membuatnya gemas.
"Kwonnie sedang main dengan Bee dan Kapten Optimus, tapi mobil-mobilannya tertinggal di kamar mandi. Jeep-nya juga tertinggal di kamar Kwonnie."
Pria Kim tahu apa maksud putranya mengatakan hal itu.
Maka ia segera mengusak rambut lembut Taekwon sebelum beranjak dari duduknya. "Baiklah, poppa ambilkan. Kwonnie mau kue? Nanti poppa mintakan momma sekalian."
Si balita mengangguk semangat. Ia melompat turun dari kursinya, lalu menarik-narik ujung pakaian sang ayah, memberi isyarat supaya pria idolanya menunduk.
Jeon Taekwon memberikan kecupan di pipi poppa kerennya, lalu berucap riang. "Terima kasih, poppa. Ehehe…"
Dan Kim Taehyung hanya mampu membalasnya dengan acungan jempol.
Pria bersurai jelaga berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengatakan pesanan jagoan kecil mereka kepada Jungkook. Sebenarnya, ia menawarkan diri untuk mengambilkan mainan Taekwon bukan tanpa alasan. Ponselnya juga tertinggal di meja makan, jadi sekalian saja.
Ia membawa kedua mainan yang diminta bocahnya di tangan kanan, sementara tangan kirinya menempelkan ponsel pintarnya di telinga. Ia tengah melakukan panggilan.
"Hyung, bagaimana?" gumamnya seraya mendudukkan diri di sofa. Ia butuh privasi untuk bicara dengan sepupunya. Setidaknya, ia belum ingin Jungkook mengetahui apa yang mereka berdua bicarakan.
"Bibi menemuiku dan menanyakan banyak hal semalam. Aku menjawabnya dengan jujur." Min Yoongi terdengar tidak sedang ingin bercanda di seberang sana. Kelihatannya ia menjawab panggilan Taehyung sambil melakukan pekerjaannya. "Apa itu salah?"
Taehyung meletakkan mainan putranya di pangkuan, lalu menggunakan tangannya untuk memijit pelipisnya. "Tidak. Kau bisa mengatakan apapun mengenai aku dan Jungkook. Apa saja yang eomma tanyakan?"
Terdengar bunyi gesekan kertas untuk beberapa saat sebelum suara Yoongi kembali menyapa gendang telinga. "Asal-usulnya, detail bagaimana kalian bertemu, dan masalah kontrak kerja yang kalian lakukan. Aku menambahkan beberapa kebiasaan burukmu yang jauh berkurang selama Jungkook bersamamu. Kurasa itu perlu."
"Aku harus mengucapkan terima kasih untuk itu."
"Kau bisa melakukannya dengan membelikanku boneka Kumamon atau sejenisnya."
Pria Kim terkekeh ringan. "Aku sudah membelikanmu ketika di Jepang, tapi memang belum kuserahkan padamu."
Setelahnya, hening menyelimuti.
Pria bersurai arang bangkit dari duduknya dengan membawa mainan yang diminta Taekwon tanpa memutus sambungan suara dengan sepupunya. Ia tahu pria Min di seberang sana tengah sibuk dengan beberapa dokumen yang ditinggalkannya.
"Akal-akalanmu mendaur ulang produk gagal yang kemarin lumayan sukses. Lima potong masih tersisa, sedangkan yang lainnya resmi dibeli melalui sistem pre-order. Barang akan dikirim bersamaan dengan diluncurkannya produk regular di pasaran. Apa yang akan kau lakukan untuk lima limited edition yang tersisa?"
Kim Taehyung menghentikan langkahnya di depan pintu yang menghubungkan ruang keluarga Jeon dengan kedai. Ia nampak berpikir selama beberapa saat sebelum menghela nafas kasar. "Tutup pre-order untuk pakaian itu lalu simpan sisanya untuk sementara. Jumlahnya tanggung bila dipajang di outlet, jadi mungkin kita bisa memberikannya ke beberapa model atau kerabat. Aku yakin akan ada request untuk melakukan produksi ulang. Tapi kita tidak akan melakukannya."
Min Yoongi hanya bergumam menyetujui. Pembicaraan mengenai pekerjaan di tengah obrolan keluarga memang sedikit random, tapi ia sungguh merasa harus melaporkan apa yang didapatinya pagi ini kepada CEO-nya. Walau setelahnya, ia kembali membicarakan urusan keluarga. "Aku mendengar Chanyeol dan Jongin membicarakan sesuatu mengenai undangan makan malam Paman Junsu. Seokjin hyung juga menanyakan kepadaku mengenai kapan makan malam itu dilaksanakan. Well, semalam Bibi Taeyeon memintaku untuk hadir juga, walau memang belum memberitahukan waktu dan tempatnya. Kurasa ini ada hubungannya dengan dirimu dan Jungkook. Dugaanku, beberapa orang dari keluarga besar akan datang, kau herus memberitahukan kepada Jungkook supaya nanti ia tidak merasa gugup."
Kim Taehyung menghela nafas kasar. Ia tidak menyangka ibunya akan mengundang banyak orang. Kalau sudah begini, dirinya memang harus membicarakan perihal rencananya untuk mengajak Jungkook bertemu keluarganya dengan matang. Jeon Jungkook harus benar-benar siap, dirinya juga harus benar-benar siap.
"Ya sudah. Terima kasih, hyung. Maaf meninggalkan banyak pekerjaan untukmu."
Dan Min Yoongi kembali menjawabnya dengan gumaman sebelum memutus sambungan tanpa berpamitan.
Taehyung langsung mengantongi ponsel pintarnya.
Niatnya, ia akan membuka pintu dan langsung berjalan menghampiri putranya yang pasti sudah menunggu di meja. Namun sepertinya ia harus menunda itu karena ketika ia berjalan memasuki kedai, ia mendapati seorang pelanggan dengan wajah familiar yang tengah berbicara kepada Jungkook yang saat itu berdiri di belakang meja kasir.
"Kumohon, pergilah hyung. Kita sudah berakhir, aku tidak ingin membicarakan apapun. Itu tidak perlu."
"Kita belum selesai, Kook. Aku ingin kita berdua membicarakannya baik-baik."
Sosok itu tampaknya keras kepala. Padahal Jungkook berusaha menolaknya, namun pria bersurai hitam itu masih memaksa.
Kim Taehyung menggeram kesal, tentu saja. Ia langsung berjalan menghampiri kedua manusia yang tengah berbincang. Dengan sangat kasual dirangkulnya pundak pria yang mengajak bicara sang calon istri.
"Bagaimana kalau kau bicara denganku saja?" bibir Taehyung menunjukkan senyuman, namun tidak dengan kedua matanya. Ia menatap pria itu tajam, memberikan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
Dan ketika dirinya memanggil namma pria yang tengah ia rangkul, aura intimidasi itu begitu ketara. "Hm, Park Jimin?"
.
.
.
TBC
.
.
Kata titit masuk ke KBBI dengan penjelasan child language untuk menyebut penis
Ehehe…
Oh… peta real time dari satelit bisa diakses melalui internet, cari saja live satellite. Akan ada beberapa website yang menyediakan informasi yang kalian inginkan. Bisa di-zoom sampai atap rumah kalian terlihat, tapi pas itu Tiger mengakses melalui PC, kalau lewat smartphone, kurang tau deh bisa di-zoom sampai begitu atau tidak. Tapi untuk ponsel pintar dengan spek yang mumpuni, pastinya bisa. Kalian juga bisa memberikan nama jalan atau nama daerah tertentu sebagai penanda. Ehehe…
