.

CHAPTER 7

.


"Apa yang brengsek itu lakukan?!" Luhan menggeram penuh amarah pada Jongin, sementara sang ayah duduk dikursinya dengan sikap tenang. Tak sedikit pun terganggu oleh teriakan anak sulungnya meskipun itu terkesan sangat tidak sopan. "Ayah harus membawa vampire sialan itu kembali ke selnya!"

"Luhan, tenanglah." sang ayah berujar, namun Luhan hanya mendecih acuh. "Kita tak pernah tahu apa yang dirasakan Chanyeol. Meskipun sulit diterima, tapi biarlah mereka menghabiskan waktu mereka sebelum bayi itu terlahir."

Kedua tangan Luhan terkepal erat sementara poni jatuh menempel pada dahinya ketika ia tertunduk. Nafasnya memburu penuh amarah.

"Ayah tahu kau begitu menyayangi adikmu, tapi jangan membuat rasa sayang itu menekan perasaan adikmu. Dia terlalu muda untuk dapat mengatasi seluruh hal mengerikan ini. Kita harus memahaminya, nak."

Jongin ikut mengalihkan pandangannya pada Luhan. Hanya untuk melihat pria dua puluh lima tahun itu mendesah berat.

"Lalu bagaimana ketika mereka berpisah kelak?" Luhan berujar dengan nada dingin. Tatapannya perlahan jatuh pada manik sang ayah, menuntut sesuatu yang Tuan Park sendiri tak yakin mampu menjawabnya. "Bagaimana jika Chanyeol tetap mencintai vampire itu bahkan setelah vampire itu tiada? Ini bukan hanya tentang kehormatan keluarga shapeshifter, ayah. Bagaimana pun hal ini akan menghancurkan perasaan mereka. Baik Chanyeol, calon omeganya dan... dan... vampire itu sendiri."

Satu aliran liquid keluar dari kelopak kiri Luhan dan diusapnya dengan cepat. Gerakan tangannya tak luput sekalipun dari pandangan kedua pria yang lebih tua.

"Luhan..."

"Vampire itu... vampire sialan itu... dia harusnya segera dijatuhi hukuman mati."

"..."

"Dengan begitu... vampire sialan itu takkan merasakan kesakitan lebih lama lagi!" Tubuh calon loneshifter itu berbalik. Melangkah melewati Jongin dan berhasil keluar dengan bantingan pintu yang cukup keras terdengar. Kedua pria di dalam ruangan tersebut hanya mampu saling berpandangan, hingga sang ketua menyunggingkan senyuman kecil.

"Kau lihat Jongin. Luhan selalu tak terduga."

Jongin membalasnya dengan senyuman penuh kharisma.

.


.

Pagi menyambut wilayah Prussic. Burung-burung saling menyahut dengan kicauan merdu mereka. Bersamaan dengan hembusan angin segar yang membelai setiap helai rerumputan dan dedaunan hutan. Membawa kedamaian yang diimpikan setiap makhluk. Kota kecil itu terlihat begitu ramai di pagi hari.

Para shapeshifter kecil berlarian demi mencapai kelas mereka di utara wilayah sementara para omega sibuk menyiapkan sarapan keluarganya atau sekedar membersihkan rumah. Dibagian lain dari kota kecil tersebut, tepatnya di mansion besar Keluarga Park, tampak lalu lalang para penjaga dan maidshifter sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Luhan sibuk berlatih bersama para pimpinan kubu shapeshifter sementara Jungsoo sibuk dengan segala tetek-bengek urusan wilayah bersama para dewan, penasehat, dan orang kepercayaannya. Disisi lain, Jongin sibuk menunggu sarapan yang tengah dimasakan Krystal dan maidshifter. Yang nantinya akan ia diberikan pada Chanyeol dan Baekhyun di ruangan mereka.

Dengan si kecil Kai disampingnya, duduk diatas bangku dengan kaki yang bergoyang-goyang di udara. Wajah duplikat ayahnya itu terlihat begitu menggemaskan dengan pipi yang cukup berisi dan celotehan pagi tentang sahabat barunya, seekor kura-kura bernama Cola. Setelah makanan telah siap, wanita anggun yang menjadi kepala koki mansion itu segera menyerahkannya pada sang suami.

"Ini, pastikan Chanyeol makan dengan baik. Juga," Segelas darah segar mampir diatas nampan yang diterima Jongin. Pria itu tersenyum pada kebaikan hati omeganya. "Berikan untuk vampire manis itu. Dia benar-benar harus segera pulih dan kembali kuat."

"Terima kasih."

"Eii. Untuk apa kau berterima kasih padaku, bodoh." Keduanya tertawa kecil. Kehangatan sederhana ditengah-tengah kesibukan mereka. Kai memperhatikan kedua orang tuanya dengan pandangan polosnya. Matanya mengerjap ketika menemukan cairan merah diatas nampan sang ayah.

"Ayah, itu apa?"

"Ah," Jongin tersenyum penuh kharisma. "Ini jus strawberry untuk Baekhyun hyung." Mata Kai membulat sempurna dengan ekspresi penuh ketertarikan. Nyatanya, bualan Jongin membuat sang anak menelan ludah karena ingin. "Ck, kau ini. Minta pada Bibi Kim atau ibumu sana."

Dengan teriakan 'yey' kecil anak itu melompat dari bangkunya dan merengek pada sang ibu. Memastikan putranya sudah dalam pengawasan, Jongin pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan Chanyeol.

Tidak memerlukan waktu lama, mungkin hanya sekitar lima menit, ia sudah mencapai gagang pintu milik asuhannya. Jemarinya mengetuk dengan cukup susah payah sebelum ruangan di depannya terbuka dan kegelapan langsung menyapa.

"Wow!"

"Maaf. Baekhyun tidak tahan panas." ujar Chanyeol tanpa dosa dengan cengiran jahil yang terbentuk di wajah tampannya. Jongin hanya berdecak sok kesal, padahal dalam hatinya ia sedang mengagumi betapa perhatiannya Chanyeol terhadap Baekhyun.

Ketika ia masuk lebih dalam, ia menemukan tikar tebal disamping sel dekat tempat tidur Baekhyun dan setumpuk buku disana. Tidak lupa beberapa buah lilin merah menyala, menambah remang ruangan tersebut. Padahal cahaya sedang mencoba merangsak masuk melalui gorden tertutupnya. Si objek utama yang ia cari sedang membaca sebuah buku dan menyapanya dengan suara yang lebih ceria dari biasanya.

"Hai, Jongin!"

"Hai, Baek! Bagaimana keadaanmu?" tanya Jongin. Mendekati Baekhyun dengan segelas cairan pekat untuk diberikan pada sang vampire.

"Seperti yang kau lihat," Baekhyun mengulum senyuman. "Kamarku lebih nyaman dari sebelumnya." Jongin sangat bersyukur melihat senyum di wajah sahabatnya. Tak pernah dia melihat wajah Baekhyun sebersinar ini selama sebelas tahun ia mengenalnya.

Baekhyun tetaplah sosok yang sangat anggun, penuh aura positif, dan lembut. Namun cahaya dari matanya terlihat lebih jelas sekarang. Warna jernih safirnya memantulkan refleksi wajahnya dengan begitu sempurna. Iris paling indah dan paling diinginkan.

"Kalian tidur bersebelahan ya?" Jongin lagi bertanya ketika melihat posisi tempat tidur yang berdempetan dan hanya dibatasi besi sel. Chanyeol yang tadinya sibuk mengobrak-abrik sup panasnya langsung menoleh. Memberikan cengiran bodoh yang selalu membuat Baekhyun tertawa karena gemas. "Ck, benar-benar. Aku tidak tahu jika memberitahu Chanyeol semuanya akan membuat kalian selengket ini."

"Ada benang merah di kelingking kami," Chanyeol menjawab dengan mulut penuh dan gigi yang sibuk mengunyah. Ia berkedip kearah Baekhyun dengan lucu. "Iya kan, Baek?" Baekhyun tertawa pada lelucon kekasih hatinya sementara Jongin hanya memutar matanya. Melihat keduanya, ia merasakan kelegaan luar biasa. Kesempatan ini... bisakah tetap seperti ini? Melihat keduanya bahagia, Jongin merasa bersyukur. "Paman iri ya. Bilang saja." Decakan menjadi jawaban sang pengasuh.

"Kau bercanda? Aku bahkan sudah menikah."

"Ya, ya. Dasar pria tua."

Tak!

"AWWW!"

.


.

North Prussic adalah kota kecil di daerah Prussic yang terkenal akan paras omeganya yang menawan. Banyak diantara shapeshifter bodoh yang menghianati pasangannya demi bersama dengan salah satu omega yang berasal dari sana. Banyak para beta yang tidak mempunyai ikatan takdir pun rela menjadi yang kedua demi bisa bersama dengan omega yang diinginkannya.

Semua karena berkat dewa pada wilayah itu, sehingga keturunan shapeshifter yang berasal dari sana adalah para alpha dan omega suci yang bisa menghasilkan keturunan yang luar biasa. Tampan, pintar, kuat adalah paket lengkap yang pasti dimiliki kaum mereka.

Siapa pun yang memiliki takdir omega yang berasal dari sana adalah orang yang sangat beruntung.

Jongin baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan orang tua bayi yang menjadi calon omega Chanyeol. Wajahnya menunjukkan ketidakpuasaan yang berusaha ia tutupi dengan senyuman berkharisma miliknya. Keluarga itu termasuk orang yang berpengaruh disana. Mereka berhubungan dekat dengan mantan tetua klan, seseorang yang memenjarakan Baekhyun dulu.

Hal itu membawa kekhawatiran yang besar padanya. Jika benang merah mereka terputus, maka tidak hanya akan terjadi perang saudara, namun bisa jadi perang seluruh klan.

Ada dua opsi pilihan yang keduanya pun bukan hal yang baik.

Pertama, jika Chanyeol tidak dipaksa menikahi omeganya, mungkin dia akan dibunuh karena telah membuat menderita calon omeganya. Tidak dicintai alpha adalah sebuah cambukan untuk setiap omega. Rasa sakit itu akan hilang jika sang alpha dibunuh dan omega tersebut diklaim oleh alpha lain.

Namun melihat keadaan Chanyeol saat ini, bagaimana beringasnya dia, Jongin yakin jika kekuatan Chanyeol tidak hanya sebatas kekuatan shapeshifter. Dia adalah percampuran darah vampire.

Itu sangat mengerikan.

Chanyeol sendiri adalah pribadi yang tidak bisa mengendalikan amarahnya dengan baik. Selama ini, Baekhyunlah yang mengendalikannya. Tetapi, ketika mereka terpisah karena kehadiran omega itu, akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Chanyeol akan jatuh cinta pada omeganya dan hidup dengan normal atau ia akan menolak omeganya dan memilih Baekhyun.

Jika hal itu terjadi, keluarga omeganya pasti akan mencetuskan perang karena merasa terhina. Dan jika amarah Chanyeol dipancing, ia mungkin akan menjadi seorang monster dan bisa memusnahkan seluruh kaumnya dengan mudah.

Membayangkannya saja ia tak sanggup.

Ia tak mau melihat Chanyeol menjadi sosok yang jahat dan melupakan jati dirinya. Namun di sisi lain, dia juga tak mau melihat penderitaan Baekhyun. Dia telah menerima hukuman, tapi apakah dia juga perlu dihukum mati? Itu jelas tidak adil.

"Apa yang harus aku lakukan?"

.


.

At night...

"Apa yang kau lakukan disini?"

Suara itu...

Luhan berbalik dan memicingkan mata. Bulan purnama diatas sana tidak begitu membantu penglihatannya karena sosok itu membelakangi sinarnya. Ketika langkah kaki besar pria itu mendekat, barulah Luhan menyadari sosoknya dan tercekat kemudian.

Tiba-tiba ingatan buruk akan dirinya yang nyaris kehilangan nyawa mulai memenuhi isi otaknya. Sejujurnya ia mulai takut, namun sebisa mungkin ia bersikap layaknya seorang loneshifter. Takut seharusnya tidak ada dalam kamusnya.

Susah payah ia harus menahan tubuhnya yang mulai bergetar.

"Aku bertanya apa yang kau lakukan disini?!" Pria berwajah dingin itu menekan kalimatnya. Iris matanya mulai berubah merah menahan amarah karena melihat sosok di depannya hanya mengingatkannya pada saudaranya, Baekhyun.

Sekilas mereka terlihat mirip dan dia membenci kenyataan itu. Setelah kejadian lama yang terjadi diantara mereka, hal-hal baru pun mulai disadarinya termasuk alasan mengapa dia ingin sekali menyerang Luhan.

Sedangkan Luhan yang berjarak sekitar lima meter darinya hanya menatapnya bingung.

"Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan di pemakaman ini?" Luhan balas bertanya. Dagunya naik, angkuh terlihat. Keduanya sama-sama berwatak keras. Gengsi untuk mengalah.

Sehun melirik makam di depannya. Tepatnya pada foto tua yang tertempel dibatunya. Sesak memenuhi raganya ketika kepingan ingatan mulai terbentuk samar. Seseorang yang berada didepannya adalah seseorang yang sangat berharga baginya dan mengapa anjing sialan itu bisa mengetahuinya. Mengetahui kelemahannya?

Kemudian tatapannya kembali beralih pada Luhan.

"Bukankah aku yang lebih berhak bertanya?" Alis Luhan mengernyit. Tepat disaat itu, angin berhembus keras. Menerpa wajah rupawan Sehun yang mirip seseorang di masa lampau. Membawa Luhan untuk menggali paksa ingatannya bertahun-tahun lalu. "Makam di depanmu ini adalah makam anakku, Wu Guanlin."

Deg.

Luhan termangu dengan jantung yang berdetak ngilu.

Jadi, prianya adalah... anak dari musuhnya? Bagaimana mungkin?

.


.

"Jessica... Kenapa ekspresimu seperti baru melihat hantu?" Kyungsoo mengernyit ketika wanita anggun yang sudah ia anggap sebagai ibu itu tampak menatap kosong pada koper Kris yang berisikan macam-macam batu energi.

Batu berwarna cerah dan bening itu memiliki berbagai fungsi dan selalu menjadi incaran setiap klan. Diantaranya bisa digunakan untuk melihat masa depan dan masa lampau. Yang mana batu tersebut sangat terlarang, dijaga baik dan dirahasiakan oleh keluarga mereka.

"Gawat, Kyungsoo-ya." Wanita cantik itu berbalik menatapnya dengan ekspresi panik.

"K-Kenapa?"

"Sehun telah menyentuh batu nonage."

"N-Non... apa?"

"Batu nonage." Terdengar suara tegukan ludah dari wanita itu. Menunjukkan bagaimana fatalnya hal yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya. "Batu yang digunakan untuk melihat masa lalu. Memungkinkan kalian untuk melihat kehidupan kalian sebelum mati dan menjadi vampire. Sehun baru saja menyentuhnya, aku bisa merasakannya. D-Dia..." Zamrud Kyungsoo yang biasanya terkesan tak acuh, kini membulat sempurna. Kaget, tentu saja.

"Apa mungkin dia menemui seseorang di masa lalunya?"

"..." Tak ada jawaban pasti dari wanita bersurai pirang itu. Mata tajamnya hanya menatap kosong pada batu berwarna hitam bening di genggamannya. Batu yang sangat menggoda sekaligus membahayakan.

Beberapa diantara vampire baru memang biasanya kehilangan sebagian ingatannya dan ingatan Sehun merupakan hal yang paling dilindungi Jessica. Karena hal tersebut bukanlah sesuatu yang bagus untuk diketahui Sehun.

"Jika itu terjadi, Sehun pasti hanya akan merasakan sakit."

"Kenapa?"

"Karena Sehun tidak memiliki keluarga lagi. Setelah kematiannya di medan perang, istrinya dibunuh dan bayinya diculik. Dibesarkan musuh dengan penuh siksaan sebelum akhirnya memilih mengakhiri hidup karena cinta. Putranya adalah..." Jessica menahan nafas. "Putranya adalah kekasih dari Luhan, calon loneshifter itu."

"A-Apa?"

.


.

"Berhenti memandangku, Chanyeol."

Chanyeol tersentak kecil ketika Baekhyun menyadari apa yang telah ia lakukan selama lima belas menit ini. Duduk termenung dengan pipi menempel di tralis besi sementara mata bulatnya yang berwarna abu menatap hanya pada satu arah.

Pada Baekhyunnya.

Vampire bermata indah itu nyatanya tak menengoknya sama sekali. Chanyeol bahkan berusaha mungkin untuk tidak mengusiknya yang sibuk membaca. Tapi lihatlah, tetap saja dia ketahuan telah mencuri-curi pandang. Atau justru... karena sikap konyolnya tampak jelas? Entahlah. Chanyeol tak dapat berpikir jernih.

Tak ada jawaban dari remaja lima belas tahun itu, Baekhyun pun menoleh.

"Dengar, Chanyeol-ah." Baekhyun memulai. Meletakkan buku tebalnya kemudian duduk berhadapan dengan Chanyeol dengan sel-sel besi berwarna perak yang membatasi. "Suara nafasmu saja aku bisa mendengarnya dengan jelas. Jadi, percuma saja kau berpura-pura menghitung nyamuk."

Kekehan kecil keluar dari ranumnya yang berwarna peach. Menularkan senyum juga pada remaja tersebut. Ia menyusap-usap tengkuknya merasa malu.

"Maaf. Habisnya kau cantik sekali." Rona tipis tercipta di kedua pipi Baekhyun. Percayalah, bahwa rona itu takkan pernah muncul jika yang berbicara bukan Chanyeol.

Semuanya terlalu samar oleh cahaya lilin disekitar ruangan, sehingga Chanyeol tidak mampu menangkapnya dengan jelas meskipun ia memiliki indera yang tajam. Mungkin ia tak bisa fokus karena hatinya sudah akan meledak di dalam sana.

"Baek, kemarin aku membaca sesuatu—" Raut wajah Chanyeol tiba-tiba sangat serius. Itu menimbulkan pertanyaan sendiri di dalam isi kepala Baekhyun. "Hubungan vampire dengan klan apapun itu, akan melemahkan vampire. Apa itu benar?"

H-Huh?

Dari mana Chanyeol mengetahui itu? Chanyeol bahkan bukan tipe remaja yang gemar membaca buku sejarah. Apa seseorang menceritakan padanya tentang vampire?

"Baekhyun," Chanyeol meraih tangannya dan mengenggamnya. Merasakan kulit yang begitu dingin layaknya ditempeli es selama seharian penuh. Namun sensasi itu terasa begitu nyaman untuknya. "Apa pingsanmu waktu itu, juga hal-hal aneh yang seharusnya terjadi pada manusia biasa tetapi tiba-tiba terjadi padamu... apa itu karena ikatan kita? Kau juga tidur lebih lama dari waktu yang dibutuhkan vampire untuk beristirahat. Ini semua... perubahaan itu... karena aku, kan?"

Ingin sekali Baekhyun menarik tangannya dan mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Tapi, Chanyeol jelas bukan orang yang mudah dibodohi.

Dia bisa paham walau hanya sekali baca. Ingat? Dia memiliki darah vampire yang jenius.

"Tidurlah, ini sudah terlalu malam untukmu."

"Kau menolak untuk menjawabku?" Chanyeol menyadarinya. Pengalihan pembicaraan ini.

"Kau sudah tahu, kenapa masih bertanya?"

"Karena itu jugalah alasan mengapa kau tak bisa bersamaku? Apa itu benar? Karena ikatan kita membuatmu lemah? Seberapa parah itu? Apa aku juga akan kehilanganmu?" Baekhyun menarik rahang Chanyeol dengan kedua tangannya kemudian memberikan kecupan kecil di belah kissable-nya.

Berulang kali hingga ia merasa terengah sendiri. Manisnya kecupan, kehangatan dalam hati dan debaran yang menyenangkan itu, membuat Chanyeol segera lupa dengan seluruh pertanyaan dalam otaknya. Baekhyun tersenyum sepersekian detik setelah tautan lembut itu berakhir.

"Tidurlah, jangan khawatirkan apapun." Chanyeol akhirnya mematuhinya. Memasukkan dirinya ke dalam selimut layaknya remaja yang ingin dimanja. Disaat-saat seperti inilah umur mereka terlihat.

Bagaimana Baekhyun bertindak layaknya seorang ayah dengan mengusap-usap helaian sang anak sementara Chanyeol terlihat sangat menikmatinya. Dengan tatapan keduanya yang tak terputus sedetik pun.

"Baekhyun..." bisik Chanyeol dan Baekhyun bergumam sebagai jawaban. "Bahkan jika kita akan berpisah dan saling melupakan... Kau akan tetap jadi takdirku. Entah di dunia ini, atau bahkan di dunia lainnya."

"Karena kita memiliki benang merah di kelingking kita?" Baekhyun menebak dan senyuman lebar Chanyeol menjelaskan semuanya.

Remaja lima belas tahun itu mulai memejamkan matanya setelah bergumam selamat malam pada sang belahan hati. Membiarkan Baekhyun memberinya usapan di rambutnya hingga mimpi menjemputnya. Ketika dengkuran halus mulai terdengar, senyuman Baekhyun memudar dan tatapannya berubah sendu.

"Pemilik benang merah itu, aku... atau dia?"

.


.

Ruangan Jungsoo terasa begitu dingin saat ini. Jongin menatap pimpinannya itu dengan raut wajah kaku, menanti untaian kata dari bibir paruh baya itu. Sedangkan paruh baya yang menjadi atensinya pun tak kalah kakunya dengan dirinya. Di tangan loneshifter itu terdapat sebuah kertas berwarna pucat berisikan kalimat-kalimat yang tak ia ketahui.

Sore tadi ada seorang pesuruh dari North Prussic datang pada loneshifternya untuk menyampaikan suatu hal lewat surat tersebut.

Surat tersebut mewakili pimpinan daerah North Prussic beserta keluarga calon omega Chanyeol. Karena keduanya merupakan keluarga terpandang, maka segala hal harus sesuai dengan peraturan yang ada. Inilah yang ditakutkan Jongin selama ini. Keluarga itu akan mengetahui keberadaan Baekhyun dan kemungkinan mereka akan menuntut keberadaan Baekhyun yang mengancam.

"Jongin..."

"Ya, Tuan?"

Paruh itu tampak menghembuskan nafas bersamaan dengan hempasan lembut tangannya yang tadinya memegang surat. Ekspresinya menunjukkan kekhawatiran yang sangat dan itu benar-benar mengganggu Jongin. Ia tak berani sedikit pun menebak apa yang tertulis di dalam kertas tersebut.

"Mereka ingin mengadakan pertemuan tiga hari ke depan—"

Jongin bisa merasakan saraf dalam tubuhnya seolah mati dan jantungnya berdebar oleh rasa takut. Matanya membulat sempurna pada pernyataan Jungsoo.

"I-Itu berarti—"

"Ya, Jongin. Tepat pada saat bulan purnama."