Because Of Flower
Chapter 8 ^^
.
.
.
Hari Kamis, adalah hari kebahagiaan seorang Kim Ryeowook. Bagaimana tidak? Dia lahir di tanggal itu, dia selalu mendapatkan keberuntungan di tanggal itu. Dan sekarang? Dia selalu mendapat kiriman bunga oleh secret admirer mungkin? Intinya hari Kamis adalah hari yang sangat membahagiakan.
"Kyuhyun kemana lagi? Hilang lagi?" Ryeowook kembali mengkrucutkan bibirnya,
"Namja setan itu benar-benar mirip setan, dasar." Ryeowook kembali mencibir. Dia melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan kelasnya yang telah sepi itu. Sepanjang perjalanannya menuju halaman depan sekolah, Ryeowook menyanyikan lagu kesukaannya, Promise You. Langkahnya terhenti di depan kelas XI IPA 1.
"Kelas Hae oppa bukan?" Ryeowook sedikit membuka pintu menuju kelas tersebut.
Dia menuju meja guru, biasanya, di atas sana ada denah kelas.
"Ah, benar-benar ada ternyata. Aku pikir sekretaris kelas ini benar-benar rajin ya." Ryeowook memfokuskan pandangannya pada selmbar kertas tersebut. Disana terlihat jelas kalau Donghae duduk di tempat duduk ke 4 dari meja guru.
"Ck, suka sekali duduk dekat jendela. Mau flashback eoh?" Ryeowook menoel-noel meja Donghae, seolah-olah ada orang disana.
Kemudian dia duduk di tempat duduk Donghae.
'Nyaman juga.' Ryeowook sedikit memicingkan kepalanya melihat isi laci meja Donghae.
"Dasar ceroboh, bagaimana mungkin bisa meninggalkan buku-bukunya di laci. Dia pikir bukunya tidak akan hilang? Bagaimana kalau tukang sapu menjualnya? Oppa, oppa. Ceroboh sekali." Ryeowook mengomel kembali.
"Kata orang kalau ada seorang wanita yang sukanya marah-marah dan mengomel itu seperti ibu-ibu hamil. Wookie-ah, kau hamil ya?" Ryeowook sedikit terkejut, 'nuguya.' Pikirnya kalut.
Ryeowook langsung mengarahkan wajahnya ke sumber suara, ternyata Lee Donghae lah namja yang membuatnya terkejut itu.
"Oppa, kau mengagetkanku." Ryeowook memukul lengan Donghae saat Donghae sudah di dekatnya.
"Ah, appo. Siapa suruh kau seperti ibu-ibu hamil yang suka marah-marah. Haha. Bagaimana kalau misalnya nanti Ryeowookie hamil, bagaimana nasib namja yang jadi suami Wookie ya? Pasti kerepotan." Donghae mengetuk-ngetukkan tangannya ke dagunya. Seolah-olah sedang berfikir. Sedangkan Ryeowook, orang yang dibully, sudah siap meninggalkan Donghae.
"Ya. Mau kemana, eoh?" Donghae menarik lengan Ryeowook dengan lembut.
"Oppa menyebalkan. Memangnya Ryeowook semenyebalkan itu apa? Ryeowookie tak menyebalkan oppa." Ryeowook cemberut, sedangkan Donghae tertawa dengan keras, mirip orang gila.
"Ya! Memangnya Wookie pikir oppa tidak bercanda ya? Oppa bercanda Wookie. Pasti namja yang menjadi suami Wookie adalah namja yang sangat beruntung. Dia harus bisa membahagiakan seorang malaikat dengan kelembutannya." Donghae mengacak_acak rambut Ryeowook, kemudian menyentil hidung Ryeowook pelan. Sedangkan si empunya? Hanya mampu merona,
'Hae oppa selalu bisa membuatku merona dengan kelembutannya. Aigooo…. I feel crazy.' Ryeowook kembali bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Wookie, itu apa yang ditangan Wookie?" Ryeowook langsung menoleh kearah barang yang ada di tangan kanannya.
"Oh, ini buku oppa, oppa. Tadi niatnya kalo oppa tidak ada disini, Wookie ingin membawanya pulang, terus mengembalikannya pada oppa besok. Habisnya Wookie takut kalau buku oppa ini diambil tukang sapu." Ryeowook menjelaskan semuanya secara rinci sedangkan Donghae hanya tersenyum.
"Oppa kenapa cuman senyum, marah? Mian ya, Wookie gak adabaca isinya kok. Serius deh." Ryeowook kembali mengangkat tangannya, bersumpah.
"Oppa percaya kok. Gak perlu sepanik itu Wookie." Donghae kembali mengelus kepala Ryeowook.
"Gomawo oppa, tapi jangan hancurin rambut Ryeowook dong, Ryeowook kesel deh." Ryeowook merapikan rambutnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap memegang buku Donghae.
"Boleh oppa minta kembali buku oppa? Hehe."
"Tentu oppa, ini hak milik oppa." Ryeowook memberikan buku Donghae kembali kepada sang empunya.
"Gomapta Wookie. Oh iya, Wookie kok bisa disini? Hayoo, Wookie jadi stalker oppa ya?"
"Pede sekali oppa ini." Ryeowook langsung melongos pergi.
"Haha, oppa bercanda loh, haha. Wookie pulang sama siapa?" Donghae menyeimbangkan langkahnya dengan Ryeowook.
"Sendiri oppa."
"Oh. Ngomong-ngomong Kyuhyun mana Wook?" Donghae menoleh kesana kemari mencari sosok Kyuhyun.
"Dia pulang duluan oppa, dia memang namja setan." Ryeowook mendengus sebal mengingat Kyuhyun.
"Haha, begitu-begitu dia namjachingu Wookiekan? Setan-setan begitu Wookie mencintainya kan?"
"Cinta? Haha, Wookie hanya…" Ucapannya terputus, hampir saja keceplosan.
"Hanya apa? Menyukai? Sama aja Wookie."
"Hihi, iya oppa. Haha." Ryeowook tertawa terpaksa. Sebenarnya dia senang bisa jadi yeojachingu Kyuhhyun, tapi dia juga tak suka di situasi seperti ini, dekat dengan seorang namja yang berstatus single, seolah-olah Wookie selingkuh, oh my god. Jangan sampai ada kabar seperti itu, bisa-bisa Ryeowook pulang dengan keadaan mati. Mati dihajar fans Kyuhyun. Membayangkannya saja mebuat Ryeowook bergidik ngeri.
"Wookie, waeyo?" Donghae yang menyadari ada keanehan di diri Ryeowook langsung bertanya.
"Ah, ani oppa, hanya kedinginan." Ryeowook berkilah dengan alasan yang tak logis sama sekali. Jelas-jelas ini musim panas, bagaimana bisa dia kedinginan.
"Mwoya? Wookie menggigil tidak? Ayo cepat kita pulang, oppa tak mau terjadi sesuatu kepadamu." Donghae tanpa sadar menggendong Ryeowook ala bridal style. Dan Ryeowook hanya mampu terdiam, dia syok.
"Ya tuhan, oppa. Turunkan aku, mungkin nyawaku akan habis sebentar lagi oppa."
"Loh? Wae?" Donghae menghentikan langkahnya, tapi tetap menggendong Ryeowook, dari matanya tersirat rasa khawatir.
"Aku bisa mati di buat fans Kyuhyun kalo tahu oppa menggendongku seperti ini oppa. Aku tak mau mati muda." Ryeowook menggelengkan kepalanya cepat-cepat, membayangkan itu lagi, membuat Ryeowook frustasi.
"Kau sedang sakit Ryeowook, bagaimana bisa aku hanya membiarkanmu berjalan, kalau semakin sakit bagaimana? Sudah tak usah pedulikan kata-kata fans Kyuhyun. Kalau kau kenapa-kenapa, telpon oppa. Arra." Donghae menatap lekat mata Ryeowook. Sedangkan Ryeowook hanya mampu menelan ludahnya takut, Donghae oppa benar-benar percaya kalau dia sakit, dan dia hanya mampu menganggukkan wajahnya.
.
.
Sementara itu ada seorang yeoja yang mengabadikan foto mereka, dan menebar isu-isu tak jelas tentang Donghae dan Ryeowook.
.
.
.
"Lain kali Ryeowook harus jaga kesehatan ya, perlu oppa antar sampai depan pintu?"
"Ah, ani oppa. Gomapta oppa. Maaf merepotkan ne, mian."
"Tidak apa-apa, oppa senang bisa membantumu, lain kali jangan sungkan meminta pertolongan oppa ya."
"Ne oppa, Wookie masuk dulu ya."
"Ne, hati-hati ya. Awas keinjak semut." Donghae hanya mampu menyengir mendengar apa yang ia ucapkan itu. Sedangkan Ryeowook hanya mampu tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
Ryeowook membungkukkan badannya tanda hormatnya kepada Donghae, sedangkan Donghae hanya tersenyum.
"Wookie, istirahat yang cukup ya. Jangan sakit lagi, ne." Dongahe berteriak sedikit kencang-menurut Ryeowook sangat kencang- hingga Ryeowook meringis malu, bagaimana kalau orang rumah dengar.
Kemudian terdengar suara sepeda motor yang mulai menjauh,
'Pasti itu kereta Donghae oppa, syukurlah dia sudah pergi.' Ryeowook kembali berjalan biasa, seolah tidak ada penyakit.
"Enak diantar namja kesukaan?" Kyuhyun sudah didepan pintu rumah Ryeowook, menggantikan posisi eomma Ryeowook biasanya.
"Ya! Kau dari tadi kemana saja? Aku mencarimu disekolah." Ryeowook memarahi Kyuhyun balik.
"Jangan mengalihkan perhatian Wookie. Eommamu sakit sekarang, dan dari tadi aku menelpon hapemu tidak kau angkat Kim Ryeowook. Kau ini." Kyuhyun menjitak kepala Ryeowook pelan. Takut melukai yeoja yang ia sukai itu.
"Serius? Kenapa bisa tidak terasa, perasaan nadanya tadi aktif kok." Ryeowook membela dirinya.
"Coba periksa dulu hapemu? Mana tahu profilnya berubah." Kyuhyun mengusulkan sebuah usul yang baik-menurut Ryeowook.-
Ryeowook mencheck handphone genggamnya, ternyata profilnya diam, pantas saja di telponin tidak diangkat.
"Tunggu dulu, eomma sakit? Jinja? Kok bisa?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu Kim Ryeowook, eommamu manusia biasa, bukan wonder women, dia juga butuh istirahat. Dan kau jarang membantunya akhir-akhir ini." Kyuhyun kesal sendiri mendengar pertanyaan Ryeowook.
"Ya! Aku sibuk juga gara-gara kau! Kalau bukan karena perjanjian bodoh itu aku tidak akan mau jadi pembantumu. Arra!"
"Ya, kenapa kau jadi menyalahkanku? Memangnya aku pernah menyuruhmu keluar dari norma kemanusiaan? Wookie, aku juga manusia, aku masih memiliki hati jika menyuruhmu." Nada bicara Kyuhyun mulai melemah.
Ryeowook menyadari perubahan nada bicara Kyuhyun, dan dia mulai merasa tak enak hati.
"Kyuhyun-ah, kau marah padaku? Ya! Mian, aku tak bermaksud berbicara seperti itu." Ryeowook mulai kalang kabut dengan Kyuhyun yang tak menggubrisnya
"Kyuhyun-ah, kau boleh menjahiliku, tapi jangan diamkan aku seperti ini, jebal" Ryeowook memasang puppy eyes-nya tanpa menyadari dia telah mengeluarkan kata-kata terlarang, membiarkan Kyuhyun menjahilinya, haha. Sama artinya kau ingin di neraka Wookie.
"Molla." Kyuhyun memasang wajah kesal-tepatnya pura-pura kesal-
"Ya! Jangan begitu Cho Kyuhyun, akukan bercanda."
"Wookie-ah, kali ini aku tak bisa, aku sudah…" Kyuhyun menggantung kata-katanya.
"Aku sudah apa? Ya!" Ryeowook mendekatkan dirinya dekat Kyuhyun
Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke Ryeowook, hingga jarak mereka hanya 5 cm. "Aku sudah, Aku sudah memaafkanmu nona Kim." Kemudian Kyuhyun tertawa dengan nistanya-_-
"Kurang ajar, Cho Kyuhyun!" Ryeowook memukul-mukul lengan Kyuhyun dengan kejamnya.
"Memangnya kau pikir itu lucu? Huh?" Ryeowook mencubit pipi Kyuhyun.
"Ya! Appo!" Kyuhyun segera mencabut tangan Wookie dari pipinya, bisa-bisa melar gara-gara ditarik Ryeowook, terus kalo fansnya hilang gimana? Mungkin Ryeowook tidak berfikir kesana.
"Ya! Kalau pipiku biru, aku akan menjadikanmu tersangka utama dalam hal ini, dan kau akan pulang dengan nama." Kyuhyun berbicara sambil menghapus-hapus pipinya.
"Ya! Kejam sekali kau ini. Itu sama saja kau mendoakanku mati." Ryeowook kembali memukul lengan Kyuhyun, tetapi kali ini pelan.
"Hais, kau ini kenapa suka sekali memukulku sih nona Kim." Kyuhyun mengelus-elus lengannya yang dipukul Ryeowook.
"Tidak usah berlebihan tuan Cho, aku hanya memukulmu pelan, dan itu takkan memberikan tanda di lengan, ya tuhan." Ryeowook kesal sendiri melihat Kyuhyun.
"Oppa, eodi?" Ryeowook melihat sekeliling rumahnya, mencari-cari tanda-tanda kehidupan oppanya(?)
"Oppamu tadi dirumah, kemudian pergi keluar. Mungkin membeli makanan, karena eomma tidak memasak apapun."
"Jinja? kalau begitu kau belum makan dong?"
"Memangnya mungkin aku makan saat menjaga eomma." Kyuhyun mencibir Ryeowook.
"Mana aku tahu, mungkin saja kau sudah pulang dan makan masakan Victoria ajhumma."
"Aku tidak mau makan masakan eomma, rasanya seperti neraka, aigoo."
"Ya! Cho Kyuhyun." Ryeowook menjitak kepala Kyuhyun.
"Victoria ajhumma ibumu tahu." Timpal Ryeowook
"Siapa bilang dia kakakku? Aku hanya bilang kalau masakan ibu tidak enak. Selalu hambar." Kyuhyun mengelus-elus kepalanya.
"Ya! Kau ini." Ryeowook berniat menjitak kepala Kyuhyun lagi, tapi kali ini Kyuhyun menghindar, dan terjadilah insiden kejar mengejar-_-
.
.
.
Pada akhirnya keduanya akan berakhir di dapur. Wae? Karena Kyuhyun dan Ryeowook sama-sama lapar. Ck
"Ya! Wookie, tak bisakah kau masak lebih cepat? Aku lapar sekali." Kyuhyun memelas dengan nada memerintah
"Ya! Aku memang berstatus sebagai pembantumu, tapi tidak usah bertingkah layaknya kau seorang majikan Cho Kyuhyun, ini rumahku tahu." Ryeowook ngomel sendiri dibuatnya.
"Ya! Kalau kau marah-marah terus rasa masakan itu akan hambar."
"Mwo? Bagaimana bisa?" Ryeowook yang sedang membelender bahan makananpun menghentikan pekerjaannya-sebenarnya memencet tombol off pada blender tersebut-
"Cause, kalau kamu Kim Ryeowook marah-marah terus rasa sup yang kau masak takkan kau beri garam."
"Ah, benar. Hampir saja aku lupa memasukkan garam." Ryeowook tertawa sembari menuju tempat penyimpanan bahan-bahan dapur.
"Kyu." Ryeowook memanggil memelas.
"Mwo?" Kyuhyun yang baru saja duduk di meja makan merasa terusik dengan suara Ryeowook tersebut.
"Bisa bantu aku? Itu terlampau tinggi. Kau tahukan kalau aku…." Ucapan Ryeowook terhenti karena ucapan Kyuhyun
"Aku tahu, jadi jangan lanjutkan kata-kata yang berisi aibmu itu."
"Yang mana?" Ucap Kyuhyun saat dia tepat disamping Ryeowook.
"Yang itu, yang ada tulisannya SALT. Kaukan pintar, masa tidak tahu bahasa inggris." Ryeowook mengomeli Kyuhyun lagi.
"Sekali lagi kau berkomentar, aku takkan membantumu Kim Ryeowook." Kyuhyun memasang smirknya saat melihat Ryeowook mati kutu saat mendengar kalimatnya/
"Ini." Kyuhyun menyerahkan sebungkus garam kepada Ryeowook.
"Kamshayeo Kyunnie." Ryeowook menerimanya sambil beraegyo.
"Itu menjijikkan Wookie, jangan ulangi lagi." Kyuhyun menoel kepala Ryeowook pelan
"Ya, appeuda. Kau mau tak makan eoh?"
"Kalau kau cerewet terus kapan kita makannya. Dan kapan kau menuruh garam kedalam sup? Kau mau supnya kering?"
"Gotcha, aku lupa Kyuhyun-ah, gomawo." Kyuhyun kembali duduk menunggu masakan Ryeowook.
.
.
.
Sekitar 20 menit kemudian masakan Ryeowook sudah selesai dia hidangkan. Dan disambut dengan tatapan riang Kyu yang dari tadi kelaparan.
"Nah, sudah jadi. Kyu, ayo makan."
"Tanpa kau suruhpun aku akan makan Wookie."
"Dasar tidak sopan." Ryeowook mencibir Kyuhyun dan kemudian dia mengambil jatah makanannya sendiri.
Saat Ryeowook ingin menyuapkan makanan yang telah ia masak dengan jerih payah-walaupun tidak sulit bagi Ryeowook, tapi masak di dekat Kyu cukup membuatnya canggung, ntah rasa apa itu, Ryeowookpun tak tahu-
"Ya! Kau tak mau berdoa dulu?" Ryeowook menepuk jidatnya setelah dia menurunkan sendoknya, selain bodoh dia juga pelupa ternyata.
"Dasar, doa dulu baru makan. Kau ini." Kyuhyun memimpin doa makan untuk di meja tersebut.
Ibarat sebuah rumah tangga yang harmonis bukan? Kalau orang tak tahu mungkin mereka sudah disangka pengantin baru karena sangat romantic. Ckck
"Amin, selamat makan." Kyuhyun menghakhiri doanya.
"Selamat makan." Ucap Ryeowook riang.
"Kau ini kalau sudah makan nomor satu, ckck."
"Sempat-sempatnya kau membullyku saat lapar begini, teganya." Kemudian Ryeowook memasukkan sendok yang berisi makanannya kedalam mulutnya sehingga membuat pipinya penuh.
"Hahaha, Wookie-ah, seharusnya aku membawa handphoneku kesini, agar bisa memfotomu lalu menguploadnya di SNS, haha."
"Kau ini jahat seklai." Ryeowook memarahi Kyuhyun sambil menguyah.
"Ngomong apa sih Wookie? Haha."
"Ya!" Ryeowook kembali meneriakinya dan pada akhirnya Ryeowook tersedak-_-
"Makanya jangan ngomong sambil makan, kan tersedak jadinya." Kyuhyun memberikan air putih kepada Ryeowook dan disambut dengan bahagia.
"Tumben baik." Ucap Ryeowook setelah menghabiskan isi air tersebut
"Jigeum Mwoya? Kalian kok romantic banget sih." Eomma Ryeowook keluar dari kamarnya
"Eomma" Ryeowook dan Kyuhyun mengucapkannya secara bersamaan.
"Aigoo, romantisnya, semoga kalian langgeng terus sampai menikah."
"Mwo? Menikah?" Keduanya jug saling berteriak, kompak sekali, ckck
"Kan, kompak banget. Iya, eomma sudah membicarakannya dengan Victoria ajhumma sejak kalian didalam kandungan."
Terdengar seperti berita bahagia untuk Kyu dan terdengar seperti kabar kematian seorang musuh bebuyutan untuk wookie, beritanya menyedihkan tapi juga membahagiakan untuknya.
.
.
.
.
.
TBC ^_^
Mian for kengaretan aku yang tiada henti ini ya, haha. Maklum anak SMA-_-
Tugas numpuk dimana-mana, lagi masa aktif-aktifnya organisasi juga :') maaf ya, wkwk
Ini udah lumayan banyak kan? Alhamdulillah berulang kali nulisnya akhirnya sampek juga di page 9 ff ini, kalo masih dikit diusahain deh next chap lebih banya, oke
Love you all 3
Kim Kibum's Wife, Gyuna ^_^
