-Chapter 6-


Charas; EXO OTP-12
Genres; Suspense, Crime
Rating; R (Restricted)
Views; AU (Alternate Universe)
Warnings; Psychological-effect | Kleenex-warning | Suspense-scenes | Two-faced!Kris


Disclaimer

I own nothing but this crack trans. Original fiction belongs to 辛辛息息. No profits taken!

.

.

.

.

.

Esok sorenya, suara denting gelas dan botol dari luar samar membangunkanku. Semuanya mengerutkan alis—mungkin karena jetlag(1) dan ketakutan, namun tetap saja tidak ada yang mampu melawan kelelahan.

"Apa yang mereka lakukan?" Sehun membalikkan tubuh sambil bergumam.

"Seseorang mungkin akan datang menyelamatkan kita," kututup mata lagi dan mengerutkan alis, "kebenaran terungkap, dan ada polisi di luar."

"Jelas itu yang terbaik, tapi ...," cekat Kyungsoo, "bukankah kaupikir kedatangan mereka lumayan terlambat?"

Baekhyun mengucek mata dan berdiri, memandangi pintu dan berucap, "Aku akan pergi keluar dan melihat."

Ketika ia berdiri, kulawan rasa lelahku, berjuang untuk bangkit dan terhuyung ke arahnya. "Aku ikut denganmu."

.

.

Kami kecewa karena di manapun, tidak terlihat polisi melainkan Chanyeol dan Luhan yang tengah menyusun beberapa gelas kosong di meja. Jongin dan Tao yang sedang duduk di sofa, masing-masing memegang tiga botol vodka dan tekuila kemudian angkat suara, "Kami terlalu haus dan kami menemukan beberapa botol alkohol, mari kita minum bersama."

Sebuah kalajengking hitam berdiam dalam gambar di atas meja kaca dalam semalam. Seketika, irama detak jantungku menjadi kacau.

"Siapa yang menggambarnya?" tanya Baekhyun.

"Aku." jawab Chanyeol, "kalian terlambat sampai dan aku merasa bosan jadi aku menggambar sedikit."

"Apa kau begitu merindukan Kris?" Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol dan agak mendorongnya. Ia mengucek mata, berbalik dan kembali berjalan ke kamar tidur. Diketuknya pintu lalu berteriak, "Bangun! Kita akan minum alkohol!"

Kutatap kalajengking yang digambar di atas kaca, hatiku berdebar. Samar-samar mengingat sesuatu yang rasanya seperti mimpi.

Setelah sekitar dua menitan, Sehun goyah keluar dari kamar tidur, jalannya terhuyung. "Alkohol apa ..." Ia menatap deretan gelas yang teratur di atas meja dengan pandangan aneh.

"Tidak ada air di manapun di seluruh bangunan ini, tapi di lantai dua ada beberapa botol alkohol ..." Chanyeol membuka botol vodka dan menuangkannya ke dalam cangkir satu persatu. "Biarpun benda ini tidak ramah untuk perut, tapi ini jelas lebih baik daripada mati kehausan." Dia menatapku dan Sehun, memberi isyarat pada kami untuk minum.

Tao berjalan ke depan, mengambil gelas terdekat di ujung meja, diikuti Jongin dan Luhan. Luhan mengangkat sebuah gelas, menyorongkan gelas di sebelahnya kepadaku dan mengerling. Sehun juga berpikir mengambil segelas, dan saat ia mencoba meraih gelasnya, Chanyeol mengambilnya sehingga ia harus mengambil gelas yang di belakangnya.

"Ah. Yang benar saja!?" Chanyeol mengusap perut dan mengembalikan gelasnya kembali ke posisi semula. "Pertama-tama, aku harus mengenyahkan urusan privasi ini," katanya seraya kabur ke toilet.

"Tsk. Kyungsoo dan Yixing masih saja pulas," Baekhyun berjalan ke arah meja lalu Chanyeol keluar dari dalam toilet. Mereka sempat berkontakmata, tangan Baekhyun mengambil sebuah gelas dengan ragu, dan dengan cepat Chanyeol mengambil gelas di belakangnya—bukan gelas yang tadi diambilnya dari Sehun.

"Kyungsoo!" teriak Jongin keras, "bangun!" namun Luhan dengan santai berjalan ke kamar tidur kami dan cuma menyeret Yixing.

Hanya ada dua gelas alkohol tersisa di meja ini; Yixing mengucek mata ketika ia berjalan ke sini. Tiba-tiba Tao mengangkat salah satu gelas dan menyerahkannya untuk Yixing.

Beberapa saat kemudian, Kyungsoo tiba dan harus mengambil gelas alkohol yang terakhir.

Kulihat ekspresi Chanyeol dan Jongin menjadi agak aneh, dan ekspresi mereka tidak setengah-setengah, malah makin jelas selagi Kyungsoo meneguk alkoholnya. Ini kelihatan jelas pada diri Chanyeol sementara ia berjalan perlahan di samping Kyungsoo dengan wajah pucat, prihatin dengan tiap gerakan Kyungsoo, bahkan ingin membantunya duduk.

Tingkah-tingkah aneh ini amat cepat untuk dijelaskan. Dalam sekejap Kyungsoo meringkuk di sofa, memegangi dada dan terengah-engah dengan ekspresi kesakitan yang tidak wajar di wajahnya. Chanyeol nampak bingung ketika ia berlutut di sebelah sofa, menggerakkan tangannya mengusap peluh Kyungsoo. Jongin mencoba menariknya berdiri, mengulangi, "Muntahkan itu. Muntahkan keluar!"

"Apa yang terjadi?" kutarik Chanyeol jauh dari sofa.

"Jantungku rasanya sesak. Aku tak bisa bernapas ..." Kyungsoo mengerat dadanya, napasnya tersengal.

"Apa dia alergi dengan alkohol?" kudengar Yixing bertanya pelan pada Sehun.

"Tidak. Dulu kita pernah minum bersama, dia punya tingkat toleransi alkohol yang baik." Sehun ketar-ketir dan memerhatikan orang-orang di sekitarnya yang tengah dilanda takut.

"Tunggu ... Jangan menyerah ..." isak Chanyeol sembari mendekap Kyungsoo, "maaf. Maaf ..."

Gerakan orang yang dipeluknya perlahan-lahan terus melemah, hingga beberapa menit kemudian benar-benar berhenti bergerak. Chanyeol menatap kosong orang yang ada di pelukannya dan tidak berani memeriksa apakah ia masih bernapas.

"Dia sudah mati." Tao menyentuh ujung hidungnya untuk memeriksa tanda-tanda respirasi dan menatap Chanyeol.

Senyap dalam beberapa detik, barangkali semuanya memiliki persepsi yang berbeda.

"Apa yang kaumasukkan ke dalam alkohol?" selidikku pada Chanyeol.

Ia mengabaikanku dan terus memeluk Kyungsoo. Sepertinya tidak mengerti pemikirannya sendiri.

Perlahan Jongin tersadar dari sedihnya, berdiri di hadapan Tao, mengangkat kepalanya dan berkata pelan, "Kau curang."

Yang mengherankan, Tao tidak membela diri. Ia menyilangkan tangan dan memalingkan wajah.

"Kalau permainannya akan dimainkan begini," ucap Jongin, "bicara tentang keadilan pasti jadi omong kosong. Bukan begitu, Panda?" dibentak dan didorongnya dada Tao.

Tao menggigit bibir, benar-benar tidak membalas. Berbeda dengan responnya yang biasa.

"Seekor panda hanya akan membiarkan panda yang lain bertahan hidup. Ironisnya, para pinguin percaya padanya." Jongin tertawa, mencibir.

"Ini konyol sekali," kata Luhan, "siapa yang pertama kali memainkan sandiwara ini? Kalau tadi kita cuma asal pilih, Sehun akan jadi orang yang sekarang tergeletak di bawah sini. Mati."

Kuperhatikan mereka dalam diam, menikmati pertunjukan.

Sehun menunduk, ekspresinya kosong. Ia menatap gelas anggurnya yang kosong separuh. Kupejamkan mata, seketika merasa begitu lunglai dan mual; mungkin efek samping mengonsumsi alkohol saat perut kosong. Kalajengking bisu yang ada di meja teh itu perlahan menggerakkan ekor beracunnya dengan terang-terangan.

.

.

Aku tak ingat bagaimana mereka menangani mayat Kyungsoo, maupun apa yang mereka perdebatkan. Aku hanya ingat Yixing bersandar di sisiku, mendesah pelan. "Ujung ekor kalajengking itu mungkin beracun," katanya.

"Aku tidak tahu," balasku.

Ia melirik lagi, berjalan menempatkan gelas transparannya di atas ekor kalajengking hitam, dengan lembut memutar gelasnya.

Pelan-pelan, Sehun membungkuk. Ia belum kunjung meletakkan gelasnya. "Siapa yang ingin mereka bunuh?" lirihnya.

Itu pertanyaan bagus untuk diajukan, mungkin mereka sendiri bahkan tidak punya jawaban pasti. Pikiranku tercekat saat mendengar suara suatu benda dihantamkan ke lantai, asalnya dari atas.

"Aku hanya bilang kalau aku tidak tahu keseluruhan efek samping dari pil sakit jantung itu." Itu suara Luhan.

"Itu sebotol penuh! Efeknya pasti bekerja!" Suara Chanyeol.

"Persetan. Kau terdengar seperti tidak setuju pada awalnya." umpat Tao dalam bahasa Mandarin.

"Apa kaubilang? Bicara dalam bahasa Korea!" Suara Jongin. Kemudian ada suara meja didorong.

"Kubilang, semua orang sudah setuju sejak awal. Sekarang buat apa ribut?!" gerutu Tao dengan keras.

"Aku setuju kalau cuma dua pil! Bukan seisi botol!" Suara serak Chanyeol amat kentara, "yang kusepakati adalah untuk membuat mereka tidak sadar jadi mereka tidak dapat menyerang kita."

Apa yang dikatakannya setelah itu kalah oleh argumen keras Jongin dan Tao.

Selanjutnya, ada suara benda berat meninju lantai. Kuambil beberapa langkah menuju kaki tangga, menyaksikan Luhan dan Jongin yang saling mencekik leher di samping dinding.

"Ingatlah, kau yang membunuh Do Kyungsoo, dan Kim Joonmyeon." Wajah Jongin memerah, ia mengayunkan wajah Luhan ke samping. Kelopak mata Luhan layu, memaku lantai.

"Apa yang kaubicarakan? (2)" suara Tao bergetar. Ia mendorong Jongin menjauh dari belakang dengan satu pukulan yang membuat Jongin terjerembab.

"Bagaimana kematian Kim Joonmyeon dikaitkan dengan Luhan?!"

"Joonmyeon hanya memberitahunya! Dia hanya mengatakannya padanya!" Jongin bangkit dan meneriaki Tao, nada suaranya kedengaran amat sedih.

"Cukup." Luhan memotong suara-suara itu dan merapihkan kerahnya, "pasti akan ada seseorang yang mati."

Jeda hening selama dua detik, Chanyeol menyipitkan matanya ke arah Luhan, "Ya. Mungkin kau sudah membuat daftar urutan kematian kita. Jadi, kapan aku akan mati?"

"Kau terlalu berlebihan," kata Luhan. "Tapi kalau kau terus begini, kurasa kau mungkin akan mati lebih dulu daripadaku."


(1): keadaan disorientasi pasca menumpangi pesawat.

(2): kalimat Tao berbentuk pertanyaan dengan maksud meyakinkan bahwa pembunuh Joonmyeon benar-benar ada di antara mereka.


to-be-continued ...


Mind to leave some review? :)