WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL
Previous
"Aku akan menanggung semua rasa sakitnya, aku tidak ingin membohongi Changmin hyung. Jika Sehun menyakitiku, aku akan menerimanya."
"Kim Jongin…,"
"Maaf." Potong Jongin sambil melepaskan dirinya dari pelukan Changmin kemudian berjalan pergi.
"Aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir Kim Jongin! Aku akan mempercepat pernikahan kita!"
Jongin terus melangkah pergi, mengabaikan teriakkan putus asa Changmin. Dadanya sesak oleh semua rasa bersalah. Apapun langkah Changmin mereka tidak akan pernah bersama. Meski Sehun mungkin tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Jongin sudah mengetahui siapa yang memiliki cintanya. Dan bersama orang lain kecuali Sehun berarti dia sudah berdusta dan dengan terang-terangan menyakiti seseorang yang pura-pura dia cintai. Tidak, Jongin tidak bisa melakukan itu.
BAB DELAPAN
Jongin tidak sadar bagaimana dia bisa berakhir di depan pagar rumah keluarga Oh. Kepalanya berkedut pening, ia tak yakin Sehun ada di dalam. Tangan kanan Jongin terangkat untuk menekan interkom memberitahukan kedatangannya. Sebelum dia urungkan karena merasa bodoh.
Pada akhirnya Jongin memutar tubuhnya, memunggungi pagar. Melangkah pergi, kepalanya benar-benar terganggu sekarang. Memang apa yang dia harapkan dari Sehun, penerimaan cinta? Dan apa semua bisa berubah lebih baik jika Sehun menerima cintanya.
Mengenakan tudung jaket hitamnya, Jongin tidak ingin orang-orang memperhatikan rambut berantakannya, atau kedua mata merah bengkaknya. Sekarang, Jongin yakin dirinya mirip gelandangan atau pecandu obat terlarang.
Awalnya Jongin tidak tahu harus pergi kemana, ia benar-benar tersesat di kota kelahirannya, di kota yang di hari biasa ia ketahui setiap sudutnya, setiap jalan-jalan rahasia untuk menghindari kemacetan. Tapi sekarang ia rasa kemampuan otaknya benar-benar lumpuh. "Baekhyun hyung…," gumam Jongin pelan. Ia tidak tahu kenapa ia mengingat Baekhyun sekarang.
.
.
.
Mengabaikan tatapan dan teriakkan staf pengawas para karyawan magang, Jongin melangkah cepat menuju ruangan tempatnya bekerja. Dia ingin menyelesaikan semuanya, mungkin tidak semua, dia hanya berharap semua beban yang dia rasakan bisa sedikit berkurang.
Jongin masuk ketika Baekhyun berusaha untuk melupakan sejenak masalahnya dengan Sehun. Berpikir jika kejadian semalam tidak nyata, Jongin datang di saat yang tidak tepat.
"Kau terlambat, apa yang kau lakukan di sini?!" ketus Baekhyun.
"Apa kita bisa bicara berdua?" Jongin mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan, ia tidak nyaman dengan tatapan semua orang. "Baekhyun hyung aku mohon."
"Untuk apa? Apa kau tahu Sehun dimana sekarang?"
"Bisakah kita bicara berdua?" Jongin bersikukuh untuk bicara berdua saja dengan Baekhyun tanpa pendengar tambahan.
Baekhyun tersenyum miring. "Untuk apa kita bicara berdua? Tidak ada gunanya, kau sudah menang. Kau merebut Sehun dariku."
Jongin tersentak. "Apa Sehun mengakhiri hubungan kalian?"
Baekhyun tertawa namun ia nyaris menangis sekarang. "Kau menang, selamat. Kau berjanji untuk menjauhi Sehun tapi apa yang kau lakukan? kau justru merebutnya dariku. Aku sangat mencintainya apa kau tahu itu?" tatapan Baekhyun begitu memilukan.
Semua orang di dalam ruangan terdiam. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa, berniat pergipun percuma. Mereka akan mendapat hukuman karena pergi sebelum jam bekerja berakhir atau sebelum jam istirahat.
"Maaf." Bisik Jongin.
"Apa maaf saja cukup Jongin? Kau menghancurkan semuanya, kau merebut milikku yang berharga."
"Aku tidak tahu jika aku mencintai Sehun."
Baekhyun ingin berteriak sekarang karena Sehun juga bersikap sama. "Kalian sama saja, saling mempermainkan. Dan aku, kenapa kalian melibatkan aku? Kenapa aku terseret? Kenapa Kim Jongin? Katakan?!"
"Baekhyun hyung…,"
"Diam!" potong Baekhyun. "Kalian mempermainkan aku, aku bukan mainan yang bisa kalian mainkan sesuka hati lalu kalian buang. Kenapa kau datang padaku saat itu, dengan wajah polosmu, mengatakan jika Sehun ingin bertemu denganku, kenapa kau mengantarku ke kafe dan mempertemukan aku dengan Sehun? Jika akhirnya Sehun hanya memikirkanmu, jika pada akhirnya Sehun menjadi milikmu. Apa kau bahagia sekarang? Kau pasti merasa sangat bangga bukan melihatku hancur berantakan?"
"Maafkan aku, seandainya aku tahu lebih cepat. Maaf, aku tahu permintaan maafku terdengar seperti omong kosong sekarang."
"Aku akan pergi, kau bisa memiliki Sehun untukmu sendiri."
"Jangan pergi. Aku yang akan pergi, jangan membuang semua yang kau miliki karena aku dan Sehun. Kau cemerlang di karirmu. Jangan menyerah oleh rasa sakitmu, kau pasti mengumpat di dalam hati mendengar kalimatku, kalimat dari seseorang yang sudah mengambil kebahagiaanmu. Maaf."
Baekhyun membuka bibirnya, Jongin menunggu. Baekhyun tidak mengatakan apa-apa memutar tubuhnya memunggungi Jongin. Jongin sadar itu isyarat untuknya pergi. Menatap punggung Baekhyun dengan penuh rasa sesal, Jongin melangkah gontai meninggalkan ruangan.
Jongin sudah berusaha keras menahan diri untuk tidak menghubungi atau menemui Sehun, pada akhirnya Jongin tak mampu menahannya lagi. Ia menyerah dan menghubungi Sehun. Di depan gedung perusahaan.
"Kau dimana?"
"Rumah." Suara Sehun terdengar sama tidak baiknya.
"Aku akan ke sana, jangan pergi."
"Bukannya kau sudah datang tadi. Penjaga rumahku yang mengatakan, aku menunggumu tapi kau tidak masuk."
"Aku—harus pergi ke tempat lain. Aku akan tiba setengah jam lagi jika bus datang tepat waktu."
"Aku bisa menjemputmu."
"Tidak, tidak perlu, kau terdengar tidak baik."
"Kau juga terdengar sama."
Jongin hanya tersenyum kemudian mengakhiri panggilannya. Melesakkan ponselnya ke dalam saku jaket. Menoleh ke belakang, mengamati kantor tempatnya bekerja untuk terakhir kali. Besok dia tidak akan kembali ke tempat ini lagi. Dia sudah cukup menyakiti Baekhyun, jika Baekhyun memutuskan untuk pergi karena keberadaannya. Maka Jongin akan merasa sangat buruk.
Jongin berdiri dengan empat calon penumpang bus. Sekarang masih pukul tiga sore, jam pulang kantor belum berlangsung membuat Jongin lega ia tak harus berhimpitan dengan banyak orang. Melirik ke kiri, memperhatikan tiga orang calon penumpang yang sepertinya adalah keluarga.
Orangtua dengan putrinya, mereka terlihat bahagia. Jongin mendongak menatap langit yang sedikit kelabu. Mungkin, hujan akan turun. Ketika bus akhirnya tiba Jongin menjadi yang terakhir masuk. Memilih bangku paling belakang untuk menyendiri, memasang earphone pada kedua telinganya. Lagu dari Ikon mengalun indah seolah menyentil keadaan Jongin sekarang.
I hope I'm just a guy
Out of the many people who come and go in your life
I hope our memories are like the sunset, short and beautiful
Your small back hasn't left yet
I hope you can push me away happily
Sorry, sorry
I'm sorry I couldn't protect you, hope you have a good life
Sorry, sorry, please forget me
Though it hurts
The promise to be together forever
It doesn't exist anymore
I'm sorry I couldn't protect you
Words I couldn't say until now
I'm sorry, I'm not good enough
Sorry for being so small till the end
I couldn't fill you up
Forgive me
I hope you meet someone better than me
Sepanjang lagu Jongin tidak bisa berhenti untuk memikirkan Changmin, seseorang yang sudah dia sakiti.
.
.
.
Sehun menyandarkan punggungnya pada meja oval yang terbuat dari marmer hitam. Dengan vas oval dari keramik terbaik, berisi ratusan kuntum mawar. Meja yang diletakkan tak jauh dari pintu utama rumah. Ya, Sehun menunggu Jongin cukup lama. Sejak penjaga rumahnya mengatakan melihat Jongin berdiri di depan pagar.
Menunggu kedatangan Jongin namun sahabatnya itu tak juga menampakan diri. Namun, Sehun terlalu pengecut untuk menghubungi atau mencaritahu keberadaan Jongin. Baru tadi malam dia mengetahui semuanya, tentang perasaannya terhadap Jongin. Dan semua perasaannya terhadap Baekhyun tak lebih dari sekedar ilusi semata.
Hingga pintu rumahnya terdorong ke dalam. Jongin masuk, dalam langkah pelan dan sedikit gontai. Rambut hitamnya terlihat lembab, kedua matanya merah, kulit cokelatnya pucat. "Hai." Sapa Sehun.
Jongin mengangkat kepalanya menatap Sehun. "Hai." Balas Jongin dengan nada lemah. Ia melangkah tiga kali sebelum akhirnya berhenti di hadapan Sehun. "Kau memutuskan Baekhyun hyung? Kenapa?" Sehun mengendikkan bahu. "Sehun?" Jongin tak bisa menunggu.
"Aku butuh duduk." Balas Sehun sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Jongin. Menghembuskan napas kasar, Jongin melangkahkan kedua kakinya mengekori Sehun.
Sehun mengajaknya duduk di ruang keluarga, suara api perapian menggema di kesunyian kediaman keluarga Oh. Jongin tidak sadar tubuhnya menggigil hingga kehangatan api perapian terasa melegakan. Sehun mendudukan tubuhnya ke atas single chair berwarna cokelat muda. Jongin duduk di hadapan Sehun. "Apa kau mau menjawab pertanyaanku?"
"Itu pertanyaan yang sulit."
Jongin meletakkan kedua tangannya ke atas pangkuan, menautkan jari-jemarinya. Menarik napas dalam-dalam. "Kau mencintai Baekhyun hyung."
"Itu tidak perlu dipertanyakan." Gumam Sehun, mengamati wajah Jongin yang menunduk, pikirannya kusut sekarang.
"Kalau begitu—kenapa memutuskan Baekhyun hyung?"
"Karena ada orang lain yang aku pikirkan. Aku memang mencintai Baekhyun tapi ternyata aku mencintai orang itu lebih besar dibanding Baekhyun."
"Kau menyakiti Baekhyun hyung."
"Untuk sementara, waktu akan menyembuhkan lukanya. Kurasa—itu lebih baik dibandingkan kami tetap bersama tapi di atas kebohongan."
"Baekhyun hyung tidak berbohong."
"Aku yang berbohong, aku terlalu lama hidup dalam kebohongan."
"Semua ini karena aku, Baekhyun hyung yang mengatakannya."
Sehun tersenyum miring mendengar kalimat Jongin. "Apa kau sama sekali tidak merasakannya?"
"Aku—aku akan mengundurkan diri dari kantor, aku tidak bisa melihat Baekhyun hyung menderita."
"Menderita karena apa?"
"Karena dia harus bertemu denganku setiap hari." Sehun tak menanggapi. "Karena aku yang menghancurkan kebahagiannya."
"Jika ada yang disalahkan, aku yang harusnya disalahkan. Kau tidak perlu mengundurkan diri dari kantor."
"Kita berdua bersalah."
Tatapan keduanya bertemu, suara gemertak kayu terbakar tidak membuat keduanya terkejut. Tirai jendela besar di belakang Sehun membiaskan tarian bayangan api perapian. Samar aroma asap kayu bakar tercium. "Apa yang salah?" bibir tipis Sehun bergerak.
Jongin ingin mengalihkan pandangannya namun ia seolah tak mampu bergerak. "Semuanya. Kita terlambat menyadari semua perasaan ini, dan berakhir menyakiti orang lain."
"Kau punya pendapat untuk membuat semuanya lebih baik?"
"Sebaiknya kita tidak saling bertemu. Itu akan memperingan rasa sakit Baekhyun hyung dan Changmin hyung."
"Kau benar."
Jongin menggigit pipi bagian dalamnya, persetujuan Sehun membuat sesuatu di dalam dirinya terasa sangat nyeri. Akhirnya ia mengangguk pelan, memutar tubuhnya memunggungi Sehun. Ia mengamati sekilas ruang keluarga tempatnya berada. Entah sudah berapa kali dia mengunjungi rumah ini, dulu semua terasa begitu wajar hingga perasaan lain yang muncul antara dirinya dan Sehun terlambat untuk disadari.
"Tapi, bisakah kita berhenti untuk berpura-pura? Aku tidak menyangkal sudah menyakiti Baekhyun dan Changmin, tapi apa semua akan baik-baik saja jika kita tidak bertemu?"
Langkah kaki Jongin terhenti, ia tahu dengan jelas jawabannya. Tapi jika dirinya dan Sehun bersikap seolah semuanya baik-baik saja, seolah tidak ada seorangpun yang tersakiti, bukankah itu sangat egois?
"Apa kau baik-baik saja? Jika kita saling menjauh apa kau baik-baik saja?"
"Aku…," Jongin ingin menjawab sebelum akhirnya ia memilih untuk bungkam dan mulai melangkah, meninggalkan Sehun.
Sehun bergerak cepat menahan kepergian Jongin dengan menarik lengan kiri Jongin. Tubuh Jongin berputar cepat, dan kini dia berhadapan dengan tatapan tajam kedua mata Oh Sehun. "Apa kau baik-baik saja jika kita saling menjauh?"
Mengalihkan pandangannya dari Sehun, sebab Jongin yakin dirinya akan menyerah di bawah tatapan itu. "Jawab aku," bisik Sehun.
"Kurasa—aku akan baik-baik saja." Jongin menggumam pelan dengan suara bergetar.
"Lalu, bagaimana dengan aku? Bagaimana jika aku merasa tidak mampu untuk berpisah darimu?"
"Sehun—Baekhyun hyung dan Changmin hyung mereka terluka karena kita."
"Tatap aku dan katakan jika kau baik-baik saja, tanpa aku."
Tangan kanan Jongin bergerak pelan, melepas kaitan jari jemari tangan kanan Sehun yang berada di lengan kirinya. Berikutnya Jongin melangkah mundur tiga kali dan memutar tubuhnya. Sebelum berlari cepat, pergi dari hadapan Sehun. Tersenyum perih menatap kepergian Jongin, Sehun baru detik ini merasa benar-benar kalah sepanjang hidupnya. Seandainya…, tidak, Sehun tidak ingin berandai-andai jika semuanya lebih baik ketika perasaan itu lebih cepat disadari.
Seharusnya dia pergi, pergi secepat mungkin. Bukan berhenti di depan pintu dan merasa ragu. Namun, dadanya tertekan kuat, begitu nyeri. Bayangan tanpa Sehun terlalu mengerikan. Dan bersama orang lain kecuali Sehun sekarang tidak bisa Jongin gambarkan. Dia tidak bisa bersama orang lain kecuali Oh Sehun. Kim Jongin terjebak dan tidak bisa menemukan cara untuk membebaskan diri.
Ketika kedua kakinya membawa tubuhnya memutar, berbalik arah. Dan ketika kedua kakinya membawanya kembali kepada Sehun. Ada serangan kelegaan yang begitu hebat meski sebagian besar dirinya masih berusaha untuk mengabaikan Sehun, keinginannya untuk bersama Sehun tak terbendung lagi.
BRAKK!
Pintu ruang keluarga terbuka kasar, Sehun meneggakkan kepalanya, menatap Jongin. Kedua kakinya bergerak cepat menghampiri Jongin. "Aku sudah menyakiti orang lain tapi aku ingin bersamamu," kalimat Jongin terdengar putus asa. Sehun tidak menemukan kalimat yang tepat untuk membalas. Menarik tangan kanan Jongin tergesa, Sehun mendekap tubuh Jongin begitu erat.
Ada dua orang yang tersakiti, Sehun sadar itu namun memeluk Jongin seperti ini membuat hatinya terasa lengkap. Dan mengapa setelah sekian lama ia baru menyadarinya sekarang? Ia baru menyadari jika selama ini hatinya adalah milik Jongin.
Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun, menghirup aroma tubuh Sehun yang bercampur dengan parfum dan sedikit aroma sabun. Jongin menaikkan kedua tangannya, melingkari punggung Sehun. "Maaf," bisik Jongin di dalam pelukan Sehun. Kata maaf untuk Changmin dan Baekhyun karena dirinya sudah menyakiti mereka, karena dirinya tidak bisa menghindari Sehun tanpa merasa menderita.
Sehun memejamkan kedua matanya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kanan Jongin. Dia tidak tahu kenapa sekarang harus menangis, kenapa air matanya keluar begitu saja. "Aku mencintaimu Kim Jongin." Bisik Sehun. "Jangan pergi dariku." Dan Sehun merasakan anggukan lemah Jongin di dalam pelukannya.
Menarik tubuhnya, Sehun menatap lekat kedua mata Jongin yang nampak sembab. Kedua tangan Sehun terangkat ia letakkan kedua tangannya pada kedua pipi Jongin, kulit di bawah telapak tangannya terasa begitu dingin. Kedua pipi Jongin memerah begitupun dengan ujung hidungnya. "Berapa lama kau berada di luar?"
"Entahlah…," bisik Jongin tenggelam pada tatapan tajam kedua mata cokelat milik Sehun.
Sehun tersenyum tipis sebelum mendekatkan wajahnya pada Jongin. Menyapa permukaan bibir Jongin yang sama dinginnya dengan kulit wajahnya. Jongin memejamkan kedua matanya, jantungnya berdetak cepat. Bibir Sehun hangat dan lembut, jika di situasi biasa ia pasti akan menertawakan keadaannya sekarang. Berciuman dengan sahabat, terdengar sangat tidak alami.
Tapi sekarang, dirinya dan Sehun bukan lagi sahabat. Jongin merasa sedikit lega dengan hal itu. Meski tidak menutup kemungkinan di hari lain Sehun akan membuat lelucon tentang ini. Ketika bibirnya terasa basah, Jongin cukup tahu apa yang terjadi. Apa yang Sehun lakukan bukanlah yang pertama, dia sudah kehilangan ciuman pertamanya. Dan Sehun yang mengambilnya, apa Sehun masih mengingat hal itu, tahun pertama SMP dan Sehun sudah menciumnya seperti orang dewasa.
Kedua tangan Jongin bertengger pada kedua pinggang Sehun. Meremat pelan ikat pinggang Sehun ketika ciuman mereka tidak lagi ragu-ragu. Ketika lidah Sehun bergerak tak beraturan di dalam mulutnya. Jongin tidak bisa menahan diri untuk mengerang pelan, dan Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak menekan tengkuk Jongin. Sehun menarik tubuhnya, meninggalkan Jongin yang terengah dengan bibir mengkilat. Sehun menunduk, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kiri Jongin, menghirup aroma tubuh Jongin yang memabukan sekarang.
Bibir tipis Sehun terbuka mengecupi setiap jengkal kulit Jongin yang mulai lembab. Menyesapnya, meninggalkan tanda merah menggoda, pembuluh darah leher Jongin berdenyut cepat di bawah bibir Sehun. Tangan kiri Sehun bergerak mendorong pintu ruang keluarga di balik punggung Jongin, mengaitkan slot penguncinya. Kemudian tangan Sehun bergerak perlahan, menuruni punggung tegap Jongin. berhenti di ujung jaket yang Jongin kenakan.
Menyelinap masuk. Bergerak ke atas membelai kulit punggung Jongin yang terasa panas di bawah sentuhannya. Sehun tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya dan Jongin tak melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Api di dalam perapian menyala terang seperti api di dalam dirinya. Dan Sehun tidak keberatan untuk terbakar sekarang bersama Jongin.
Kedua tangan Sehun bergerak cepat menarik turun resleting jaket Jongin. Menarik lepas jaket Jongin, melepas satu persatu kancing kemeja Jongin. Tubuh Jongin, Sehun tarik menjauhi pintu. Memutar tubuh Jongin sebelum mendorongnya perlahan untuk berbaring pada karpet tebal berwarna cokelat. Karpet dari bulu Beruang yang dulu menakuti Jongin setiap kali dia berkunjung ke rumah ini.
Menundukkan tubuhnya, bibir tipis Sehun bergerak, menari di atas permukaan kulit dada Jongin, bergerak turun melewati tulang rusuk Jongin di kanan dan kiri, melewati kulit cokelat yang membungkus perut datar Jongin. Bersamaan dengan ciuman itu, kedua tangan Sehun bergerak cepat seperti seorang pesulap. Menarik lepas ikat pinggang Jongin, menarik kain yang menutupi bagian tubuh bawah Jongin.
Jongin tidak tahu apa yang terjadi di dalam dirinya, insting liarnya bermain sekarang dan akal sehatnya dibungkam. Mengangkat tubuh bagian bawahnya seolah membantu Sehun untuk meloloskan kain terakhir yang melindungi tubuhnya, seolah mengundang Sehun untuk lebih jauh menjamahnya. Jongin tidak menyangka dirinya bisa melakukan hal semacam itu.
"Aku mencintaimu," bisikan Sehun seperti mantera yang melumpuhkan seluruh persendian seorang Kim Jongin. Ketika kulit tanpa penghalang mereka saling menyapa, terasa panas dan lembab.
Dengan putus asa tangan kanan Jongin bergerak menyentuh dagu lancip Sehun, meminta Sehun untuk menciumnya. Dan Sehun melakukannya. Lidah dan lidah bertautan, kedua lengan Jongin melingkari tengkuk Sehun.
"Sehun..," Jongin menyebut nama Sehun putus asa seolah hanya ada Sehun di dalam otaknya sekarang. Tidak perlu penjelasan lain, Sehun seolah mengerti panggilan putus asa itu.
Menarik tubuhnya, menunduk untuk menciumi cekungan leher Jongin. Sehun menyelinap memasuki tubuh Jongin dengan gerakan lembut. Bibir penuh Jongin mengeluarkan erangan tertahan, kedua kaki jenjang Jongin bergerak secara insting melingkari pinggang Sehun.
Sehun tahu dia sudah menyakiti Baekhyun, Sehun juga tahu dia sudah menyakiti Changmin. Tapi, ia juga tidak bisa mengabaikan semua perasaan ini, ia merasa lengkap bersama dengan Jongin, dadanya penuh sesak dengan semua perasaan cinta. Terdengar menggelikan namun bersama Jongin, Sehun merasakan semua perasaan konyol itu.
Sehun memulainya dengan gerakan ragu-ragu, seperti seorang anak kecil yang memasuki kelas barunya di hari pertama sekolah. Menunduk untuk menyapa bibir lembab Jongin, melumat lembut bibir manis itu. Seluruh tubuh Sehun dan Jongin terasa panas, mungkin api perapian yang menjadi penyebabnya atau mungkin hal lain.
Peluh mengalir dari dahi Sehun, bergerak menuruni kedua pelipisnya, mengalir ke bawah menyusuri tulang wajahnya sebelum menetes turun dari dagu lancipnya. Kedua tangan Jongin mencengkeram bahu Sehun erat, keningnya mengkerut. Raut wajahnya seperti seseorang yang tengah menahan rasa sakit. "Jangan pernah pergi dariku Jongin, kau mengerti?"
Jongin mengangguk pelan, Sehun tersenyum namun terlihat tak begitu yakin dengan jawaban sekedar anggukan itu. "Kau berjanji kan?"
"Ya, aku berjanji. Tidak akan pergi darimu kecuali…,"
"Tidak." Potong Sehun. "Jangan mengatakan hal lain, hanya itu yang ingin aku dengar." Bisik Sehun sebelum mencium bibir Jongin kembali dan melumatnya.
Gerakan malu-malu Sehun sudah berubah. Ia bukan lagi anak yang ragu memasuki kelas barunya. Kini Sehun sudah tahu apa yang diinginkannya dan apa yang menjadi tujuannya. Jari-jemari berkuku pendek milik Jongin menekan kulit punggung Sehun dalam ketika Sehun kehilangan kendali di dalam dirinya.
Sedikit lagi semuanya akan berakhir dan setelah ini mungkin rasa bersalah akan muncul, rasa bersalah karena menyakiti orang lain. Namun, Sehun tidak akan menyesali apapun. Selama Jongin di sampingnya semuanya menjadi benar.
Punggung Jongin melengkung ke atas, mendekatkan tubuhnya pada Sehun. Tak ada lagi jarak yang tersisa, Sehun melingkarkan kedua tangannya pada punggung basah Jongin. Erangan merdu terdengar, tubuh keduanya gemetar hebat beradu dalam sebuah kepuasan. Terengah, saling menatap, tenggelam dalam tatapan masing-masing. Sebelum tawa Sehun mengakhiri kesunyian yang begitu nyaman membungkus keduanya.
"Kenapa?" alis kanan Jongin terangkat bersamaan dengan pertanyaan yang keluar dari bibirnya.
"Aku—hanya merasa ini semua sangat lucu. Kita melakukannya di depan foto Kakek buyutku."
Kepala Jongin menoleh cepat, di atas perapian lukisan senior keluarga Oh terpajang indah dalam bingkai berukuran besar. "Astaga…," erang Jongin, tangan kanannya terangkat cepat menutupi wajahnya. Dan Sehun kembali tertawa.
"Aku mencintaimu," bisik Sehun. "Sangat mencintaimu."
TBC
Halo semua…., maaf NC gagalnya. Selalu takjub dengan author yang buat NC hot, sementara NC saya gagal total hahaha….., terimakasih sudah mengikuti cerita ini dan terimakasih review kalian ly94, bubblehun, KyungXe, Hunkaidghter, Natsu Kajitani, 0h69, OhWilis, Guest, Miran HunKai, NishiMala, Athiyyah417, Guest, jongibottom, Oh Titan, micopark, cute, laxyovrds, ariska, JonginOh, Wiwitdyas1, ismi ryesomnia, dhantieee, SeKai Candyland, novisaputri09, GaemGyu92, jongbae, falconidct, Wendybiblu, yuviika, Oranyellow chan, nunumato99, vivikim406, awrerei, auraaaalia, Kiki2231, HidekoAyana, OhSehunKimJongIn, YooKihyun94, jjong86, Saiueo, Park RinHyun Uchiha, luckyOne94, yoyokim, ClaraYu, troalle, ohkim9488, k1mut, Kim Jongin Kai, Kamong Jjong, juliakie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
