"Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday … happy birthday.. Happy birthday to….. Gaara"

Terbayang saat dulu saat umur tujuh tahun, Gaara kecil akan duduk di kursi utama dirungan meja makan dengan sebuah topi kerucut ulang tahun menutupi rambut merahnya, mata hazelnya bersinar menatap pintu disana yang akan terbuka dengan ibunya membawa sebuah roti coklat berukuran besar dan ayahnya akan membawa sebuah kotak besar di pelukannya. Sebuah kue dan lilin manis yang akan dia tiup lalu bertepuk tangan kencang dan tawa keras setelahnya. Saat itulah Gaara tidak pernah memikirkan apapun selain tertawa, kue, dan hadiah.

Bibirnya tersenyum kecil, bila diingat dulu dia sangat sering untuk tertawa, bahkan untuk hal kecil atau hal bodoh yang dibuat ayah atau ibunya sebagai lelucon kecil. salah satu ujung bibirnya ditarik, disana tersedia banyak makanan, berbagai menu, pasta, miso, hingga kue dengan lilin yang sudah padam. Ulang tahun ke tujuh belasnya, dimana ulang tahun yang ke tujuh dia selalu menghabiskan dengan menatap makanan yang ada berdiam diri lalu pergi setelah menyuruh para pembantu rumah tangga membawa pulang makanan atau membuang semuanya.

Gaara menatap jam dinding yang tergantung diam. Pukul 10 malam dan kedua orang tuanya belum pulang atau mungkin tidak pulang. Akan aneh jika mereka pulang tepat dan dirumah bersamaa, bahkan Gaara sudah bisa membuat jadwal rutin mereka pulang bersama lalu bertengkar dengan hebat setelahnya. Gaara berterima kasih karenanya berkat mereka yang tidak pernah ada untuknya entah di mulai kapan hingga sekarang kini telah membentuk kepribadiannya yang sekarang. Dewasa sebelum umurnya atau mungkin mendapatkan judul 'Trouble maker SMA Konoha'

:: ::

:: ::

8th JANUS

Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another

Romance || Angst || Friendship

Naruto© M. Kishimoto

Janus©ChrysantimumBluesky

T

Warning :

AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!

:: ::

:: ::

You're not bad girl, You're not bad girl

The tears shed for me, put those tears away

She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it

(Boyfriend_Janus)

:: :: Janus :: ::

"Hei Mei! Kemarin aku mendengar jika Saya bertengkar dengan Naruto!" Fuu memanggil Mei yang berada di depan dengan menggunakan jari telunjuk menarik Mei untuk mendekat ke belakang. Meninggalkan buku yang dibacanya.

"Ooh benarkah? Bukankah itu semakin memperlihatkan sifat buruknya?"Mei menjawab dengan memundurkan tubuh, untuk memperjelas setiap kata yang dia ucapkan pada Fuu.

"Kurasa aku mendukung orang yang mencoret-coret meja Naruto kemarin" kikikan pelan menyusul di akhir kalimat Fuu.

"Kau tahu orangnya?!"

"Tentu saja! aku melihatnya tanpa sengaja"

Sial bagi mereka. Shion lewat tanpa di duga. Mereka tidak tahu jika Shion akan datang dan mendengar semuanya. Terbukti bagaimana gadis itu berdiri menantang dengan tangan yang sudah merebut buku Fuu mengentikan acara belajar –menggosip- paginya. Shion akan sangat menyeramkan untuk dilalui mendengar apa yang mereka tahu selama ini.

"Siapa?" bertanya langsung tanpa basa-basi mengikuti. Mencoba mengorek informasi dari mulut penggosip seperti Fuu yang masuk ke dalam telinga besarnya tanpa sengaja. Shion tahu dari kemarin hingga hari ini hubungannya dengan Naruto tidak membaik setelah pertengkaran terakhir mereka. Shion juga tahu tidak mungkin baginya untuk tidak ikut campur dalam masalah Naruto.

"Apa yang kau lakukan?!" masih duduk di bangkunya Fuu mencoba mengambil bukunya dari Shion yang dia ketahui itu tidak bisa dilakukan.

"Katakan padaku siapa pelakunya dalam waktu dua detik!"

"Hyugaa Hinata! Puas?!"

Berdiri ditempatnya dengan mata bergulir menatap bangku milik Hinata yang kosong. Otaknya berputar berpikir dengan keras. Kenapa dan bagaimana. Seingatnya Naruto tidak terlalu dekat untuk membuat masalah dengan Hinata dan setahunya juga Hinata bukanlah tipe gadis pendiam tak perduli bagaimanapun perilakunya selama ini. ini terdengar begitu mustahil.

:: :: Janus :: ::

Mengetukkan ujung kaki pada tanah berlapis trotoar di halte bus, wajahnya menunduk dengan pakaian olah raga melekat pada tubuh. Naruto menimbang berpulu-puluh kali haruskah dia membolos hari ini ataukah masuk meski sudah terlambat dua mata pelajaran. Jika mengingat jam berapa sekarang seharusnya dia tidak perlu masuk sekolah mengingat seragam yang dia miliki hanya seragam olah raga berkat aksi nekatnya membuang seragam. Beberapa bis berhenti sebelum kembali berjalan setelah pintu terbuka menunggu dirinya masuk untuk waktu yang lama dan kembali berjalan, mungkin supir bus mengira dia hanyalah anak nakal tukang bolos. Dia tidak menunggu bus jarak sekolah dan halte hanya tinggal beberapa ratus meter yang bisa dia tempuh lewat berjalan kaki.

Naruto menghela nafas perlahan, ada banyak alasan untuk dia tetap masuk sekolah dan alasan terbesarnya ada ibunya. Kushina akan sangat marah jika tahu absennya hari ini. dia pernah membolos sekali dan dia di hukum seharian seperti tahanan rumah. Namun ada ratusan alasan juga untuk Naruto tidak masuk sekolah hari ini, dia tidak ingin bertemu banyak wajah-wajah dan lebih tepatnya dia belum bisa bertemu dengan Shion, dia masih belum siap. Naruto tahu ucapannya kemarin benar-benar keterlaluan. Shion pasti kecewa besar padanya, bahkan gadis itu tidak mengirim pesan teks atau menelfonnya semalam. Seperti kebiasan mereka yang mengahbiskan waktu senggang dengan pesan chat di grup bersama Karin.

"Ibumu akan sangat marah begitu tahu anak kesayangannya membolos"

Mendongak dengan cepat saat sebuah sepasang kaki panjang dan sepatu nike hitam bergaris putih berada dalam pandangan matanya yang tertunduk. Sebuah suara yang begitu dalam memasuki indra pendengarnya. Di depannya Sasuke berdiri tegak dengan seragam beserta jas almamater lengkap, Uchiha adalah pria yang teladan dan disiplin. Kening berkerut bingung, seingatnya Sasuke bukanlah seorang remaja yang akan senang membolos, dia memang terkadang menguap di kelas tapi membolos tidak pernah dia lakukan, terlihat bagaimana tas sekolah masih tersampir manis di bahu.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto dengan suara pelan, memastikan kenapa Sasuke masih berkeliaran di luar sekolah jika itu Gaara dia tidak akan sebingung ini.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan disini?"

Menghembuskan nafas kasar, Sasuke tetaplah Sasuke seberapa lama mereka tidak berkomunikasi pria itu tetaplah sama, datar terkesan tak acuh. Dilihatnya pria itu tetap berdiri disana tidak mencoba untuk pergi atau meninggalkan Naruto sendiri. berdiri menunggu jawaban Naruto atas pertanyaan yang awalnya ditunjukan untuk dirinya yang kini berbalik arah. Namun sayangnya Naruto hanya diam, tidak memberikan jawaban apa-apa dan memalingkan wajah. Sasuke tahu apa artinya itu. menjatuhkan tasnya ke tanah melepaskan jas almamater miliknya. Sasuke melemparkan jas tersebut ke arah Naruto hingga berada di pangkuan gadis tersebut, meninggalkan Naruto yang menatapnya tidak mengerti setelah mengambil tas berlalu menuju arah sekolah. Meninggalkan Naruto yang berdiri dengan jas di tangannya menatap kearah dimana punggung Sasuke terlihat menjauh dari tempatnya.

:: :: Janus :: ::

Matanya memincing. Mengamati satu objek yang diam dalam pandangan, Shion berfikir dengan begitu keras hingga dahinya menyatu sempurna sampai berlipat. Mencoba mencari jawaban atau kesimpulan atas beberapa pertanyaan yang memunuhi otaknya yang selalu dikatai tumpul oleh Naruto. Tidak beranjak dari tempat duduknya meski Karin sudah membujuknya ke kantin berkali-kali semenjak bel istirahat pertama berbunyi di setiap penjuru sekolah. Menatap satu orang yang sama hingga Hinata menjadi risih dibuatnya.

Shion tidak pernah mengerti apa masalahnya. Kenapa harus Hinata? Gadis itu bahkan tidak pernah mengenal Naruto sebelumnya. Mereka bahkan tidak terlalu akrab untuk ukuran teman, yang Shion ingat juga Hinata dan Naruto sangat jarang terlihat mengobrol atau mungkin tidak pernah. Tapi apa masalah keduanya. Shion menggelengkan kepalanya keras-keras otaknya tidak di rancang untuk berfikir terlalu rumit. Dari dulu dia adalah orang yang to the point, langsung keinti, bertanya langsung tanpa basa basi untuk sebuah jawaban. Berbeda dengan Shion dari arah belakang Gaara bertumpu pada kedua tangannya yang terlipat diatas meja. Sebuah bangku yang masih kosong menjadi fokusnya. Ini sudah sampai jam istirahat pertama dan Naruto belum datang sama sekali, tidak biasanya gadis itu terlambat atau mungkin juga membolos meskipun pertemuan pertama mereka adalah saat kedua-duanya sama-sama membolos. Meskipun begitu sepanjang waktu dia mulai mengenal Naruto gadis seperti itu bukan type gadis seperti Shion atau Karin yang mudah membolos setiap waktu. Gaara melirik bangku lain yang juga masih kosong, milik Sasuke. Membuatnya harus menolak berfikir jika Sasuke dan Naruto membolos bersama menghabiskan waktu berdua, apalagi gossip yang beredar jika mereka adalah mantan kekasih. Gaara sempat berfikir ingin membolos juga.

Suara pintu bergeser, Gaara menegakkan tubuhnya yang sejak tadi dia biarkan lemas diatas bangkunya. Menatap penuh harap siapa yang datang, Gaara mendecih sebentar ketika tahu yang muncul adalah Sasuke orang yang tidak ada harapan untuknya sama sekali. Datang sendirian, Gaara mengerjapkan matanya mengingat sesuatu yang sejak tadi begitu mengganjal pikirannya. Sasuke sendirian, tidak bersama Naruto dan itu artinya apa yang dia fikirkan tidak terjadi. Sasuke dan Naruto tidak menghabiskan waktu bersama, bibirnya tersenyum lebar sebelum kembali menjadi masam. Gadis itu belum datang juga, apa dia sakit. Atau membolos karena hal kemarin, Gaara mendesah pelan kenapa dia terus memikirkan Naruto.

Sakura tersenyum senang, setelah Sasuke membuatnya begitu khawatir memandang ponsel selama jam pelajaran berharap Sasuke menghubunginya, tadi pagi kakak Sasuke mengatakan jika dia sudah pergi terlebih dahulu ketika Sakura pergi ingin berangkat bersama bahkan sampai pelajaran selesai dia belum datang dan yang membuat Sakura lebih khawatir lagi adalah Naruto juga tidak ada tanpa keterangan. Berfikir jika mereka menghabiskan waktu berdua apalagi Sasuke tidak menjawab telepon ataupun membalas pesannya. Dan ketika Sasuke datang sendirian cukup membuatnya merasa lega. Sakura hanya tersenyum melihat Sasuke yang sudah dikerubungi oleh anak laki-laki.

"Yo! Ku kira kau akan membolos tapi masuk juga! Tadinya jika kau tidak masuk aku akan membolos juga"

"Tidak mungkin Sasuke membolos sepertimu Kiba mungkin dia mampir sebentar di Game Center! Lagi pula dia tidak masukpun masih tetap pintar tidak sepertimu!"

"Pain benar Kiba bahkan nilaimu tidak pernah melebihi lima meski kau setiap hari datang ke sekolah"

"Sialan kau Lee!"

Tidak perduli betapa berisiknya Kiba dan Lee sekarang yang sedang beradu siapa yang paling berisik di dukung dengan Pain yang ikut mengkompori dari belakang. Sasuke hanya menjawab seadanya dan seperlunya sisanya dia hanya diam. Sudah lima belas menit berlalu sejak dia pergi meninggalkan Naruto sendirian di halte, berputar-putar sebentar sebelum benar-benar pergi ke sekolah berfikir jika Naruto akan menggunakan jas nya lalu pergi ke sekolah lebih dahulu tapi yang ada bahkan sampai dia sudah duduk di bangkunya pun Naruto belum datang berfikir jika gadis itu benar-benar tidak ingin datang ke sekolah hari ini.

Pintu kembali di geser Gaara menegakkan tubuh menatap penuh harap siapa yang akan datang dan matanya berbinar dan senyuman lebarnya ketika kepala kuning menyembul keluar, meski setelahnya keningnya berkerut bingung saat Naruto memakai seragam olah raga padahal tidak ada pelajaran olah raga hari ini. pandangannya terus terarah kemana Naruto berjalan, senyumnya memudar perlahan begitu tahu kemana langkah kecil itu terarah membelah Kiba dan Lee yang masih berisik dan membungkam ramainya kelas menjadi setenang pemakaman.

Sasuke masih diam ditempat, matanya tidak berkedip bagaimana Naruto berjalan kearahnya bukannya dia ingin bersikap keren tapi dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Naruto melemparkan jas Sasuke yang sudah terlipat rapi. "Bodoh! Kau pikir aku akan memakai seragam laki-laki?"

Naruto berkata pelan dengan berusaha untuk tidak menarik perhatian anak-anak lainnya bersikap acuh tak acuh lalu pergi menuju Karin yang melambaikan tangan kearahnya. Gadis itu pasti sangat khawatir padanya mengingat berapa kali Karin mencoba menelfon dan mengirimi pesan untuknya tersenyum tipis meyakinkan gadis itu untuk tidak perlu khawatir meninggalkan Kiba dan Lee yang masih menganga lebar ditempatnya.

"Woooo" Kiba dan Lee berteriak bersamaan mencoba meledek Naruto dan Sasuke meski tahu jelas ada Sakura disana dan apa status Sasuke dan Sakura tapi rasanya sangat tidak menyenangkan untuk diam saja padahal bahan gossip sudah terlihat dengan jelas. Kiba menaikkan turunkan alisnya kearah Sasuke dan Naruto yang kini duduk di bangkunya sendiri. "Ada apa ini?"

"Kau meminjamkan pakaian?" Lee ikut menambahi memprovokasi lalu mengerling kearah Kiba yang tersenyum lebar menatap Naruto dan Sasuke bergantian mengucapkan secara bersamaan. "Begitukah hubungan kalian?"

"Wohoooooo" dua orang memprovokasi dan gerumbolan orang-orang berisik mulai bereaksi menggoda sana sini. Membiarkan Sakura dengan tangan yang meremas rok di balik bangkunya meninggalkan Gaara yang mendengus kesal lalu pergi setelah menendang keras mejanya ke depan.

"Keren! Ini namanya cinta segitiga!" Kiba menambahi dalang provokator menambah ributnya suasan kelas meski sudah di peringatkan ketua kelas berkali-kali untuk diam,

"Kalian berdua diam atau ku sumpal pakai kaos kaki bau milik Oro-Sensei?!"

Menggertak keras kearah Kiba dan Lee sambil menunjuk nunjuk mereka berdua setelah memukul keras meja tanda untuk diam. Dan duo rusuh itu hanya bisa diam setelah bersungut-sungut mencibir kesal kearah Karin yang menganggu tapi jika tidak diam mereka pasti akan kalah terlebih dahulu Karin adalah gadis paling kuat di kelas ini dia bahkan bisa membanting Chouji yang begitu besar saat mengikuti ekstra judo. Kiba tidak ingin mengalami osteoporosis diusianya yang masih muda dan Lee masih ingin mengobarkan semangat masa mudanya.

Naruto menghela nafasnya meski perang batin telah terjadi padanya pergi sekolah atau tidak, meski jawabannya sudah Naruto ketahui bagaimanapun dia menolak untuk masuk sekolah pada akhirnya dia pasti berakhir disini juga. Ada satu hal yang masih begitu mengganjal dia ingin minta maaf kepada Shion tapi melihat bagaimana canggungnya mereka saat bersitatap tadi membuat Naruto harus memikirkan ulang tentang bagaimana caranya meminta maaf pada Shion nanti.

:: :: Janus :: ::

Perpustakaan ini harusnya tenang tapi entah sejak kapan terasa begitu mengerikan untuk Hinata kali ini. di depannya Shion dan Karin berdiri dengan tegak mereka adalah orang yang sama, orang yang selalu mengajaknya pergi ke café ataupun karaoke tapi yang Hinata rasakan sekarang adalah bertemu dengan dua shinigami yang bisa mencabut nyawanya kapan saja. ini jam pulang sekolah tidak ada yang bisa dia mintai tolong meskipun ada Hinata sangsi apakah ada yang mau menolongnya.

"Teman-teman ada apa ini?" suaranya sedikit bergetar, nada takut terselip disana dia mendengar semuanya jika Shion dan Karin dulunya pernah menjadi preman sekolah. Membully orang lain bukan hal tabu bagi mereka.

"Ku tanya satu hal" Shion menegakkan tubuhnya setelah bersender pada rak buku di belakang, mengusap keningnya sebentar mencoba mencari kata untuk bertanya pada Hinata. Bukan tanpa alasan kenapa dia mengajak Karin untuk membawa Hinata ke perpustkaan sepi ini. "Apa kau yang mencoret-coret meja Naruto?

Tanpa sadar Hinata bejengit mengerjapkan mata begitu mendengar pertanyaan dari Shion tangannya bergetar dan dia menutupi dengan menyembunyikan di belakang tubuh, rasa gugup melingkupi tubuh hingga membuatnya bergetar saat bicara. "A-apa ma-maksudnya? Un-untuk apa ak-aku me-melakukannya?"

"Itu sebabnya kami membawamu kemari? Aku hanya ingin kau menjawabnya iya atau tidak" menghela nafas sebentar ketika tahu dia menggunakan nada tinggi saat bicara, Shion menarik nafasnya dalam-dalam mengontrol emosinya yang meledak-ledak. "Jadi jawab pertanyaanku apa kau yang melakukannya? Sebenarnya apa masalahmu dengan Naruto?"

Menjadi penonton satu-satunya pilihan Karin saat ini, dia masih tidak mengerti situasi tegang yang Shion buat saat ini. satu-satunya hal yang Shion utarakan adalah jika Hinata yang melakukan pencoretan pada meja Naruto maka dari itu dia datang ke sini ikut memastikan cerita aslinya. Mengetukkan kaki pelan menunggu Hinata yang terlalu lama untuk menjawab gadis itu terlalu sibuk berfikir untuk mengatakan ya atau tidak. Menundukkan kepala Hinata tidak mengerti kenapa dia yang harus dipojokkan di sini. Ini hanya masalah tentang Naruto dan gadis itu hanya diam kenapa mereka terlalu memperumit masalah seperti ini.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau hanya cukup mengatakan iya atau tidak! Kenapa mereka menuduhmu? Apa salah Naruto padamu? Dia bahkan tidak pernah bicara denganmu!" tidak tahan dengan Hinata yang diam seperti patung batu rumahan Shion terus mencerca jika tidak maka kesabarannya akan habis dan berakhir memaksa Hinata untuk buka mulut dan jika itu terjadi maka hubungannya dengan Naruto tidak pernah membaik.

Hinata mengepalkan kedua tangan disisi tubuh, sesuatu bergejolak panas dalam dirinya saat Shion terus memojokkannya menjadi satu-satunya orang yang bersalah disini. Kenapa mereka tidak mengikutkan Naruto dalam hal ini bahkan gadis itu yang menjadi pemain utama. Pembelaan Shion terhadap Naruto adalah hal yang tidak pernah Hinata inginkan, tahu apa mereka tentang dia bahkan saat Naruto bicara dengannyapun mereka tidak tahu.

"Benar… kau menghabiskan uang dan orang akan menghabiskan waktu denganmu. Maaf jika aku menyakitimu tapi… aku tidak mau menjual waktu 10 menitku denganmu."

Ucapan Naruto dan bagaimana perlakuan gadis itu terhadapnya membuat Hinata mengepalkan tangannya semakin erat dan pembelaan Shion membuatnya tidak bisa untuk menjadi gadis baik. Bibirnya berucap dengan bergetar. "Memangnya kenapa jika aku yang melakukaannya?"

"Oh?" Karin mendengus kasar menatap Hinata yang masih bergeming ditempatnya. "Hinata, kenapa kau melakukan ini pada teman sekelasmu?"

Teman? Mereka bahkan tidak tahu apa itu teman. Benarkan jika mereka teman lalu perlakuan seperti apa yang Hinata dapat selama ini. mereka hanya menjadikannya dompet, mengajaknya setiap saat ketika mereka pergi dan pulang duluan setelah Hinata membayar. Menatap Karin berbicara dengan nada datar bukan seperti Hinata yang biasa dia tampilkan setiap hari, meluapkan semua emosi yang dia pendam.

"Sejak kapan kalian menganggapku sebagai teman sekelas? Kau tahu sendiri kan bagaimana kalian memperlakukanku sebagai dompet kelas, memang kalian tidak pernah meminta tapi kalian selalu memperlakukanku seolah aku tak kasatmata. Lalu kalian tiba-tiba datang dan mengajakku bermain saat seperti itu terjadi bukankah artinya aku yang harus membayar? Kalian sebenarnya tidak ingin bermain denganku! "

Karin terdiam tidak tahu harus menjawab apa, semua perlakuan Hinata padanya tiba-tiba berputar dalam memori otaknya sebagian besar membenarkan apa yang Hinata rasakan hingga rasa bersalah membungkam mulutnya terlihat seperti tidak tahu malu. Karin menatap Shion yang juga ikut terdiam gadis itu menurunkan lipatan tangannya berjalan maju satu langkah.

"Itu yang kau rasakan? Dasar mental korban!" berdecih sebentar setelah mencibir diakhir kalimat. "Kenapa kau tak bilang saja kalau kau tidak mau?!" Karin memandang Shion, gadis itu tidak akan berhenti dia tidak mengenal rasa kasihan atau iba. Tapi anehnya Karin setuju untuk ucapan Shion.

"Benar… aku yakin mudah bagi kalian. Aku hanya harus bilang 'tidak mau' saat ada yang bertanya 'mau pergi?'" suaranya mulai bergetar Hinata tahu dia tidak akan bisa sekuat Shion, dengan mata yang mulai memerah Hinata menatap Shion dan Karin satu per satu. "'mau pergi bersama?' Kalian tahu betapa sulitnya bagiku untuk mendengar kalimat satu itu? Aku tahu betul yang kalian butuhkan adalah uangku bukan aku! Tetapi tetap saja aku tidak bisa bilang 'tidak' tahu kenapa?" Hinata menatap Shion menatapnya mendengar semua yang dia katakana hingga suaranya mengecil karena bergetar menangis perlahan. "karena aku tidak mau mengatakannya. Meskipun begitu aku ingin tetap berteman" memalingkan wajahnya dari Shion yang masih terdiam, mengusapnya dengan satu tangan sebelum kembali benar-benar menatap Shion.

Menutup matanya perlahan seiring dengan hembusan nafas, Shion kembali membukanya menatap Hinata, dia memang tersentuh tapi masih ada satu yang ingin dia tanyakan. "Tapi kenapa harus Naruto? Dia bahkan tidak mengenalmu sebelumnya"

"Naruto?" berbalik bertanya dengan nada sinis yang baru Karin dan Shion tahu bahwa Hinata si gadis gagap memiliki sisi yang seperti ini. "Karena dia begitu memuakkan! Dia bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan! Dia bisa mendapatkan perhatian anak-anak dengan begitu mudah! Awalnya aku hanya ingin sedikit mengerjainya dan membuat kalian takut. Tadinya aku tidak ingin mengatakan ini pada komite kedisiplinan tapi jika sudah seperti ini aku ingin kalian mendapatkan hukuman juga"

Karin melebarkan matanya dengan mulut yang terbuka ini tidak akan menjadi mudah jika Hinata benar-benar akan melaporkannya pada komite kedisiplinan siswa, dia tahu bukan Naruto yang akan menerimanya tapi Shion yang akan jadi masalah jika masuk kesana. Dan apalagi jika ibu Naruto mengetahui ini semua, semuanya benar-benar akan berakhir buruk.

:: :: Janus :: ::

Bersender pada sisi gerbang sekolahnya dengan tangan yang dia masukkan ke dalam saku jaket olahraga, kepalanya menoleh mencari-cari di setiap sudut halaman sekolah berharap menemukan Shion berada, Naruto sudah bertekat dia akan menyelesaikan masalah mereka hari ini. satu hari seperti orang asing membuatnya benar-benar tidak nyaman dulu saat dia menjauh setidaknya Shion selalu mencoba untuk berkomunikasi dengannya dan sekarang mereka tidak bicara apapun dan saling menghindar. Naruto benar-benar tidak tahan lagi sekarang. setidaknya mereka harus berbaikan.

"Hai!"

"Astaga!" Naruto berjengit mundur saat sebuah kepala merah tiba-tiba menyembul keluar seperti hantu. Berdiri begitu dekat di depannya tengah tersenyum lebar dengan mata yang berkedip-kedip mencoba pose imut. Naruto melotot kaget bersiap memukul kepala Gaara dengan keras. "Kau gila?! Hei!"

Tapi sayangnya Gaara belajar dari pengalaman bagaimana Naruto selalu menjadikan kepalanya sebagai sasaran pukulan. Menangkap pergelangan tangan Naruto terlebih dahulu sebelum gadis itu berhasil memukulnya duluan. Mendekatkan wajahnya pada Naruto hingga mereka bisa menukar udara satu sama lain. "Apa yang kau lakukan disini? Menungguku?"

Mulutnya menganga kecil hingga membentuk huruf O Naruto tahu jika Gaara itu gila, nekat, dan penuh kejutan. Bahkan sekarang dia tengah tersenyum kelewat lebar. "Ku rasa kau harus ke rumah sakit sekarang, aku tidak punya kepentingan untuk menunggumu" Menatap tangannya yang belum Gaara lepaskan "lepaskan!"

Mencibir dengan mengerucutkan bibirnya seperti bayi, Gaara menarik Naruto mendekat hingga membuat gadis itu memundukan kepalanya menjauh sejauh-jauhnya dari jarak Gaara yang kini justru berganti menampilkan seringainya yang begitu menyebalkan. Naruto menatap Gaara dengan galak, molotot dengan mata bundarnya yang justru membuat Gaara terkekeh geli. "Aku punya urusan denganmu! Jadi persiapkan dirimu baik-baik!"

"Ap-apa?! Ya! Sabaku Gaara! Lepaskan!" Naruto menarik-narik tangannya dengan panik saat Gaara justru menariknya dengan keras mengajaknya berlari pergi dari area sekolah, mengumpat keras-keras kearah Gaara mengulang semua kata-kata seperti 'lepaskan bodoh!' 'apa yang kau lakukan' 'hei! Mau dibawa kemana aku!' sepanjang mereka berlari hingga berakhir Gaara menyeretnya ke dalam bus, terus merengek dan mengumpat hingga Gaara harus mengorek lubang telinganya sendiri, tanpa melepaskan senyum geli diwajahnya. Hari ini akan dia akan membawa gadis itu untuk mengenal Namikaze Naruto dengan baik.

:: :: Janus :: ::

Seperti biasa dia akan melakukan setiap rutinitas hariannya sesuai jadwal, pergi sekolah, les, dan pulang. Dengan tambahan satu jadwal baru lagi dari agenda hariannya setelah mengapus satu jadwal berharga. Mengantar Sakura pulang kerumah setelah gadis itu selalu mengajaknya pergi atau berhenti sebentar ke café. Seperti biasa juga maka Sakura akan bercerita panjang lebar dengan tangan yang tidak pernah lepas dari lengannya. Dan saat seperti ini maka seperti biasa pula pikirannya tidak akan pernah menetap dan menemaninya, berkeliling melalang buana dengan satu nama dan satu topik. Yaitu Namikaze Naruto dan apa yang terjadi padanya.

Sasuke tidak pernah mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada Naruto, gadis itu selalu bersikap baik dulu. Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh kecuali selalu membiarkan dirirnya diganggu oleh Karin dan Shion yang dulunya dia ketahui sebagai biang masalah. Dulu Naruto akan marah jika marah dan dia akan sangat cerewet ketika dia begitu dalam keadaan baik. Tapi Naruto yang sekarang dia akan berbicara jika perlu dia begitu menghindari teman-temannya yang dulu seperti Tenten dan Ino. Sasuke tidak pernah tahu mana Naruto yang sebenarnya saat bersamanya atau yang sekarang. mana teman-teman Naruto yang sebenarnya Tenten dan Ino atau Karin dan Shion. Satu lagi Gaara adalah satu-satunya siswa dengan reputasi terburuk yang dia tahu tapi anehnya Naruto tidak keberatan berada di dekatnya. Sasuke benar-benar bingung dibuatnya.

"….suke-kun… Sasuke-kun.. Sasuke-kun"

"oh! Ya?" mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang Sasuke menatap Sakura disampingnya yang tengah mengguncang bahunya. Sasuke menghela nafasnya menatap Sakura yang menatapnya bingung, seingatnya rumah Sakura masih beberapa blok lagi dan gadis itu sudah berhenti disini. "Ada apa?"

"Ku lihat sejak tadi Sasuke-kun melamun terus. Apa ada masalah yang terjadi?" Sakura bertanya hati-hati takut menyinggung Sasuke, mencoba untuk menjadi gadis lembut dan penuh perhatian mungkin Sasuke akan terbuka untuknya meski dia sudah memiliki dugaan diawal.

Sasuke menggelengkan kepalanya lalu lanjut berjalan meninggalkan Sakura yang masih di tempatnya. "Tidak ada! Kita harus segera pulang"

Menyusul dan kembali menggamit salah satu lengan Sasuke seperti biasa kembali bercerita tentang hari-harinya meski Sakura tahu jika Sasuke kembali tenggelam dalam lamunannya. Terus bercerita seolah Sasuke mendengarnya dengan baik. Karena Sakura tahu meski dia bisa menyentuh Sasuke sesuka hatinya berada disisinya setiap hari pada kenyatannya Sasuke tidak pernah bersamanya. Tapi tak apa asalkan Sasuke tetap disampinganya dia akan baik-baik saja. Sakura yakin itu.

:: :: Janus :: ::

Bibirnya terbuka lebar, menganga dengan dua buah tiket berada di tangan. Naruto melongo seperti orang bodoh ditempat, berdiri menunggu Gaara yang berkata membeli popcorn dan pepsi. Mengerjapkan matanya perlahan, Naruto memperhatikan sekelilingnya. Dia harus meninggalkan urusannya dengan Shion dan dengan bodohnya mengikuti –diseret- Gaara hingga ke gedung bioskop ini. Menonton tidak ada dalam agenda hariannya dan Gaara dengan sebelah otaknya membeli dua buah tiket untuk mereka.

"Ayo kita masuk" seperti biasa Gaara akan datang dengan tiba-tiba sudah berada di depan dengan sebuah popcorn jumbo di tangan kanan dan dua pepsi di tangan kiri. Berlalu dengan isyarat mata untuk mengikutinya.

"Aku tidak mau" jika Gaara berbalik kanan maka Naruto kiri, Gaara ke utara Naruto ke selatan. Tidak perduli dengan tiket yang dia pegang sekarang. mengikuti Gaara hanya akan berakibat dirinya sama gila juga. Seharusnya Naruto tahu untuk menghindar secepat yang dia bisa begitu Gaara terlihat di depan mata. "Oh! Apa yang kau lakukan hei!"

Tak mengacuhkan Naruto yang terus berisik minta di kembalikan untuk pulang. Gaara melingkarkan lengan panjangnya kearah bahu Naruto satu-satunya hal yang bisa dia gunakan untuk menarik Naruto ke pintu masuk sementara ke dua tangannya tidak kosong. Menarik leher Naruto untuk terus berjalan ke tempat tujuannya. "Berisik! Aku tidak tahu harus mengajak siapa, jadi diamlah ini akan jadi film terbaik minggu ini"

Mendesis kearah Gaara menatap tajam yang sangat tidak ada gunanya, Gaara hanya mengangkat bahunya dan tersenyum manis kembali membawa –menyeret- Naruto memasuki pintu masuk. Mendudukkan dengan paksa gadis itu memberikan popcorn dan pepsi untuk dipegang Naruto sehingga dia bisa mendapatkan spot yang nyaman untuk duduk menikmati film yang dia nantikan tanggal pelirisannya. Setelah merasa nyaman Gaara kembali beralih menatap Naruto memandangnya takjub bercampur kesal. Bertanya dengan wajah tak bersalah "Kenapa?"

Bergerak mencondongkan tubuhnya menatap Gaara, jika saja Gaara tidak melimpahkan makanan dan minuman kepadanya sudah dari tadi Naruto akan memukul kepala merah itu agar bisa berjalan sebagaimana mestinya. "Kau benar-benar gila ya?"

Membalas menatap Naruto dengan sebelah tangan menyangga dagu. Sambil menunggu film di mulai, berbincang dengan Naruto tidak ada salahnya juga. "Tidak" menggeleng pelan dengan muka polos "Aku hanya ingin menonton film ini, tidak asik menontonnya sendiri"

"Tapi kenapa harus aku? Apa kau tidak punya teman lain untuk kau ajak?!"

"Tidak. Aku tidak punya teman lain"

Naruto bungkam, tidak tahu harus membalas apa. bukankah dia sendiri juga tahu Gaara tidak terlalu banyak memiliki teman atau bahkan tidak sama sekali. Pria itu jarang datang ke sekolah, selalu pergi keatap untuk tidur di bandingkan berbaur dengan yang lain. dia bahkan juga kerap bertengkar dengan Pain. Di bandingkan berteman dan sekolah Gaara lebih suka bermain teman sepertinya ide buruk untuk Gaara. Naruto selalu lihat bagaimana wajah Gaara lebam berkelahi entah dengan siapa. Di kelaspun Gaara lebih memilih untuk tidur di atas meja. Melupakan tugas dan pelajaran, Gaara seperti menarik diri dari sosial tapi bukan berarti dia tidak pernah bicara pada anak-anak yang lain dalam sudut pandangannya selain dia Gaara juga pernah bicara dengan Shion dan Karin bahkan sesekali dia pernah melihat Gaara berbaur dengan Lee dan Kiba tapi setelahnya Gaara akan memilih sendiri.

Berkedip beberapa kali sebelum mengalihkan pandangannya pada Gaara meletakkan –membanting- dengan kasar salah satu pepsi kearah Gaara berpaling menatap layar raksasa yang mulai menampilkan intro film yang akan mereka tonton. "berisik! Filmnya sudah dimulai" berkata pelan kepada Gaara yang kini juga mulai ikut menonton film setelah menepuk kepalanya pelan. Naruto menghela nafasnya perlahan, untuk kali ini saja dia akan menghabiskan waktu bersama Gaara dan Naruto menekankan kepada dirinya sendiri. hanya untuk hari ini saja. selebihnya dia akan tegas mengatakan 'Tidak'.

"Kau mengajak seorang wanita untuk menonton Captain Amerika? Lucu sekali" celetuk Naruto setelah film baru berputar lima belas menit, mencoba mencairkan suasana aneh yang dia buat sendiri.

Tertawa pelan menanggapi Naruto yang menyangga kepalanya dengan tangan kiri. "Untuk ukuran wanita sepertimu Captain Amerika tidak buruk"

"Yeah.. setidaknya aku suka Robert Dawney Jr" Menatap Gaara yang melihat kearahnya. Naruto tahu tidak ada yang lucu dalam ucapannya tapi yang terjadi dia dan Gaara tertawa bersamaan dengan pelan tidak ingin menganggu yang lain. dan setelahnya yang terjadi adalah bagaimana mereka berdebat tim mana yang akan menang atau mungkin berebutan popcorn yang berada ditengah-tengah. Untuk pertama kalinya juga Gaara bisa melihat bagaimana Naruto berkelakar tentang kecewanya dia begitu tahu pemeran spiderman bukan Andrew Garfield lalu tertawa lebar setelahnya. Dan sejak itu film Civil War bukan lagi focus utamanya.

Dua jam lebih akhirnya film itu selesai juga dan kini entah dengan cara apa dan bagaimana cara Gaara membujuk Naruto untuk tidak segera pulang dan berkeliling sebentar menghabiskan waktu mampir ke beberapa toko yang ada disana. Dari toko makanan hingga toko boneka. Disana Gaara bertingkah konyol dengan mencoba berbagai jenis topeng dari monyet hingga rubah dan mungkin Gaara merasa itu sepadan dengan apa yang dia peroleh. Naruto tertawa lebar dan sangat keras kearahnya. Setelahnya Gaara membiarkan Naruto berlarian seperti anak kecil menjadikan dirinya sebagai pengawas bayi. Disana Naruto bermain dengan boneka beruang besar. Tersenyum begitu manis dan lebar.

"Naruto?"

"Hm?" menoleh kearah Gaara dengan senyuman yang tidak dia sadari masih terpasang jelas diwajahnya. "Ada apa?"

Terdiam sebentar menikmati senyuman itu untuk waktu yang sedikit lama sebelum berucap pelan. "Ada tempat lain yang ingin ku kunjungi denganmu"

:: :: Janus :: ::

Daftar nilai, hasil pembalajaran. Deretan angka dari 0 sampai 100, Kakashi mengusap keningnya yang berkerut-kerut. Tiga puluh enam deretan murid yang akan dia bombing mulai besok. Menjadi wali kelas tidak pernah ada dalam angan-anggannya menjadi guru mata pelajaran saja sudah membuatnya depresi dengan tingkah murid-murid yang luar biasa. Mereka tidur saat dia menerangkan x, y, dengan deretan logaritma tapi mereka akan mengeluh begitu nilai ulangan keluar. Dibandingkan mengurusi mereka Kakashi lebih suka menghabiskan waktu dengan tidur di perpustakaan yang selalu sepi pengunjung jika dibandingkan dengan kantin sekolah.

Ini tidak akan terjadi jika saja wali kelas yang lama mengundurkan diri karena harus pindah bersama keluarganya. Kakashi memang guru yang berkompeten dia akui itu karena begitu banyaknya siswa yang ingin menjadikan dia tutor pribadi dalam kasus ini dia yang selalu diberi mandate untuk memberi jam pelajaran tambahan untuk siswa dengan hasil poling dari wali mereka masing-masing. Dan dia tidak ingin menambah kegiatan dengan menjadi wali kelas yang cukup merepotkan.

Kembali mulai mendata siapa saja siswa dengan predikat terbaik hingga yang paling buruk. Siapa si peringkat satu dan siapa yang paling akhir. Nama Uchiha Sasuke yang paling sering keluar dengan nilai-nilai sempurna lalu Namikaze Naruto lalu ada Sabaku Gaara diurutan terakhir. Kakashi mengerutkan kening mengenal siapa si Namikaze yang dimaksud. Dia adalah salah satu siswa yang mengikuti pelajaran tambahannya dengan rekomendasi langsung oleh sang wali. Sedikit penasaran dengan siswi yang sudah dia ajar sejak kelas 1, belajar seperti tiada hari esok.

"Oh… jadi kau yang akan menjadi wali kelas 2-1?"

Menolehkan kepala pada Iruka yang kini menarik kursi lalu duduk di mejanya yang bersebelahan dengan Kakashi. Mengangguk pelan menjawab pertanyaan Iruka sebelum mendesah panjang. "Ini akan benar-benar menerepotkan"

"jadi kau akan menjadi wali Namikaze-san? Ku harap jangan berurusan dengan ibunya" Asuma berdiri dengan bersandar pada meja Kakashi setelah menyalakan rokok, menghembuskan perlahan asap putih yang mengepul keluar. Mengingat bagaimana berharapan dengan keluarga Namikaze untuk pertama kalinya.

"Memangnya kenapa? Aku sudah pernah menemuinya beberapa kali"

"Dia hanya memintamu sebagai tutor anaknya kan?" Kurenai menyahut dari belakang membereskan kertas-kertas yang berserakan dimeja. "Dia tidak akan pernah membiarkan hidupmu tenang jika berurusan dengan anaknya. Yang jelas intinya kau harus mempersiapkan mental jika berhubungan dengan Namikaze"

Kakashi tidak menjawab atau bertanya lagi tentang hal-hal aneh yang masih belum dia mengerti. Kembali mengamatai data dari Namikaze Naruto selama dia menjadi guru gadis itu dia tidak terlalu menonjol kecuali dengan nilai-nilainya dia gadis yang cukup patuh. Tidak ada yang aneh dan bersikap wajar seperti siswa pada biasanya namun terkadang selalu berkutat pada soal dan mengejar nilai. Jadi Kakashi pikir wali Namikaze akan sangat bangga dengan anaknya yang tidak pernah terlibat masalah sangat berbeda dengan ibunya dulu yang selalu berteriak-teriak ketika dia selalu membolos sekolah. Kembali menghela nafas panjang, bisa-bisanya dia setuju ketika kepala sekolah menawarinya.

:: :: Janus :: ::

Berjalan perlahan menatap sekelilingnya. Naruto tidak pernah mengira Gaara akan membawanya kesini. Salah satu atap bangunan pencakar langit, berfikir jika ini adalah tempat dimana Gaara bisa datang dan pergi sesuka hati atau mungkin milik ayah Gaara mengingat beberapa orang membungkuk kearah mereka. Naruto bisa tahu dengan jelas Gaara adalah anak konglomerat dilihat bagaimana dia hidup sekarang. angin tidak berhembus terlalu keras tapi cukup membuatnya merasakan udara sejuk yang nyaman. Matanya menyapu dataran luas dibawah ratusan lampu berkelap kelip hidup dan mati secara bergantian.

"Bagaimana rasanya?" Gaara bersuara sejak sepuluh menit mereka menginjak ditempat ini di habiskan hanya dengan diam. Tanpa melihatpun Gaara tahu Naruto melihat kearahnya, menggerakkan tubuh menghadap ke kiri dimana tempat Naruto berada. "Bagaimana rasanya menjadi Namikaze Naruto?"

"Maksudmu?" meski mereka sudah mulai saling mengenal tetap Naruto tidak pernah mengerti kemana arah Gaara berbicara.

"Kau bukankah pernah bilang akan menjadi kuat? Tapi kenapa aku melihatmu masih bersembunyi? Tak bisakah kau memperkenalkan pada mereka siapa itu Namikaze Naruto?"

Tersenyum masam diakhir kalimat Gaara, sepertinya Naruto mulai mengerti. Gaara dibalik sikapnya yang menyebalkan dia adalah pria yang sangat baik. Naruto berfikir mungkin selama ini Gaara selalu sendirian dan begitu dia berteman dia akan menjadi teman yang baik. Naruto tersenyum kecil. "Untuk apa aku memperkenalkan diriku toh mereka hanya tahu aku si ratu ijime"

Gaara mencibir dengan jari telunjuknya yang mendorong kepala Naruto dengan kuat. "Apa kau itu bodoh?"

"Hei!" Berteriak kencang dengan tangan kanan mengusap keningnya korban Gaara. Memberenggut kesal, Gaara selalu orang yang selalu mendorong kepalanya seperti orang bodoh.

"Hei lihat aku" berhenti menyumpahi laki-laki itu Naruto menuruti perintah Gaara mendongak untuk menatapnya. Sedikit kesal keanapa laki-laki selalu bertubuh tinggi. Gaara memperlihatkan ponsel hitam merk terbaru pada Naruto. Berfikir jika laki-laki itu akan pamer. "Ini apa?"

Berkerut bingung namun tetap menjawab pertanyaan Gaara. "Handphone"

"Ponsel" Kini giliran Gaara memperlihatkan sepatunya. Berwarna hitam dengan warna putih melingkari sekeliling "Apa warnanya?"

"Hitam"

"Gelap" matanya melebar menatap Gaara yang tersenyum seperti biasa. Ada sesuatu yang aneh saat bagaimana Gaara mengatakan nama lain dari benda yang dia lihat. "Lihatkan tidak masalah bagaimana kau menyebutnya mereka tetaplah sama, dan itu juga berlaku untukmu Namikaze Naruto"

Mengerjapkan mata beberapa kali. Hal-hal kecil dan sederhana yang kembali dia lewatkan. Selama ini dia hanya berpaku pada satu titik. Nilai yang baik dan dengan itu membuat ayah dan ibunya bangga. Namun nilai yang baik itu berarti tanpa ada masalah menjadi murid yang baik terhindar dari segala hal yang membuat nilainya buruk. Menjadi murid dengan title murid teladan. Berfikir jika itu adalah satu-satunya cara bagaimana orang lain mengenal Namikaze Naruto tanpa mengenal dirinya sendiri. mengarahkan pandangan kepada Gaara kembali.

"Naruto… Kemarin adalah ulang tahunku. Dan aku minta hadiah" Gaara membuka kedua telapak tangan dan menjadikan mereka satu, menyodorkan kearah Naruto. Meminta hadiah kearah Naruto yang dia yakini tidak tahu menahu tentang hari kelahirannya. Seperti yang dia lihat sekarang bagaimana wajah terkejut gadis itu, mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun dia tahan . ragu dan enggan menguasai. Gaara tersenyum lembut, senyuman tulus bukan main-main yang untuk pertama kalinya dia keluarkan. "Aku tidak ingin sebuah benda. Hadiah yang ku minta adalah dimana besok aku benar-benar memanggil namamu. Namikaze Naruto"

:: :: Janus :: ::

There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset

(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)

:: :: Janus :: ::

TO BE CONTINUED


fuuhhh... satu chapter Janus akhirnya bisa update maaf udah terlalu lama untuk updatenya

review dari chapter kemarin yang emang lebih bahas SFN lebih banyak yang kecewa karena Gaara cuman sekedar lewat doang hahaha untuk chap ini baru deh bahas pairing dengan pilihan terbanyak di setiap chapter hahaha, karena aku emang sengaja pengen bahas setiap karakter dalam fic ini khusunya berhubungan dengan kisah Naruto, dan di chapter ini aku lebih banyak pakai ide dari School 2015 sama School 2013 karena emang dari awal patokan aku dari dua drama tersebut. Karena dari beberapa Chap kemarin belum bahas tentang guru jadi saya ngerasa kurang afdol banget fic dengan setting sekolah tanpa membahas dulu jadilah Kakashi saya munculkan, kenapa Kakashi? enggak ada yang spesial sih saya suka aja chara dia.

Oh sekalian aku minta doa kalian buat tgl 7 besok ada pengumuman UN doanya semoga aku lulus dengan nilai memuaskan, dan di tanggal 10 nanti pengumuman SNMPTN semoga aku diterima di PTN pilihan amiiin mohon doanya minna-san..., sekarang untuk balas review dari kalian

Q: Lnjut,donk.

A: sudah dilanjut

Q:Maaf yah aku baru review di chap ini.. aku bacanya maraton. baru tau ada FF keren ini. Hmm.. gimana yah. tpi Ff ini yg pertama bikin aku suka pair gara naru. kkk ... kok aku malah pengen mereka jadian yah. #dicidorisasuke.
tpi bener deh.. aku suka gara disini. Sasuke msh pasif yah. Dilanjut yahhhh.. jangan

A: ah iya enggak papa kok.. wah aku jadi malu hahaha.. bukan cuman kamu aja suka pari Gara Naru disini, aku udah terima banyak requestan kok hahahaha, Sasuke masih pasif? keliatannya sih iya, dia masih bingung mungkin

Q: Nexttt ,, nexttt penderitaan naru masih pnjangya ,, mati aja kmu skura , udah mrebut pcar orang ga mrasa brslah lgiee ,, #sangatgasukasakura

A: silahkan dinikmati... sebenarnya bukan menderita sih disini Naru masih pasrah sama keadaan mungkin itu yang bikin dia jadi begitu tertekan.. hohoho Sakura jadi sasaran, aku emang buat chara sakura jadi kaya gini, dia itu seperti butuh pelampiasan karena masa lalu

Q: klo bisa sih pair utk ending.a gaanaru ajah lbh dapet feel.a itu utk sasunaru.a dibuat temenan ajah thor

A: hehehehe satu lagi yang req ending GaaNaru kekekeke #smirk, oke ditunggu aja nanti Naru sama siapa Gaara, Sasuke, atau Orochimaru (?)

Q: Argghh,,,,,,kapan naruny jadi darkkkkkk,,,,,;'-(,ngk sabar nie hiks hiks,,,kasian narunya...buat jenong sijidat lebar nyesallll!benci bgt lihatnya!,,,,nexT T_T

A: gomen permintaan kamu belum terkabul di chap ini, tapi tenang akan segera terwujud di next chap nanti, hohohoho

Q: apa hubungan sakura dg naruto dimasa lalu? Kok saya penasaran ya, saya mrasa yg muka dua itu justru sakura. . Tapi kayaknya bukan juga. . Apa sakura punya rasa iri ke naruto krna naru jd pusat perhatian gitu?

A: sebenarnya nggak ada hubungan antara Naruto dan Sakura secara langsung di masa lalu tapi trauma Sakura tentang bullying yang udah aku ceritain di chap kemaren emang secara nggak langsung berhubungan dengan Naruto #spoiler. rasa iri? hmm bisa jadi gitu,

Q: siapa yang coret-coret meja Naru?

A: sudah terjawab :D

oke aku pikir cukup dulu yang belum terjawab maaf ya lain kali pasti aku bales dan jawab

See you next fic

Chrysanthemum Bluesky