Deep in Your Heart
by. SummerChii
.
.
.
AU! Typo! Semoga alurnya jelas~
BTS milik keluarganya dan kita semua, saya cuma pinjem nama
.
.
Warning: Bromance/bxb/otw menjerumus/chaptered / longchapter /kuharap kalian g pegel :")
.
.
.
08 : Breath
Hoseok masuk keruangan ayahnya, berniat membawakannya teh malam itu dan mengadu tentang kejadian tadi pagi.
Namun saat dia masuk, ayahnya tertidur dikursi kerjanya, diatas tumpukan berkas pasien, masih dengan pena di cuping telinga, tangan menggapai snack dan kacamata diatas rambutnya yang mulai memutih.
Dia tersenyum.
Ayahnya tidak pernah berubah, selalu seperti itu. Bekerja terlalu keras sampai lupa waktu dan lupa dunia.
Namja itu tetap masuk, menyeret satu persatu berkas yang berantakan dan menyusunnya sesuai nama pasien serta data tanggalnya. Hoseok tidak asing dengan pekerjaan seperti ini. Dulu dia dan noonanya pernah nakal mengacak-acak berkas dan mereka berdua dimintai tanggung jawab untuk membereskannya kembali dan keduanya pusing bukan main. Tapi ternyata sang noona ketagihan dengan hal membereskan berkas. Dan dia hanya bisa mengikuti noonanya itu. Jadi, dia sudah tidak asing lagi mengerjakan ini.
Ayahnya adalah seorang yang tidurnya pulas. Dia tidak akan terbangun kalau secarik kertas ditarik. Bahkan kalau bunyi kresek menggema juga, dia tidak akan bangun.
Hoseok menyusun dokumennya dengan ulet. Mungkin ini bisa jadi latihan untuknya dimasa depan? Atau setidaknya, bisa membantu ayahnya saja sudah cukup.
Tapi tangannya berhenti saat memunguti map putih yang terjatuh dibawah.
Dan menarik satu persatu rekam medis yang ditimpa lengan besar ayahnya.
Kim Namjoon.
Sang ayah sedang meneliti rekam mediknya.
Hoseok mengumpulkan semuanya, menusunnya, dan membacanya satu persatu sampai detail.
Dia akan minta maaf nanti pada keluarga Namjoon dan pada ayahnya karena sudah mencuri rahasia pasien. Ayahnya selalu berkoar-koar kalau rekam medik pasiennya adalah rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain tanpa seizin keluarga pasien sendiri.
Hoseok tidak terlalu mengerti kedokteran. Namun ayah dan kakaknya adalah dokter yang cakap, jadi mau tidak mau dia akan mengerti sedikit demi sedikit. Bahkan dia sudah biasa membaca tulisan ayahnya yang lebih mirip spageti kusut daripada tulisan.
Buku rekam medik Namjoon sangat, sangat tebal.
Dia tahu, Namjoon sudah ada dibawah pengawasan appanya sejak masih balita. Dia mengenal Namjoon yang saat itu masih berpopok juga karena si jangkung pasien ayahnya. Sayang, ayahnya tidak pernah bilang separah apa sakitnya Namjoon. Hoseok hanya tau garis besarnya dan cara menangani kalau Namjoon tiba-tiba kumat.
Hoseok tidak terlalu mengerti istilah-istilah aneh ayahnya dalam buku. Dia mengerti gambar-gambarnya saja. Dia mengerti kalau ada highliter yang menandai apakah hal itu penting atau tidak.
Sampai di halaman terakhir yang ditulis, dia hanya bisa terdiam.
Keterangannya menggunakan bahasa korea, dan Hoseok mengerti tulisan appanya dengan jelas.
Mungkin Hoseok bukan laki-laki yang pandai menyembunyikan emosi. Mungkin dia adalah yang paling perasa daripada yang lain.
Tapi sungguh, jika dia menyodorkan ini pada Min Yoongi, dia yakin si dingin itu juga pasti minimal tidak mau percaya.
Karena dia sudah menangis melihat vonis buat saudaranya.
XXX
"Hyung..."
Ini hari kedua Seokjin mengurung diri. Taehyung sudah jadi penghuni tetap didepan kamarnya untuk mengantarkan makanan. Dan makanannya selalu berakhir di tong sampah. Seokjin hanya mengambil minum, dan kadang menyuap sedikit lauk. Sisanya, nihil.
"Hyung, kau sudah satu harian kemarin tidak makan loh? Nanti sakit..."
Bocah itu mengetuk pintunya lagi. Kali ini membawakan bubur karena ibunya takut perut Seokjin tidak mencerna dengan baik. Anak itu tidak mau makan sejak pagi kemarin. Dia selalu berbisik kalau dia baik-baik saja dan sedang menenangkan diri.
'Taruh saja makanannya di depan, Tae...'
Dia bersuara lagi, lirih. Seokjin selalu begitu sejak kemarin.
"Hyung? Tapi kau tidak apa-apa? Um...eomma membuatkan bubur hari ini, supaya perutnya tidak sakit. Dimakan ya?"
Dan hening.
"H-hyung?"
'Nde. Nde. Tinggalkan saja disana. Gomawo, Tae.'
Setidaknya Seokjin masih mau bicara.
"Aku berangkat, hyung. Jangan lupa dimakan!"
Setidaknya Taehyung tahu Seokjin masih baik-baik saja kalau dia masih bicara.
Anak itu meninggalkan kamar, meninggalkan Seokjin yang nyatanya duduk di bingkai jendela sambil memandang pintu, mengigit satu persatu pil di genggamannya seperti permen.
Berharap dia bisa tidur tenang tanpa ngiangan suara appanya.
Matanya masih bengkak, pipinya juga. Bibirnya ungu saat ini-karena kemarin tidak dia obati dengan baik. Lebam di pelipisnya juga masih sama, mulai menghitam tapi dia tidak peduli. Dia juga bingung harus diapakan luka-lukanya.
"Pahit."
Batinnya kala pil itu menyapa papila belakangnya, menatap tabung yang masih berisi penuh itu dan menelengkan kepalanya sedikit.
Mengambil satu lagi pil kecil yang ada disana.
Pahit. Tapi pahitnya lebih baik daripada menelan ludahnya sendiri.
XXX
Namjoon yakin ada yang tidak beres.
Dia susah payah naik keatas, lagi. Persetan dengan check-up dengan Dokter Jung kemarin yang belum keluar hasilnya, omelan dokter tua itu yang meminta dia duduk manis seperti domba dan ancaman kalau dia akan dirujuk ke rawat intensif. Seokjin jauh lebih penting dari itu.
Dia mendapati makanan Seokjin masih utuh, persis didepan kamarnya. Padahal hari sudah mulai sore dan eommanya pasti meletakkan itu tadi pagi.
"Hyung?"
Pintunya dikunci.
Namjoon menghela napas berat, mengetok pintunya cukup keras namun tidak ada jawaban. Namja itu langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu yang baru diperbaiki itu.
Dan suara barang jatuh langsung mengagetkan dia.
Pintunya baru terbuka sedikit saat dia melihat Seokjin menekuk lututnya terkaget-kaget sambil menatapnya ketakutan. Setelah sadar itu Namjoon, hyungnya langsung lemas bersandar di tembok dan bernafas lega.
"Hyung... kau kenapa?"
Namjoon berusaha masuk dari sela kecil yang dia buat, membiarkan barang-barang Seokjin yang dia taruh didepan pintu jatuh berserakan.
Namja itu menggeleng pelan waktu Namjoon bertanya. Tersenyum tipis sambil mengepalkan tangannya dilantai.
"Ani. Tidak kenapa-kenapa."
Jawabnya lirih, kembali bersandar pada tembok dan menempelkan pipinya pada tembok yang dingin.
"Kenapa kemari, Namjoon? Nanti appa marah-"
"Hyung, apa itu di tanganmu?"
Seokjin menggeleng, mengubah posisi jadi memeluk lutut dan menyembunyikan tabung itu disela-sela pahanya, namun Namjoon dengan sigap mengambilnya dan memperhatikan tulisannya.
Isinya sudah seperempat, tapi tabungnya jelas baru dibuka.
"Obat... tidur?"
Seokjin terkekeh, menempel pada dinding kamarnya dan menghela napas berat.
"Darimana-"
"Aku cuma ingin tidur tenang, Namjoon-ah."
Ujarnya ringan, mengenggam tangan adiknya yang basah dan menatapnya dalam-dalam dengan mata yang begitu menyedihkan.
"Efeknya bagus juga. Kemarin saja aku tidur pulas sampai rasanya mengambang, padahal aku hanya makan empat butir."
Seokjin mengatakannya seakan dia adalah promotor obat tidur yang baik, sementara Namjoon memandanginya dari atas kebawah sambil meneguk ludah.
"Kau coba bunuh diri lagi?"
Seokjin menggeleng, bergeser dan mendekati ranjangnya untuk membenamkan wajah.
"A..ni. aku cuma berharap bisa tidur tenang. Kalau aku minum lebih banyak-"
"Kau bisa overdosis-"
"Ani! Aku cuma akan tidur panjang, itu saja... aku tidak berniat bunuh diri."
Namjoon menahan sesaknya, berusaha mengontrol emosinya dengan baik dan menatap kakanya yang terlihat menyedihkan ini seksama.
"Hyung-"
"Habisnya... Namjoon... aku bisa jadi apa, ya? Appa sepertinya marah besar karena anak kandungnya ini seperti pengecut sementara kamu bisa jadi pahlawan."
"Hyung-"
"Bahkan membela diri saja aku tidak bisa. Mungkin dia benar, aku sakit jiwa, ya? Duh. Gawat."
"Hyung... stop."
"Eommaku ditinggalkan gara-gara sakit jiwa. Aku... bagaimana ya? Apa aku akan diusir dari rumah?"
"Hyung, kau tidak gila-"
"AKU GILA, BODOH!"
Namjoon terdiam, menatap dalam wajah Seokjin yang tidak karuan. Namja itu menangis, lagi, sambil mengenggam tangan Namjoon-nya dan membenamkan wajah di ranjang.
Dan Namjoon pergi, beranjak meninggalkan dia.
Seokjin pikir anak itu juga sudah menyerah sama orang gila macam dia. Ya, mana ada yang tahan? Bahkan Seokjin tidak bisa membela dirinya sendiri. Dia terlalu banyak jadi beban pada orang lain.
Baru saja dia berpikir untuk menegak habis semua pilnya, Namjoon datang dengan segelas susu ditangannya. Anak itu langsung berlari mendekati dia, merebut tabungnya dan mengangkatnya tinggi, jauh dari jangkauan Seokjin.
"Hyung! Apa yang kau lakukan?!"
Seokjin meradang, bangkit dan terus berusaha mendapatkan kembali 'obat tenang-nya.' Memohon pada yang lebih muda untuk membiarkan dia melakukan apa yang dia mau supaya dia bahagia.
Bahkan dia rela berlutut sambil memandang yang lebih muda seakan dia makhluk rendah.
"Namjoon... jebal... biarkan aku-"
"Aku sudah bilang, jangan aneh-aneh! Apa kau tidak mengerti?!"
"Tidak. Aku tidak peduli. Tolong, rasanya sakit. Aku tidak mau lagi dipukul, aku tidak mau lagi di maki-maki. Aku tidak mau lagi, tolong. Buat appa.. aku punya dosa yang tidak termaafkan. Aku lebih baik mati saja buat dia kan? Aku-"
"Hyung. Jangan aneh-"
"Iya! Iya, aku aneh! Makanya tolong... biarkan aku-YYA! NAMJOON!"
Seokjin kaget bukan main waktu dongsaengnya menghabiskan botol itu sekali tuang kedalam mulutnya. Dia tidak bisa berpikir hal lain selain menamparnya keras-keras lalu memaksa dia membuka bibir sampai butiran putih itu keluar dari mulutnya dalam keadaan basah.
Banyak. Butuh waktu lama buat Namjoon mengeluarkan semua pilnya. Bahkan Seokjin ragu dia mengeluarkan semuanya. Tangannya gemetar sendiri membantu yang lebih muda dengan menepuk punggungnya, sesekali memasukan jarinya ke rongga mulut agar dia memuntahkan semua tanpa sisa.
Bisa gawat kalau Namjoon menelan satu saja.
Bahkan dia yang sehat bisa merasakan dengan sangat kuat kalau obat itu membuat nafasnya lebih berat dan dadanya berdegup lebih pelan.
"Apa yang kau lakukan!"
Dan Namjoon masih terbatuk dihadapannya, menyeka salivanya dengan tissue dan membereskan bekas muntahannya yang menggelikan di lantai kamar Seokjin.
Sementara kakaknya, langsung membuka pintu dan mengambil segelas air yang ada didepan kamar, menyodorkan gelas itu ke depan Namjoon.
Seokjin tidak tahu kenapa dia bisa se-panik itu padahal dia tenang tenang saja saat mengunyah pil dimulutnya sejak kemarin. Namjoon masih tenang ditempatnya, menunduk dan menelan rasa janggal di kerongkongannya dengan tegakan air yang cukup banyak. Tidak peduli ada obat yang tertelan atau tidak.
Seokjin tidak bisa membuka suaranya. Lidahnya, bibirnya terasa beku ditempat menghadapi substrat kenyal yang menyelip disela-sela miliknya. Matanya melotot hebat menyadari Namjoon yang ada didepannya, dia... menyesap(?) Bibirnya lembut seakan itu adalah permen gula.
Permen gula yang pahit. Sialan, Seokjin berharap tadi Namjoon tidak memakan obat tidurnya, mungkin setidaknya bibirnya bisa... um.. manis?
Dia makin yakin kalau dia gila. Dia sadar bibir dongsaengnya sedang melumat miliknya tapi dia diam saja.
Sampai Namjoon melepaskan miliknya dari bibir tebal Seokjin, membiarkan benang-benang warna bening keruh itu menyambungkan milik mereka dengan sensual, menyisakan warna merah merona di bibir Seokjin yang tadinya pucat.
Menyisakan wajahnya yang kaget seperti habis disambar petir.
"Kau takut aku kenapa-kenapa, tapi tidak peduli dengan dirimu sendiri."
Menambah rasa syok Seokjin karena yang lebih muda malah menangkup pipi bulatnya dan menatapnya lurus sekali dengan mata berbinar.
"Bukannya sudah kubilang? Aku menyayangimu lebih dari keluarga."
Seokjin bisa berusaha keras untuk berkedip tapi matanya terkunci menatap Namjoon dengan suaranya yang terdengar sangat seksi. Sial, padahal dia dua tahun dibawahnya tapi kenapa suaranya sudah sebagus itu?!
"Karena itu, kalau kau berani macam-macam, akupun juga berani, Seokjin."
Dan satu lagi. Seokjin benci dipanggil dengan namanya oleh yang lebih muda.
Bukannya apa, darahnya terasa dipaksa terpompa keatas karena marah, tapi malah berakhir di dada dan pipi dan dia merasa seperti ada ikan mas yang menggelitik didalam pembuluh darahnya.
Dan dia tak bisa menyangkal kalau dia menyukai namanya disebut oleh adiknya.
"Apa kalau aku digampari juga, bisa membuatmu lebih baik?"
Yang lebih muda menatapnya lurus, meremat bahunya lembut dan mendekatkan wajahnya.
"Kalau dia menganggapku sama gilanya denganmu, apa kau merasa lebih baik?"
Dan Seokjin hanya bisa diam memandang lurus wajah adiknya yang benar-benar pasrah, matanya mulai memanas hebat sampai kantung matanya terasa perih lagi karena dia baru selesai menangis.
"Kalau... dia menyesal mempunyai aku, sama seperti kau merasa dia menyesal Kim Seokjin adalah anaknya, kau merasa baikan?"
Seokjin tidak tahu mau menggeleng atau mengangguk. Dia hanya diam dan memejamkan matanya sambil mengigit bibir. Terisak perlahan dan menunduk dalam di dada adiknya.
"Hyung, apa yang membuatmu lebih baik?"
Dan dia pecah. Tidak bisa terkontrol lagi. Tidak tahu harus menjawab apa selain menarik kaus Namjoon dan membawa yang lebih muda mendekat, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan disela-sela nafasnya yang sesengukan. Dia tidak berteriak, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya menangis dalam diam dengan sengukan lirih yang membuat Namjoon merasa makin gemetar untuk menepuk punggungnya.
"Aku.. tidak tau..."
Bisiknya lirih, sesaat sebelum membenamkan wajahnya pada bahu yang lebih muda dan meremas punggungnya sekuat yang dia bisa. Membiarkan wajah memalukannya bertopang pada bahu adiknya yang /dia hina-hina dan maki-maki/ itu.
"A-aku takut.. a-"
"Aku tidak akan membuangmu."
Balasnya berbisik, menepuk punggungnya pelan seperti menepuk pantat bayi dan balas bersandar pada bahu lebarnya.
"Aku takut... tidak ada yang mencintaiku-"
"Lalu aku disini, apa... hyung?"
Seokjin berhenti perlahan, matanya menatap tengkuk Namjoon yang begitu dekat dengannya, menelan semua aromanya dan perlahan melepaskan pelukannya yang seperti koala.
Menatap dalam-dalam Namjoon sebelum yang lebih muda mendorong punggungnya menyapa lantai yang dingin.
Mengunci mata dan tangannya.
Mengukungnya diatas dan turun, mengigit telinganya sampai Seokjin kaget bukan main. Lidah nakalnya turun, memutar di lehernya dan kemudian melahap bibirnya lembut.
Seokjin sampai tidak sadar kalau dia membalas bibir Namjoon lembut. Merasakan bagaimana dongsaengnya sendiri melakukan ekspansi pada rongga mulutnya dengan jutaan listrik yang membuat Seokjin gemetar, namun tak kuasa untuk menolak. Gilanya, dia malah membalas.
"U-uhnnn.."
Saat bibir mereka berpisah, Seokjin hanya bisa terbengong dan menuntut penjelasan dari mata yang lebih muda.
"Kau ingin kubuktikan dengan cara apa... hyung?"
Namjoon selalu punya sihir yang membuat dia merasa hidup lagi, dan lagi.
XXX
Namja itu membuka matanya, menatap kegelapan disekeliling kamar kakaknya dan menerjap pelan, membiasakan diri.
Dia bisa melihat wajah pulas Seokjin di dekapan dadanya. Sepertinya, anak itu sempat menelan beberapa butir obat tidur makanya dia sangat lelap di dada bidangnya.
Jauh dengan Namjoon yang berusaha kuat menggapai napasnya subuh begini.
Tangan besarnya meremat kaus yang Seokjin kenakan, mempererat dekapannya pada yang lebih tua dan mengelung tubuhnya memeluk Seokjin. Berharap dengan cara begitu dia bisa mengontrol dirinya sendiri.
Sialnya, bukan membaik, dia malah merasa pandangannya memutih.
Namjoon melepaskan Seokjin pelan-pelan, bergeser sedikit dari sisi hyungnya dan merogoh kantung celananya. Menekan sisi kiri dadanya seakan itu bisa lepas kalau tidak dipegang kuat-kuat dan berusaha membuka tutup obatnya dengan satu tangan.
Dia harus bisa bertahan, setidaknya sampai besok sore.
Kalau bukan janjinya pada Seokjin untuk menemani sampai besok pagi, Namjoon sudah berserah pada ranjangnya dan membiarkan kesadarannya diambil alih sampai berhari-hari.
Dia harus bertahan.
Dan Lanoxin*-nya hanya satu-satunya pegangan.
Dia menekan dada, kerut di dahinya sudah sedalam lesung pipi si tengah Kim. Menelan perlahan pil kecil itu dan berusaha tenang sampai obatnya berhasil diedarkan pembuluh darah.
Butuh waktu lama, sampai dia rasanya mau menyerah dan meremat erat tangan hyungnya. Dia butuh pegangan yang lain, yang bisa membuatnya menyalurkan rasa sakit itu sampai akar, atau setidaknya bisa dimintai pertolongan.
Setelah sekitar lima menit menunggu, dia kalah dengan putih yang menjemput matanya.
Berharap besok pagi semuanya masih terlihat normal untuk Seokjin, biarpun mungkin saja dia tidak bangun-bangun lagi.
Dia sudah pasrah. Dia tidak bisa menyangkal sakitnya membuat dia kehilangan beberapa detak.
Jika Tuhan memang berbaik hati pada hambanya, dia akan membiarkan Namjoon bernafas sampai besok.
Mudah-mudahan.
Mudah-mudahan masih ada ampun buatnya yang selalu lari dari panggilan.
XXX
"Hyu-"
Taehyung menghentikan suaranya saat melihat pintu kamar Seokjin sudah terbuka. Dia buru-buru membuka mata dengan senang. Akhirnya tidak sia-sia setiap pagi dia menghampiri Seokjin di kamarnya.
Tapi saat pintu terbuka, yang keluar justru bukan orang yang dia tunggu-tunggu.
Namja jangkung itu menempelkan tangan besarnya di mulut Taehyung sebelum dia sempat bertanya atau berteriak kaget, menunjuk kebelakang dan menunjukkan jempolnya pada Taehyung.
Seokjin sudah berdiri dibelakangnya, masih dengan wajah kusut khas bangun tidur tapi dia sudah mendorong keluar yang lebih muda.
"Ayo, aku lapar."
Bisiknya pelan, serak. Taehyung langsung melompat ke dada Seokjin yang masih mengantuk, membuat hyung paling tuanya langsung tersedak nafasnya sendiri. Bukannya apa, dia tidak tahu kenapa Taehyung bisa jadi lebih perhatian padanya. Dulu, anak itu tidak terlalu dekat dengannya.
Apa mungkin itu salahnya sendiri karena tidak membuka diri pada Taehyung? Atau memang dia baru merasa Seokjin penting?
Keduanya tidak masalah, sejujurnya.
Dia merasa lebih dihargai, setidaknya. Biarpun ayahnya seperti itu, dia merasa bisa mengandalkan dua orang disisinya ini.
Saudara.
Biar Seokjin tidak mau mengakuinya sejak dulu, sedikitnya dia harus mulai sadar sekarang. Mereka berdua memperlakukannya seperti saudara, sekandung. Tidak peduli lahir dari rahim siapa, dia merasa mereka yang mengikat tangannya lebih erat daripada ayah dan ibunya yang sudah tiada.
"Yya! Hyung bodoh! Kau membuat semuanya khawatir! Aku takut kau gantung diri didalam kamar tau!"
Bukan hanya Seokjin yang kaget dengan ucapan Taehyung, tapi Namjoon juga. Dia langsung panik dan berusaha membekap mulut Taehyung yang tersembunyi di dada Seokjin.
Seokjin jadi dibuat menangis lagi gara-gara tingkah Taehyung. Sama dengan anak itu yang membasahi kausnya pagi-pagi.
Sepertinya kerjaan dia hanya menangis saja setiap hari kalau begini.
Dan Namjoon hanya memandang mereka berdua yang berpelukan seperti Barney, tersenyum tipis karena keduanya sudah mulai bisa akrab. Setidaknya, Taehyung senang karena Seokjin sudah membuka jalan buatnya.
"Mianhae sudah membuat khawatir..."
Seokjin membisikkannya pelan, menepuk kepala Taehyung dan helai rambutnya yang lembut, kemudian menoleh pada dongsaeng tertuanya yang pucat bersandar pada tembok. Namjoon membalasnya dengan senyum cerah, membuat Seokjin jadi ikut tertular biarpun pipinya bengap.
"Kajja. Eomma dan Appa sudah menunggu."
Dan ketiganya berjalan turun, mulai dari Taehyung dan ditutup dengan Namjoon. Seokjin ditengah mereka yang berusaha mengatur hatinya untuk menemui sang ayah dan berpikir, ekspresi apa yang harus dia buat nanti. Tapi dia punya keyakinan, bahwa semua akan berjalan baik. Ada Namjoon dibelakangnya, menopang bahunya kalau-kalau dia jatuh.
Tidak ada yang sadar kalau Namjoon meringis sedari tadi, menekan nadi di lipatan tangannya yang terasa lemas sambil menepuk bahu Seokjin dan bertumpu pada hyungnya.
Sampai pada anak tangga terakhir, Taehyung dan Seokjin baru kaget setengah mati karena dibelakang mereka ada suara debuman keras.
Bukan Seokjin yang jatuh, tapi Namjoon yang tumbang.
"EOMMA!"
Taehyung langsung refleks berlari ke dapur setelah melihat hyungnya tersungkur, memanggil ibunya sementara Seokjin ditinggal disana, tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa diam memandangi dongsaengnya yang menggeliat di lantai. Meremas dadanya erat dan mengepalkan tangannya.
Seokjin mengenggam tangannya, menghapus keringat dingin yang membasahi dahinya dan menatap netranya dalam.
"N-namjoon..."
Yang lebih muda tidak menjawab, hanya diam sama menatap Seokjin, berusaha tetap terjaga biarpun sakitnya luar biasa. Dia merasa ditimpa berkarung-karung beras diatas dadanya, menghimpit dia untuk bisa bernafas barang satu-dua hembus.
Seokjin yang melihatnya hanya bisa diam, membawa telapak tangan besarnya ke sisi kiri dada adiknya dan memijatnya ketengah perlahan. Meniru- teringat kejadian lama yang pernah dia alami. Berharap bisa meringankan rasa sakit yang terlukis jelas di wajahnya.
Terakhir kali dia melihat ini adalah sebelas tahun lalu, saat Taehyung masih sebesar labu didalam perut eommanya.
Bedanya, kali ini dia benar-benar takut.
Dan yang membuatnya semakin takut lagi, karena Namjoon yang selalu kuat didepannya menyerah. Meremat tangannya begitu kuat dan menunjukkan wajah yang tidak pernah ingin Seokjin lihat. Membasahi lantai dengan airmatanya sendiri. Dia menangis.
Dan Seokjin benar-benar takut dibuatnya.
Tidak sampai berapa lama, ayahnya datang diikuti sang ibu yang syok dan Taehyung. Wanita itu tidak bisa mengambil alih, dia duduk lemas dipeluk Taehyung dan menangis berdua.
"Namjoon-ah, tenang ya... gwenchana..."
Seokjin tidak pernah mendengar ayahnya se-khawatir itu. Dia tidak pernah melihat ayahnya menggulung lengan untuk mengurusi hal seperti ini. Ini memang bukan saatnya untuk iri, jadi dia berusaha sadar diri dan fokus membuat adiknya tenang.
"Mereka sedang kemari, okay? Anak appa bisa kan, tidak tidur sampai mereka datang?"
Namjoon tidak menjawab. Dia hanya diam, dengan tangan meremas erat jemari lentik Seokjin dan alis bertaut perih, sementara dadanya kembang-kempis tidak aturan.
"Seokjin, sejak kapan?"
Yang paling tua menoleh, menatap wajah putra sulungnya yang takut dengan mata yang lembut. Ayah-anak kandung itu saling pandang selama beberapa detik, sebelum disadarkan dengan suara bergetar Seokjin.
"A-aku tidak tahu... t-tapi harusnya aku tahu... kemarin malam kami tidur bersama... m-mianhae... aku-"
"Oke. Tidak apa-apa. Aku mengerti."
Seokjin langsung menangis waktu ayahnya bilang begitu. Padahal barusan saja dia yakin dia akan ditampar lagi. Tapi ayahnya malah bilang begitu dan menepuk punggungnya pelan. Membisikannya pesan untuk tidak menangis buat adiknya itu.
Tepat satu detik sebelum Namjoon kehilangan nafasnya.
Dua detik sebelum sirine ambulans menggema di halaman rumahnya.
XXX
Mereka ber-empat hampir mati menunggu didepan ruang gawat darurat.
Terutama sang ibu yang hanya bisa terbengong menatap ke pintu sambil sesekali menyeka airmatanya yang tidak mau berhenti.
Taehyung sampai membolos. Dia tidak mau mengangkat pantatnya sebelum mendengar sesuatu tentang hyung kesayangannya.
Seokjin sendiri hanya bisa diam, hatinya benar-benar takut waktu melihat beberapa suster bolak-balik membawa ini dan itu.
Bagaimana kalau dia pergi secepat itu?
Atau bagaimana, kalau ini gara-gara Seokjin kemarin? Bagaimana kalau Namjoon benar-benar serius soal dia harus mati duluan sebelum dirinya?
Suara pintu terbuka membuat Seokjin langsung mengangkat kepalanya tinggi, menatap pria berjas putih yang muncul dari balik pintu.
"Dia sudah kembali, tapi kami akan memantau dua puluh empat jam penuh. Tim juga sudah membawa sampel darahnya ke laboratorium. Dan... ada yang ingin kutanyakan."
Seokjin memejamkan matanya dan menunduk. Kali ini, dia tidak akan lolos. Dia yakin ayahnya akan marah besar. Kalau dia sampai ketahuan kemarin berebut obat tidur, dia akan tamat.
"Apa Namjoon sudah bilang soal serangan jantung pada kalian?"
"Eh?"
Jihye yang langsung membuka bibirnya, menatap takut dokter paruh baya itu dengan pandangan kaget. Seokjin sampai menelan ludahnya sendiri melihat dokter itu menghela napas berat dan tersenyum miris.
"Appa dan eommanya bisa ikut aku."
XXX
Seokjin hanya bisa menatap wanita itu dari hadapannya, mereka duduk bersebrangan di ruang tunggu dua jam setelah wanita itu nyaris pingsan saat keluar dari ruang praktik dokter Jung.
Bahkan tangannya di infus.
Seokjin tidak tahu jelas. Ibu tirinya merancau sejak Taehyung pergi diantar ayahnya tadi. Seokjin dengan hebatnya menawarkan diri untuk menjaga wanita itu supaya tidak macam-macam padahal dia adalah anak sialan yang kemarin berbuat macam-macam.
"Aku.. boleh minta tolong padamu?"
Seokjin mengangkat kepalanya, memandang wanita itu lekat-lekat dan memperhatikan airmatanya. Ragu, namja itu mengangguk pelan, mendapat senyuman lembut yang begitu mirip dengan Namjoon-nya, bahkan lesung pipinya pun sama persis.
"Tolong, berhenti menyakiti dia."
Seokjin jadi sakit mendengarnya. Dia tahu, entah ayahnya, atau Taehyung, atau wanita ini pasti akan sadar kalau Seokjin adalah pembawa sialnya.
"Jangan sakiti Namjoonie lagi, Seokjin. Tolong... dia tidak salah apa-apa... dia bukan pembunuh. Dia bukan siapa-siapa. Dia tidak menghancurkan keluargamu, Seokjin. Aku yang melakukannya... jadi kau tidak boleh menyakiti dia, Namjoon tidak pantas- Namjoon-"
"Jihye-ssi... a-apa-apaan-"
"Ayahmu tidak pernah menghamiliku sebelum Taehyung, Seokjin-ah."
Dan Seokjin langsung menegak ludahnya kasar mendengar itu. Matanya menatap Jihye tidak percaya, nafasnya terasa tercekat. Wanita itu masih menangis, sesegukan, berharap Seokjin akan mendengarnya.
"Kau... tidak punya alasan untuk membenci Namjoonie-ku. Karena dia tidak ada hubungan darah dengan ayahmu sama sekali."
Seokjin tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak ingin mendengar, tapi merasa harus mendengar. Dia tidak mau tahu, tapi dia merasa harus tahu.
"Yang membuat eommamu gantung diri itu aku, bukan bayi besarku yang malang... Seokjin."
XXX
*Lanoxin : salah satu obat buat penyakit jantung. mungkin ada yg ambil keperawatan dan bisa membenarkan kalau aku salah? aku modal gugel HAHAHAHA NIAT
XXX
NB :Heyho!Apa kabar kalian, sehattt???!HAPPY NEW YEAR YAAA! SELAMAT TAHUN BARU MUAH
Tadinya ini mau dibuat jadi kejutan di awal tahun, tapi kayanya terlalu maso kalo dijadiin kejutan awal tahun, jadi yah... apa chapter ini masuk akal? Dannnn, untuk yang sudah meriviu dan like dan fav dan baca...THANK YOU BGT!
aku siok sama100 review AKU SENANGG SEKAYIIII~ Buat ff ecek2 yg temanya pasaran dan banyak kesalahan teknis ini... aku dpt segitu banyakk huaa em in luv with u guys
Sampay jumpaaa di chap depann
NEXT STOP : FLASHBACK NGANTUKIN
dan ini jadi longchapter deh. huhu :") untuk chapter ini, maaf ya kalo kerasa gak well-prepared
