Hinata tetap pada posisi bersujudnya sementara Hiashi memegang dada-nya yang terasa sakit. Hanabi menenangkan ayah mereka dengan mengelus pundak Hiashi.

"Maafkan aku" Hinata yang sudah terisak terus mengucapkan maaf.

"Lalu dimana mereka?" tanya Hiashi setelah tenang.

"Mereka berada di tempat yang berbeda. Salah satunya ada di Konoha, namanya Yui. Sementara yang satunya berada di Kirigakure"

Hanabi menatap Hiashi dan Hinata secara bergantian.

"Sebaiknya kita biarkan nee-sama istirahat, tou-sama"

Hiashi mengangguk pelan. Ekspresinya sedikit melembut melihat putri tertuanya yang masih bersujud.

"Hanabi benar. Kembalinya kau setelah sembilan tahun hilang akan menggemparkan Konoha. Aku tidak tau apa yang harus ku katakan pada tetua"

"Maafkan aku, tou-sama"

"Bangunlah! Aku akan urus masalah ini"

Hiashi sebenarnya ingin melihat Hinata lebih lama dan ingin memeluknya. Tapi ia sadar kalau hubungan keduanya tidak baik. Tapi Hiashi sadar kalau itu adalah salahnya.

Hiashi melangkah pergi dari kamar Hinata. Setelah beberapa menit Hanabi langsung memeluknya.

"Sekarang ceritakan apa saja yang terjadi pada mereka! Aku penasaran!"

Hinata tersenyum kecil. Beberapa menit yang lalu ia baru saja mengatakan hal yang sebenarnya pada Hiashi. Hinata pikir Hiashi akan marah besar, tapi ayahnya terlihat tidak terkejut. Hanya jantungnya yang terasa sakit.

"Ehmm... nee-sama, sebenarnya tou-sama sudah tau mengenai ini empat tahun yang lalu. Saat itu tou-sama sedang berada di festival kembang api, mungkin menyadari bahwa cakra Yui seperti milikmu dan tanda segel untuk menyembunyikan kekkei genkai yang hanya bisa dilakukan oleh heiress membuat tou-sama curiga. Lalu tou-sama mengirim mata-mata untuk mengawasi Yui"

Hinata memilin bajunya. Ia merasa lega sudah melepaskan semua. Kini hanya tinggal mengakui bahwa Yui adalah anaknya.

"Tapi nee-sama. Sasuke sudah mengakui Yui duluan. Sebaiknya kau tidak melakukan hal yang sama sebelum para tetua membuat keputusan"

.

.

.

Desclaimer: Masashi Kishimoto

Judul: Innocent Liar

Rate: T-M

Warning: OOC, crack pair, DLDR, semi-canon, Gaje, Typo(s) de-el-el.

Summary: Tim 7 generasi ini sungguh berwarna. Yui si misterius Raven, Hatake Irie yang dewasa sebelum waktunya dan Natsu Uzumaki pembuat onar wahid. Kiba rasa ini akan menarik terlebih lagi mengetahui sebuah genjutsu rahasia Yui.

.

.

.

Yui, Irie dan Natsu berkemas sebelum meninggalkan Suna.

"Semua barang sudah tersimpan" Natsu yang paling semangat hari ini.

Irie sedari tadi hanya diam. Ia sedang berpikir. Yang dikatakan Kakashi kemarin terngiang-ngiang di kepalanya.

"Yui! Ayo kita cari paman Sasuke"

Dengan seenak dengkul-nya Natsu merangkut Yui dan membawanya keluar meninggalkan Irie sendirian di kamar sewaan itu.

"Oi! Tunggu dulu!"

Irie segera menyusul dua partnernya. Kemudian seperti biasa, Irie dan Natsu meributkan hal kecil diantara mereka.

Yui menajamkan pengelihatannya saat melihat sesuatu yang tidak asing baginya.

Seorang laki-laki seumurannya yang berambut panjang barwarna hitam, kulitnya pucat dan wajahnya mirip Yui.

Laki-laki itu menoleh lalu mengedipkan sebelah matanya. Ia memerlihatkan topeng ANBU Kirigakure-nya.

"Aku ada urusan sebentar, kalian duluan saja"

Yui menghampiri laki-laki itu.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya judes.

"Santai saja, Yui-chan. Aku di sini untuk menjemput tim dari Kirigakure"

Laki-laki itu menekankan suara pada kata "chan" karna tau Yui sangat tidak suka dipanggil seperti itu.

"Aku iri padamu" lanjutnya lagi.

Yui memalingkan muka mendengarnya. Ia juga ingin mengatakan kebenaran tentang ini. Tapi mau bagaimana lagi?

"Salahmu sendiri pergi jauh dari kami. Coba kau ikut denganku"

Laki-laki itu melengos.

"Aku ingin jadi ninja pengelana. Tapi Kirigakure malah menangkapku. Yah... karna mereka sadar akan kehebatanku, aku jadi ANBU disana"

"Dasar pamer"

Mereka terdiam beberapa saat.

"Yuki-kun, kau harus bilang ke laki-laki itu"

Yuki terlihat berpikir beberapa saat.

"Aku akan mengambil libur dan pulang sekitar dua hari lagi"

Yuki mengacak-acak poni Yui sampai rambutnya berantakan. Yui menatapnya tajam sementar Yuki tertawa senang.

"Sampai jumpa dua hari lagi, Yui-chan! Titip salam untuk kaa-san, ya. Bilang dari anak tertampannya" bisik Yuki pelan.

Yui hanya berdecih mendengar kenarsisan Yuki.

.

.

.

Dua hari setelahnya...

Natsu terlihat sumbringan kali ini. Irie hanya menatapnya heran dan Yui tidak perduli. Gadis itu masih berusaha penyimpan senjata-senjatanya di sebuah gulungan.

"Kau kenapa?"

Akhirnya Irie buka suara setelah melihat tingkah aneh Natsu. Natsu malah cengengesan ditanya seperti itu. Bocah berambut pink itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Aku akan jadi kakak!"

Irie manyun dan Natsu tertawa senang. Natsu tau Irie iri dengannya. Karna Yuugao belum bisa hamil lagi sejauh ini.

Yui terlihat tertarik dengan topik itu. Mengabaikan gulungannya, gadis manis itu membalikkan badan dan bergabung bersama kedua bocah laki-laki itu.

"Bibi Sakura hamil ya? Huhhh... andai saja ibuku bisa hamil. Aku akan senang kalau punya adik laki-laki" kata Irie.

"Iya ya... dari klan Hatake yang tersisa hanya Kakashi-sama dan dirimu. Kalau kau begitu lama-lama kalian bisa punah" Natsu berkata dengan nada enteng.

Andai Natsu tau hal yang dikatakannya itu nge-jleb di hati Irie. Seolah-olah Irie dan ayahnya adalah spesies terakhir. Walau memang kenyataannya begitu sih.

Irie merespon Natsu dengan tertawa renyah. Karna Natsu sedang bersyukur hari ini, ia maafkan.

"Ngomong-ngomong kau juga penerus klan Uchiha kan, Yui?"

Yui hanya mengangguk lemah.

"Sebenarnya aku masih penasaran siapa ibu kandungmu. Tapi kalau itu masalah keluarga, aku tidak akan bertanya"

Natsu kembali mengoceh tentang kehamilan Sakura dan disambut antusias oleh Irie.

"Adik, ya?" gunam Yui.

Selanjutnya Yui menyeringai licik mirip Sasuke.

.

.

.

Sasuke memincingkan matanya melihat sosok yang dikenalnya.

"Kenapa dia ada di sini?" gunamnya.

Sasuke mendekat dan menepuk bahu orang itu pelan. Orang itu berbalik dan menatapnya sumbringan.

"Sasuke-kun!"

Dengan tiba-tiba orang itu memeluknya dan Sasuke hanya menghela nafas.

"Apa yang kau lakukan di sini, Dan?"

"Aku ikut dengan rombongan Kazekage ke sini. Ada rapat besar lima kage yang dilaksanakan di Konoha" jawab Dan tanpa melepaskan pelukannya.

"Rapat tentang apa?"

Dan menaikkan kedua bahunya.

"Dengar-dengar ada kumpulan ninja pelarian dari berbagai desa membentuk suatu organisasi. Mereka juga memiliki pasukan besar yang terdiri dari ratusan ninja pelarian tingkat S!"

Dan melepaskan pelukannya lalu mengalungkan tangannya di leher Sasuke.

"Aku ingin jalan-jalan. Kau pasti mau menemaniku kan?"

Dengan seenaknya Dan merangkul Sasuke yang jauh lebih tinggi darinya.

Beberapa orang yang berada di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.

Sasuke kan baru saja mengakui Yui sebagai putrinya, sekarang ada wanita asing bersamanya dan terlihat dekat. Hal itu sangat pas untuk dijadikan bahan perbincangan.

"Sebaiknya kita cari tempat yang lebih tertutup"

Dan mengangguk lalu mengoceh tentang banyak hal. Sasuke menanggapinya dengan deheman.

Setelah mereka sampai di tempat makan yang tertutup, Sasuke akhirnya buka suara.

"Lama tidak bertemu" ucap Sasuke yang tidak terdengar seperti kerinduan.

Dan tertawa renyah mendengar ucapan Sasuke. Wanita itu sudah terbiasa dengan sikap dingin Sasuke.

Sedangkan pria yang berada di hadapannya memandang Dan dengan pandangan biasa.

Dan adalah temannya yang 'spesial'. Bisa dibilang seperti kekasih, namun Sasuke tidak mencintai wanita itu. Dan tau ia tidak akan bisa memiliki Sasuke.

Wanita yang aslinya bernama Dango itu terkena kutukan tidak bisa memiliki pria yang dicintainya. Dan hanya dipilih Sasuke karna Dan mirip Hinata.

"Aku sudah mendengar gossip-nya. Kau punya anak ternyata! Jujur aku penasaran siapa ibunya" bisik Dan pelan.

Sasuke tau arti ucapan itu.

"Itu rahasia" jawab Sasuke lalu menjauhkan dahi Dan yang semakin dekat dengannya.

Dan mengerucutkan bibirnya.

"Kalau ada masalah, kau harus cerita padaku, Sasuke-nii" goda Dan lalu makan dengan lahap.

"Ini masalah orang dewasa"

Dan merengut. "Kau selalu menganggapku anak kecil!"

"Tidak juga. Kalau aku menganggapmu anak kecil, tidak mungkin kita melakukan itu beberapa kali kan?" ucap Sasuke enteng.

Wajah Dan memerah. Sebagai pria dewasa pasti Sasuke juga punya kebutuhan biologis. Untuk itu Dan memakluminya. Wanita manis itu tidak ingin Sasuke berhubungan dengan banyak wanita. Hanya ia dan ibu dari anaknya Sasuke yang boleh *beep* dengan Sasuke!

.

.

.

.

"Untuk merayakan kepulangan Hinata, ayo kita bersulang!" pandu Ino.

Semua yang ada di sana bersulang. Ino, Sakura, Hinata, Tenten, Kiba, Shino, Naruto, Sai dan Lee sedang merayakan kepulangan Hinata.

"Sayang sekali Neji tak ada di sini" ucap Ino yang langsung membuat Tenten berada di pojokan dengan awan hitam di atasnya.

Miris.

Hinata menunduk mendengarnya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat yang lain bahagia. Senyum muncul di wajahnya yang sudah bertambah dewasa.

"Aku sudah menikah lho Hinata! Ino, Lee, Choji dan pastinya Hokage kita juga sudah" Kiba yang sudah menganggap Hinata adik yang paling semangat.

Hinata tersenyum mendengarnya. Ino bergunam pelan "Dasar sombong".

"Begitu ya. Lalu siapa pasanganmu?" tanya Hinata.

"Namanya Tamaki, dia punya kucing ninja. Awalnya aku tidak yakin mereka bisa bersama. Tapi ternyata mereka menikah" kali ini Shino yang menjawab.

"Kalian sudah punya anak ya?"

Seterusnya percakapan hanya di dominasi oleh Kiba, Naruto, Lee dan Ino. Choji masih sibuk dengan makanannya, Tenten masih meratapi Neji dan Sakura hanya diam.

Semenjak Hinata pergi ia selalu merasa bersalah. Ia merasa jahat karna merebut pusat hidup Hinata. Tapi ia juga berhak bahagia kan? Lagi pula awal dari semua adalah sebuah kecelakaan.

"Sampai jumpa semua" Hinata melambaikan tangannya pada yang lain.

Wanita itu melintasi toko peralatan menjahit dan tertarik untuk mampir.

"Oi! Kau di sini"

Hinata menatap Tenten terkejut. Tenten identik dengan senjata dan sekarang ia berada di toko peralatan menjahit.

"Kau beli apa?" tanya Hinata.

"Oh.. aku beli bahan untuk merajut. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya"

Tenten menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hinata tertawa lalu menawari Tenten belajar padanya.

.

.

.

Sore harinya yang suram. Awan berwarna abu-abu menutupi langit.

Yui, Irie dan Natsu masih berada di tempat latihan. Mereka baru sampai di Konoha kemarin malam dan paginya langsung latihan. Kiba dan Akamaru tidak terlihat sedari pagi membuat mereka berlatih sendiri.

"Kalau tau begini aku akan memilih tidur seharian di rumah" Yui sedari tadi menyesal karna datang kemari.

"Dasar gadis malas!" ejek Natsu sambil geleng-geleng.

Yui mendelik dan melempar sebuah kunai ke arah Natsu. Natsu menghindar dan mengejek Yui. Melihat itu Yui kembali menyerang Natsu.

"Hei! Sudah-sudah! Kalian ini jangan saling menyerang begitu!" Irie mencoba menghentika aksi Yui dan Natsu.

"Iya Yui-chan! Tadi aku hanya bercanda! Kau jangan marah begitu dong!"

Yui akhirnya berhenti dan memunguti kunai-kunainya yang menancap di pohon-pohon.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah semak-semak. Ketiganya mengambil posisi siap.

"To-tolong!"

Yui menyipitkan matanya melihat seorang pria berjalan tertatih-tatih dengan bahu terluka mengeluarkan darah.

Irie dan Natsu lagi-lagi meributkan hal tidak penting tentang pria itu. Yui menghampiri pria itu karna mengenalinya. Pria itu tetangganya di rumah susun.

"Apa yang terjadi padamu, paman?"

Yui mencoba menyembuhkan pria tadi dengan ninjutsu medisnya. Yui bisa melihat bahwa luka itu lumayan dalam dan ada racun di dalam luka itu.

"Tadi aku dan rombonganku sedang berdagang ke Taki Gakure, tiba-tiba ada beberapa ninja jahat yang menghadang rombongan kami. Semua tewas sedangkan aku dibiarkan lolos untuk mengatakan insiden tadi pada Konoha"

Yui terlihat berpikir. Akhir-akhir ini banyak ninja pelarian yang membuat masalah di desa-desa kecil. Contohnya saja Yuuko.

Yui berniat mengatakan ini pada Kiba nanti. Ia fokus menyembuhkan luka paman itu.

"Dari pada kalian berdua meributkan sesuatu yang tidak jelas, tolong katakan pada salah satu ninja medis di rumah sakit bahwa di sini ada orang yang terluka"

Keduanya mengangguk dan pergi. Sementara itu Yui masih fokus menyembuhkan luka pria itu.

"Tolong tahan sedikit lagi ya, paman"

.

.

.

Jauh di dalam hutan yang lebat, seorang pria berjubah hitam menyeringai. Tinggal sedikit lagi ia akan menghancurkam mereka. Pria dengan masker itu menatap pasukannya yang sudah ia bentuk.

"Semua sudah selesai, Tuan. Para anggota Akatsuki juga sudah dibangkitkan"

Seorang bawahannya menunduk memberi hormat pada sang Tuan.

"Bagus! Cari lebih banyak tumbuhan beracun untuk berjaga-jaga" titah San Tuan.

Bawahannya memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan yang penuh dengan manusia yang berada dalam keadaan kaku.

Sang Tuan pergi dari ruangan itu dan menutup pintu hingga ruangan itu gelap.

Salah satu dari manusia kaku itu bergerak. Matanya yang berwarna merah menyala dalam gelap.

"Apa ini edo tensei?" gunamnya.

.

.

.

.

Sakura memuji Yui karna berhasil menyembuhkan pria yang terkena racun.

"Kau memang hebat, Yui"

"Terima kasih, Sakura-sensei"

Sakura tertawa. Wanita yang sedang hamil itu memang mengajar ninjutsu medis bagi para kunoichi.

Dan salah satu yang hebat adalah Shan-Shan dan Yui.

"Sayang sekali kau tidak menerima tawaranku. Padahal kau adalah muridku yang berbakat"

Yui hanya tersenyum tipis.

"Menjadi muridmu memang menjadi kehormatanku. Dan mungkin bisa jadi legenda selanjutnya. Tapi aku lebih tertarik menjadi sebuah legenda baru" jawab Yui.

Sakura terkekeh dan mengelus pundak Yui.

"Kukira kau tidak ingin menjadi ninja medis karna tidak bisa bertarung di garis depan"

Sakura lalu mengambil beberapa data medis yang baru ia dapat dari asistennya.

"Kalau aku perlu bantuan, kau tidak keberatan kan membantuku?"

"Tentu saja"

.

.

.

Hinata berulang kali merubah posisi tidurnya. Di luar sana hujan deras. Hiashi dan Hanabi sedang tidak ada di mansion.

"Kau berada di sini rupanya"

Hinata terkejut melihat Sasuke yang tiba-tiba menindihnya. Matanya melebar.

"Kenapa tidak bilang hum?"

"A-aku..."

Sasuke menahan kedua tangan Hinata yang berusaha mendorong dadanya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di leher Hinata.

"Tadi aku bertemu dengan Yui. Dia setuju kalau kita bersama. Katanya dia juga ingin punya adik. Kita buat ya? Aku yakin kali ini pasti laki-laki"

Wajah Hinata memerah mendengar ucapan Sasuke. Wanita itu memalingkan muka saat Sasuke mendekatkan wajahnya.

"Se-sebenarnya Sasuke, aku ingin mengatakan sesuatu"

Kaki-kaki Hinata bergerak gelisah dan membuat Sasuke menggeram.

"Katakan"

"Sebenarnya anakmu bukan hanya Yui. Tapi ada satu lagi laki-laki yang berada di Kirigakure. Namanya Yuki dan julukannya Yuki si badai salju.

Jauh di Kirigakure sana, Yuki yang sedang berbenah mendadak bersin.

Sasuke tertegun. "Wahh... selama ini kau banyak menyimpan rahasia ternyata ya"

"Ma-maaf" pandangan Hinata tidak tenang.

"Hei! Tatap aku kalau sedang bicara"

Hinata bukannya tidak sopan. Tapi ia akut terkena genjutsu atau semacamnya pada Sasuke.

"Bisakah kau menyingkir dari atasku?"

"Tidak"

Sasuke melepaskan kedua tangan Hinata lalu memeluk wanitanya. Hinata kegelian saat Sasuke menggerakkan kepala di lehernya.

"Uhm"

Sasuke terkekeh mendengar lenguhan tertahan Hinata.

"Kita buat adik untuk Yui nanti saja. Mungkin di saat kita sudah menikah?"

.

.

.

TBC

Halo semua!

Aku kembali bawa chapter terbaru dari Innocent Liar! Ada karakter baru nih! Sebenarnya dari awal maunya ngga banyak karakternya tapi karna tiba-tiba kepengen suasana jadi rame ya gitu.

Sebenarnya aku bingung mau ngasi konflik apa. Maunya sih yang nggak berat. Maklum aku masih abal.

Karna pemantapan kabupaten udah lekar hari kamis aku baru update sekarang. Hari jum'at bantuin ibuku nyiapin sarana sembahyang karna hari ini Hari Raya Kuningan.

Btw Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan ya bagi yang merayakan Maaf kalau telat ngucapinnya ...

Kayanya aku bakal update lagi paling cepet hari jum'at deh. Karna hari senin aku bakal USBN.

Makasi ya buat yang udah review

Soal Mr X aku udah pilih dari awal lho siapa pemerannya. Maaf kalau nanti ada yang kecewa.