Title : Missin' U
Genre : Brothership, Family, Hurt, Tragedy
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Shim Changmin, Park Jungsoo, Kim Heechul
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Bad Plot, Ooc(Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it!
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot.
Summary : Dulu aku mengira tak ada yang salah dengan persaudaraan kita. Sekarangpun aku masih berpikir begitu. Tapi hyung, mengapa kau berubah? Aku merindukanmu yang dulu, yang memelukku ketika musim dingin datang, yang menggandengku ketika musim semi datang. Hyung—12 tahun, apa kau tak merindukanku?
.
.
Enjoy reading!
.
.
Chapter 8
Seoul University,
18 Juni, Pukul 11.00 KST
"Kyuhyun-sshi"
Kyuhyun mengeluh mendengar namanya dipanggil, terlebih ketika mengenali suara si pemanggil. Demi Tuhan, Kyuhyun sedang tak ingin bertemu dengan pemuda ini. Entah mengapa. Ia hanya merasa—ia tak bisa sering menunjukan wajahnya didepan pemuda itu. Ya. Seperti itu.
"Aku harus memulai penelitianku untuk menyelesaikan presentasinya" pemuda yang adalah Kibum itu kembali berucap ketika ia yakin Kyuhyun tak akan menjawab ucapan pertamanya.
Kyuhyun membalikan badan, "Aku mau makan siang" katanya. "Nanti saja"
"Kau harus bekerja setelah makan siang kan?" Kibum menatap datar Kyuhyun. "Aku sungguh tak punya waktu banyak, Kyuhyun-sshi" katanya dengan nada mengintimidasi andalannya.
Kyuhyun terkekeh sinis, "Belakangan ini aku selalu berpikir—aku tak perlu sering menunjukan wajahku didepanmu, Kibum-sshi. Karena—bocah sialan dan menyebalkan ini—"
"—pergilah makan siang" potong Kibum. Pemuda itu melangkah meninggalkan Kyuhyun yang hanya membatu ditempatnya. Keduanya terluka, tapi tak saling menyadari.
Pluk
Pluk
Pluk
Kibum menepuk dadanya keras. Sesak. Sakit. Ia bersumpah bahkan ia merasakan matanya mulai memanas. Tapi mengapa? Mengapa sampai ia merasakan ini? Ucapan itu—ucapan itu begitu membuatnya terluka kah? Tapi—bukankah itu yang selalu ada dalam pikirannya selama ini? Bahwa Kyuhyun adalah si bocah sialan dan menyebalkan? Lalu mengapa dadanya merasa sakit dan sesak?
"Kim Kibum!"
Kibum membalikan badan, menemukan sosok salah satu sepupunya tengah berjalan kearahnya. Dia Heechul.
"Paman Kim menyuruhku menjemputmu. Mengapa kau tidak membawa mobilmu huh? Merepotkan" katanya dengan wajah kesal.
Kibum mencibir pelan, "Aku bukan anak kecil, Heechul hyung. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir padaku" katanya.
"Oh—tentu saja. Aku hanya mencoba menjadi keponakan yang baik untuk Pamanku" Heechul mencibir. "Ayo pulang. Kau sudah tidak ada jadwal lagi kan?! Aku harus segera ke restoranku"
Kibum menggelengkan kepalanya. "Tidak. Pulanglah sendiri. Aku sedang dalam persiapan untuk kompetisi antar universitas"
Heechul mengeluh mendengarnya. Pemuda itu menghela nafas sebelum berucap pada Kibum. "Baiklah. Lagipula aku tidak tertarik mengikuti persiapanmu. Dan—katakan pada Ayahmu kalau aku sudah menjemputmu, Kibum" katanya kemudian menepuk puncak kepala Kibum dan berlalu.
Heechul menyunggingkan senyum –meski itu terlihat seperti seringai, ketika membalikan badan. Ia bersyukur Kibum tak menanyakan apa dirinya mengetahui kompetisi ini atau tidak. Meski pada kenyataannya dirinya merasa khawatir lagi. Semoga, semuanya seperti yang Jungsoo pikirkan.
Kafe Lim
18 Juni, Pukul 19.00 KST
Shindong menyenggol lengan Jinki ketika melihat Kyuhyun nampak sibuk dengan makan malamnya disalah satu meja didalam dapur mereka. Keduanya mengangguk, sepakat untuk mendekati magnae mereka. Ya. Kyuhyun adalah yang termuda disana.
"Kyuhyunie—" Shindong menggantung kalimatnya, membuat alis Kyuhyun bertaut. "—kau sakit?" lanjutnya.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak. Apa karena wajahku yang pucat? Ayolah hyung—wajahku memang pucat dari lahir"
"Kami hanya merasa seperti melihat hantu ketika melihatmu, Kyuhyun" Jinki menjawab, menyodorkan segelas air putih yang diambilnya untuk Kyuhyun. "Dan—sebaiknya kau perbaiki porsi makanmu" lanjutnya.
Kyuhyun mengerjapkan matanya, membuat Jinki dan Shindong bersumpah kalau bocah didepannya begitu sangat menggemaskan. Pemuda itu meneguk air yang diberikan oleh Jinki, kemudian berdiri. "Aku kerja dulu"
Shindong dan Jinki hanya menatap punggung Kyuhyun yang menjauhi keduanya. Mereka tak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran Kyuhyun. Kyuhyun seperti sebuah misteri sendiri. Entah apa yang ada didalam pikirannya saat wajah itu tersenyum dan menangis.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, tak paham dengan perubahan sikap orang-orang disekitarnya. Pertama perubahan sikap Kibum yang seolah ingin mendekatinya –namun ia tak yakin alasan utama Kibum mendekatinya, dan sekarang dua teman kerjanya –Jinki dan Shindong, yang berusaha akrab dengannya. Ya memang, ia cukup dekat dengan Shindong karena pria tambun itu sering memberinya dessert dan menjanjikan dirinya untuk belajar masak. Tapi Jinki? Pemuda bermata sipit itu tidak terlalu dekat dengannya.
"Mungkin aku terlalu lelah hingga berpikir macam-macam" katanya sambil membereskan salah satu meja yang baru saja ditinggalkan pengunjungnya.
"Kupikir—sekarang aku bisa—bertanya padamu"
Deg
Jantung Kyuhyun seperti berhenti berdetak dalam beberapa detik tadi. Oh—suara itu lagi. Sepasang obsidian caramel Kyuhyun menatap datar pemuda yang kini berdiri didepannya dengan tatapan datarnya –tatapan yang tak pernah disukai Kyuhyun, meski pada akhirnya ia juga melakukan hal yang sama –pandangan datar.
"Kau tidak melihat aku sedang bekerja, Kibum-sshi?"
"Benarkah?" Kibum nampak mengulum senyum –meski Kyuhyun melihatnya sebagai seringai mengerikan.
"Aku—"
"Kau sudah datang Kibum-sshi? Oh—sudah bertemu Kyuhyun juga?" Kyuhyun menatap Tuan Lim dengan pandangan bertanya. "Kim Kibum mengatakan padaku bahwa kau dan dia dipilih menjadi wakil Seoul University untuk kompetisi akhir minggu ini. Jadi aku mengijinkan dia meminjammu jika dia membutuhkanmu. Dan mengapa kau tak mengatakannya padaku?"
Terjawab sudah! Kyuhyun menghela nafas, mencoba memberikan senyum pada Tuan Lim. Bukankah bagaimanapun Tuan Lim tak tahu apapun? Entah itu masalahnya, ataupun kompetisi ini?
"Kyuhyunie—kau boleh istirahat sekarang" tegas Tuan Lim, pria paruhbaya itu menepuk pundak Kyuhyun sebelum berlalu kembali masuk kedalam ruangannya. Entahlah, apa pria itu melihat raut kesal Kyuhyun atau tidak.
Bruk
Kyuhyun mendudukan dirinya dikursi dengan suara keras. Tak memperdulikan beberapa pegawai dan pengunjung yang meliirik karena merasa terganggu oleh ulahnya. Pemuda itu menatap Kibum, member kode dengan matanya untuk Kibum duduk.
"Jadi—apa yang ingin kau tanyakan?"
Kibum mengambil buku dari dalam ranselnya, siap menulis jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan pada Kyuhyun. "Phobia apa yang kau derita?"
"Gelap"
Asli Kibum bertaut, "Sejak kapan? Dan—apa penyebabnya?"
Kyuhyun menatap bosan pada Kibum, kemudian mengambil pose berpikir, "Sudah lama, mungkin 13 sampai 14 tahun lalu. Saat seseorang mengunciku didalam kamar mandi yang gelap" jawabnya. "Kuharap itu cukup untuk hari ini" lanjutnya berniat mengakhiri.
"Kau—kau tahu siapa yang menguncimu?"
"Apa itu begitu penting? Apa dengan mengatakan siapa seseorang yang mengunciku dikamar mandi, phobia ini akan hilang?"
Kibum membeku ditempatnya. Ia tak bisa membaca tatapan mata Kyuhyun, tak bisa membaca raut wajah Kyuhyun dan—ia tak bisa membaca kalimat ambigu yang ditanyakan Kyuhyun. Kibum hanya—ia hanya merasa bersalah sekarang. Bagaimana mungkin ia tak tahu?
"Kau mengetahui siapa yang melakukannya" ucap Kibum. "Mengapa kau tak marah padanya?" tanyanya dengan emosi yang entah mengapa menjadi tinggi. Pemuda itu menatap tajam sepasang obsidian caramel milik Kyuhyun.
Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada kursi, "Karena—". Kyuhyun mengumpat kesal ketika arloji ditangannya berdering –menunjukan jam dimana dirinya harus mengonsumsi obat –yang dia cap sialan. Pemuda itu berdiri dengan gerakan gusar, "Pulanglah. Besok kita lanjutkan lagi"
Sreet
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku"
Kyuhyun melirik tangan Kibum yang menyentuh kulitnya. Sentuhan itu masih sama seperti dulu –saat dirinya masih bocah kecil saja, masih hangat dan menenangkan. Dan entah mengapa, Kyuhyun merasa dadanya kembali sesak. Sial.
"Jawaban seperti apa yang kau inginkan, Kim Kibum?" dilepaskannya tangan Kibum yang menggenggam lengannya dengan gerakan kasar. "Kau tahu mengapa aku melakukan itu. Lalu—apa yang kau inginkan sebagai jawaban?"
Kibum membeku ditempatnya –lagi. Ia bahkan hanya mampu memandangi punggung Kyuhyun yang berjalan menjauhinya tanpa berniat mencegahnya lagi. Ucapan ambigu Kyuhyun kini memenuhi otak jeniusnya.
"Kau tahu mengapa aku melakukan itu. Lalu—apa yang kau inginkan sebagai jawaban?"
Samsung Hospital
19 Juni, Pukul 10.00 KST
"Obatku habis"
Dokter Choi itu menganggukan kepalanya pada sosok pemuda pucat didepannya. Pria itu menulis kembali resep yang sama seperti yang selalu diberikannya pada pemuda pucat itu.
"Aku menambah dosismu, Kyuhyunie. Ini karena setelah pemeriksaan tadi, aku merasakan fungsi jantungmu kembali menurun" Dokter Choi berucap. "Pneumothorax-mu juga sering kambuh akhir-akhir ini kan?" tanyanya setelah memeriksa catatan kesehatan Kyuhyun.
Kyuhyun menganggukan kepalanya singkat. Ia tahu percuma berbohong pada dokter muda itu "Jadi—berapa lama aku—"
"Tidak ada yang seperti itu, Cho Kyuhyun. Kau tahu bukan dokter yang menentukan hidup manusia. Ada Tuhan, Cho. Kau harus percaya itu. Dan—kau tahu ayahmu selalu berusaha mencari donor jantung untukmu kan?"
Kyuhyun tersenyum miris, "Aku merasa buruk karenanya. Aku mungkin bukan seorang yang pintar dengan ilmu kedokterannya, tapi aku tahu mencari donor jantung itu sangat sulit. Tapi—demi ayahku, aku akan bertahan, Dokter Choi"
"Anak yang pintar" Dokter Choi tersenyum lebar.
"Aku hanya sering berpikir—mengapa semua penyakit senang sekali menempel pada tubuhku?"
Dokter Choi tersenyum mendengar pertanyaan Kyuhyun. Ia melihatnya kini. Bocah minim ekpresi itu menunjukan sikap yang berbeda –meski itu adalah putus asa. Setidaknya ia tahu, pemuda itu juga manusia yang punya ekspresi untuk ditunjukan.
"Ada orang-orang yang bahkan lebih menderita darimu. Mereka tidak punya orang yang mendukung mereka seperti Tuan Cho yang mendukungmu. Mereka tidak punya teman seperti temanmu yang cerewet itu. Setidaknya—kau masih punya banyak alasan untuk tetap hidup, Kyuhyunie"
Kyuhyun menganggukan kepalanya. Dokter Choi benar. Ia masih punya beberapa alasan untuk hidup lebih lama –meski harus ia akui, alasan utama hidupnya sudah tak bisa ia berikan. Tapi—ia tahu ada ayahnya dan Changmin yang bisa ia jadikan alasan untuk hidup.
"Pneumothorax memang tidak bisa sembuh, tapi kau bisa mengurangi kemungkinan kambuhnya. Phobia-mu pada gelap, aku yakin bisa disembuhkan. Kau bisa melakukan terapi khusus. Dan—jantungmu itu. Percayalah akan ada donor untukmu. Kau orang baik, dan aku selalu percaya kalau orang baik akan mendapatkan sesuatu yang baik pula"
"Daripada seorang dokter, anda lebih mirip seperti seorang pendeta, Dokter Choi" cibir Kyuhyun, meski tak urung hatinya menjadi lebih lega ketika bercerita pada dokter muda itu. "Terimakasih. Tapi sungguh aku benci sekali melihat obat-obat ini"
"Kau sudah berteman dengannya sejak kecil, Cho! Jangan berlebihan"
Kyuhyun mempoutkan mulutnya. "Ibuku—apa ibuku juga sudah berteman dengan obat sejak kecil? Ayahmu pasti tahu kan?"
"Kau ingin aku bercerita?" tanyanya.
Kyuhyun mengangguk, "Kalau anda tak keberatan"
Dokter Choi menyandarkan tubuhnya pada kursi, "Kanker memang mematikan Kyuhyun. Dia menggerogotimu dari dalam. Tapi Ibumu sungguh wanita yang hebat. Saat Ayahku memvonisnya menyidap penyakit mematikan itu, dia hanya tersenyum dan berjanji akan menjalani sisa hidupnya dengan baik" jeda, Dokter Choi menghela nafas. "Siapa sangka bahwa dia bisa hidup lebih lama? Padahal dokter memvonis hidupnya hanya beberapa tahun lagi. Tapi kau lihat? Dia bahkan bisa bersamamu 6 sampai 7 tahun kan?"
"Ibuku memang orang yang hebat. Saat melihatku kesakitan, dia akan tersenyum menenangkanku, padahal aku tahu dia begitu ingin menangis dan selalu berdoa agar sakitku dia saja yang menanggungnya" Kyuhyun menerawang. "Aku ingin bertahan untuk mewujudkan impiannya"
"Kau pasti bisa, Kyuhyunie"
Kyuhyun menganggukan kepalanya, mengambil resep dari tangan Dokter Choi. Pemuda itu membungkuk sekilas sebelum berlalu keluar ruangan dokter muda itu. Kyuhyun menatap resep ditangannya. Perlahan kakinya mulai melangkah menuju apotik dengan helaan nafas kasar yang ia lakukan. Lagi-lagi ia harus menambah mengkonsumsi obat-obatan. Tsk—
Kim's Mansion
19 Juni, Pukul 16.30 KST
Kibum membungkuk pada kedua orangtuanya yang berpamitan akan ke luar negeri untuk urusan bisnis dalam beberapa hari kedepan. Pemuda itu tak merasa kesal seperti biasanya, malah ia merasa senang. Karena—ia seorang diri dirumahnya.
Kibum membalikan badan, berjalan cepat menuju kamarnya. Ia menutup pintu dengan keras kemudian langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur king size. Pemuda itu menghela nafas kemudian menghembuskannya kasar. Ia melakukanya beberapa kali dan masih saja ia tak merasa tenang.
"Kau tahu mengapa aku melakukan itu. Lalu—apa yang kau inginkan sebagai jawaban?"
"Aku tahu mengapa kau melakukan itu?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Dia tahu aku yang melakukannya, tapi mengapa dia tak mengatakan apapun?"
Kibum menerawang, mengingat saat dirinya dengan sengaja mengunci Kyuhyun didalam kamar mandi. Saat itu dia mengabaikan teriakan Kyuhyun, bahkan mencoba mengambil perhatian Ibunya yang merasa bahwa Kyuhyun membutuhkan bantuan. Dia berhasil saat itu. Ibunya menemaninya membeli beberapa keperluan sekolah. Lalu—ia kembali kedalam kamar Kyuhyun. Ia cukup khawatir karena tak mendengar suara teriakan Kyuhyun. Dan—
Musim Panas, tiga belas tahun lalu
Bocah itu berhasil membuka pintu kamar mandi yang tertutup. Sepasang mata hitamnya terkejut ketika mendapati sosok bocah dengan pipi chubby itu terduduk dengan tubuh gemetar dan bibir membiru. "Kyu" panggilnya membuat bocah dengan pipi chubby itu mendongkrak.
"Bum hyung" cicit Kyu dengan wajah sembabnya. "Kyu takut"
"Tenang. Ada hyung disini. Ayo kita keluar"
Ditariknya Kyu –Kyuhyun, oleh Kibum. Bocah itu menuntun Kyuhyun untuk berbaring diatas kasur lalu menyelimuti adiknya dengan selimut hangat.
"Jangan tinggalkan Kyu" cegah Kyuhyun ketika Kibum hendak berlalu. "Kyu takut" cicitnya lagi. Kibum mengangguk singkat, kembali duduk ditepi ranjang.
"Apapun alasannya hyung tak boleh meninggalkanku. Aku—aku sangat menyayangimu, Bum hyung. Tidak peduli apapun yang telah dan akan terjadi"
Kibum menganggukan kepalanya. Ia tak paham dengan ucapan adiknya. Namun, sepertinya hanya dengan menganggukpun ia bisa melihat senyum berkembang diwajah pucat adiknya. Dan itu sudah membuatnya sedikit lega.
"Tidurlah. Besok kita harus bersekolah"
Seoul University
20 Juni, Pukul 13.00 KST
"Apa Dad?" Kyuhyun mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Ayahnya diujung telepon. Pemuda itu buru-buru menelan makan siangnya sebelum tersedak mendengar ucapan ayahnya selanjutnya.
"Oh—aku tak apa—iya, jangan khawatir—tidak—ya Tuhan, Dad, aku bukan anak kecil—okay, I know Daddy. Bye"
Klik
"Ayahmu?" Changmin bertanya begitu Kyuhyun memutuskan sambungannya dengan ayahnya.
Kyuhyun mengangguk sebagai jawaban. "Daddy selalu merasa khawatir padaku" akunya. "Jadi—dia akan bertanya padaku apakah aku sudah makan? Atau—apakah aku memerlukan sesuatu?"
"Seperti anak papi?"
Kyuhyun mengangguk. Pemuda itu melanjutkan makan siangnya. Changmin juga melakukan hal yang sama. Pemuda itu bahkan tidak berbicara lagi setelahnya –karena terlalu lapar mungkin. Dan Kyuhyun bersyukur karenanya –setidaknya makan siang kali ini ia sedikit merasa tenang.
"Kibum sunbaenim?!"
Changmin terpekik ketika Kibum tiba-tiba saja mendudukan dirinya pada satu sisa kursi yang ada dimejanya dan Kyuhyun. Pemuda itu menatap tajam Kibum, namun Kibum memperhatikan Kyuhyun yang nampak acuh dengan kehadirannya. Atau—sebenarnya pura-pura acuh.
"Apa yang kau lakukan disini? Pergilah, cari meja yang lain"
Kibum melirik Changmin dengan tatapan datarnya, "Ini tempat umum dan aku berhak duduk dimanapun aku mau, Shim Changmin" tuturnya dingin.
"Tapi kau—"
"Biarkan saja Chwang. Dia memang ada perlu denganku. Kau kekelas saja dulu. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan keperluanku dengan Kibum-sshi"
Changmin ingin membantah, namun pandangan Kyuhyun yang mengarah padanya membuatnya tak berkutik. Maka pemuda kelewat tinggi itu segera berdiri, meneguk kasar es teh manis dari gelasnya kemudian berjalan menjauh –setelah terlebih dahulu memberikan tatapan kesal pada Kibum –yang masih saja tak menganggapnya.
"Jadi—apa lagi sekarang, Kim? Kau tak ingin menanyakan mengapa aku tak marah padanya kan?"
"Kyuhyun—" Kyuhyun mengangkat wajahnya dengan enggan. "—apakah kau tak pernah mencoba menyembuhkan phobia-mu? Setahuku phobia seperti itu akan bisa disembuhkan" Kyuhyun kecewa. Kibum mengabaikannya dan bertanya seolah melupakan pertanyaan mengapa ia tak marah padanya.
Kyuhyun menelan nasi didalam mulutnya, "Ibuku selalu membawaku ke tempat terapi disetiap negara yang kami kunjungi. Tapi—tidak ada hasil yang baik" katanya sambil menerawang jauh. Mengingat saat Ibunya sering sekali memaksanya datang ke terapi setelah pulang sekolah. Dan ya hasilnya tetap saja, ia tak bisa tidur dengan keadaan gelap.
"Ibumu?"
"Ya. Ibuku"
Dan Kibum merasakan dadanya bergemuruh. Ada perasaan kesal dan marah juga tak rela yang merasukinya. Ibunya, Kyuhyun bilang?
*TBC*
Akhirnyaaa bisa update juga ^^
Makasih buat semua yang nge-review fanfic ini maupun yang lainnya. Maaf ngga aku bales satu-satu
Sampai jumpa dichapter selanjutnya ya ^^
