Summary : Amara, The Vampire Princess bersama Vampire pelayan pertamanya, Hakuren... berdua, mereka menjebol pertahanan laboratorium yang dijaga unit Black Hawk. Dalam upaya meloloskan ratusan Mutant yang ditahan di laboratorium dengan kekuatannya, Amara yang hampir terkena serangan Haruse menyebabkan Hakuren terluka parah. Melihat Hakuren terluka parah akibat melindunginya, Amara naik pitam hingga menyerang balik dan menyebabkan Haruse sekarat. Dalam persembunyiannya, Amara mengobati Hakuren, dan mereka berdua tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing. Namun, Hakuren terbangun karena merasakan ada penyusup yang ternyata adalah para bawahan ibu Amara, ibu kandung The Vampire Princess, The Queen of Vampire.
Note :
"…" (Bold dialog) = bahasa Raggs yang digunakan kaum Vampire (Mutant)
"…" (Italic dialog) = kata-kata dalam alam mimpi & kata-kata yang diucapkan dalam pikiran
"…" (Bold & Italic dialog) = kata-kata telepati
"…" (normal dialog) = bahasa Barsburg yang digunakan manusia biasa
Chapter 8 – Disturbia, Going Crazy
.
What's wrong with me?
Why do I feel like this?
I'm going crazy now
.
Terlihat laboratorium yang menahan ratusan Mutant yang dijadikan kelinci percobaan.
Amara menoleh ke arah Hakuren "Hakuren, kau tunggu disini…".
Hakuren berusaha mencegah Amara mengingat keberadaan Black Hawk "tapi…".
Tanpa aba-aba, Amara mencengkram leher Hakuren dan mencium bibirnya "tunggu disini, saat kuberi tanda, nyalakan kembang api untuk jalan keluarku, oke?".
Hakuren pun bungkam "kh…".
Saat Amara masuk ke dalam beberapa menit lalu, Hakuren bersungut "…tapi nggak perlu menciumku segala, hanya untuk membuatku diam, kan?".
"aku bisa dengar itu dengan jelas, Hakuren…".
Hakuren tertegun, rupanya Amara pun memiliki telepati yang membuatnya bisa membaca pikiran serta mengirimkan pikiran pada orang lain. Amara menutupi wajah dan rambutnya dengan kerudung serta cadar berwarna merah sebelum maruk ke dalam laboratorium. Setelah melumpuhkan kamera pengawas serta mengeluarkan para Mutant dari sel, Amara mengirim sinyal pada Hakuren.
DUAR!
Terdengar ledakan di laboratorium yang menyebabkan sebagian dinding laboratorium luluh lantak. Di tepi hutan, terlihat bulan purnama di malam yang indah ini. Amara menemui Hakuren bersama dengan para Mutant yang ia bebaskan, kemudian membuat sebuah lingkaran dengan zaiphonnya (sebenarnya lingkaran ini merupakan gate, gerbang yang bisa menghubungkan mereka ke tempat lain).
Saat Amara hampir menyelesaikan gate-nya, Hakuren menepis serangan yang ditujukan pada Amara, serangan itu tidak lain dari Black Hawk "mereka lagi, rupanya… tuan putri, lanjutkan saja tugas anda sementara aku akan menahan mereka".
Amara tersenyum dan menyuruh para mutant untuk kabur melalui gate "aku mengandalkanmu, Hakuren".
Tinggal 3 Mutant yang tersisa paling belakang, yaitu seekor werewolf, seekor rubah dan seekor wanita bersayap (harpy lady). Haruse berhasil menyeruak dan menyerang Amara. Hakuren melempar gelombang angin pada Konatsu, Hyuuga dan Kuroyuri yang membuat ketiganya terlempar.
"AMARA?!" Hakuren terkena serangan Haruse, tepat di bagian jantung yang membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.
"Hakuren?" Melihat Hakuren yang terbaring dengan darah yang mulai mengucur, detak jantung Amara bergejolak. Amara yang naik pitam melompat ke belakang Haruse sembari membuka cadarnya dan menerkam Haruse.
"ARGH?!" teriak Haruse yang darahnya dihisap Amara.
Kuroyuri segera bangkit "HARUSE?!".
Amara kembali memakai cadarnya dan melemparkan tubuh Haruse kepada Kuroyuri "ambil kalau kau mau, dan satu hadiah dariku".
Setelah melapalkan mantera, muncul lubang hitam di langit yang memunculkan sesosok makhluk.
"Cerberus, tahan mereka sampai aku pergi, setelah itu kau boleh kembali ke neraka" ujar Amara sembari memapah Hakuren.
benar saja, Cerberus hilang setelah Amara dan Hakuren hilang bersamaan dengan lenyapnya gate.
Gereja St. Michael menjadi tempat pelarian mereka, Amara meletakkan Hakuren di kapel "dasar bodoh, melindungiku sampai jadi begini…".
Hakuren mulai sadarkan diri "…apa kita aman?".
"aku sudah memasang barrier di sekeliling tempat ini, jadi tenang saja".
"dimana ini… akh?!".
"itu karena kau bergerak sembarangan… diamlah, sementara kuobati lukamu".
Amara mengambil belati yang berkarat yang ada di dekat situ, belati itu kembali seperti baru setelah dirafalkan mantera oleh Amara. Setelah mengukir llingkaran sihir, Amara mengiris jari tangannya dan meletakkan tangannya yang berdarah di dada Hakuren.
Secara ajaib, luka Hakuren menutup "Lain kali, jangan gegabah. Meski luka Vampire akan sembuh sendiri, Vampire tetap bisa sekarat kalau jantungnya yang kena".
Saat Amara hendak beranjak keluar, Hakuren menahan tangannya "…maaf, sudah merepotkan…".
Amara menepuk dada Hakuren sehingga Hakuren kesakitan "dasar bodoh, untuk apa kau minta maaf? Berbanggalah, karena kau berhasil melindungiku. Aku hanya ingin mencari makan, sementara itu kau istirahatlah, kau belum pulih total".
Setelah itu, Amara keluar untuk beberapa saat, dan Hakuren terlelap di lantai kapel utama. Saat Amara kembali, ia memeriksa keadaan Hakuren. Amara yang menyadari kalau Hakuren demam akibat lukanya, menanggalkan pakaiannya hingga kini hanya memakai selembar baju dress. Amara pun berbaring di samping Hakuren "jangan mati, Hakuren. Kau sudah janji padaku, kan? tetaplah di sampingku".
Saat Amara tertidur lelap, Hakuren membuka matanya dan menerbangkan jubah Amara untuk menutupi tubuh Amara "yes, your highness…".
Hakuren pun kembali tertidur, mereka berdua terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Amara's POV…
"dan perlu kau ketahui, ada orang yang tak bisa kubaca pikirannya tadi malam, berhati-hatilah saat pulang".
"ada satu peristiwa aneh yang terjadi setelah pemakaman massal. semua jenazah dimasukkan ke liang lahat sampai semua dimakamkan, jenazahnya masih ada. Tentu saja, acara ini tak diikuti putri mereka yang kehilangan ingatannya. Tapi, 13 hari setelah pemakaman massal, ada yang membongkar makam-makam tersebut, tapi hanya makam pasangan suami istri itu yang masih utuh".
"tepatnya 13 hari setelah peristiwa itu, semua kuburan dari pemakaman massal itu dibongkar, dan yang hilang hanya jenazah ayah dan ibu Mary".
"bukankah diberitakan kalau makam yang masih utuh itu justru hanya makam ayah dan ibu Sabrina?".
"kamilah yang mengembalikan makam itu seperti sedia kala dan memberi kesaksian bahwa tak ada jenazah yang hilang.kalau saja kami tak tertipu oleh pria itu, peristiwa 10 tahun yang lalu tak akan terjadi, dan Mary tak perlu kehilangan orang tuanya. pria itu bernama Verloren, menantu presiden terdahulu, suami nyonya Eve. Verloren dihukum mati, anggota keluarganya tak sanggup menahan malu bunuh diri. Hanya satu anggota keluarga yang tersisa, putra semata wayang Verloren, Ayanami, kepala unit Black Hawk"
"uskup itu bernama Fair Kreuz dan istrinya Milla". "Sabrina!? Kenapa kau lari?". "…Teito, aku…".
Sabrina melihat kedua telapak tangannya "aku sudah…".
"kenapa teringat masa lalu, Sabrina?".
Sabrina menoleh ke belakang, seorang gadis yang bagai pinang dibelah dua dengannya "Mary… kau tahu kan, akulah yang menyimpan sisi lembut Amara, sedangkan kau sisi kuat Amara. Tidak sepertimu, aku tak tahan saat melihat Hakuren terluka".
Mary duduk di samping Sabrina"kau lupa kata-kataku? Kau memang memegang kesedihan, tapi aku memegang amarah, kau kira aku tak marah saat Hakuren terluka? Sama seperti kesedihanmu, Aku pun marah saat Hakuren terluka. Ingatlah lagi, untuk apa kita bersatu dan menjadi Amara?".
Sabrina berbaring di tepi sungai "di dalam hati kita ini, kita memang bebas mengekspresikan perasaan kita, ya… kau benar, sampai kita menemukan apa alasan Verloren melakukan hal itu 10 tahun yang lalu pada ibu, kita harus tetap bergerak".
Mary tersenyum "benar… yang membuatku penasaran, kau ingat kan kalau kita bertatap mata dengan Ayanami saat kita kabur tadi? aku merasa kalau dia pasti tahu sesuatu".
"Hakuren… haruskah kita beritahu dia?".
"entahlah, hanya saja… itu keputusanmu sebagai salah satu sisi lembut Amara, kebijaksanaan".
"hei, kau juga punya andil, sebagai sisi kuat Amara, ketegasan".
"tunggu, kita harus bangun. Hakuren terbangun… ada aura lain selain Hakuren dan para Mutant yang kita selamatkan".
Aku membuka mata dan melihat Hakuren ada di depanku tengah bersiaga "kenapa, Hakuren?".
"ada penyusup, tuan putri…".
Saat Hakuren memegang belati untuk melindungiku, aku berdiri "siapa kalian? Lancang sekali… Tunjukkan diri kalian di hadapanku, sekarang?!".
Move to Hakuren's POV…
Malam itu, aku baru saja pulang dari tempat les. Aku merasa lelah karena banyak hal yang terjadi di sekolah tadi, yah… banyak hal. Malam itu bulannya terang sekali sampai-sampai aku dapat melihat dengan jelas jalan-jalan yang tak ada penerangannya ini. Tiba-tiba, dari atap tembok orang, aku melihat muncul bayangan dari sosok misterius. Aku mendongak ke atas untuk melihat sosok misterius tersebut dan hampir tak percaya atas apa yang kulihat. Belum sempat lepas pikiranku yang mengatakan betapa indahnya sosok tersebut malam ini, kejadian ini terasa berlangsung cepat sekali. Sosok cantik itu menerkam dan menghisap darahku bak binatang buas. Gadis itu menjilat darahku yang menempel pada jemari tangan yang disertai kuku-kuku lentiknya, sorot matanya begitu liar dan tajam seperti binatang buas. Aku terbaring lemah sambl memegang leherku yang diterkamnya, menahan kesakitanku sambil menatap lekat sosoknya yang diterangi sinar bulan itu. Dengan tangan dan pipi yang terkena cipratan darahku, ia menundukkan tubuh, menyentuh wajahku sambil tersenyum.
"maaf, ya? Tapi, kau tidak tahu… betapa hausnya aku setelah 10 tahun tertahan oleh gadis ini".
Aku merasa mengerti apa yang ia ucapkan meski ia berbicara bukan dalam bahasaku.
"…apa… …maksudmu… …Sabrina?".
Setelah tersenyum misterius, dia menaruh telunjuknya di bibirku "namaku Mary, bukan Sabrina…".
"…kenapa…".
Aku tak dapat melanjutkan ucapanku, detak jantungku yang semula sangat cepat terasa semakin melemah akibat banyaknya darahku yang keluar.
"ah, tidak lupa sebagai ucapan terima kasih, takkan kubiarkan kau mati disini…".
gadis itu menggigit bibirnya dan menciumku, membuatku meminum darahnya. Setelah itu, gadis itu menyandarkanku di tembok.
"paling lambat besok, reaksinya akan muncul… terima kasih atas darahmu, ya…".
Gadis itu mencium keningku dan melompat ke atas tembok, menghilang di antara atap-atap rumah. Tubuhku masih terasa lemas dan aku tertidur. Saat terbangun di pagi hari, aku sudah ada di kamar.
Shuri membuka pintu kamarku "Hakuren, udah pagi?!".
Aku memegangi kepalaku yang terasa pusing "ketok pintu dulu baru masuk…".
Shuri masuk kamarku tanpa menghiraukan ucapanku dan menghampiriku "kenapa ada darah di bajumu?! Kamu terluka?! Yang mana yang sakit?!".
"tenang dulu, dodol… ini bukan darahku…".
Setelah berganti baju, kami berdua berangkat ke sekolah. Saat hendak ke auditorium, di tengah kerumunan orang banyak aku merasa pusing dan mual. Akhirnya, aku tak bisa menahannya lagi… saat aku berada di auditorium, aku semakin merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Shuri yang melihatku sadar akan kondisiku dan mengantarku ke UKS. Saat berbaring di UKS, aku bersyukur karena Shuri membawaku keluar dari kerumunan orang tadi. Sebab, bukan hanya mual dan pusing, tapi juga rasa haus yang luar biasa dan keinginan meminum darah orang yang ada di sekitarku, terutama wangi darah perempuan perawan. Di saat aku berusaha mengendalikan diriku yang terus menuntut untuk meminum darah melawan akal sehatku sebagai manusia, Sabrina muncul di hadapanku. Tak salah lagi, dia yang mengubahku menjadi Vampire. Tepatnya, seseorang yang ada di dalam Sabrina, yang mengaku sebagai Mary. Semua semakin jelas saat aku mendengar dan melihat kejadian sejak Sabrina pergi ke gereja St. Michael juga cerita dari kakek dan nenek itu. Ini memang hanya hipotesisku, yaitu di dalam tubuh Sabrina, ada dua kepribadian. Sabrina, kepribadian yang terlahir sejak ia diadopsi oleh keluarga Hausen agar ia bisa tetap hidup normal. Yang satu lagi, Mary, kerpibadian yang menyimpan semua kenangan masa kecilnya dan terus terkurung di balik 'Sabrina'. kupikir, inilah yang paling masuk akal kalau mengingat 'Sabrina' tidak ingat masa kecilnya dan begitu 'Mary' keluar, 'Sabrina' hanya bisa menerima atau menolak kenyataan bahwa mereka berdua bukan manusia. Mengingat kondisinya sekarang, 'Amara' sebagai The Vampire Princess berhasil bangkit, berarti 'Mary' dan 'Sabrina' sudah saling menerima dan menjadi satu kepribadian yang baru, yaitu 'Amara'.
Aku terbangun karena merasakan ada aura lain, penyusup?! Aku segera bangun dan mengambil belati yang ada di dekatku.
Rupanya, Amara terbangun "kenapa, Hakuren?".
"ada penyusup, tuan putri…".
Amara berdiri di hadapanku sambil mengenakan jubahnya "siapa kalian? Lancang sekali… Tunjukkan diri kalian di hadapanku, sekarang?!".
Tak lama kemudian, muncul sepasang wanita dan pria berlutut di hadapan Amara "maafkan kelancangan kami, karena telah mengganggu waktu istirahat anda, tuan putri. Kedatangan kami semata-mata hanya ingin menjemput anda".
Aku berdiri di depan Amara "Kal, Kurena… kalian rupanya…".
Saat kukira Amara akan bertanya padaku siapa mereka, ternyata ia malah menyuruhku memakai bajuku (baru kusadari kalau aku telanjang dada).
Amara menatap lurus ke arah Kurena dan Kal sambil menyentuh tubuhku (jangan ngeres, cuma nempelin tangan ke dada) "belum semuanya, kan? kalian semua, perlihatkan diri kalian di hadapanku. Perkenalkan identitas kalian satu-persatu dan beritahu maksud kedatangan kalian?!".
Kulihat, tatapan mata Amara yang tajam melirik ke belakang Kal dan Kurena. Dia memang berubah, terlihat berwibawa. Tunggu, belum semua, berarti… aku melihat ke arah yang dilihat Amara, akhirnya komplotan pengecut (brengsek) itu keluar semua.
Normal POV…
Komplotan yang mengenakan jubah hitam itu (selain Kal dan Kurena) terdiri dari Frau, Castor, Labrador dan Teito. Dengan Castor sebagai pemimpin mereka, Castor berlutut di hadapan Amara diikuti komplotannya "kini sudah saatnya kami melaksanakan tugas kami untuk mengakhiri misi kali ini, mengantar anda dengan selamat ke hadapan ibu kandung anda, The Queen of Vampire, Camilla de Dracula".
Hakuren menahan tubuh Amara yang oleng (ini akibat kehilangan banyak energi setelah menggunakan sihir serta menyembuhkan Hakuren tadi, tapi Hakuren tak tahu hal ini) "kenapa, tuan putri?".
Meski Amara tetap dalam posisi berpelukan dengan Hakuren, wibawanya sebagai seorang putri tetap keluar "tidak apa-apa… sekarang, beritahu padaku identitas kalian sebenarnya".
Castor dan yang lain pun mulai memperkenalkan diri mereka satu persatu, ada yang menggunakan nama samaran dan juga nama asli. Frau, Vampire type Animal jenis Werewolf yang dijuluki Zehel. Labrador, Vampire type Plants yang dijuluki Profe. Kal, Vampire type Animal jenis kelelawar yang dijuluki Ea.
"…dan saya sendiri, Castor, nama asli saya Xin Lu. Vampire type Humanoid yang dijuluki Fest. Nama julukan yang kami sebutkan merupakan gelar yang kami dapat dari The Queen yang mempercayakan posisi selaku salah satu 07 ghost".
Amara duduk bersandar pada bahu Hakuren yang terus mendekapnya "apa itu 07 ghost?".
"07 ghost adalah 7 orang kepercayaan The Queen, yang membantu The Queen dalam menjalani pemerintahannya".
"semacam menteri?".
"tepat sekali… Kal menjadi informan yang mondar-mandir dari dunia manusia ke kediaman The Queen, sementara saya, Frau dan Labrador mengawasi anda… ah, hampir lupa, sampai kapan kau bertahan dalam wujud itu, Labrador, maksudku… Ilyusha".
Labrador tersenyum "ah, iya… hampir lupa".
Setelah melepaskan kalung salib yang ada di lehernya, ia berubah menjadi wanita cantik dengan rambut hampir mencapai lantai "sekali lagi, perkenalkan, nama asli saya Ilyusha. Istri dari Xin Lu yang mendapat julukan Profe".
"wow… ini benar-benar kejutan bagiku. lalu, siapa Kurena dan Teito sebenarnya?".
Kali ini Frau yang maju menjelaskan, meski awalnya ia menundukkan kepala "mohon maaf atas kelancangan yang pernah kami lakukan, tuan putri. Kurena adalah istri Kal dan Teito, nama aslinya Tiashe, dia adalah anak kandung dari pasangan Weldestein Krom Raggs dan nyonya Millea Klein. Weldestein Krom Raggs adalah kakak dari ayah kandung anda, Fair Kreuz Raggs".
Hakuren terperanjat "sepupu?! Lantas untuk apa kau menjalin hubungan dengannya kemarin?!".
"yah, kupikir itu akan mempermudahku…" ujar Tiashe garuk-garuk kepala.
Setelah melepas pelukan Amara, tiba-tiba Hakuren mencengkram dan menghantamkan tubuh Tiashe ke dinding "jangan main-main, itu sama saja dengan kau mempermainkan perasaan orang?!".
Tiashe tersenyum sambil menggenggam lengan Hakuren yang mencengkramnya dan menatap tajam Hakuren "jangan main-main? Itu kalimatku?!".
Tiba-tiba, Hakuren tersungkur di lantai akibat kesakitan "AKH?!".
Tiashe membetulkan kerah bajunya "kau pikir kau siapa? Meski kau vampire pelayan pertama yang dibuat tuan putri, kau tetap Vampire pelayan. Tak akan bisa menang dari Vampire murni. Harusnya kau sadar posisimu…".
"CUKUP SAMPAI DISITU?!".
Semua orang yang ada di ruangan langsung keder melihat aura membunuh milik Amara yang sangat menekan. Amara berjalan perlahan mendekati Tiashe dan Hakuren "aku tak mengizinkan adanya perbedaan status disini, apalagi penindasan. Memang benar, Vampire pelayan tak akan bisa menang melawan Vampire murni. Tapi… bagaimana dengan Vampire pelayan yang dibuat Dhampire? Asal kalian tahu, jika aku mau, aku bisa menyuruhnya untuk menghabisi semua orang yang ada di ruangan ini, sekuat itulah dia".
"tapi… buktinya ia tak bisa melawanku kali ini?!".
"kali ini, hanya karena ia baru saja sekarat, jantungnya terkena serangan akibat melindungiku…" ujar Amara membuka kancing baju yang memperlihatkan bagian lehernya dan memeluk Hakuren "minumlah, Hakuren… jangan ragu, mulai sekarang takkan kuijinkan kau minum darah selain darahku, sampai aku mati".
"…anda benar-benar iblis, tuan putri" sahut Hakuren menutup mata dan menghisap darah Amara. Setelah menghisap darah Amara, Hakuren berdiri, mata merahnya menatap Teito dengan tatapan yang sangat tajam.
Amara mengancingkan kembali baju dan jubahnya "kalau kau ragu, kali ini buktikanlah… atau kau takut, Tiashe?".
Akibat provokasi Amara, Tiashe menerima tantangan itu. Dan hasilnya, Hakuren menang mutlak. Tatapan mata Hakuren terasa kosong, setelah tatapan matanya menerawang tiba-tiba Hakuren pingsan.
Xin Lu menatap heran pada Amara "… apa anda yang mengendalikannya, tuan putri?".
Amara menidurkan Hakuren di pangkuannya "wah, ide yang bagus… kenapa tidak kulakukan tadi, ya?".
Melihat reaksi Xin Lu dan yang lain, Amara tertawa kecil "bisa saja, sih… tapi tadi aku hanya memberikan energy padanya melalui darahku, sebab harga dirinya tinggi… ia tak akan senang jika aku membuatnya menang karena aku yang mengontrol semua gerakannya".
Frau menyalakan rokoknya "kurasa setelah ini bocah itu akan kapok. tapi, kenapa anda lakukan ini, tuan putri?".
"kenapa, ya… saat ini aku hanya bisa bilang kalau aku tak suka dia diremehkan… tapi alasan sebenarnya terkubur padaku, saat aku meninggal sebagai manusia… kenapa aku tak bisa mengingatnya sekarang padahal hal itu belum lama berlalu".
Sementara Kurena dan Ilyusha menyembuhkan Tiashe, Amara tertidur lelap sambil bersandar di pilar. Hakuren yang tidur di pangkuan Amara mendengar semua percakapan tadi dan teringat ucapan terakhir Sabrina sebelum ia meninggal "…apakah perasaan itu masih ada pada 'Amara'?".
… ingatan, selama apapun itu, kelak akan memudar sampai menghilang bagai udara …
