Atsushi melangkah menuju ruang perawatan Agensi. Sebelah tangannya menggenggam sekantong plastik hasil belanjanya di minimarket. Ia membuka pintu, menolehkan kepalanya ke dalam ruangan mencari-cari seseorang.
"Dazai-san?" panggilnya. Tapi tidak ada siapapun yang menjawab panggilan itu.
Ia melangkah masuk, mendekati salah satu ranjang di sana. Matanya mendapati Dazai yang dicarinya, yang sekarang tertidur di samping tempat tidur di mana Nakahara Chuuya, seorang anggota eksekutif Mafia, terbaring dengan tenang di atasnya. Atsushi tahu bahwa ia sedang koma karena sebuah tembakan—Yosano-sensei yang memberitahu.
Ia menaruh barang belanjaannya di atas meja kecil bersama dengan sebuah vas bunga. Ia baru menyadari satu hal saat ia menaruh kantong plastik itu. Tangan Dazai yang telungkup memegang salah satu telapak tangan Chuuya.
Seolah memberinya kehidupan.
Melihat itu, Atsushi teringat beberapa jam yang lalu.
.
Chapter 8 : Khawatir
.
"Dazai-san!" Atsushi berteriak saat itu. Langkahnya begitu cepat menginjak tanah yang basah karena hujan. Bersama Yosano-sensei, mereka berbelok ke arah lorong dan berhenti di mulut lorong itu, melihat Dazai sedang mendekap seseorang. Saat itu, hujan turun semakin deras. Langit seakan menangis meratapi kepergian seseorang.
Dazai melepaskan dekapannya, menoleh ke arah mereka. Petir menyambar, cahayanya yang cukup silau menerangi sebagian besar dari wajahnya yang sendu. Tatapannya kosong, kesedihan yang mendalam merasuki jiwanya.
Yosano-sensei segera maju; ia mendekati Dazai dan orang itu. Ia sempat tersentak kaget saat tahu orang yang akan ditanganinya, begitu juga dengan Atsushi. "Dazai, dia..." Yosano-sensei tidak melanjutkan kata-katanya begitu Dazai sudah mengangguk terlebih dulu. Tanpa banyak bicara, Yosano-sensei segera melakukan pertolongan pertama.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Atsushi.
Dazai tidak menjawab, ia hanya diam.
"Dazai-san!" Atsushi tidak mau diabaikan, karena itulah ia bertanya sekali lagi. Tapi setelah melihatnya mata Dazai penuh kesedihan seperti itu, Atsushi mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa membiarkan dirinya sendiri penuh pertanyaan.
Sebuah mobil hitam berhenti di samping trotoar, tepat di depan lorong. Kunikida keluar dari mobil itu berlari menuju mereka yang menunggunya. Ia mengabaikan payung yang ada di mobilnya dan lebih memilih menembus air hujan yang berusaha menghalanginya.
"Tepat waktu!" seru Yosano-sensei. "Kunikida-kun, bantu aku membopong orang ini!" perintahnya.
"Baik." Kunikida mengangguk. Ia sempat terkejut melihat siapa yang menjadi korban hari ini. Tapi ia akan mencari tahu itu sendiri. Nanti.
Kunikida membopong tubuh Chuuya, dibantu oleh Yosano-sensei yang cukup kuat untuk menggendong seorang lelaki. Mereka masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Dazai dan Atsushi. Kemudian mobil itu melaju dengan cepat menuju gedung kantor agensi. Tidak ada yang berbicara satu kata pun di mobil itu selama perjalanan. Semua diam, bahkan Kunikida yang selalu mengomel sekalipun tidak membuka suara.
Tak lama, mobil itu terparkir di depan gedung Agensi. Yosano-sensei dan Kunikida segera keluar dengan cepat, membawa tubuh Chuuya yang masih tak sadarkan diri masuk ke dalam gedung. Atsushi sempat melihat dan mendengar Kunikida berbisik pada Dazai saat itu.
"Setelah semua ini selesai, jelaskan padaku apa yang terjadi." Dazai mengangguk soal itu, mencoba tenang sementara hatinya sedang kalut. Kunikida lalu kembali membantu Yosano-sensei.
Saat Atsushi mengikuti mereka, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dari 'TART'.
Ia langsung berbalik arah, keluar dari gedung dimana air mata langit masih dengan deras menghujani kota Yokohama. Begitu ia sudah keluar, sesuatu menarik dirinya dengan cepat.
"HUWAAA!"
Atsushi berteriak, dan ia dilepaskan setelah tubuhnya berada di sebuah lorong, lorong yang sama saat ia menjawab telepon dari kekasihnya.
"A-Akutagawa?! Kenapa?!" pekiknya saat mengetahui siapa dalang yang menariknya ke sini. Itu benar-benar Akutagawa, dan yang menariknya adalah Rashoumon, kemampuan spesial Akutagawa.
"Kau tampak panik sekali," kata Akutagawa. Ia sedikit terkejut saat wajah Atsushi kini tidak seperti biasanya ia lihat. Biasanya, wajah manusia harimau ini akan memerah—atau setidaknya pipinya muncul semburat merah—ketika berada di dekatnya. Tapi hari ini Atsushi hanya menunduk, ia terlihat sangat sedih, lebih dari yang diperkirakannya.
Begitu lembut, Akutagawa menyentuh pipinya, ibu jarinya mengusap wajahnya. Atsushi mengangkat kepalanya, sorot matanya yang indah membalas tatapan Akutagawa yang hangat. Mereka saling mendekat dan Atsushi menutup matanya, menerima sentuhan bibir dari kekasihnya. Dibawah guyuran hujan juga terpaan angin yang berhembus, Akutagawa memeluk Atsushi dan dibalas dengan lebih erat. Lidah mereka saling melilit satu sama lain, mencari kehangatan yang bersembunyi di antara rintik hujan dan tubuh mereka. Nafas mereka menghangat saat udara semakin dingin untuk dirasakan. Mereka tidak peduli dengan pakaian mereka yang basah kuyup, begitu juga dengan rambut dan kulit mereka.
Kemudian mereka melepaskannya. Salah satu butir hujan memutuskan ikatan saliva di antara bibir mereka.
"Jika terjadi sesuatu, katakan saja padaku," kata Akutagawa. Telapak tangannya beralih ke rambutnya yang basah, membelai surai abu-abu pendek itu. "Kau sendiri yang mengatakan kalau kita harus terbuka satu sama lain, kan?"
DEG! Jantungnya sekali lagi berdegup keras. Merasa malu tanpa alasan yang jelas, Atsushi membenamkan wajahnya di pundak Akutagawa. Jemari-jemarinya meremas mantel milik kekasihnya itu. Samar-samar ia bisa mencium aroma keringat yang bercampur aduk dengan parfum yang dipakai Akutagawa, juga aroma rintik hujan yang membasahinya. Aroma itu nyaris sama dengan aroma tubuh Akutagawa saat pria itu menindihnya lebih dari sekali.
Ia mengangkat kepalanya, memandang mata Akutagawa yang segaris dengan matanya. Sorot mata yang dulu dirasakan sangat kejam dan tidak berperasaan saat pertama kali bertem kini berubah menjadi sorot mata yang hangat dan lembut. Atsushi memikirkan seluruh memorinya dengan Akutagawa dari dulu hingga sekarang. Betapa beberapa hari membuat banyak perubahan.
Ia menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. Kemudian ia menceritakan apa yang dilihatnya tadi; Akutagawa mengangguk paham. Dan ketika ia menceritakan soal Nakahara Chuuya yang tertembak dan sedang dirawat di ruang perawatan Agensi Detektif Bersenjata, ia cukup terkejut mendengar hal itu.
"Kulihat Dazai-san sangat sedih. Ia seakan sangat terpukul akan hal itu," kata Atsushi menutup ceritanya.
Akutagawa menatapnya dalam-dalam. Tangannya berhenti membelai rambut Atsushi, beralih menarik punggungnya mendekat. Tubuh mereka hampir menempel satu sama lain. Hampir.
"Dia memang seperti itu."
"Eh?"
Akutagawa menutup matanya sejenak, lalu menatap Atsushi begitu intens. "Dazai-san mempunyai seseorang yang jauh lebih penting keberadaannya di banding dirinya. Wajar jika semisalnya ia lebih memprioritaskan orang itu dibanding jiwanya sendiri. Seseorang yang berharga, satu hal yang tampak membuatnya lebih hidup. Sama sepertiku, aku mempunyai seseorang yang sangat berharga dan tidak akan kubiarkan pergi begitu saja. Mungkin, aku akan merelakan nyawaku sendiri hanya untuk manusia harimau payah seperti dirimu karena kau begitu istimewa."
Mendengar penjelasan itu, wajah Atsushi memerah sempurna; memanas karena perkataan Akutagawa yang menyatakan bahwa ia sangat 'istimewa' baginya. Ia tidak terkejut saat setelah Akutagawa mengatakan itu, ia mengecup bibir Atsushi kembali dengan begitu singkat. Melakukan hal yang romantis seperti ini, rasanya bukan seperti Akutagawa yang sangat ditakuti oleh orang-orang yang pernah melawannya. Tapi ini benar-benar Akutagawa. Benar-benar Akutagawa Ryuunosuke.
"Begitu, ya..." jawab Atsushi, suaranya terdengar seperti berbisik. "Soal kencannya... kurasa itu semua harus menunggu," tambahnya.
"Aku mengerti. Mengingat apa yang terjadi hari ini rasanya tidak mungkin kita melakukannya sekarang."
Atsushi mengangguk setuju. Kemudian Akutagawa melepaskannya, mengecup dahinya yang sebagian tertutupi poni sebagai tanda perpisahan, lalu mengucapkan salam. "Sampai jumpa, Jinko."
"Hu-um. Sampai jumpa."
Dengan Rashoumon miliknya, Akutagawa langsung menjauh dari Atsushi dan pergi entah kemana.
Di bawah rintik hujan itu, ada beribu rasa bahagia yang menggerayangi hatinya.
.
.
Atsushi mengingat semua itu dan ia merasa sangat malu. Wajahnya kembali memerah saat mengingat bagaimana Akutagawa Ryuunosuke berhasil membuatnya tersipu untuk kesekian kalinya. Kini ia mengalihkan perhatiannya ke Nakahara Chuuya yang masih tidak mau membuka matanya. Seketika ia mengingat apa yang dikatakan Akutagawa saat itu.
Dazai-san mempunyai seseorang yang jauh lebih penting keberadaannya di banding dirinya. Wajar jika semisalnya ia lebih memprioritaskan orang itu dibanding jiwanya sendiri.
Ia bergumam, "Jangan-jangan... orang yang dimaksud itu... Chuuya-san?"
"Nngh." Lenguhan kantuk terdengar, Atsushi yang terkejut mengambil satu langkah ke belakang. Dazai terbangun, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Atsushi berdiri. "Oh, Atsushi-kun." Suaranya terdengar serak-basah, suara seseorang saat bangun dari tidurnya.
"Semua orang sudah pulang, dan Yosano-sensei mengatakan padaku kalau Dazai-san menginap di sini untuk satu malam," jelas Atsushi. "Aku sudah membelikan beberapa onigiri dan jus dari minimarket... juga beberapa barang yang kau inginkan." Jari telunjuknya mengarah ke kantong plastik putih yang ia taruh di di dekat vas bunga di atas meja.
"Ah, terima kasih." Hanya itu yang ditanggap Dazai sembari tersenyum seperti biasanya. Namun senyum itu menghilang saat ia mengalihkan pandangannya ke arah Chuuya. Wajahnya terlihat sendu saat ia memikirkan Chuuya yang mungkin tidak akan bangun selamanya.
"Atsushi-kun," panggil Dazai. "Jika misalnya hal ini terjadi padamu dan Akutagawa, apa yang kau lakukan?"
Atsushi terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak langsung menjawab, memilih untuk memandangi tubuh Chuuya yang kaku seperti patung. Membayangkan jika Akutagawa yang mengalami ini atau sebaliknya, entah mengapa hal itu terasa menyakitkan.
"Mungkin sama seperti yang kau lakukan," jawabnya kemudian.
"Begitu, ya." Dazai menutup matanya sejenak. "Kau tahu? Walaupun aku dan Chuuya berpisah sudah sejak lama dan perasaannya berubah semenjak saat itu, aku masih mencintainya." Ia membuka matanya, lensanya tampak berkaca-kaca. Mungkin karena menahan air matanya. "Aku menyesal karena meninggalkannya."
"Maksudmu kau menyesal bergabung dengan Agensi?"
"Tidak, bukan itu maksudku. Aku tidak pernah menyesal telah bergabung dengan Agensi Detektif Bersenjata. Tapi..."
Jemari-jemari Dazai mengelus rambut Chuuya yang acak-acakan di atas kasur berselimut seprai putih. Rambut oranye itu begitu halus, sama seperti yang ia rasakan saat bercinta dengan orang itu. Chuuya, dari segi manapun, baginya terlalu indah.
Rasa bersalah kembali menyelimutinya. Mengingat betapa kejamnya ia dengan Chuuya dulu. Sekarang ia mengerti betapa sakitnya setelah ditinggalkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Perih, begitu menusuk. Dazai akhirnya mengerti rasa sakit Chuuya yang sebenarnya.
"...seharusnya aku tidak menyakitinya saat aku meninggalkannya."
Merenung di ruangan dengan bau obat yang tak begitu menyengat yang menguar ke seluruh ruangan. Mengingatkan akan seseorang yang sedang sakit, operasi, orang yang khawatir dan bersedih, dan kematian. Dazai dan Atsushi hanya terdiam seribu kata saat mereka melayang ke pikiran masing-masing.
"Kurasa, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah percaya."
Dazai menoleh cepat ke arah Atsushi. Lelaki bersurai abu-abu itu membalas tatapan itu dengan sorot mata keyakinan. "Aku pernah membaca suatu kalimat di buku yang kubaca di perpustakaan panti asuhan: 'Sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah percaya dan keyakinan'. Mungkin jika kita percaya Chuuya-san akan kembali, ia pasti akan kembali."
Ia tersenyum, menandakan bahwa masih ada satu harapan. Memikirkan hal itu, ia membayangkan Chuuya yang percaya bahwa ia masih bisa bertemu dengannya. Chuuya, sudah memercayai semua itu. Ia yakin bahwa Dazai akan menemuinya, karena ia sangat mencintainya. Apakah ini berarti ia sama sekali tidak sadar dengan apa yang dirasakan Chuuya?
Ia benar-benar pria yang payah.
Dalam senyumannya yang begitu tulus, ia mengalihkan pandangannya sekali lagi ke arah Chuuya. Suatu perasaan di dalam dirinya mengatakan bahwa Chuuya akan baik-baik saja. Mungkin.
"Begitu, ya. Mungkin aku akan memercayai kata-kata itu... tidak. Aku sangat memercayainya."
.
.
Kouyou cemas. Sangat cemas. Ini sudah sangat sore semenjak Chuuya meninggalkan markas Port Mafia untuk menemui Dazai. Apa yang dikatakan pemuda itu sebelum melangkah keluar dari pintu otomatis markas mereka?
"Aku akan menggunakan satu kesempatan ini lagi, untuk mencintai Dazai. Selalu ada kesempatan kedua, bukan?"
Tapi ia tidak kembali. Apakah mereka benar-benar sudah berbaikan? Atau malah sebaliknya?
Tidak, Kouyou tahu apa yang sudah terjadi. Ia memang mengakuinya, tapi Chuuya tetaplah anak didiknya. Apa salahnya ia merasa cemas dan khawatir?
Ia sebenarnya tidak begitu yakin, kata-katanya semalam bisa memotivasi Chuuya untuk menghidupkan kembali kisah cintanya yang sudah lama mati. Terlebih saat Chuuya mengatakan bahwa ia memang mencintai Dazai, itu seperti sebuah keajaiban baginya. Membayangkan perasaan Chuuya yang bahagia saat ia menemukan apa yang seharusnya ia lakukan, rasanya membahagiakan.
Namun sekarang...
Khawatir. Cemas. Takut apa yang akan terjadi walau ia adalah wanita yang kuat. Ia tidak bisa berpikir lebih jauh saat mengetahui Chuuya koma karena sebuah tembakan yang nyaris mematikan. Akutagawa yang pertama mengetahui hal itu, dilanjut oleh Gin dan Higuchi, lalu menyebar ke seluruh sudut ruangan di markas Port Mafia. Mori sudah mengetahui hal itu. Ia awalnya ingin memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengambil Chuuya kembali dari Agensi, namun saat mendengar Dazai yang bertanggung jawab akan semua yang terjadi, ia mengurungkan niatnya dan menyerahkan semuanya pada 'pengkhianat' Port Mafia itu.
Seakan ia tahu apa yang dirasakan Dazai.
Tidak, Mori tahu bahwa Dazai sebenarnya mencintai Chuuya. Begitu juga sebaliknya. Mereka memang selalu bersama saat dulu. Wajar jika mereka masih seperti itu walau mereka bukan lagi satu organisasi.
Menenangkan dirinya sendiri, ia percaya bahwa Chuuya bisa kembali. Hanya waktu yang bisa menjawab semua keyakinannya saat ini. Dan jika itu berada di luar perkiraannya...
Satu lagi. Satu lagi hal yang begitu menyakitkan terjadi di dunia ini.
.
.
.
To Be Contiuned.
A/N: AAAWWWRRGHH! NAZE ORE WA LOW UPDATE NA NO? *kushukushu* *abaikangrammarjepanggueyangjelekbanget*
Oke, karena dedlen tugas terlalu banyak, les bahasa Jepang, ditambah dedlen lomba cerpen yang gue ikuti (ada 2 njir), dikali dedlen komik buatan sendiri yang bakal muncul 11 Maret, fanfic ini sedikit demi sedikit mulai berdebu. Hiks, kalo gak ada seluruh dedlen ini mah, gue kayaknya bisa apdet lebih cepat dengan cerita yang lebih panjang. Honto Gomen nasai T_T
Tapi, ya... makasih banget udah baca dan nungguin fic ini. Aku terharu~ ^^ Ah, kalo kalian niat, boleh kok baca WbT punya gue. Tapi nanti :V tunggu saja 11 Maret. Karakter2nya 15% terinspirasi dari Soukoku dan Shin Soukoku~ :3 *walaupun straight sih* *digebuk*
Segini aja kali ya? Ah, maafin juga kalau ini pendek (banget). Diusahakan di chapter depan akan lebih panjang lagi ^^
Saa, riviw onegaishimasu :D
Chapter 9 ni mata aou! (^^)/
.
Next Chapter: Maaf...
